Tampilkan postingan dengan label Pesawat Amphibi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesawat Amphibi. Tampilkan semua postingan

17 Januari 2026

BRIN Target Percepatan Riset Pengembangan Pesawat Amfibi RI

17 Januari 2026

Model N219 Amfibi (image: istimewa)

Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala BRIN Arif Satria menargetkan percepatan riset pengembangan pesawat amfibi alias seaplane.

Ia menyampaikan saat ini BRIN dalam pengembangannya berkolaborasi dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

"Karena N219 yang sudah disiapkan antara BRIN dan PT DI, ini juga harus segera dipercepat. Moga-moga awal 2027 atau akhir 2026 sudah bisa selesai risetnya, kemudian kita bisa menghasilkan pesawat Amfibi," kata Arif di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (15/1).

Arif menyampaikan pesawat amfibi itu akan sangat berguna bagi Indonesia.

Ia mengatakan pesawat itu akan meningkatkan keterhubungan antar pulau di Indonesia yang notabenenya merupakan negara kepulauan.

Pada 2024 lalu, Badan Informasi Geospasial (BIG) mencatat Indonesia memiliki 17.380 pulau.

Dalam kesempatan lain, Arif menyampaikan BRIN telah memiliki sejumlah inovasi bersama PTDI, seperti pesawat N219 yang siap diproduksi lebih banyak sesuai dengan pesanan pemerintah.

Ia juga menyebut BRIN akan memperluas kerja sama riset pertahanan dengan PT Pindad, termasuk penguatan pengembangan kendaraan taktis Maung melalui peningkatan riset dan teknologi otomotif.

"Kita juga nanti akan berkolaborasi juga dengan Pindad yang memproduksi alutsista serta industri otomotif kita. Saya kira Maung yang sudah diproduksi oleh Pindad ini terus akan diperkuat R&D-nya," kata Arif.

Selain itu, Arif mengatakan juga terus bersinergi dengan Kemendikti Saintek memastikan ekosistem riset nasional berjalan terpadu, terukur, dan mampu mempercepat lahirnya inovasi industri strategis.

(CNN)

28 September 2024

Pesawat N219 Sudah Masuki Tahap Produksi, Target Perdana untuk Versi Amphibi

28 September 2024

Versi amfibi N219 (image: PT DI)

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) Gita Amperiawan mengatakan, pesawat N219 sudah memasuki tahap serial produksi. “Sudah, karena kontrak sudah berjalan,” kata dia di sela Media Gathering dengan Kementerian Pertahanan di Hanggar PTDI di Bandung, Jumat, 27 September  2024.

Gita mengatakan, kontrak perdana yang sudah masuk dalam tahap pengerjaan adalah 6 unit pesawat N219 pesanan Kementerian Pertahanan untuk TNI Angkatan Darat. Dari 6 unit itu, salah satunya adalah varian N219 Amphibi. “Mudah-mudahan yang pertama di delivery itu Amphibi,” kata dia.

PTDI menargetkan pada akhir 2026 sudah memasuki proses sertifikasi. Targetnya pada 2027 proses sertifikasi rampung dan produksi perdana N219 Amphibi diserahkan pada Kementerian Pertahanan.

Gita mengatakan, pesawat N219 akan menjalani serangkaian proses sertifikasi agar bisa memenuhi persyaratan pesawat militer, termasuk untuk versi Amphibi. Pesawat N219 basic yang ada saat ini baru mengantongi sertifikasi TC (Type Certificate) yang diterbitkan Direktorat Kelaikudaraan & Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kementerian Perhubungan pada Desember 2020 lalu.

“Kalau kemudian kita menjual ke Angkatan Dareat, maka kita melakukan verifikasi namanya. Verifikasi dari semua dokumen yang sudah kita submit yang kita selesaikan dengan DKKPU, kemudian diverifikasi oleh Indonesia Defence Airworthiness Authority (IDAA), itu dikerjakan untuk bisa dijual ke militer,” kata Gita.

Gita mengatakan, selanjutnya untuk proses sertifikasi N219 Amphibi di DKPPU tidak perlu mengulang dari awal. “Akhir 2025 atau awal 2027 Insyaallah kita akan menyelesaikan (sertifikasi) Amphibi, tapi hanya amandemen TC (Type Certificate),” kata dia.  

Sebelum memasuki fase tersebut, PTDI akan melakukan serangkaian peningkatan kemampuan pesawat N219 Basic menjadi pesawat N219 Basic Amphibious. “Itu belum dipasang Float (pengapung) di bawah, tapi performance dia sudah Basic Aircraft Amphibious, itu sekaligus akan meningkatkan performance N219 Basic karena akan membawa Float,” kata Gita.

Gita mengatakan, yang terpenting dari fase pengembangan N219 adalah masuk ke pasar. “Kita harus masuk ke market, karena dari market-lah sebenarnya feedback customer itu terjalin. Jadi improvement itu harus berdasarkan requirement customer di pengoperasian, jadi kita akan lihat,” kata dia.

N219 untuk TNI AD (photo: Airspace Review)

Direktur Produksi PTDI Batara Silaban mengatakan, pengembangan N219 Amphibi tersebut mendapat bantuan pembiayaan dari Bappenas sebesar Rp 300 miliar. “Rp 300 miliar dari Bappenas untuk Amphibi,” kata dia di sela Media Gathering tersebut, Jumat, 27 September 2024.

Batara mengatakan, proses pengembangan N219 Amphibi tersebut akan dikerjakan sekaligus masuk ke serial produksi. “Dalam development kali ini betul-betul ujungnya serial produksi,” kata dia.

Pengembangan yang sedang dilakukan saat ini, kata Batara, tujuannya untuk menaikkan kemampuan pesawat N219 Basic. Dia mencontohkan desain sayap yang rancangan awalnya memiliki daya angkut 6.300 kilogram akan ditingkatkan menjadi 7 ribu kilogram. “Itu sendiri sudah jalan sekarang dengan kemampuan PTDI. Kita punya kemampuan dan fasilitas,” kata dia.

Batara menambahkan, dari 6 unit pesawat N219 pesanan Kementerian Pertahanan untuk TNI Angkatan Darat tersebut satu di antaranya N219 Amphibi. “Jadi dari 6 itu, satu konfigurasinya Amphibi. Sisanya itu militarry transport. Kalau Amphibi itu ada floating-nya,” kata dia.  

Saat ini pengembangan N219 Amphibi sudah mencapai 34 persen. “Target kita first flight itu (Semester 2) 2026, sertifikasi 2027,” tambah Batara.

Batara mengatakan, sejumlah daerah perairan sudah dibidik untuk menjadi waterbase pengujian perdana N219 Amphibi. Di antaranya Kepulauan Riau serta Karimun Jawa. “Yang sudah siap di Kepulauan Riau,” kata dia.

PTDI menargetkan akhir tanun 2027 pesawat N219 Amphibi sudah diserahkan pada Kementerian Pertahanan. “Akhir 2027 delivery ke customer,” kata dia.

Kebutuhan pesawat N219 Amphibi di Indonesia juga sudah dihitung oleh PTDI. “Ada kebutuhan dan sudah dilakukan kalkulasi untuk jenis N219 Amphibi ini kurang lebih sebanyak 54 unit. Tim PTDI sudah melakukan survei di berbagai tempat di Indonesia. Salah satunya di provinsi yang ada tourism,” kata dia.

