Tampilkan postingan dengan label ANGKATAN DARAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ANGKATAN DARAT. Tampilkan semua postingan

10 September 2026

Army's NASAMS Ready for Operations

10 September 2026

NASAMS integrated air and missile defence (photos: Australian Army)

Army's world-class air defence capability ready for operations
Australia’s integrated air and missile defence capability has been strengthened with the achievement of Final Operational Capability for Army’s National Advanced Surface to Air Missile System (NASAMS) capability.

This milestone confirms the NASAMS has met all requirements for operational service and is ready to support Australian Defence Force (ADF) operations. 

NASAMS provides Army with a world-leading, networked air defence capability designed to detect, track and defeat a range of airborne threats, including cruise missiles, aircraft, helicopters, and drones.

The capability, delivered under the Short Range Ground Based Air Defence (SRGBAD) project, forms part of the inner layer of Defence's integrated air and missile defence architecture, which combines ships, fighter aircraft and surface-to-air missile systems to protect ADF personnel, assets and critical infrastructure.


The project also incorporates Australian-designed radar technology developed by CEA Technologies, enhancing Defence’s ability to monitor and respond to emerging threats. 

Australian industry has played a central role in delivering the capability, from integrating key components through to providing ongoing sustainment and support in Australia.

This achievement follows a phased introduction into service that included successful live-fire activities and training undertaken by soldiers from Adelaide’s 16 Regiment, Royal Australian Artillery, demonstrating the capability’s readiness for operational employment. 


Quotes attributable to Deputy Prime Minister and Minister for Defence, Richard Marles:
"The achievement of Final Operational Capability for NASAMS marks a significant milestone in strengthening Australia’s integrated air and missile defence capability.

"NASAMS provides Army with a modern, highly capable air defence system that enhances our ability to protect Australian Defence Force personnel, critical assets and infrastructure from a range of airborne threats.

"This capability reflects Defence’s commitment to ensuring the Australian Defence Force remains equipped to respond to an increasingly complex strategic environment.”


Quotes attributable to Minister for Defence Industry, Pat Conroy:
"The achievement of Final Operational Capability delivers a world-leading capability for Defence and provides a major boost to Australia's integrated air and missile defence.

"This air and missile defence capability strengthens Defence's ability to protect Australian forces from modern airborne threats, including cruise missiles, aircraft, and drones."

"NASAMS demonstrates how Defence and industry are working together to deliver advanced capability and operational outcomes for the Australian Defence Force."

"Australian-designed radar technology is a key part of this capability, highlighting the important contribution local industry makes to Australia's national security."

"This milestone marks the culmination of years of collaboration between Defence, Australian industry and international partners to deliver a world-class air defence system for the Australian Army."

Meninjau Ulang Pasar Helikopter Militer Indonesia Sampai Tahun 2029

10 September 2026

Helikopter S-70 Black Hawk (photo: Sikorsky)

Beragam tantangan dihadapi dalam program modernisasi kekuatan pertahanan Indonesia sejak tahun 2020, satu di antaranya ialah keinginan pengambil keputusan agar sistem senjata yang dibeli dapat diserahkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Padahal kondisi industri dirgantara dan pertahanan dunia mengalami gangguan rantai pasok akibat pandemi Covid-19 yang disusul dengan invasi Rusia ke Ukraina sejak 24 Februari 2022. Perang dagang yang ditabuhkan oleh Amerika Serikat sejak Donald Trump kembali ke Gedung Putih pada awal 2025 menambah pukulan terhadap rantai pasok global, sebab terdapat negara-negara yang melakukan tindakan balasan terhadap Amerika Serikat sehingga mempengaruhi juga pasokan bahan baku maupun bahan olahan.

Konflik terbuka Amerika Serikat dan Israel versus Iran sejak 28 Februari 2026 memberikan gejolak terhadap terhadap industri dirgantara dan pertahanan internasional sebab menciptakan gangguan rantai pasok seperti helium cair, sulfur dan nafta.

Karena perkara keinginan agar peralatan pertahanan yang diimpor dapat diserahkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, kontrak pengadaan 22 S-70M senilai US$585 juta antara PT Dirgantara Indonesia dan Sikorsky gagal memasuki tahap efektif.

AW-149M pesaing langsung dari S-70M pada kelas medium-heavy helikopter (photo: Leonardo)

Sesuai dengan kesepakatan kedua firma, waktu penyerahan gelombang pertama S-70M sebanyak lima unit adalah T0+32 bulan. Adapun keinginan Kementerian Pertahanan ialah helikopter buatan Amerika Serikat tersebut dapat diserahkan dalam 24 bulan setelah aktivasi kontrak, suatu hal yang mustahil mempertimbangkan berbagai faktor dalam kegiatan manufaktur.

