Tampilkan postingan dengan label ANGKATAN UDARA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ANGKATAN UDARA. Tampilkan semua postingan

08 September 2026

Vietnam Sedang Bernegosiasi untuk Membeli Jet Tempur Rafale dari Prancis

08 Agustus 2026

Pesawat tempur Dassault Rafale (photo: Philippe Amiel)

Setelah berpuluh-puluh tahun terutama menggunakan jet tempur buatan Uni Soviet dan Rusia, Vietnam dilaporkan sedang mempertimbangkan opsi lain: jet tempur multiperan Rafale yang diproduksi oleh perusahaan Prancis, Dassault Aviation.

Menurut majalah Prancis L'Express, pembicaraan antara Vietnam dan Prancis telah berkembang cukup jauh; salah satu indikasi pentingnya adalah laporan bahwa seorang pilot Vietnam dijadwalkan akan mendapatkan kesempatan untuk melakukan uji terbang Rafale pada Februari 2026.

Baru-baru ini, muncul pula laporan bahwa Vietnam sedang mempertimbangkan pembelian jet tempur F-16 dari Amerika Serikat, meskipun belum ada pengumuman resmi terkait hal tersebut.

Pilot Vietnam uji terbang Rafale
Menurut sumber berita Prancis, para ahli pertahanan menyatakan bahwa pemberian izin bagi pilot asing untuk melakukan uji terbang jet tempur selama proses penjualan biasanya terjadi setelah calon pembeli melewati tahap kontak awal dan memasuki tahap evaluasi teknis serta operasional.

Estimasi dari sumber terbuka menunjukkan bahwa kesepakatan ini dapat mencakup sekitar dua skuadron, atau 24 hingga 40 pesawat, dengan nilai total antara 4 hingga 6 miliar dolar AS. Pesawat pertama diperkirakan dapat dikirimkan antara tahun 2028 dan 2030.

Namun, baik pemerintah Vietnam maupun produsen pesawat asal Prancis tersebut belum memberikan konfirmasi secara terbuka mengenai kesepakatan Rafale ini.

Prancis sebelumnya pernah mengerahkan Rafale ke Vietnam sebagai bagian dari penerbangan pengerahan Angkatan Udara Prancis.

Menurut Kementerian Pertahanan Prancis, pada tahun 2018, tiga pesawat Rafale milik Angkatan Udara Prancis mendarat di Bandara Noi Bai, Hanoi, sebagai bagian dari operasi PEGASE Prancis di kawasan Asia-Pasifik.

Vietnam sedang bernegosiasi untuk 2 skuadron Rafale atau sekitar 20-40 unit (photo: Krystian Wilusz)

Migflug, sebuah perusahaan yang berbasis di Swiss dan berspesialisasi dalam uji terbang jet tempur, berkomentar bahwa hal ini bukan sekadar keputusan pembelian, melainkan juga mencerminkan arah kebijakan yang dipilih Vietnam.

Dengan demikian, pemilihan Rafale berarti Vietnam untuk pertama kalinya memasukkan jet tempur buatan Barat ke dalam kekuatan tempur utamanya (tidak termasuk pesawat rampasan dari Perang Vietnam yang kini sudah dipensiunkan), sehingga mendiversifikasi pasokan persenjataannya alih-alih terlalu bergantung pada Moskow.

Risiko ketergantungan berlebih pada persenjataan buatan Rusia - yang semakin nyata sejak pecahnya perang di Ukraina - dianggap sebagai faktor kunci yang mendorong Hanoi untuk memperkuat strategi diversifikasinya. Selain itu, tekanan geopolitik di Laut China Selatan kian meningkat.

Menurut Reuters, China tengah meningkatkan kemampuan militernya dengan pesat dan telah mengerahkan pesawat tempur serang J-16, pesawat tempur siluman J-20, pesawat pengebom H-6, pesawat angkut Y-20, serta pesawat peringatan dini KJ-500 untuk beroperasi di berbagai wilayah perairan, termasuk wilayah yang diklaim oleh Vietnam atau berada di bawah yurisdiksinya. Menurut para pengamat, hal ini segera mendorong Hanoi untuk berupaya memodernisasi angkatan udaranya.

Armada pesawat tempur Rusia yang dimiliki Vietnam kini sudah mulai menua.
Saat ini, armada pesawat tempur Vietnam sebagian besar terdiri dari model Sukhoi buatan Rusia.

Sumber data pertahanan publik menyajikan angka yang sedikit berbeda, namun secara umum menunjukkan bahwa Vietnam saat ini memiliki sekitar 35 unit Su-30MK2, serta sekitar 5-10 unit Su-27 dan 25-30 unit Su-22 yang masih beroperasi. Di antara pesawat-pesawat tersebut, Su-30MK2 merupakan pesawat tempur multiperan paling modern milik Vietnam.

Vietnam mulai menerima Su-30MK2 pada tahun 2004 dan telah membeli total 36 unit, namun satu unit jatuh dalam kecelakaan pada tahun 2016, sehingga menyisakan 35 unit. Sementara itu, Vietnam membeli Su-27 pada pertengahan tahun 1990-an.

Su-22 bahkan jauh lebih tua lagi. Pesawat ini merupakan varian yang dikembangkan dari seri Su-17, yang mulai digunakan oleh Uni Soviet pada tahun 1970-an.

Beberapa pesawat yang lebih tua telah menjalani perbaikan menyeluruh (overhaul) dalam beberapa tahun terakhir. Namun, ketergantungan yang terus-menerus pada model pesawat yang sudah tua menimbulkan kekhawatiran terkait pemeliharaan, suku cadang, serta kemampuan untuk mempertahankan efektivitas tempur dalam jangka panjang.

07 September 2026

8 dari 20 jet F-35 Singapura akan Ditempatkan di Pangkalan Udara Tengah, Sisanya di AS

07 September 2026

Tengah AFB, Singapore (image: GoogleMaps)

SINGAPURA – Pembelian 20 jet tempur siluman F-35 beserta peralatan terkait oleh Singapura menelan biaya sebesar US$4,06 miliar (S$5,17 miliar), menurut laporan Departemen Pertahanan AS.

