Tampilkan postingan dengan label ANGKATAN LAUT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ANGKATAN LAUT. Tampilkan semua postingan

13 September 2026

The Republic of Singapore Navy Successfully Concludes Exercise Maritime Cooperation with People’s Liberation Army (Navy)

13 September 2026

RSS Steadfast and PLANS Dali (photos: Sing Mindef, China Military Bugle)

The Republic of Singapore Navy (RSN) and the People’s Liberation Army (Navy) [PLA (Navy)] concluded the fifth edition of Exercise Maritime Cooperation (XMC) earlier today. Held from 5 to 9 September 2026 in Zhanjiang, China, the exercise saw the participation of the RSN’s Formidable-class frigate RSS Steadfast, and PLA Navy’s Jiangkai-II-class frigate PLANS Dali.


During the exercise, both navies had an exchange of sea riders and conducted a series of maritime security and conventional warfare drills. These included gunnery firings, communications and manoeuvring exercises, as well as joint search and rescue and medical evacuation serials. Ashore, the navies engaged in planning exercises and professional exchanges.


Speaking on the conduct of the exercise, the RSN’s Deputy Fleet Commander Colonel Ng Yen Meng said, “Through these serials, we have strengthened our operational competencies and deepened the trust and understanding between our two navies, allowing us to strengthen relationships. Exercise Maritime Cooperation 2026 represents yet another milestone in our navies' shared journey towards greater understanding and mutual trust, and I look forward to many more years of cooperation ahead.”


XMC underscores the longstanding, warm and friendly bilateral defence relationship between Singapore and the People’s Republic of China.

12 September 2026

Preparing the Diponegoro Class for Future Missions

12 September 2026

Concept design for the Diponegoro Class refurbishment by Nevesbu (photos: Nevesbu)

Recently, Nevesbu presented its concept design for the Diponegoro Class refurbishment to the Indonesian Ministry of Defense, Navy and prime contractor PT Len Industri (Persero) (Official). The Platform System Integration (PSI) concept was well received, with constructive feedback supporting the next steps in its development.


We are proud of the Nevesbu team, who developed the concept design for the PSI solution for the extensive high-end SEWACO package in just three months. Looking forward to the full scale design solution for the refurbishment!

HJ Heavy Industries will Receive Orders from Southeast Asia for High-Speed ​​Patrol Boats

12 September 2026

The Southeast Asian country mentioned above is described by defense analysts as related to the Philippines (photos: RoK Armed Forces)

[Financial News] HJ Heavy Industries is signaling a rebound in performance by predicting a "double-pull" success in the domestic and international special vessel bidding wars in the second half of this year. Market attention is focused on whether the company can simultaneously secure overseas orders for high-speed patrol boats, following the follow-up contract for the Navy's new high-speed patrol boat (PKMR) this coming November.

According to industry sources on the 25th, as expectations grow domestically for a follow-up contract for the new high-speed patrol boat (PKMR), a key asset for defending the Northern Limit Line (NLL), HJ Heavy Industries is also projected to have a high probability of securing overseas orders for patrol boats in the second half of the year. The domestic PKMR project is reportedly planned for two vessels.

The PKMR (Golden Eagle-B class) is a high-speed patrol vessel referred to as the "spearhead force" in the Navy's coastal combat operations. Its strength lies in its ability to operate in shallow waters, equipped with waterjet propulsion. Notably, it is reported to have significantly improved performance compared to previous models, featuring reinforcements such as a state-of-the-art combat system, anti-missile decoy system, and electronic warfare equipment.

In fact, new features of the first PKMR Black Eagle-B Batch-II ship include the integration of the control and firing functions of the 130mm guided rocket and the 12.7mm remote firing control system into the combat system, and the enhancement of electronic warfare response capabilities through strengthened anti-jamming capabilities.

PKMR is a 33,10 meter in length and 156 tonnes with max speed of 38 knots (photo: RoK Armed Forces)

Southeast Asia orders
Securing overseas orders is also a key factor. The industry believes it is highly likely that the schedules for overseas high-speed boats will align with domestic orders, aiming for November contracts as well. In this scenario, it is assessed that the visibility of second-half earnings could be further enhanced alongside the normalization of sales for specialized vessels. However, the signing of the high-speed landing craft for the United Arab Emirates (UAE), a pipeline project in the Middle East, is expected to be delayed due to the impact of the war with Iran.

"Kim Dae-sung, an analyst at DS Investment & Securities, stated, 'HJ Heavy Industries has an abundant pipeline in terms of special vessel exports. Two orders are currently pending, including a high-speed landing craft for the UAE and a high-speed vessel for Southeast Asia. 

In particular, the high-speed landing craft is the highest-priced model relative to the size HJ Heavy Industries can build, so a significant contribution to earnings is expected upon securing the order.' He added, 'Even excluding the momentum from overseas warship exports, the trend of increasing visibility for securing orders for the U.S. Strategic Merchant Fleet and warships through cooperation with MASGA could continue.'"

KSAL Sebut RI Ditawari Kapal Selam Interim (Sementara) oleh Negara-negara Lain

12 September 2026

Indonesia diketahui mendapatkan penawaran kapal selam interim dari China, Italia, Jepang, Jerman, Prancis, Turki, dan Spanyol (photo: Keris Reborn)

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali mengatakan bahwa Indonesia telah ditawari kapal selam interim oleh sejumlah negara. 

"Ada beberapa negara yang sudah menawarkan, dan bisa jadi kita akan membeli dari beberapa negara yang sudah menawarkan itu," kata Ali di Auditorium Yos Sudarso, Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal), Cipulir, Jakarta, Rabu (9/9/2026). 

Kapal selam interim adalah kapal selam sementara sembari menunggu pengerjaan kapal selam selesai.

Namun demikian, Ali tidak menjelaskan lebih lanjut negara mana saja yang dimaksud.

JS Jingei (SS-515) kapal selam Jepang berteknologi Li Ion termasuk yang ditawarkan (photo: Foronaval)

Selain kapal selam konvensional, Ali mengungkapkan TNI AL bekerja sama dengan PT PAL juga akan membangun kapal selam tanpa awak atau kapal selam otonom (KSOT).

Menurutnya hal tersebut dinilai lebih efektif dan efisien. 

Selain itu, TNI AL juga berencana mengadakan kapal selam kecil atau midget submarine. 