Sebagai dampak kegagalan kegiatan akuisisi S-70M, PT Dirgantara Indonesia sebagai penerima program Helikopter Angkut Serbaguna dan Dukungannya harus mencari pemasok lain yang bisa memenuhi aspirasi Kementerian Pertahanan, termasuk jumlah minimal 30 unit dan bukan pesawat sayap putar bekas.

Peristiwa demikian sekaligus menandai perubahan proyeksi pasar helikopter militer Indonesia sampai 2029, walaupun program Helikopter Angkut Serbaguna dan Dukungannya merupakan program Minimum Essential Force (MEF) 2020-2024. Sikorsky diperkirakan tidak akan dapat mengisi peluang pasar pada Optimum Essential Force (OEF) 2025-2029 mengingat pengalaman yang dialami pada MEF 2020-2024.

Selain itu, karakter perseroan seperti Sikorsky yang menerapkan secara ketat good governance and compliance tidak cocok dengan kondisi pasar helikopter militer Indonesia hingga ujung dasarwarsa ini. Mengapa terjadi perubahan proyeksi pasar helikopter militer Indonesia sampai 2029?

Bell 412EPX dapat melanjutkan kebutuhan akan medium lift helicopter (photo: Bell Textron)

Pertama, perencanaan akuisisi. Perencanaan akuisisi yang dianut saat ini selain bersifat top-down juga bersifat tertutup walaupun dana yang dipakai dalam belanja peralatan perang adalah Pinjaman Luar Negeri (PLN) dan bukan uang pribadi pejabat pemerintah.

Dengan alokasi PLN yang bersifat gelondongan yakni US$34,8 miliar dan semuanya telah menerima Penetapan Sumber Pembiayaan (PSP) dari Menteri Keuangan, tidak tersedia informasi detail program helikopter yang diakomodasi oleh pemerintah guna mendapatkan pembiayaan. Andaikata informasi itu tersedia, dapat dipastikan pabrikan rotorcraft mana saja yang mungkin akan bersaing di pasar Indonesia.

Kedua, alokasi anggaran program. Mengingat bahwa tidak tersedia data lengkap mengenai kegiatan akuisisi pesawat sayap putar bagi TNI dalam OEF 2025-2029, maka tidak diketahui berapa nilai pasar helikopter militer Indonesia hingga dasawarsa ini selesai.

Nilai pasar dapat diketahui dari alokasi anggaran total yang disiapkan bagi pembelian wahana terbang yang tidak membutuhkan landas pacu tersebut. Sebagai ilustrasi, pada MEF 2020-2024 kuota pengadaan helikopter dalam PLN lebih dari US$1,5 miliar, di mana angka itu sudah termasuk PSP tahun 2025.

Helikopter Mi-17V5 baru dengan nomor HA-5235 terlihat di lanud Husein Sastranegara, Bandung (photo: Arafina)

Ketiga, preferensi skema akuisisi. Uraian pada butir kesatu dan butir kedua berimplikasi pula pada perubahan preferensi skema pembelian rotorcraft bagi kepentingan pertahanan. Bila sebelumnya pengadaan pesawat sayap putar dilakukan lewat kerja sama antara BUMN industri dirgantara dan mitra asing BUMN itu, kini kecenderungan yang lebih disukai ialah akuisisi melalui peran makelar. Dengan kondisi seperti itu, beberapa produsen helikopter global diprediksi akan menemui kesukaran dalam mempertahankan posisi pasar dan atau melaksanakan penetrasi pasar di Indonesia.

Lalu seperti apa proyeksi pasar rotorcraft militer Indonesia dalam beberapa tahun ke depan? Seberapa besar peluang pemain lama mempertahankan posisi di pasar negeri ini? Seberapa besar pemain baru dapat memiliki pijakan di pasar Indonesia yang penuh tantangan? Apa dampak dinamika pasar yang terjadi saat ini terhadap industri manufaktur pesawat terbang Indonesia?

Pertama, proyeksi pasar. Sebagai dampak tidak ada transparansi dalam rencana belanja pertahanan yang dibiayai oleh PLN, sulit untuk menetapkan proyeksi pasar helikopter militer Indonesia selama OEF 2025-2029 berikut nilai pasar dalam denominasi dolar Amerika Serikat.

