Tampilkan postingan dengan label TNI-AD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TNI-AD. Tampilkan semua postingan

02 Agustus 2026

Kogabwilhan I dan Pasmar 1 Kembangkan Drone Serbu Otomatis

02 Agustus 2026

Drone serbu otomatis hasil kolaborasi Kogabwilhan I dan Pasmar 1 (photos: PasMar1)

Komando Gabungan Wilayah Pertahanan I (Kogabwilhan I) bersama Pasmar 1 berkolaborasi mengembangkan drone serbu otomatis sebagai inovasi teknologi pertahanan. Alutsista ini rencananya akan diuji pada Latihan TNI Terintegrasi 2026 di Dabo Singkep, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau.


Pengembangan drone ini ditujukan untuk mendukung operasi di medan sulit dijangkau, mempercepat respons terhadap sasaran, dan mengoptimalkan teknologi modern bagi prajurit. Uji coba difokuskan pada keandalan sistem, mobilitas, dan efektivitas di berbagai medan dengan melibatkan unsur darat, laut, dan udara.


Pangkogabwilhan I Letjen TNI Kunto Arief Wibowo bersama Danpasmar 1 Mayjen TNI (Mar) Ili Dasili, S.E., meninjau langsung uji coba di Lapangan Tembak Jusman Puger, Kesatrian Marinir Hartono Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu (29/07/2026). Kolaborasi ini wujud sinergi modernisasi pertahanan untuk meningkatkan kesiapan operasional prajurit menghadapi tantangan tugas yang dinamis.

24 Juli 2026

Helikopter Mi-17V5 TNI AD Laksanakan Muatan Gantung (Sling Load)

24 Juli 2026

Mi-17V5 TNI AD latihan sling load (photos: Skadron 31/AYC)

Latihan sling load merupakan bagian penting dalam menjaga kesiapan awak dan alutsista untuk mendukung mobilitas logistik serta berbagai misi operasi. 

Setiap prosedur dilaksanakan dengan standar keselamatan tinggi demi tercapainya keberhasilan tugas.

Skadron Udara 31/Amur Yudha Cakti (atau Skadron 31/Serbu) merupakan skadron udara dibawah kendali Pusat Penerbangan Angkatan Darat yang bermarkas di Lanumad Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah. 

Skadron 31/Amur Yudha Cakti selain berperan sebagai satuan penerbangan TNI Angkatan Darat dalam Operasi Militer Perang (OMP), juga berperan dalam Operasi Militer Selain Perang (OMSP).

(Skadron 31/AYC | Wiki)

16 Juli 2026

Kunjungan Danpuspenerbad ke Skadron 31/AYC Dalam Rangka Operasional Alutsista Baru

16 Juli 2026

Helikopter brand news Puspenerbad Mi-17V5 nomor HA-5234 dan HA-5235 (photos: Skadron 31/AYC)

Dalam rangka meningkatkan kesiapan dan keselamatan operasional penerbangan, Komandan Pusat Penerbangan TNI Angkatan Darat (Danpuspenerbad) melaksanakan kunjungan kerja yang dirangkaikan dengan doa bersama sebagai wujud ikhtiar memohon perlindungan dan keselamatan bagi seluruh personel serta Alutsista helikopter yang baru.

Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat nilai-nilai keimanan, kebersamaan, dan profesionalisme dalam mendukung tugas pokok Penerbad. Dengan harapan, setiap pelaksanaan operasi penerbangan senantiasa diberikan kelancaran, keamanan, serta keberhasilan dalam mengemban setiap tugas demi kepentingan bangsa dan negara.


Proff Flight Helikopter Mi-17V5 No HA-5234 & HA-5235
Dalam rangka mendukung kesiapan pelaksanaan tugas operasi, Helikopter Mi-17V5 HA-5234 dan HA-5235 melaksanakan Proof Flight sebagai bagian dari tahapan untuk memastikan kesiapan alutsista dalam mengemban berbagai misi penerbangan.

Pelaksanaan kegiatan ini mencerminkan komitmen Penerbad TNI Angkatan Darat dalam menjaga profesionalisme, kesiapan operasional, serta keselamatan terbang, sehingga setiap alutsista senantiasa siap digerakkan kapan pun dan di mana pun negara memanggil.

Dengan semangat “Mental Juara”, Skadron-31/Amur Yudha Cakti terus berkomitmen menghadirkan kemampuan terbaik dalam mendukung setiap tugas operasi demi menjaga kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Skadron 31/AYC)

08 Juli 2026

Gandeng NVLS, Pindad Jalin Kemitraan Kembangkan Night Vision Googles

07 Juli 2026

Kerjasama Pindad-NVLS meliputi produksi lokal dan pengembangan NVG monokular dan binokular (photo: Pindad)

PT Pindad (Persero), manufaktur pertahanan terkemuka di Indonesia menjalin kemitraan dengan Nightvisions Lasers Spain (NVLS), produsen sistem penglihatan malam terkemuka dari Eropa untuk produksi lokal dan pengembangan Night Vision Googles (NVG) monokular dan binokular. Kerja sama ini diresmikan melalui penandatanganan Technical Assistance and Commercial Collaboration Contract oleh Direktur Teknologi, Pengembangan dan Manajemen Risiko (Dirtekbang & MR), Prima Kharisma yang mewakili Direktur Utama Pindad dan CEO NVLS, Jorge de la Torre pada Eurosatory, 15 Juni 2026 di Paris, Perancis. 

