Tampilkan postingan dengan label Kapal Pendarat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kapal Pendarat. Tampilkan semua postingan

24 Oktober 2026

National Reconstruction Fund Invests $245 million in Australian Shipbuilder Austal Limited to Help Strengthen Country’s Military Shipbuilding Capabilities

24 Oktober 2026

The 100 m LCH that will be constructed by Austal, based on the Damen LST100 design (image: Austal)

The National Reconstruction Fund Corporation (NRFC) is providing $245 million of debt to Austal Defence Shipbuilding Australia Pty Ltd (Austal Defence Australia (ADA)) to build an advanced manufacturing facility that will enable local production of Landing Craft Heavy (LCH) for the Australian Army at Western Australia’s Australian Marine Complex (AMC).

ADA is a subsidiary of Austal Limited (ASX: ASB), an Australia-based shipbuilder and Defence prime contractor that specialises in the design, construction and support of defence and commercial vessels. The Commonwealth of Australia (CoA) and ADA executed the Strategic Shipbuilding Agreement (SSA) in 2025, making ADA Defence’s Strategic Shipbuilder in Western Australia. 

Under the Agreement ADA has been contracted to manufacture eight Landing Craft Heavy (LCH) vessels by 2038. The LCH will be capable of transporting more than 500 tonnes of embarked personnel, vehicles and equipment by sea, including long-range precision strike weapons and other units. This will greatly enhance the Australian Defence Force’s littoral capability, and support humanitarian and disaster relief.

NRFC funding will be used to construct and fit out ADA’s AMC facilities with modular manufacturing capabilities to ensure delivery of the LCH project. 

Austal already employs around 1,200 people in Australia and NRFC investment in the LCH project is expected to create an additional 780 Western Australia based roles in skilled trades, engineering and advanced manufacturing. 

NRFC’s investment is subject to completion of finance documentation and satisfaction of conditions customary for a transaction of this nature.

(NRF)

11 September 2026

Prabowo Rencana Tambah Lebih Banyak Kapal-kapal LCM dan LCVP

11 September 2026

LPD KRI Semarang 594 (photo: Vovashap)

Jakarta (ANTARA) - Presiden Prabowo Subianto berencana menambah lebih banyak kapal-kapal berjenis kapal pendarat mekanis (LCM) dan kapal pendarat kendaraan dan personel (LCVP) mengingat Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki banyak gugusan pulau-pulau yang kecil.

Prabowo saat rapat terbatas (ratas) melalui sambungan video-conference di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, menjelaskan keberadaan kapal-kapal itu berguna untuk mengirimkan bantuan dan personel ke pulau-pulau kecil manakala daerah tersebut terdampak bencana.

"Catatan bagi kita, bagi Angkatan Laut ya, saya kira dari sekarang kita perlu pesan lebih banyak LCVP ya, dan LCM, saya kira kita butuh lebih banyak karena pulau-pulau kita banyak dan kecil-kecil, supaya (terbuka, red.) aksesnya," kata Presiden Prabowo Subianto saat memimpin rapat terbatas membahas penanggulangan bencana gempa di NTT.

Pembahasan mengenai rencana pembelian LCM dan LCVP itu diawali dengan permintaan tambahan kapal untuk kepentingan mitigasi bencana di NTT, yang disampaikan oleh Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena. Permintaan kapal itu kemudian dijelaskan lebih lanjut oleh Komandan Komando Daerah TNI Angkatan Laut (Kodaeral) VII Laksamana Muda (Laksda) TNI Joni Sudianto.

LCM LPD KRI Makassar 590 (photo: Kolinlamil)

"Saat ini, kami di Kodaeral VII ada dua kapal patroli, Pak. Namun, posisinya dua kapal tersebut ada di Surabaya. Kami mohon dapatnya ada paling tidak dua kapal patroli jenis FPB yang stand by di Kupang sehingga apabila terjadi sesuatu dan butuh bantuan kita bisa gerakkan dua kapal tersebut," kata Laksda Joni kepada Presiden.​​​​​​

Presiden langsung memerintahkan jajarannya untuk mencatat permohonan dari Dankodaeral VII tersebut. "Baik, ya tolong dicatat," ujar Presiden kepada jajarannya.

Presiden mengatakan pengerahan itu nanti berkoordinasi lebih lanjut dengan Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto.

"Ya nanti kita koordinasi dengan Panglima TNI ya. Di sini ada Kepala (Badan) Logistik (Pertahanan) nanti bisa dikirim ya? Jadi dua kapal patroli jenis FPB 57 ya. Itu cukup? Dua kapal itu cukup?" tanya Presiden ke Dankodaeral VII.

LCVP LPD KRI Banda Aceh 593 (photo: Kolinlamil)

Menurut Laksda Joni, dua kapal patroli FPB 57 cukup untuk kebutuhan mitigasi dampak bencana.

"Di NTT dan NTB sendiri kondisinya pulau-pulau kecil sehingga apabila kapalnya terlalu besar kesulitan untuk fasilitas labuhnya sehingga menurut kami dengan analisis operasional dua kapal FPB sudah cukup Bapak Presiden," ujar Dankodaeral VII menjawab pertanyaan Presiden.

Dalam rapat yang sama, Presiden juga menanyakan keberadaan LCM kepada Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali.

"Di LPD itu dua LCM, biasanya stand by di dalam LPD. Sekarang, ada KRI Semarang, kalau tidak salah dia ada di sana (perairan NTT, red.)," kata Laksamana Ali menjawab pertanyaan Presiden.