Kepala Biro Humas Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Edwin Adrian Sumantha mengatakan, Kementerian Pertahanan berkomitmen untuk mendukung kemajuan industri pertahanan dalam negeri, termasuk PTDI.

“Kita bisa lihat dari apa yang sudah dicapai oleh PTDI ini bukan hanya mandatory tapi memang kita harus mengembangkan industri pertahanan dalam negeri kalau kita mau lebih maju lagi ke depannya,” kata dia di sela Media Gathering tersebut, Jumat, 27 September 2024.

25 Januari 2024

Bali Bakal Jadi Lokasi Pengembangan Pesawat N219

25 Januari 2024

Pesawat N219 Nurtanio (photo: PTDI)

Bisnis.com, DENPASAR – PT Dirgantara Indonesia (Persero) menjajaki investasi besar–besaran di Pulau Dewata dengan target menjadikan Bali sebagai pusat kedirgantaraan nasional sekaligus sebagai pusat wisata dirgantara. 

Bali bakal dijadikan sebagai lokasi pengembangan pesawat N219, yang merupakan pesawat serba guna berkapasitas 19 penumpang. Pesawat ini ditargetkan bisa menjangkau kawasan–kawasan terluar, terpencil dan terdalam atau kawasan 3T. Pesawat jenis ini sebenarnya sudah diproduksi sejak 2017 lalu dan bakal dikembangkan lagi di Bali. 

Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan menjelaskan di Bali PTDI akan mengembangkan pesawat berkode N219 yang didesain untuk menjawab misi Presiden dalam hal pembangunan yang merata dan berkeadilan dengan menyediakan wahana konektivitas multimoda untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, juga dapat mendorong penyebaran pusat-pusat pertumbuhan ke wilayah yang belum berkembang. Juga untuk mendukung industri jasa maintenance, repair and overhaul serta membangun ekosistem untuk menumbuhkan industri komponen pesawat karya anak bangsa tersebut.

“Selain itu, Bali dipilih karena potensinya akan industri pariwisata yang sangat potensial pula untuk pengembangan wisata dirgantara. Bali juga dipandang sebagai lokasi yang cocok untuk pembangunan sekolah kedirgantaraan, sebuah lembaga pendidikan dan industri dalam meningkatkan kemandirian teknologi dan lokal konten,” jelas Gita dari keterangan resminya, Senin (22/1/2023). 

Sementara itu, PJ Gubernur Bali, Sang Made Mahendra Jaya menyambut baik rencana investasi PTDI di Bali, menurutnya investasi tersebut akan berdampak positif terhadap ekonomi Bali, dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat Bali. Mahendra berjanji akan mensupport penuh kebijakan-kebijakan pemerintah pusat apalagi seiring dengan upaya pemerataan pembangunan di Bali. 

"Kami juga mengharapkan akan banyak putra-putri asal Pulau Dewata yang turut terlibat dalam fasilitas besutan PTDI nantinya,” ujar Mahendra. 

(Bisnis)

06 Januari 2024

Ini Dia Hasil Studi Potensi Kebutuhan N219 Amphibious

06 Desember 2024

Miniatur pesawat N219 Amphibi (photo: Info Penerbangan)

Feasibility study yang dilakukan Lapan bersama BPPT dan PT DI, termasuk di antaranya dari sisi marketing, menunjukkan keputusan membangun N219 Amphibious ini berdasarkan keyakinan pesawat jenis ini sangat dibutuhkan masyarakat atau audiens di Tanah Air dan berpotensi diserap pasar secara luas. Pesawat N219 Amphibious cocok dengan karakteristik geografi Nusantara dan demografi yang tersebar di pulau-pulau terpencil. 

Secara keseluruhan N219 telah memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 44,69 persen, sesuai Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2021 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. 

Diperkirakan, harga yang dibanderol mencapai USD6,8 juta untuk N219 dan USD8 juta dolar untuk N219 Ampibhious. Jika dirupiahkan dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar yang saat ditulis sebesar 15,475.623, maka harga N219 Amphibious adalah sebesar hampir Rp124 miliar, sedangkan harga N219 adalah sekitar Rp105 miliar. Rencana awal, pesawat bisa dijual pada kisaran USD5 – 6 juta per unit. Harga ini relatif lebih murah dibandingkan dengan kompetitor, yakni pesawat Twin Otter buatan Kanada yang dipatok sekitar USD7 juta per unit. 

Untuk diketahui, N219 Amphibious memiliki kecepatan hingga 296 km per jam pada ketinggian maksimal 10.000 kaki. Dengan beban 1560 kg, pesawat mampu menempuh jarak hingga 231 km, take-off untuk ketinggian 35 kaki dari darat membutuhkan jarak 500 meter, sedangkan dari air membutuhkan jarak hingga 1.400 meter.Adapun untuk landing dari ketinggian 50 kaki, N219 Amphibious membutuhkan jarak 590 meter untuk di darat, dan 760 meter untuk di laut. Dengan kemapuan take off dan landing di air, N219 Amphibious tidak membutuhkan landasan udara, namun sekadar water based port. 

Baik N219 maupun N219 Amphibious memiliki keunggulan karena desainnya mengacu pada teknologi tahun 2000-an, sedangkan kompetitor desainnya adalah teknologi tahun 1960-an. Pesawat ini dapat dikendalikan dengan kecepatan rendah, yaitu 59 knot, hingga dapat dapat mendarat dalam jarak pendek di landasan sepanjang 600 meter. Untuk diketahui, N-219 menggunakan mesin PT6-42A, 850 shaft horse power (shp) buatan Kanada, baling-baling Hartzell buatan AS, dan sistem avionic Garmin 1000 buatan AS. Piranti tersebut dianggap terbaik di bidangnya dan efisien pemeliharaan. 

Berdasar spefikasi kemampuan tersebut, N219 Amphibious sangat cocok melayani kebutuhan wilayah kepulauan yang tidak memiliki landasan udara. Berdasar penjelasan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa, banyak daerah di Tanah Air memiliki potensi menggunakan pesawat ini seperti Danau Toba, Pulau Bawah Kepri, Pulau Derawan Kaltim, Raja Ampat, Wakatobi, dan Pulau Moyo.

Selain menarget pemerintah daerah dan perusahaan swasta untuk melayani layanan mobilitas wilayah kepulauan, Kementerian Pertahanan juga membutuhkan pesawat jenis ini untuk menjaga kedaulatan wilayah NKRI. Selain itu, pesawat jenis sama juga dibutuhkan negara lain yang memiliki spesifikasi gografis serupa. Berdasar data, seperti di kawasan Asia Pasifik, terdapat 150 unit pesawat aktif, dan 45% dari total populasi tersebut telah memasuki masa aging. 

Pesawat N219 Amphibi (image: Alinea)

Melansir laman resmi pemerintahindonesia.go.id, N219 Amphibious bisa dimanfaatkan untuk berbagai sektor, seperti layanan pariwisata, layanan perjalanan dinas pemerintahan, oil and gas company, layanan kesehatan masyarakat, SAR dan penanggulangan bencana, dan pengawasan wilayah maritim. 