Kerja sama antara Pindad dan NVLS meliputi produksi lokal dan alih teknologi dalam manufaktur NVG, serta dukungan teknis NVLS. Kemitraan ini akan memperkuat kapabilitas nasional Indonesia di bidang penglihatan malam serta meningkatkan kapasitas Pindad dalam memenuhi kebutuhan operasional TNI yang terus berkembang.

Dirtekbang & MR, Prima Kharisma menegaskan komitmen Pindad untuk terus berinovasi dan memperkuat kerja sama strategis untuk mendukung kemandirian industri pertahanan nasional. "Sebagai industri pertahanan dalam negeri, Pindad berkomitmen untuk dapat mendukung kebutuhan alpalhankam TNI di berbagai operasi, melalui inovasi dan kerja sama strategis. Kerja sama ini juga akan meningkatkan kompetensi kita sebagian bagian dari upaya mewujudkan kemandirian industri pertahanan nasional," ujar Prima. 


Produk NVG ini dapat meningkatkan fleksibilitas operasi dengan menyediakan kemampuan penglihatan malam  hari dan deteksi cahaya rendah yang canggih bagi operasi yang dilaksanakan di lingkungan dengan kondisi visual yang terbatas atau terdegradasi. Sebagai produsen alpalhankam nasional, Pindad akan dapat menawarkan kepada TNI platform persenjataannya yang telah dilengkapi dengan kemampuan penglihatan malam modern sesuai kebutuhan operasi pada malam hari maupun dalam kondisi minim cahaya.

NVLS merupakan produsen NVG dan  malam terkemuka di dunia dengan sistem penglihatan malam canggih yang diakui secara global, dengan produk yang sudah digunakan oleh berbagai institusi pertahanan dan keamanan di Eropa serta pasar internasional lainnya. Produk NVLS menawarkan bidang pandang (field of view) yang lebih luas, yaitu 52°, dibandingkan dengan 40° yang umumnya terdapat pada NVG konvensional, sehingga memberikan kesadaran situasional yang lebih baik bagi personel yang beroperasi di lapangan. 

Melalui kerja sama ini Pindad diharapkan dapat mendukung operasional TNI dalam berbagai kondisi serta meningkatkan kapabilitas produksi alpalhankam nasional dalam bidang sistem penglihatan malam dan deteksi cahaya rendah yang canggih.

23 Juni 2026

CSG Presented the Trident Multi-layered Air Defence System at Eurosatory 2026

23 Juni 2026

In April 2026 CSG recorded contracts for the delivery of air defense systems worth nearly $2.5 billion for customers in Southeast Asia, could be Indonesia (photo: CSG)

The industrial and technology group CSG, together with its partners, presented the new Trident multi-layered air defence system at the international defence and security technology trade fair Eurosatory 2026 in Paris. The system is designed to protect military formations, strategic facilities and larger territorial units against a broad spectrum of aerial threats, including aircraft, helicopters, guided missiles, unmanned aerial vehicles and other types of targets.

The Trident system is designed as a modular short-, medium- and long-range air defence system. Its specific configuration may vary depending on the customer’s operational requirements. In addition to surface-to-air guided missiles, the system can also integrate assets using gun-based weapon systems, systems designed to counter drones and other unmanned aerial vehicles, as well as electronic warfare or jamming elements.

“The presentation of the Trident system at Eurosatory is proof of the continued development of our capabilities in the field of air defence. CSG Group has long demonstrated that it is able to execute complex international projects, integrate cutting-edge technologies from its own companies and foreign partners, and offer customers tailor-made solutions including financing, logistics and long-term support,” said Viktor Loužil, CSO at Excalibur International, which plays a main role within CSG group in the field of air defence systems.

Trident Multi-layered Air Defence System (photo: DefenseMagz)

A multi-layered air defence system as the result of international cooperation
Several companies from CSG Group, as well as a traditional foreign partner, are involved in the production and integration of the Trident system. Excalibur International is the architect and main integrator of the system and offers it to its customers worldwide. Retia manufactures radars for the Trident system and also supplies the command and control system. Tatra Trucks provides the Tatra Force chassis platforms on which the individual elements of the system are mounted. Tatra Defence is responsible for the development and production of armoured cabins for Tatra Force platform, superstructures and launcher systems for surface-to-air missiles. Cooperation’s strategic partner, Roketsan of Türkiye, supplies state of the art short-, medium- and long-range surface-to-air air defence missiles and launching structures.

This cooperation has created a solution that combines the experience of the Czech defence industry in vehicle platforms, radar technologies, system integration and command and control systems with the missile technologies of the Turkish strategic partner. A similar model of cooperation has already proven successful in previous Excalibur International projects, where Czech companies supplied, among other things, radars and Tatra chassis and played a key role in system architecture and integration.

In its standard configuration, the Trident system uses various types of surface-to-air missiles covering ranges up to 100 km utilizing IIR and Active RF Seekers. Thanks to this combination, the system can create a multi-layered air defence solution against various types of targets and respond to the changing conditions and requirements of the modern battlefield.


