08 November 2026

Brigif 6 Marinir Dibentuk untuk Amankan Jakarta, Ini Kekuatannya!

08 November 2026

Brigif 6 Marinir akan mempunyai 6 batalyon beserta kelengkapannya (photo: Antara)

JAKARTA, KOMPAS.com - Brigade Infanteri (Brigif) 6 Marinir yang baru dibentuk disiapkan untuk memperkuat pengamanan Jakarta Raya. 

"Jadi wilayah untuk penyangga ibu kota, pengamanan ibu kota. Dari sektor arah Tangerang dan dari arah Karawang," kata Komandan 

Brigif 6 Marinir, Kolonel Marinir Ernesto Ardendi Brahmana, saat ditemui di Brigif 1 Marinir, Jakarta, Senin (3/11/2026). Brigif 6 Marinir memiliki enam batalion dengan total kekuatan mencapai 3.639 personel. 

Ia menjelaskan bahwa saat aksi unjuk rasa di Jakarta, Brigif 6 juga ikut membantu pengamanan ibu kota. 

"Iya, untuk saat ini satu batalion kita sudah insert untuk pengamanan ibu kota," ungkapnya.

Ia menerangkan bahwa Brigif 6 Marinir merupakan satuan baru yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada 5 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 TNI. 

Dalam mendukung pengamanan Ibu Kota, Brigif 6 juga akan berintegrasi dengan unsur TNI lainnya, termasuk artileri pertahanan udara TNI Angkatan Darat dan unsur TNI Angkatan Udara. 

Mereka akan bermarkas di daerah Tanjung Burung, Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. 

"Yang jelas untuk pertahanan udara. Nanti memang untuk yang di daerah Tanjung Burung itu bukan hanya Marinir saja, di situ nanti ada artileri pertahanan udaranya Angkatan Darat, terus base ring areanya Paskhas, terus dari Angkatan Laut juga ada di situ," jelasnya. 

Marinir humanis, tak mau overprotective 

Dalam menjalankan tugasnya, Korps Marinir menegaskan pendekatan humanis terhadap masyarakat tetap menjadi bagian penting dari pelaksanaan tugas prajurit. 

Menurut dia, prajurit Marinir merupakan bagian dari masyarakat sehingga harus mampu membedakan masyarakat dengan pihak yang menjadi sasaran operasi.

"Kita tidak lepas bagaimana kita Marinir ini humanis. Apapun kita ini bagian dari masyarakat, kita ini bagian dari rakyat. Sebetulnya kita bagian dari mereka, tidak perlu untuk kita overprotective," katanya. 

Sebelumnya, Korps Marinir TNI Angkatan Laut (AL) mengungkapkan lima perwira yang ditunjuk sebagai komandan setelah Presiden Prabowo Subianto meresmikan satu Brigade Infanteri (Brigif) Marinir dan empat Batalyon Infanteri Marinir yang membawahinya, pada Senin (5/10/2026).

(Kompas)

4 komentar:

  1. MALAYSIA MELARANG EKSPOR BERAS = DEFISIT
    IMPOR SEJAK LAHIR = 1957-2026 = IMPOR BERAS
    -
    KEMENTERIAN/JABATAN RESMI MALAYSIA =
    KPKM (Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan) = IMPOR BERAS
    DOSM (Jabatan Perangkaan Malaysia) = IMPOR BERAS
    BERNAS Malaysia = IMPOR BERAS
    EPU / Kementerian Ekonomi Malaysia = IMPOR BERAS
    BERNAMA (Kantor Berita Nasional Malaysia) = IMPOR BERAS
    -
    BPS INDONESIA : BUKTI IMPOR BERAS 2021-2025 =
    TIADA MALON
    https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTA0MyMx/impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2018.html.Badan
    --------------------------------
    LARANGAN RE-EKSPOR BERAS =
    Malaysia melarang keras aktivitas ekspor kembali komoditas beras impor guna mengamankan pasokan pangan dalam negeri.
    -
    Dasar Hukum Larangan: Kebijakan ini diatur secara ketat di bawah undang-undang bea cukai nasional Akta Kastam 1967 (P.U. (A) 122/2023).
    -
    Krisis Swasembada (SSR/SSL): Rasio swasembada beras Malaysia berada di level kritis akibat dampak cuaca El Niño dan kelangkaan Beras Putih Tempatan (BPT) [Sumber: DOSM, KPKM, BERNAMA].
    --------------------------------
    IMPOR BERAS MALAYSIA PER DEKADE
    1950-an (Awal Merdeka): 0,25 - 0,30 Juta Ton/tahun. Dipasok dari Thailand & Burma.
    -
    1960-an & 1970-an (Fluktuasi awal): 0,28 - 0,35 Juta Ton/tahun. Tetap fluktuatif meski ada proyek lumbung padi MADA
    -
    1980-an (Industrialisasi): 0,45 - 0,55 Juta Ton/tahun. Kebutuhan melonjak akibat pertumbuhan penduduk dan peralihan sektor industri.
    -
    1990-an (Pertumbuhan Konsumsi): Berkisar 0,31 - 0,63 Juta Ton/tahun. Ditutup dengan volume tertinggi di akhir dekade pasca-krisis 1997
    -
    2000-an (Ketergantungan Stabil): Berkisar 0,48 - 0,75 Juta Ton/tahun. Tingkat kecukupan mandiri (SSL) bertahan di kisaran ~70%
    -
    2010-an (Menembus Batas Baru): Berkisar 0,78 - 1,27 Juta Ton/tahun. Volume impor resmi menembus angka 1 juta ton sejak 2016
    -
    2020-an (Rekor Tertinggi): Berkisar 1,18 - 1,62 Juta Ton/tahun. Sempat melambat saat pandemi COVID-19, lalu melonjak ke rekor tertinggi pada tahun 2025.
    --------------------------------
    MALONYET ’s Military Modernization Is Slow
    1. Budget Allocation Imbalance
    Over 60–70% of the defence budget goes to salaries, pensions, and maintenance, leaving little for new systems or upgrades.
    MALONYET spends around RM15–18 billion annually, but most of it is used to “keep the lights on” rather than invest in future capabilities.
    2. Procurement Delays & Scandals
    The Littoral Combat Ship (LCS) program—meant to modernize the Navy—has faced years of delay, cost overruns, and corruption investigations2.
    These setbacks have eroded public trust and stalled critical upgrades, leaving the Navy with outdated ships.
    3. Fragmented Modernization Strategy
    MALONYET lacks a cohesive long-term defence roadmap.
    Procurement is often reactive, driven by political cycles rather than strategic planning.
    Result: a patchwork of platforms from Russia, the U.S., France, and China, complicating logistics and interoperability.
    4. Weak Indigenous Defence Industry
    MALONYET ’s domestic defence sector focuses on maintenance and basic manufacturing, not advanced systems.
    Outsourcing of maintenance since the 1970s was meant to build self-reliance, but it hasn’t scaled to meet modernization needs.
    5. Currency Depreciation & Fiscal Constraints
    The weak ringgit reduces MALONYET ’s purchasing power for foreign defence equipment.
    Declining oil revenues and economic pressures have shrunk the government’s coffers, limiting capital expenditure.
    ⚠️ Why Readiness Is Poor
    1. Aging Equipment
    Many platforms are decades old, including:
    C-130 Hercules (1970s)
    Condor APCs (1980s)
    Scorpene submarines (2009)
    These systems require frequent maintenance and offer limited combat capability.
    2. Limited Joint Operations Capability
    The Army, Navy, and Air Force operate with minimal integration.
    There’s no unified Joint Operations Command, reducing effectiveness in multi-domain missions.