"Mungkin juga kita akan mengadakan kapal selam jenis itu," ucapnya.

Ia menambahkan, berbagai upaya tersebut bisa dilakukan TNI untuk mengisi kekuatan laut. 

Kendati demikian, Ali menyerahkan keputusan tersebut kepada pemerintah. 

Type 212NFS kapal selam Italia yang akan diluncurkan pada pertengahan 2028 dan berteknologi Li Ion termasuk yang ditawarkan (photo: Fincantieri)

"Jadi hal-hal itu sangat memungkinkan, tapi keputusannya semua berada di Kementerian Pertahanan," tuturnya. 

Menunggu kapal selam Scorpene selesai 
Diketahui rencana TNI AL mengadakan kapal selam interim dilakukan sambil menunggu Scopene selesai dibangun. 

Pembangunan Scopene sendiri membutuhkan waktu 7-8 tahun. 

Di sisi lain Indonesia hanya memiliki 4 kapal selam. Berbeda dengan sejumlah negara di Asia Tenggara yang memiliki lebih dari 4 kapal selam. 

"Dan selama delapan tahun kekosongan ini, kita hanya memiliki empat kapal selam. Yaitu satu kelas Cakra, kemudian yang tiga kelas Nagapasa," kata Ali.

11 September 2026

Prabowo Rencana Tambah Lebih Banyak Kapal-kapal LCM dan LCVP

11 September 2026

LPD KRI Semarang 594 (photo: Vovashap)

Jakarta (ANTARA) - Presiden Prabowo Subianto berencana menambah lebih banyak kapal-kapal berjenis kapal pendarat mekanis (LCM) dan kapal pendarat kendaraan dan personel (LCVP) mengingat Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki banyak gugusan pulau-pulau yang kecil.

Prabowo saat rapat terbatas (ratas) melalui sambungan video-conference di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, menjelaskan keberadaan kapal-kapal itu berguna untuk mengirimkan bantuan dan personel ke pulau-pulau kecil manakala daerah tersebut terdampak bencana.

"Catatan bagi kita, bagi Angkatan Laut ya, saya kira dari sekarang kita perlu pesan lebih banyak LCVP ya, dan LCM, saya kira kita butuh lebih banyak karena pulau-pulau kita banyak dan kecil-kecil, supaya (terbuka, red.) aksesnya," kata Presiden Prabowo Subianto saat memimpin rapat terbatas membahas penanggulangan bencana gempa di NTT.

Pembahasan mengenai rencana pembelian LCM dan LCVP itu diawali dengan permintaan tambahan kapal untuk kepentingan mitigasi bencana di NTT, yang disampaikan oleh Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena. Permintaan kapal itu kemudian dijelaskan lebih lanjut oleh Komandan Komando Daerah TNI Angkatan Laut (Kodaeral) VII Laksamana Muda (Laksda) TNI Joni Sudianto.

LCM LPD KRI Makassar 590 (photo: Kolinlamil)

"Saat ini, kami di Kodaeral VII ada dua kapal patroli, Pak. Namun, posisinya dua kapal tersebut ada di Surabaya. Kami mohon dapatnya ada paling tidak dua kapal patroli jenis FPB yang stand by di Kupang sehingga apabila terjadi sesuatu dan butuh bantuan kita bisa gerakkan dua kapal tersebut," kata Laksda Joni kepada Presiden.​​​​​​

Presiden langsung memerintahkan jajarannya untuk mencatat permohonan dari Dankodaeral VII tersebut. "Baik, ya tolong dicatat," ujar Presiden kepada jajarannya.

Presiden mengatakan pengerahan itu nanti berkoordinasi lebih lanjut dengan Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto.

"Ya nanti kita koordinasi dengan Panglima TNI ya. Di sini ada Kepala (Badan) Logistik (Pertahanan) nanti bisa dikirim ya? Jadi dua kapal patroli jenis FPB 57 ya. Itu cukup? Dua kapal itu cukup?" tanya Presiden ke Dankodaeral VII.

LCVP LPD KRI Banda Aceh 593 (photo: Kolinlamil)

Menurut Laksda Joni, dua kapal patroli FPB 57 cukup untuk kebutuhan mitigasi dampak bencana.

"Di NTT dan NTB sendiri kondisinya pulau-pulau kecil sehingga apabila kapalnya terlalu besar kesulitan untuk fasilitas labuhnya sehingga menurut kami dengan analisis operasional dua kapal FPB sudah cukup Bapak Presiden," ujar Dankodaeral VII menjawab pertanyaan Presiden.

Dalam rapat yang sama, Presiden juga menanyakan keberadaan LCM kepada Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali.

"Di LPD itu dua LCM, biasanya stand by di dalam LPD. Sekarang, ada KRI Semarang, kalau tidak salah dia ada di sana (perairan NTT, red.)," kata Laksamana Ali menjawab pertanyaan Presiden.

Ali menyebutkan total ada dua kapal yang bersiaga di perairan NTT, sekitar wilayah Manggarai, yaitu satu LPD, yaitu KRI Semarang-594 dan satu LST berjenis Frosch.

(AntaraNews)

The Royal Thai Navy Held a Keel-laying Ceremony for the New Oil Tanker

11 September 2026

Keel-laying ceremony for RTN's new oil tanker at TINDY, Samut Prakan, Thailand (photos: Royal Thai Navy)

The Royal Thai Navy (RTN) held a keel-laying ceremony for a new oil tanker at the shipyard of Thai International Dockyard Co., Ltd. (TINDY) in Tambon Tai Ban, Mueang District, Samut Prakan Province, Thailand, on September 1, 2026.


Admiral Pairoj Fuangchan, Commander-in-Chief of the Royal Thai Navy, presided over the keel-laying ceremony for the new oil tanker at the TINDY shipyard. TINDY is a subsidiary of the Thai SC Group and has been engaged in shipbuilding and repair operations since 1991. The Royal Thai Navy signed a contract with Thai International Dockyard Co., Ltd. via a selection process to build one oil tanker, with a total value of 434,634,000 Baht (approximately $13,198,726), on March 30, 2026.


The new oil tanker, scheduled for delivery to the Royal Thai Navy in 2028, is intended to replace an existing oil tanker. HTMS Chula (III), built by Singmarine Shipyard in Singapore, entered service on December 30, 1980. Having served for over 45 years, it is scheduled for decommissioning by 2027.


