11 Juli 2026

Two Rigid Inflatable Boats from U.S. to the PMC

11 Juli 2026


Two RIB for Philippines (photo: US Embassy)

The U.S. government handed over two Rigid Inflatable Boats worth $3.2M to the Philippine Marine Corps 2nd Marine Brigade in Tawi-Tawi, Mindanao boosting their maritime mobility. Together, we sail toward a Free And Open IndoPacific. 

ADF Completes Successful Firing of SM-2 from Ground-Based Derringer Launch System

11 Juli 2026

Firing of SM-2 missile (all photos: Aus DoD)

A Royal Australian Navy Standard Missile 2 (SM-2) is fired from the Derringer trailer-mounted Expeditionary Launch System during Taipan Strike 26 at the Woomera Test Range, in South Australia.


Exercise Taipan Strike 2026 (TSTK26) was an Active Missile Defence test activity culminating in a live fire event at the Woomera Test Range. 

TSTK26 reduced technical and integration risks, and validated system performance of a candidate option for a future ground-based medium-range air defence solution.


The System Under Test included CEA sensors, Virtualised Aegis Weapon System and a trailer-mounted Expeditionary Launch System (Derringer) firing a RAN surface to air missile. 

This RAAF-sponsored activity was conducted in collaboration with the Navy, Capability Acquisition and Sustainment Group, US Government agencies, and US and Australian Industry partners.


Derringer trailer-mounted Expeditionary Launch System 
The long range Derringer trailer-mounted Expeditionary Launch System is visited by a group of VIPs during Exercise Taipan Strike 2026 activities held at the Woomera Test Range, in South Australia.


CEA Phased Array Antenna
The CEA Technologies Phased Array Antenna system set up for Exercise Taipan Strike 2026 activities held at the Woomera Test Range, South Australia.

Retractable Landing Gear BRIN, Kunci Efisiensi dan Daya Jelajah PTTA Elang Hitam

11 Juli 2026

Retracable landing gear BRIN pada UAV Elang Hitam (photo: BRIN)

Tangerang Selatan – Humas BRIN. Sistem retractable landing gear yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjadi salah satu komponen penting dalam meningkatkan efisiensi aerodinamika Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) nasional. Teknologi roda pendaratan lipat ini dirancang untuk mengurangi hambatan udara (drag) setelah pesawat lepas landas, sehingga mendukung durasi terbang lebih panjang dan penggunaan energi yang lebih efisien.

Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Kekuatan Struktur BRIN, Arif Krisbudiman, menjelaskan bahwa sistem pendaratan pada PTTA kelas Medium Altitude Long Endurance (MALE UAV) dirancang tidak hanya untuk menopang pesawat saat lepas landas dan mendarat, tetapi juga mendukung efisiensi aerodinamika selama penerbangan. Karena itu, struktur landing gear harus ringan, kuat, dan mampu bekerja secara presisi.

“Pada pesawat tanpa awak kelas MALE UAV, setiap komponen dirancang untuk mendukung efisiensi energi dan durasi terbang panjang. Salah satu elemen penting yang berkontribusi terhadap kinerja tersebut ialah sistem pendaratan yang ringan, kuat, dan aerodinamis,” ujar Arif dalam Kelas Periset Edisi 16, Rabu (20/5).

UAV Elang Hitam menggunakan Retracable landing gear (photo: Bambang Haryanta)

Berbeda dengan fixed landing gear yang tetap terbuka selama penerbangan, sistem retractable landing gear memungkinkan roda pendaratan dilipat ke dalam badan pesawat setelah lepas landas. Mekanisme tersebut membuat hambatan aliran udara dapat ditekan sehingga efisiensi aerodinamika pesawat meningkat selama mengudara.

Selain menopang pesawat saat lepas landas dan mendarat, sistem ini juga dirancang untuk menyerap gaya benturan ketika roda menyentuh landasan. Untuk mendukung fungsi tersebut, BRIN mengembangkan mekanisme lipat presisi melalui aktuator otomatis. Struktur sistem juga dirancang tetap ringan, tetapi mampu menahan beban dinamis selama operasi penerbangan.

Komponen landing gear dilengkapi sistem suspensi oleo-pneumatic shock absorber untuk meredam energi benturan, serta sistem pengereman otomatis guna meningkatkan keselamatan saat pesawat berada di landasan. Dengan pendekatan tersebut, sistem pendaratan tidak hanya berfungsi sebagai penopang, tetapi juga menjaga kestabilan struktur pesawat secara keseluruhan.

Dalam pengembangannya, BRIN menggunakan material aluminium berkekuatan tinggi dan komposit ringan yang memiliki rasio kekuatan terhadap berat optimal. Pemilihan material tersebut memungkinkan pengurangan bobot struktur tanpa mengorbankan kekuatan, sehingga pesawat dapat membawa muatan lebih besar, memperpanjang durasi terbang, dan meningkatkan efisiensi bahan bakar.

Proses pengujian Retractable Landing Gear (photo: BRIN)

Pendekatan desain itu juga mendukung upaya pengurangan emisi karbon dalam pengembangan teknologi penerbangan berkelanjutan. Karena itu, bentuk landing gear dirancang seramping mungkin agar tidak menambah hambatan udara ketika terlipat di dalam badan pesawat.

Melalui desain aerodinamis tersebut, PTTA MALE dikembangkan untuk memiliki kemampuan jelajah hingga 30 jam dengan ketinggian operasi maksimum mencapai 7.200 meter.

