Tampilkan postingan dengan label Pesawat Tempur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesawat Tempur. Tampilkan semua postingan

08 September 2026

Vietnam Sedang Bernegosiasi untuk Membeli Jet Tempur Rafale dari Prancis

08 Agustus 2026

Pesawat tempur Dassault Rafale (photo: Philippe Amiel)

Setelah berpuluh-puluh tahun terutama menggunakan jet tempur buatan Uni Soviet dan Rusia, Vietnam dilaporkan sedang mempertimbangkan opsi lain: jet tempur multiperan Rafale yang diproduksi oleh perusahaan Prancis, Dassault Aviation.

Menurut majalah Prancis L'Express, pembicaraan antara Vietnam dan Prancis telah berkembang cukup jauh; salah satu indikasi pentingnya adalah laporan bahwa seorang pilot Vietnam dijadwalkan akan mendapatkan kesempatan untuk melakukan uji terbang Rafale pada Februari 2026.

Baru-baru ini, muncul pula laporan bahwa Vietnam sedang mempertimbangkan pembelian jet tempur F-16 dari Amerika Serikat, meskipun belum ada pengumuman resmi terkait hal tersebut.

Pilot Vietnam uji terbang Rafale
Menurut sumber berita Prancis, para ahli pertahanan menyatakan bahwa pemberian izin bagi pilot asing untuk melakukan uji terbang jet tempur selama proses penjualan biasanya terjadi setelah calon pembeli melewati tahap kontak awal dan memasuki tahap evaluasi teknis serta operasional.

Estimasi dari sumber terbuka menunjukkan bahwa kesepakatan ini dapat mencakup sekitar dua skuadron, atau 24 hingga 40 pesawat, dengan nilai total antara 4 hingga 6 miliar dolar AS. Pesawat pertama diperkirakan dapat dikirimkan antara tahun 2028 dan 2030.

Namun, baik pemerintah Vietnam maupun produsen pesawat asal Prancis tersebut belum memberikan konfirmasi secara terbuka mengenai kesepakatan Rafale ini.

Prancis sebelumnya pernah mengerahkan Rafale ke Vietnam sebagai bagian dari penerbangan pengerahan Angkatan Udara Prancis.

Menurut Kementerian Pertahanan Prancis, pada tahun 2018, tiga pesawat Rafale milik Angkatan Udara Prancis mendarat di Bandara Noi Bai, Hanoi, sebagai bagian dari operasi PEGASE Prancis di kawasan Asia-Pasifik.

Vietnam sedang bernegosiasi untuk 2 skuadron Rafale atau sekitar 20-40 unit (photo: Krystian Wilusz)

Migflug, sebuah perusahaan yang berbasis di Swiss dan berspesialisasi dalam uji terbang jet tempur, berkomentar bahwa hal ini bukan sekadar keputusan pembelian, melainkan juga mencerminkan arah kebijakan yang dipilih Vietnam.

Dengan demikian, pemilihan Rafale berarti Vietnam untuk pertama kalinya memasukkan jet tempur buatan Barat ke dalam kekuatan tempur utamanya (tidak termasuk pesawat rampasan dari Perang Vietnam yang kini sudah dipensiunkan), sehingga mendiversifikasi pasokan persenjataannya alih-alih terlalu bergantung pada Moskow.

Risiko ketergantungan berlebih pada persenjataan buatan Rusia - yang semakin nyata sejak pecahnya perang di Ukraina - dianggap sebagai faktor kunci yang mendorong Hanoi untuk memperkuat strategi diversifikasinya. Selain itu, tekanan geopolitik di Laut China Selatan kian meningkat.

Menurut Reuters, China tengah meningkatkan kemampuan militernya dengan pesat dan telah mengerahkan pesawat tempur serang J-16, pesawat tempur siluman J-20, pesawat pengebom H-6, pesawat angkut Y-20, serta pesawat peringatan dini KJ-500 untuk beroperasi di berbagai wilayah perairan, termasuk wilayah yang diklaim oleh Vietnam atau berada di bawah yurisdiksinya. Menurut para pengamat, hal ini segera mendorong Hanoi untuk berupaya memodernisasi angkatan udaranya.

Armada pesawat tempur Rusia yang dimiliki Vietnam kini sudah mulai menua.
Saat ini, armada pesawat tempur Vietnam sebagian besar terdiri dari model Sukhoi buatan Rusia.

Sumber data pertahanan publik menyajikan angka yang sedikit berbeda, namun secara umum menunjukkan bahwa Vietnam saat ini memiliki sekitar 35 unit Su-30MK2, serta sekitar 5-10 unit Su-27 dan 25-30 unit Su-22 yang masih beroperasi. Di antara pesawat-pesawat tersebut, Su-30MK2 merupakan pesawat tempur multiperan paling modern milik Vietnam.

Vietnam mulai menerima Su-30MK2 pada tahun 2004 dan telah membeli total 36 unit, namun satu unit jatuh dalam kecelakaan pada tahun 2016, sehingga menyisakan 35 unit. Sementara itu, Vietnam membeli Su-27 pada pertengahan tahun 1990-an.

Su-22 bahkan jauh lebih tua lagi. Pesawat ini merupakan varian yang dikembangkan dari seri Su-17, yang mulai digunakan oleh Uni Soviet pada tahun 1970-an.

Beberapa pesawat yang lebih tua telah menjalani perbaikan menyeluruh (overhaul) dalam beberapa tahun terakhir. Namun, ketergantungan yang terus-menerus pada model pesawat yang sudah tua menimbulkan kekhawatiran terkait pemeliharaan, suku cadang, serta kemampuan untuk mempertahankan efektivitas tempur dalam jangka panjang.

07 September 2026

8 dari 20 jet F-35 Singapura akan Ditempatkan di Pangkalan Udara Tengah, Sisanya di AS

07 September 2026

Tengah AFB, Singapore (image: GoogleMaps)

SINGAPURA – Pembelian 20 jet tempur siluman F-35 beserta peralatan terkait oleh Singapura menelan biaya sebesar US$4,06 miliar (S$5,17 miliar), menurut laporan Departemen Pertahanan AS.