Ini merupakan pengungkapan resmi pertama mengenai total nilai kontrak tersebut. Laporan yang diterbitkan pada bulan April dan dirilis ke publik pada 3 Agustus itu juga merinci jadwal pengiriman jet tempur generasi kelima tersebut serta lokasi penempatannya.

Jet tempur F-35 pertama untuk Angkatan Udara Republik Singapura (RSAF) akan dikirim ke pangkalan udara AS pada akhir tahun 2026, sementara Singapura diperkirakan baru akan menempatkan pesawat-pesawat tersebut di dalam negeri pada tahun 2029.

Sebanyak 12 unit di antaranya adalah varian F-35B, yang semuanya akan ditempatkan secara permanen di Pangkalan Ebbing Air National Guard di Fort Smith, Arkansas, menurut laporan tersebut. Pelatihan F-35 bagi personel RSAF akan dilaksanakan di lokasi ini.

Komparasi kebutuhan runway F-35A dan F-35B (image: The Straits Times)

F-35B memiliki kemampuan lepas landas jarak pendek dan pendaratan vertikal, yang memungkinkannya lepas landas dari landasan pacu yang lebih pendek, serta melayang dan mendarat layaknya helikopter.

Fitur-fitur ini memberikan "fleksibilitas operasional yang lebih besar" bagi Singapura yang memiliki keterbatasan lahan, sebagaimana disampaikan oleh Menteri Pertahanan Ng Eng Hen di Parlemen pada Februari 2024 saat debat anggaran.

Kementerian Pertahanan Singapura (MINDEF) awalnya membeli empat unit pesawat tersebut pada tahun 2019, dengan opsi untuk membeli delapan unit tambahan; nilai penjualan saat itu mencapai sekitar US$2,75 miliar menurut pemerintah AS.

Kementerian tersebut kemudian menggunakan opsi pembelian untuk delapan pesawat tambahan itu pada tahun 2023.

Delapan unit sisanya dari total 20 jet F-35 yang dibeli MINDEF akan ditempatkan di Pangkalan Udara Tengah. Pesawat-pesawat ini merupakan varian F-35A.

Komparasi kemampuan pesawat F-35A dan F-35B (image: The Straits Times)

Saat dihubungi, kementerian tersebut mengarahkan The Straits Times pada tanggapan media yang mereka keluarkan pada 9 Februari mengenai pengiriman ke dalam negeri dan lokasi pangkalan jet tempur tersebut. Saat itu, pihak kementerian menyatakan akan membagikan informasi lebih lanjut setelah rinciannya dipastikan, dengan menyebutkan bahwa jadwal pengiriman lokal pesawat F-35 serta lokasi pangkalan utamanya akan bergantung pada jadwal keseluruhan proyek dan kebutuhan pelatihan.

MINDEF juga menambahkan saat itu bahwa rincian spesifik belum difinalisasi karena proses perencanaan dan produksi masih berlangsung.

Varian F-35A mampu membawa muatan senjata yang lebih besar, yakni 8.160 kg, dibandingkan dengan F-35B yang berkapasitas 6.800 kg. Pesawat ini juga memiliki kapasitas bahan bakar yang lebih besar dan mampu menempuh jarak terbang hingga 2.200 km. Sebagai perbandingan, F-35B memiliki jangkauan terbang yang lebih pendek, yaitu 1.667 km.

Laporan Departemen Pertahanan AS menambahkan bahwa MINDEF telah mulai merancang pangkalan operasi utama bagi F-35A di Singapura, yang diperkirakan akan mulai beroperasi pada kuartal keempat tahun fiskal AS 2029. Tahun fiskal AS tersebut berlangsung dari 1 Oktober 2028 hingga 30 September 2029.

MINDEF belum mengungkapkan secara terbuka biaya pengadaan jet tempur siluman tersebut, yang ditujukan untuk menggantikan armada F-16 yang sudah tua.

05 September 2026

Delegasi Dislitbangau Kunjungi Industri Pertahanan PT TAG di Bandung

04 September 2026

Rombongan Dislitbangau lakukan kunjungan kerja ke PT Tiara Angkasa Gandiva (TAG) di Bandung Barat (photos: Dislitbangau)

Bandung – Pendislitbangau. Guna memperkuat kemandirian Alpalhankam matra udara, Kepala Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI Angkatan Udara (Kadislitbangau), Marsma TNI Rachmadi Anggoro, S.E., M.Sc., M.S.S. beserta rombongan melaksanakan kunjungan kerja ke PT Tiara Angkasa Gandiva (TAG) Bandung Barat, Selasa (1/9/2026). Kunjungan tersebut merupakan bagian dari agenda kolaborasi strategis dalam rangka penelitian dan pengembangan material mandiri guna memperkuat alpalhankam matra udara.


PT Tiara Angkasa Gandiva merupakan perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang industri pertahanan dan dirgantara. Perusahaan ini dikenal sebagai penyedia suku cadang komponen pesawat terbang, produk militer seperti parasut, serta mitra dalam pengembangan amunisi dan bom pertahanan bersama TNI Angkatan Udara.


Dalam kunjungan tersebut, Kadislitbangau meninjau langsung proses fabrikasi di lini produksi PT TAG. Peninjauan ini bertujuan untuk memastikan standar quality control telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Selain itu, pertemuan juga membahas kelanjutan integrasi teknologi persenjataan yang sedang dikembangkan.


Pembahasan ini menjadi langkah awal sebelum memasuki tahap uji coba operasional di lapangan.“Kolaborasi dengan industri dalam negeri seperti PT TAG merupakan wujud nyata dukungan terhadap program kemandirian alutsista. Sebagai contoh, pada pengembangan teknologi Smoke Generating System (SGS) pesawat KT 1B Woong Bee hasil karya kolaborasi antara Dislitbangau dan PT TAG pada demo udara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di atas Istana Merdeka yang sangat memukau. Kami berharap sinergi ini dapat terus ditingkatkan untuk menghasilkan produk yang berkualitas dan berdaya saing,” ujar Kadislitbangau.