Untuk memastikan keandalan dan keselamatan sistem, BRIN melakukan serangkaian pengujian di Laboratorium Kekuatan Struktur BRIN, Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong. Pengujian dilakukan menggunakan metode shock absorber test untuk mengetahui karakteristik redaman, serta drop test guna mengukur beban benturan dan tegangan pada titik kritis struktur landing gear. Seluruh pengujian tersebut mengacu pada standar Federal Aviation Regulations (FAR) 23.

Menurut Arif, pengujian tersebut menjadi tahapan penting untuk memvalidasi desain dan simulasi digital sehingga sistem yang dikembangkan memiliki tingkat keandalan tinggi dalam berbagai kondisi operasi.

UAV Elang Hitamj (photo: PT DI)

Pengembangan retractable landing gear merupakan bagian dari upaya BRIN memperkuat penguasaan teknologi komponen strategis PTTA nasional. Kemampuan merancang dan memproduksi komponen secara mandiri dinilai penting sebagai fondasi menuju kemandirian industri dirgantara Indonesia.

Melalui kolaborasi dengan mitra industri, BRIN juga mendorong hilirisasi riset agar teknologi PTTA dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pertahanan dan pengawasan wilayah hingga penanggulangan bencana dan layanan sipil.

“Penguasaan teknologi struktur ringan dan sistem pendaratan merupakan langkah penting menuju pesawat tanpa awak nasional yang andal, efisien, dan kompetitif. Ini menjadi kontribusi nyata riset dalam mendukung kedaulatan teknologi Indonesia,” tutup Arif.

10 Juli 2026

Satelit NEO 1 Siap Meluncur 1 Januari 2027

10 Juli 2026

Satelit Nusantara Earth Observation (NEO 1) (photo: BRIN)

Jakarta (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan siap meluncurkan satelit bernama Nusantara Earth Observation (NEO 1) pada Januari 2027 sebagai satelit observasi bumi buatan para peneliti asal Indonesia dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mencapai 65 persen.

Kepala BRIN Arif Satria menyatakan satelit itu menjadi bukti bahwa Indonesia mampu melakukan regenerasi inovasi di bidang satelit dan meneruskan pengembangan beragam jenis satelit di dalam negeri.

Satelit Nusantara Earth Observation (NEO 1) (photo: Antara)

"Peluncuran NEO 1 ini akan menjadi tonggak penting yang menunjukkan bahwa Indonesia semakin mampu menguasai seluruh rantai teknologi satelit," kata Arif dalam perayaan 50 tahun Satelit Indonesia di Jakarta, Rabu.

Arif mengatakan BRIN menyiapkan semua aset NEO 1 mengandalkan inovasi anak bangsa mulai dari perancangan misi, desain sistem, pengujian software, operasi satelit, hingga dukungan stasiun bumi.

Malaysia Hentikan Semua Kontrak Pertahanan dengan Norwegia

10 Juli 2026

Fire Control System pada CMS SETIS kapal perang Maharaja Lela-class (LCS) disuplai oleh Kongsberg Defence, Norwegia (photo & infographic: Naval Group)

Tindakan henti perolehan peralatan pertahanan dari Norway wajar, tepat - Mohamed Khaled
KOTA TINGGI: Tindakan kerajaan untuk tidak lagi meneruskan sebarang perolehan dan kontrak dengan Norway adalah wajar dan tepat berikutan negara itu dilihat tidak menghormati Malaysia, kata Menteri Pertahanan Datuk Seri Mohamed Khaled Nordin.

Mohamed Khaled keputusan itu dipersetujui Kabinet selepas Kementerian Pertahanan mencadangkan supaya tiada lagi perolehan aset pertahanan dibuat daripada Norway susulan tindakan negara itu membatalkan lesen eksport sistem peluru berpandu yang telah ditempah Malaysia.

Beliau berkata Kabinet turut meneliti sama ada pendirian itu akan diperluaskan kepada kementerian lain, namun buat masa ini melibatkan Kementerian Pertahanan.

“Apabila mana-mana kontrak yang melibatkan Norway tamat, kerajaan mungkin tidak akan mendapatkan khidmat mereka atau menyambung kontrak itu.

“Ini satu usaha dan tindakan yang saya percaya sangat wajar dan tepat kerana Norway seolah-olah tidak menghormati negara kita dan saya berharap rakyat memahami serta memberikan sokongan,” katanya kepada pemberita pada program Ziarah Kasih di Felda Pasak di sini hari ini.


Semalam, jurucakap Kerajaan Perpaduan Datuk Fahmi Fadzil dilaporkan berkata kerajaan memutuskan untuk menghentikan serta-merta sebarang perolehan peralatan atau kelengkapan pertahanan baharu dari Norway susulan tindakan negara itu membatalkan lesen eksport peluru berpandu yang sepatutnya dilengkapkan pada Kapal Tempur Pesisir (LCS) milik Tentera Laut Diraja Malaysia.

Kerajaan Norway sebelum ini dilaporkan membatalkan lesen eksport peluru berpandu antikapal (NSM) kepada Malaysia serta sistem pelancar berkaitan atas alasan untuk melindungi keselamatan negara itu.

Mohamed Khaled berkata Malaysia kesal dengan tindakan Norway kerana kontrak berkenaan telah dimeterai sejak 2018, termasuk pembayaran yang telah dibuat sebelum lesen eksport dibatalkan secara unilateral pada saat akhir tanpa sebarang makluman atau perbincangan dengan Malaysia.

Beliau berkata alasan Norway bahawa sistem peluru berpandu itu hanya dijual kepada negara anggota Pertubuhan Perjanjian Atlantik Utara (NATO) dan sekutunya, juga tidak meyakinkan kerana negara itu mengetahui keperluan Malaysia untuk memperkukuh keupayaan pertahanan, khususnya melibatkan rondaan dan keselamatan di Laut China Selatan.