Ali menyebutkan total ada dua kapal yang bersiaga di perairan NTT, sekitar wilayah Manggarai, yaitu satu LPD, yaitu KRI Semarang-594 dan satu LST berjenis Frosch.

(AntaraNews)

03 September 2026

Soal Alutsista TNI yang Menua, Modernisasi Harus Diikuti Strategi Pensiun

03 September 2026

6 Fregat Ahmad Yani class, 2 unit sudah diganti Sigma 105, 2 unit diganti PPA dan 2 unit diganti dengan Arrowhead 140 (photo: TNI AL)

JAKARTA, KOMPAS.com - Pensiunnya KRI Ki Hajar Dewantara-364 menjadi gambaran bahwa modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) Indonesia tak hanya soal mendatangkan armada baru. 

Saat bersamaan, pemerintah juga harus menentukan kapan alutsista lama sudah tak lagi layak dipertahankan dan bagaimana mengakhiri masa pakainya. 

Komisi I DPR menyetujui rencana Kementerian Pertahanan (Kemenhan) melelang eks KRI Ki Hajar Dewantara-364 dalam rapat kerja bersama Kemenhan, Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Panglima TNI, dan Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL), Kamis (27/8/2026).

Kapal yang dibangun pada 1980 itu dinilai sudah tidak memenuhi persyaratan untuk menjalankan tugas pokok TNI AL.

Korvet Fatahillah class, 2 dari 3 kapal telah dilakukan Mid-life Upgrade (photo: TNI AL) 

Usianya juga telah melampaui masa manfaat ekonomis dan teknis.

Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Donny Ermawan Taufanto mengatakan, mempertahankan kapal tersebut justru akan menjadikannya dead stock karena sudah tidak memiliki manfaat operasional.

"Sudah tidak memiliki manfaat operasional akan menyebabkan aset tersebut menjadi dead stock, serta berpotensi menimbulkan biaya penyimpanan dan pemeliharaan tanpa memberikan manfaat yang sebanding," kata Donny saat rapat bersama Komisi I DPR. 

Persetujuan pelelangan diberikan setelah DPR menerima Surat Presiden (Surpres) Nomor R-33/Presiden/07/2026 tertanggal 14 Juli 2026. 

4 Kapal Cepat Rudal Mandau class sudah dipesankan KCR-70 dari Turki (photo: TNI AL)
 
Berkaca kasus KRI Ki Hajar Dewantara yang masuk usia tua kemudian dilelang, lantas seperti apa persoalan pengelolaan alutsista Indonesia selama ini?

Kapan tepatnya alutsista dikatakan sudah usia "uzur" dan siap dipensiunkan?

Usia 30 tahun dinilai mulai jadi titik evaluasi 
Pengamat pertahanan sekaligus Co-founder Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS), Dwi Sasongko, mengatakan usia pakai alutsista, khususnya kapal perang, dipengaruhi oleh dua hal utama, yakni kualitas perawatan dan perkembangan teknologi. 

Kapal yang dirawat dengan baik dapat memiliki usia operasional lebih panjang. Namun, kemampuan fisik kapal bukan satu-satunya ukuran kelayakan.

16 Korvet Anti Kapal Selam Parchim class penggantiinya menunggu keputusan (photo: TNI AL)

"Persoalannya bukan hanya apakah kapal masih bisa berlayar, tetapi untuk misi apa kapal tersebut masih layak digunakan," kata Dwi kepada Kompas.com, Sabtu (29/8/2026). 

Dalam Operasi Militer Perang (OMP), misalnya, kapal dituntut memiliki kemampuan yang sesuai dengan perkembangan teknologi peperangan modern. 

Salah satu faktor penting adalah sistem Command, Control, Communications, Computers, Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance (C4ISR).

Sebuah kapal mungkin masih mampu berlayar, tetapi apabila sistem elektronika, sensor, komunikasi, serta kemampuan integrasi datanya sudah tertinggal, efektivitasnya ketika beroperasi dalam sebuah gugus tugas juga ikut menurun. 

14 unit kapal FPB 57 class sudah diganti secara bertahap dengan KCR-60 (photo: TNI AL)

Dwi mengatakan, secara umum sekitar 30 tahun dapat menjadi patokan masa pakai optimal sebuah kapal perang. 

"Secara umum, 30 tahun dapat dijadikan patokan masa pakai optimal sebuah kapal perang," ungkapnya.

"Di atas usia tersebut kapal masih mungkin dioperasikan, tetapi kemampuan dan efektivitasnya biasanya akan menurun secara bertahap, tergantung kondisi kapal, tingkat perawatan, serta modernisasi yang dilakukan," lanjutnya.

Sebagian kapal TNI AL sudah di atas 30 tahun 
Persoalannya, kondisi alutsista TNI saat ini masih diwarnai sejumlah aset yang telah berusia sangat tua. 

14 unit Frosch class Landing Ship Tank tipe medium, belum ada penggantinya (photo: TNI AL)

Dwi mengatakan, riset ISDS menemukan sekitar 60 persen kapal TNI AL telah berusia lebih dari 30 tahun. 

"Rata-rata alutsista TNI sudah tua. Riset ISDS diantaranya pernah menemukan bahwa usia rata-rata kapal TNI AL 60 persen sudah di atas 30 tahun," beber Dwi. 