Turut hadir dalam pendampingan, Kasubdis Aero, Kolonel Tek Mohammad Arief, Kasubdis Palsus Kolonel Kal Abidin Abubakar, S.T., dan Perwira Peneliti Bidang Power Plant, Kolonel Tek Gembira Siringoringo, S.T., M.Si. beserta beberapa perwira engineering Dislitbangau.


Pada kesempatan tersebut Kadislitbangau memberikan Sertifikat Penghargaan kepada Presiden Direktur Ibu Tatiana atas keberhasilan kegiatan pengembangan teknologi Smoke Generating System (SGS) dan Smoke Oli System (SOS) sebagai bukti tertulis dan pengakuan resmi atas prestasi, jasa, dedikasi dan kontribusi dalam penelitian, pengembangan, dan penerapan teknologi pertahanan yang inovatif guna mendukung tugas pokok TNI AU.
Dislitbangau berkomitmen untuk terus mendorong dan mendukung industri pertahanan nasional melalui kegiatan penelitian dan pengembangan. Dengan semangat kolaborasi, diharapkan TNI Angkatan Udara dapat memiliki alutsista yang andal, mandiri, dan mampu menjawab tantangan tugas di masa mendatang. (R&D)

G7 Aerospace Kunjungi Infoglobal, Bahas Penguatan Kolaborasi Avionik

05 September 2026

G7 Aerospace Malaysia kunjungi Infoglobal di Surabaya (photos: Infoglobal)

Infoglobal menerima kunjungan G7 Aerospace untuk membahas peluang penguatan kolaborasi di bidang avionik.

Kunjungan ini meliputi diskusi peluang kerja sama jangka pendek, menengah, dan panjang, facility tour dan pemaparan teknologi yang dikembangkan Infoglobal, sebagai bagian dari komitmen bersama dalam menghadirkan solusi avionik yang andal dan berkelanjutan di Asia Tenggara.


Agenda dilanjutkan dengan kunjungan fasilitas dan pemaparan teknologi yang sedang dikembangkan Infoglobal. Melalui pertemuan ini, kedua pihak diharapkan dapat memperkuat sinergi dan mengidentifikasi langkah-langkah kerjasama yang kongkret dalam mendukung ketersediaan, keandalan dan pengembangan sistem avionik pada masa mendatang. Infoglobal berkomitmen untuk terus membangun kolaborasi strategis dengan mitra industri dalam menghadirkan solusi avionik yang andal, relevan dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat rantai pasok avionik di Asia Tenggara.

03 September 2026

Rafale TNI AU KIni Dilengkapi AT730 Triple Ejector Rack

03 September 2026

AT730 Triple Ejector Rack yang melengkapi Rafale TNI AU (photo: Jatosint)

Jet tempur Rafale TNI AU akan memiliki kemampuan membawa persenjataan udara-ke-permukaan dalam jumlah besar berkat penggunaan AT730 Triple Ejector Rack. 

AT730 Triple Ejector Rack (photo: Akela Freedom)

Rak peluncur ini memungkinkan satu titik gantung Rafale membawa hingga tiga amunisi kelas 250 kg, seperti bom berpemandu presisi AASM/HAMMER.

AT730 Triple Ejector Rack tampak dari bawah (photo: Akela Freedom)

Dengan dua rak AT730 di bawah sayap, Rafale dapat membawa hingga enam amunisi hanya menggunakan dua titik gantung.

AT730 Triple Ejector Rack untuk membawa AASM HAMMER (image: Akela Freedom)

Penggunaan AT730 memberikan fleksibilitas lebih besar dalam konfigurasi tempur karena titik gantung lainnya masih dapat digunakan untuk membawa rudal udara-ke-udara, tangki bahan bakar eksternal, maupun persenjataan tambahan. 

AT730 Triple Ejector Rack untuk membawa munisi presisi (image: Akela Freedom)

Selain AASM/HAMMER, AT730 juga dapat dikonfigurasi untuk beberapa jenis bom berpemandu lainnya. Kehadiran sistem ini akan meningkatkan kapasitas serangan presisi Rafale sekaligus memperkuat kemampuan multirole armada tempur TNI AU.

(Garis Depan)

01 September 2026

Proyeksi Perdagangan Pertahanan Indonesia-Amerika Serikat

01 September 2026

TNI AU masih memerlukan tambahan C-130J-30 guna menggantikan C-130B maupun L-100-300 (photo: Antara)

Perdagangan pertahanan Indonesia dan Amerika Serikat mengalami kemunduran sejak era Presiden Joko Widodo setelah mengecap arus pasang pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Parameter yang digunakan dalam menilai pasang surut aktivitas tersebut ialah pembelian peralatan pertahanan utama (major defense equipment) yang mencakup wahana beserta subsistem pendukung.

Akuisisi sistem senjata seperti AH-64E, F-16C/D Blok 25 dan sejumlah rudal bagi TNI Angkatan Udara dan TNI Angkatan Darat selama Minimum Essential Force (MEF) tahap pertama menandai menggeliatnya kembali kegiatan perdagangan kedua negara pascapencabutan embargo Amerika Serikat terhadap Indonesia pada 2005. Sedangkan pada MEF fase kedua, pengadaan signifikan oleh Indonesia terhadap produk pertahanan Amerika Serikat hanya berupa lima C-130J yang didanai oleh sindikasi sebuah bank BUMN dan sebuah bank asal Prancis.

Saat MEF babak ketiga dieksekusi, tidak ada program pembelian peralatan pertahanan utama buatan Amerika Serikat yang dilaksanakan oleh Indonesia. Program akuisisi beberapa rudal bagi F-16 dicoret dari Blue Book, sementara rencana mengimpor F-15EX juga hilang dari Daftar Rencana Pinjaman Luar Negeri Jangka Menengah 2020-2024.

Selain itu, sebuah kontrak pembelian sistem senjata asal Amerika Serikat tidak dapat dieksekusi sebab terjadi perubahan pemikiran di Kementerian Pertahanan. Padahal pada MEF tahap ketiga, Kementerian Keuangan menyediakan alokasi Pinjaman Luar Negeri untuk Kementerian Pertahanan nyaris lima kali lipat daripada MEF fase kedua.