Ahli Parlimen Kota Tinggi itu berkata pendirian Malaysia itu telah dimaklumkan kepada Timbalan Menteri Luar Norway dan duta negara berkenaan kerana hubungan antara kedua-dua negara perlu berasaskan kepercayaan dan saling menghormati.

“Kita sudah tidak lagi percaya kepada Norway,” katanya.

Ambassador Visits PZL Mielec, Explore Possibilities of co-manufacturing in the Philippines

10 Juli 2026

Philippine Embassy visited PZL Mielec, Poland (photos: PH Embassy)

The Philippine Embassy visited the supplier of the world-famous Blackhawk helicopters PZL Mielec (Polskie Zakłady Lotnicze - Polish Aviation Works) in the city of Mielec, an industrial area located in the Subcarpathian Voivodeship in south-eastern Poland.

PZL Mielec is the largest aerospace manufacturer in postwar Poland and is part of American company Sikorsky Aircraft.


Ambassador Alan L. Deniega met PZL Mielec President and General Director Janusz Zakrecki, along with Vice President and Legal Director Wojciech Stromczynski and Director of Business Development and Programs Piotr Niedbała to discuss acquisition projects related to national security and disaster management concerns of the Philippines. Discussions today also involved possibilities of co-manufacturing in the Philippines, and certain human resources needs.

The Ambassador was accompanied by First Secretary Geronimo Suliguin, while PZL Mielec Program Manager for Business Development and Programs Ewa Maziarska arranged the tour of the facilities. 

09 Juli 2026

Brigade ke-171 (Naval Region 2) Angkatan Laut Vietnam Latihan Rutin dengan Fregat Petya

09 Juli 2026

5 fregat ASW kelas Petya (Project 159) sengaja dikonsentrasikan di bawah komando Brigade ke-171 Wilayah Angkatan Laut 2 untuk memperkuat pertahanan laut bagian selatan dan menjaga platform lepas pantai strategis DK1 (Nhà giàn DK1) (all photos: QDND)

Brigade ke-171 (Wilayah Angkatan Laut 2) didirikan pada tanggal 9 Juli 1966. Selama lebih dari 60 tahun membangun, berjuang, dan berkembang, generasi perwira dan prajurit Brigade selalu bersatu, mengatasi semua kesulitan, dan menuliskan tradisi "Berjuang dengan gagah berani, mengatasi kesulitan, terus bertahan di laut, bertekad untuk berjuang dan menang." Pada kesempatan ini, seorang reporter dari Surat Kabar Tentara Rakyat mewawancarai Letnan Kolonel Tran Thanh Vu, Komisaris Politik Brigade ke-171, tentang tradisi heroik Brigade.

Reporter (PV): Bisakah Anda merangkum beberapa aspek khas dari tradisi Brigade?

Letnan Kolonel Tran Thanh Vu: Pendahulu Brigade ke-171 adalah Resimen Patroli dan Perburuan Kapal Selam ke-171. Pembentukan Resimen ini terkait dengan kemenangan tentara dan rakyat Vietnam Utara dalam mengalahkan perang penghancuran pertama yang dilancarkan oleh imperialis AS; Unit ini berpartisipasi dalam mengalahkan kampanye blokade ranjau dan bom magnetik oleh imperialis AS selama Perang Dunia Kedua yang penuh kehancuran. Secara khusus, selama Serangan Musim Semi tahun 1975, unit ini, bersama dengan pasukan lain, membebaskan dan merebut pelabuhan Son Tra-Da Nang, Nha Trang, dan Cam Ranh, membuka jalur air Vung Tau-Saigon; mengawal, mengangkut, dan mencegah evakuasi laut selama Kampanye Ho Chi Minh. Selama perang untuk mempertahankan perbatasan barat daya, unit ini, yang saat itu merupakan Armada ke-171, berpartisipasi dalam pertempuran untuk melindungi laut dan pulau-pulau barat daya, melaksanakan tugas internasional, dan kemudian, bersama dengan pasukan lain, berpartisipasi dalam tugas melindungi laut selatan, pulau-pulau, dan landas kontinen Tanah Air.


PV: Beroperasi dalam lingkungan yang unik, sulit, dan kompleks, apa yang membantu para perwira dan prajurit Brigade selalu berhasil menyelesaikan semua tugas? Letnan Kolonel Tran Thanh Vu: Singkatnya, faktor kunci yang berkontribusi pada kemenangan dan pencapaian Brigade adalah tekad yang teguh dan keteguhan politik para perwira dan prajuritnya. Terlepas dari kondisi atau keadaan apa pun, para perwira dan prajurit Brigade 171 secara konsisten menunjukkan semangat juang yang teguh, pola pikir revolusioner yang menyeluruh, dan sikap pantang menyerah dalam menghadapi kesulitan, tantangan, dan bahaya; dengan teguh dan gigih melaksanakan tugas mereka hingga akhir untuk mencapai kemenangan.

Dalam pertempuran melawan musuh, baik di darat maupun di laut, para perwira dan prajurit Brigade selalu membuktikan diri sebagai kekuatan dengan tekad yang teguh, kemauan yang tak tergoyahkan, dan kesediaan untuk menanggung kesulitan dan pengorbanan. Dalam situasi berbahaya, di mana garis antara hidup dan mati sangat tipis, para perwira dan prajurit Brigade tetap setia pada perjuangan revolusioner, kepada Tanah Air dan rakyat, siap mengorbankan diri mereka untuk perjuangan pembebasan nasional dan perlindungan kedaulatan maritim dan pulau-pulau Tanah Air. Kehadiran terus-menerus di laut ini sepenuhnya mencerminkan kemauan dan keberanian para perwira dan prajurit selama 60 tahun terakhir.