The new 65-meter-long oil tanker, built by the Thai company TINDY, will be equipped with two US-made Cummins diesel main propulsion engines (1,007 kW each) and two German-made MAN Lindenberg diesel generator engines (375 kW each). It will achieve a speed of 12 knots and carry a crew of 45. This procurement project underscores the Royal Thai Navy's long-standing support for the Thai shipbuilding industry.

(AAG)

10 September 2026

Hanwha Ocean dari Korea Selatan Menangkan Tender Fregat Angkatan Laut Thailand

10 September 2026

Hanwha Ocean adalah nama baru bagi DSME (Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering) setelah perusahaan galangan kapal tersebut resmi diakuisisi dan berganti nama di bawah naungan Hanwha Group (gambar: Hanwha Group)

Angkatan Laut Thailand telah memilih Hanwha Ocean Co Ltd dari Korea Selatan untuk membangun satu kapal fregat dalam proyek pengadaan senilai 16,73 miliar Baht, yang mencakup sistem terkait, peralatan, suku cadang, pelatihan, dan layanan dukungan.

Laksamana Korawit Chayarathi, Komandan Armada Kerajaan Thailand sekaligus ketua komite proyek pengadaan fregat, menandatangani pengumuman yang menetapkan Hanwha Ocean sebagai pemenang tender.

Perusahaan tersebut menawarkan harga total sebesar 16,73 miliar Baht; angka ini tidak termasuk bea cukai namun sudah mencakup pajak pertambahan nilai (PPN), pajak lainnya, biaya transportasi, dan segala biaya lainnya.

Hanwha Ocean adalah perusahaan galangan kapal dan rekayasa kelautan asal Korea Selatan. Didirikan pada bulan Oktober 1973, perusahaan ini diluncurkan kembali di bawah naungan Hanwha Group pada tahun 2023.

Harga tersebut bersifat tetap dan mengikat berdasarkan ketentuan DAP (Incoterms 2020), yang mencakup transportasi dan asuransi hingga fregat diserahterimakan di Pangkalan Angkatan Laut Sattahip atau lokasi lain yang ditunjuk oleh Angkatan Laut.

Sementara itu, juru bicara Angkatan Laut, Laksamana Muda Parat Rattanachaiphan, menyatakan bahwa Perdana Menteri Anutin Charnvirakul telah menandatangani ringkasan hasil seleksi pada tanggal 4 September, dan Sekretaris Tetap Pertahanan kemudian menyetujui hasil seleksi tersebut pada tanggal 7 September.

Hanwha Ocean (sebelumnya DSME) memiliki pengalaman sebelumnya setelah menyerahkan HTMS Bhumibol Adulyadej—fregat pertama Thailand di kelas ini—pada tahun 2018 (foto: Angkatan Laut Kerajaan Thailand)

Ia mengatakan bahwa pihak Angkatan Laut menyadari besarnya perhatian publik terhadap proyek ini karena menyangkut keamanan nasional, perlindungan kepentingan maritim, dan penggunaan dana publik.

Oleh karena itu, aspek ketepatan, nilai manfaat (value for money), transparansi, dan akuntabilitas sangat ditekankan di sepanjang proses pengadaan.

Angkatan Laut menegaskan bahwa proyek ini ditujukan untuk memberikan manfaat bagi negara secara keseluruhan, bukan sekadar menyediakan kapal perang baru bagi Angkatan Laut. Angkatan Laut akan secara resmi mengumumkan hasil seleksi pada 18 September, setelah masa pengajuan keberatan berakhir.

Pihak Angkatan Laut akan memaparkan hasil tersebut serta menjelaskan kriteria seleksi, alasan pemilihan, poin-poin utama proposal, dan manfaatnya bagi negara.

09 September 2026

TNI AL dan Republic of Korea Navy Gelar Latma DIVEX 2026, Perkuat Kemampuan Operasi Bawah Air

09 September 2026

Dive Exercise (DIVEX) 2026 antara TNI AL dan ROKN (photos: TNI AL)

Dalam rangka memperkuat kemampuan operasi bawah air, TNI AL dalam hal ini Komando Penyelam dan Penyelamatan Bawah Air (Koppeba) dan Republic of Korea Navy (ROKN) menyelenggarakan Latihan Bersama (Latma) Dive Exercise (DIVEX) 2026 mulai 25 s.d 30 Agustus 2026. Latihan yang melibatkan Koppeba, Kopaska dan ROKN ini dilaksanakan di Jinhae Naval Base dan Pulau Jeju, Korea Selatan pada Minggu (30/08/2026).


Latma DIVEX 2026 yang dilaksanakan setahun sekali dengan penyelenggaraan bergantian antara TNI AL dan ROKN ini dirancang untuk meningkatan pengetahuan, kemampuan dan profesionalisme prajurit TNI AL dan ROKN dalam melaksanakan operasi penyelaman dan penyelamatan bawah air pada kegiatan Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR) serta memperkuat hubungan bilateral dan kerjasama militer angkatan laut kedua negara dengan melibatkan 10 personel Komando Penyelam dan Penyelamatan Bawah Air (Koppeba) dan 2 personel Komando Pasukan Katak (Kopaska) di bawah komando Dansatgas Letkol Laut (S) Mz Lerry yang berdinas sebagai Wadan Satkoppeba 3.


Materi latihan yang komprehensif mencakup beberapa aspek kritikal, diantaranya pengaplikasian prosedur Wet-Bell Diving pada operasi penyelaman dan penyelamatan bawah air; pengaplikasian prosedur Helicopter Rescue Swimming, pengoperasian peralatan ROV (pengamatan visual dan identifikasi objek); pengoperasian peralatan Side Scan 3D Sonar guna pencarian, pendeteksian dan identifikasi objek bawah air serta Field Tactical Exercise (FATEX): Simulasi misi nyata seperti pencarian dan penyelamatan (SAR) bawah air, evakuasi black box serta pengangkatan benda berat dengan lifting bag.


Dalam kesempatan tersebut Staf Khusus Kasal Laksma TNI Baroyo Eko Basuki didampingi Kolonel Laut (P) Norman Faizal turun meninjau langsung pelaksanaan Latma DIVEX 2026 yang juga turut dihadiri oleh delegasi militer dari ROK Navy.