Bahkan, menurutnya TNI AL masih mengoperasikan KRI Teluk Amboina yang telah berusia sekitar 65 tahun.

Kondisi serupa juga ditemukan di matra lain. TNI AD, misalnya, masih mengoperasikan meriam Gunung M-48 kaliber 76 milimeter buatan Yugoslavia tahun 1948. 

12 unit LST besar buatan AS dan 6 unit LST buatan Korsel secara bertahap telah diganti dengan LST 117m dan juga kapal LPD (photo: Poros Nusantara) 
 
"Realitasnya, banyak kapal TNI AL sudah uzur. Karena itu, pemerintah perlu melihat persoalan ini secara lebih menyeluruh," ujar Dwi. 

Menurut dia, apabila biaya mempertahankan sebuah alutsista sudah terlalu besar dibandingkan kemampuan yang diberikan, pemerintah harus mulai mempertimbangkan opsi pensiun atau penggantian.

Begitu pula ketika kondisi teknisnya sudah tidak memenuhi standar keselamatan maupun tugas pokok. 

Pensiun alutsista melalui proses berlapis 
Keputusan memensiunkan alutsista juga bukan kewenangan satu lembaga saja.

3 kapal tanker telah selesai dibangun namun kapal tanker kecil tidak diteruskan dan kapal fleet tanker belum ada penggantinya (photo: Lakhtikov Dmitiy)

Dwi menjelaskan, prosesnya dimulai dari Kepala Staf Angkatan yang bersangkutan. Usulan tersebut kemudian diajukan kepada Panglima TNI. 

Panglima TNI selanjutnya meneruskan permohonan kepada Kemenhan untuk diproses lebih lanjut. 

Kemenhan berkoordinasi dengan Kemenkeu sebagai pengelola aset negara. Dokumen tersebut kemudian diteruskan kepada Presiden. 

Setelah itu, pemerintah dan Panglima TNI melakukan pembahasan bersama Komisi I DPR untuk mendapatkan persetujuan dalam proses pemindahtanganan atau penghapusan aset.

9 kapal penyapu ranjau kelas Kondor II telah datang penggantinya 2 unit dari Jerman (photo: Antara)

Dengan mekanisme tersebut, alutsista yang sudah tidak layak operasional tidak serta-merta bisa dihapus atau dijual. 

Ada proses administratif yang harus dilalui untuk memastikan status aset negara tersebut dapat dipertanggungjawabkan. 

KRI Ki Hajar Dewantara menjadi salah satu contoh bagaimana proses tersebut berjalan. 

Setelah dinilai tidak lagi memenuhi kebutuhan operasional dan telah melewati masa manfaat ekonomis maupun teknis, pemerintah mengajukan pemindahtanganannya melalui mekanisme lelang hingga akhirnya memperoleh persetujuan Komisi I DPR. 

BTR50 dan PT-76 Korps Marinir telah bertahap dibelikan LVT-7 dan BMP-3F namun jumlahnya belum mencukupi (photo: Antara)
 
Tak harus berakhir jadi besi tua 
Alutsista yang memasuki masa pensiun juga tidak selalu harus berakhir sebagai besi tua. 

Untuk aset tertentu yang memiliki nilai sejarah, pemerintah dapat mempertahankannya sebagai bagian dari museum, monumen, atau sarana pendidikan. 

Alutsista yang masih memiliki nilai guna tertentu juga dapat dialihfungsikan untuk kepentingan nonoperasional setelah melalui proses demiliterisasi dan perubahan status. 

Pilihan tersebut membuka kemungkinan agar aset yang sudah tidak layak digunakan untuk perang tetap memberikan manfaat. 

8 unit NC-212 seri angkut dan patroli maritim kini sebagian telah didatangkan dengan seri CN-235 (photo: Puspenerbal)

Namun, untuk aset yang sudah tidak memiliki nilai operasional maupun historis, pelelangan dapat menjadi pilihan.

Dwi menilai langkah pemerintah melelang eks KRI Ki Hajar Dewantara merupakan terobosan karena aset yang sudah tidak digunakan masih dapat memberikan nilai ekonomi bagi negara. 

"Selama ini, alutsista yang sudah tidak digunakan sering kali hanya dipotong-potong atau dijadikan sasaran tembak dalam latihan. Dengan mekanisme penjualan atau lelang, aset yang sudah tidak digunakan masih memiliki nilai ekonomi dan dapat memberikan penerimaan bagi negara," ujarnya. 

Jangan menunggu sampai benar-benar uzur 
Bagi Dwi, persoalan utama bukan hanya bagaimana menyelesaikan alutsista yang sudah pensiun, tetapi bagaimana pemerintah mengantisipasi masa pensiun tersebut sejak jauh hari.

KRI Cakra 401 telah dipesankan dua kapal selam Scorpene LIB namun karena selesainya lama dibutuhkan kapal selam interim (photo: Antara)

Alutsista yang mendekati akhir masa pakainya perlu dievaluasi secara berkala. 

Evaluasi mencakup kondisi teknis, sisa usia pakai, kemampuan operasional, kebutuhan modernisasi, hingga biaya pemeliharaan. 

Dari evaluasi tersebut, pemerintah dapat menentukan apakah sebuah alutsista masih layak dipertahankan, dimodernisasi, diperpanjang usia pakainya, atau mulai disiapkan untuk dipensiunkan. 

"Strateginya harus dimulai dari pemeliharaan yang disiplin dan perencanaan sejak dini," kata Dwi.

