Tampilkan postingan dengan label Heli Anti Kapal Selam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Heli Anti Kapal Selam. Tampilkan semua postingan

06 Juni 2026

US Government Approved FMS for 5 MH-60R Blackhawk and 20 MK 54 Torpedoes to New Zealand

06 Juni 2026

Sikorsky MH-60R Blackhawk helicopter (photo: Dvids)

MH-60R Multi-Mission Helicopters
The U.S. Department of State has made a determination approving a possible Foreign Military Sale to the Government of New Zealand for MH-60R Multi-Mission Helicopters and related equipment. The estimated total cost is $1.5 billion.

The Government of New Zealand has requested to buy five (5) MH-60R Multi-Mission Helicopters; seven (7) Link 16 Multifunctional Information Distribution Systems Joint Tactical Radio Systems (5 installed, 2 spares); fourteen (14) Embedded Global Positioning System/Precise Positioning Service/Inertial Navigation Systems with Selective Availability Anti-Spoofing Module (10 installed, 4 spares); five (5) Airborne Low Frequency Sonar systems; two hundred twenty-five (225) Advanced Precision Kill Weapon System (APKWS) missiles; two hundred twenty-five (225) WGU-59A/B APKWS II guidance sections (single variant); sixty-five (65) AGM-114R Hellfire missiles; four (4) M36E8 Hellfire Captive Air Training Missiles; five (5) digital magnetic anomaly detection systems; and five (5) M240D 7.62mm machine guns. The following non-major defense equipment items will also be included: T700-GE-401D engines; M514 impulse cartridge/cartridge actuated devices; MJ20 cartridge actuated thruster/cartridge actuated devices; WB53 fire extinguisher cartridge/cartridge actuated devices; CCU-136A/A impulse cartridges; GAU-21 crew-served guns (including pintle and laser pointer); M299 guided missile launchers; LAU-61 digital rocket launchers; AN/ARC-210 RT-2036 radios with communications security; AN/AAR-47 missile warning systems; AN/APX-123 identification friend or foe (IFF) transponders; AN/ALE-47 dispenser, electronic countermeasures; advanced data transfer systems; AN/AAS-44C(V) multi-spectral targeting systems; KIV-78 – Mode 4/5 IFF cryptographic applique; Joint Mission Planning Systems; AN/ARQ-59 Hawklink radio terminals; AN/SSQ-53 directional frequency analysis and recording sonobuoys; AN/SSQ-62 directional command activated sonobuoy system sonobuoys; AN/SSQ-36 bathythermograph sonobuoys; training simulators/operational machine interface assistants; aviation maintenance weapons loading trainer; tactical operational flight trainer; AN/ALQ-210 electronic support measures systems; APS-153(V) multi-mode radars; spare engine containers; spare and repair parts; support and test equipment; communications equipment; ferry support; publications and technical documentation; personnel training and training equipment; U.S. Government and contractor engineering, technical, and logistics support services; obsolescence engineering, integration, and test activities required to ensure readiness for the production of the New Zealand MH-60R helicopters; training equipment; studies and surveys; U.S. Government and contractor engineering, technical, and logistics support services; and other related elements of logistics and program support.

This proposed sale will support the foreign policy and national security of the United States by improving the security of a major ally that is a force for political stability and economic progress in the Asia-Pacific region.

The proposed sale will improve New Zealand’s capability to meet current and future warfare threats by providing greater security for its critical infrastructure. New Zealand will use the enhanced capability to strengthen its homeland defense. New Zealand will have no difficulty absorbing these articles and services into its armed forces. (US State Gov)

MK 54 Lightweight Torpedo (photo: Dvids)

MK 54 Torpedoes
The U.S. Department of State has made a determination approving a possible Foreign Military Sale to the Government of New Zealand for MK 54 Torpedoes and related equipment. The estimated cost is $69 million.

The Government of New Zealand has requested to buy twenty (20) MK 54 MOD 0 Lightweight Torpedoes all up round. The following non-MDE items will also be included: storage and issue facilities; recoverable exercise torpedoes; air launch accessories; classified and unclassified torpedo spare parts; torpedo containers; torpedo support equipment including test equipment and tools; torpedo support services; unclassified books and other publications; other technical assistance including technical support, technical program management, infrastructure support, test equipment sustainment, exercise firing assistance, contract management, and initial follow-on technical support; in-country torpedo training; and other related elements of logistics and program support.

This proposed sale will support the foreign policy and national security of the United States by improving the security of a major ally that is a force for political stability and economic progress in the Asia-Pacific region.

The proposed sale will improve New Zealand’s capability to meet current and future warfare threats and provide greater security for its critical infrastructure. New Zealand will use the enhanced capability to strengthen its homeland defense. New Zealand will have no difficulty absorbing these capabilities into its armed forces. (US State Gov)

12 Mei 2026

Kunjungi Italia TNI AL Mengkaji Pesawat A-Viator, Heli AW149 dan Heli ASW NH90 NFH

12 Mei 2026

TNI AL lakukan kajian pada pesawat A-Viator untuk pengawasan udara, heli angkut AW149 dan heli anti kapal selam NH90 NFH (photos: TNI AL)

TNI AL Perdalam Kajian Teknologi Penerbangan Strategis dalam Kunjungan ke Italia
Jalesveva Jayamahe --- Sebagai bagian dari upaya memperdalam kajian teknologi penerbangan strategis guna mendukung penguatan kedaulatan maritim Indonesia, delegasi TNI AL yang dipimpin langsung oleh Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal) Laksamana Madya TNI Edwin, S.H., M.Han., M.H. melaksanakan kunjungan kerja strategis delegasi TNI AL ke pusat industri penerbangan Italia pada 5 hingga 11 Mei 2026.