Ketika Indonesia memasuki Optimum Essential Force (OEF) 2025-2029, sulit mengharapkan akan ada pembelian dengan nilai kontrak yang besar dari Amerika Serikat. Seumpama akal sehat masih mewarnai dalam pengambilan keputusan, Indonesia setidaknya harus melakukan pengadaan munisi bagi F-16 dan AH-4E, termasuk rudal dan kit bom pintar agar armada jet tempur dan helikopter serang itu siap tempur dan tidak hanya siap untuk acara seremonial saja.

Tentu menjadi pertanyaan mengapa Jakarta tidak bersemangat untuk berbelanja peralatan perang dari Washington walaupun beberapa tahun lalu Menteri Pertahanan Prabowo Subianto pernah menyatakan bahwa prioritas belanja peralatan pertahanan Indonesia adalah pada negara-negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB.

Terhadap pertanyaan demikian, beberapa hal berikut patut diduga berkontribusi pada arus surut perdagangan pertahanan Indonesia dan Amerika Serikat. Pertama, perencanaan akuisisi. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa perencanaan pembelian sistem senjata tidak dilakukan secara matang, bahkan ada pihak yang menilai bahwa tidak ada perencanaan sama sekali.

Persenjataan F-16 standar Viper (photo: Reddit)

Padahal seandainya perencanaan dilaksanakan secara matang, faktor-faktor seperti geopolitik, ekonomi maupun kondisi peralatan pertahanan yang digunakan saat ini, besar kemungkinan akan mempengaruhi keputusan mengenai akuisisi pertahanan. Sebagai contoh, perencanaan yang matang tidak akan membuat suatu wahana yang dioperasikan nyaris kekurangan munisi dan suku cadang karena tidak ada pembelian baru.

Kedua, aturan perdagangan pertahanan. Aturan perdagangan pertahanan Amerika Serikat yang ketat, di mana produsen senjata negara itu dapat dikenai denda oleh Departemen Kehakiman apabila melanggar aturan, membuat aktivitas perdagangan dengan Amerika Serikat tidak menarik bagi Indonesia.

Walaupun terdapat skema Direct Commercial Sales (DCS) bagi sejumlah sistem senjata, skema tersebut terhitung cukup ketat, meskipun tidak sekeras skema Foreign Military Sales (FMS). Misalnya, DCS tidak dapat mengakomodasi peran makelar dalam ekspor senjata Amerika Serikat ke negara lain, selain nilai fee bagi mitra lokal firma pertahanan Amerika Serikat telah diatur.

Ketiga, daya saing harga jual. Penjualan sistem senjata Amerika Serikat ke luar negeri selalu dirangkai dengan paket Integrated Logistics System (ILS) atau dikenal juga sebagai initial spare minimal hingga dua tahun ke depan agar pembeli dapat memakai secara optimal dalam jangka waktu tertentu. Biaya pengadaan akan menjadi lebih mahal lagi seumpama Indonesia meminta paket offset sebagai implementasi dari aturan yang berlaku.

Kedua hal itu dapat membuat harga yang ditawarkan oleh Amerika Serikat lebih mahal daripada yang disodorkan oleh pesaing, sebab kompetitor dapat saja mengurangi paket ILS agar harga yang diajukan lebih murah. Selama ini Indonesia kurang memberikan perhatian khusus pada paket ILS dalam akuisisi sistem senjata, antara lain tercermin dalam pembelian Rafale F4i.

Bertolak dari situasi sekarang, bagaimana proyeksi perdagangan pertahanan Indonesia dan Amerika Serikat sampai akhir dekade ini? Apakah Indonesia akan menyisihkan sebagian kecil anggaran modernisasi kekuatan pertahanan guna dibelanjakan di Amerika Serikat? Pertanyaan itu tidak mencakup pembelian rutin untuk suku cadang sejumlah produk pertahanan Amerika Serikat yang saat ini dioperasikan oleh Indonesia.

Kemhan dapat mempertimbangkan tambahan AH-64E jika hendak meningkatkan kesiapan operasional helikopter serang (photo: Antara)

Memperhatikan secara seksama dinamika kerjasama pertahanan saat ini, apalagi setelah kedua belah pihak menyepakati Major Defense Cooperation Partnership yang mencakup pula modernisasi militer dan pembangunan kapasitas, proyeksi perdagangan pertahanan Indonesia dan Amerika Serikat ialah sebagai berikut.

Pertama, kemungkinan pembelian C-130J-30. Bila mengacu pada rencana kebutuhan TNI Angkatan Udara, matra tersebut masih memerlukan tambahan C-130J-30 guna menggantikan sejumlah C-130B yang dipensiunkan maupun C-130H dan L-100-300 yang mengalami total loss akibat kecelakaan.

Apalagi saat ini TNI Angkatan Udara sudah mempunyai tiga skadron udara untuk pesawat angkut buatan Lockheed Martin, di mana terdapat jumlah standar C-130 yang harus dipenuhi pada setiap skadron udara. Pengadaan C-130J-30 dapat menggunakan skema DCS, namun Amerika Serikat tidak dapat mengakomodasi peran makelar dalam ekspor pesawat turboprop itu ke Indonesia.

Kedua, peluang pengadaan munisi dan kit bom pintar. Apabila Indonesia benar-benar menyiapkan sistem senjata seperti AH-64E dan F-16 siap tempur dan bukan hanya bisa fly past di acara-acara seremonial, akuisisi rudal seperti AIM-9X, AIM-120C-7, AGM-65K2 dan AGM-114R-3 beserta kit bom pintar wajib dilakukan.

Terdapat dugaan terdapat ketidakseimbangan antara kebutuhan munisi dengan jumlah wahana yang dipunyai sehingga berpotensi menjadi masalah besar jika terhadap konflik bersenjata di kawasan Indo Pasifik. Memperhatikan karakteristik rudal dan kit tersebut, satu-satunya skema yang tersedia seumpama Indonesia hendak membeli adalah FMS, sehingga menutup rapat kemungkinan Indonesia memanfaatkan jasa makelar.