Ini merupakan pengungkapan resmi pertama mengenai total nilai kontrak tersebut. Laporan yang diterbitkan pada bulan April dan dirilis ke publik pada 3 Agustus itu juga merinci jadwal pengiriman jet tempur generasi kelima tersebut serta lokasi penempatannya.

Jet tempur F-35 pertama untuk Angkatan Udara Republik Singapura (RSAF) akan dikirim ke pangkalan udara AS pada akhir tahun 2026, sementara Singapura diperkirakan baru akan menempatkan pesawat-pesawat tersebut di dalam negeri pada tahun 2029.

Sebanyak 12 unit di antaranya adalah varian F-35B, yang semuanya akan ditempatkan secara permanen di Pangkalan Ebbing Air National Guard di Fort Smith, Arkansas, menurut laporan tersebut. Pelatihan F-35 bagi personel RSAF akan dilaksanakan di lokasi ini.

Komparasi kebutuhan runway F-35A dan F-35B (image: The Straits Times)

F-35B memiliki kemampuan lepas landas jarak pendek dan pendaratan vertikal, yang memungkinkannya lepas landas dari landasan pacu yang lebih pendek, serta melayang dan mendarat layaknya helikopter.

Fitur-fitur ini memberikan "fleksibilitas operasional yang lebih besar" bagi Singapura yang memiliki keterbatasan lahan, sebagaimana disampaikan oleh Menteri Pertahanan Ng Eng Hen di Parlemen pada Februari 2024 saat debat anggaran.

Kementerian Pertahanan Singapura (MINDEF) awalnya membeli empat unit pesawat tersebut pada tahun 2019, dengan opsi untuk membeli delapan unit tambahan; nilai penjualan saat itu mencapai sekitar US$2,75 miliar menurut pemerintah AS.

Kementerian tersebut kemudian menggunakan opsi pembelian untuk delapan pesawat tambahan itu pada tahun 2023.

Delapan unit sisanya dari total 20 jet F-35 yang dibeli MINDEF akan ditempatkan di Pangkalan Udara Tengah. Pesawat-pesawat ini merupakan varian F-35A.

Komparasi kemampuan pesawat F-35A dan F-35B (image: The Straits Times)

Saat dihubungi, kementerian tersebut mengarahkan The Straits Times pada tanggapan media yang mereka keluarkan pada 9 Februari mengenai pengiriman ke dalam negeri dan lokasi pangkalan jet tempur tersebut. Saat itu, pihak kementerian menyatakan akan membagikan informasi lebih lanjut setelah rinciannya dipastikan, dengan menyebutkan bahwa jadwal pengiriman lokal pesawat F-35 serta lokasi pangkalan utamanya akan bergantung pada jadwal keseluruhan proyek dan kebutuhan pelatihan.

MINDEF juga menambahkan saat itu bahwa rincian spesifik belum difinalisasi karena proses perencanaan dan produksi masih berlangsung.

Varian F-35A mampu membawa muatan senjata yang lebih besar, yakni 8.160 kg, dibandingkan dengan F-35B yang berkapasitas 6.800 kg. Pesawat ini juga memiliki kapasitas bahan bakar yang lebih besar dan mampu menempuh jarak terbang hingga 2.200 km. Sebagai perbandingan, F-35B memiliki jangkauan terbang yang lebih pendek, yaitu 1.667 km.

Laporan Departemen Pertahanan AS menambahkan bahwa MINDEF telah mulai merancang pangkalan operasi utama bagi F-35A di Singapura, yang diperkirakan akan mulai beroperasi pada kuartal keempat tahun fiskal AS 2029. Tahun fiskal AS tersebut berlangsung dari 1 Oktober 2028 hingga 30 September 2029.

MINDEF belum mengungkapkan secara terbuka biaya pengadaan jet tempur siluman tersebut, yang ditujukan untuk menggantikan armada F-16 yang sudah tua.

31 Agustus 2026

Kemhan Pastikan RI Belum Teken Kontrak Pengadaan Jet Tempur F-15 Eagle dari AS

31 Agustus 2026

Pesawat tempur F-15EX (photo: QEAF)

Jakarta, IDM – Kementerian Pertahanan RI memastikan pemerintah Indonesia belum meneken kontrak pengadaan jet tempur F-15 Eagle atau F-15EX produksi perusahaan dirgantara asal Amerika Serikat (AS), Boeing.

Hal ini disampaikan Kemhan RI menanggapi daftar kontrak industri-industri pertahanan AS terkait penjualan alat utama sistem persenjataan (alutsista). Daftar itu dirilis oleh Departemen Perang AS melalui laman mereka, Senin (24/8).

“Terkait F-15, sampai saat ini belum ada pembahasan lebih lanjut mengenai rencana pengadaannya. Kemhan juga belum memiliki kontrak aktif maupun LOA (letter of offer and acceptance) yang diaktifkan untuk pengadaan F-15,” kata Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan RI Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait dalam keterangannya, Jumat (28/8).

Dalam rilis yang disampaikan Departemen Perang AS, disebut Indonesia sebagai salah satu negara yang dilibatkan dalam kontrak pengadaan pesawat tempur F-15EX.

“Pekerjaan (pembuatan F-15 Eagle) akan dilakukan di St. Louis, Missouri, dan diharapkan selesai pada Agustus 2037. Periode pemesanan diperkirakan akan berakhir pada 24 Agustus 2031, dengan opsi perpanjangan periode pemesanan hingga 24 Agustus 2036. Kontrak ini melibatkan penjualan ke Jepang, Israel, Arab Saudi, Korea Selatan, Singapura, Indonesia, dan Polandia,” tulis Departemen Perang AS.

Kontrak tersebut meliputi produksi pesawat, integrasi sistem, modernisasi, peningkatan kemampuan, retrofit, pemeliharaan, dan pembentukan kemampuan pemeliharaan depot terhadap pesawat F-15.

“Pencantuman Indonesia dalam rilis kontrak F-15 dari pihak AS tersebut tidak dapat diartikan bahwa Indonesia telah melakukan atau mengaktifkan kontrak pengadaan F-15,” kata Rico.