Dalam pernyataannya, disampaikan bahwa Latma DIVEX-26 bukan hanya sekadar latihan rutin, tetapi merupakan wahana strategis untuk memperdalam hubungan bilateral. “Latihan ini merupakan platform strategis untuk berbagi pengalaman dan mengadopsi teknik penyelaman militer modern. Hal ini pada akhirnya akan meningkatkan kesiapan dan profesionalisme kedua angkatan laut dalam menjaga stabilitas keamanan maritim di kawasan.”


Dengan diselenggarakannya latihan ini, TNI AL dan ROKN menunjukkan komitmen nyata guna terus meningkatkan kemampuan operasional, membangun kepercayaan, dan memastikan kesiapan dalam menjawab setiap tantangan keamanan di domain maritim serta memperkuat hubungan bilateral di bidang operasi bawah air serta berbagi pengalaman dalam teknik penyelaman militer modern.

06 September 2026

Australia Awards Babcock & Saab Sustainment Contract for Anzac-class Frigates

06 September 2026

Australia appoints Babcock Australia and Saab as capability life-cycle manager (CLCM) for the seven-ship Anzac-class frigate (photo: Aus DoD)

Babcock and Saab awarded Frigate Capability Life Cycle Manager contract to ensure Anzacs are safe, ready and available into the future
Babcock Australasia (Babcock), partnering with Saab Australia (Saab), has been selected as the Frigate Capability Life Cycle Manager (CLCM) to deliver critical asset management, engineering and supply chain services to ensure the Royal Australian Navy’s (RAN) Anzac class frigates remain seaworthy, materially ready and available into the future.

The new, five-year contract is valued at around $117.5 million. Babcock and Saab will work closely with Defence to manage the critical Anzac capability through the remainder of their lifecycle as the RAN transitions to a new fleet of surface combatants.

Offering proven asset management capability, Babcock and Saab’s partnership delivers unmatched knowledge of the Anzac class platform and its combat system and an established sovereign workforce.

The Babcock and Saab strategic collaboration reflects decades of warship sustainment experience at the Henderson maritime precinct. Both companies have supported Anzac sustainment as key members of the Warship Asset Management Agreement (WAMA) and through Babcock’s long-term partnership with the New Zealand Defence Force as Strategic Maritime Partner, maintaining 100 per cent of the Royal New Zealand Navy fleet. Babcock is also the Regional Maintenance Provider West (RMP-West), supporting the RAN deliver maintenance to the Anzac Class fleet and other vital vessels.

Babcock Australasia Acting CEO Leah Grantham said:
“We are delighted to be continuing our long-standing support for critical maritime sustainment for the Royal Australian Navy from Henderson, Western Australia, in partnership with Saab. 

“Babcock is proud to deliver this vital work uplifting sovereign capability, creating local jobs, strengthening the economy and ensuring the Anzacs remain operational, seaworthy and ready to meet Australia’s defence needs now and into the future.

“Babcock remains steadfast in our commitment to Western Australia. We have been delivering critical programs and services for Defence there since 1991 and annually, contribute more than $250m to the state, supporting more than 850 full-time equivalent jobs.” 

Saab Australia Managing Director Andy Keough CSC said:
“This contract reflects the strength of our partnership with Babcock, bringing together complementary capabilities to deliver sovereign and future‑focused sustainment outcomes for the Royal Australian Navy.

“Building on more than 35 years supporting Australia’s naval capability, Saab brings deep expertise in combat systems integration and sustainment, together with our role as the Australian Combat Management System (AusCMS) provider, to ensure the Navy’s frigate fleet remains ready to meet current and future demands.”

HD Hyundai dan Hanwha Ocean Bersaing Sengit untuk Pesanan Kapal Selam Filipina Senilai 2 Triliun Won

06 Agustus 2026

Hanwha KSS-III PN (image: Hanwha Ocean)

HD Hyundai Heavy Industries dan Hanwha Ocean, dua pilar utama industri galangan kapal Korea, telah memasuki persaingan sengit dalam tender proyek pengadaan kapal selam generasi terbaru untuk Angkatan Laut Filipina, yang bernilai sekitar 2 triliun won.

Menurut media maritim dan pertahanan Polandia 'Gospodarka Morska' serta sumber-sumber lokal pada tanggal 31 Agustus (waktu setempat), persaingan ketat sedang memanas antara perusahaan-perusahaan Korea dan galangan kapal pertahanan utama Eropa. Hal ini terjadi menjelang akhir tahun, saat pemilihan akhir model untuk proyek pengadaan kapal selam pertama Angkatan Laut Filipina—yang saat ini belum memiliki armada kapal selam—akan segera diputuskan.

Setelah melewati tahap koordinasi untuk inisiatif 'Export One Team' yang digagas oleh Defense Acquisition Program Administration (DAPA), kedua galangan kapal kini berupaya memenangkan dukungan otoritas Manila melalui proposal independen yang menonjolkan keunggulan masing-masing.

HD Hyundai Heavy Industries mengandalkan reputasi kepercayaan militer yang tak tertandingi, yang dibangun melalui keberhasilan pengiriman berturut-turut kapal permukaan kepada Angkatan Laut Filipina, termasuk fregat kelas Jose Rizal, kapal patroli kelas Miguel Malvar, dan kapal patroli lepas pantai (OPV) kelas Rajah Suleyman. Selain itu, perusahaan ini menawarkan platform 3.000 ton yang disesuaikan berdasarkan rekam jejak pembangunan kapal ketiga KSS-III Batch-I (Shin Chae-ho), serta model ekspor 2.300 ton miliknya sendiri, 'HDS-2300', yang dioptimalkan untuk operasi di perairan dangkal Asia Tenggara.

Hanwha Ocean, yang mengandalkan keunggulan teknologi dari keberhasilan pembangunan dan pengiriman kapal Dosan An Chang-ho (No. 1) dan Anmu (No. 2), mengajukan model terbaru 'KSS-III Batch-II'. Model ini memiliki daya tahan menyelam terlama di antara kapal selam diesel yang ada saat ini, berkat kombinasi baterai litium-ion dan sistem Air Independent Propulsion (AIP). Keunggulan yang ditawarkan mencakup solusi menyeluruh (turnkey), mulai dari pembangunan pangkalan khusus kapal selam dan infrastruktur MRO (pemeliharaan, perbaikan, dan perombakan) hingga paket pelatihan awak, yang disesuaikan dengan kondisi Angkatan Laut Filipina yang baru pertama kali mengoperasikan kapal selam.