Di luar impor F-15EX yang pintunya telah tertutup rapat sesudah Indonesia tidak menandatangani Letter of Offer and Acceptance pada Desember 2025, Jakarta perlu mempertimbangkan tambahan AH-64E jika hendak meningkatkan kesiapan operasional pesawat sayap putar buatan Boeing itu berdasarkan siklus operasi dan pemeliharaan sistem senjata.

Sebenarnya terdapat kebutuhan TNI Angkatan Darat terhadap tambahan helikopter serang tersebut, namun apakah akan dipenuhi tergantung pada Kementerian Pertahanan. Sebagaimana rudal, pengadaan AH-64E kurang menarik sebab hanya bisa lewat skema FMS yang bebas makelar. (Alman Helvas Ali)

31 Agustus 2026

Kemhan Pastikan RI Belum Teken Kontrak Pengadaan Jet Tempur F-15 Eagle dari AS

31 Agustus 2026

Pesawat tempur F-15EX (photo: QEAF)

Jakarta, IDM – Kementerian Pertahanan RI memastikan pemerintah Indonesia belum meneken kontrak pengadaan jet tempur F-15 Eagle atau F-15EX produksi perusahaan dirgantara asal Amerika Serikat (AS), Boeing.

Hal ini disampaikan Kemhan RI menanggapi daftar kontrak industri-industri pertahanan AS terkait penjualan alat utama sistem persenjataan (alutsista). Daftar itu dirilis oleh Departemen Perang AS melalui laman mereka, Senin (24/8).

“Terkait F-15, sampai saat ini belum ada pembahasan lebih lanjut mengenai rencana pengadaannya. Kemhan juga belum memiliki kontrak aktif maupun LOA (letter of offer and acceptance) yang diaktifkan untuk pengadaan F-15,” kata Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan RI Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait dalam keterangannya, Jumat (28/8).

Dalam rilis yang disampaikan Departemen Perang AS, disebut Indonesia sebagai salah satu negara yang dilibatkan dalam kontrak pengadaan pesawat tempur F-15EX.

“Pekerjaan (pembuatan F-15 Eagle) akan dilakukan di St. Louis, Missouri, dan diharapkan selesai pada Agustus 2037. Periode pemesanan diperkirakan akan berakhir pada 24 Agustus 2031, dengan opsi perpanjangan periode pemesanan hingga 24 Agustus 2036. Kontrak ini melibatkan penjualan ke Jepang, Israel, Arab Saudi, Korea Selatan, Singapura, Indonesia, dan Polandia,” tulis Departemen Perang AS.

Kontrak tersebut meliputi produksi pesawat, integrasi sistem, modernisasi, peningkatan kemampuan, retrofit, pemeliharaan, dan pembentukan kemampuan pemeliharaan depot terhadap pesawat F-15.

“Pencantuman Indonesia dalam rilis kontrak F-15 dari pihak AS tersebut tidak dapat diartikan bahwa Indonesia telah melakukan atau mengaktifkan kontrak pengadaan F-15,” kata Rico.

(IDM)

30 Agustus 2026

New Zealand Launches Long-range Uncrewed Aircraft Acquisition Programme

30 Agustus 2026

The Long range UAVs will supplement four P-8A Poseidon aircraft and several King Air platforms in the intelligence, surveillance, and reconnaissance (ISR) role (photo: USAF)

Defence launches market research into long-range uncrewed aircraft systems
Defence has issued a request for information to industry focused on long-range uncrewed aircraft systems (UAS), which can operate up to 1,400 nautical miles from base for at least six hours.

The information gathered will provide Defence with indicative costs and timeframes for the potential delivery of a system to conduct maritime surveillance activities across the South West Pacific. The UAS will not be armed. 

“This request for information is a market research tool that aims to inform the next stage of the Persistent Surveillance Air project. It does not initiate a procurement process nor a commitment to acquire new systems. No decisions have been made,” Sarah Minson, Deputy Secretary, Capability Delivery, said.  

“We are looking for solutions that have high-definition imaging systems and a maritime search radar, with the ability to provide near real time imagery back to the ground control station in all weather conditions, and during the day or night. We are currently planning a commercially owned and commercially operated delivery model.  

“Defence encourages New Zealand businesses to provide a response to this request for information, describing how they could meet the needs of the New Zealand Defence Force.” 

The notice has been published on the Government Electronic Tender Service.

Kisah Pesawat Lockheed T-33 T-Bird TNI AU

30 Agustus 2026

Satu skadron pesawat Lockheed T-33 T-Bird yang terdiri dari 16 pesawat diserahkan kepada TNI AU (photos: TNI AU)

Satu skadron Lockheed T-33 T-Bird resmi diserahkan kepada Indonesia sebagai penguat kemampuan pembinaan penerbang jet tempur TNI Angkatan Udara. Pesawat ini kemudian berperan penting dalam pendidikan, pelatihan, serta pengembangan kemampuan tempur, bahkan berhasil dimodifikasi menjadi pesawat bersenjata oleh insan TNI AU.

Meski telah mengakhiri masa operasionalnya pada 1980, jejak pengabdian Lockheed T-33 T-Bird tetap dikenang sebagai bagian dari sejarah kekuatan udara Indonesia dan kini diabadikan sebagai koleksi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala.

Pada 23 Agustus 1973, TNI Angkatan Udara menerima satu skadron pesawat latih jet Lockheed T-33 T-Bird di Lanud Iswahjudi, Madiun. Pesawat-pesawat tersebut diterbangkan langsung oleh pilot-pilot Angkatan Udara Amerika Serikat dalam empat gelombang yang tiba pada 17 April hingga 22 Juni 1973.

Sebagai pesawat latih, Lockheed T-33 T-Bird semula direncanakan berada di bawah Komando Pendidikan Angkatan Udara (Kodikau). Namun berdasarkan kebutuhan organisasi dan kondisi operasional saat itu, pesawat ini kemudian ditempatkan di bawah Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas).

Melalui Keputusan Kasau Nomor Kep/33/V/1974 tanggal 1 Mei 1974, Lockheed T-Bird ditetapkan sebagai pesawat untuk proficiency training bagi penerbang jet tempur serta transition training bagi penerbang yang akan mengoperasikan pesawat F-86 Sabre. 