    BalasHapus
  2. MALAYSIA MELARANG EKSPOR BERAS = DEFISIT
    IMPOR SEJAK LAHIR = 1957-2026 = IMPOR BERAS
    -
    KEMENTERIAN/JABATAN RESMI MALAYSIA =
    KPKM (Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan) = IMPOR BERAS
    DOSM (Jabatan Perangkaan Malaysia) = IMPOR BERAS
    BERNAS Malaysia = IMPOR BERAS
    EPU / Kementerian Ekonomi Malaysia = IMPOR BERAS
    BERNAMA (Kantor Berita Nasional Malaysia) = IMPOR BERAS
    -
    BPS INDONESIA : BUKTI IMPOR BERAS 2021-2025 =
    TIADA MALON
    https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTA0MyMx/impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2018.html.Badan
    --------------------------------
    LARANGAN RE-EKSPOR BERAS =
    Malaysia melarang keras aktivitas ekspor kembali komoditas beras impor guna mengamankan pasokan pangan dalam negeri.
    -
    Dasar Hukum Larangan: Kebijakan ini diatur secara ketat di bawah undang-undang bea cukai nasional Akta Kastam 1967 (P.U. (A) 122/2023).
    -
    Krisis Swasembada (SSR/SSL): Rasio swasembada beras Malaysia berada di level kritis akibat dampak cuaca El Niño dan kelangkaan Beras Putih Tempatan (BPT) [Sumber: DOSM, KPKM, BERNAMA].
    --------------------------------
    IMPOR BERAS MALAYSIA PER DEKADE
    1950-an (Awal Merdeka): 0,25 - 0,30 Juta Ton/tahun. Dipasok dari Thailand & Burma.
    -
    1960-an & 1970-an (Fluktuasi awal): 0,28 - 0,35 Juta Ton/tahun. Tetap fluktuatif meski ada proyek lumbung padi MADA
    -
    1980-an (Industrialisasi): 0,45 - 0,55 Juta Ton/tahun. Kebutuhan melonjak akibat pertumbuhan penduduk dan peralihan sektor industri.
    -
    1990-an (Pertumbuhan Konsumsi): Berkisar 0,31 - 0,63 Juta Ton/tahun. Ditutup dengan volume tertinggi di akhir dekade pasca-krisis 1997
    -
    2000-an (Ketergantungan Stabil): Berkisar 0,48 - 0,75 Juta Ton/tahun. Tingkat kecukupan mandiri (SSL) bertahan di kisaran ~70%
    -
    2010-an (Menembus Batas Baru): Berkisar 0,78 - 1,27 Juta Ton/tahun. Volume impor resmi menembus angka 1 juta ton sejak 2016
    -
    2020-an (Rekor Tertinggi): Berkisar 1,18 - 1,62 Juta Ton/tahun. Sempat melambat saat pandemi COVID-19, lalu melonjak ke rekor tertinggi pada tahun 2025.
    --------------------------------
    🔍 Why MALONYET Deterrence Is Reduced
    1. Limited Military Capabilities
    MALONYET lacks strategic assets like long-range missiles, stealth aircraft, or advanced naval platforms.
    Its air force has only 18 F/A-18Ds and is just beginning to induct FA-50 light fighters, which are not deterrent-grade.
    The Navy’s delayed Littoral Combat Ship (LCS) program and aging submarines weaken maritime deterrence.
    2. Fragmented Force Structure
    The armed forces operate in silos, with weak joint command and coordination.
    This reduces operational effectiveness in multi-domain scenarios like amphibious defense or cyber warfare.
    3. Budget Constraints
    Over 40% of the defence budget goes to personnel costs, leaving little for modernization.
    MALONYET defence spending is ~1% of GDP, far below regional peers like Singapore (~4.9%).
    4. Technological Gaps
    MALONYET defence tech lags behind in:
    Cyber warfare
    Electronic warfare
    Unmanned systems
    This limits its ability to counter modern threats like drones, grey-zone tactics, and hybrid warfare.
    5. Geostrategic Vulnerabilities
    MALONYET sits near critical maritime chokepoints: the Strait of Malacca and South China Sea.
    Chinese Coast Guard incursions near Sarawak and airspace violations in 2021 exposed MALONYET inability to respond decisively.
    6. Diplomatic Ambiguity
    MALONYET non-confrontational foreign policy avoids hard deterrence postures.
    While it promotes regional peace, this can be perceived as strategic passivity, reducing deterrence credibility.