Selain Korea Selatan, galangan kapal angkatan laut terkemuka dari Eropa juga turut bersaing dalam proyek kapal selam Filipina, sehingga menciptakan lanskap persaingan yang melibatkan berbagai pihak.

Hyundai HDS-2300 (image: HD HHI)

Naval Group asal Prancis memanfaatkan dominasinya di pasar Asia Tenggara, berbekal pengalaman mengekspor kapal selam kelas 'Scorpène' secara berturut-turut ke Malaysia dan Indonesia, serta rekam jejak pembangunan kapal secara lokal di India.

Fincantieri dari Italia mengajukan kapal selam kelas U212NFS melalui kemitraan teknis dengan TKMS asal Jerman, sembari memanfaatkan rekam jejak ekspor kapal patroli ke Indonesia baru-baru ini dalam penawaran tersebut. Navantia dari Spanyol juga mengajukan kelas S-80 Plus, namun riwayat keterlambatan pengiriman domestik dan kegagalan mendapatkan pesanan luar negeri dianggap sebagai kelemahan mereka.

Alasan utama Filipina berupaya keras untuk mengakuisisi kapal selam pertamanya adalah untuk membendung tindakan China yang semakin terang-terangan melanggar kedaulatan maritim dan melakukan provokasi bersenjata di wilayah Kepulauan Spratly, Laut China Selatan (Laut Filipina Barat). Para ahli militer meyakini bahwa pengerahan satu atau dua kapal selam siluman canggih saja di perairan Filipina—yang memiliki karakteristik perairan dangkal dan dalam—dapat memberikan efek gentar (deterrence) secara psikologis maupun taktis terhadap manuver kapal permukaan dan kapal selam Angkatan Laut China.

Bersamaan dengan proyek kapal selam besar NATO di Polandia (Eropa) dan Kanada (Amerika Utara), keberhasilan mendapatkan pesanan kapal selam dari Filipina—sekutu penting di Asia Tenggara dengan kedekatan geografis—diharapkan menjadi titik balik krusial bagi perluasan pasar ekspor kapal selam industri pertahanan maritim Korea (K-maritime) di kawasan Asia-Pasifik di masa depan.

05 September 2026

Kapal Cepat Rudal HQ-381, Satu-satunya Kapal dari Kelas BPS-500

05 September 2026

Kapal Cepat Rudal HQ-381 (photo: ThanhNien)

Kapal cepat rudal 381, dari kelas BPS-500, saat ini ditugaskan ke Skuadron 412, Brigade 162, Wilayah 4 Angkatan Laut Vietnam dan merupakan satu-satunya kapal dari kelas ini.

Kapal Cepat Rudal HQ-381 (photo: VTC News)

Kapal ini dibangun antara tahun 1996 dan 2001 di galangan kapal Ba Son di Kota Ho Chi Minh. Kapal 381 adalah kapal rudal anti-kapal pertama yang dibangun di dalam negeri menggunakan teknologi yang ditransfer dari Federasi Rusia.

Kapal Cepat Rudal HQ-381 (photo: PhuNu Today)

Kapal ini memiliki panjang 62 meter, lebar 11 meter, bobot muat penuh 600 ton, dan dilengkapi dengan sistem propulsi waterjet untuk kecepatan maksimum 30 knot dan jangkauan jelajah 30 hari. Awak kapal terdiri dari 50 orang.

Kapal Cepat Rudal HQ-381 (photo: Sputnik)

Sistem elektronik kapal termasuk radar multi-fungsi Pozitiv ME, yang mampu mendeteksi target udara dan laut dengan jangkauan lebih dari 100 km. Kapal ini mampu mendeteksi target terbang dengan penampang radar (RCS) 1 m² pada ketinggian 1000 m dari jarak 11 km, dan mendeteksi rudal anti-kapal dengan RCS 0,03 m² pada ketinggian 15 m dari jarak 15 km. Radar ini juga dapat melacak 15 target secara bersamaan, dan menyerang 3 hingga 5 target sekaligus. Kapal ini juga dilengkapi dengan sistem radar pengendali tembakan dan sistem komunikasi modern.

Kapal Cepat Rudal HQ-381 (photo: Sputnik)

Dari segi persenjataan, kapal ini dilengkapi dengan meriam laut AK-176, dua peluncur miring dengan delapan rudal jelajah anti-kapal Kh-35 Uran-E (jangkauan 130 km), meriam anti-pesawat berkecepatan tinggi AK-630, sistem rudal anti-pesawat jarak pendek Igla, dan dua senapan mesin 12,7 mm.

04 September 2026

PM Thailand Memeriksa Kesiapan Tempur Angkatan Laut Kerajaan Thailand, Termasuk HTMS Chakri Naruebet

04 September 2026

PM Anutin Charnvirakul memeriksa kesiapan tempur Royal Thai Navy (RTN) dalam latihan di provinsi Chonburi. RTN berencana untuk memiliki total 8 unit kapal fregat berkinerja tinggi dalam armadanya hingga tahun 2037, sekarang baru ada 4 (all photos: RTN)

Laksamana Muda Parach Rattanachaiyapan, juru bicara Angkatan Laut Kerajaan Thailand, mengungkapkan bahwa pada hari Kamis, 27 Agustus 2026, Perdana Menteri mengunjungi latihan Satuan Tugas di Teluk Thailand bagian atas dan Lapangan Latihan Angkatan Laut Kerajaan Thailand No. 15 (Haad Yao), Distrik Sattahip, Provinsi Chonburi, untuk menerima pembaruan tentang persiapan dan kesiapan pasukan untuk misi sesuai dengan kebijakan Panglima Angkatan Laut Kerajaan Thailand, yang menetapkan tahun 2026 sebagai "Tahun Kesiapan Tempur Angkatan Laut Kerajaan Thailand."

Inspeksi ini akan menunjukkan kesiapan Angkatan Laut Kerajaan Thailand dalam hal personel, peralatan, dan taktik, serta integrasi kekuatan angkatan laut, kekuatan udara, Komando Korps Marinir, unit perang khusus angkatan laut, dan sistem komando dan kendali, yang memungkinkan misi gabungan yang terkoordinasi dan efektif.