Korvet latih KRI Ki Hajar Dewantara 364, perhatikan bahwa sebagai kapal latih mempunyai 2 bridge (photo: TNI AL)

Menurut dia, anggaran pemeliharaan juga harus diawasi agar benar-benar digunakan sesuai peruntukan. 

"Anggaran pemeliharaan juga harus dijaga agar benar-benar digunakan sesuai peruntukannya dan tidak disalahgunakan oleh oknum, karena menyangkut langsung keselamatan prajurit dan kesiapan pertahanan," ujarnya. 

Alutsista yang sudah tua pun tidak boleh dipaksakan beroperasi di luar kemampuan teknisnya. 

Sebab, mempertahankan alutsista hanya demi mengejar jumlah justru dapat meningkatkan risiko kecelakaan dan kerusakan.


27 Agustus 2026

Singapore MINDEF Signs Contract to Acquire Two Landing Crafts

27 Agustus 2026


Vessels built by Penguin International shipyard (photo: Dymon Asia)

The Ministry of Defence (MINDEF) has signed a contract with Penguin International Limited to construct two landing crafts, intended to progressively replace the Republic of Singapore Navy’s (RSN) ageing Fast Craft Equipment and Personnel (FCEP) and Fast Craft Utility (FCU) vessels, which have been in service for more than 30 years.


 

The landing craft will be assessed for its suitability to meet the RSN’s operational requirements before any decision is made on the full replacement of the FCEP and FCU. This reflects MINDEF’s progressive approach towards capability development, ensuring that new platforms are rigorously evaluated before full fleet replacement.

 

Delivery of the craft is expected from 2029.


(RSN)

27 Juli 2026

Japan and Vietnam Discussed Joint Development and Joint Production of High-speed Landing Craft

27 Juli 2026

"Caimen Japan", the next-generation high-speed landing craft being developed by Japan Marine United and BMT for Japan's Self-Defense Force as the basis of their proposed joint project (image: BMT)

From July 12th to 15th, Vietnamese Deputy Prime Minister and Minister of National Defense Giang visited Japan for the first time in five years. During this visit, I had the opportunity to speak with him directly every day, not only through a defense ministerial meeting, but also through a stroll around the National Diet building grounds and a luncheon. 

It was an opportunity to further deepen my personal relationship of trust with Minister Giang. Furthermore, through the defense ministerial meeting and luncheon, we were able to exchange views on the regional situation and have concrete discussions on how to further develop defense cooperation. 

Between our two countries, various forms of cooperation are actively taking place in the land, sea, and air forces, including high-level exchanges and people-to-people exchanges through study abroad at the National Defense Academy, as well as mutual visits of troops, port calls of naval vessels and goodwill training, and capacity-building support. 

“Caimen-Japan Fast Landing Craft” (image: Japan Marine United Corporation)

Joint production of high-speed landing craft
We welcomed the progress of this cooperation and confirmed that we will further promote bilateral and multilateral cooperation, including in the fields of peacekeeping operations and cybersecurity, and contribute together to regional peace and stability. 

In addition, regarding defense equipment and technology cooperation, we agreed to start discussions toward realizing the joint development and joint production of high-speed landing craft under the leadership of myself and Minister Giang. We also confirmed that we will further strengthen our efforts, including promoting cooperation in the defense industry. 

Vietnam is an important partner in achieving peace and stability in the Indo-Pacific region. In the midst of an increasingly challenging international situation, it is important for both countries to further develop their comprehensive strategic partnership and to concretize cooperation in the security field. We will continue to work to further strengthen cooperation in the defense sector. That concludes my opening remarks.

16 Juli 2026

Kapal Pendaratan Buritan Baru Rancangan Australia Selesaikan Uji Coba Pedaratan di Pantai

16 Juli 2026

Kapal pendaratan buritan/stern landing vessel (SLV) yang akan digunakan oleh USMC (photos: Seatransport)

Sebuah kapal pendaratan buritan/stern landing vessel (SLV) baru yang dirancang oleh perusahaan naval architecture Australia, Seatransport, telah menyelesaikan uji coba pendaratan pantai awal bulan ini.

Kapal Matilda 1 sepanjang 73 meter melakukan manuver pendaratan dan lepas landas di Pantai Dundee, barat daya Darwin, menurunkan landasannya ke pantai dan mempertahankan posisinya. Kemudian, kapal tersebut berhasil lepas landas dan menuju ke laut dalam waktu kurang dari 60 detik.


Seatransport mengatakan bahwa ini adalah pendaratan pantai pertama di dunia untuk SLV yang dioptimalkan untuk penggunaan militer, dan bahwa pendaratan dan lepas landas juga membuktikan kemampuan SLV di lingkungan pesisir yang menantang di mana kondisi dasar laut dan arus pasang surut yang besar memengaruhi aksesibilitas untuk kapal pendaratan landasan haluan konvensional.

Kegiatan ini dilakukan dengan personel Korps Marinir AS di atas kapal dan diamati oleh anggota Australian Defence Force (ADF).


Seminggu sebelumnya, Matilda 1 berhasil melewati uji coba sandar kering di dataran lumpur bakau Hudson Creek, sebuah jalur air muara di Darwin.

Seatransport menyatakan bahwa, selama kegiatan pendaratan di pantai dan penambatan di tempat kering, desain lambung tiga lapis SLV melindungi perlengkapan buritan dan mencegah efek hisap lambung yang memengaruhi kapal pendaratan berlandasan datar konvensional.