Dalam kunjungan tersebut, delegasi TNI AL meninjau fasilitas produksi Vulcanair S.A. di Casoria, Naples, Italia, dengan fokus pada pesawat A-Viator (AP68TP-600), pesawat twin turboprop berkonfigurasi high-wing yang dirancang untuk mendukung efisiensi operasional tinggi. 


Pesawat tersebut memiliki kapasitas 11 personel yang terdiri dari dua pilot dan sembilan penumpang serta dilengkapi retractable landing gear guna meningkatkan performa kecepatan. Bagi TNI AL, platform ini dinilai memiliki fleksibilitas tinggi untuk mendukung berbagai misi khusus seperti pengawasan udara, pemetaan fotogrametri, hingga pengoperasian kamera FLIR untuk kebutuhan pengintaian dan deteksi jarak jauh.

A-Viator (AP68TP-600) (photo: Zap16)

Rangkaian kegiatan selanjutnya dilaksanakan di Leonardo Helicopters dengan menerima paparan mendalam terkait dua platform helikopter modern, yaitu AW149 dan NH90 NFH (NATO Frigate Helicopter). 

Leonardo AW149 (photo: dgualdo)

AW149 merupakan helikopter militer medium multi-peran dengan bobot maksimal 8,6 ton dan mampu mengangkut hingga 16 personel bersenjata lengkap. Helikopter ini memiliki kemampuan operasional segala cuaca serta konfigurasi fleksibel untuk mendukung misi SAR, evakuasi medis, hingga close air support. 

Heli ASW NH90 NFH (photo: Mediacentrum Defensie)

Sementara itu, NH90 NFH dirancang khusus untuk operasi maritim dengan kemampuan anti kapal selam (ASW) melalui sistem dipping sonar SONICS Flash Mk1 dan pemrosesan sonobuoy. Helikopter tersebut juga mampu membawa torpedo MU90 dan rudal anti-kapal Marte ER sebagai bagian dari penguatan sistem pertahanan laut modern.

04 Februari 2026

PT DI Tanda-tangani 2 Kesepakatan untuk Spesial Mission Aircraft

04 Februari 2026

Penanda-tanganan MoU PT DI dengan RSG Aerodesign untuk special mission pada pesawat CN-235, N-219, dan Bell 412 EPX (photo: PT DI)

PTDI Perluas Kolaborasi Special Mission Aircraft Melalui MoU Dengan RSG Aerodesign
Singapura  - PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan RSG Aerodesign, Perusahaan asal Amerika Serikat, sebagai upaya perluasan kolaborasi dalam penyediaan pesawat terbang dan helikopter special mission. MoU tersebut ditandatangani oleh Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI, Moh Arif Faisal dan Director of Business Development, Tom King, disaksikan oleh Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan, serta Dewan Komisaris PTDI, Bonar Halomoan Hutagaol dan Yusron Ihza, pada gelaran Singapore Airshow 2026 hari pertama di booth PTDI A-L31. 

RSG Aerodesign merupakan mitra strategis PTDI yang telah memiliki rekam jejak kerja sama panjang, khususnya dalam pengembangan dan integrasi sistem misi helikopter untuk kebutuhan pertahanan. Melalui MoU ini, kedua Perusahaan sepakat untuk menjajaki dan mengembangkan peluang penyediaan pesawat terbang dan helikopter special mission bagi Angkatan Bersenjata dan instansi Pemerintah di Indonesia, serta sejumlah potensi pasar di kawasan ASEAN, yang dilengkapi dengan sistem misi terintegrasi, special mission kits, serta layanan teknis dan instalasi untuk berbagai peran khusus, termasuk namun tidak terbatas pada Search and Rescue (SAR), Medical Evacuation (MEDEVAC), VVIP, Anti-Submarine Warfare (ASW), Anti-Surface Warfare (ASUW), Intelligence, Surveillance and Reconnaissance (ISR), dan sebagainya. 

Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI, Moh Arif Faisal, menyampaikan bahwa kerja sama ini mencerminkan komitmen PTDI dalam memperkuat kapabilitas pengembangan dan modifikasi pesawat dan helikopter special mission, sekaligus meningkatkan daya saing produk dan membuka peluang akses ke potensi pasar baru. (PT DI)

Penanda-tanganan MoU PT DI dengan Scytays untuk pengembangan special mission pada pesawat CN-235 dan N-219 (photo: PT DI)

PTDI Perkuat Kapabilitas Special Mission N219 dan CN235 Dengan Scytalys
Singapura (03/02) — PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Scytalys-Perusahaan asal Yunani, sebagai langkah strategis dalam memperkuat penetrasi pasar bersama dan integrasi mission system pada pesawat N219 dan CN235. MoU ini ditandatangani oleh Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI, Moh Arif Faisal dan Director Scytalys, Dimitris Karantzavelos, disaksikan oleh Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan, serta Dewan Komisaris PTDI, Bonar Halomoan Hutagaol dan Yusron Ihza, pada gelaran Singapore Airshow 2026 hari pertama di booth PTDI A-L31. 

Kesepakatan ini merupakan perluasan kemitraan strategis PTDI dan Scytalys dalam pengembangan solusi pesawat special mission, termasuk integrasi Mission Integration and Management System (MIMS) dan sistem Command and Control (C2) pada pesawat produksi PTDI untuk mendukung misi pengawasan dan patroli maritim, dengan target pasar Asia Pasifik.