Dari masa-masa awal pertempuran melawan perang destruktif yang dilancarkan oleh imperialis AS hingga pertempuran untuk melindungi perbatasan barat daya, melaksanakan tugas internasional untuk membantu rakyat Kamboja; kemudian tahun-tahun perjuangan untuk melindungi kedaulatan di Kepulauan Spratly, melindungi terumbu karang dan landas kontinental di Selatan dan sistem platform DK1, hingga saat ini menguasai senjata dan peralatan modern... semuanya memiliki satu benang merah yang sama: kehadiran tak tergoyahkan dari kapal dan prajurit Brigade 171 di laut.


PV: Untuk membangun karakter pasukan, apa langkah-langkah utama yang diterapkan oleh Komite Partai dan Komando Brigade, Pak?

Letnan Kolonel Tran Thanh Vu: Karakter bukanlah sesuatu yang datang secara alami; karakter dibentuk melalui proses pelatihan yang panjang dan terus-menerus. Oleh karena itu, Komite Partai dan Komando Brigade memprioritaskan pendidikan, pelatihan, dan instruksi untuk memastikan bahwa pasukan memiliki pemahaman politik yang baik, kompetensi profesional, persatuan, dan fleksibilitas dalam menangani situasi; Secara aktif berinovasi dan meningkatkan kualitas pendidikan politik dan ideologi bagi seluruh personel militer dan pegawai pertahanan, menumbuhkan patriotisme, cinta laut dan pulau, serta cinta satuan; memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi dan kemauan yang teguh, keberanian, dan tekad, tidak pernah menyerah dalam menghadapi kesulitan dan tantangan.

Seiring dengan itu, Komite Partai dan Komando Brigade memfokuskan upaya untuk meningkatkan kualitas pelatihan tempur, disiplin, membangun sistem yang teratur dan tertib, memastikan keselamatan dalam semua kegiatan; dan memprioritaskan pelatihan yang komprehensif dan mendalam. Pelatihan diselaraskan erat dengan misi, sasaran, medan perang, rencana, dan pertempuran aktual. Proses pelatihan berfokus pada perlindungan kedaulatan laut, pulau, dan landas kontinen negara, dan membangun brigade yang revolusioner, teratur, elit, dan modern.


Brigade memperkuat pelatihan perwira dan prajurit dalam kesiapan tempur praktis; menciptakan situasi yang kompleks, tegang, dan bahkan berbahaya... untuk menguji dan menempa kecerdasan, kemauan, kekuatan mental, dan kesehatan fisik pasukan; Dengan demikian, membina dan mengasah karakter para perwira dan prajurit agar dapat merespons situasi apa pun dengan percaya diri dan sukses.

Reporter: Dalam waktu mendatang, apa yang harus dilakukan brigade untuk menjunjung tinggi tradisinya, Kamerad?

Letnan Kolonel Tran Thanh Vu: Tradisi Brigade bukan hanya sumber kebanggaan tetapi juga perintah dan motivasi spiritual yang besar bagi seluruh unit untuk terus berupaya membangun Brigade yang kuat, komprehensif, "teladan, dan luar biasa". Mengingat situasi yang kompleks di laut dan tuntutan yang semakin tinggi untuk melindungi kedaulatan maritim dan pulau-pulau, kami bertekad untuk terus mendidik, melatih, dan membangun tim perwira dan prajurit dengan tekad politik yang kuat, keterampilan profesional yang tinggi, dan penguasaan senjata modern dan peralatan teknis; meningkatkan kualitas pelatihan, kesiapan tempur, dan kekuatan keseluruhan unit. Terlepas dari kesulitan, kesengsaraan, atau situasi apa pun, Brigade akan selalu tetap bersatu, siap menerima dan menyelesaikan semua tugas dengan sukses; dengan tegas dan gigih membela kedaulatan maritim, pulau-pulau, dan landas kontinen Tanah Air yang sakral.

Reporter: Terima kasih banyak, Kamerad!

GMF Expands Maintenance Capacity Through Pondok Cabe Facility

09 Juli 2026

GMF has MRO contracts for TNI AU's C-130 Hercules and TNI AD's Bell 412 EP (photos: GMF)

Expanding capacity means creating more room to keep the industry moving.

Through the utilization of the Pondok Cabe facility, GMF strengthens its turbo propeller aircraft maintenance capabilities while optimizing maintenance operations across its facilities.

Designed to facilitate up to 2 aircraft maintained simultaneously, the facility supports maintenance capabilities up to and including C Check and annual scheduled maintenance, reinforced by GMF’s consistent quality assurance systems.

This initiative reflects GMF’s commitment to continuously strengthening maintenance capabilities, expanding service capacity, and delivering more flexible and integrated maintenance solutions for the growing needs of the aviation industry.

All of these achievements are made possible through the dedication of Engineering Heroes across GMF facilities, whose commitment continues to support safer and more reliable flights for every passenger.

(GMF)

Australian Army Uses New AI Drone on Exercise Southern Jackaroo

09 Juli 2026

New Australian Army AI drone on Exercise Southern Jackaroo (photos: Aus DoD)

One of Army’s newest fixed‑wing reconnaissance drones took flight on Exercise Southern Jackaroo, identifying targets in depth and enabling drone and artillery strikes on enemy positions.