Kapal LSV Matilda 1 ini meskipun didesain oleh Seatransport, Australia namun pembuatannya dilakukan di galangan kapal PT Karimun Anugrah Sejati, Indonesia (infographic: Seatransport)

Matilda 1 akan dioperasikan berdasarkan perjanjian sewa tiga tahun dengan Korps Marinir AS, terutama di wilayah Asia-Pasifik.

15 Juni 2026

KRI Teluk Sangkulirang-542 Pasca Re-Powering Bertugas Kembali di Koarmada II

15 Juni 2026

KRI Teluk Sangkulirang 524 (TSR) ketika bersanda di Lanal Mamuju (photo: Kabarsulbar)

TNI AL. Koarmada II -- Panglima Komando Armada II (Pangkoarmada II) Laksda TNI I G. P. Alit Jaya, S.H., M.Si., menerima kunjungan Sekretaris Dinas Material TNI Angkatan Laut (Sekdismatal) Kolonel Laut (T) Hindarto di Ruang Kerja Pangkoarmada II, Kamis (11/6). Kunjungan tersebut dilaksanakan dalam rangka penyerahan KRI Teluk Sangkulirang-542 yang telah selesai menjalani program re-powering oleh Dinas Material TNI Angkatan Laut guna meningkatkan kesiapan operasional kapal dalam mendukung tugas-tugas TNI Angkatan Laut.

Peninjauan ke KRI KRI Teluk Sangkulirang 524 (photos: Koarmada II)

Usai pertemuan, kegiatan dilanjutkan di geladak KRI Teluk Sangkulirang-542 yang sandar di Dermaga E Koarmada II dengan pelaksanaan tasyakuran atas selesainya program re-powering. Kegiatan tersebut menjadi ungkapan rasa syukur sekaligus simbol keberhasilan proses peningkatan kemampuan sistem penggerak kapal yang diharapkan mampu meningkatkan kesiapan dan keandalan unsur dalam mendukung pelaksanaan operasi di laut.


Pada kesempatan tersebut, Kaskoarmada II Laksma TNI Agam Endrasmoro, bersama Sekdismatal melaksanakan peninjauan langsung terhadap kondisi KRI Teluk Sangkulirang-542 pasca re-powering. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Aslog Pangkoarmada II Kolonel Laut (T) Rudi Hermawan, dan para Kepala Satuan Kerja Koarmada II. Dengan selesainya program re-powering, KRI Teluk Sangkulirang-542 diharapkan semakin siap melaksanakan berbagai tugas operasi dan memperkuat kemampuan Koarmada II dalam menjaga kedaulatan serta keamanan wilayah perairan Indonesia.

20 April 2026

Eks KRI Teluk Hading-538 Akan Jadi Sasaran Tembak Rudal di Latopslagab 2026

20 April 2026

KRI Teluk Hading 538 (photo: TNI AL)

Suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti Dermaga Baru Kodaeral VI Siang ini. Di bawah langit biru yang saksi bisu pengabdiannya, Komandan Komando Daerah TNI Angkatan Laut VI (Komandan Kodaeral VI) Laksamana Muda TNI Andi Abdul Aziz, S.H., M.M secara resmi memimpin tradisi pelepasan dan penghormatan terakhir bagi Eks Kapal Perang KRI Teluk Hading-538, kapal angkut tank legendaris ini  kini purnatugas dari jajaran alutsista TNI Angkatan Laut. Kamis (16/04/2026)

Tradisi TNI AL ini bukan sekadar seremoni perpisahan, melainkan bentuk apresiasi tertinggi atas dedikasi tanpa batas yang telah ditunjukkan oleh kapal perang ini selama puluhan tahun menjaga kedaulatan NKRI. Eks KRI Teluk Hading-538 dikenal tangguh, melintasi ribuan mil laut dalam berbagai operasi militer, misi kemanusiaan, hingga pengangkutan logistik ke pelosok negeri.

Komandan Kodaeral VI menyampaikan Penghormatan terakhir diberikan melalui jajar kehormatan sebagai simbol rasa hormat kepada "Sang Veteran Samudera". Kepergian Eks Kapal Perang KRI Teluk Hading-538 dari dermaga Kodaeral VI menandai akhir dari sebuah era, namun sejarah kegagahannya akan selalu tercatat dalam tinta emas sejarah maritim Indonesia.

"Selamat jalan, Eks Kapal Perang KRI Teluk Hading-538. Terima kasih atas darma baktimu. Jalesveva Jayamahe", ucap Komandan Kodaeral VI

Sasaran tembak rudal di Latopslagab 2026
Eks Kapal Perang KRI Teluk Hading-538 nantinya akan ditarik oleh Kapal Perang Republik Indonesia Leuser-924 menuju lautan lepas untuk dijadikan sasaran tembak dalam Latopslagab (Latihan Operasi Laut Gabungan) TNI AL Tahun 2026 guna menguji kesiapan tempur alutsista dan meningkatkan profesionalisme prajurit. 

Dalam momen yang penuh nilai heroik ini, Komandan Kodaeral VI didampingi oleh jajaran pejabat teras Kodaeral VI, di antaranya Wadan Kodaeral VI Laksamana Pertama TNI Dr. Arya Delano, S.E., M.Pd., M.Han, Para Pejabat Utama (PJU) Kodaeral VI, Dansatlinlamil-3, Para Kadis/Kasatker Kodaeral VI, Para Staf Inspektorat Kodaeral VI, dan Para Sahli Poksahli Kodaeral VI serta tim merpluq Kodaeral VI.