“Kolaborasi ini akan memperkuat kapabilitas operasional pesawat N219 dan CN235, yang tentunya juga akan membuka peluang pasar baru bagi pesawat unggulan PTDI melalui solusi special mission yang kompetitif dan sesuai kebutuhan operasional pengguna,” kata Moh Arif Faisal. (PT DI)

11 September 2025

First Aerial Spike NLOS Missile Launch Marks PH Navy Drill Off Zambales

11 September 2025

Launch of a Spike Non-Line of Sight (NLOS) missile (all photos/ssv: The Philippine Fleet)

MANILA – The Philippine Navy (PN) on Tuesday held a live-fire unilateral missile exercise west of San Antonio, Zambales, highlighted by the first-ever aerial launch of a Spike Non-Line of Sight (NLOS) missile.

In a statement on Wednesday, the PN said its AW159 "Wildcat" anti-submarine helicopter "successfully conducted the first-ever aerial launch of a Spike NLOS and destroyed its designated target" during the activity.


It said the successful launch proved that "missiles can be launched from both air and surface assets, streamlining flexibility and logistics."

The missile boat BRP Tomas Campo (PG-908) also took part in the exercise, carrying out another coordinated Spike NLOS missile launch against a separate target, the PN added.


Spike NLOS, a precision-guided, multi-purpose missile system developed by Israel's Rafael Advanced Defense Systems, is designed to engage targets beyond visual range with pinpoint accuracy using advanced electro-optical and real-time video guidance.

It also empowers operators with full control from launch to impact.


The PN said Spike NLOS missile system's integration into its arsenal "significantly enhances standoff strike capabilities, boosting maritime defense, strategic deterrence, and operational effectiveness."

The successful live-fire unilateral missile exercise forms part of the Armed Forces of the Philippines' broader Comprehensive Archipelagic Defense Concept (CADC), which emphasizes distributed lethality, domain awareness, and joint force integration across the country’s vast maritime domain.


The drill was witnessed by PN acting flag officer in command, Rear Admiral Alan Javier, Philippine Fleet (PF) commander Rear Adm. Joe Anthony Orbe, and other ranking naval officers in a monitoring room at the Naval Base Heracleo Alano in Cavite City.

Other PN capital assets, including BRP Miguel Malvar (FFG-06), ScanEagle UAV, fast attack interdiction craft missile-capable BRP Albert Majini (PG-909) and BRP Laurence Narag (PG-907), and multi-purpose attack craft BA-492 and BA-488 provided critical support to the exercise, the PN said.


Units from the Philippine Marine Corps’ Coast Defense Regiment and from the Philippine Coast Guard’s BRP Suluan (MRRV-4406) also supported the exercise. 

(PNA)

31 Agustus 2025

Naval Air Brigade 954: Determined to Successfully Complete the Mission of Flying to Serve the Parade at Sea

31 Agustus 2025

Technical checks are carried out meticulously, ensuring absolute safety for each flight (photo: QDND)

In August, at the airport of Naval Air Brigade 954 (Navy), the training atmosphere for the mission of flying a parade to serve the 80th anniversary of the successful August Revolution and the National Day of the Socialist Republic of Vietnam (mission A80) took place urgently and excitingly.

The DHC-6 seaplane formation maintained distance and formation during the flight (photo: QDND)

Since early morning, technical teams have been meticulously checking and maintaining every detail of the equipment. On the runway, Ka-28, DHC-6, EC-225 aircrafts took off one after another, forming a formation in the sky.

Talking to us, Colonel Vuong Dang Nam, Brigade Commander of the 954th Naval Air Brigade, said: The unit has deployed flight training with the motto "urgent, serious, safe". Preparations were carried out synchronously, from human resources, vehicles, equipment to ensuring facilities. Ground technical teams played a good role in checking, maintaining, and maintaining high technical coefficients for each flight. Training discipline was maintained seriously, strictly following flight regulations, specialized regulations, training curriculum and safety regulations.

Ka-28 anti-submarine helicopters in formation during training flight (photo: QDND)

Not only the flight squadrons, but also the ground technical support force also deployed their tasks very early. Every training day, from 3am, the technical staff thoroughly checked the equipment, electrical systems, refueled and prepared the aircraft for takeoff. The synchronous coordination between the pilots and the technical, information, navigation, flight safety departments... is a key factor contributing to creating high-quality training hours.

An EC-225 helicopter taking off in the evening (photo: QDND)

Participating in the flight with the sea parade formation not only contributed to the success of the big festival but also affirmed the position, strength and outstanding maturity of Naval Air Brigade 954 in the formation of the Navy and the Vietnam People's Army. 

22 Agustus 2025

Seahawk Helicopters and Airbus A321XLR Planes Chosen to Replace NZDF Aircraft

22 Agustus 2025

MH-60R Seahawk anti submarine helicopter (photo: NZDF)

Defence helicopter, plane decisions announced

Seahawk helicopters and Airbus planes are set to replace aging New Zealand Defence Force aircraft in the first major investment decisions to be made as part of the Government’s Defence Capability Plan (DCP).

Defence Minister Judith Collins and Foreign Affairs Minister Winston Peters today announced investment decisions of $2.7 billion, with the MH-60R Seahawk the preferred option to replace the existing maritime helicopters. The Airbus A321XLR (extra long range) aircraft will replace the aging 757 fleet.

“This decision will ensure New Zealand has a critical combat capable, interoperable and dependable fleet,” Ms Collins says.

“The MH-60R Seahawk is a great aircraft for what New Zealand needs and fulfils our objective of having a more integrated Anzac force, and the new planes will give us reliable aircraft to deploy personnel and respond to international events.”