(IDM)

27 Agustus 2026

MOF Tinjau Tadbir Urus dan Kesiapsiagaan Aset Su-30MKM di Gong Kedak

27 Agustus 2026

Rudal udara-ke-udara, rudal anti radiasi dan rudal anti kapal yang melengkapi Su-30MKM (photo: TUDM)

GONG KEDAK - Pengurusan aset, alat ganti serta tahap kesiapsiagaan pesawat Su-30MKM menjadi fokus lawatan pemantauan Bahagian Pengurusan Aset Awam (PAM), Kementerian Kewangan (MOF) ke Pangkalan Udara Gong Kedak.

Pemantauan dilaksanakan bagi menilai aspek tadbir urus, pengurusan dan penyelenggaraan aset agar terus mematuhi dasar serta tatacara pengurusan aset Kerajaan yang berkuat kuasa. Lawatan ini juga memberi peluang kepada MOF untuk melihat secara langsung peranan aset TUDM dalam mendukung keupayaan pertahanan udara serta menjaga keselamatan dan kedaulatan negara.

Delegasi seramai 20 orang pegawai itu diketuai oleh Setiausaha Bahagian Pengurusan Aset Awam, YBhg. Datuk Alan bin Abdul Rahim serta melibatkan wakil Bahagian Perolehan Kerajaan (BPK) dan Pejabat Belanjawan Negara (NBO).

Lawatan turut disertai oleh Timbalan Ketua Setiausaha (Pengurusan), Kementerian Pertahanan (MINDEF), YBhg. Datin Roszanina binti Wahab bersama Timbalan Setiausaha Bahagian Kewangan, Puan Mas Sakdah binti Kamaruzzaman dan Ketua Penolong Setiausaha Cawangan Pengurusan Aset, Encik Zul Azri bin Abdullah.

TUDM pula diwakili oleh Panglima Operasi Udara, Leftenan Jeneral Dato’ Masro bin Kaliwon TUDM, Panglima Bantuan Udara, Mejar Jeneral Dato’ Ahmad Khusairi bin Ahmad Fadli TUDM dan Asisten Ketua Staf Materiel, Brigedier Jeneral Norizan binti Wahab TUDM.

Ketibaan delegasi telah disambut oleh Komander Pangkalan Udara Gong Kedak, Kolonel Hasfa Nyzam bin Abdul Hamid TUDM bersama Pegawai Eksekutif Pangkalan.

Selepas menerima taklimat ringkas mengenai pengoperasian pangkalan, delegasi dibawa meninjau pesawat Su-30MKM di Tactical Shelter No. 12 Skn dan Sistem Misil di Terminal Peluru 4.

Delegasi turut meninjau kemudahan Automated Storage and Retrieval System (ASRS) di MATRA 3 yang digunakan bagi pengurusan alat ganti serta Pusat Simulator Su-30MKM.

Tinjauan secara langsung ini memperkukuh kefahaman bersama antara MOF, MINDEF dan TUDM mengenai keperluan pengurusan aset pertahanan, sekali gus memastikan aset strategik negara diurus secara berkesan, berintegriti dan sentiasa berada pada tahap kesiapsiagaan yang optimum.

25 Agustus 2026

Boeing Secures $131 Bln IDIQ Contract for F-15 Aircraft include Indonesia

25 Agustus 2026

In August 2023, Indonesia signed a MoU for the purchase of 24 F-15EX fighter jets (image: Boeing)

The Boeing Co., St. Louis, Missouri, has been awarded a $131,230,000,000 ceiling, indefinite-delivery/indefinite-quantity contract for the F-15 Eagle Crest in support of the F-15 Program Office. 

This contract provides for aircraft production, systems integration, modernization, upgrades, retrofits, sustainment, and the establishment of organic depot maintenance capabilities to deliver and maintain critical F-15 Eagle Weapon System capabilities for the Air Force, Air National Guard, and other Department of War customers. 

Work will be performed at St. Louis, Missouri, and is expected to be completed by August 2037. The ordering period is expected to end Aug. 24, 2031, with an option to extend the ordering period to Aug. 24, 2036. 

This contract involves Foreign Military Sales to Japan, Israel, Saudi Arabia, South Korea, Singapore, Indonesia, and Poland. 

This contract was a sole-source acquisition. Fiscal 2026 research, development, test and evaluation funds in the amount of $343,740 are being obligated at the time of award. The Air Force Life Cycle Management Center, Wright-Patterson Air Force Base, Ohio, is the contracting activity (FA8634-26-D-B001).

24 Agustus 2026

Persenjataan Udara RTAF yang Dirilis saat Kunjungan PM ke Wing 1

24 Agustus 2026

PM Anutin menerbangkan sendiri pesawat pribadinya jenis Socata TBM 930 dengan dikawal 3 pesawat F-16 (photos: RTAF)

Dari gambar yang dirilis oleh Angkatan Udara Kerajaan Thailand pada hari Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul mengunjungi Wing 1 (14 Agustus 2026) di Korat AFB, senjata-senjata tersebut disusun dari kiri ke kanan pada gambar di bawah adalah:
- AIM-120C-5 AMRAAM
- GBU-10 PAVEWAY II
- GBU-12 PAVEWAY II
- Mk 82 dengan sumbu tunda M905
- Mk 82 dengan sirip Snakeye untuk meningkatkan hambatan udara
- Mk 82 dengan ballute BSU-49 untuk meningkatkan hambatan udara
- KGGB
- Lizard III
- AGM-65D Maverick
- AIM-9M Sidewinder

Persenjataan udara RTAF yang diperlihatkan di Wing 1 (photos: RTAF)

Pesawat-pesawat disusun dari kiri ke kanan: F-5TH, Alpha Jet-TH, F-16 OCU, Saab 340 AEW, Gripen D, T-50TH, AT-6TH, dan Aerostar-BP (paling depan)

Pengamatan:
1. Set senjata ini terutama untuk F-16 OCU di Wing 1, Korat.

2. IRIS-T belum ada. Meskipun ada gambar-gambar terbaru yang menunjukkan pengujiannya dengan F-16 di Korat, skuadron terdekat yang memiliki rudal IRIS-T adalah Wing 21 di Ubon Ratchathani, yang menggunakannya dengan F-5.