Ketertutupan rencana belanja pula memungkinkan terjadi perubahan anggaran maupun kuantitas pesawat sayap putar yang akan dibeli. Salah satu hal yang dapat diproyeksikan adalah kemungkinan akuisisi merupakan gabungan dari unit baru dan unit bekas, apalagi fakta menunjukkan keinginan pembeli agar rotorcraft dapat diserahkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Helikopter Mi-35M terlihat menggunakan camo TNI AD di area apron Pangkalan Udara Angkatan Darat Ahmad Yani, Semarang, sebelumnya TNI AD merupakan pengguna helikopter Mi-35P (photo: Keris Reborn)

Kedua, pergantian dominasi pabrikan. Airbus Helicopters nampaknya sulit mempertahankan posisi di pasar militer Indonesia mengingat kebijakan perusahaan itu terkait good governance and compliance, sementara Bell Textron berpeluang kembali mempertahankan pasar di negeri ini lewat Bell 412 jika bermitra dengan perusahaan lokal seperti PT Dirgantara Indonesia.

Di sisi lain, Indonesia semakin berani mengabaikan CAATSA sebagaimana ditandai dengan pembelian sejumlah helikopter bekas Mil Mi-17 buatan Rusia tahun ini lewat jasa makelar. Leonardo akan menjadi pemain baru berkat penjualan ke pemerintah Indonesia melalui peran makelar, sedangkan Sikorsky dan Boeing sukar mengikuti jejak pabrikan Inggris-Italia di Indonesia karena alasan good governance and compliance.

Ketiga, dampak bagi industri pesawat terbang domestik. Apakah program pengadaan pesawat putar pada OEF 2025-2029 akan memberikan porsi pekerjaan yang signifikan di bidang aerostructure bagi PT Dirgantara Indonesia? Terdapat keraguan terhadap hal tersebut, apalagi seumpama pengadaan unit baru dilakukan oleh makelar, begitu juga jika unit yang diimpor ialah rotorcraft bekas.

Di sisi lain, PT Dirgantara Indonesia nampaknya tidak berminat untuk memperdalam kemitraan dengan Airbus Helicopters, walaupun masih memproduksi sejumlah komponen H225M, karena sejumlah alasan yang berakar pada rasa percaya (trust). Mengacu pada proyeksi yang sudah diuraikan, nampaknya sulit menjadikan pasar helikopter militer Indonesia atraktif bagi semua produsen karena tidak ada level playing field.

Airbus Helicopters mungkin saja dapat mempertahankan posisi di pasar Indonesia bila ada dukungan politik dari pemerintah Prancis, khususnya bagi H225M yang berakar pada SA330 buatan Aerospatiale. Tanpa dukungan politik dari pemerintah Amerika Serikat, sulit mengharapkan Sikorsky dan Boeing mempunyai pijakan di pasar yang sama, baik untuk S-70M maupun CH-47F. (Alman Helvas Ali)

09 September 2026

Australian Army Procures Next Generation Australian-designed Military Bridging Capability

09 September 2026

Birdon next-generation Bridge Erection Boats (BEB) (photos: Birdon, US Army)

Port Macquarie, Australia – Birdon is supplying three next-generation Bridge Erection Boats (BEBs) to the Australian Army, marking the evolution of a capability whose origins lie in an Australian-designed program developed for Army more than two decades ago.

The delivery represents a significant milestone in the evolution of a capability that began with Birdon’s Bridge Erection Propulsion Boat (BEPB) program for the Australian Army in 2003 and has since been adopted by military forces in the United States, Brazil and Europe.

Birdon’s original BEPB program delivered 24 vessels to the Australian Army and established the foundation for a family of military bridging boats that would ultimately support major international defence programs. The success of the Australian program enabled Birdon to expand into global markets, including the United States, where the company has since manufactured over 540 bridge erection boats and associated systems for military customers and allied nations.

The three vessels being supplied to Army have been manufactured at Birdon’s BEB manufacturing facility and represent the latest evolution of a platform that has benefited from years of operational experience, engineering refinement and continuous product development across multiple military customers and operating environments.


Birdon Chief Executive Officer Jamie Bruce said the delivery demonstrates the enduring value that can be created when Australian industry is entrusted to develop and support sovereign defence capability.

“The origins of this capability lie in Australia, where Birdon developed and delivered a solution to meet the Australian Army’s operational bridging requirements.

Over time, that capability has evolved through successive international programs, creating export opportunities, supporting manufacturing growth and strengthening our engineering expertise across Australia and the United States.

It is particularly rewarding to see the latest generation of that capability returning to Australia to support Army’s future needs.”


The latest vessels incorporate enhancements arising from years of operational feedback and design evolution, reflecting lessons learned from supporting military bridging operations across a range of environments and user requirements.

Mr Bruce said the program demonstrates how investment in Australian-owned industry can deliver benefits extending far beyond a single acquisition project.