Mr Peters says these decisions show how the Government is responding to the sharply deteriorating security environment.

“Global tensions are increasing rapidly, and we must invest in our national security to ensure our economic prosperity.

“The DCP provides the foundation for our uplift in defence spending, and two-yearly reviews of the plan will allow us to adapt to an ever-changing security environment.”
 
Airbus A321XLR extra long range aircraft (photo: NZDF)

The $2 billion plus investment in maritime helicopters and $700 million investment in the new Airbus A321XLRs are both part of the $12 billion in planned commitments outlined in the 2025 DCP announced in April. 

Ms Collins says the maritime helicopters are versatile and add combat and deterrent capability to our naval fleet.

“These five Seahawks will increase the offensive and defensive capability and surveillance range of New Zealand’s frigates and ensure we are interoperable with our ally Australia and other partner defence forces,” she says.

“We will now move at pace to procure helicopters directly through the United States’ Foreign Military Sales programme instead of going to a wider tender, with Cabinet expected to consider the final business case next year. 

“The two new Airbus A321XLR aircraft will be acquired on a six-year lease to buy arrangement, with capital costs of $620 million and four-year operating costs of $80.86 million.  

“New Zealand needs reliable aircraft to deploy our personnel, deliver military equipment and humanitarian aid, support the evacuation of civilians, and transport government trade and diplomatic delegations quickly, over long distances, and often at short notice.

“The decision to acquire the extra long range aircraft reflects the importance of having an aircraft capable of such things as returning safely from Antarctica if it is unable to land due to conditions on the ice.

“Our Defence Force personnel have proven time and time again they do an outstanding job and we must ensure they have the tools that are up to the task.”

12 Juli 2025

Filipina Akan Menambah Enam Heli Anti Kapal Selam Baru

12 Juli 2025

Heli anti kapal selam Leonardo AW-159 Wildcat Angkatan Laut Filipina (photo: MaxDefense)

Dalam Procurement Monitoring Report terbarunya per Semester I 2025, Departemen Pertahanan Nasional (Department of National Defense/DND) telah mengonfirmasi bahwa metode pengadaan Proyek Akuisisi Helikopter Perang Anti-Kapal Selam (Fase 2) Angkatan Laut Filipina akan dilakukan melalui Negosiasi 53.8.1 ("Inventory-Based Item") per 5 Juni 2025, dan Kerangka Acuan (TOR) proyek tersebut telah disetujui pada 24 Juni 2025.

Ini berarti akuisisi helikopter anti-kapal selam tambahan sebanyak 6 unit dengan anggaran sebesar Php42.290.538.180,00 kemungkinan besar akan diberikan kepada perusahaan pertahanan raksasa Italia, Leonardo, untuk helikopter angkatan laut AgustaWestland AW159 Wildcat.

Istilah "Inventory-Based Item" atau Barang Berbasis Inventaris berarti DND akan melakukan pengadaan berdasarkan inventaris yang sudah dimiliki Angkatan Laut Filipina, bukan membuka tender umum yang berpotensi mendorong Angkatan Laut Filipina untuk mengakuisisi model helikopter lain dan tergantung pada pemenang tender.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa proyek ini akan dibiayai oleh Multi-Year Contractual Authority (MYCA alias dibayar secara mencicil setiap tahun menggunakan alokasi dana GAA tahunan) atau melalui Pembiayaan Pinjaman yang akan mempercepat DND untuk memulai proyek.

Ini berarti kemungkinan besar bahwa Akuisisi Helikopter Anti-Serangan (ASW) Tahap 2 akan menyalip Fregat (Full Complement) yang juga direncanakan akan ditanda-tangani kontraknya  tahun ini.


28 Juni 2025

Sikorsky and CAE Bring Digital MAD Capability to MH-60R Maritime Helicopters

28 Juni 2025

MAD-XR - Magnetic Anomaly Detector-Extended Role (photo: CAE)

Sikorsky, a Lockheed Martin company (NYSE: LMT) and CAE (NYSE: CAE; TSX: CAE), a global leader in training and simulation, are collaborating to deliver the CAE Magnetic Anomaly Detection-Extended Role (MAD-XR) system for installation aboard U.S. Navy and Royal Australian Navy MH-60R SEAHAWK helicopters. Designed and built by CAE, and integrated with the aircraft’s primary mission computer by Sikorsky, the passive digital MAD sensor will give the world’s most capable maritime helicopter a powerful new tool to detect and track submarines below the sea surface.

“MH-60R operators now have the option to significantly upgrade their anti-submarine warfare capability using a small, removeable device that senses changes in the Earth’s magnetic field caused by large metallic objects in the water,” said Tish Rourke, Sikorsky Maritime Systems vice president. “With recent upgrades to mission computer software, this non-acoustic digital MAD sensor can easily be installed into any operational MH-60R aircraft, and can operate independently or collaboratively with other mission systems, such as the aircraft’s sonobuoys or long-range active dipping sonar.”

Compact and efficient, CAE’s MAD-XR consists of highly sensitive magnetometers and a processor/interface unit weighing less than 20 pounds (9 kg) including cabling and mounting hardware. An audio alert informs the crew of a detected object, while the display provides contact and range details. The device can be installed inside an MH-60R aircraft tail cone without any permanent airframe modification, and can be quickly removed and installed on another MH-60R aircraft as operationally needed.

