20 Mei 2026
Viettel's BTM-250 Guidance Tail Kit Successfully Tested on Su-30MK2
Marinir Sukses Laksanakan Uji Fungsi Amunisi kaliber 100 mm BTE1 BMP-3F Asal China
Mindef Claiming RM1 Bil in Compensation from Norwegian Firm Over Missile Deal
19 Mei 2026
PT Len Serahkan 1 Radar GCI kepada Kemhan
TNI AL Siapkan Konsep ‘Air Wing Mobile’, Kekuatan Udara Kini Bisa Diproyeksikan ke Mana Saja
19 Mei 2026
Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi C-551 yang dihibahkan ke Indonesia (image: Shipbucket)Jakarta, IDM – TNI AL tengah melakukan lompatan besar dalam doktrin pertahanan maritim melalui pematangan konsep Air Wing Mobile. Strategi ini memungkinkan unit sayap udara tidak lagi bergantung pada pangkalan darat, melainkan dapat diproyeksikan sepenuhnya dari geladak kapal perang (sea-based) untuk mendukung berbagai misi operasi.
Langkah tersebut bertujuan membangun kultur operasi penerbangan laut modern yang terintegrasi secara total dengan unsur KRI di masa depan. Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal) kini memiliki tiga Wing Udara yang mengemban tugas pokok membina kemampuan skuadron di bawahnya, mencakup alutsista helikopter, pesawat sayap tetap, hingga wahana udara nirawak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV).
Drone stealth Kizilelma beroperasi dari kapal induk TCG Anadolu (photo: Turkish MoD)
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksma TNI Tunggul menjelaskan, unit sayap udara ini dirancang untuk memiliki mobilitas tinggi. Artinya, unsur udara tersebut mampu dikerahkan secara fleksibel, baik dari pangkalan daratan maupun langsung dari atas kapal perang yang sedang beroperasi.
"Unit Air Wing ini bersifat mobile, bisa diproyeksikan ke KRI maupun di daratan,” jelas Tunggul saat dihubungiIndonesia Defense Magazine di Jakarta, Kamis (14/5).
Standar Tinggi Personel Inti
Persiapan infrastruktur udara ini berjalan beriringan dengan penyiapan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Laut (Asops KSAL) Laksda TNI Yayan Sofiyan menekankan, kualifikasi personel menjadi kunci utama, mengingat pengoperasian pangkalan udara terapung membutuhkan keahlian di atas rata-rata.
TNI AL setidaknya telah menyiapkan 500 prajurit pilihan sebagai kru inti untuk mengawaki teknologi penerbangan yang terintegrasi. Para perwira dituntut menguasai teknologi aviasi tingkat tinggi karena kapal induk masa depan, seperti ITS Giuseppe Garibaldi yang diprediksi bakal menjadi pusat operasi berbagai jenis drone.
Drone MALE TB3 beroperasi dari kapal induk TCG Anadolu (photo: ANews)Kultur Operasi Laut Modern
Transformasi doktrin ini terlihat nyata melalui pembangunan media simulasi geladak helikopter di Skuadron Udara 100 Wing Udara 2. Fasilitas instruksi tersebut berfungsi sebagai sarana familiarisasi atau pengenalan adaptif bagi para penerbang untuk memahami karakteristik pendaratan di atas dek kapal secara presisi.
Melalui simulasi tersebut, para pilot melatih ketepatan, koordinasi, serta aspek keselamatan penerbangan dalam kondisi laut yang menantang. Fokus latihan tidak lagi terbatas pada operasional pangkalan darat, melainkan perubahan pola pikir menuju integrasi penuh dengan armada kapal kombatan.
Helikopter NH-90 ASW yang baru saja dikunjungi sebelumnya diduga akan segera bergabung ke TNI AL (photo: Airbus Helicopter)Meskipun persiapan teknis dan SDM terus dipacu menuju target kedatangan alutsista pada Oktober 2026, TNI AL menegaskan, penamaan unsur KRI baru masih dalam tahap pengkajian mendalam. Hingga saat ini, belum ada dasar penetapan resmi mengenai identitas kapal perang yang akan menjadi instrumen diplomasi maritim Indonesia tersebut.
(IDM)
Fifth and Sixth AH-64E Apache Delivered to Australia
18 Mei 2026
Presiden Prabowo Serahkan Pesawat MRCA Rafale dan Sistem Pertahanan Modern untuk Perkuat Pertahanan Udara Nasional
18 Mei 2026
Serah terima 6 MRCA Rafale, 4 pesawat Falcon 8X, 1 Airbus A400M MRTT, 1 missile Meteor dan 6 smart weapon Hammer, serta satu radar GCI Thales GM403 (photos: TNI AU. Setkab, SetPres)Presiden Prabowo Subianto menyerahkan alat utama sistem persenjataan (alutsista) strategis kepada Tentara Nasional Indonesia (TNI) guna memperkuat postur pertahanan udara Indonesia secara komprehensif. Alutsista yang diserahkan pada Senin, 18 Mei 2026, di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta yakni enam pesawat MRCA Rafale, empat pesawat Falcon 8X, satu pesawat Airbus A400M MRTT, satu missile Meteor dan enam smart weapon Hammer, serta satu radar GCI GM403.