A Trident system battery includes several specialised vehicles on Tatra platforms. These include the FCC – Fire Control Center system in the form of the modular ReCUBE platform; the MLV – Missile Launching Vehicle; the MRV – Missile Reloading Vehicle; cutting-edge mobile 3D AESA radars ReSAURION – RSB21 with a range of 200 km and RSB41 with a range of 470 km; and the MSV – Maintenance Support Vehicle. In an expanded configuration, the Trident system can also be enhanced with C-UAS elements for protection against drones, such as the ReGUARD radar, gun-based weapon systems with airburst ammunition, and C-UAS interceptors, which are miniature surface-to-air guided missiles whose task is to kinetically engage enemy drones and thereby conserve the powerful surface-to-air missiles of the basic configuration.

Mobile reconnaissance, command, control and communication centre
The basic element of the Trident air defence system is the modular ReCUBE platform, developed and manufactured by Retia. ReCUBE is a mobile command, control and communication centre that provides integrated real-time control of the Trident system’s sensors, such as radars, electro-optical search and targeting elements, and effectors, such as surface-to-air launch platforms and gun-based weapon systems, using optical, radio and ground data links.

ReCUBE mobile command, control and communication centre of Trident (photo: EDR Magz)

ReCUBE integrates state-of-the-art technologies for air reconnaissance, command, control and communication. The platform supports both standard and classified operating modes and meets strict requirements for electromagnetic compatibility, EMC, and protection against weapons of mass destruction. The architecture of the ReCUBE platform also enables its operational deployment not only within the Trident system, but also at other levels of air defence command, both tactical and strategic.

Excalibur International’s business successes in air defence systems
Trident builds on Excalibur International’s long-term activities in the field of complex air defence systems. In recent years, the company has been particularly successful in Southeast Asian markets, where it is carrying out major air defence projects. These experiences were followed by additional business contracts announced in April 2026, when Excalibur International concluded contracts in Southeast Asia worth nearly USD 2.5 billion for the supply of several batteries of multi-layered air defence systems on Tatra chassis. The contracts include not only the systems themselves, but also extensive logistics support, personnel training, spare parts deliveries, support infrastructure and the arrangement of export financing.

(CSG)

15 Juni 2026

Yoarmed 22 Adakan Pelatihan MLRS ITBM

15 Juni 2026

Batalyon Artileri Medan 22/Kesumawira adalah batalyon artileri TNI Angkatan Darat di bawah Kodam VI/Mulawarman yang bwrmarkas di Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur yang mengoperasikan alutsista strategis terbaru berupa MLRS ITBM (Indonesia Tactical Ballistic Missile) dengan rudal darat-ke-darat KHAN (photos: Yonarmed 22)

Tenggarong — Danyonarmed 22/Kesumawira, Letkol Arm Novihardi, S.E., M.H.I., memimpin acara pembukaan latihan Incountry Training Transfer of Knowledge Trak MLRS ITBM menandai secara resmi kegiatan pelatihan dimulai. 

Kegiatan ini menjadi wadah strategis untuk memperdalam pengetahuan, meningkatkan kompetensi teknis, serta memperkuat pemahaman operasional sistem MLRS ITBM.


Pelaksanaan Incountry Training TA. 2026 melibatkan professional instructor dan expertise dari tiga korporasi berbeda yaitu Excalibur International, Tatra Defense Vehicle Systems, dan Roketsan International. Kegiatan Incountry Training dijadwalkan akan berlangsung hingga akhir bulan Juli 2026.

Melalui transfer ilmu dan pengalaman yang berkelanjutan, diharapkan seluruh peserta mampu menguasai teknologi yang ada secara optimal guna mendukung kesiapan satuan dalam menjalankan setiap tugas yang diemban.


“Belajar hari ini untuk kesiapan yang lebih baik esok hari. Profesional, kompeten, dan siap mengabdi untuk bangsa dan negara.” 

01 Juni 2026

Technical Representative Pemeliharaan Meriam Caesar

01 Juni 2026

Meriam Caesar 155mm di Pangkalan Udara TNI AU Husein Sastranegara (photo: TNI AD)

Dalam upaya menjaga kesiapan operasional alutsista serta meningkatkan profesionalisme prajurit Artileri Medan, kegiatan Technical Representative Meriam Caesar dilaksanakan di Yonarmed 9 dan Yonarmed 12. Kegiatan ini merupakan bentuk nyata komitmen dalam memastikan setiap sistem persenjataan tetap berada pada kondisi terbaik, siap operasional, dan mampu mendukung pelaksanaan tugas satuan secara maksimal.

Pemeliharaan berkala meriam GS Caesar TNI AD (photo: BengPusArmed)

Meriam Caesar sebagai salah satu alutsista modern TNI AD memiliki kemampuan tempur yang mengandalkan kecepatan, akurasi, dan teknologi tinggi. Oleh karena itu, diperlukan perhatian khusus melalui pendampingan teknis, pemeriksaan menyeluruh, pemeliharaan berkala, serta evaluasi sistem secara profesional guna menjaga performa dan ketahanan alutsista di medan tugas.


Melalui kegiatan Technical Representative ini, personel teknis dan prajurit pengawak mendapatkan pendalaman materi serta pendampingan langsung terkait sistem kerja, penanganan teknis, hingga troubleshooting pada Meriam Caesar. Hal tersebut menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia sekaligus memperkuat kesiapan tempur satuan Armed dalam menghadapi dinamika tugas yang semakin kompleks dan modern.