“CAE’s MAD-XR offers a cutting-edge solution to detect and track submarines and other underwater threats, significantly enhancing military aircraft capabilities – it is the trusted choice for defence and security applications worldwide,” said France Hébert, Division President, Defense & Security Canada and Global Operations Lead. “As a key partner to OEMs and global military forces, CAE provides unmatched expertise in designing and manufacturing digital magnetic anomaly detection systems. We are proud to support their integration on the MH-60R maritime helicopter, ensuring superior performance in diverse operational environments.”

Sikorsky, CAE, the U.S. Navy, and Royal Australian Navy teamed to integrate, test, and optimize the CAE MAD-XR capability. Two events occurred to bring the digital MAD capability to the MH-60R fleet.

In early 2024, the U.S. Navy released new software and hardware to MH-60R operators that will allow MH-60R aircraft to accept the digital MAD system. The capability was included in advanced technology upgrades the U.S. Navy releases to MH-60R operators every other year to ensure mission effectiveness and operational readiness.

In September 2024, Sikorsky was awarded a $21 million U.S. Navy contract — with CAE subsequently subcontracted — to deliver 20 DMAD kits for the Royal Australian Navy; six for the U.S. Navy; and two for evaluation by the U.S. Navy Reserve. Deliveries are to be completed in May 2026. The contract includes options for additional U.S. Navy orders of 24 kits each in 2025 and 2026.

Cliff Kyle, General Manager Sikorsky Australia welcomed the significant capability announcement and commended the Royal Australian Navy in being the first MH-60R operator to install the digital MAD capability on its fleet of MH-60R aircraft.

“Through our partnership with the Royal Australian Navy, Sikorsky Australia’s workforce look forward to playing their role in fielding and sustaining this important and cutting-edge capability, which further strengthens Australia’s MH-60R Seahawks’ fleet lethality.”

The CAE MAD-XR sensor offers significant improvements over the AN/ASQ-81 Magnetic Anomaly Detection (MAD) sensor installed on former U.S. Navy SH-60B helicopters. Externally mounted and attached to the aircraft via a cable and reeling machine, the previous MAD sensor weighed 90-lb.,and trailed in the air a short distance behind the aircraft.

(CAE)

18 Juni 2025

Helikopter Bell-412 TNI AL Akan Dimodifikasi, Tambah Sonar untuk Deteksi Kapal Selam

18 Juni 2025

Helikopter Bell 412 TNI AL (photo: Haozhe Peng)

Jakarta, IDM – Helikopter milik TNI AL, yakni Bell-412 akan dilakukan modifikasi untuk menambah kemampuan mendeteksi kapal selam.

Hal itu diungkapkan dalam kunjungan Komandan Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Danpuspenerbal) Laksamana Muda Bayu Alisyahbana di pameran alutsista Indo Defence 2024, beberapa waktu lalu.

Helikopter Bell 412 EPI ASuW AL Maroko (photo: FAR Morocco)

Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Puspenerbal Kolonel Laut (KH) Rohman Arif, mengatakan rencananya helikopter Bell-412 akan dimodifikasi dengan dilengkapi dipping sonar.

Adapun dipping sonar merupakan jenis sonar portabel yang diturunkan ke laut dari helikopter dan kemudian diangkat setelah melakukan pemindaian. Sistem ini menyediakan sensor deteksi ringan dan mudah dipindahkan untuk menemukan dan melacak kapal selam.

Helikopter Bell 412 EPI ASuW AL Maroko beserta tambahan Anti Submarine Warfare (ASuW) mission sytem (photo: Komarmies)

“(Dalam kunjungan di Indo Defence) Danpuspenerbal diskusi terkait modifikasi helikopter Bell-412 yang akan dilengkapi dipping sonar Helras dalam program kerja sama dengan PT DI,” kata Rohman dalam keterangannya, dikutip Senin (16/6).

Selain itu, selama kunjungan di Indo Defence, Danpuspenerbal juga meninjau langsung sistem persenjataan helikopter untuk TNI AL di stand PT Mandira Jaya Abadi. Namun, ia tak menjelaskan lebih rinci mengenai persenjataan yang direncanakan terpasang di Bell-412.

L3 Harris Long-Range Active Sonar (HELRAS) pada Bell 412 EPI ASuW AL Maroko (photo: Komarmies)

Sebelumnya, PT DI dan Bell Textron menandatangani nota kesepahaman (MoU) di Indo Defence, Rabu (11/6) untuk pengembangan helikopter misi khusus dalam mendukung berbagai jenis operasi yang tidak terbatas pada evakuasi medis, pencarian dan penyelamatan (SAR) hingga pengintaian bersenjata.

Direktur Pelaksana Bell Textron untuk Asia-Pasific David F. Sale, mengungkapkan dalam pengembangan helikopter tersebut PT DI akan bertindak sebagai integrator perlengkapan misi.

Panel pilot Bell 412 EPI ASuW AL Maroko (photo: Komarmies)

“MoU yang baru kita lakukan adalah terkait helikopter misi khusus. Bell memiliki kapabilitas untuk mempersenjatai helikopter kami agar menjadi platform dengan kemampuan tertentu,” ungkap Sale kepada Indonesia Defense Magazine, Kamis (12/6).

“Kami dapat membuatnya menjadi helikopter layanan medis darurat hingga helikopter serang ringan. Semuanya berdasarkan keinginan pengguna akhir, baik itu angkatan darat, angkatan laut dan angkatan udara. Kami bekerja sama dengan PTDI dan bagian integrasi untuk mengembangkan solusi bagi pengguna,” imbuhnya.