    BalasHapus
  3. IMPOR SEJAK LAHIR = 1957-2026 = DEFISIT : IMPOR BERAS
    -
    KEMENTERIAN/JABATAN RESMI MALAYSIA =
    KPKM (Kementerian Pertanian dan Keterjaminan Makanan) = IMPOR BERAS
    DOSM (Jabatan Perangkaan Malaysia) = IMPOR BERAS
    BERNAS Malaysia = IMPOR BERAS
    EPU / Kementerian Ekonomi Malaysia = IMPOR BERAS
    BERNAMA (Kantor Berita Nasional Malaysia) = IMPOR BERAS
    -
    BPS INDONESIA : BUKTI IMPOR BERAS 2021-2025 =
    TIADA MALON
    https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTA0MyMx/impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2018.html.Badan
    ________________________________________
    ANALISIS YANG MENGHUBUNGKAN METODE PENGUMPULAN DATA ITC TRADE MAp (sebagaimana dinyatakan oleh Christiantoko) dengan kasus riil data komoditas beras antara BPS Indonesia dan 5 Lembaga Resmi Malaysia:
    🔗 Hubungan Metodologi ITC Trade Map dengan Data Riil Beras
    Pernyataan Christiantoko menjelaskan bahwa ITC Trade Map adalah rujukan dunia karena merekam arus keluar-masuk barang secara resmi dari otoritas pabean berbagai negara anggota. Ketika metode ini diaplikasikan pada kasus data beras Indonesia-Malaysia, berikut adalah titik hubungnya:
    • Sisi Otoritas Pabean Indonesia (BPS):
    BPS bertindak sebagai otoritas resmi yang mencatat arus barang masuk (impor) ke Indonesia. Log pabean Indonesia mencatat angka "nol" atau tidak ada rekam pabean untuk impor beras dari Malaysia.
    • Sisi Otoritas Pabean Malaysia (DOSM & BERNAS):
    Jabatan Perangkaan Malaysia (DOSM) selaku otoritas statistik resmi merekam bahwa arus barang pabean mereka untuk komoditas beras justru didominasi oleh arus masuk (impor bersih) dari negara mitra dagang lain (seperti Thailand atau Vietnam) guna menutup defisit konsumsi mereka yang mencapai 1,2 hingga 1,6 juta ton per tahun.
    ________________________________________
    📊 Perbandingan Konseptual: Pernyataan Teoretis vs Implementasi Lapangan
    Komponen Analisis Teori ITC Trade Map (Christiantoko) Implementasi Kasus Riil Data Beras
    Sumber Validitas Bersumber langsung dari otoritas pabean resmi negara anggota. Terbukti dari sinkronisasi data BPS (Indonesia) dan DOSM (Malaysia) yang sama-sama sah secara hukum.
    Kredibilitas Aliran Barang Merekam arus keluar-masuk barang secara transparan dan diakui global. Menghilangkan klaim sepihak. Log pabean membuktikan Malaysia adalah net-importer (pembeli), sehingga tidak mungkin ada arus keluar beras menuju Indonesia.
    Fungsi Analisis Pasar Digunakan sebagai rujukan untuk melihat potensi dan realisasi pasar global. Menjelaskan secara struktural mengapa target cetak biru (EPU/Kementerian Ekonomi Malaysia) gagal dipenuhi di lapangan.
    -
    📌 KESIMPULAN HUBUNGAN
    1. Pernyataan Christiantoko menjustifikasi dan memperkuat mengapa data BPS dan Lembaga Resmi Malaysia di atas tidak dapat didebat. Karena kedua negara merupakan anggota WTO dan PBB, setiap transaksi keluar-masuk komoditas harus melewati pemeriksaan pabean resmi yang datanya bermuara di ITC Trade Map.
    2. Hasil penelusuran data makro dari kedua negara menunjukkan konsistensi penuh: Otoritas pabean Indonesia tidak mencatat adanya beras masuk dari Malaysia, dan otoritas pabean Malaysia mengonfirmasi bahwa seluruh beras yang mereka kelola habis (bahkan kurang) untuk konsumsi dalam negeri mereka sendiri.