Selanjutnya berdasarkan Surat Keputusan Pangkohanudnas Nomor Skep/A/V/1974 tanggal 10 Mei 1974, pesawat tersebut dimasukkan ke dalam unsur organik Komando Satuan Buru Sergap dengan nama Satuan Buru Sergap (Satsergap) T-33 T-Bird. 

T-33 T-Bird ketika mengemban misi tempur (photo: Marsda Holki BA)

Pada tahun 1978, Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI Angkatan Udara berhasil memodifikasi pesawat Lockheed T-33 T-Bird menjadi pesawat yang mampu mengemban misi tempur. 

Melalui serangkaian uji coba para peneliti berhasil mengintegrasikan berbagai sistem persenjataan, meliputi peluncur roket KB-13 yang menggunakan roket FFAR, bom udara serta senapan mesin kaliber 12,7mm. Keberhasilan tersebut merupakan tonggak penting dalam pengembangan kemandirian teknologi pertahanan TNI Angkatan Udara, karena mampu mengintegrasikan sistem persenjataan yang tidak termasuk dalam konfigurasi asli T-33 T-Bird.

Fungsi asalnya, pesawat T-33 T-Bird digunakan untuk transition training bagi penerbang F-86 Sabre sebagaimana foto diatas (photo: Gideon PY)

Pada tahun 1979, Satsergap T-33 direorganisasi menjadi Skadron Tempur T-33 di bawah Wing Tempur 300, kemudian pada tahun berikutnya berubah menjadi Skadron Operasional T-33 Bird. Setelah memberikan kontribusi dalam pembinaan kemampuan penerbang jet tempur TNI Angkatan Udara, pesawat Lockheed T-33 T-Bird resmi mengakhiri masa operasionalnya pada tahun 1980.

Kini salah satu diantaranya menjadi koleksi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala di Yogyakarta sejak tahun 1985 sebagai warisan sejarah perkembangan kekuatan udara Indonesia.

(TNI AU)

29 Agustus 2026

Blessing Ceremony of Seven Newly Acquired, PAF Completes Delivery of 32 S-70i Black Hawak Helicopters

29 Agustus 2026

Acceptance, Turnover and Blessing Ceremony of Seven Newly Acquired Black Hawk Helicopters at Colonel Jesus Villamor Air Base in Pasay City on August 26, 2026 (photos: PAF)

The Philippine Air Force (PAF) has completed the delivery of all 32 S-70i Black Hawk helicopters during the Acceptance, Turnover, and Blessing Ceremony for seven newly acquired S-70i Black Hawk helicopters with Lieutenant General Arthur M Cordura PAF, Commanding General, PAF, as Guest of Honor on August 26, 2026, at Colonel Jesus Villamor Air Base, Pasay City.

The acquisition forms part of Horizon 2 of the Revised Armed Forces of the Philippines (AFP) Modernization Program, pursuant to Republic Act No. 10349, which aims to develop and modernize the AFP’s capabilities.


With the completion of the 32-aircraft acquisition, the PAF further strengthens its capability to conduct air transport, humanitarian assistance and disaster response, search and rescue, medical evacuation, and other critical air operations.

The full delivery underscores the PAF’s continuing commitment to modernization and mission readiness, providing the nation with a more capable and responsive rotary-wing fleet in support of national defense and the Filipino people.

With 32 Black Hawks now in its fleet, the Philippine Air Force takes another significant step toward a more credible, agile, and mission-ready air force—ready to protect, respond, and serve whenever and wherever needed.

(PAF)

27 Agustus 2026

MOF Tinjau Tadbir Urus dan Kesiapsiagaan Aset Su-30MKM di Gong Kedak

27 Agustus 2026

Rudal udara-ke-udara, rudal anti radiasi dan rudal anti kapal yang melengkapi Su-30MKM (photo: TUDM)

GONG KEDAK - Pengurusan aset, alat ganti serta tahap kesiapsiagaan pesawat Su-30MKM menjadi fokus lawatan pemantauan Bahagian Pengurusan Aset Awam (PAM), Kementerian Kewangan (MOF) ke Pangkalan Udara Gong Kedak.

Pemantauan dilaksanakan bagi menilai aspek tadbir urus, pengurusan dan penyelenggaraan aset agar terus mematuhi dasar serta tatacara pengurusan aset Kerajaan yang berkuat kuasa. Lawatan ini juga memberi peluang kepada MOF untuk melihat secara langsung peranan aset TUDM dalam mendukung keupayaan pertahanan udara serta menjaga keselamatan dan kedaulatan negara.

Delegasi seramai 20 orang pegawai itu diketuai oleh Setiausaha Bahagian Pengurusan Aset Awam, YBhg. Datuk Alan bin Abdul Rahim serta melibatkan wakil Bahagian Perolehan Kerajaan (BPK) dan Pejabat Belanjawan Negara (NBO).

Lawatan turut disertai oleh Timbalan Ketua Setiausaha (Pengurusan), Kementerian Pertahanan (MINDEF), YBhg. Datin Roszanina binti Wahab bersama Timbalan Setiausaha Bahagian Kewangan, Puan Mas Sakdah binti Kamaruzzaman dan Ketua Penolong Setiausaha Cawangan Pengurusan Aset, Encik Zul Azri bin Abdullah.

TUDM pula diwakili oleh Panglima Operasi Udara, Leftenan Jeneral Dato’ Masro bin Kaliwon TUDM, Panglima Bantuan Udara, Mejar Jeneral Dato’ Ahmad Khusairi bin Ahmad Fadli TUDM dan Asisten Ketua Staf Materiel, Brigedier Jeneral Norizan binti Wahab TUDM.

Ketibaan delegasi telah disambut oleh Komander Pangkalan Udara Gong Kedak, Kolonel Hasfa Nyzam bin Abdul Hamid TUDM bersama Pegawai Eksekutif Pangkalan.