29 Maret 2026

DBM Filipina Keluarkan Pendanaan untuk Kapal OPV dan LCU

29 Maret 2026

Filipina memesan 6 kapal OPV kelas BRP Rajah Sulayman (PS-20) (image: PDE)

Kapal Patroli Lepas Pantai/Offshore Patrol Vessel (OPV) Project
Modernisasi Angkatan Laut Filipina semakin diperkuat setelah Department of Budget and Management (DBM) mengeluarkan Surat Perintah Alokasi Khusus/Special Allotment Release Order (SARO) lainnya pada 23 Maret 2026 untuk Proyek Akuisisi Kapal Patroli Lepas Pantai (OPV).

Dana baru yang dialokasikan untuk proyek ini, yang dianggap sebagai pembayaran tonggak kelima, mencapai ₱5,79 miliar. Ini menunjukkan dukungan berkelanjutan pemerintah untuk pengembangan kemampuan angkatan laut kita.

Total dana yang telah dikeluarkan adalah ₱20,52 miliar dari total kontrak ₱30 miliar, atau hampir 75%. Ini berarti masih ada ₱9,48 miliar yang diharapkan akan dikeluarkan dalam beberapa tahun mendatang, yang difokuskan pada fase akhir proyek. Targetnya adalah menyelesaikan dan mengirimkan enam kapal pada tahun 2028.

Seiring berlanjutnya pendanaan, konstruksi dan pengiriman aktual juga terus berjalan. Kapal pertama, BRP Rajah Sulayman (PS-20), sudah beroperasi, sedangkan BRP Rajah Lakandula (PS-21) saat ini sedang menjalani uji coba laut dan akan segera dikirim ke negara ini. Meskipun kapal-kapal ini merupakan kapal multi-peran yang akan menggunakan peralatan misi dalam kontainer. Tiga dari kapal-kapal ini mungkin akan fokus pada peperangan anti-kapal selam dengan sonar array yang ditarik. (PDE)

LCU untuk kapal LPD (photo: Tesco)

Kapal Pendaratan Serbaguna (Landing Craft Utility/LCU)
Department of Budget and Management (DBM) mengeluarkan SARO (Special Allotment Release Order/Perintah Alokasi Khusus) untuk Proyek Akuisisi Kapal Pendaratan Serbaguna (LCU) Angkatan Laut Filipina pada Maret 2026.

Dengan nilai alokasi sebesar ₱320 juta, proyek ini sekarang memasuki fase pengadaan,  Angkatan Laut telah lama membutuhkan LCU untuk operasi amfibi dan logistik.

Berdasarkan berita sebelumnya, ini terkait dengan pembelian kapal yang lebih besar seperti LPD (Landing Platform Dock).

Pendanaan sebenarnya baru saja diamankan. Belum ada kontraktor resmi (belum melalui proses tender), tetapi ini adalah beberapa kandidat yang mungkin:
-Pembuat Kapal Lokal Filipina
Negara ini sudah memiliki preseden dalam membangun LCU (kelas Tagbanua). Kemungkinan membeli secara lokal atau membangun secara lokal + desain asing.

-Indonesia (PT PAL)
Membangun kapal kelas Tarlac dan kapal amfibi lainnya untuk Angkatan Laut. Salah satu kandidat terkuat karena kemitraan yang sudah ada.

(PDE)

08 Maret 2026

Austal Contracts Damen as Partner for Local Construction of LST 100 Vessels for the Australian Army

08 Maret 2026

Damen Landing Ship Transport (LST) 100 (image: Damen)

On Friday, 20 February, Austal Defence Australia and Damen Shipyards Group signed a contract supporting the local construction of Landing Ship Transport (LST) 100 vessels for the Australian Defence Force. Under the agreement, Damen will provide the design and associated licences, enabling Austal to build the vessels at its Henderson shipyard in Western Australia.

The signing ceremony took place at the Australian Marine Complex Common User Facility (AMC CUF) in Henderson and was attended by representatives from industry and government, reflecting the importance of the programme for Australia’s defence and industrial capability.

The contract follows the Commonwealth of Australia’s announcement in November 2024 selecting the LST 100 as the preferred design for the Australian Defence Force’s Landing Craft Heavy (LCH) programme, following a competitive tender process.

Proven and trusted design

The LST 100 design was selected based on its proven operational credentials and successful service history. An earlier model has already been constructed and delivered, and its performance has contributed to further international adoption, including selection by NAVSEA for the United States Navy.

In recent years, defence organisations have increasingly adopted proven and in-service vessel designs as a means of reducing programme risk and accelerating delivery schedules. By building on established platforms with a demonstrated operational track record, defence organisations are able to minimise technical uncertainties, shorten development timelines, and focus on rapid capability deployment.

For Australia, the vessels will be built by Austal as part of the company’s fifteen-year Strategic Shipbuilding Agreement with the Commonwealth of Australia. A total of eight Landing Craft Heavy vessels will be delivered over a twelve-year period, with construction scheduled to commence later this year.

The vessels will be constructed in Henderson using Austal facilities and the AMC CUF, located 23 kilometres south of Perth. The complex, which already plays an important role in supporting the local economy, is undergoing major upgrades in order to be able to facilitate large-scale defence shipbuilding projects in the coming years.