Mengawali proses penyerahan, Presiden Prabowo melepas tirai logo Skadron Udara 12 di bagian depan badan pesawat MRCA Rafale. Selanjutnya, Presiden melakukan prosesi penyiraman air ke bagian depan pesawat.
Rangkaian prosesi penyerahan kemudian dilanjutkan dengan penyerahan kunci pesawat secara simbolis oleh Presiden Prabowo kepada Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto. Setelahnya, Panglima TNI menyerahkan kunci tersebut kepada Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI M. Tonny Harjono.
Usai prosesi, Presiden langsung meninjau pesawat MRCA Rafale, serta alutsista lainnya. Dalam keterangannya usai peninjauan, Kepala Negara menyampaikan bahwa penambahan alutsista ini sebagai tonggak penguatan pertahanan nasional.
“Baru saja kita menerima secara resmi dengan adat kita, penambahan alutsista untuk angkatan udara kita. Kita menerima ada enam pesawat tempur ya Rafale, dan pesawat angkut Falcon, pesawat angkut VIP dan A400, ada radar juga,” ucap Presiden.
Kehadiran berbagai platform pertahanan udara ini menandai langkah strategis pemerintah dalam membangun kekuatan udara yang terintegrasi. Pesawat MRCA Rafale akan memperkuat kemampuan tempur udara-ke-udara dan udara-ke-darat TNI AU melalui dukungan rudal jarak jauh meteor dan hammer.
Sementara, pesawat Falcon 8X akan mendukung mobilitas strategis, misi komando, dan pengawasan. Adapun pesawat A400M MRTT menjadi elemen penting dalam memperkuat kemampuan angkut strategis dan pengisian bahan bakar di udara.
Di sisi lain, radar GCI GM403 akan berfungsi sebagai sistem deteksi dini terhadap ancaman udara. Radar ini turut membantu mengarahkan pesawat tempur menuju sasaran yang melanggar kedaulatan wilayah udara Indonesia.
Sebelumnya, alutsista strategis berupa satu pesawat Airbus A400M telah diserahkan kepada TNI pada November 2025 lalu. Pesawat ini telah menambah kekuatan TNI Angkatan Udara dalam berbagai operasi.
Turut hadir dalam acara penyerahan tersebut yakni Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Luar Negeri Sugiono, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita, dan para kepala staf angkatan. Tampak hadir pula sejumlah perwakilan negara sahabat.
(Setkab)
Vietnam Berhasil Menyelesaikan Misi Pemeliharaan Pesawat NC-212i Sendiri
Delegasi Thailand Meninjau Produksi Pesanan Pesawat Gripen E/F ke Swedia
17 Mei 2026
Hanwha Luncurkan Pengembangan Rudal Udara-ke-Udara Jarak Jauh
Awal Hingga Akhir, Perjalanan OV-10 Bronco di Langit Indonesia
Australia and Norway Sign MoU for Missile Manufacturing
17 Mei 2026
HMAS Sydney fires Royal Australian Navy’s first Naval Strike Missile during a SINKEX off the coast of Oahu, Hawaii as a part of Exercise Rim of the Pacific (RIMPAC) 2024 (photos: Aus DoD)Albanese Government signs Defence MOU with Norway, helping make Australia more self reliant and boosting regional security
The Albanese Government has signed a Memorandum of Understanding (MoU) with the Norwegian government, to further support the acquisition and domestic manufacturing of missiles in Australia.
The multilateral arrangement will enhance information sharing and collaboration between Australia, Norway and 10 other countries that use the Naval Strike Missile and Joint Strike Missile, which are developed by Norwegian defence company Kongsberg. The arrangement will support Australia to become a regional missile production hub.
The Strike Missile Family MoU supports Australia’s efforts to acquire, manufacture and maintain the Naval Strike Missile and Joint Strike Missile, in line with the 2026 National Defence Strategy and 2024 Australian Guided Weapons and Explosive Ordnance Plan.
The Albanese Government is investing up to $850 million to enable Australia to locally manufacture and maintain the Naval Strike Missile, Joint Strike Missile and priority missile components. This includes the construction of a new missile factory in Newcastle, which will be able to produce missiles for the Australian Defence Force and partner nations from 2027.
These initiatives form part of the Albanese Government’s investment of up to $36 billion over the decade to accelerate the acquisition and manufacture of longer-range munitions in Australia, in line with the 2026 Integrated Investment Program.
Quotes attributable to Minister for Defence Industry, Pat Conroy:
“The Albanese Government is investing up to $36 billion over the next decade to make missiles in Australia and uplift our weapons stocks, making our nation more self-reliant and resilient.
“This arrangement will support local jobs and a defence future made in Australia by enabling domestic manufacturing through cooperation with international partners.”
(Aus DoD)





.webp)
.webp)
.webp)







































.jpg)