3. AGM-65 masih dipajang, yang mungkin berarti masih dapat digunakan, tetapi kemungkinan besar sudah sangat tua.

4. Mk 82 adalah seri yang diproduksi oleh Angkatan Udara Kerajaan Thailand sendiri.


5. M905 adalah sumbu ekor detonasi tunda yang dirancang untuk meledak di dalam target, mirip dengan bom Bunker Buster. Namun, seri Mk tidak memiliki selubung keras untuk menembus bunker, dan bentuknya yang meruncing berarti tidak memiliki sifat-sifat Bunker Buster. Penetrasi tidak akan sedalam itu, bahkan dengan sumbu khusus, yang merupakan celah yang harus diatasi di masa depan, terutama setelah kesulitan yang dihadapi dalam menghancurkan bunker Kamboja.

6. Ada dua jenis bom Mk 82 yang mungkin tidak digunakan dalam bentrokan di  Perbatasan Thailand-Kamboja baru-baru ini: satu dengan sumbu ekor yang meningkatkan hambatan, digunakan untuk menjatuhkan bom di ketinggian rendah untuk memperlambat penurunan bom dan mencegah ledakan mempengaruhi pesawat yang menjatuhkan bom. Diperkirakan bahwa kekuatan udara Angkatan Udara Kerajaan Thailand pada saat itu tidak menggunakan jenis ini. Karena potensi risiko menghadapi tembakan balasan, lebih disukai untuk menjatuhkan bom di ketinggian menengah atau lebih tinggi.

(TAF)

23 Agustus 2026

Hyundai Rotem and KAI Collaborate on Long-Range Air-to-Air Missile Development

23 Agustus 2026

KF-21 with air-to-air missile (photo: KAI)

Hyundai Rotem is partnering with Korea Aerospace Industries (KAI) to internalize aviation weapon technology, including long-range air-to-air missiles to be mounted on the KF-21.

Hyundai Rotem announced on the 13th that it signed a Memorandum of Understanding (MOU) on aviation armament business cooperation with KAI at the KAI headquarters in Sacheon, Gyeongnam on the 12th to enhance the global competitiveness of the K-defense industry and develop aviation armament.

The signing ceremony for the MOU, held in the presence of officials including Cho Hyung-joon, Head of Hyundai Rotem’s AD&RH Business Division, and Kim Yong-min, Head of KAI’s Business Division, was organized to expand technological cooperation and mutual exchange in the field of aviation armament based on the core competencies of both companies and to enhance competitiveness in the global market.

Through this agreement, the two companies plan to expand cooperation in various fields, including: 
 technical cooperation for the development and system integration of aircraft platforms, such as the Korean supersonic fighter KF-21, and air armaments, including long-range air-to-air missiles; 
▲ identification of package-type export models linking aircraft platforms and onboard armaments; and 
▲ joint identification of domestic and international business opportunities and global marketing.


This collaboration aims to secure a competitive edge in providing a "Total Solution" that offers aircraft and weapons as a single unit by combining Hyundai Rotem's guided weapon and propulsion system technologies with KAI's aircraft platform technology, in response to the recent trend in the global defense market of expanding package-type exports that offer integrated aircraft and weapons. In addition to this agreement, Hyundai Rotem plans to contribute to strengthening the competitiveness of the domestic space industry and expanding domestic and international markets through its diverse space business capabilities.

Meanwhile, Hyundai Rotem has continuously expanded its business scope beyond ground weapon systems into the aerospace sector. The company has accumulated independent aerospace technological capabilities by conducting R&D on various future propulsion systems, including the development of hypersonic propulsion systems, a core technology for aircraft armament. Last year, the company secured various key technology R&D projects, such as the development of methane engine technology for reusable launch vehicles led by the Agency for Defense Development (ADD), and the development of a long-range air-to-air guided weapon prototype and the hypersonic vehicle 'HyCore' led by the Agency for Defense Development (ADD), thereby expanding its position as a key player in the future aerospace field.

"This agreement will serve as an opportunity to further strengthen competitiveness in the future aviation armament sector by combining the core technologies of both companies," said a Hyundai Rotem official. "Based on the expertise and business capabilities of both companies, we will contribute to strengthening national defense and enhancing self-reliant defense capabilities through healthy competition, and strive to help the domestic defense industry develop based on diversity."

21 Agustus 2026

Menhan Pastikan Indonesia Bakal Kedatangan Banyak Jet Tempur dan Transport

21 Agustus 2026

Pesawat tempur J-10CE dari China disebutkan akan didatangkan ke Indonesia (photo: Pakdef)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pertahanan (Menhan) RI memberikan isyarat bahwa ke depan Indonesia akan kedatangan jet tempur dengan jumlah lebih besar. 

"Ke depan kita akan mendapatkan jumlah pesawat transportasi dan juga pesawat tempur yang lebih besar," kata Menhan di Hanggar PT GMF, Bandara Soekarno Hatta, Kota Tangerang, Banten, Rabu (19/8/2026).

Meski begitu, Sjafrie tidak menjelaskan secara rinci berapa alutsista baru yang akan datang dan kapan kedatangan itu terjadi. Dia menyebutkan, ragam pesawat tempur baru itu dipastikan akan menjalani perawatan dan pemeliharaan mesin oleh industri pertahanan dalam negeri.

Upaya itu dilakukan agar Indonesia tidak ketergantungan dengan perusahaan alutsista asing. "Jadi kita tidak hanya membeli alatnya, tapi kita beli sistemnya. Ini yang akan kita terapkan di Indonesia," jelas Sjafrie di acara penerimaan pesawat Hercules C-130 H yang telah menjalani perawatan dan pemeliharaan dari PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF) kepada Kemenhan RI.

Pesawat tanker IL-78MK90A dari Rusia dikabarkan akan melengkapi armada transport TNI AU (photo: Alexander Kopitar)

Menurut dia, kemampuan perusahaan dalam negeri dalam melakukan perawatan alutsista sudah teruji melihat dari keberhasilan PT GMF dalam melaksanakan perawatan kelas berat pesawat Hercules C-130 H. Capaian tersebut menunjukkan peningkatan kemampuan industri penerbangan nasional karena sebelumnya perawatan kelas berat Hercules C-130 H dilakukan oleh Lockheed Martin.

Sjafrie berharap, keberhasilan industri pertahanan dalam negeri ini bisa berjalan dengan konsisten sehingga ke depan seluruh pesawat tempur baru TNI AU bisa ditangani penuh oleh putra-putri terbaik bangsa. 