Direktur Utama PTDI Gita Amperiawan juga menyampaikan bahwa pesawat N219 Amphibious memainkan peran penting dalam memenuhi seluruh rute perintis di wilayah Indonesia seperti Kepulauan Riau secara optimum, untuk membuka akses dan menjangkau pulau-pulau kecil yang belum memiliki bandara/airstrip, serta membuka peluang pengembangan pariwisata dan kekayaan alam laut di pulau-pulau kecil tersebut. 

Dia lantas membeberkan, saat ini tercatat sebanyak 8 unit populasi pesawat amfibi di Indonesia. Sedangkan potensi kebutuhan pesawat amfibi di Indonesia dalam 10 tahun kedepan sebanyak 54 unit dan kebutuhan tersebut direncanakan dapat dipenuhi oleh pesawat N219 Amphibious. 

Secara teori dan potensi, baik N219 maupun N219 Amphibious memang sangat besar. Untuk N219 misalnya, PT DI sejak awal sudah gembar-gembor sejumlah pemeritah daerah, perusahaan penerbangan Aviastar dan Trigana Air, perusahaan logistik, dan bahkan negara sahabat seperti Kroasia, Laos, dan Thailand sudah menyampaikan minatnya. 

Jumlah total N219 yang diminati mencapai ratusan unit. Bahkan pada ajang Indo Defence 2022, PT DI menandatangani kontrak jual beli 11 pesawat N219 dengan PT Karya Logistik Indotama (PT KLI). Sedangkan Kementerian Pertahanan disebut PT DI telah memesan 10 unit pesawat N219, dan teranyar TNI AD memesan 10 unit. 

Demi merespons pesanan, sejak awal PT DI menargetkan produksi N-219 pada 2017 rata-rata 6 unit per tahun, lalu pada 2018 sebanyak 10 unit per tahun. Pada 2019 ditingkatkan sebanyak 18 unit per tahun, dan maksimal adalah 20 unit per tahun dengan melihat pula kebutuhan pasar. Dengan kapasitas produksi saat ini, pengerjaan dan pengiriman pesawat dilakukan secara bertahap selama 44 bulan sejak pengukuhan kontrak. Pesawat pertama rencananya diselesaikan setelah bulan ke 24, Selanjutnya PT DI melakukan pengiriman tiap 4 bulan. 

Memang masih tanda tanya apakah kontrak pembelian tersebut sudah efektif atau belum mengingat hingga tahun 2023 hampir berakhir belum ada kabar pengiriman N219 ke pembeli, padahal rencana produksi sudah dirancang sejak 2017. Mungkin pula marketing N219 terkendala pandemi, hingga mengalami penundaan. Tentu diharapkan pesanan benar-benar diikuti dengan transaksi. 

Miniatur pesawat N219 untuk TNI AD (photo: Airspace Review)

Namun bila ada kendala skema pembiayaan, PT DI tentu harus bekerja keras untuk meyakinkan perbankan atau lembaga keuangan agar bisa menjembatani transaksi. Sedangkan jika terbentur mahalnya harga satuan N219 atau N219 Amphibious, maka PT DI harus berupaya meningkatkan TKDN hingga 60 persen seperti ditargetkan. 

Langkah membentuk laboratorium DO-160 yang digagas Lapan tepat untuk mendorong industri lokal dapat mengadakan uji berkali-kali bila melakukan litbang suku cadang N219 atau N219 Amphibious dengan biaya yang murah. Industri komponen lokal harus bisa mengisi kebutuhan karpet, kursi pesawat, peralatan navigasi dan lainnya. 

Di sisi lain, untuk memperluas potensi pasar, PT DI perlu lebih banyak mengedukasi perusahaan penerbangan atau logistik dalam negeri, serta pemerintah daerah agar memahami pentingnya pembelian N219 dan N219 sebagai solusi mobilitas efektif di wilayah mereka. 

Sedangkan untuk memperluas pasar global, PT DI perlu memperkuat kerjasama dan kolaborasi, seperti dilakukan dengan Turkish Aerospace dan Linkfield Technologies China. Bahkan untuk perusahaan China tersebut sudah meneken komitmen untuk berkolaborasi dan telah memesan N219 unit di selsa The Aera Asia 2023 di Zuhai International Airshow Center, China. 

Potensi pemasaran N219 Amphibious tentu tidak kalah dengan N219. Bila melihat feasibility study yang dilakukan Lapan bersama BPPT dan PT DI, maka semua orientasi marketing STP terpenuhi. 

Dengan kata lain kehadiran N219 Amphibious memang sangat dibutuhkan audiens dan mampu menjadi solusi mobilitas orang dan barang di Tanah Air. Apalagi data menyebut populasi pesawat amfibi di Indonesia masih sangat terbatas, yakni 8 unit. Sedangkan proyeksi untuk kebutuhan 10 tahun ke depan sebanyak 54 unit. 

Begitupun potensi pasar global terbuka lebar. Seperti di kawasan Asia Pasifik saat ini terdapat 150 unit pesawat aktif, dan 45% di antaranya telah memasuki masa aging. Tak kalah pentingnya, N219 Amphibious dibangun dengan teknologi teranyar. Semoga harapan N219 Amphibious lari manis di pasaran menjadi kenyataan.

See full article SindoNews

21 Desember 2023

Uji Terbang N219 Amfibi Ditargetkan Agustus 2024

21 Desember 2023

Acara IDF 2023 di Batam, Riau (photo : PTDI)

Batam  — Dalam rangka acara puncak Indonesia Development Forum (IDF) 2023 yang diselenggarakan oleh Kementerian PPN RI/Bappenas di Radisson Golf & Convention Center Batam, Kepulauan Riau, PTDI tekankan pengembangan pesawat N219 dan N219 Amphibious untuk peningkatan konektivitas antar pulau di Indonesia, terutama di wilayah Kepulauan Riau.

Pada kesempatan ini, Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan hadir sebagai pembicara untuk mengulas bagaimana peranan pesawat N219 dan N219 Amphibious dalam era baru konektivitas pulau-pulau Nusantara, yang kemudian dapat mendukung pertumbuhan ekonomi, serta penyebaran pusat-pusat pertumbuhan ke wilayah yang belum berkembang.

Potensi kebutuhan pesawat amfibi
Disaksikan oleh Gubernur Provinsi Kepulauan Riau, H. Ansar Ahmad, Gita Amperiawan menyampaikan bahwa pesawat N219 memainkan peran penting dalam memenuhi seluruh rute perintis di wilayah Kepulauan Riau secara optimum, termasuk dukungan Bappenas dalam pengembangan pesawat N219 Amphibious untuk membuka akses dan menjangkau pulau-pulau kecil di Kepulauan Riau yang belum memiliki bandara/airstrip, serta membuka peluang pengembangan pariwisata dan kekayaan alam laut di pulau-pulau kecil tersebut.

Saat ini tercatat sebanyak 8 unit populasi pesawat amfibi di Indonesia, dimana potensi kebutuhan pesawat amfibi di Indonesia dalam 10 tahun kedepan adalah sebanyak 54 unit dan kebutuhan tersebut direncanakan dapat dipenuhi oleh pesawat N219 Amphibious – target uji terbang bulan Agustus 2024.