“The original Australian Army program delivered much more than a fleet of vessels.

It enabled the development of a specialist capability that has since been exported internationally, expanded Birdon’s global footprint and strengthened our ability to support defence customers across allied nations.


This is a strong example of how Australian defence programs can generate lasting industrial capability, export success and ongoing investment in Australian skills and expertise.”

The delivery also builds on Birdon’s longstanding relationship with the Australian Army. In addition to designing and constructing the original BEPB fleet, Birdon continues to provide in-service support to Army’s bridge erection vessel capability, including maintenance, capability upgrades, obsolescence management, and spares provisioning.

This combination of design, manufacturing and through-life support experience provides Birdon with a unique understanding of the operational and sustainment requirements associated with military bridging capability.

“Our team has supported this capability throughout its lifecycle, from initial design and construction through to ongoing sustainment support,” Mr Bruce said.



“That continuity allows us to apply decades of operational and engineering knowledge while ensuring the capability continues to evolve in line with customer requirements.

We are proud to continue supporting the Australian Army with a capability that reflects Australian innovation, sovereign expertise and the strength of our global defence business.”

The project further reinforces Birdon’s position as an Australian-owned defence contractor delivering vessel design, manufacturing, sustainment and specialist maritime solutions across Australia, the United States and allied defence markets.

08 September 2026

Super Garuda Shield: Joint Land Strike

08 September 2026

AH-64E Apache from TNI and US Army on Joint Land Strike during Super Garuda Shield 2026 (photos: Garuda Shield, Antara)

U.S. Army, Indonesian Air Force and Australian Terminal Attack Controllers conducted a multi-day, Joint Land Strike exercise during Super Garuda Shield 25 in Baturaja, Indonesia.

The Joint Land Strike underscores continued partnership and interoperability amongst the partner nation forces. (Garuda Shield)


TNI, US Army conduct night flight training
Jakarta (ANTARA) - Pilots from the Indonesian National Armed Forces (TNI) and the US Army conducted joint night flight training as part of the massive Super Garuda Shield 2026 exercises.

Operating side-by-side in Boeing AH-64 Apache combat helicopters, the TNI and US Army pilots executed complex tactical maneuvers and target engagements under cover of darkness at the Indonesian Army Training Center in Martapura, South Sumatra, on Wednesday (September 2).


According to a press statement released Friday by the TNI Headquarters Information Center, the nocturnal exercise targeted low-light combat proficiency and joint operational capability.

Military officials confirmed the flight drills were completed smoothly without incident, adhering strictly to international flight safety protocols.

The night flight training is aimed at honing individual pilot proficiencies while fostering technical cooperation and tactical knowledge exchange between the two armed forces.


The 2026 iteration of Super Garuda Shield involves 4,743 personnel from 21 participating and observing countries, aimed at testing operational readiness, strengthening defense diplomacy, and improving joint responses to regional security challenges.

Speaking earlier in Bandung, West Java, TNI Commander General Agus Subiyanto detailed the expanding international scope of the training program, which encompasses 12 specialized defense topics.


"Super Garuda Shield is held annually in Indonesia. This year, 21 countries participated... covering 12 topics,” Gen. Subiyanto stated.

The multi-week multinational exercise spans major strategic hubs across the archipelago, including training areas in Jakarta, Bandung, Lampung, North Kalimantan's Nunukan region, and the Baturaja combat center in South Sumatra.


Participating forces include troops and observers from Australia, Brazil, Brunei Darussalam, Cambodia, Canada, France, Germany, India, Italy, Japan, Laos, the Netherlands, New Zealand, Singapore, South Korea, Thailand, Timor-Leste, the United Kingdom, the United States, Vietnam, and host nation Indonesia.

Super Garuda Shield 2026 is scheduled to formally conclude in Jakarta on September 11.

07 September 2026

New Fighting Vehicles Tested at Sea

07 September 2026

AS21 Redback IFV, AS9 Huntsman SPH and AS10 armoured ammunition resupply vehicle were loaded on landing craft and HMAS Canberra (photos: Aus DoD)

Huntsman and Redback armoured vehicles took part in sea trials on and around Garden Island, Sydney Harbour, in July.

The next-generation AS21 Redback infantry fighting vehicle, AS9 Huntsman self-propelled howitzer and AS10 armoured ammunition resupply vehicle were loaded on and off HMAS Canberra and her landing craft.


Project Director for LAND 400 Phase 3 (infantry fighting vehicles), Col Marek Janiszewski, said the trials proved the deployability and interoperability of the new vehicles.

“These trials have demonstrated that the vehicles are able to undertake littoral operations,” Col Janiszewski said.