Semangat loyalitas, dedikasi, disiplin, dan militansi terus ditunjukkan oleh seluruh personel dalam setiap pelaksanaan tugas. Karena di balik kekuatan daya gempur Artileri Medan, terdapat prajurit-prajurit teknis yang bekerja penuh tanggung jawab demi memastikan setiap alutsista selalu siap digerakkan kapan pun negara memanggil.


Kegiatan ini juga menjadi simbol sinergi, profesionalisme, dan transformasi modernisasi TNI AD dalam mewujudkan sistem pertahanan yang tangguh, adaptif, dan berdaya tempur tinggi. Dengan penguasaan teknologi yang semakin baik, prajurit Armed siap menjaga kehormatan korps serta mengawal kekuatan pertahanan negara dengan penuh kebanggaan.

07 April 2026

Pembangunan Kekuatan Pertahanan 2025-2044: Kualitas atau Kuantitas?

07 April 2026

Jat tempur Rafale TNI AU (photo: Rafale Omnirole Fighter)

Kegiatan pembangunan kekuatan pertahanan jangka panjang 2025-2044 diawali dengan masa yang penuh tantangan karena situasi geopolitik dunia berikut implikasi yang terjadi tidak bersahabat dengan Indonesia dari sisi ekonomi. Rencana pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan belanja pertahanan, di mana sektor pertahanan termasuk salah satu program prioritas, dihadapkan pada makin terbatasnya ruang fiskal akibat faktor dalam negeri dan luar negeri.

Penurunan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif oleh Moody's Ratings dan Fitch Ratings, begitu pula dampak ekonomi perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel, membuat pengelolaan fiskal terkait belanja pertahanan makin penuh tantangan. Padahal belanja pertahanan untuk modernisasi kekuatan masih mengandalkan pada Pinjaman Luar Negeri (PLN) karena kapasitas Rupiah Murni guna membiayai aktivitas demikian sangat terbatas.

Persoalan pendanaan selalu menjadi isu klasik dalam program pembangunan kekuatan pertahanan di Indonesia sejak republik ini berdiri. Pascatahun  1998, modernisasi yang dilakukan secara signifikan terjadi pada periode Minimum Essential Force (MEF) 2010-2014 dengan modal PLN US$6,55 miliar, di mana terjadi lompatan signifikan dalam modernisasi kekuatan pertahanan dengan beberapa kegiatan pengadaan peralatan pertahanan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Lompatan signifikan demikian kembali dilanjutkan pada periode MEF 2020-2024 ketika alokasi PLN meningkat tajam menjadi US$34,7 miliar. Namun amat disayangkan bahwa terdapat sejumlah aktivitas akuisisi sistem senjata pada kurun waktu tersebut yang dinilai tidak tepat sasaran atau tidak signifikan dalam hal meningkatkan kualitas kemampuan pertahanan.

Armada kapal perang TNI AL (infographic: AlphaNovember)

Sebagai bagian dari pembangunan kekuatan pertahanan jangka panjang 2025-2044, fase pertama Optimum Essential Force (OEF) sejauh ini mendapatkan kuota PLN sebesar US$28 miliar. Belum diketahui berapa jatah PLN bagi OEF tahap kedua dan ketiga, di mana hal demikian akan ditentukan oleh pemerintahan-pemerintahan berikutnya berdasarkan kondisi yang dihadapi nanti.

Bila memperhatikan secara seksama target kuantitas peralatan pertahanan yang ingin dicapai pada 2044, tidak berlebihan untuk menyatakan bahwa sasaran tersebut cukup ambisius. Akan tetapi jika berkaca pada program pembangunan kekuatan pertahanan jangka panjang 2010-2024, selalu tercipta jurang pemisah antara ambisi yang hendak dicapai dengan kemampuan realisasi program, di mana hal yang terakhir dipengaruhi oleh sejumlah faktor domestik dan internasional.

Sebagai ilustrasi, TNI Angkatan Darat antara lain direncanakan mempunyai 5.734 kendaraan tempur lapis baja dan tank, begitu pula dengan target jumlah rudal/meriam arhanud yang berjumlah 1.245 unit.

Sebanyak 294 buah kapal perang diproyeksikan akan dimiliki oleh TNI Angkatan Laut, selain material tempur Marinir sebanyak 490 unit dan 227 buah pesawat udara. Aset TNI Angkatan Udara di antaranya terdiri atas 460 buah pesawat dan 59 radar pertahanan udara. Terkait dengan sasaran kuantitas yang hendak dicapai pada 2044, terdapat sejumlah pertanyaan yang muncul di luar aspek ekonomi/fiskal.


Tank medium Harimau berdampingan dengan tank AMX-13 TNI AD (photo: Yonkav 13)

Pertama, apakah kuantitas peralatan perang berbanding lurus dengan kualitas yang dipunyai? Mengacu pada apa yang terjadi di era MEF 2010-2024, pengadaan sistem senjata seringkali lebih menekankan pada kuantitas daripada kualitas.