24 Juni 2023

Ambisi RI Geber Pesawat Amphibi N219, Butuh Uang Segini!

24 Juni 2023

Pesawat N219 versi amfibi (image : BPPT)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian PPN/Bappenas mengungkapkan, negara akan mengalokasikan Rp 210 miliar untuk pembuatan atau prototyping hingga sertifikasi internasional pesawat amphibi N219.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas Amalia Adininggar Widyasanti saat melakukan rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Senin (19/6/2023).

Amalia menjelaskan, anggaran bidang Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas tahun depan mencapai Rp 246,8 miliar, dimana 85% atau sebesar Rp 210 akan dialokasikan untuk pembuatan hingga sertifikasi internasional pesawat amphibi N219.

"Pagu indikatif Rp 246,8 miliar, dan Rp 210 miliar akan fokus untuk pengembangan N219 dan ini merupakan yang akan dihibahkan ke Institute Teknologi Bandung (ITB) bekerjasama dengan PT Dirgantara Indonesia (PT DI)," jelas Amalia.

Anggaran pengembangan pesawat amphibi N219 yang sebesar Rp 210 miliar tersebut, kata Amalia diperuntukan dari prototyping hingga sertifikasi berstandar internasional, sehingga nantinya bisa dikomersialisasi.

Adanya pengembangan pesawat amphibi N219 buatan PT DI ini, kata Amalia sekaligus pilot project atau proyek pertama kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan dunia usaha.

"Ini adalah pilot project untuk mengkonkretkan kolaborasi triple helix antara pemerintah, akademisi, dan dunia usaha," ujar Amalia lagi.

Proses pembuatan pesawat N219 ini, kata Amalia saat ini masih dalam pembuatan floating kit, sehingga nanti dapat diintegrasikan dengan N219.

Sebelumnya, sertifikasi pesawat amphibi N219 sebenarnya sudah dilakukan, namun hanya berstandar nasional. Saat ini pemerintah pun tengah melakukan pembuatan hingga sertifikasi internasional dari The Federal Aviation Administration (FAA) agar bisa dikomersialkan.

"Nanti kalau dikomersialisasi jadi komersial, sehingga bisa menjadi jembatan udara yang menghubungkan tempat terkecil ke tempat yang lain (di Indonesia), sekaligus membangkitkan industri kedirgantaraan Indonesia," jelas Amalia.

Pesawat N219 versi angkut (photo : PTDI)

Pun kata Amalia pemerintah daerah pun membutuhkan pesawat amphibi N219 tersebut, sehingga mereka bisa dengan leluasa menarik para turis mancanegara, untuk bisa memberikan pundi devisa negara.

Terlebih, pesawat amphibi N219 ini, kata Amalia tidak membutuhkan bandara besar, sehingga cost yang dikeluarkan pemerintah daerah juga akan efisien.

"Daerah membutuhkan itu. Sekaligus kalau pakai amphibi, tidak perlu membangun bandara yang mahal, cukup dengan water based port," ujarnya.

Melansir laman resmi pemerintah indonesia.go.id, pesawat amphibi N219 merupakan pesawat besutan PT Dirgantara Indonesia. Pesawat ini dapat melakukan lepas landas dan pendaratan di permukaan air.

Setelah mendapatkan sertifikasi dari FAA dan bisa dikomersilkan, pesawat N219 ini mampu dimanfaatkan untuk berbagai sektor, seperti layanan pariwisata, layanan perjalanan dinas pemerintahan, oil and gas company, layanan kesehatan masyarakat, SAR dan penanggulangan bencana, dan pengawasan wilayah maritim.

Berbagai wilayah di Indonesia pun cukup berpotensi untuk menggunakan pesawat ini, seperti Danau Toba, Pulau Bawah Kepri, Pulau Derawan Kaltim, Raja Ampat, Wakatobi, dan Pulau Moyo.

Potensi pasar yang besar juga terlihat khususnya di Asia Pasifik. Kini, ada 150 unit pesawat aktif dan 45% dari total populasi tersebut telah memasuki masa aging.

Pesawat ini memiliki kecepatan hingga 296 km per jam pada ketinggian maksimal 10.000 kaki. Dengan beban 1560 kg, pesawat mampu menempuh jarak hingga 231 km.

Take-off untuk ketinggian 35 kaki dari darat membutuhkan jarak 500 meter, sedangkan dari air, ia membutuhkan jarak hingga 1.400 meter. Kemudian untuk landing dari ketinggian 50 kaki, ia membutuhkan jarak 590 meter untuk di darat, dan 760 meter untuk di laut.

20 Juni 2023

Bappenas Dorong Prabowo Beli Pesawat N219 Amphibi Buatan PTDI

19 Juni 2023

Pesawat N219 jenis Amphibi akan dipatok dengan harga US$ 8 juta atau setara Rp 120 miliar, sedangkan N219 non-Amphibi sebesar US$ 6,8 miliar atau Rp 102 miliar

Artikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul "Harga Pesawat N219 Buatan RI Rp 120 M, Bappenas Tawarkan ke Prabowo" , https://katadata.co.id/agustiyanti/berita/64902955542f1/harga-pesawat-n219-buatan-ri-rp-120-m-bappenas-tawarkan-ke-prabowo
Penulis: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti (image : Lapan)

Jakarta - Kementerian PPN/Bappenas mendorong Menteri Pertahanan Prabowo Subianto untuk membeli pesawat N219 Amphibi buatan PT Dirgantara Indonesia (Persero). Saat ini pesawat buatan dalam negeri tersebut sedang dikejar untuk mendapatkan sertifikasi internasional dari The Federal Aviation Administration (FAA).

Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan pesawat amphibi N219 dapat dikomersialisasikan kepada masyarakat luas setelah mendapat sertifikasi dalam negeri dan internasional.

"Mengenai N219 ini tahun lalu memang sudah ada sertifikasi yang hanya berlaku di nasional dan kita kejar N219 amphibius untuk mendapatkan sertifikasi internasional (FAA) sehingga komersialisasinya bisa dilakukan," kata Suharso dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Senin (19/6/2023).

Suharso menyebut telah mendorong Kementerian Pertahanan di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto untuk membeli pesawat yang diproduksi dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) hampir 100% tersebut.

"Kami juga sudah mendorong kementerian pertahanan untuk membeli," jelas Suharso.

Beberapa pihak swasta dan pemerintah daerah pun, diklaim Suharso juga sudah mulai tertarik untuk membeli.

"Ada beberapa swasta dalam negeri juga sudah mulai membeli, beberapa provinsi pemerintah daerah yang sudah mengatakan intent (tertarik) untuk membeli karena ini sesuai dengan kebutuhannya untuk N219," jelas Suharso.

Adapun harga yang dibanderol untuk pesawat ini, kata Suharso akan mencapai US$ 6,8 juta sampai US$ 8 juta dolar.

"Harganya kalau amphibi US$ 8 juta, kalau harga non amphibi kira-kira sekitar US$ 6,8 juta. Kami sudah mengatakan kalau bisa diturunkan jauh lebih bagus karena dia bisa mendarat di darat dan bisa mendarat di laut," jelas Suharso lagi.