Selain jet tempur Rafale asal Prancis, Kemenhan dikaitkan dengan jet tempur KAAN dari Turki, KF-21 Boramae dari Korea Selatan, Sukhoi Su-35 dari Rusia, Chengdu J-10 dari China, dan JF-17 Thunder dari Pakistan.

Kemhan Pastikan Bandara Kertajati akan Jadi Bengkel Pesawat Tempur TNI

21 Agustus 2026

Bandara Kertajati dicanangkan jadi bengkel pesawat angkut dan tempur AU (photo: TWZ)

Jakarta (ANTARA) - Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait mengatakan pihaknya akan memanfaatkan Bandara Kertajati, Majalengka, Jawa Barat menjadi tempat pemeliharaan dan perawatan pesawat tempur TNI AU.

"Kertajati ke depan dikembangkan untuk memperkuat kemampuan pemeliharaan pesawat TNI AU, tidak hanya pesawat angkut seperti Hercules, tetapi secara bertahap juga diarahkan agar memiliki kemampuan mendukung pemeliharaan pesawat tempur," kata Rico saat dikonfirmasi ANTARA di Jakarta, Rabu.

Rico menjelaskan upaya tersebut dilakukan agar ke depan perawatan pesawat tempur TNI AU dapat dilakukan sepenuhnya di Indonesia dengan menggunakan tenaga sumber daya manusia (SDM) dalam negeri.

Dia menilai banyak keuntungan yang didapat jika seluruh proses perawatan pesawat dilalukan di dalam negeri, salah satu adalah Indonesia tidak akan ketergantungan dengan pihak asing dalam memperbaharui ataupun merawat teknologi pesawat.

Selain itu, industri pertahanan dalam negeri dan SDM di dalamnya juga akan mengalami peningkatan kualitas karena terjadi transfer teknologi antara pihak luar dengan perusahaan di Indonesia.

"Kemajuan itu nantinya juga dapat dimanfaatkan industri pertahanan dalam negeri untuk memperkuat alat utama sistem senjata (alutsista) Indonesia," ujarnya.

Kendati demikian, Rico belum bisa memastikan seperti apa konsep tempat perawatan pesawat tempur yang akan dibangun di Bandara Kertajati.

Saat ini pemerintah masih dalam tahap pembangunan Bandara Kertajati menjadi Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) pesawat angkut Hercules se Asia.

Bandara Kertajati dicanangkan jadi bengkel pesawat angkut dan tempur AU (photo: SudOuest)

"Untuk pesawat tempur ini masih merupakan arah pengembangan ke depan, sehingga belum pada tahap penetapan jenis pesawat atau skema MRO-nya," terang dia.

Pada hari yang sama, Menhan Sjafrie Sjamsoeddin optimistis Bandara Kertajati bisa menjadi tempat perawatan pesawat tempur TNI AU.

Hal tersebut dia meyakini karena industri dirgantara dalam negeri sudah memiliki modal yang kuat untuk melakukan hal tersebut.

Salah satu modal yang telah dikantongi yakni keberhasilan perusahaan dalam negeri yakni PT. Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF) dalam melakukan pemeliharaan kelas berat pesawat Hercules untuk pertama kali.

Keberhasilan itu, kata dia, menandakan bahwa industri dalam negeri telah mengalami peningkatan kualitas di bidang teknologi dan sumber daya manusia.

Keberhasilan itu pula, menurut Sjafrie, menjadikan PT. GMF dan PT.DI sebagai pihak yang akan terlibat dalam pengembangan MRO Kertajati.

Kendati demikian, Sjafrie tidak menjelaskan secara rinci kapan MRO di Kertajati mulai beroperasi untuk melakukan pemeliharaan pesawat tempur.

Dia hanya berharap pembangunan MRO bisa segera diselesaikan sehingga dapat dimanfaatkan PT DI dan PT GMF untuk merawat alutsista pesawat tempur ataupun pesawat angkut TNI AU.

"Kita berupaya pengembangan kekuatan pertahanan ini kita tingkatkan dengan menggunakan kemampuan dari awak teknis yang berasal dari putra-putri bangsa Indonesia sendiri," ujar Sjafrie.

14 Agustus 2026

Leonardo can Customize PH Multi-role Fighters

14 Agustus 2026

Leonardo Eurofighter Typhoon (photo: Ismael Jorda)

MANILA – Multinational aerospace and defense manufacturer Leonardo S.p.A (Leonardo) is very capable of customizing its twin-engine Eurofighter Typhoon to suit Philippine operational standards and conditions once the country formalizes an order for its multi-role fighter (MRF).

"The Eurofighter program has consistently configured the aircraft to meet each operator's specific environmental and operational conditions, a reflection of the platform's design flexibility and the depth of engineering experience behind it," Enrico Fossatti, head of Leonardo's Eurofighter Export Campaigns for marketing and sales, said in an email reply to the Philippine News Agency on Tuesday.

Eurofighter Typhoon, manufactured by the consortium of Leonardo, Airbus and BAE System, is among the options being looked into by the Department of National Defense (DND) for its MRF program.

Other options are Sweden's SAAB JAS-39 "Gripen", South Korea's KF-21 "Boramae", US-based Lockheed's F-16V "Viper" MRF, the Rafale of France-based Dassault Aviation.

Fossatti said the Eurofighter Typhoon's twin-engine configuration and safety record were built to demonstrate strength in demanding weather conditions such as operations over water and in extreme weather.

"So far, the Eurofighter (has) been flying in very different climate environments, from the Falklands to Iceland, from the Baltic to Australia, with demonstrated exceptional track records. The Philippines' tropical, maritime setting would naturally inform any configuration work. Should the Philippines proceed with the program, Leonardo and the partner nations would work directly with the Department of National Defense and the Philippine Air Force to tailor the aircraft accordingly, subject to possible bilateral agreements and the relevant approvals," he said.

Advanced weaponry
Aside from this, Fossatti said the Eurofighter Typhoon's weapons package or systems is one of the platform's core strengths.

He said the fighter jet is made to work "beyond-visual-range air-to-air missile for long-range engagement, alongside a comprehensive electronic warfare suite that allows the aircraft to operate effectively across a wide range of threat environments."

He said the precise composition of the weapons package for the Philippines will be determined by the final requirements and agreements reached with the Philippine government should the contract be finalized.