    BalasHapus
  4. 1. Aset Usang 171 Unit : 108 TDM, 29 TUDM, 34 TLDM usia >30 tahun.
    2. Utang Turki (LMS Batch 2): G2G via SSB, bunga 4%-6%, tenor 10-15 tahun.
    3. Utang Korsel (FA-50): Hybrid Kredit KEXIM & Barter CPO 50%, fee 0,10%-0,50%.
    4. Utang Inggris (Hawk): DP 15%, bunga stabil via National Loans Fund.
    5. Utang China (LMS Batch 1): 100% Kredit Ekspor Eximbank, bunga 3,5%, tenor 10 tahun.
    6. Utang Polandia (PT-91M): DP 15% + Barter CPO 30-40%, tenor 10 tahun.
    7. Utang Jerman (Kedah-Class): Kredit Komersial Euler Hermes via Deutsche Bank & Konsorsium.
    8. Utang Sindikasi (LCS): Konsorsium 17 Kreditor, bunga 6%, tenor 15 tahun.
    9. Barter Sawit Jet: Pembelian Su-30MKM & MiG-29N.
    10. Barter Sawit Kapal & FA-50M: Pembelian Scorpene & FA-50M.
    11. Barter Tank PT-91M: Pembelian tank pakai komoditas karet & sawit.
    12. Utang A400M: Cicilan jangka panjang pesawat angkut.
    13. Sewa 28 Heli 15 tahun
    14. Sewa L39 ITCC
    15. Sewa EC120B
    16. Sewa FSTD: Simulator penerbang.
    17. Sewa Simulator EC120B: 1 unit simulator heli latih.
    18. Sewa Hovercraft
    19. Sewa AW139 Sipil
    20. Sewa Kapal Interseptor
    21. Sewa Utility Boat
    22. Sewa RHFB
    23. Sewa Rover Fiber Glass
    24. Sewa MV Aishah
    25. Sewa BMW R1250RT
    26. Sewa Kendaraan 4x4
    27. Sewa VSHORAD
    28. Sewa Truk Logistik 3 ton.
    29. Sewa Honda Civic: Mobil patroli polisi.
    30. Sewa Kapal Patroli
    31. Sewa Outboard Motors.
    32. Sewa Trailers
    33. Sewa Superbikes
    34. Sewa Simulator MKM
    35. Sewa 12 AW149 TUDM
    36. Sewa 4 AW139 TUDM
    37. Sewa 5 EC120B TUDM
    38. Sewa 2 AW159 TLDM
    39. Sewa 12 AW149 TDM
    40. Sewa 4 AW139 BOMBA
    41. Sewa 2 AW159 MMEA
    42. Sewa 7 Bell 429 POLIS
    43. Sewa Motor Polisi & PM.
    ------------------------------
    • Skandal Kapal Selam Scorpène: Pengadaan RM4,5 Miliar via shell company titipan kroni yang meraup komisi ilegal RM510 Juta (11%), memicu skandal suap internasional dan pembunuhan politis penerjemah Altantuya.
    • Kontrak Helikopter Little Bird: Proyek RM321 Juta untuk 6 helikopter serang gagal total akibat spesifikasi cacat dan pembatalan pengiriman, namun penyelidikan MACC dihentikan sepihak tanpa tuntutan hukum.
    • Mangkraknya Proyek NGPV: Rencana awal 27 kapal perang dipangkas paksa hanya menjadi 6 unit akibat tata kelola buruk perusahaan kroni UMNO, memicu lonjakan biaya ekstrem dari RM5,35 Miliar ke RM6,75 Miliar.
    • Fiasco Kapal Patroli OPV: Kontrak 6 armada senilai RM4,9 Miliar berujung korup dengan kelebihan bayar siluman 48% (RM1,39 Miliar), menghasilkan hanya 2 kapal cacat sementara denda penundaan dihapus pemerintah.
    • Megaskandal Kapal LCS: Anggaran RM6 Miliar+ ludes tanpa ada satu pun kapal selesai, akibat intervensi pemilihan desain pesanan vendor, manipulasi vendor fiktif RM23 Juta, dan pembengkakan biaya RM1,4 Miliar.
    ________________________________________
    📰 Sumber Berita Resmi
    • [Hasil Audit Forensik PAC Parlemen]: Bukti konkret penyelewengan dana alutsista, kelebihan bayar proyek OPV, dan pengalihan sepihak jenis kapal komando.
    • [Dokumen Pengadilan Prancis & MACC]: Berkas dakwaan korupsi global pejabat pertahanan atas komisi ilegal Scorpène dan memo internal penghentian kasus Little Bird.
    • [Laporan Likuidasi & Restrukturisasi Boustead]: Catatan kegagalan finansial kontraktor kroni yang memicu kebangkrutan korporasi galangan kapal nasional.

    BalasHapus