Untuk diketahui, PT Dirgantara Indonesia mengembangkan pesawat amphibi N219 sejak 2021 silam. Pesawat ini dapat melakukan lepas landas dan pendaratan di permukaan air. Pemerintah mengklaim, pesawat ini begitu sesuai dengan karakteristik Nusantara sebagai negara kepulauan.

Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappeas Amalia Adininggar Widyasanti menambahkan, fleksibilitas yang dimiliki pesawat jenis ini mampu mencakup darat, danau, dan sungai besar, hingga teluk dan laut.

Selain itu, amphiport (airport untuk pesawat amphibi) dapat dibangun dengan lebih mudah dan murah dibandingkan dengan airport pada umumnya.

"Pesawat ini bisa menjadi jembatan udara yang menghubungkan tempat terkecil ke tempat yang lain, sekaligus membangkitkan industri kedirgantaraan Indonesia," jelas Amalia.

03 November 2022

Pesawat N219 Amfibi Siap Dipasarkan Pada 2025, Ada Opsi untuk Kebutuhan Militer

03 November 2022

N219 versi amfibi (photo : TribunNews)

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) Gita Amperiawan menargetkan pesawat amfibi N219 siap dilepas ke pasaran pada 2025.

Gita menjelaskan saat ini N219 versi Amfibi masih dalam pengembangan dan merupakan salah satu produk utama yang dipamerkan dalam Pameran Indo Defense Expo & Forum 2022 di JI Expo Kemayoran.

Pengembangan produk tersebut juga telah mendapatkan dukungan dari sejumlah Kementerian Lembaga di antaranya Kementerian Perhubungan, Kementerian Pertahanan, dan Bappenas.

Gita mengatakan saat ini pihaknya menargetkan proses sertifikasi akan selesai pada 2024.

"Sehingga diharapkan masuk kepada komersialisasi itu di 2025," kata Gita di JI Expo Kemayoran pada Rabu (2/11/2022).


Gita mengatakan permintaan terhadap produk tersebut cukup tinggi khususnya dari sektor pariwisata. 

Saat ini pihaknya telah menjajaki ke sepuluh destinasi wilayah pariwisata dengan beberapa syarat minimum yang diperlukan untuk amfibi.

Berbagai wilayah di Indonesia yang dinilai berpotensi untuk dapat menggunakan pesawat N219 Amfibi di antaranya Pulau Belitung, Pulau Derawan, pulau Sebukuh, Pulau Rumberpon, Raja Ampat, Teluk Cendrawasih, Danau Sentani, Bunaken, Wakatobi, Pulau Moyo, Bali, Karimun Jawa, Kepulauan Seribu, Teluk Kiluan, dan Danau Toba.

Selain itu, kata dia, ke depannya produk tersebut juga dimungkinkan untuk dijual ke pasar yang lebih luas.

"Ya saya melihatnya demikian. Di beberapa negara ASEAN khususnya, amfibi sudah masuk untuk melayani pariwisata dan ini juga market yang besar bagi kita. Dan jarang orang menggunakan amfibi," kata dia.

 N219 versi amfibi (image : Agus Aribowo/Lapan)

Selain pasar komersial, ia pun tidak menutup kemungkinan untuk digunakan bagi kebutuhan militer khususnya Angkatan Laut.

"Ini kebutuhan komersial tapi juga kalau kita lihat Angkatan Laut banyak water base Angkatan Laut. Jadi ini tidak menutup kemungkinan kemudian ini menjadi military," kata dia.

Pesawat N219 versi Amfibi tersebut dapat lepas landas di darat maupun permukaan air seperti danau, sungai besar, teluk hingga laut.

Dengan adanya inovasi transportasi udara tersebut dinilai membuka kemungkinan dicapainya semua tujuan di berbagai sektor.

Sektor tersebut di antaranya layanan perjalan dinas pemerintahan, perusahaan migas, layanan kesehatan masyarakat, SAR dan penanggulangan bencana, pengawasan wilayah maritim serta di bidang pariwisata Nusantara melalui jalur laut dengan cepat menggunakan pesawat N219 Amfibi.

04 Maret 2022

Dassault Systèmes and Amphibian Aerospace Industries Partner to Develop the Aerospace Sector in the Northern Territory of Australia

04 Maret 2022

AAI to rebuild an upgraded version of the Albatross G-111T (images : AAI)

PERTH, Australia/PRNewswire/ -- Dassault Systèmes (Euronext Paris: FR0014003TT8, DSY.PA) today announced that it is entering into a partnership with Amphibian Aerospace Industries (AAI), a leader in the development and production of amphibian aerospace capabilities, to rebuild an upgraded version of the Albatross G-111T, an amphibious aircraft which can take off and touch down from land, snow, ice and water. 

AAI will leverage Dassault Systèmes' decades of expertise in the aviation sector and the 3DEXPERIENCE platform to build a virtual twin to design and manufacture the transport category plane. Dassault Systèmes will also work with AAI to develop the integrated ecosystem of an extended supply chain needed to bring this legendary seaplane back to the skies, including working with other companies in the AAI supply chain, and the Northern Territory Government, in the development of an advanced aviation manufacturing precinct in Darwin, the first of its kind in Australia.


Originally built for military use and later converted for commercial service, the Albatross seaplane has not been manufactured since 1961. The development of an advanced aviation manufacturing precinct and associated supply chain is an exciting opportunity to build a new industry with vast benefits for jobs, education, and the economy in the Northern Territory.

"We have never had a commercial transport category aircraft manufacturer on this scale in  Australia; so, it's a great opportunity not only for AAI, but also for the supply chain that will grow around our business. Dassault Systèmes will be an essential member of Team Albatross, providing innovative digital capabilities and aviation expertise," said Dan Webster, Chief Executive Officer, Amphibian Aerospace Industries.

PT6A-67F engines to power the aircraft (image : Pratt Whitney) 

"This is another significant step forward in what will be a long term creator of highly-skilled jobs for the Northern Territory. Dassault Systèmes is a global leader in the aviation sector and its partnership with Amphibian Aerospace Industries will accelerate the journey toward manufacturing these legendary seaplanes right here in Darwin. The Northern Territory is Australia's best investment right now and everyone from mining giants to multi-national French aviation leaders is buying into the comeback," said Michael Gunner, Chief Minister, Northern Territory, Australia.

"Every 2.5 seconds an airplane takes off with an engine designed using our technology. For more than 40 years we have enabled aviation pioneers to accelerate innovation, by using virtual twin experiences to imagine, design, and test radically new products, materials, and manufacturing processes. Our specialised technology and aviation expertise will build a strong sustainable foundation in industry for Northern Territory, Australia and beyond. We are excited to soar through the skies with AAI and Northern Territory government," said Josephine Ong, Managing Director, Asia Pacific South, Dassault Systèmes.

09 Februari 2022

Tinjau Pesawat N219, Luhut Minta TKDN Naik Jadi 70 Persen

09 Februari 2022

Kunjungan Menko Marinves ke PT DI di Bandung (photos : PTDI)

Bandung -- Menteri Koordinator Kemaritiman & Investasi Republik Indonesia, Luhut Binsar Pandjaitan bersama Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil kunjungi PTDI meninjau langsung progress pesawat N219. Dalam kesempatan ini, Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan menjelaskan bahwa saat ini pesawat N219 masih menjalankan serangkaian uji terbang sebagai penyiapan untuk masuk ke pasar, serta untuk penyiapan pengembangan pesawat N219 tersebut menjadi versi amphibi.