Damen representatives at Henderson Shipyard, Western Australia before The Land 8710 Landing Craft Heavy (LCH) contract signing ceremony (photo: Aus DoD)

Strengthening littoral capabilities

The Landing Craft Heavy program supports the Australian Army’s contribution to the 2024 National Defence Strategy, which includes enhancing the Army’s ability to conduct agile, distributed and littoral operations as part of an integrated force. The new vessels will help enable Army to project, sustain and support land forces across Australia’s northern approaches and wider region, contributing to a more responsive and resilient national defence posture. 

Damen is proud to bring our expertise and craftsmanship to this Australian shipbuilding project, which will enhance capability, support sustainability, drive regional development, and strengthen the Australian Defence Force’s littoral capabilities. 

Wide-ranging operational role

Each vessel, measuring 100 metres by 16 metres, will be capable of transporting more than 500 tonnes of military vehicles and equipment. In addition to supporting amphibious operations, the ships will enable deployment, sustainment, logistics movements, humanitarian assistance, and disaster relief missions.

Building a strong partnership

Damen Regional Director Oceania Rabien Bahadoer said: “It has been a pleasure to work closely with Austal throughout this process. By maintaining an open, transparent, and constructive partnership, we have been able to establish a strong basis for a programme that delivers lasting value for Western Australia and Australia’s defence capability.”

Speaking at the signing ceremony, Damen Area Director Asia Pacific Michiel Hendrikx added: “We are grateful for the opportunity to work alongside Austal and our Australian partners on this important programme. Around the world, we actively seek long-term cooperation with strong local shipbuilders and industrial partners, combining shared expertise, mutual respect, and a commitment to quality. This approach allows us to contribute to sustainable national shipbuilding ecosystems while learning from our partners and growing together. We are confident that this collaboration will support the Australian Army’s operational needs for many years to come, and we are proud to be part of Australia’s shipbuilding future.”

(Damen)

21 Februari 2026

Austal Awarded ~$4 billion Landing Craft Heavy Contract by Australia

21 Februari 2026

Eight, 100 metre Landing Craft Heavy vessels will be constructed by Austal in Henderson, Western Australia, based on the Damen LCT100 design (image: Austal)

Austal Limited (ASX: ASB) is pleased to announce that, in accordance with the announcements from the Deputy Prime Minister and Minister for Defence, the Hon. Richard Marles, and the Hon. Pat Conroy, Minister for Defence Industry, earlier today, Austal Defence Shipbuilding Australia Pty Ltd (Austal Defence Australia) has been awarded a ~$4 billion contract for the construction of eight Landing Craft Heavy (LCH) vessels, under the Strategic Shipbuilding Agreement (SSA) with the Commonwealth of Australia. Following the Minister’s announcement, the contract will be executed later today at Henderson; Austal will confirm its execution in a separate short announcement to the ASX thereafter.

Construction of the 100 metre Landing Craft Heavy vessels, based on the Damen LST100 design, will be undertaken using Austal facilities and the Common User Facility at Henderson in Western Australia. Construction is scheduled to commence in 2026, with the eighth and final vessel scheduled for delivery to the Commonwealth in 2038. 

Austal Limited Chief Executive Officer, Paddy Gregg, said the award of the Landing Craft Heavy contract to Austal Defence Australia under the Strategic Shipbuilding Agreement reinforced the company’s position as the Commonwealth of Australia’s sovereign shipbuilder and a trusted partner to the Australian Defence Force. This contract generates a record order book for Austal, provides a long-term demand signal for our supply chain, and provides the incentive to invest in uplifting our capability. 

“This contract represents another significant investment in Australia’s sovereign shipbuilding capability - and Austal Defence Australia is ready to deliver these highly capable vessels to support the ADF’s operational requirements,” Mr Gregg said. 

The construction of eight Landing Craft Heavy (LCH) will be held at Henderson Shipyard, Western Australia (WA) (photo: Aus DoD)

“Constructing the Landing Craft Heavy vessels at Henderson will create and develop thousands of new, skilled jobs in Western Australia and provide further opportunities for the local defence industry supply chain - Paddy Gregg, Austal Limited CEO

“While Austal’s US business has traditionally accounted for a large share of our defence order book in recent years, this contract reflects the growing strength and success of Austal’s Australian operations — and Australian industry — within the national shipbuilding and sustainment enterprise. This LCH construction contract balances out the split and provides greater geographic diversity of earnings. It also provides earnings and employment stability for the next 12 years.” 

Austal Defence Australia Executive General Manager – Strategic Shipbuilding, Gavin Stewart said Landing Craft Heavy was the second major construction contract awarded under the Strategic Shipbuilding Agreement, following the award of the $1.029 billion Landing Craft Medium design and build contract in December 2025. 

“With Landing Craft Medium and Landing Craft Heavy contracts now underway, there are outstanding opportunities for people and businesses to engage with Austal Defence Australia, and our industry and supply chain partners, to help deliver new capability for Australia. Austal Defence Australia is looking forward to expanding and developing the industrial capabilities at Henderson and beyond, into a reliable shipbuilding enterprise to support the Commonwealth’s objectives of sovereign shipbuilding capability. 

Each LST100 vessel will be able to carry up to 500 tonnes of military equipment including Abrams MBTs, HIMARS, Boxer CRVs and Redback IFVs (image: Aus DoD)

“These Programs under the Strategic Shipbuilding Agreement represent decades of continuous naval shipbuilding work, to be delivered here in Western Australia,” Mr Stewart said. 