He said the testing showed the vehicles were optimised for littoral operations and were able to be projected into the region.

Introduction of the new vehicles is part of the largest recapitalisation of capability for the Army since World War II, with significant investment in littoral vessels, long-range fires and battlefield aviation.


Col Janiszewski said the Redback was one of the most lethal, modern and best-protected infantry fighting vehicles available, and a major uplift in capability for the combined arms land system.

“We are stepping forward in leaps and bounds with a new upgraded system to provide our soldiers the best ability to fight, succeed at their missions and come home safely to their families,” he said.


The first Australian-made Redbacks are expected to roll off the production line next year.

06 September 2026

Thailand Sukses Uji Coba Drone Kamikaze K-18M

06 September 2026

Drone Kamikaze K-18M (photos: RVConnex)

Kendaraan udara nirawak/unmanned aerial vehicle (UAV) K-18M, yang dirancang untuk misi loitering munition dan serangan sekali pakai (one-way attack atau OWA), pertama kali diperkenalkan oleh perusahaan Thailand, RV Connex, dan dipamerkan dalam acara Royal Thai Army Innovation Day 2026 pada tanggal 22 Juli 2026.


Sebuah video yang dirilis pada 4 Agustus 2026 memperlihatkan UAV serangan bunuh diri K-18M melakukan penerbangan perdananya—diluncurkan menggunakan katapel—serta uji coba serangan terhadap target berupa kendaraan di lokasi dan waktu yang tidak diungkapkan.


Wahana ini memiliki berat lepas landas maksimum 55 kg, rentang sayap 2 meter, durasi operasional 5 jam, jangkauan lebih dari 600 km, kecepatan maksimum 100 knot, kecepatan jelajah 80 knot, serta mampu membawa hulu ledak seberat 5 kg.


Selanjutnya, pada 7 Agustus 2026, RV Connex juga mengumumkan kerja sama dengan Sammitr Motors Manufacturing PCL asal Thailand untuk merancang dan memproduksi sistem peluncuran katapel bagi berbagai ukuran sistem pesawat nirawak (UAS). 

Drone Kamikaze K-18M (video: RVConnex)

Hal ini menandai kemajuan signifikan dalam industri pertahanan Thailand.

(AAG)

03 September 2026

263 Unit TEDUNG dan KALA akan Diserahkan kepada ATM

03 September 2026

Tedung HMV (photo: Agrale)

KUALA LUMPUR – Angkatan Bersenjata Malaysia (ATM) akan menerima 263 unit aset mobilitas tinggi baru, yang mencakup TEDUNG dan KALA, dengan nilai total RM164,91 juta untuk memperkuat kemampuan pergerakan taktis dan pengintaian di berbagai medan operasi.

Menteri Pertahanan, YB Dato’ Seri Mohamed Khaled bin Nordin, meluncurkan aset-aset tersebut setelah meresmikan Upacara Peluncuran Bulan Kebangsaan dan Pengibaran Jalur Gemilang 2026 tingkat Kementerian Pertahanan di Dataran Wisma Pertahanan, hari ini.

TEDUNG adalah platform Kendaraan Mobilitas Tinggi (High Mobility Vehicle) berbasis Agrale Marruá AM250 Double Cab yang dikembangkan untuk menawarkan ketahanan, fleksibilitas, dan kemampuan manuver di berbagai lingkungan operasi.

Sebanyak 163 unit TEDUNG akan dipasok, yang terdiri dari 80 unit Kendaraan Pembawa Senjata (KPS) AGL dan 83 unit KPS HMG, dengan total nilai kontrak sebesar RM92,91 juta.
TEDUNG ditenagai oleh mesin diesel Cummins F3.8 Intercooled Turbo yang menghasilkan tenaga maksimum 170 cv (125 kW) dan torsi 600 Nm, serta dilengkapi dengan sistem penggerak 4×4 *full-time*. Kendaraan ini juga memiliki jarak terendah ke tanah (*ground clearance*) sebesar 350 milimeter, sudut datang (*approach angle*) 58 derajat, dan kemampuan menanjak hingga 60 persen di jalan beraspal serta 40 persen di medan *off-road* (lintas alam).

Kala HMV (photo: Agrale)

Sementara itu, KALA adalah Kendaraan Pengintai Mobilitas Tinggi (*High Mobility Reconnaissance Vehicle* atau HMRV) yang dikembangkan untuk memberikan mobilitas taktis, kelincahan, dan kemampuan melintasi berbagai medan guna mendukung beragam kebutuhan operasi.