Pengembangan pesawat N219 amphibi saat ini sudah memasuki tahapan Detail Design, untuk kemudian dilanjutkan ke tahapan Prototyping & Structure Test, Development Flight Test dan ditargetkan perolehan Amendment Type Certificate (ATC)/sertifikasi amphibi di tahun 2024.


Potensi pasar pesawat N219 Amphibi

Adapun saat ini telah diperoleh proyeksi pasar pesawat N219 amphibi, baik di wilayah Indonesia maupun Asia Pasifik. Tercatat potensi pasar N219 amphibi di Indonesia adalah sebanyak 40 unit dan di Asia Pasifik sebanyak 76 unit. Dengan inovasi transportasi udara tersebut, maka di masa mendatang akan terbuka kemungkinan dicapainya semua tujuan destinasi pariwisata Nusantara laut dengan cepat menggunakan pesawat N219 amphibi, dimana hal tersebut juga tentunya akan membantu menjangkau dan menghubungkan wilayah 3T Terluar, Terdepan dan Tertinggal.

“Untuk saat ini pesawat N219 memiliki TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) 44.69%, diharapkan kedepannya dapat ditingkatkan sampai 70%, dari mulai landing gear, avionics, sampai bahan baku pesawatnya dapat dibuat industri di dalam negeri.” Kata Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Koordinator Kemaritiman & Investasi Republik Indonesia.

22 November 2021

Pesawat Amphibi N219 Buatan PTDI Siap Terbang Tahun 2023

22 November 2021

Pesawat angkut N219 (photo : Maritim)

PT. Dirgantara Indonesia (PTDI) tengah mengembangkan pesawat Amphibi N219. Pesawat buatan anak negeri tersebut diharapkan sudah bisa beroperasi pada 2023.

“Jika sesuai dengan linimasa yang ada, pesawat ini diperkirakan dapat melaksanakan penerbangan pertamanya di tahun 2023,” tutur Batara Silaban, Direktur Produksi PTDI.

Batara menemani Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi, Ayodhia G L Kalake dalam kunjungan ke PT. Dirgantara Indonesia pada Jumat, (12/11).

Batara menjelaskan pesawat Amphibi N219 memiliki kecepatan hingga 296 KM per jam pada ketinggian maksimal 10 ribu kaki.

Dengan beban 1560 KG, pesawat mampu menempuh jarak hingga 231 KM. Take-off untuk ketinggian 35 kaki dari darat membutuhkan jarak 500 meter, sedangkan dari air, pesawat membutuhkan jarak hingga 1400 meter.

N219 Nurtanio Untuk landing dari ketinggian 50 kaki, pesawat membutuhkan jarak 590 meter untuk di darat, dan 760 meter untuk di laut.

“Maximum Take-Off Weight pesawat ini mencapai 7030 KG dengan maximum landing weight 6940 KG, dengan total kapasitas bahan bakar 1600 KG,” kata Batara.

Pesawat Amphibi N219 memang dirancang bisa melakukan lepas landas dan pendaratan di permukaan air. Dengan demikian, pesawat ini sesuai dengan karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan.

“Pesawat ini telah diproduksi dengan mengedepankan TKDN, sehingga hasil karya dalam negeri ini tentu mendukung pengembangan konektivitas darat dan laut di indonesia,” kata Ayodhia.

Dia menambahkan fleksibilitas yang dimiliki pesawat ini mampu mencakup darat, danau dan sungai besar, hingga teluk dan laut.

Pesawat N219 versi amphibi (image : iNews)

Selain itu, amphiport (airport untuk pesawat amphibi) dapat dibangun dengan lebih mudah dan murah dibandingkan dengan airport pada umumnya.

“Pesawat ini mampu dimanfaatkan untuk berbagai sektor, seperti layanan pariwisata, layanan perjalanan dinas pemerintahan, oil and gas company, layanan kesehatan masyarakat, SAR dan penanggulangan bencana, dan pengawasan wilayah Maritim,” kata Batara.

Potensi pasar terbesar pesawat Amphibi N219 berada di bidang pariwisata. Pesawat tersebut juga mampu mengakomodir Pulau-Pulau 3T (Terluar, Tertinggal, Terdepan) yang tersebar di Indonesia.

Berbagai wilayah di Indonesia pun cukup berpotensi untuk menggunakan pesawat ini, seperti Danau Toba, Pulau Bawah Kepri, Pulau Derawan Kaltim, Raja Ampat, Wakatobi, dan Pulau Moyo.

Potensi pasar yang besar juga terlihat khususnya di Asia Pasifik. Kini, ada 150 unit pesawat aktif dan 45% dari total populasi tersebut telah memasuki masa aging.

Kendati menjanjikan, pengembangan pesawat Amphibi N219 bukan tanpa masalah. Permasalahan utama yang dihadapi ini adalah dalam hal penganggaran.

Dalam perencanaan pengembangan sampai tahun 2024, anggaran tersebut dialokasikan melalui Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Dengan adanya perubahan organisasi, LAPAN dan BPPT masuk kedalam organisasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dikhawatirkan akan mempengaruhi perencanaan pengembangan yang sudah ditetapkan. Selain anggaran, permasalahan lain seperti tingkat korosif yang tinggi karena mendarat di laut.

Kemenko Marves meminta PTDI menginventarisasikan berbagai problematika yang ada, “Kami harap nantinya ada pertemuan lanjut antara PTDI dan berbagai pihak, baik dengan BRIN, Kementerian Perhubungan, Kementerian Keuangan dan Kementerian BUMN,” ungkap Firdausi Manti, Asisten Deputi Industri Maritim dan Transportasi.

02 September 2021

Tiga Proyek Inovasi Terkini PT Dirgantara Indonesia

02 September 2021

PUNA MALE Elang Hitam, drone dengan payload 300 kg (photo : BPPT)

TEMPO.CO, Bandung — Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Elfien Goentoro mengungkap tiga inovasi yang tengah dikembangkan perusahaan itu kendati pasar aerospace global tengah menurun. Ketiganya sekaligus bagian dari program strategis nasional yakni drone tempur Elang Hitam (PUNA MALE, Pesawat Udara Nir Awak jenis Medium Altitude Long Endurance), Pesawat N219 Amphibi (N219A) dan Rudal Nasional.

Pesawat N219 Amphibi, misalnya, bisa menjadi penghubung yang efektif antara pulau-pulau di Indonesia. “Penerbangan dan perkapalan itu menjadi bagian penting pada Negara seperti Indonesia ini. Fungsinya adalah untuk menjangkau dan menghubungkan wilayah 3T, yaitu terluar, terdepan dan tertinggal,” kata Elfien, dikutip dari keterangan tertulisnya, Selasa 31 Agustus 2021

Elfien mengatakan, keberadaan pesawat N219 Amfibi tersebut juga bisa memangkas kebutuhan infrastruktur bandara, sekaligus mendorong pengembangan sektor wisata tanpa perlu tergantung pada keberadaan bandara. “Karena bisa landing di kawasan pantai pulau wisata yang dituju wisatawan,” kata dia. 