The Vector AI, made by Quantum Systems, can map environments in real time and uses AI-enhanced software to detect and track objects while flying more than 60 kilometres.


Drone pilot Corporal Harrison Hinson, of 2nd Cavalry Regiment, said his unit would normally identify the enemy through mounted and dismounted reconnaissance using direct observation. 

“This also means that we would be putting our soldiers in direct fire range and at risk of compromise,” Corporal Hinson said.


“With our employment of drones, we have one more tool at our disposal to enhance our reconnaissance and strike capabilities.”

Having flown fixed-wing drones since 2022, Corporal Hinson focused on understanding the new platform’s strengths, limitations and capabilities.


The Vector AI, with a wingspan of 2.8 metres, uses tiltrotors, similar to the MV-22 Osprey, to transition between vertical and forward flight, giving it the hovering capability of a helicopter with the speed and range of a fixed-wing aircraft.

“The flying side is quite easy if you have flown other systems,” Corporal Hinson said.


Because fixed-wing drones can penetrate deeper into enemy lines, they excel at providing information that helps friendly forces disrupt rear elements, degrading an enemy’s ability to coordinate and resupply forward units.

That same information shortens kill chains – the steps taken to find targets and destroy them – enabling faster offensive action.


Corporal Hinson said offensive use of the technologies had informed how they operated defensively.

“We have to assume we are always being observed and need to better ourselves on how to hide or disguise our signatures,” he said.

The Vector AI comes from a lineage of drones used in Ukraine and other conflicts, with each upgrade shaped by thousands of mission hours across global military operations.

08 Juli 2026

Ditjen Pothan Buka Workshop Submarine Phase 2 TA. 2026

07 Juli 2026

Workshop Submarine Kementerian Pertahanan RI (photos: Ditjen Pothan)

Jakarta – Mewakili Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan RI, Direktur Teknologi Potensi Pertahanan (Dir Tekpothan) Marsma TNI Dedy Laksmono, S.E., S.T., M.M. membuka Workshop Submarine Phase 2 TA. 2026 bertema Submarine Design & Technical Drawing Analysis di Hotel Oakwood Taman Mini, Jakarta.

Dalam sambutan Direktur Jenderal Potensi Pertahanan yang dibacakan, Dir Tekpothan menyampaikan bahwa penyelenggaraan workshop ini merupakan langkah strategis dalam mendukung peningkatan kemampuan sumber daya manusia serta penguasaan teknologi kapal selam melalui pemanfaatan program ofset. Workshop diharapkan menjadi sarana berbagi pengetahuan, pengalaman, dan inovasi yang mampu memperkuat sinergi antara pemerintah, TNI, perguruan tinggi, industri pertahanan nasional, dan mitra internasional dalam mendukung pembangunan kemampuan pertahanan negara.


Lebih lanjut disampaikan bahwa kebijakan ofset dalam pengadaan alat peralatan pertahanan dan keamanan dari luar negeri merupakan amanat Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan. Implementasi kebijakan tersebut diharapkan mampu mendorong alih teknologi, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta penguatan kapasitas industri pertahanan dalam negeri sebagai fondasi terwujudnya kemandirian teknologi pertahanan nasional.


Workshop yang diikuti peserta dari Kementerian Pertahanan, TNI Angkatan Laut, Universitas Pertahanan RI, dan industri pertahanan nasional ini akan membahas berbagai aspek desain kapal selam dan analisis technical drawing sebagai bekal peningkatan kompetensi teknis peserta. Melalui kegiatan ini diharapkan terbangun kolaborasi yang semakin erat dalam pengembangan teknologi kapal selam guna mendukung terwujudnya industri pertahanan nasional yang mandiri, maju, dan berdaya saing.

DND Chief Confirms 5 Abukuma class Destroyer Escorts for Philippines

08 Juli 2026

Abukuma class destroyer escorts (photo: Yamayan)

PH to get 5 'Abukuma' destroyer escorts from Japan
MANILA – The Philippines will be getting five newly-retired "Abukuma"-class destroyers from the Japan Maritime Self-Defense Force (JMSDF), boosting its naval capabilities, Department of National Defense (DND) Secretary Gilberto Teodoro Jr. said on Tuesday.

"Administrative details na lang ang inaayos pero done na yun (Administrative details are being finalized but it’s already a done deal)," Teodoro said when asked by journalists for updates on the project.

The general-purpose warships are part of Japan's Official Security Assistance, which is a new cooperation framework started in April 2023.

Teodoro said the provision of the frigates is a "sign of goodwill" from the Japanese government, along with deals including radars and other equipment.

Deliveries of the ships are seen to be done within "two to three years”, following the discussions that started last year.

Platform of Abukuma class destroyer escorts without missiles and torpedoes (image: AndrewDGreat)

Teodoro said they will look into the "current condition" of the ships to determine what Philippine naval capabilities these Japanese craft can best match or pair with.

He said they will also look into constructing berthing or docking facilities for these vessels, noting that the country will get new warships in the coming years.

Japan's "Abukuma"-class destroyer escorts have a displacement of 2,000 gross tons, a length of 109 meters and a beam of 44 meters. It has a top speed of 27 knots and is armed with various anti-ship missiles, anti-submarine rockets and torpedoes along with a 76mm main gun and 20mm closed-in weapon system.

The JMSDF operated a class of six ships, which were constructed from 1988 to 1991. These ships are optimized for anti-submarine and anti-ship warfare.