Pada kesempatan ini, Perdana Menteri memeriksa operasi di atas HTMS Chakri Naruebet, menerima pengarahan tentang situasi dan konsep pengerahan pasukan, mengamati dukungan senjata pantai, dan menyaksikan demonstrasi penggunaan pesawat tanpa awak. Latihan ini merupakan bagian dari rencana pengembangan untuk memanfaatkan HTMS Chakri Naruebet sebagai "Carrier UXV," yang berfungsi sebagai basis komando, kendali, dan dukungan untuk operasi pesawat tanpa awak (UAV) multidimensi, termasuk pengintaian, pengawasan, pencarian, dan penunjukan target. Hal ini meningkatkan jangkauan dan kontinuitas operasional, mengurangi risiko terhadap personel, dan meningkatkan efektivitas pasukan tempur utama Angkatan Laut Kerajaan Thailand.

Beberapa UAV yang digunakan dalam latihan ini merupakan hasil penelitian dan pengembangan oleh para peneliti Angkatan Laut Kerajaan Thailand. Mereka telah menggabungkan pengetahuan dan pengalaman dari operasi dunia nyata untuk mengembangkan sistem yang memenuhi persyaratan operasional. Pengujian dalam kondisi pelatihan simulasi akan menghasilkan peningkatan dan pengembangan lebih lanjut dari sistem tersebut, sejalan dengan promosi industri pertahanan dan peningkatan kemandirian.


HTMS Bhumibol Adulyadej, fregat berkinerja tinggi dan salah satu kekuatan tempur utama Angkatan Laut Kerajaan Thailand, berpartisipasi penuh dalam latihan ini untuk menunjukkan kemampuannya dalam pengawasan, identifikasi dan serangan target, komando dan kendali, serta operasi gabungan dengan kapal, pesawat, dan unit lain.

Latihan ini juga mencerminkan peran penting fregat berkinerja tinggi sebagai inti armada, yang mencakup pertahanan udara, peperangan anti-permukaan dan anti-kapal selam, penghubungan data, dan pengendalian operasi maritim. Namun, Angkatan Laut Kerajaan Thailand saat ini memiliki jumlah fregat berkinerja tinggi yang terbatas. Sementara negara-negara tetangga dan berbagai negara di kawasan ini membuat lompatan besar dalam mengembangkan kemampuan angkatan laut dan teknologi militer mereka.


Angkatan Laut Kerajaan Thailand perlu mempercepat peningkatan kemampuannya dengan mengakuisisi fregat berkinerja tinggi tambahan. Hal ini untuk memastikan kapasitas yang cukup untuk misi, rotasi dan pemeliharaan, serta kesiapan berkelanjutan, serta menjaga keseimbangan strategis, melindungi kedaulatan, dan menjaga kepentingan nasional di laut dalam lingkungan keamanan yang berubah dengan cepat.

Pada saat yang sama, latihan ini mendukung pengembangan Kesadaran Domain Maritim (MDA) dengan menghubungkan data dari kapal, pesawat terbang, dan sistem tanpa awak, memungkinkan komandan untuk memiliki gambaran yang akurat dan tepat waktu tentang situasi maritim, yang mengarah pada pengambilan keputusan dan respons yang efektif.


Lebih lanjut, Perdana Menteri dan delegasinya mengunjungi Pusat Komando Insiden (ICC) untuk bantuan bencana skala besar di Lapangan Latihan Angkatan Laut No. 15, dan mengamati demonstrasi kesiapan peralatan dan integrasi antar unit. Ini menunjukkan bahwa kemampuan Angkatan Laut Kerajaan Thailand dapat diterapkan untuk pertahanan nasional, menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional di laut, dan membantu masyarakat selama bencana atau keadaan darurat.

Juru bicara Angkatan Laut Kerajaan Thailand menyatakan bahwa kunjungan ini tidak dimaksudkan untuk memamerkan kesiapan kapal, pesawat terbang, atau sistem senjata individu, tetapi lebih untuk menunjukkan kesiapan Angkatan Laut Kerajaan Thailand "secara keseluruhan," dimulai dari kesadaran situasional. Komando dan kendali, pengerahan pasukan, dukungan logistik, dan bantuan sipil.


“Kesiapan tempur bukan berarti menunggu situasi terjadi, melainkan mempersiapkan personel, peralatan, dan sistem komando dan kendali agar siap melaksanakan tugas segera ketika negara dan rakyatnya membutuhkannya.”

(RTN)

Koarmada II Latihkan Rencana Pergerakan Unsur Pada Sailing Pass Naval Parade HUT Ke-81 TNI

04 September 2026

Gelar Tactical Floor Game dalam pelaksanaan Sailing Pass Naval Parade yang direncanakan digelar di perairan Teluk Jakarta (photos: Koarmada 2)

TNI AL. Koarmada II, ‎Panglima Koarmada II Laksda TNI I G. P. Alit Jaya, S.H., M.Si., memimpin Tactical Floor Game (TFG) Sailing Pass Naval Parade dalam rangka memperingati HUT Ke-81 TNI, bertempat di Gedung Panti Tjahaya Armada (PTA) Koarmada II, Surabaya, Rabu (2/9).
‎TFG dilaksanakan sebagai bagian dari persiapan dan pemahaman seluruh unsur yang terlibat dalam pelaksanaan Sailing Pass Naval Parade yang akan digelar di perairan Teluk Jakarta. Kegiatan ini membahas secara detail manuver unsur KRI, Pesawat udara serta kesiapan seluruh prajurit pendukung demo laut, udara, dan Pasukan Khusus Laut (Pasusla).

‎Dalam arahannya, Pangkoarmada II menekankan pentingnya seluruh peserta memahami rangkaian kegiatan secara menyeluruh, sekaligus menguasai tugas dan tanggung jawab masing-masing unsur.
‎“Secara umum seluruh kegiatan rangkaian harus dipahami, sehingga setiap unsur mengerti tahapan pelaksanaan dan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik,” tegas Pangkoarmada II.


‎Lebih lanjut disampaikan bahwa setiap tim dan unsur, baik KRI, Pesud maupun unsur pendukung lainnya, harus mempersiapkan diri secara matang sehingga tercipta orkestrasi yang tepat dan mampu bekerja sebagai satu kesatuan. Setiap unsur juga dituntut memahami setiap perubahan situasi dan manuver yang telah direncanakan.
‎Pangkoarmada II juga menekankan aspek keselamatan dan kesiapsiagaan. Seluruh unsur, termasuk pesawat yang terlibat, diminta senantiasa dalam kondisi siap dan memastikan seluruh perlengkapan telah diperiksa serta dipersiapkan dengan baik sesuai waktu yang tersedia.
‎Selain kesiapan unsur, komunikasi menjadi salah satu kunci keberhasilan pelaksanaan Naval Parade.