Hal ini bukan saja terkait dengan pembelian beberapa peralatan pertahanan yang dipertanyakan dari aspek teknis (kemampuan), namun juga impor sistem senjata yang sebenarnya merupakan wahana atau barang yang bagus tetapi tidak disertai dengan paket Integrated Logistic System (ILS) dan munisi dan rudal dalam jumlah yang memadai. Sehingga muncul sindiran bahwa peralatan perang yang dibeli hanya bermanfaat bagi kegiatan seremonial saja dan sebaliknya diragukan untuk dioperasikan bagi kepentingan tempur.

Kedua, usia wahana yang tercantum dalam sasaran pencapaian pada 2044. Apakah target pencapaian kuantitas wahana akan memaksa pengambil keputusan untuk terus menggunakan wahana yang telah dibeli antara 1960-an hingga 1990-an?

Terdapat kecurigaan bahwa demi mengejar pencapaian kuantitas pada 2044, maka wahana yang didatangkan pada era 1960-an sampai 1990-an akan dipertahankan sebagai aset hingga 2044. Sebagai contoh ialah target 5.734 kendaraan tempur lapis baja dan tank bagi TNI Angkatan Darat, apakah AMX-13 termasuk dalam angka tersebut?

Tipe-tipe pesawat tempur TNI AU (infographic: seasia)

Ketiga, rincian tipe wahana atau sistem senjata. Meskipun terdapat penyebutan nama wahana atau sistem senjata yang akan dicapai pada 2044, namun pada beberapa wahana dibutuhkan rincian yang lebih detail agar diperoleh gambaran jelas menyangkut perkara kualitas atau kuantitas.

Sebagai contoh, dengan target 240 unit kapal perang pada 2044, berapa sebenarnya jumlah kapal kombatan utama (fregat) dan kapal selam? Begitu juga dengan proyeksi 460 buah pesawat untuk TNI Angkatan Udara, dibutuhkan detail mengenai jenis wahana udara yang akan dimiliki, seperti pesawat tempur, pesawat angkut, pesawat tanker, pesawat AEW&C, helikopter angkut dan lain-lain.

Perkara kuantitas yang saat ini lebih diutamakan dibandingkan dengan kualitas peralatan pertahanan menunjukkan bahwa tidak ada perubahan signifikan dalam 25 tahun terakhir terkait kemampuan pertahanan Indonesia. Adalah suatu fakta yang tidak dapat dibantah dalam 25 tahun belakangan terdapat sejumlah program akuisisi sistem senjata yang signifikan bagi Indonesia, namun amat disayangkan pembelian itu tidak diikuti dengan upaya menjaga kualitas peralatan perang yang diimpor.

Cakupan menjaga kualitas merupakan perpaduan antara melengkapi ILS, menjaga ketersediaan stok munisi dan rudal dan melaksanakan peningkatan kemampuan (upgrade) secara regular setiap 10 tahun. Sebagai gambaran, kualitas armada F-16 Indonesia, baik yang didatangkan di masa Orde Baru maupun di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, selalu tertinggal dengan jet tempur serupa yang dioperasikan oleh Singapura.

Kendaraan tempur Korps Marinir TNI AL masih menggunakan produk Barat dan Timur (photo: Pasmar 1)

Berdasarkan pada salah satu dokumen tentang kebijakan pertahanan yang diterbitkan oleh Kementerian Pertahanan di masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, dinyatakan bahwa "peningkatan kualitas dan kuantitas alat peralatan pertahanan keamanan (Alpalhankam) menjadi fondasi dasar pada kebijakan pembangunan Postur Pertahanan Negara".

Hanya saja tidak ada penjelasan lebih lanjut tentang bagaimana memenuhi "peningkatan kualitas" sistem senjata yang sudah dimiliki maupun akan dibeli. Selama era 2020-2024, tradisi lama yaitu pemisahan paket akuisisi wahana tempur dengan amunisi dan rudal masih terus dilestarikan meskipun di awal periode tersebut sempat ada pernyataan dari petinggi Kementerian Pertahanan tentang rencana menghentikan pengadaan peralatan pertahanan yang bersifat parsial.

Berdasarkan contoh impor Rafale dan fregat PPA, kebiasaan lama, yakni pemisahan paket pengadaan wahana tempur dan munisi dan rudal masih dilanjutkan sehingga masih ada jurang antara aspirasi dan fakta empiris di lapangan. (Alman Helvas Ali)

27 Maret 2026

Rheinmetall Bidik Indonesia untuk Akuisisi Kendaraan Tempur Lynx KF41

27 Maret 2026

Panglima TNI ketika melihat dari dekat ranpur Lynx KF41 saat menghadiri Pameran Eurosatory 2024 di Paris (photo: TNI)

Perusahaan pertahanan Rheinmetall yang berbasis di Düsseldorf pertama kali memperkenalkan kendaraan tempur infanteri Lynx KF41 pada musim panas 2018. Perusahaan kini melihatnya sebagai "bintang" barunya dan mengantisipasi potensi pasar lebih dari 6.000 kendaraan dalam beberapa tahun mendatang, seperti yang diungkapkan dalam presentasi perusahaan di "Capital Markets Day".

Selama presentasinya pada 18 November, CEO Rheinmetall, Armin Papperger, menggambarkan kendaraan tersebut sebagai "bintang baru." Menurut daftarnya, perusahaan saat ini melihat peluang untuk kendaraan tersebut di delapan pasar, dua di antaranya telah dikembangkan: Hongaria dan Italia. Secara total, permintaan hingga 6.148 kendaraan Lynx tercantum – dengan AS dan Italia saja menyumbang hampir 5.000 kendaraan.