Sebanyak 100 unit KALA akan dipasok melalui kontrak senilai RM72 juta. KALA ditenagai oleh mesin Rotax 900cc ACE *Turbocharged* dengan tenaga hingga 200 HP serta dilengkapi dengan sistem penggerak 2WD/4WD, pengunci diferensial depan, dan suspensi khusus medan *off-road*. KALA juga memiliki jarak bebas ke tanah (*ground clearance*) sebesar 330 milimeter dan mampu melintasi genangan air sedalam 500 milimeter, mengatasi rintangan vertikal setinggi 300 milimeter, serta melintasi parit selebar 500 milimeter. Kendaraan ini memiliki kapasitas untuk mengangkut seorang pengemudi dan tiga orang awak lengkap.

Pengadaan kedua aset ini juga memungkinkan TEDUNG dikonfigurasi ke dalam berbagai varian sesuai kebutuhan misi, termasuk KPS, *Fitted for Radio* (FFR), Kendaraan Penarik Meriam (KPM), dan Kendaraan Komando.

Langkah ini mencerminkan upaya berkelanjutan ATM untuk memperkuat kemampuan dan kesiapan aset guna memenuhi kebutuhan operasional saat ini maupun di masa depan. 

(ATM)

02 September 2026

Peresmian Batalyon Armed 22/Kesumawira

02 September 2026

Rudal balistik taktis Khan/ITBM-600 berjangkauan 280 km melengkapi YonArmed 22 (photos: YonArmed 22, Polri)

Kutai Kartanegara, Pada tanggal 19/08/2026 Panglima Kodam VI/Mulawarman, Mayjen TNI Krido Pramono, S.H., M.Si., secara resmi meresmikan Batalyon Armed 22/Kesumawira yang bertempat di Desa Jembayan, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Kegiatan peresmian turut dihadiri oleh sejumlah pejabat TNI dan Polri serta unsur Forkopimda di antaranya Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Danpussenarmed, Danrem 091/ASN, Danrem 092/MRL, Bupati Kutai Kartanegara, unsur Muspida, serta para Mitra satuan.


Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Mayjen TNI Krido Pramono, S.H., M.Si., secara resmi melaksanakan penyerahan Tunggul Batalyon Armed 22/Kesumawira kepada Letkol Arm Novihardi, S.E., M.H.I., selaku Komandan Batalyon Armed 22/Kesumawira.

Penyerahan Tunggul tersebut menjadi simbol resmi berdirinya Batalyon Armed 22/Kesumawira sekaligus menjadi tonggak awal dalam pelaksanaan tugas dan pengabdian satuan di wilayah Kalimantan Timur.


Dengan diresmikannya Batalyon Armed 22/Kesumawira, diharapkan satuan ini mampu meningkatkan kesiapsiagaan dan profesionalisme prajurit serta memberikan kontribusi nyata dalam mendukung tugas pokok TNI Angkatan Darat.

Sebagai satuan baru, Batalyon Armed 22/Kesumawira akan terus membangun soliditas, meningkatkan kemampuan dan profesionalisme prajurit, serta memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, TNI-Polri, dan seluruh komponen masyarakat.


Momentum peresmian ini menjadi awal perjalanan pengabdian Batalyon Armed 22/Kesumawira dalam menjaga kehormatan satuan, melaksanakan setiap tugas dengan penuh tanggung jawab, serta memberikan pengabdian terbaik bagi bangsa dan negara.

Royal Thai Army Conducted Live-fire Test of Hard Kill UAV System

02 Agustus 2026

Live-fire Test of Hard Kill UAV System at Khao Phu Lon Artillery Range, Lopburi (photos: Royal Thai Army)

On August 27, 2026, Maj. Gen. Rawee Tangpitakkul, Director of the Army Research and Development Office (ARDO), and his team observed a live-fire test. The system being tested—an anti-UAV (Unmanned Aerial Vehicle) turret—was developed through a joint research project involving Assoc. Prof. Dr. Chana Raksiri and a research team from Kasetsart University, in collaboration with the Royal Thai Army, ArmySys Co., Ltd., and Thai Rung Co., Ltd. The test took place at the Khao Phu Lon Artillery Range, Artillery Center, Lopburi Province.


This live-fire test utilized a 12.7mm machine gun against an aerial target (a drone towing a balloon). The objective was to evaluate the performance of the turret's control and command software across two developed configurations:
1. Vehicle-mounted turret (Mobile type)
2. Ground-based turret (Stationary type)


Test results demonstrated that the turret could automatically track targets detected by EO/IR cameras and accurately destroy moving targets—as designed in the Automatic Tracking and Fire Control software. This developed platform serves as a crucial foundation, ready to be adapted for broader anti-drone and moving-target defense systems capable of handling various engagement ranges and mission profiles.