(PNA)

Gandeng NVLS, Pindad Jalin Kemitraan Kembangkan Night Vision Googles

07 Juli 2026

Kerjasama Pindad-NVLS meliputi produksi lokal dan pengembangan NVG monokular dan binokular (photo: Pindad)

PT Pindad (Persero), manufaktur pertahanan terkemuka di Indonesia menjalin kemitraan dengan Nightvisions Lasers Spain (NVLS), produsen sistem penglihatan malam terkemuka dari Eropa untuk produksi lokal dan pengembangan Night Vision Googles (NVG) monokular dan binokular. Kerja sama ini diresmikan melalui penandatanganan Technical Assistance and Commercial Collaboration Contract oleh Direktur Teknologi, Pengembangan dan Manajemen Risiko (Dirtekbang & MR), Prima Kharisma yang mewakili Direktur Utama Pindad dan CEO NVLS, Jorge de la Torre pada Eurosatory, 15 Juni 2026 di Paris, Perancis. 

Kerja sama antara Pindad dan NVLS meliputi produksi lokal dan alih teknologi dalam manufaktur NVG, serta dukungan teknis NVLS. Kemitraan ini akan memperkuat kapabilitas nasional Indonesia di bidang penglihatan malam serta meningkatkan kapasitas Pindad dalam memenuhi kebutuhan operasional TNI yang terus berkembang.

Dirtekbang & MR, Prima Kharisma menegaskan komitmen Pindad untuk terus berinovasi dan memperkuat kerja sama strategis untuk mendukung kemandirian industri pertahanan nasional. "Sebagai industri pertahanan dalam negeri, Pindad berkomitmen untuk dapat mendukung kebutuhan alpalhankam TNI di berbagai operasi, melalui inovasi dan kerja sama strategis. Kerja sama ini juga akan meningkatkan kompetensi kita sebagian bagian dari upaya mewujudkan kemandirian industri pertahanan nasional," ujar Prima. 


Produk NVG ini dapat meningkatkan fleksibilitas operasi dengan menyediakan kemampuan penglihatan malam  hari dan deteksi cahaya rendah yang canggih bagi operasi yang dilaksanakan di lingkungan dengan kondisi visual yang terbatas atau terdegradasi. Sebagai produsen alpalhankam nasional, Pindad akan dapat menawarkan kepada TNI platform persenjataannya yang telah dilengkapi dengan kemampuan penglihatan malam modern sesuai kebutuhan operasi pada malam hari maupun dalam kondisi minim cahaya.

NVLS merupakan produsen NVG dan  malam terkemuka di dunia dengan sistem penglihatan malam canggih yang diakui secara global, dengan produk yang sudah digunakan oleh berbagai institusi pertahanan dan keamanan di Eropa serta pasar internasional lainnya. Produk NVLS menawarkan bidang pandang (field of view) yang lebih luas, yaitu 52°, dibandingkan dengan 40° yang umumnya terdapat pada NVG konvensional, sehingga memberikan kesadaran situasional yang lebih baik bagi personel yang beroperasi di lapangan. 

Melalui kerja sama ini Pindad diharapkan dapat mendukung operasional TNI dalam berbagai kondisi serta meningkatkan kapabilitas produksi alpalhankam nasional dalam bidang sistem penglihatan malam dan deteksi cahaya rendah yang canggih.

07 Juli 2026

Prabowo-Modi Sepakat, RI Teken Kontrak Rudal Supersonik BrahMos dan Rudal Astra

07 Juli 2026

Rudal super sonic anti-kapal Brahmos versi land based (photo: DRDO)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi membuahkan 16 kerja sama antar dua negara yang dituangkan dalam perjanjian maupun nota kesepahaman. Pada sektor keamanan ada 3 perjanjian yang diteken, mulai dari keamanan maritim hingga perjanjian kerja sama sistem pertahanan rudal BrahMos.

Saat memberikan keterangan pers bersama, Prabowo menegaskan komitmen penguatan kerja sama di bidang penanggulangan terorisme. Selain itu kedua negara juga sepakat melakukan peningkatan kerja sama keamanan.

"Kedua negara juga sepakat meningkatkan kerja sama keamanan melalui Indonesia India Security Dialoge ketiga," kata Prabowo, Selasa (7/7/2026).

Prabowo juga menekankan bahwa seiring makin meningkatnya isu keamanan lintas negara, pihaknya berkomitmen memperdalam kerjasama pengembangan kapasitas di bidang teknologi baru, penanggulangan kejahatan lintas negara, hingga pengembangan infrastruktur digital.

Meskipun tidak disebutkan detail kerja sama pertahanan antar kedua negara, namun ada sejumlah nota kesepahaman yang diteken pada bidang pertahanan, yaitu MoU tentang kerja sama keselamatan dan keamanan maritim, penandatanganan kontrak sistem pertahanan rudal BrahMos antara BrahMos dan Kementerian Pertahanan, serta perjanjian kerja sama rudal udara ke udara antara Bharat Dynamics dan Republikorp.

Dalam kesempatan yang sama, PM Modi juga bicara mengenai peningkatan kerja sama keamanan dan pertahanan antar kedua negara. Menurutnya kerja sama ini didasari kepercayaan yang semakin tinggi antar kedua negara.


Rudal BVR Astra produksi Bharat Dynamics (infographic: DRDO)

"Kepercayaan yang semakin tinggi antar kedua negara, semakin kuat tercermin dalam kerja sama keamanan dan pertahanan, serta kerja sama di bidang maritim. Hari ini kami sepakat untuk meningkatkan kerja sama dalam pertukaran bidang pertahanan, manajemen bencana, dan kerja sama bidang industri," tutur Modi.