KF41 adalah penerus Infantry Fighting Vehicle "Marder" yang juga dimiliki TNI AD (photo: Rheinmetall)

Papperger tidak memberikan informasi mengenai jangka waktu spesifik atau probabilitas potensi pasar masing-masing. Meskipun demikian, tampaknya ia membuat dua kesalahan. Pada suatu saat, ia salah menyebut Indonesia dengan Polandia. Lebih jauh lagi, ia menyatakan bahwa kontrak pengadaan pesawat Lynx telah ditandatangani di Rumania. Pernyataan ini kemudian dikutip oleh kantor berita Bloomberg dan selanjutnya dibantah oleh pemerintah Rumania.

Lynx KF41
Rheinmetall pertama kali mempresentasikan Lynx KF41 secara publik pada Juni 2018 di Eurosatory di Paris. Sejauh ini, hanya Hongaria dan Italia yang telah memutuskan untuk membeli kendaraan tempur infanteri berbasis platform ini untuk angkatan bersenjata mereka sendiri.

Potensi pasar untuk 6.000 KF41 Lynx di seluruh dunia (infographic: Rheinmetall)

Kendaraan seberat lebih dari 40 ton ini ditenagai oleh mesin diesel Liebherr D9612 12 silinder 1.140 hp dan transmisi Renk. Kendaraan tempur infanteri Lynx dilengkapi dengan turret berawak "Lance 2.0" berawak yang dipersenjatai dengan meriam 30 mm MK 30-2/ABM. Kendaraan ini juga dapat dilengkapi dengan peluncur terintegrasi untuk sistem rudal anti-tank berpemandu Spike LR2. Dengan volume interior yang besar, Lynx menawarkan ruang untuk tiga awak dan satu regu infanteri dengan kekuatan penghantaran hingga sembilan tentara. Menurut publikasi Angkatan Bersenjata Hongaria, dimensi eksternal kendaraan ini juga cukup besar: tinggi 3,73 m, panjang 8,49 m, dan lebar 3,8 m.

Pada September 2020, Kementerian Pertahanan Hongaria memberikan kontrak kepada Rheinmetall untuk pengiriman kendaraan tempur infanteri Lynx dan layanan terkait senilai lebih dari dua miliar euro. Selain varian kendaraan tempur infanteri dan kendaraan komando Lynx yang sudah ada, kendaraan masa depan akan mencakup varian lebih lanjut: Selain kedua varian ini, Hongaria juga berencana untuk memperkenalkan varian pengintaian, kendaraan mortir, kendaraan identifikasi target, varian evakuasi medis, dan akhirnya kendaraan pelatihan pengemudi berdasarkan varian Lynx KF41. Hungaria juga sedang mengerjakan pengembangan varian baru Lynx, yang dipersenjatai dengan turet Skyranger 30 buatan Rheinmetall, yang kontrak pengembangannya diberikan pada tahun 2023.

Rincian potensi pasar untuk 6.000 KF41 Lynx di seluruh dunia (infographic: Hartpunkt)

Pada awal November 2025, Italia mengikuti jejak Hungaria dengan memesan batch awal 21 kendaraan tempur infanteri Lynx melalui Leonardo Rheinmetall Military Vehicles, sebuah usaha patungan 50:50 antara Leonardo dan Rheinmetall. Pengiriman kendaraan pertama dijadwalkan akan dimulai pada akhir tahun 2025. Menurut informasi terkini, angkatan bersenjata Italia berencana untuk membeli lima varian berbeda dari Lynx, yang dimaksudkan untuk memenuhi 16 peran berbeda. Varian berikut telah disebutkan: dengan meriam 120mm sebagai tank tempur utama ringan, dengan meriam 30mm (dengan turet HITFIST-30 tanpa awak), sebagai pembawa mortir (Nemo), sebagai kendaraan anti-pesawat (Skyranger), dan tanpa turet. Leonardo akan memasok tidak hanya menara Hitfist tanpa awak dengan meriam X-Gun 30×173mm bertenaga listrik, tetapi juga sistem C4I, sensor elektro-optik dan radar, serta teknologi radio.

10 Maret 2026

Transfer Persenjataan Dari dan Ke Indonesia Tahun 2025

10 Maret 2026

Ujicoba Rafale T-0304 di Bordeaux Mérignac, Prancis (photo: Swiderek Maciejka)

SIPRI kembali mengeluarkan laporan mengenai transfer persenjataan dunia, berikut disampaikan data order dan pengiriman persenjataan selama kurun waktu 2025.


Untuk negara Indonesia, order dan pengiriman persenjataan serta ekspor selama tahun 2025 tidak ada dalamn catatan SIPRI.


(SIPRI)

20 Februari 2026

Uji Terima Kendaraan Tempur Angkut Personil J-Forces

20 Februari 2026

Uji terima kendaraan tempur angkut personil J-Forces yang dilengkapi RCWS (photos: J-Forces)

Uji Terima Kendaraan Tempur Angkut Personil di Batujajar dan Subang telah sukses dilaksanakan. Rangkaian pengujian komprehensif ini dilakukan untuk memvalidasi performa unit sebelum resmi bertugas mendukung tugas pokok TNI.