29 Agustus 2026

New Zealand Membeli Recoilless Rifle Carl Gustaf M4

29 Agustus 2026

Carl-Gustaf M4 Multi-Role Weapon System (photo: Reddit)

Kementerian Pertahanan (MoD) New Zealand telah memberikan kontrak kepada Saab untuk memasok 26 sistem senjata tanpa tolak balik Carl Gustaf M4 bagi Angkatan Darat New Zealand; hal ini disampaikan oleh juru bicara New Zealand Defence Force (NZDF) kepada Janes.

Sistem tersebut diperkirakan akan dikirimkan pada kuartal pertama tahun 2027, tambah juru bicara tersebut. Nilai kontrak, yang juga mencakup peralatan pendukung, tidak diungkapkan.

Juru bicara tersebut mengatakan bahwa setelah mulai digunakan oleh Angkatan Darat New Zealand, M4 akan menggantikan varian M3 yang telah beroperasi sejak awal tahun 2010-an. "Sistem M3 telah mencapai akhir masa pakainya yang telah dijadwalkan," tambah juru bicara itu.

Menurut juru bicara tersebut, M4 akan menggantikan M3 di seluruh unit Angkatan Darat New Zealand  yang saat ini dilengkapi dengan senjata tersebut, termasuk Batalion ke-1 dan Batalion ke-2/1 dari Resimen Infanteri Kerajaan New Zealand (Royal New Zealand Infantry Regiment), Resimen Lapangan ke-16 (16 Field Regiment), dan Sekolah Tempur (Combat School).

Pengadaan ini mendukung program modernisasi pertahanan New Zealand yang lebih luas di bawah Rencana Kapabilitas Pertahanan 2025 (2025 Defence Capability Plan), yang mengalokasikan dana sebesar NZD12 miliar (USD7,1 miliar) untuk investasi kapabilitas dari tahun 2025 hingga 2028. Belum ada pengumuman mengenai pesanan lanjutan untuk M4.

Kedua varian tersebut menggunakan amunisi kaliber 84 mm dan mampu menyerang kendaraan lapis baja, bangunan, serta personel. M4 memiliki berat 6,7 kg dan panjang kurang dari 1 meter, dibandingkan dengan M3 yang memiliki berat sekitar 10 kg dan panjang 1,13 meter.

28 Agustus 2026

Angkatan Darat Australia Mengerahkan AS9 Huntsman dalam Latihan untuk Pertama Kalinya

28 Agustus 2026

AS9 Hunstman SPH beroperasi bersama AS10 Armoured Ammunition Resupply Vehicle (AARV) (photos: Aus DoD)

Angkatan Darat Australia telah mengerahkan howitzer swa-gerak (SPH) beroda rantai AS9 Huntsman kaliber 155 mm/52—yang diproduksi di dalam negeri—dalam latihan lapangan untuk pertama kalinya; hal ini diumumkan oleh Departemen Pertahanan (DoD) Australia pada tanggal 20 Agustus.

Menurut DoD, AS9 tersebut berpartisipasi dalam Latihan 'Pozieres Run', sebuah kegiatan Divisi ke-1 (Australia) yang diselenggarakan di Area Latihan Lapangan Townsville, Queensland, mulai 30 Juli hingga 23 Agustus.


Personel dari Resimen ke-4 Artileri Kerajaan Australia (4 RAA) di bawah Brigade ke-3 menguji platform tersebut dalam serangkaian kegiatan latihan terintegrasi selama latihan berlangsung. Resimen ini bermarkas di Barak Lavarack, Townsville.

Letnan Kolonel Simon Frewin, komandan 4 RAA, menyatakan bahwa transisi dari artileri tarik (*towed artillery*) ke platform swa-gerak akan meningkatkan kemampuan resimen serta memberikan fleksibilitas operasional yang lebih besar bagi para komandan.

Menurut Letkol Frewin, AS9 menawarkan mobilitas dan daya tanggap yang lebih baik dibandingkan howitzer tarik M777 yang saat ini digunakan, sekaligus meningkatkan kemampuan dukungan tembakan brigade.


"Kendaraan ini dapat bergerak dari posisi perlindungan ke posisi tembak dalam hitungan detik, menembakkan peluru lebih cepat daripada M777, dan kembali dengan sangat cepat ke posisi perlindungan. Artinya, jika musuh mendeteksi keberadaan kami, mereka tidak akan sempat merespons sebelum AS9 berpindah ke posisi baru," ujar Letkol Frewin.