"What we can assure is that the aircraft will be equipped to fulfill the full range of missions required by the Philippine Air Force, drawing on a weapons integration pedigree that has been proven across multiple Eurofighter operators, subject to applicable approvals," he added.

Earlier, DND Secretary Gilberto Teodoro Jr. said the Philippines is looking for at least five possible suppliers for its MRF program to further improve the AFP's defensive capabilities.

He said the program is pegged to have an initial PHP60 billion to PHP150 billion budget and is under the Armed Forces of the Philippines Rehorizon Three. 

(PNA)

13 Agustus 2026

F-16 RSAF yang Digunakan dalam Pitch Black 2026 adalah Varian Upgrade F-16DU+

13 Agustus 2026

Pesawat tempur RSAF F-16DU+ (photo: Aviation Week)

DARWIN, Australia—Angkatan Udara Republik Singapura (RSAF) memanfaatkan kemampuan yang telah ditingkatkan pada pesawat tempur Lockheed Martin F-16C/D Blk. 52 mereka selama Latihan Pitch Black, sekaligus menggunakan latihan multinasional ini untuk bersiap menyambut kedatangan Lockheed Martin F-35B mulai akhir tahun 2026.

Pesawat yang telah ditingkatkan kemampuannya—dengan kode varian F-16CU/DU/DU+—ini dilengkapi dengan radar Northrop Grumman AN/APG-83 Scalable Agile Beam Radar (SABR) dan avionik yang diperbarui, serta telah disertifikasi untuk menggunakan rudal udara-ke-udara jarak pendek Rafael Python 5 dan bom berpemandu presisi Joint Direct Attack Munition (JDAM).

"Ini adalah radar yang bagus dan memiliki jangkauan deteksi target yang baik," ujar Kolonel Benjamin Fu, direktur latihan RSAF, kepada Aviation Week di lokasi Latihan Pitch Black.

"Pitch Black secara khusus mencakup wilayah udara yang sangat luas," tambah Fu. "Anda bisa tersesat jika tidak memiliki kesadaran situasional yang memadai. Peningkatan ini memungkinkan kami bertempur secara lebih efektif dengan memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai posisi kami dan posisi ancaman."

F-16DU+ dalam Pitch Black 2026 (photo: Aus DoD)

Radar Active Electronically Scanned Array (AESA) AN/APG-83 SABR dilaporkan mampu memindai dan melacak antara 20 hingga 35 target secara bersamaan, sehingga secara signifikan meningkatkan kesadaran situasional F-16 dalam skenario pertempuran udara yang kompleks.

Fu tidak membahas kinerja operasional rudal Python 5, seraya mencatat bahwa penggunaannya "dibatasi" selama latihan multinasional yang bersifat tidak rahasia (unclassified) ini. Ia mengatakan bahwa sebagian besar pertempuran selama fase pengerahan kekuatan besar (large-force employment) dalam Pitch Black dilakukan menggunakan rudal jarak jauh (beyond-visual-range) RTX AIM-120 AMRAAM dan MBDA Meteor pada jarak sekitar 30-40 mil.

Python 5 terutama digunakan selama fase awal latihan manuver tempur dasar (basic fighter maneuver), meskipun Fu menyebutkan bahwa kombinasi antara Python 5 dan AIM-120 memberikan kemampuan tempur udara yang seimbang bagi F-16, baik dalam pertempuran jarak dekat (within-visual-range) maupun jarak jauh (beyond-visual-range). Pesawat F-16 tersebut juga menjatuhkan bom GBU-49 Enhanced Paveway dan GBU-31 JDAM dalam kondisi "lingkungan yang diperebutkan" (contested environments).

Rudal Rafael Python 5 (image: AeroContact)

Selain untuk memvalidasi peningkatan kemampuan F-16, RSAF juga memanfaatkan latihan Pitch Black untuk mempelajari penggunaan pesawat tempur generasi kelima menjelang penerimaan F-35B pertama mereka akhir tahun ini.

"Bagaimana cara kita mengintegrasikan pesawat tempur generasi keempat dengan generasi kelima? Terkait taktiknya—siapa yang berada di depan, siapa di belakang, serta bagaimana kita mengintegrasikan pertempuran secara efektif sebagai satu tim," ujar Fu.

Angkatan udara tersebut juga mengamati bagaimana operator F-35 yang lebih berpengalaman merencanakan dan melaksanakan operasi dengan formasi campuran (mixed-force packages), yang mencakup aspek di luar taktik udara, seperti perencanaan misi serta proses komando dan kendali.

"Hal ini akan memberikan kami keunggulan saat menerima F-35 nanti pada akhir tahun ini," kata Fu.

(Aviation Week)

09 Agustus 2026

Profesionalisme Tim Pendukung Jadi Penentu Kesiapan Misi TNI AU di Exercise Pitch Black 2026

09 Agustus 2026

Kontingen TNI Angkatan Udara pada Exercise Pitch Black 2026 (photos: TNI AU)

Darwin, Australia-Dispenau. Profesionalisme dan sinergi personel pendukung menjadi faktor penting dalam menjaga kesiapan misi Kontingen TNI Angkatan Udara pada Exercise Pitch Black 2026 di Darwin, Australia. Ground crew, tim ACMI, teknisi pemeliharaan, dan staf administrasi bekerja terpadu memastikan pesawat T-50i Golden Eagle selalu siap melaksanakan latihan.


Ground crew bertugas menyiapkan dan memeriksa pesawat sebelum maupun setelah penerbangan, sementara tim ACMI mendukung pemantauan serta evaluasi manuver udara.


Para teknisi memastikan kondisi pesawat laik terbang sesuai SOP, sedangkan staf administrasi mendukung perencanaan dan koordinasi operasional.


Sinergi seluruh unsur tersebut menjadi bagian penting dalam menjamin kelancaran latihan dan mencerminkan kesiapan TNI AU dalam melaksanakan operasi udara bersama negara sahabat.