N-219 versi amfibi (image : BPPT)

Pesawat N219 Amfibi saat ini tengah menjalani pengembangan floater, atau kaki pelampung yang akan dipasang di bagian badan pesawat pengganti roda pendarat. Dengan demikian, pesawat tersebut bisa lepas landas sekaligus mendarat di permukaan air.

Dua inovasi lainnya dinilai strategis untuk kemandirian industri pertahanan dalam negeri serta pertahanan keamanan nasional. Dimulai dari PUNA MALE Elang Hitam yang dikembangkan oleh Konsorsium yang terdiri dari PT DI sebagai lead integrator, lalu PT Len Industri, LAPAN, Balitbang Kemhan, Dislitbang TNI AU, Pothan Kemhan, BPPT, serta ITB.  

Elang Hitam dirancang sanggup terbang selama 24 jam dan akan dikembangkan terus hingga bisa dipergunakan untuk kombatan, sekaligus untuk memenuhi kebutuhan alutsista TNI AU.

Untuk Rudal atau Peluru Kendali Nasional juga dikembangkan oleh konsorsium yang terdiri dari PT DI sebagai lead integrator, PT Len Industri, PT Pindad, serta PT Mulatama. Rudal yang dikembangkan adalah rudal jenis darat-ke-darat untuk memenuhi kebutuhan alutsista TNI. Target sertifikasi rudal tersebut 2024.

RN-01SS rudal nasional permukaan-ke-permukaan (photo : istimewa)

PT DI saat ini juga tengah menuntaskan sejumlah kontrak berjalan dari dalam dan luar negeri. Untuk dalam negeri, beberapa diantaranya adalah kontrak 9 unit Bell 412EPI TNI AD (5 unit sudah diserahkan), 9 unit NC212i pesanan Kementerian Pertahanan untuk TNI AU (1 sudah diserahkan, 1 lagi menyusul dalam waktu dekat), serta 1 unit CN235 pesanan Kementerian Pertahanan untuk TNI AL yang akan diserahkan di Kuartal 1 tahun 2022.

Pesanan dari kontrak dengan pelanggan luar negeri diantaranya 1 unit pesawat NC212i untuk MOAC (Ministry of Agriculture and Cooperatives) Thailand yang saat ini tengah diproduksi. PT DI juga masih menjalankan bisnis Aerosctructure dalam kerja sama strategis dengan industri pertahanan global diantaranya dengan Airbus Group, Bell Helicopters dan Spirit Aerosystems.

PT Dirgantara Indonesia juga memegang kontrak pekerjaan services untuk pelanggan dari dalam dan luar negeri. PT DI tengah menyiapkan peta konsep pengembangan bisnis MRO (maintenance, repair and overhaul)yang ditargetkan nantinya bisa menjadi recurring income.  Menurut Eilfien, PT DI sudah sempat untung Rp 150 miliar pada 2019 sebelum anjlok lagi karena pandemi pada 2020.

23 Mei 2021

USSOCOM Touts Amphibious MC-130

23 Mei 2021

The MAC amphibious MC-130J concept revealed at the SOFEC 2021 event (image : USSOCOM)

The US Special Operations Command (USSOCOM) is considering the design and development of an amphibious MC-130 aircraft to support operational requirements in the age of ‘Great Power Competition’ (GPC), service officials have disclosed.

Addressing delegates at the virtual Special Operations Forces Industry Conference (SOFIC) on 19 May, the Program Executive Officer for Fixed Wing, Colonel Ken Kuebler, suggested the MC-130 Amphibious Capability (MAC) concept could allow the aircraft to “land and take off” from land and sea during the same mission.

Kuebler was unable to provide Janes with a projected timeline for the effort. However, USSOCOM’s Fixed Wing Technology Insertion Roadmap, which was illustrated at the event, referred to a 2022–25 timeframe for the MAC.

Another artist's conception of a Hercules floatplane (image : Lockheed Martin)

Lockheed Martin’s MC-130 Commando II aircraft is operated by the US Air Force Special Operations Command (AFSOC) and tasked with “clandestine, or low-visibility, single or multiship, low-level infiltration, exfiltration, and resupply of special operations forces”. According to AFSOC documents, the aircraft is ideally suited to operating in “politically sensitive or hostile territories”.

Referring to the historic consideration by the US Department of Defense to design an amphibious C-130 aircraft, Kuebler suggested there was “enough command interest” at USSOCOM to pursue the MAC concept today.

“There is enough of a focus on peer and near-peer as we look at emerging threats. Is it going to be cost effective? That’s why we have several lines of effort early on and there will be plenty of off-ramp [opportunities] along the way to determine if we move forward,” he said.

(Jane's)

ITB Teliti Bahan Antikorosi untuk Pesawat Amfibi N219

23 Mei 2021

Training, Visiting, Riset dan Testing program pesawat N219 Amfibi telah dilakukan oleh Lapan  (all images : Agus Aribowo/Lapan)

TEMPO.CO, Bandung - Gagasan pesawat N219 sebagai pesawat terbang laut (seaplane) terus berkembang. Pemerintah melibatkan beberapa perguruan tinggi untuk rencana pengembangan ide itu. Institut Teknologi Bandung (ITB) misalnya, kebagian meneliti bahan antikorosi untuk pesawat akibat air laut.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan mengajak ITB mengembangkan teknologi pesawat laut (seaplane). Pesawat terbang itu jenis N219 buatan PT Dirgantara Indonesia.

“Jadi ITB bersama-sama dengan peneliti Balitbang berusaha menjawab masalah yang telah diidentifikasi oleh Kemenhub,” kata Rektor ITB Reini Wirahadikusumah.


Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan Umar Haris datang ke Rektorat ITB, Jumat 21 Mei 2021. Selain dengan ITB, pihaknya menjalin kerja sama dengan Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia.

“Dengan adanya kolaborasi ini, diharapkan dapat terjalin suatu kerja sama yang strategis dan implementatif untuk kedua belah pihak serta dapat menjadi landasan untuk menjawab tantangan yang ada saat ini maupun ke depannya," kata Umar di laman resmi ITB.


Menurut Ketua Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan ITB Sigit P. Santosa, peluang pasar pesawat terbang laut dari jenis N219 cukup besar karena Indonesia adalah negara maritim.

ITB telah membangun tim di Fakultas Teknologi Mesin dan Dirgantara (FTMD) bersama PT Dirgantara Indonesia (DI) serta Balitbang Kemenhub untuk pengembangannya.

Sigit mengatakan, kerja sama ITB dengan PT Dirgantara Indonesia mengenai rancang bangun pesawat N-219 Amphibi. “Sedang dikembangkan material komposit yang tentunya nanti bisa menjadi solusi risiko korosi di laut,” katanya Jumat, 21 Mei 2021. Adapun kerja sama kebijakan seaplane dilakukan Kemenhub dengan Universitas Gadjah Mada.

Program Manager PTDI untuk N219 Budi Sampurno mengatakan pihaknya menargetkan 80 persen penjualan di dalam negeri. Target utamanya adalah sektor pariwisata karena sudah banyak lokasi-lokasi wisata seperti resort. “Harapannya kerja sama ini bisa menguasai teknologi seaplane,” katanya di laman ITB.