Beberapa tahap pengujian krusial meliputi:


Mobilitas: Uji Rem (Basah/Kering), Zig-Zag, Radius Putar, dan Off-Road.

Daya Gempur: Uji Tembak RCWS (300m & 500m) serta Gun Shoot.


Teknologi & Fitur: Uji Thermal, Kamera, dan Uji Statis.

Komitmen kami adalah menghadirkan alutsista dengan standar tertinggi guna mendukung kedaulatan NKRI di berbagai medan penugasan.

07 Februari 2026

Excalibur Army Secures a Record Export Contract for Patriot Vehicles

07 Februari 2026

100 Patriot armored vehicles from mortar carrier vehicles and command vehicles to armored personnel carriers, wheeled infantry fighting vehicles, and armored medical evacuation versions (photo: Excalibur Army)

CSG Group, through its subsidiary Excalibur Army, has secured contracts in Southeast Asia for the delivery of more than 100 Patriot armored vehicles in various configurations. The total value of these contracts exceeds USD 300 million. Deliveries are scheduled to be completed within a three-year timeframe.

The order includes a wide range of Patriot platform variants designed for modern land forces, from mortar carrier vehicles and command vehicles to armored personnel carriers, wheeled infantry fighting vehicles, and armored medical evacuation versions.

“Within the CSG Group, Excalibur Army specializes in the development and production of top-tier land systems, often based on Tatra chassis. The contract in Southeast Asia confirms the trust of our partners and builds on our successful track record of deliveries in this region, where we have previously exported, for example, bridging systems and rocket launchers,” said Vladimír Stulančák, CEO of Excalibur Army.

Several units of Patriot 4x4 used by Kopaska and Zeni TNI AD (photo: Angkasa Review)

The Patriot armored vehicle is built on the outstanding off-road wheeled Tatra chassis, featuring the unique central backbone tube design and independent swinging half-axles, ensuring high mobility even in demanding conditions.

This project represents the largest export order for the Patriot platform to date and confirms its versatility as well as its ability to be tailored to the customer’s specific requirements.

23 Januari 2026

Presentasi Pengadaan Military NVG (Night Vision Google) DTS-18 Gen 3+ Monocular

23 Januari 2026

Military NVG DTS-18 Gen 3+ Monocular (photo: Kemhan)

Direktur Materiil Ditjen Kuathan Kemhan Brigadir Jenderal TNI Sugeng, H.Y memimpin Rapat Presentasi Pengadaan Military NVG (Night Vision Google) DTS-18 Gen 3+ Monocular oleh PT. Magnus Teknologi Inovasi di Ruang Rapat Lantai 6 Gedung D.I. Panjaitan Ditjen Kuathan Kemhan Jalan Tanah Abang Timur No.7 Jakarta Pusat. 

Turut hadir Pejabat Kemhan dan Pejabat Mabes TNI di Jakarta. Kamis, 8 Januari 2026.

03 Januari 2026

Penyerahan Komponen CDI Tank AMX-13 Yonkav 2/TC

03 Januari 2026

Penyerahan komponen CDI tank AMX-13 Yonkav 2/TC (photos: TNI AD)

Kunjungan Kerja Danpussenkav
Danpussenkav Mayor Jendral TNI Eko Susetyo melaksanakan kunjungan kerja ke Batalyon Kavaleri 2/Turangga Ceta dalam rangka "Penyerahan Komponen CDI Tank AMX-13 pada Program Harwat Ranpur Bengpuskav TA. 2025" pada hari Kamis, 30 Oktober 2025.


Dalam kesempatan ini, Danpussenkav menerima penjelasan teknis komponen CDI dan proses perakitan Inovasi CDI pengapian Kendaraan tempur AMX-13 yang telah ditemukan dan dikembangkan oleh Sertu Hadi, anggota pemeliharaan Ranpur Yonkav 2. Pada kesempatan itu pula Danpussenkav melakukan pemeriksaan dan mencoba secara langsung, dengan mengemudikan beberapa Ranpur AMX-13 yang telah dipasang pengapian CDI.


Inovasi Sistem CDI pada AMX-13 ini merupakan langkah strategis dibidang pemeliharaan Ranpur Kavaleri, dalam menunjang mobilitas dan kesiapan tempur alutsista untuk terus dapat meningkatkan performa kendaraan tempur guna mendukung tugas pokok.

Semoga dengan adanya supervisi, arahan, dan perhatian dari pimpinan Kavaleri ini, Yonkav 2/Turangga Ceta berkomitmen untuk terus mengembangkan inovasi, menjaga profesionalisme, dan terus memperkuat kesiapan operasional guna menjawab tantangan tugas di masa depan.

01 Januari 2026

Paparan Hasil Pelatihan BUK Air Defense Bagi Personel TNI AD yang telah Dilaksanakan di Belarusia

01 Januari 2025

Paparan hasil pelatihan BUK Air Defense bagi personel TNI AD di Belarusia dilakukan di markas Kohanudnas, Jakarta (photos: Kohanusnas)

Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) Marsdya TNI Andyawan Martono P., S.I.P. menerima paparan hasil pelatihan Battalion Level Commanders of BUK Air Defense Training bagi personel TNI AD yang dilaksanakan di Belarusia. Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Rapat Kohanudnas, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (29/12/2025), sebagai bagian dari upaya peningkatan kapasitas dan modernisasi kemampuan satuan pertahanan udara TNI AD.