05 Agustus 2026

The First Flight of the Second Prototype of the Yak-130M Aircraft

05 Agustus 2026

The second prototype of the modernized Yak-130M combat trainer (photos: PJSC Yakovlev)

The Yak-130M  replaces the basic Yak-130, not only for the Russian Aerospace Forces but  also for foreign customers: Iran, Vietnam, Algeria, Bangladesh, Belarus, Myanmar, Laos, and Ethiopia (photos: PJSC Yakovlev)

On August 1, 2026, the Irkutsk Aviation Plant, a branch of PJSC Yakovlev (part of PJSC United Aircraft Corporation, part of the Rostec State Corporation), reportedly held the maiden flight of the second prototype of the modernized Yak-130M combat trainer (serial number 1301400002, tail number "002"). 

The aircraft was piloted by a crew consisting of 1st class test pilot Alexander Guskov and honored test pilot Andrey Voropayev. The second prototype of the modernized Yak-130M combat trainer (serial number 1301400002, tail number "002") before its maiden flight. Irkutsk, 01.08.2026 (c) PAO Yakovlev. 

The first flight of the first Yak-130M aircraft prototype (serial number 1301400001, subsequently assigned the tail number "001"), built at the Irkutsk Aviation Plant (IAP), took place in Irkutsk under the control of the same crew on June 25, 2026. 

UAC announced the completion of the second Yak-130M prototype on October 23, 2025. At the same time, UAC indicated that the Yak-130M prototype series should include a total of three aircraft. 

The Yak-130M is a modernized combat trainer with expanded combat capabilities, a further development of the Yak-130. The Yak-130M aircraft features an expanded avionics suite, including the BRLS-130R airborne radar developed by Radar MMS Research and Production Enterprise, the SOLT-130K optical-laser thermal television system, the President-S130 airborne defense system, and the KSS-130 communications suite. 

Vietnam for the launch customer?

Unconfirmed reports indicate that Vietnam may be the first customer for the Yak-130M. Vitaly Yelagin, IAP Production Director, stated during a visit to the plant by Russian President Vladimir Putin on July 24, 2026, that the first deliveries of the Yak-130M aircraft would begin in 2028. 

(BMPD)

29 Juli 2026

Russia Offers Su-57E and Il-78MK-90A Tankers for Indonesia's Needs in 2025-2030

 29 Juli 2026

Il-78MK-90A tanker aircraft (photo: Aleksandr Guk)

Russia received a request from Indonesia for the supply of weapons and military equipment for the period from 2025 to 2030, the 1Prime agency reported.

Rosoboronexport's proposals include the 5th-generation Su-57E and 4++ generation Su-35 aircraft, as well as Il-78MK-90A refueling aircraft, Ka-52E helicopters, Mi-17 aircraft, and drones.

The armored vehicles include the Sprut light amphibious tank and the BMP-3F, submarines and coastal ships, the latest air defense systems - the S-400 Triumph and S-350E Vityaz air defense systems, the Pantsir-S1M air defense missile and gun system, the Verba MANPADS, and counter-drone systems.

The proposal is currently being worked on, the agency clarified.

Russia has been one of Indonesia's key partners since Soviet times. In recent decades, the country has received Su-27 and Su-30 MK/MK2 fighter jets, Mi-35 and Mi-17 helicopters, BMP-3F infantry fighting vehicles, and BTR-80A armored personnel carriers.

(1Prime)

TUDM Perkuat Intermediate Level Maintenance (ILM) Support FA-50M Melalui Perjanjian STIA dengan KAI

29 Juli 2026

Penandatanganan ILM Support bagi FA-50M TUDM (photo: TUDM)

KUALA LUMPUR – Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) dan Korea Aerospace Industries (KAI) telah melangsungkan Majlis Menandatangani Second Tier ICP Agreement (STIA) bagi Project No. 1: FA-50M Intermediate Level Maintenance (ILM) Support bertempat di Hotel Ritz-Carlton, Kuala Lumpur.

Majlis tersebut telah disempurnakan oleh Asisten Ketua Staf Kejuruteraan, Mej Jen Muhd Aznor bin Hj Md Ghazali TUDM, yang mewakili TUDM, bersama Mr. Jo Hyunjun, Director and Head of Asia Marketing, yang mewakili Syarikat KAI.

Turut hadir ialah Timbalan Asisten Ketua Staf Perancangan dan Pembangunan, Brig Jen Mohd Faizal bin Abu Bakar TUDM; Pengarah Materiel, Kol Ramli bin Hj Endut TUDM; Pengarah Pembangunan Kejuruteraan, Lt Kol Saiful Nubli bin Abdul Ghani TUDM; KPSU Unit ICP Darat/Udara Bahagian Industri Pertahanan (BIP), Lt Kol Mohamad Saifuddin bin Surip TUDM; serta Mr. Michael Park, Malaysia ICP Team Leader dari KAI.

Majlis menandatangani STIA ini merupakan salah satu inisiatif di bawah Industrial Collaboration Program (ICP) bagi kontrak perolehan pesawat FA-50M bersama Syarikat KAI. Objektif utama pelaksanaan ICP ini adalah untuk membangunkan keupayaan Intermediate Level Maintenance (ILM) secara in house di Cawangan Kejuruteraan Pangkalan Udara Kuantan.

M58-01, pesawat FA-50M TUDM yang pertama (photo: TUDM)

Melalui inisiatif ini, TUDM akan diperkasakan dengan keupayaan menyelenggara empat sistem utama pesawat yang merangkumi wheel and brake system, gun system, alternate mission equipment (AME) dan avionics system. Kesemua keupayaan tersebut dijangka mula beroperasi sepenuhnya sebelum ketibaan pesawat FA-50M pada Oktober nanti.

Dalam ucapannya, Mr. Jo Hyunjun menzahirkan komitmen penuh KAI untuk memastikan program ini mencapai objektif yang telah ditetapkan. Beliau turut menegaskan bahawa syarikat KAI akan terus memberikan sokongan teknikal secara berterusan bagi memastikan pengoperasian pesawat FA-50M dapat dilaksanakan secara optimum.

Sementara itu, Asisten Ketua Staf Kejuruteraan menegaskan bahawa pemeteraian Second Tier ICP Agreement (STIA) ini bukan sekadar satu dokumentasi, malah merupakan manifestasi kepada perkongsian strategik yang kukuh antara TUDM dan KAI. Beliau turut menyatakan bahawa pembangunan keupayaan penyelenggaraan secara dalaman merupakan langkah proaktif TUDM ke arah self reliance dalam aspek penyelenggaraan aset.