Kedua negara juga akan bekerja sama memastikan keamanan maritim di Samudra Hindia, termasuk kerja sama di bidang ekonomi biru, pembangunan pelabuhan, dan perdagangan maritim.

Sebelumnya, sumber dari pemerintah India mengatakan kedua negara telah siap menandatangani kesepakatan pembelian rudal jelajah supersonik BrahMos dan rudal udara-ke-udara Astra. Nilai transaksi tersebut diperkirakan mencapai sekitar US$630 juta atau sekitar Rp11 triliun dan menjadi salah satu agenda utama dalam kunjungan dua hari Perdana Menteri India Narendra Modi ke Jakarta.

Rencana pengadaan BrahMos sebenarnya telah diumumkan Indonesia pada Maret lalu. Saat itu, pemerintah menyatakan telah mencapai kesepakatan dengan India untuk membeli sistem rudal BrahMos yang dimiliki bersama oleh pemerintah India dan Rusia.

Kementerian Pertahanan Indonesia ketika itu mengatakan kepada Reuters bahwa proses negosiasi telah memasuki tahap lanjutan dengan nilai kontrak diperkirakan mencapai US$200 juta hingga US$350 juta.

Adapun minat berbagai negara terhadap rudal BrahMos meningkat sejak konflik selama empat hari antara India dan Pakistan tahun lalu. Dalam konflik tersebut, India menggunakan sistem rudal BrahMos untuk pertama kalinya dalam operasi tempur.

Penilaian Teknikal MINDEF, TLDM Pilih Pengganti NSM Dijangka Selesai Akhir Bulan Julai

07 Juli 2026

Kapal Tempur Pesisir (LCS) yang semula akan dilengkapi rudal Naval Strike Missile (NSM) (photo: Lumut)

KUALA LUMPUR: Penilaian teknikal peringkat Kementerian Pertahanan (MINDEF) dan Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) bagi memilih sistem peluru berpandu sebagai pengganti sistem Naval Strike Missile (NSM) untuk Kapal Tempur Pesisir (LCS) akan diselesaikan pada akhir bulan ini.

Menteri Pertahanan, Datuk Seri Mohamed Khaled Nordin, berkata TLDM dan MINDEF sedang menjalankan penilaian terhadap beberapa sistem peluru berpandu surface-to-surface daripada pengeluar peralatan asal (OEM) oleh negara berpotensi bagi menggantikan sistem NSM, yang dibatalkan lesen eksportnya oleh Norway.

Beliau berkata, tawaran serta cadangan daripada syarikat-syarikat berkenaan akan dinilai secara komprehensif berdasarkan keperluan operasi TLDM.

"Ia merangkumi beberapa aspek iaitu keupayaan sistem untuk disepadukan dengan Combat Management System kapal LCS, tempoh penghantaran sistem itu, kos keseluruhan perolehan dan terakhir tahap teknologi dan keupayaan operasi yang setanding atau lebih baik daripada NSM.

"Insya-Allah sekiranya semua berjalan lancar, penilaian teknikal di peringkat TLDM dan Kementerian Pertahanan siap pada akhir Julai ini sebelum diangkat ke peringkat penilaian seterusnya," kata beliau ketika sesi Penerangan Menteri di Dewan Rakyat hari ini.

Mohamed Khaled berkata, Beliau menjelaskan proses perolehan NSM itu bermula sejak 2011 sebelum kontrak perolehan senilai €128.7 juta dimeterai pada 2018 bagi melengkapkan keupayaan kapal-kapal LCS, manakala satu lagi kontrak senilai €9.19 juta dimeterai pada 2023 bagi dua set pelancar untuk KD Jebat dan KD Lekiu, menjadikan jumlah kira-kira RM642.6 juta (€137.91 juta). 

Mohamed Khaled berkata, meskipun ketiadaan NSM mengehadkan keupayaan peperangan anti-kapal LCS yang hanya dapat menggunakan meriam 57 milimeter dengan jarak tembakan sekitar 10 kilometer, perkembangan itu tidak menjejaskan jadual mengirimkan kapal LCS kepada TLDM.

Ahli Parlimen Kota Tinggi itu berkata Angkatan Tentera Malaysia (ATM) juga terus melaksanakan operasi mempertahankan perairan, ruang udara dan sempadan negara seperti biasa sementara kementerian mencari penyelesaian terbaik bagi memulihkan keupayaan berkenaan.

Sementara itu, beliau berkata, kerajaan akan mempertahankan hak dan kepentingan Malaysia, apabila MINDEF mengemukakan notis tuntutan kepada KDA berjumlah €226.1 juta atau kira-kira RM1.05 bilion, merangkumi pembayaran yang telah dibuat serta kerugian langsung dan tidak langsung akibat pembatalan lesen eksport itu.

Mohamed Khaled berkata, berdasarkan nasihat Jabatan Peguam Negara, kerajaan akan terlebih dahulu berusaha mendapatkan penyelesaian secara baik dengan syarikat berkenaan menerusi rundingan yang dijadualkan berlangsung pada pertengahan Ogos ini sebelum mempertimbangkan tindakan selanjutnya.

Sementara itu, Mohamed Khaled berkata, episod berkenaan membuktikan kebergantungan yang tinggi kepada rantaian bekalan luar negara membawa risiko strategik kepada pertahanan negara.

Sehubungan itu, katanya, kerajaan sedang memperkukuh pelaksanaan Dasar Industri Pertahanan Negara (DIPN) bagi meningkatkan kapasiti industri pertahanan tempatan, termasuk keupayaan menghasilkan roket dan peluru berpandu agar Malaysia lebih berdaya tahan serta mampu mempertahankan kedaulatannya secara berdikari pada masa hadapan.