Selepas menerima taklimat ringkas mengenai pengoperasian pangkalan, delegasi dibawa meninjau pesawat Su-30MKM di Tactical Shelter No. 12 Skn dan Sistem Misil di Terminal Peluru 4.

Delegasi turut meninjau kemudahan Automated Storage and Retrieval System (ASRS) di MATRA 3 yang digunakan bagi pengurusan alat ganti serta Pusat Simulator Su-30MKM.

Tinjauan secara langsung ini memperkukuh kefahaman bersama antara MOF, MINDEF dan TUDM mengenai keperluan pengurusan aset pertahanan, sekali gus memastikan aset strategik negara diurus secara berkesan, berintegriti dan sentiasa berada pada tahap kesiapsiagaan yang optimum.

26 Agustus 2026

PAF Menerima 9 Kendaraan Tempur KLTV K152 Versi APC

26 Agustus 2026

Kendaraan angkut personel lapis baja KLTV K152 (photo: AFPMPU)

Angkatan Udara Filipina/Philippine Air Force (PAF) telah menerima kendaraan angkut personel lapis baja (APC) 4x4 baru—tepatnya sebanyak sembilan unit.

Foto yang memperlihatkan kendaraan angkut personel lapis baja KLTV K152 baru milik Angkatan Udara Filipina ini dibagikan oleh seorang anggota komunitas.

Kendaraan ini memiliki kapasitas delapan penumpang, serta dilengkapi perlindungan standar STANAG Level 2 hingga 3 (tergantung pada spesifikasi yang diajukan oleh PAF) dan perlindungan terhadap ledakan ranjau.

Kendaraan ini dapat dipasangi senapan mesin 7,62 mm, peluncur granat, atau sistem senjata anti-tank. APC ini kemungkinan besar akan ditugaskan ke unit 710th SPOW.

25 Agustus 2026

Boeing Secures $131 Bln IDIQ Contract for F-15 Aircraft include Indonesia

25 Agustus 2026

In August 2023, Indonesia signed a MoU for the purchase of 24 F-15EX fighter jets (image: Boeing)

The Boeing Co., St. Louis, Missouri, has been awarded a $131,230,000,000 ceiling, indefinite-delivery/indefinite-quantity contract for the F-15 Eagle Crest in support of the F-15 Program Office. 

This contract provides for aircraft production, systems integration, modernization, upgrades, retrofits, sustainment, and the establishment of organic depot maintenance capabilities to deliver and maintain critical F-15 Eagle Weapon System capabilities for the Air Force, Air National Guard, and other Department of War customers. 

Work will be performed at St. Louis, Missouri, and is expected to be completed by August 2037. The ordering period is expected to end Aug. 24, 2031, with an option to extend the ordering period to Aug. 24, 2036. 

This contract involves Foreign Military Sales to Japan, Israel, Saudi Arabia, South Korea, Singapore, Indonesia, and Poland. 

This contract was a sole-source acquisition. Fiscal 2026 research, development, test and evaluation funds in the amount of $343,740 are being obligated at the time of award. The Air Force Life Cycle Management Center, Wright-Patterson Air Force Base, Ohio, is the contracting activity (FA8634-26-D-B001).

24 Agustus 2026

U.S. Navy Unveils AIM-424 'Malice' Very Long-Range Air-to-Air Missile

24 Agustus 2026

AIM-424 'Malice' very long-range air-to-air missile with range: in excess of 250 nm (463km) (photos: US Navy)

The Department of Navy is developing the Air Intercept Missile (AIM)-424 Long Range Air to Air Missile (LRAAM), a next-generation missile intended to strengthen fleet defense and maintain a decisive air domain overmatch against advanced threats. Also known as Malice, LRAAM directly supports the Department’s contribution to integrated deterrence by increasing range, lethality, and combat effectiveness for Marine and Naval aviation forces that are defending our fleets, our interests, and our homeland.

LRAAM sustains the Department’s first look, first shot, first kill advantage by providing our aviators greater reach, greater survivability, and greater tactical flexibility in the air-to-air fight. Built for 4th, 5th, and 6th generation platforms, LRAAM is designed for the air wing of today and the future.


Specifications
Primary Function: Air-to-Air Missile
Contractor: Raytheon
Propulsion: Solid-propellant rocket motor
Length: 13.5 feet (4.11 meters)
Diameter: 13.5 inches (0.34 meters)
Wingspan: 26.2 inches (0.67 meters)
Weight: 1500 pounds (680.4 kg)
Range: In excess of 250 nm (463 km)
Warhead: Blast fragmentation

Persenjataan Udara RTAF yang Dirilis saat Kunjungan PM ke Wing 1

24 Agustus 2026

PM Anutin menerbangkan sendiri pesawat pribadinya jenis Socata TBM 930 dengan dikawal 3 pesawat F-16 (photos: RTAF)

Dari gambar yang dirilis oleh Angkatan Udara Kerajaan Thailand pada hari Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul mengunjungi Wing 1 (14 Agustus 2026) di Korat AFB, senjata-senjata tersebut disusun dari kiri ke kanan pada gambar di bawah adalah:
- AIM-120C-5 AMRAAM
- GBU-10 PAVEWAY II
- GBU-12 PAVEWAY II
- Mk 82 dengan sumbu tunda M905
- Mk 82 dengan sirip Snakeye untuk meningkatkan hambatan udara
- Mk 82 dengan ballute BSU-49 untuk meningkatkan hambatan udara
- KGGB
- Lizard III
- AGM-65D Maverick
- AIM-9M Sidewinder

Persenjataan udara RTAF yang diperlihatkan di Wing 1 (photos: RTAF)

Pesawat-pesawat disusun dari kiri ke kanan: F-5TH, Alpha Jet-TH, F-16 OCU, Saab 340 AEW, Gripen D, T-50TH, AT-6TH, dan Aerostar-BP (paling depan)

Pengamatan:
1. Set senjata ini terutama untuk F-16 OCU di Wing 1, Korat.

2. IRIS-T belum ada. Meskipun ada gambar-gambar terbaru yang menunjukkan pengujiannya dengan F-16 di Korat, skuadron terdekat yang memiliki rudal IRIS-T adalah Wing 21 di Ubon Ratchathani, yang menggunakannya dengan F-5.