Secara keseluruhannya, pelaksanaan Industrial Collaboration Program (ICP) ini dijangka mampu mengurangkan kebergantungan TUDM terhadap perkhidmatan luar bagi kerja-kerja penyelenggaraan. Langkah strategik ini bukan sahaja akan menjimatkan masa pembaikan sistem, malah memastikan rantaian logistik yang lebih efisien serta meningkatkan kesiagaan aset pertahanan negara, selaras dengan aspirasi Pelan Pembangunan Keupayaan TUDM 2055 (CAP55).

Singapura Jajaki Kemungkinan Keterlibatan dalam Program GCAP-Pesawat Tempur Generasi Keenam

29 Juli 2026

Rancangan propulsi GCAP (image: GCAP Consortium)

Singapura telah memulai diskusi awal mengenai kemungkinan keterlibatan dalam Global Combat Air Programme (GCAP), demikian informasi yang diperoleh Janes dari sumber yang dekat dengan masalah tersebut.

Namun, Janes memahami bahwa pembicaraan saat ini masih dalam tahap penjajakan, dan belum ada keputusan yang dibuat oleh pemerintah Singapura untuk menjadi peserta dalam program tersebut.

Namun demikian, perkembangan ini menandai indikasi pertama yang diketahui bahwa Singapura secara resmi sedang meneliti potensi keterkaitan dengan program tersebut, yang dikembangkan bersama oleh Inggris, Jepang, dan Italia untuk menghadirkan kemampuan udara tempur generasi berikutnya mulai tahun 2035.

Tampak depan GCAP (image: MWM)

Program GCAP menyatukan mitra pemerintah dan industri dari ketiga negara tersebut, dan dianggap sebagai salah satu dari dua inisiatif pesawat tempur generasi keenam terkemuka di dunia bersama dengan proyek Next Generation Air Dominance (NGAD) AS.

Detail teknis mengenai badan pesawat yang akan diproduksi masih minim, tetapi model konsep yang telah diungkapkan oleh mitra GCAP sejauh ini di pameran udara besar menunjukkan desain dengan ekor ganda miring, tata letak sayap-badan yang lebar dan menyatu, serta susunan mesin ganda.

Selain pengembangan pesawat berawak, GCAP bertujuan untuk menghadirkan ekosistem pertempuran udara yang lebih luas yang menggabungkan sensor canggih, teknologi yang didukung kecerdasan buatan, dan kemampuan untuk beroperasi bersama sistem otonom dan tanpa awak.

Mock up GCAP dalam pameran DSEI 2025 (photo: Tim Robinson)

Pembicaraan awal ini konsisten dengan pendekatan Singapura yang telah lama diterapkan terhadap akuisisi pertahanan utama.

Alih-alih berkomitmen lebih awal pada suatu program, Kementerian Pertahanan Singapura (MINDEF) secara historis telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mengevaluasi teknologi, peluang industri, dan implikasi strategis jangka panjang sebelum membuat keputusan pengadaan.

Pendekatan itu terlihat jelas dalam perjalanan Singapura menuju akuisisi Lockheed Martin F-35.

22 Juli 2026

Leonardo, PT ESystem Solutions and the Indonesia MoD Sign Twelve M-346 F Block 20 Aircraft Procurement Contract to Meet Indonesian Air Force Training and Combat Requirements

22 Juli 2026

Indonesia signed contract for 12 M-346 F Block 20 aircraft (photos: Leonardo)

Farnborough,  Leonardo and PT ESystem Solutions Indonesia today announced the signing of a contract to provide the Ministry of Defence (MoD) of the Republic of Indonesia with 12 Leonardo M-346 F “Block 20” multirole light fighter aircraft to meet Indonesian Air Force operational requirements. The contract, which follows the Letter of Intent (LOI) announced in February this year, includes the localisation of a range of support, maintenance, overhaul and training capabilities as well as human capital development. Deliveries are expected to start in 2030.

The programme will provide a major contribution to the Indonesian MoD’s aircraft fleet modernization plan, leveraging the M-346 advanced technology and performance. The M-346 F Block 20 will provide multirole combat capabilities and enable advanced training for Indonesian pilots.   

Indonesia will be the 23rd user of the M-346. The contract also introduces the new “Block 20” standard in Asia, following Europe and North America. Just eight months after the first order, strong and rapid global demand for the latest version of the aircraft clearly demonstrates it is meeting customer requirements. 

The strong partnership with PT ESystem confirms Leonardo’s commitment to establishing solid, enduring collaborations, and to supporting the Indonesian aerospace and defence industry with significant localised benefits. 

Lorenzo Mariani, Leonardo CEO and General Manager said: “The introduction of the M-346 F in Indonesia provides clear evidence not only of the aircraft system's inherent quality but also of the country’s continued and yet growing trust in our capabilities across domains. We’re here to stay and further expand our contribution and engagement, in both established and new sectors, to deliver the level of technology the country requires in its long-term aerospace and defence development roadmap.”

The new M-346 F “Block 20” light fighter configuration standard will be equipped with cockpits featuring a Large Area Display (LAD), active electronically scanned radar, a Link 16 data-link, electronic countermeasures, and new weapons systems.  It offers a complete, integrated advanced flight training system, including a GBTS (Ground Based Training System) - combined simulated elements and scenarios with real flights according to a Live, Virtual and Constructive (LVC) logic - with additional light combat capabilities for air-to-air and air-to-surface missions, enabled by advanced mission systems, equipment, and sensors, including aerial refuelling capability.

The M-346 is the core element of a cutting-edge and continuously evolving advanced flight-training system that has already demonstrated its effectiveness: a success story that has logged over 170,000 hours in flight with over 170 aircraft ordered to date, enabling several air forces worldwide – including Asia - to train pilots for flying high-performance, latest generation fighters and to prepare transition towards the next-generation of ‘combat air systems’.

The M-346 system has been selected by 23 users to train their pilots, including at Italy’s International Flight Training School. It is also used to perform tactical operations as a light multirole fighter. Thanks to its high-performance capabilities and manoeuvrability, the M 346 has also been chosen by the Italian Air Force as the future aircraft for the “Frecce Tricolori”, Italy’s national aerobatic team.

(Leonardo)