(Bernama)

PT Dahana Perluas Pasar Internasional Melalui Ekspor Amonium Nitrat ke Amerika Selatan dan Timur Tengah

07 Juli 2026

Amonium Nitrat NH4NO3 adalah komponen utama dalam berbagai bahan peledak dan bom rakitan serta pupuk pertanian (photos: Dahana)

PT Dahana kembali memperluas pasar internasional melalui ekspor Amonium Nitrat ke Amerika Selatan dan Timur Tengah.

Keberhasilan menembus pasar Peru dan Uni Emirat Arab semakin memperkuat eksistensi PT Dahana sebagai penyedia solusi bahan peledak terintegrasi yang mampu menghadirkan produk berkualitas, andal, dan berdaya saing di pasar global.

Ekspor ke Peru dilaksanakan pada 25 Mei 2026 melalui Pelabuhan Tursina, Bontang, Kalimantan Timur dengan total pengiriman mencapai 1.954,8 ton Amonium Nitrat.

Pengiriman ini menjadi ekspor Amonium Nitrat ke-4 PT Dahana sepanjang tahun 2026 sekaligus membuka pasar baru di kawasan Amerika Selatan.


PT Dahana kembali mencatatkan pencapaian baru melalui pengiriman 5.004 ton Amonium Nitrat ke Uni Emirat Arab pada 26-28 Juni 2026 melalui Pelabuhan Tursina, Bontang, Kalimantan Timur.

Pengiriman tersebut menjadi ekspor Amonium Nitrat ke-5 PT Dahana sepanjang tahun 2026 sekaligus memperkuat eksistensi perusahaan di kawasan Timur Tengah.

Sepanjang tahun 2026, PT Dahana telah mencatatkan lima kali ekspor Amonium Nitrat ke tiga kawasan, yaitu Australia, Amerika Selatan dan Timur Tengah, mencerminkan semakin luasnya jangkauan pasar serta meningkatnya kepercayaan pelanggan global terhadap produk PT Dahana.

06 Juli 2026

Kerjasama Weststar-RTI Australia Memperkuat Kemampuan Teknologi Roket dan Rudal Malaysia

06 Juli 2026

Penanda-tanganan kemitraan strategis Weststar-RTI (photo: MYKemhan)

Selama kunjungan kerja ke Australia, Menteri Pertahanan menyaksikan upacara penandatanganan kemitraan strategis antara
Weststar Defence Industries Sdn Bhd dan Rocket Technologies International Pty Ltd (RTI) di Canberra.

Kemitraan strategis ini merupakan perkembangan penting dalam upaya memperkuat kemampuan industri pertahanan negara, khususnya di bidang teknologi roket dan rudal. Keahlian RTI akan membuka ruang untuk transfer teknologi, penelitian dan pengembangan (R&D), pengembangan sumber daya manusia, serta kolaborasi dengan lembaga pendidikan tinggi.

Jangka waktu dua tahun
Pemerintah menyambut dan sepenuhnya mendukung kolaborasi ini, yang juga mencakup pembangunan fasilitas produksi di Malaysia. Produksi roket diharapkan dimulai dalam dua tahun sebelum diperluas ke produksi rudal di masa mendatang.

Investasi oleh Weststar juga akan memungkinkan Malaysia untuk bergabung dengan rantai pasokan global RTI, sehingga membuka peluang bagi industri lokal untuk tumbuh dalam ekosistem pertahanan internasional. Inisiatif ini sejalan dengan aspirasi Dasar Industri Pertahanan Negara (DIPN) untuk memperkuat kemampuan pertahanan kedaulatan negara.

Apresiasi kepada Pemerintah Australia atas dukungan dan persetujuannya terhadap kolaborasi dan transfer teknologi ini. Selamat kepada Weststar atas kepercayaan dan komitmennya untuk berinvestasi di bidang strategis yang akan memperkuat kemampuan pertahanan negara untuk generasi mendatang.

Tank T-1 Vietnam Ternyata Lebih Besar dari PT-76

06 Juli 2026

Tank T-1 Vietnam dan PT-76 (photos: Vietnam Defence II, Do You Know)

Tank T-1 terlihat lebih besar, lebih tinggi, lebih panjang, dan lebih berat daripada PT-76. Hal ini terlihat dari spesifikasi dan penampilannya. T-1 sangat menonjol karena turretnya yang sangat luas, memberikan ruang yang cukup untuk pengisian otomatis dan banyak ruang untuk peningkatan.


Sekarang juga lebih jelas bahwa tank ini memiliki sangkar di kedua sisi dan di penutup kompartemen mesin. Logikanya adalah untuk menutupi sebanyak mungkin, bukan sepenuhnya, jika tidak sangkar akan membuat fitur lain menjadi tidak berguna.


Fitur utamanya adalah kemampuan pengamatan. Ini sangat canggih. Pengemudi memiliki visor siang/malam. Penembak memiliki alat bidik siang/malam. Komandan tank memiliki periskop siang/malam dan dudukan senjata yang dikendalikan dari jarak jauh dengan alas putar terintegrasi; Anda dapat mengendalikannya dari dalam atau luar. Dudukan senjata bahkan menutupi alat bidik panorama di belakang palka atap penembak.


Yang lebih mengesankan lagi adalah sistem perlindungan aktifnya. Sepasang lampu pengacau sinyal, empat sensor radiasi laser yang terhubung ke sistem peluncur granat asap, dan apa yang tampak seperti sistem pengacau sinyal drone yang mirip dengan LMADIS (Light Marine Air Defense Integrated System) AS.