Panel mission officer Bell 412 EPI ASuW AL Maroko (photo: Komarmies)

Selain itu, PT DI dan Bell Textron akan bekerja sama dalam kualifikasi sistem, khususnya pada pengembangan sistem persenjataan yang terintegrasi dan disertifikasi oleh Indonesia Military Airworthiness Authority (IMAA) agar dapat memenuhi standar keamanan dan kualitas untuk operasional TNI.

“Kami akan bekerja sama dengan PTDI, dengan teknisi mereka dan teknisi kami, sehingga mereka akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik. Atau mereka akan mendapatkan teknologi tambahan yang mampu membantu mereka mensertifikasi pesawat tersebut,” kata Sale. 

(IDM)

07 Juni 2025

Penerbang Helikopter Anti Kapal Selam TNI AL Tingkatkan Kemampuan Terbang Malam dengan NVG

07 Juni 2025

Pilot heli AS565 Panther berlatih dengan helm NVG (all photos: Puspenerbal)

TNl AL-Puspenerbal -- Skuadron Udara 100 Wing Udara 2 Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal) terus mengasah kemampuan operasionalnya. Terbukti dengan dilaksanakannya latihan terbang malam bagi para penerbang helikopter anti kapal selam.

Latihan ini, yang seluruh awaknya menggunakan Night Vision Goggles (NVG), berlangsung pada Rabu malam (4/6) di Apron Shelter Helikopter Skuadron Udara 100 Wing Udara 2 Puspenerbal Juanda, Sidoarjo.

Latihan strategis ini dipimpin langsung oleh Komandan Skuadron Udara 100 Wing Udara 2 Puspenerbal, Mayor Laut (P) Kuswoyo, bersama sejumlah penerbang andal lainnya dari skuadron tersebut.

Danron Udara 100 mengatakan, tujuan utamanya adalah untuk melatih penerbang terbiasa dalam melaksanakan misi di malam hari dengan melakukan pemantauan visual menggunakan NVG di area Lapangan Terbang Grati. Dengan NVG, penglihatan awak pesawat menjadi jauh lebih optimal meskipun dengan kondisi minim cahaya.

"Penggunaan NVG ini krusial untuk meningkatkan kesiapan operasional kami, terutama dalam misi-misi anti kapal selam yang seringkali menuntut kemampuan terbang di kondisi minim cahaya," ujar Mayor Laut (P) Kuswoyo.

Latihan intensif seperti ini lanjutnya, dilakukan untuk memastikan bahwa setiap penerbang tidak hanya mahir mengoperasikan helikopter di siang hari saja, tetapi juga cakap dan percaya diri dalam menjalankan tugas di malam hari, guna menjaga keamanan dan efektivitas setiap operasi.

Sementara itu Komandan Wing Udara 2 Puspenerbal, Kolonel Laut (P) Adam Firmansyah, menjelaskan bahwa latihan terbang malam ini merupakan bagian integral dari program Peningkatan Profesi Penerbang (P3).

Ini adalah kelanjutan dari latihan terbang navigasi yang telah sukses dilaksanakan sebelumnya. Tujuannya jelas, agar kemampuan yang diasah ini dapat secara langsung dan efektif diterapkan dalam berbagai operasi penugasan di masa mendatang," tegas Kolonel Adam.

Latihan ini tegasnya, menjadi bukti nyata komitmen TNI AL dalam menjaga profesionalisme dan kesiapsiagaan para penerbangnya.

(Puspenerbal)

07 Mei 2025

NZDF to Replace Seasprites Helicopters with New Naval Helicopter

07 Mei 2025

Kaman SH-2G(I) Seasprite naval helicopters (photo: NZDF)

New helicopters a commitment to global security

The Defence Force’s ageing maritime helicopters will be replaced to increase the defensive and offensive capability and surveillance range of New Zealand’s frigates, Defence Minister Judith Collins announced today.

“The replacement of the Seasprite helicopters will also extend the Navy’s ability to support non-combat tasks such as humanitarian assistance and disaster relief,” Ms Collins says.

“Together with a $957 million investment in Defence Force activities, personnel and estate, the $2 billion plus budgeted to replace the helicopters represents the first tranche of the Government’s $12 billion of planned commitments to upgrade the Defence Force over the next four years. I will have more to say about investments in the coming year at the Budget.

“There is no economic security without national security. Global tensions are increasing rapidly, and Defence personnel need the right equipment and conditions to do their jobs.

“As a maritime nation we are prioritising naval capability. The new helicopters will be able to go further and carry larger loads, including weapons, personnel and equipment – all of which is critical for Defence to protect New Zealand and New Zealanders.

“A business case for these helicopters will be considered by Cabinet this year but today we are confirming the money to pay for them has been put aside.

Kaman SH-2G(I) Seasprite naval helicopters (photo: Wal Nelowkin)

“The $957m investment in Defence equates to $239m a year over four years.

“Our personnel are being called upon to go more places, more often and for longer to play New Zealand’s part in contributing to global security. This funding will enable them to do that.

“Activities that will be funded include:

-$150m for the Defence Force to sail, fly, patrol and train more often;

-$39m for personnel allowances for such things as deployments;

-$20m for international deployments;

-$3m to increase essential engagement with international partners;

-$26m for critical estate maintenance to improve accommodation, and working and training conditions for personnel.

“It is very clear that New Zealand is not immune from the increasing tensions being felt throughout the world,” Ms Collins says.

“Today’s announcement sets us on our path for defence spending to reach 2 percent of GDP by 2032/33.

“This is just the beginning as we work with our coalition partners New Zealand First and ACT to give our Defence Force the tools to enable New Zealand to increasingly step up both domestically and internationally

“We will pull our weight.”