The Landing Craft Heavy (LCH) vessels will provide the Australian Defence Force with a critical maritime capability, supporting amphibious operations, logistics, humanitarian assistance and disaster relief across Australia’s region of interest.

Key specifications: 
-Length: Approximately 100 metres (approx. 328-330 ft) 
-Beam (Width): 16 metres (52 ft 6 in) 
-Displacement: Approximately 3,900 - 4,000 tonnes 
-Capacity Examples: Over 200 embarked soldiers, plus 6 x M1A2SEP3 Abrams Tanks or 9 x Redback Infantry Fighting Vehicles 

Austal also notes that in addition, Austal USA is presently constructing up to 12 smaller Landing Craft Utility vessels for the US Navy at its Mobile, Alabama, US shipyard. 

01 Februari 2026

Kemhan Serahkan Kembali KRI Teluk Kupang-519 ke TNI AL Usai Perbaikan Intensif

01 Februari 2026

Serah terima kembali Kapal LST KRI Teluk Kupang-519 (photos: Kemhan)

Jakarta – Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Kemhan RI) secara resmi menyerahkan kembali KRI Teluk Kupang-519 (KRI TKP-519) kepada TNI Angkatan Laut usai menjalani perbaikan platform secara intensif. Acara serah terima dipimpin oleh Sekretaris Badan Logistik Pertahanan (Ses Baloghan) Kemhan, Laksamana Muda TNI Mochamad Taufiq Hidayat, yang mewakili Kepala Badan Logistik Pertahanan (Kabaloghan) Kemhan, Marsekal Madya TNI Yusuf Jauhari, di Dermaga Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (23/1/2026).


Dalam sambutan Kabaloghan Kemhan yang dibacakan oleh Ses Baloghan, mengapresiasi sinergi antara Kemhan, TNI AL, industri pertahanan dalam negeri, dan PT Tesco Indomaritim. Perbaikan yang dilakukan mencakup sektor vital, mulai dari sistem bangunan kapal, pendorong, kelistrikan, keselamatan, hingga akomodasi prajurit. Langkah ini merupakan upaya strategis untuk memastikan alutsista Indonesia selalu dalam kondisi prima.


“Kami berharap hasil perbaikan ini dapat mengembalikan performa KRI TKP-519 ke kondisi optimal, sehingga mampu mendukung pelaksanaan tugas-tugas strategis TNI AL dan memperkuat postur pertahanan laut Indonesia di berbagai medan penugasan,” ujar Ses Baloghan dalam sambutan Kabaloghan Kemhan.


Lebih lanjut, Kemhan berpesan kepada seluruh Anak Buah Kapal (ABK) KRI TKP-519 untuk senantiasa merawat kapal ini agar memiliki usia pakai yang panjang dan selalu siap tempur menjaga kedaulatan NKRI. Rangkaian acara diakhiri dengan peninjauan langsung (ship tour) oleh jajaran pejabat Kemhan dan TNI AL ke berbagai sektor kapal untuk memverifikasi hasil perbaikan. Dengan kembalinya KRI TKP-519 ke jajaran armada, diharapkan semangat Jalesveva Jayamahe semakin kokoh di lautan Nusantara.

19 Desember 2025

Austal Defence Australia Awarded Landing Craft Medium Design and Build Contract

19 Desember 2025

Austal will build 18 Landing Craft Medium (LCM) for Australian Army (image: Austal)

Austal Limited (ASX: ASB) is pleased to announce that it has been awarded a $1.029 billion Design and Build Contract for Landing Craft Medium (LCM) under the Strategic Shipbuilding Agreement (SSA) signed with the Commonwealth of Australia. 

The LCM Design and Build Tasking Statement Contract appoints Austal subsidiary, Austal Defence Shipbuilding Australia Pty Ltd (Austal Defence Australia), to complete the detailed design and build 18 Landing Craft Medium (LCM) vessels at Austal’s Henderson, Western Australia, shipyard. Construction of the first LCM is scheduled to commence in 2026 with the 18th and final vessel scheduled for delivery in 2032. 

The LCM, being built for the Australian Army, will be manufactured in steel and capable of projecting loads up to 80 tonnes. 

Austal Limited CEO Paddy Gregg said the first design and build contract awarded under the SSA was a significant milestone for Austal Defence Australia, as the Commonwealth’s Strategic Shipbuilder in Western Australia. 

“This Landing Craft Medium design and build contract awarded to Austal Defence Australia is 

the first vessel construction program in the Government’s commitment to delivering continuous 

naval shipbuilding at Henderson, Western Australia, enlivening decades of opportunity for 

individuals and businesses to engage, collaborate and invest in defence programs. With these 18 Landing Craft Medium and any further vessels planned as part of the Strategic Shipbuilding pilot program, we are developing the shipbuilding capability to build larger, more complex vessels, in Henderson into the future and delivering sovereign shipbuilding capability for Australia."

Paddy Gregg, CEO, Austal Limited

Austal Defence Australia Executive General Manager – Strategic Shipbuilding, Gavin Stewart, said local industry was ready to deliver for the Australian Army.

“The Austal Defence Australia team, and our industry and supply chain partners in the Henderson Defence Precinct, across Western Australia and around the nation, are ready to deliver this important new amphibious capability for the Australian Army.”

Gavin Stewart, Executive General Manager – Strategic Shipbuilding, Austal Defence Australia.

(Austal)