3. AGM-65 masih dipajang, yang mungkin berarti masih dapat digunakan, tetapi kemungkinan besar sudah sangat tua.

4. Mk 82 adalah seri yang diproduksi oleh Angkatan Udara Kerajaan Thailand sendiri.


5. M905 adalah sumbu ekor detonasi tunda yang dirancang untuk meledak di dalam target, mirip dengan bom Bunker Buster. Namun, seri Mk tidak memiliki selubung keras untuk menembus bunker, dan bentuknya yang meruncing berarti tidak memiliki sifat-sifat Bunker Buster. Penetrasi tidak akan sedalam itu, bahkan dengan sumbu khusus, yang merupakan celah yang harus diatasi di masa depan, terutama setelah kesulitan yang dihadapi dalam menghancurkan bunker Kamboja.

6. Ada dua jenis bom Mk 82 yang mungkin tidak digunakan dalam bentrokan di  Perbatasan Thailand-Kamboja baru-baru ini: satu dengan sumbu ekor yang meningkatkan hambatan, digunakan untuk menjatuhkan bom di ketinggian rendah untuk memperlambat penurunan bom dan mencegah ledakan mempengaruhi pesawat yang menjatuhkan bom. Diperkirakan bahwa kekuatan udara Angkatan Udara Kerajaan Thailand pada saat itu tidak menggunakan jenis ini. Karena potensi risiko menghadapi tembakan balasan, lebih disukai untuk menjatuhkan bom di ketinggian menengah atau lebih tinggi.

(TAF)

22 Agustus 2026

Latihan Bersama China-Thailand "Falcon Strike-2026" Berakhir

22 Agustus 2026

Latihan bersama Falcon Strike 2026 diadakan di Pangkalan Udara Udorn (Udorn Royal Thai Air Force Base / Wing 23) yang terletak di Provinsi Udon Thani, wilayah timur laut Thailand (photo: China Military)

UDORN -- Upacara penutupan latihan bersama angkatan udara China-Thailand "Falcon Strike-2026" diselenggarakan pada pagi hari tanggal 20 Agustus di Pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Thailand Udorn.

China telah mengerahkan jet tempur J-10C dan J-11 serta pesawat AEW&C, sementara Thailand ikut serta dengan jet tempur Gripen dan Alphajet (photos: RTAF)

Pihak China mengerahkan berbagai jenis peralatan, termasuk pesawat tempur, pesawat peringatan dini, pesawat pengisian bahan bakar di udara, helikopter, dan sistem rudal darat-ke-udara, serta berlatih dalam kelompok gabungan bersama Angkatan Udara Kerajaan Thailand, dengan sukses menyelesaikan seluruh tugas yang telah dijadwalkan.


Selama latihan bersama tersebut, kedua belah pihak melaksanakan latihan yang mencakup materi pertahanan udara gabungan dan penyelamatan medis kemanusiaan, serta mengadakan diskusi mengenai berbagai isu seperti pelatihan personel angkatan udara dan penggunaan armada pesawat nirawak (UAV).


Diketahui bahwa kegiatan ini merupakan pelaksanaan kesembilan dari rangkaian latihan gabungan antara angkatan udara China dan Thailand. Rangkaian latihan udara bersama "Falcon Strike" telah menjadi wadah penting untuk memperkuat pertukaran dan kerja sama antara kedua militer, serta memiliki arti penting dalam memperdalam rasa saling percaya dan persahabatan antara kedua belah pihak, sekaligus menjaga keamanan dan stabilitas kawasan secara bersama-sama.

21 Agustus 2026

Menhan Pastikan Indonesia Bakal Kedatangan Banyak Jet Tempur dan Transport

21 Agustus 2026

Pesawat tempur J-10CE dari China disebutkan akan didatangkan ke Indonesia (photo: Pakdef)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pertahanan (Menhan) RI memberikan isyarat bahwa ke depan Indonesia akan kedatangan jet tempur dengan jumlah lebih besar. 

"Ke depan kita akan mendapatkan jumlah pesawat transportasi dan juga pesawat tempur yang lebih besar," kata Menhan di Hanggar PT GMF, Bandara Soekarno Hatta, Kota Tangerang, Banten, Rabu (19/8/2026).

Meski begitu, Sjafrie tidak menjelaskan secara rinci berapa alutsista baru yang akan datang dan kapan kedatangan itu terjadi. Dia menyebutkan, ragam pesawat tempur baru itu dipastikan akan menjalani perawatan dan pemeliharaan mesin oleh industri pertahanan dalam negeri.

Upaya itu dilakukan agar Indonesia tidak ketergantungan dengan perusahaan alutsista asing. "Jadi kita tidak hanya membeli alatnya, tapi kita beli sistemnya. Ini yang akan kita terapkan di Indonesia," jelas Sjafrie di acara penerimaan pesawat Hercules C-130 H yang telah menjalani perawatan dan pemeliharaan dari PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF) kepada Kemenhan RI.

Pesawat tanker IL-78MK90A dari Rusia dikabarkan akan melengkapi armada transport TNI AU (photo: Alexander Kopitar)

Menurut dia, kemampuan perusahaan dalam negeri dalam melakukan perawatan alutsista sudah teruji melihat dari keberhasilan PT GMF dalam melaksanakan perawatan kelas berat pesawat Hercules C-130 H. Capaian tersebut menunjukkan peningkatan kemampuan industri penerbangan nasional karena sebelumnya perawatan kelas berat Hercules C-130 H dilakukan oleh Lockheed Martin.

Sjafrie berharap, keberhasilan industri pertahanan dalam negeri ini bisa berjalan dengan konsisten sehingga ke depan seluruh pesawat tempur baru TNI AU bisa ditangani penuh oleh putra-putri terbaik bangsa. 

Selain jet tempur Rafale asal Prancis, Kemenhan dikaitkan dengan jet tempur KAAN dari Turki, KF-21 Boramae dari Korea Selatan, Sukhoi Su-35 dari Rusia, Chengdu J-10 dari China, dan JF-17 Thunder dari Pakistan.