(NZDF)

06 Mei 2025

TLDM Terus Diperkasa pada RMK 13

06 Mei 2025

Rancangan Malaysia Ke-13 (RMK-13) mempunyai tempoh tahun 2026-2030 merupakan lanjutan RMK-12 periode 2021-2025 (photo ssv: DagangNews)

TLDM tonggak kedaulatan perairan negara terus diperkasa

KUALA LUMPUR: Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) terus memperkukuh peranannya sebagai benteng utama pertahanan maritim negara melalui pelaksanaan pelbagai inisiatif strategik yang mencerminkan komitmen tinggi terhadap keselamatan perairan dan kedaulatan negara.

Panglima Tentera Laut Laksamana Datuk Zulhelmy Ithnain berkata kejayaan pelaksanaan projek perolehan aset baharu membuktikan TLDM berada di landasan tepat dalam mempertingkat kesiapsiagaan serta keupayaan tempur pasukan itu.

LCS, LMS Batch 2 dan FIC
Antara projek strategik yang kini berjalan lancar mengikut jadual ialah pembinaan kapal Littoral Mission Ship Batch 2 (LMSB2), Kapal Tempur Pesisir (LCS) dan perolehan Fast Interceptor Craft (FIC).

“Peletakan lunas LMSB2 telah disempurnakan pada 8 April lepas di Istanbul Shipyard, Turkiye menandakan fasa penting pembinaan kapal yang dijangka siap pertengahan 2026 sebelum diserahkan kepada TLDM pada penghujung 2027,” katanya kepada BERNAMA sempena sambutan Hari TLDM ke-91 bertemakan ‘TLDM Perkasa, Kedaulatan Terpelihara’ hari ini.

Zulhelmy turut memaklumkan LCS 1 dijangka diserah kepada TLDM pada Ogos 2026 manakala pelancaran pembinaan LCS 2 dan LCS 3 masing-masing akan dilaksanakan pada Jun 2025 dan Januari 2026.

“Daripada 19 unit FIC yang diluluskan pada 2020 bagi menyokong Operasi Benteng, 14 telah diterima dan selebihnya dijangka tiba menjelang hujung tahun ini,” katanya.

Beliau berkata kemajuan projek strategik seperti LMSB2 dan LCS yang berjalan mengikut perancangan itu membuktikan iltizam TLDM serta kerajaan dalam menjamin kesiagaan dan kelestarian pertahanan maritim negara.

Heli ASW Super Lynx TLDM perlu diganti (photo: Wiki)

MRSS, LMS Batch 3 dan Heli ASW
Zulhelmy berkata di bawah Rancangan Malaysia Ke-13, TLDM juga merancang perolehan dua kapal Multi Role Support Ship (MRSS), tiga kapal LMS Batch 3 dan empat helikopter Anti-Submarine Warfare (ASW), yang kesemuanya dijangka beroperasi sebelum 2035.

“Aset ini bukan sahaja dapat memperkukuh elemen cegah rintang tetapi turut menyumbang kepada keupayaan tempur TLDM. Ia akan dibangunkan melalui kerjasama limbungan tempatan dan antarabangsa bagi memperkasakan industri pertahanan negara ke arah keberdayaan kendiri, seterusnya mengurangkan kebergantungan kepada pengeluar peralatan asal luar negara,” katanya.

Mawilla 4
Selain itu, dalam memastikan kelangsungan operasi, beliau berkata TLDM turut memberi tumpuan kepada pembangunan infrastruktur penting seperti pembinaan Markas Wilayah Laut 4 (MAWILLA 4) di Sarawak bagi melindungi kepentingan strategik negara di perairan Borneo.

Zulhelmy berkata selain keutamaan kepada aspek pertahanan, kebajikan warga TLDM turut diberi perhatian serius melalui pelaksanaan projek pembinaan Rumah Keluarga Angkatan Tentera (RKAT) baharu.

“Antara projek yang sedang dilaksanakan ialah RKAT Pusat Hidrografi Nasional, RKAT Pangkalan TLDM Kota Kinabalu dan RKAT Markas Wilayah Laut 2 di Sandakan. Kemudahan ini penting untuk menjamin kesejahteraan anggota dan keluarga mereka sekali gus meningkatkan motivasi serta kesetiaan kepada perkhidmatan,” katanya.

Mengenai sambutan Hari TLDM ke-91 tahun, Zulhemy berkata ia diadakan secara sederhana tetapi bermakna dengan pengisian seperti Perbarisan Hari TLDM, program derma darah, lawatan kebajikan serta Hari Terbuka Armada di beberapa lokasi Markas Formasi TLDM, termasuk Pangkalan TLDM Kota Kinabalu dan Pangkalan TLDM Sandakan, di Sabah serta Pangkalan TLDM Tanjung Gelang di Kuantan, Pahang.

Beliau berkata walaupun insiden dua helikopter terhempas ketika raptai perbarisan Hari TLDM di Lumut, Perak pada April tahun lepas yang meragut nyawa 10 warganya masih meninggalkan kesan mendalam, pasukan itu terus melangkah dengan pendekatan secara berhemah dan berorientasikan rakyat.

“Insiden pada tahun lepas terus segar dalam ingatan namun sambutan ini diteruskan sebagai simbol keteguhan warga TLDM. Kami berharap rakyat terus memberikan sokongan dalam usaha mempertahankan kedaulatan perairan negara,” katanya.

Zulhelmy turut menzahirkan keyakinan bahawa pelaksanaan Pelan Transformasi 15to5 serta dasar pertahanan maritim yang digariskan akan terus memacu TLDM sebagai angkatan laut moden, berdikari dan disegani di rantau ini.