‎Pangkoarmada II mengingatkan agar jaring komunikasi antara Pengendali Utama dengan seluruh unsur demo laut, udara, dan Pasusla dapat terjalin dengan baik serta tidak mengalami kendala maupun kepadatan komunikasi.
‎“Kunci terakhir adalah komunikasi. Pengendali utama harus yakin bahwa komunikasi benar-benar terjalin dengan seluruh unsur,” tegasnya.

03 September 2026

Singapore Conducts Keel Laying Ceremony for Third MRCV

03 September 2026

Keel laying ceremony for third MRCV (photos: RSN)

Earlier today, Permanent Secretary (Defence) Mr Joseph Leong officiated the Keel Laying Ceremony for our third Multi-Role Combat Vessel (MRCV) at ST Engineering. The ceremony was also attended by Chief of Navy Rear Admiral (RADM) Sean Wat and senior officials and representatives from the RSN, DSTA Defence Science and Technology Agency and ST Engineering Marine.


The keel laying ceremony is a time-honoured tradition in shipbuilding, commemorating the ‘birth’ of a new ship cradled in its shipyard.


The RSN’s MRCVs will progressively replace our Victory-class Missile Corvettes (MCVs), which have been in service since 1989. The MRCVs are expected to be delivered from 2028 onwards.

(RSN)

Soal Alutsista TNI yang Menua, Modernisasi Harus Diikuti Strategi Pensiun

03 September 2026

6 Fregat Ahmad Yani class, 2 unit sudah diganti Sigma 105, 2 unit diganti PPA dan 2 unit diganti dengan Arrowhead 140 (photo: TNI AL)

JAKARTA, KOMPAS.com - Pensiunnya KRI Ki Hajar Dewantara-364 menjadi gambaran bahwa modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) Indonesia tak hanya soal mendatangkan armada baru. 

Saat bersamaan, pemerintah juga harus menentukan kapan alutsista lama sudah tak lagi layak dipertahankan dan bagaimana mengakhiri masa pakainya. 

Komisi I DPR menyetujui rencana Kementerian Pertahanan (Kemenhan) melelang eks KRI Ki Hajar Dewantara-364 dalam rapat kerja bersama Kemenhan, Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Panglima TNI, dan Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL), Kamis (27/8/2026).

Kapal yang dibangun pada 1980 itu dinilai sudah tidak memenuhi persyaratan untuk menjalankan tugas pokok TNI AL.

Korvet Fatahillah class, 2 dari 3 kapal telah dilakukan Mid-life Upgrade (photo: TNI AL) 

Usianya juga telah melampaui masa manfaat ekonomis dan teknis.

Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Donny Ermawan Taufanto mengatakan, mempertahankan kapal tersebut justru akan menjadikannya dead stock karena sudah tidak memiliki manfaat operasional.

"Sudah tidak memiliki manfaat operasional akan menyebabkan aset tersebut menjadi dead stock, serta berpotensi menimbulkan biaya penyimpanan dan pemeliharaan tanpa memberikan manfaat yang sebanding," kata Donny saat rapat bersama Komisi I DPR. 

Persetujuan pelelangan diberikan setelah DPR menerima Surat Presiden (Surpres) Nomor R-33/Presiden/07/2026 tertanggal 14 Juli 2026. 

4 Kapal Cepat Rudal Mandau class sudah dipesankan KCR-70 dari Turki (photo: TNI AL)
 
Berkaca kasus KRI Ki Hajar Dewantara yang masuk usia tua kemudian dilelang, lantas seperti apa persoalan pengelolaan alutsista Indonesia selama ini?

Kapan tepatnya alutsista dikatakan sudah usia "uzur" dan siap dipensiunkan?

Usia 30 tahun dinilai mulai jadi titik evaluasi 
Pengamat pertahanan sekaligus Co-founder Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS), Dwi Sasongko, mengatakan usia pakai alutsista, khususnya kapal perang, dipengaruhi oleh dua hal utama, yakni kualitas perawatan dan perkembangan teknologi. 

Kapal yang dirawat dengan baik dapat memiliki usia operasional lebih panjang. Namun, kemampuan fisik kapal bukan satu-satunya ukuran kelayakan.

16 Korvet Anti Kapal Selam Parchim class penggantiinya menunggu keputusan (photo: TNI AL)

"Persoalannya bukan hanya apakah kapal masih bisa berlayar, tetapi untuk misi apa kapal tersebut masih layak digunakan," kata Dwi kepada Kompas.com, Sabtu (29/8/2026). 

Dalam Operasi Militer Perang (OMP), misalnya, kapal dituntut memiliki kemampuan yang sesuai dengan perkembangan teknologi peperangan modern. 

Salah satu faktor penting adalah sistem Command, Control, Communications, Computers, Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance (C4ISR).

Sebuah kapal mungkin masih mampu berlayar, tetapi apabila sistem elektronika, sensor, komunikasi, serta kemampuan integrasi datanya sudah tertinggal, efektivitasnya ketika beroperasi dalam sebuah gugus tugas juga ikut menurun. 

14 unit kapal FPB 57 class sudah diganti secara bertahap dengan KCR-60 (photo: TNI AL)

Dwi mengatakan, secara umum sekitar 30 tahun dapat menjadi patokan masa pakai optimal sebuah kapal perang. 

"Secara umum, 30 tahun dapat dijadikan patokan masa pakai optimal sebuah kapal perang," ungkapnya.

"Di atas usia tersebut kapal masih mungkin dioperasikan, tetapi kemampuan dan efektivitasnya biasanya akan menurun secara bertahap, tergantung kondisi kapal, tingkat perawatan, serta modernisasi yang dilakukan," lanjutnya.

Sebagian kapal TNI AL sudah di atas 30 tahun 
Persoalannya, kondisi alutsista TNI saat ini masih diwarnai sejumlah aset yang telah berusia sangat tua. 

14 unit Frosch class Landing Ship Tank tipe medium, belum ada penggantinya (photo: TNI AL)

Dwi mengatakan, riset ISDS menemukan sekitar 60 persen kapal TNI AL telah berusia lebih dari 30 tahun. 