Sebelumnya pada bulan Agustus 2026, sebuah upacara resmi di Barak Lavarack, Townsville, menandai dimulainya masa tugas Baterai 106, 4 RAA, sebagai baterai tembakan bergerak terlindung pertama Angkatan Darat Australia. Baterai tersebut telah menerima enam unit SPH AS9 dan satu kendaraan lapis baja pengangkut amunisi AS10.

26 Agustus 2026

XCB01 Resmi Bergabung dengan Divisi ke-308 AD Vietnam

26 Agustus 2026

Sekretaris Jenderal PKV dan Presiden To Lam dan para delegasi mengunjungi kompi infanteri mekanis yang sedang berlatih melewati rintangan air di Divisi Infantri Mekanis Ke-308 AD Vietnam (photos: QDND)

Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam (PKV) dan Presiden Vietnam ke-13 yang menjabat saat ini To Lam melaksanakan kunjungan kerja ke Divisi Infanteri Mekanis ke-308 Korps Angkatan Darat Vietnam Ke-12.

Divisi ke-308 mengeluarkan persenjataannya untuk latihan tembak langsung. Fokus perhatian tidak lain adalah kendaraan tempur infanteri XCB01 yang berlatih berenang melewati rintangan air.


Informasi paling berharga kali ini bukanlah uji coba kendaraan, tetapi jumlahnya. Batch pertama sebanyak 18 kendaraan XCB01 telah resmi diserahkan kepada unit ini untuk kesiapan tempur. Itu berarti kendaraan tersebut telah melewati semua tahap pengujian penerimaan yang paling ketat dan menyelesaikan standar kualitas untuk dioperasikan secara aktual. 

Divisi ke-308 Korps Angkatan Darat ke-12 adalah kekuatan utama angkatan darat. Unit elit dengan sejarah panjang sejak 1949 yang bertempur sengit di Khe Xanh, dan medan perang Quang Tri pada tahun 1972.


Untuk melengkapi kekuatan yang begitu dahsyat, peralatannya harus benar-benar berkualitas tinggi. Seperti yang kita ketahui, jumlah kendaraan tempur infanteri beroda rantai kita saat ini cukup sedikit.

Kendaraan tempur BMP1 hanya sekitar 200 hingga 300 unit, BMP2 sedikit lebih dari satu batalion. Jika kita menerapkan jadwal pengerahan pasukan standar untuk membangun divisi infanteri mekanis, itu tentu tidak cukup. Proses desain dan produksi XCB01 adalah bagian untuk mengisi kesenjangan peralatan ini.


Dari segi asal, proyek ini dimulai pada tahun 2021, berawal dari kenyataan bahwa angkatan darat Vietnam jelas melihat situasi medan perang modern. 

Tank lapis baja berat Barat memang memberikan perlindungan yang baik, tetapi terlalu berat di medan yang lemah atau area perkotaan yang sempit, sehingga mudah menjadi sasaran empuk bagi UAV atau drone FPV bunuh diri. Oleh karena itu, tantangan bagi XCB01 adalah fleksibilitasnya.


Dibandingkan dengan M113 atau BMP1 dalam hal ukuran dan berat, XCB01 sama sekali tidak kalah. Meskipun tidak mengklaim sepenuhnya lebih unggul dalam setiap aspek dibandingkan kendaraan impor, kuncinya adalah kami 100% mandiri mulai dari desain hingga manufaktur, sehingga menurunkan biaya hingga hanya 50% dibandingkan dengan membelinya.

Oleh karena itu, memprioritaskan pengiriman pertama XCB01 untuk Divisi ke-308 Korps ke-12 bukan hanya keputusan peralatan sederhana, tetapi juga memiliki makna simbolis dan strategis yang sangat signifikan.

23 Agustus 2026

Truk Militer Belarus MAZ-5316 Siap Mendukung Operasi TNI AD dan Marinir

23 Agustus 2026

Truk MAZ-5316 tiba di Indonesia (photo: Denis Marsya)

TNI AD dan Korps Marinir dikabarkan akan mengoperasikan truk militer serbaguna MAZ-5316 4x4 buatan Belarus untuk memperkuat armada logistik dan angkut personel.

Proses unloading truk MAZ-5316 di pelabuhan (photo ssv: worldofwar)

Kendaraan tangguh asal Eropa Timur ini dikenal memiliki keandalan tinggi di berbagai medan ekstrem, mampu membawa perlengkapan, amunisi, menarik artileri, hingga dilengkapi perlindungan dari ancaman drone.

Truk MAZ-5316 dalam pengiriman (photo: Nusa Indah Travel)

Kehadiran truk taktis ini diharapkan semakin menunjang kesiapsiagaan operasional dan mobilitas pasukan dalam mengawal berbagai jalur strategis di tanah air.