Menurutnya, teknologi yang bisa dipakai untuk pesawat N219 adalah teknologi full composite untuk efisiensi berat dan menghindari korosi yang menjadi tantangan utama seaplane.

Sebelumnya diberitakan pemerintah akan mengembangkan pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia dan  Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional itu agar bisa juga mendarat di perairan.


Kini pengembangan N219 sudah memasuki tahun kedua dan saat ini masih dalam tahap Preliminary Design, untuk kemudian dilanjutkan ke tahap Prototyping and Structure Test, Development Test, dan ditargetkan memperoleh Aircfrat Type Certificate pada 2024.

(Tempo)

04 April 2021

Menristek: Pandemi Tak Menghalangi Pengembangan 4 Produk Super Prioritas Riset Nasional

04 April 2021

Drone Elang Hitam (photo : BPPT)

Liputan6.com, Jakarta - Menristek (Menteri Riset dan Teknologi) Bambang Brodjonegoro mengatakan pengembangan empat inovasi produk prioritas riset nasional 2020-2024 masih sesuai dengan rencana awal, meski Indonesia kini tengah dilanda pandemi.

"Kalau bicara perkembangan, sampai saat ini tidak terjadi perbedaan mendasar antara apa yang direncanakan dengan apa yang sudah atau sedang dilakukan," tuturnya dalam acara Bincang Editor yang diadakan Liputan6.com, Rabu (31/3/2021).

Adapun empat produk super prioritas yang dimaksud adalah pesawat amfibi N219, garam terintegrasi, katalis merah putih, dan drone tempur elang hitam. Bambang menjelaskan, empat produk super prioritas ini dikembangkan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia akan produk impor.

"Misalnya, mengenai pesawat N219. Pertama, kita punya versi biasa dan sekarang punya versi amfibinya. Kenapa? Karena kondisi negara kita itu kepulauan dan tidak semua daerah tidak punya bandara atau bahkan landasan yang memadai," tuturnya menjelaskan.

Oleh sebab itu, dibutuhkan solusi berupa pesawat yang bisa mendarat di landasan pendek atau bahkan di perairan jika wilayah tersebut memang tidak memiliki landasan. Pesawat dipilih sebab jika bergantung pada angkutan laut akan memakan waktu sangat lama untuk melakukan perpindahan.

"Maka muncul N219 amfibi, sehingga kita bisa tetap menjaga konektivitas tanpa harus membeli pesawat sejenis dari luar negeri," tuturnya melanjutkan. Dia pun mengatakan, N219 versi reguler sudah mendapat sertifikasi, sedangkan versi amfibi saat ini tengah dikembangkan.

Mengenai garam terintegrasi, Bambang mengatakan Indonesia saat ini memang masih mengimpor garam industri. Karenanya, sistem garam terintegrasi diharapkan dapat meningkatkan NaCL garam rakyat dari di bawah 90 persen hingga di atas 97 persen.

Hal ini dilakukan agar garam tersebut dapat diserap oleh industri dan mengurangi ketergantungan pada produk impor. Sementara untuk kebutuhan garam rumah tangga, dia memastikan Indonesia sebenarnya tidak memiliki masalah.

Saat ini, Bambang menuturkan, pemerintah sudah memiliki unit contoh pertama sistem garam terintegrasi di Gresik. Harapannya, unit tersebut dapat diperluas ke unit lain yang sejenis.

Konsorsium Pesawat N219 Amfibi (image : Lapan)

Katalis Merah Putih

Dalam kesempatan itu, Bambang turut menjelaskan mengenai Katalis Merah Putih yang juga masuk dalam daftar produk super prioritas ini. Bambang menjelaskan, Katalis Merah Putih diharapkan bisa mengurangi impor BBM yang selama ini masih dilakukan Indonesia.

"Dengan Katalis Merah Putih, impiannya kami bisa mengurangi impor BBM. Karena katalis ini bisa mengolah atau mengubah minyak inti sawit menjadi bahan bakar nabati menjadi bentuk diesel, bensin, dan avtur," ujar Bambang menjelaskan.

Lebih lanjut Bambang menuturkan, Katalis Merah Putih ini masih dalam tahap uji coba dalam skala besar di Pertamina. Kendati demikian, untuk Katalis Merah Putih ini, pemerintah masih menghadapi tantangan.

Alasannya, apabila harga minyak bumi sedang murah, harga bahan bakar nabati akan terasa lebih mahal dibandingkan bahan bakar minyak. "Ini hal yang masih harus kami perbaiki supaya keekonomiannya lebih baik," ujarnya melanjutkan.

Drone Elang Hitam

Terakhir, produk riset super prioritas yang juga sudah dikembangkan adalah drone tempur elang hitam. Bambang menuturkan, pengembangan drone dilakukan sebab arah pertahanan Indonesia kini lebih mengarah pesawat nirawak semacam ini, bahkan lebih dibandingkan jet fighter.

Namun memang drone semacam ini biasanya diimpor penuh, sehingga pemerintah melalui Kementerian Riset dan Teknologi tengah mencoba drone militer buatan sendiri. Adapun proyek pengembangan drone ini dipimpin oleh BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi).

"Rencananya, tahun ini first flight bisa dilakukan sekitar Agustus. Mudah-mudahan tahun depan atau paling lambat dua tahun lagi produksi massal, karena jika sudah first flight masih dibutuhkan sertifikasi dari Kementerian Pertahana sebelum bisa diproduksi massal," ujar Bambang menutup pernyataannya.

22 Februari 2021

PT DI Targetkan 2024 Bisa Produksi Pesawat Amfibi

22 Februari 2021

Pesawat N219 Amphibi membutuhkan floater untuk dapat mendarat di air (image : BPPT)

Bandung (ANTARA) - PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menargetkan bisa mulai memproduksi pesawat berjenis amfibi yang dapat lepas landas dan mendarat di air pada 2024. 

Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI Gita Amperiawan mengatakan saat ini pihaknya pun tengah mengembangkan teknologi untuk memproduksi pesawat tersebut. 

"Pak Budi (Menteri Perhubungan) menanyakan kebutuhan itu kapan selesai, kami katakan Insyaallah tahun 2024 kita akan dapat produksi untuk amfibi, dan sekarang kita sedang kembangkan," kata Gita di Hangar N219 PTDI, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat. 

Sebelumnya, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi telah menyampaikan sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan pesawat amfibi untuk menhubungkan pulau-pulau terpencil. 

PTDI merencanakan pesawat amfibi itu bakal diproduksi setelah pesawat N219 selesai. Pesawat N219 yang murni buatan anak bangsa itu saat ini masih menunggu sertifikasi tipe untuk bisa diproduksi komersial. 

Sementara itu, Direktur Utama PTDI Elfien Goentoro mengatakan dengan adanya pesawat amfibi, Indonesia bisa meminimalisir pembangunan infrastruktur landasan udara atau bandara. 

Selain menghubungkan pulau terpencil, menurut dia, pesawat amfibi itu dapat mempercepat pembangunan sektor pariwisata, karena pesawat amfibi itu dapat langsung mendarat di pantai kawasan pulau wisata. 

"Di manapun bisa landing langsung ke tempat tujuan pariwisata, dan negara kita kan memiliki 17 ribu pulau," kata Elfien.