Dalam paparan disampaikan bahwa sistem pertahanan udara BUK merupakan salah satu unsur strategis dalam menjaga kedaulatan wilayah udara nasional. Personel yang telah mengikuti pelatihan internasional tersebut diharapkan mampu memperkuat kemampuan satuan Arhanud, khususnya dalam aspek taktik penggelaran, integrasi sistem radar peringatan dini, serta penerapan prosedur komando dan pengendalian tingkat batalyon dalam menghadapi spektrum ancaman udara modern.

Belarusia saat ini mengoperasikan BUK MB2K sistem pertahanan udara jarak menengah dan sewaktu gelaran Indo Defence 2025 lalu ditawarkan kepada Indonesia (photo: Vodogray)

Pangkohanudnas menegaskan bahwa hasil pelatihan ini harus ditindaklanjuti secara nyata melalui penguatan doktrin, prosedur, dan kesiapan satuan di lapangan. Pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh dari Belarusia dinilai memberikan nilai tambah dalam pengembangan kemampuan pertahanan udara nasional. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Staf Kohanudnas Mayjen TNI Trias Wijanarko, S.I.P., M.H.I. beserta para pejabat utama Kohanudnas.

30 Desember 2025

Pesawat dan Kapal Perkuat Pertahanan Indonesia 2025

30 Desember 2025

Alutsista yang datang tahun 2025 (infographic: Antara)

Indonesia diperkuat alat utama sistem persenjataan (alutsista) berupa pesawat dan kapal yang tiba pada 2025, seperti berikut.

Mengutip pernyataan Presiden Prabowo Subianto, "TNI harus kuat, baik Angkatan Darat, Angkatan Laut maupun Angkatan Udara. Kami ingin memperkuat jajaran operasional riil TNI, kami akan perkuat TNI."

27 Desember 2025

Successful Completion of DART Mk-2 Multipurpose Rocket Qualification Tests

27 Desember 2025

DART Mk-2 Multipurpose Rocket (photo: E-System Solutions)

E-System Solutions, primarily recognised as an aerospace technology leader, has over the past decade also developed a robust Land Systems Division focused on missiles, rockets, and loitering munitions. Quietly but steadily, over the last seven years, E-System has designed, prototyped, and qualified a family of advanced weapon systems, several of which have now reached full operational maturity — and some are already combat-proven.

Spotlight on the DART Multipurpose Rocket
Today, we proudly highlight one of our flagship systems: the DART Mk-2 Multipurpose Rocket, a lightweight, modular RPG-class weapon designed for infantry, special forces, and amphibious units. The DART system has successfully completed its full suite of qualification and fieldtesting trials, demonstrating consistent performance in:
-Anti-armour, anti-structure, and anti-personnel configurations.
-Urban combat, jungle warfare, and coastal operations.
-Extreme weather and terrain, including high humidity and dust/sand conditions.

With multiple warhead options, smart fuzing, and a compact logistical footprint, DART offers a highly adaptable and cost-effective solution for modern dismounted forces and drones.

E-System Solutions is a UAE company headquartered in Ras al-Khaimah, United Arab Emirates, with a subsidiary company PT E-System Solutions Indonesia domiciled in Jakarta  (infographic: E-System Solutions)

First Export Success: Indonesia Armed Forces
E-System Solutions is proud to announce that the Indonesian Army, including Kopassus (Special Forces) and Marine Corps units, has become the first international customer of the DART Mk-2 Multipurpose Rocket System.

This milestone is part of a broader Technology Transfer and Industrialisation Agreement signed with the Indonesian Ministry of Defense, aimed at equipping newly formed infantry battalions with cutting-edge, locally produced weapon systems.

Local Production with PT Republikorp
To ensure sustainable supply and regional growth, E-System has partnered with PT Republikorp, an emerging defense industrial player in Indonesia. Together, we are establishing a dedicated production facility capable of manufacturing up to 5,000 DART rockets annually, supporting not only the Indonesian Armed Forces’ long-term requirements, but also positioning Indonesia as a regional hub for exports across Southeast Asia and beyond.

This partnership includes:
-Full knowledge transfer and assembly-line setup.
-On-site quality assurance and training by E-System personnel.
-Long-term maintenance, support, and upgrade packages.

DART Mk-2 launch multipurpose rocket (video: E-System Solutions)

A Growing Arsenal: What’s Next?
While DART is the first to be officially announced, E-System Solutions is preparing to unveil several other advanced weapon programs, which have reached late-stage development or early production readiness:
-Viper Loitering Munition Family: modular loitering drones, infantry and vehicle launched, featuring AI-assisted target acquisition.
-Vespa Network-Enabled ATGM: a multipurpose missile and smart launcher system with battlefield networking and manned-unmanned teaming capability
-Delta Mk-1 Light.
-Cruise Missile: a man-launched or vehicle-launched, multi-role cruise missile for deep strike, SEAD/DEAD, and anti-ship roles.

Each of these systems reflects E-System’s philosophy of affordable high-performance capability, with modularity, local production compatibility, and AI integration at the core of their design.

(ESS)