"Rata-rata alutsista TNI sudah tua. Riset ISDS diantaranya pernah menemukan bahwa usia rata-rata kapal TNI AL 60 persen sudah di atas 30 tahun," beber Dwi. 

Bahkan, menurutnya TNI AL masih mengoperasikan KRI Teluk Amboina yang telah berusia sekitar 65 tahun.

Kondisi serupa juga ditemukan di matra lain. TNI AD, misalnya, masih mengoperasikan meriam Gunung M-48 kaliber 76 milimeter buatan Yugoslavia tahun 1948. 

12 unit LST besar buatan AS dan 6 unit LST buatan Korsel secara bertahap telah diganti dengan LST 117m dan juga kapal LPD (photo: Poros Nusantara) 
 
"Realitasnya, banyak kapal TNI AL sudah uzur. Karena itu, pemerintah perlu melihat persoalan ini secara lebih menyeluruh," ujar Dwi. 

Menurut dia, apabila biaya mempertahankan sebuah alutsista sudah terlalu besar dibandingkan kemampuan yang diberikan, pemerintah harus mulai mempertimbangkan opsi pensiun atau penggantian.

Begitu pula ketika kondisi teknisnya sudah tidak memenuhi standar keselamatan maupun tugas pokok. 

Pensiun alutsista melalui proses berlapis 
Keputusan memensiunkan alutsista juga bukan kewenangan satu lembaga saja.

3 kapal tanker telah selesai dibangun namun kapal tanker kecil tidak diteruskan dan kapal fleet tanker belum ada penggantinya (photo: Lakhtikov Dmitiy)

Dwi menjelaskan, prosesnya dimulai dari Kepala Staf Angkatan yang bersangkutan. Usulan tersebut kemudian diajukan kepada Panglima TNI. 

Panglima TNI selanjutnya meneruskan permohonan kepada Kemenhan untuk diproses lebih lanjut. 

Kemenhan berkoordinasi dengan Kemenkeu sebagai pengelola aset negara. Dokumen tersebut kemudian diteruskan kepada Presiden. 

Setelah itu, pemerintah dan Panglima TNI melakukan pembahasan bersama Komisi I DPR untuk mendapatkan persetujuan dalam proses pemindahtanganan atau penghapusan aset.

9 kapal penyapu ranjau kelas Kondor II telah datang penggantinya 2 unit dari Jerman (photo: Antara)

Dengan mekanisme tersebut, alutsista yang sudah tidak layak operasional tidak serta-merta bisa dihapus atau dijual. 

Ada proses administratif yang harus dilalui untuk memastikan status aset negara tersebut dapat dipertanggungjawabkan. 

KRI Ki Hajar Dewantara menjadi salah satu contoh bagaimana proses tersebut berjalan. 

Setelah dinilai tidak lagi memenuhi kebutuhan operasional dan telah melewati masa manfaat ekonomis maupun teknis, pemerintah mengajukan pemindahtanganannya melalui mekanisme lelang hingga akhirnya memperoleh persetujuan Komisi I DPR. 

BTR50 dan PT-76 Korps Marinir telah bertahap dibelikan LVT-7 dan BMP-3F namun jumlahnya belum mencukupi (photo: Antara)
 
Tak harus berakhir jadi besi tua 
Alutsista yang memasuki masa pensiun juga tidak selalu harus berakhir sebagai besi tua. 

Untuk aset tertentu yang memiliki nilai sejarah, pemerintah dapat mempertahankannya sebagai bagian dari museum, monumen, atau sarana pendidikan. 

Alutsista yang masih memiliki nilai guna tertentu juga dapat dialihfungsikan untuk kepentingan nonoperasional setelah melalui proses demiliterisasi dan perubahan status. 

Pilihan tersebut membuka kemungkinan agar aset yang sudah tidak layak digunakan untuk perang tetap memberikan manfaat. 

8 unit NC-212 seri angkut dan patroli maritim kini sebagian telah didatangkan dengan seri CN-235 (photo: Puspenerbal)

Namun, untuk aset yang sudah tidak memiliki nilai operasional maupun historis, pelelangan dapat menjadi pilihan.

Dwi menilai langkah pemerintah melelang eks KRI Ki Hajar Dewantara merupakan terobosan karena aset yang sudah tidak digunakan masih dapat memberikan nilai ekonomi bagi negara. 

"Selama ini, alutsista yang sudah tidak digunakan sering kali hanya dipotong-potong atau dijadikan sasaran tembak dalam latihan. Dengan mekanisme penjualan atau lelang, aset yang sudah tidak digunakan masih memiliki nilai ekonomi dan dapat memberikan penerimaan bagi negara," ujarnya. 

Jangan menunggu sampai benar-benar uzur 
Bagi Dwi, persoalan utama bukan hanya bagaimana menyelesaikan alutsista yang sudah pensiun, tetapi bagaimana pemerintah mengantisipasi masa pensiun tersebut sejak jauh hari.

KRI Cakra 401 telah dipesankan dua kapal selam Scorpene LIB namun karena selesainya lama dibutuhkan kapal selam interim (photo: Antara)

Alutsista yang mendekati akhir masa pakainya perlu dievaluasi secara berkala. 

Evaluasi mencakup kondisi teknis, sisa usia pakai, kemampuan operasional, kebutuhan modernisasi, hingga biaya pemeliharaan. 

Dari evaluasi tersebut, pemerintah dapat menentukan apakah sebuah alutsista masih layak dipertahankan, dimodernisasi, diperpanjang usia pakainya, atau mulai disiapkan untuk dipensiunkan. 

"Strateginya harus dimulai dari pemeliharaan yang disiplin dan perencanaan sejak dini," kata Dwi.

Korvet latih KRI Ki Hajar Dewantara 364, perhatikan bahwa sebagai kapal latih mempunyai 2 bridge (photo: TNI AL)

Menurut dia, anggaran pemeliharaan juga harus diawasi agar benar-benar digunakan sesuai peruntukan. 

"Anggaran pemeliharaan juga harus dijaga agar benar-benar digunakan sesuai peruntukannya dan tidak disalahgunakan oleh oknum, karena menyangkut langsung keselamatan prajurit dan kesiapan pertahanan," ujarnya. 

Alutsista yang sudah tua pun tidak boleh dipaksakan beroperasi di luar kemampuan teknisnya. 

Sebab, mempertahankan alutsista hanya demi mengejar jumlah justru dapat meningkatkan risiko kecelakaan dan kerusakan.