29 April 2025

Helikopter AS 565 MBe Panther HS-1302 Resmi Perkuat Wing Udara 2 Puspenerbal Juanda

29 April 2025

Helikopter AS 565 MBe Panther HS-1302 (all photos: Puspenerbal)

TNl AL-Dispen Puspenerbal --  Pusat Penerbangan TNl Angkatan Laut (Puspenerbal) kedatangan Alutsista baru, Helikopter AS 565 MBe Panther HS-1302 resmi memperkuat Skuadron Udara 100 Wing Udara 2 Puspenerbal Juanda, yang dikenal dengan julukan "Submarine Hunter" yang disambut tradisi Water Salute di Base Ops Lanudal Juanda, Senin (21/4/2025).

Tradisi Water Salute dan pentahbisan Helikopter AS 565 MBe Panther HS-1302 masuk jajaran Skuadron Udara 100 Wing Udara 2 Puspenerbal ini, dipimpin Komandan Puspenerbal, Laksda TNl Sisyani Jaffar.

Komandan Puspenerbal menyiramkan air bunga ke bagian nose Helikopter AS 565 MBe Panther baru dan pemecahan kendi usai tradisi Water Salute dilakukan, didampingi Bupati Sidoarjo, H. Subandi dan Wadan Puspenerbal, Laksma TNl Bayu Alisyahbana.

Tampak hadir menyaksikan Irpuspenerbal, para Direktur Puspenerbal, Danlanudal Juanda, Danwing Udara 2 Juanda dan Dankolat Penerbal Puspenerbal, Kabakesbangpol, Fredik Suharto, Kadis Pubmsda, Dwi Eko Saptono, Kadishub, Benny Airlangga Yogaswara, Kasatpol PP, Yani Setiawan, Kalaksa BPBD, Sabino Mariano dan Camat Sedati, Abu Dardak.

Komandan Wing Udara 2 Puspenerbal, Kolonel Laut (P) Adam Firmansyah usai upacara tradisi menyatakan menyambut positif kedatangan helikopter baru dijajarannya.

Danwing Udara 2 menekankan bahwa penambahan alutsista ini akan semakin memperkuat kemampuan Skuadron Udara 100 dalam melaksanakan tugas-tugasnya, terutama dalam menjaga keamanan wilayah maritim dan melaksanakan operasi anti-kapal selam.


"Kehadiran AS 565 MBe Panther ini adalah lompatan besar bagi Skuadron Udara 100. Helikopter ini dilengkapi dengan teknologi terkini yang akan meningkatkan efektivitas kami dalam berbagai misi," ujar Kolonel Adam Firmansyah.

Senada dengan Komandan Wing Udara 2, Komandan Skuadron Udara 100 Wing Udara 2, Mayor Laut (P) Kuswoyo, mengungkapkan kegembiraannya atas kedatangan helikopter baru tersebut.

Menurutnya Helikopter AS 565 MBe Panther memiliki kemampuan yang mumpuni dalam melaksanakan berbagai operasi, mulai dari deteksi dini, pengintaian maritim, hingga kemampuan anti-surface warfare dan anti-submarine warfare.

"Sebagai 'Submarine Hunter', Skuadron Udara 100 membutuhkan platform yang andal dan memiliki sensor serta sistem persenjataan yang canggih. AS 565 MBe Panther menjawab kebutuhan tersebut dengan berbagai keunggulannya," kata Mayor Laut (P) Kuswoyo.

Dengan kedatangan HS-1302, diharapkan Skuadron Udara 100 Wing Udara 2 Puspenerbal akan semakin optimal dalam menjaga kedaulatan dan keamanan maritim Negara Kesatuan Republik Indonesia.

01 Agustus 2024

Tim Customer Acceptance Flight Helikopter AKS Tinjau Heli HS-1307 untuk Skuadron 400 Wing Udara 1

01 Agustus 2024

Helikopter AS 565 MBe Panther AKS HS-1307 di PT Dirgantara Indonesia (photos: Puspenerbal)

Danwing Udara 1 Bergabung dalam Tim Customer Acceptance Flight Helikopter AKS

TNl AL-Dispen Puspenerbal -- Komandan Wing Udara 1 Kolonel Laut (P) Gugus Wahyu Setyo Utomo mewakili Puspenerbal bergabung dalam Tim Customer Acceptance Flight Helikopter Anti Kapal Salam (AKS) di PT Dirgantara Indonesia bersama dengan perwakilan dari Kementrian Pertahanan dan Mabes TNI Angkatan Laut.

Hal tersebut diungkapkan Komandan Wing Udara 1 Puspenerbal Tanjungpinang, Kolonel Laut (P) Gugus Wahyu Utomo di Mako Wing Udara 1 Puspenerbal Tanjungpinang, Rabu (31/7/2024).


Kegiatan Customer Acceptance Flight Helikopter AS 565 MBe Panther AKS HS-1307 di PT Dirgantara Indonesia ini, direncanakan akan berlangsung dari tanggal 31 Juli s.d 7 Agustus 2024 mendatang.

Kegiatan di awali dengan Opening, dimana disampaikan perkembangan dari proyek Helikopter AS 565 MBe Panther AKS dengan nomor lambung HS-1307, yang nantinya akan memperkuat jajaran Skuadron 400 Wing Udara 1.


Kegiatan dilanjutkan dengan pemeriksaan langsung kondisi Helikopter AS 565 MBe Panther AKS HS-1307 dan peninjauan torpedo functional test pada normal firing and jettison.