Tampilkan postingan dengan label USV. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label USV. Tampilkan semua postingan

16 Agustus 2026

Kemampuan Multi-Mission Kamikaze Unmanned Surface Vehicle (USV) PT PAL Indonesia

16 Agustus 2026

USV Kamikaze PT PAL Indonesia tampil perdana dalam Latihan Gabungan (Latgab) TNI 2026 di Dabo Singkep, Kepulauan Riau, Rabu (5/8) (photos & video:  PAL)

Surabaya, (13/08) – Unmanned Surface Vehicle (USV) Kamikaze buatan PT PAL Indonesia tidak hanya dirancang untuk menjalankan misi serang dengan menghantam sasaran secara langsung. Disamping itu, kapal permukaan tanpa awak dengan kecepatan hingga 55 knot ini, memiliki kemampuan Intelligence, Surveillance and Reconnaissance (ISR).

Seperti diberitakan sebelumnya, USV Kamikaze buatan PT PAL Indonesia berhasil menjalankan misi serang dalam Latihan Gabungan (Latgab) TNI 2026 di Dabo Singkep, Kepulauan Riau, Rabu (5/8). Dalam skenario swarm formation, USV dengan hulu ledak 150 kilogram itu berhasil menghantam sasaran.


Direktur Utama PT PAL Indonesia, Kaharuddin Djenod, mengatakan keberhasilan tersebut menunjukkan kemampuan industri pertahanan nasional dalam mengembangkan produk inovatif untuk mendukung penguatan alat utama sistem senjata (Aalutsista) TNI Angkatan Laut.

Menurut dia, pengembangan USV tidak semata-mata menghasilkan sebuah wahana tanpa awak, tetapi juga menjadi bagian dari proses penguasaan teknologi di dalam negeri.


“Keberhasilan USV ini bukan hanya tentang menghasilkan sebuah platform, tetapi tentang membangun kemampuan teknologi di dalam negeri. Mulai dari kompetensi engineer, penguasaan sistem, hingga kemampuan integrasi dan pengujian, semuanya menjadi bagian penting dari proses menuju industri pertahanan yang semakin mandiri,” ujar Kaharuddin.

Ia menambahkan, teknologi nirawak membuka peluang yang lebih luas bagi pengembangan industri pertahanan berbasis teknologi (technology-driven). Integrasi sistem otonom (autonomous system), kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan sistem navigasi nirawak dalam satu platform menjadi bagian dari pengembangan kemampuan tersebut.


“Autonomous, artificial intelligence, dan sensor fusion akan menjadi bagian penting dari masa depan teknologi maritim. Karena itu, inovasi tidak berhenti pada satu produk, tetapi menjadi fondasi bagi pengembangan teknologi pertahanan generasi berikutnya,” katanya.

Kaharuddin menegaskan pengembangan USV juga berpotensi memperkuat ekosistem industri nasional. Penguasaan teknologi ini mencakup peningkatan kompetensi sumber daya manusia serta penguatan rantai pasok nasional, khususnya pada sektor elektronika, sensor, perangkat lunak, sistem komunikasi, manufaktur, dan integrasi sistem.


Dalam perkembangan teknologi pertahanan global, USV juga semakin bergeser dari sekadar platform eksperimental menjadi bagian dari konsep system of systems. Konsep tersebut memungkinkan wahana tanpa awak berkolaborasi dengan kapal berawak maupun sistem pertahanan lainnya dalam satu ekosistem operasi.

“Penguasaan teknologi USV tidak hanya memperkuat kemampuan operasional, tetapi juga memperluas kapasitas industri nasional untuk menghasilkan solusi teknologi maritim yang sesuai dengan kebutuhan pertahanan Indonesia,” pungkas Kaharuddin.

(PAL)

01 Juli 2026

Aselsan Indonesia Visited USV Platform in Tesco Indomaritim

01 Juli 2026

Aselsan Indonesia visited PT Tesco Indomaritim (photo: Aselsan Indonesia)

Our recent visit to the PT Tesco Indomaritim shipyard gave the ASELSAN Indonesia team the opportunity to review the progress of our ongoing USV platforms currently under production.

Seeing these advanced autonomous systems taking shape is both exciting and motivating. We also explored future opportunities to deepen our collaboration and drive further innovation in maritime technology.

(Aselsan Indonesia)

24 Juni 2026

US Embassy in the Philippines Handed Over Four Ocean Aero Triton autonomous AUSV to the Philippine Navy

24 Juni 2026

Four Ocean Aero Triton autonomous underwater and surface vehicle (AUSV) handed over to the Philippine Navy (photos: US Embassy)

ChargĂ© d’Affaires a.i. Bridgette Walker and U.S. Embassy Senior Defense Official and Defense AttachĂ© Col. Daniel Oh turned over four Ocean Aero Triton autonomous underwater and surface vehicles to the Philippine Navy during a ceremony in Subic Bay on June 22. 


The Triton unmanned systems will enhance the Armed Forces of the Philippines’ maritime domain awareness. 

Triton autonomous underwater and surface vehicle (AUSV) (photo: Ocean Aero)

The United States and the Philippines stand shoulder to shoulder as ironclad Allies, rooted in shared history, common values, and an unwavering commitment to a Free and Open IndoPacific. 

16 April 2026

Australian Navy Navy Names Autonomous Systems Unit

16 April 2026

Maritime Autonomous Systems Unit (MASU) Ghost Shark extra-large autonomous underwater vehicle (XL-UUV) (photo: Reuters)

The Royal Australian Navy has formally named the Maritime Autonomous Systems Unit (MASU), marking a key step in Navy’s transition to a more integrated and highly advanced technology‑enabled future force.

MASU has been created through Project SEA 1200 to accelerate the development, integration and operational employment of maritime autonomous systems, optimised for persistent, long‑range intelligence, surveillance, and reconnaissance and strike missions. 

The unit will operate multiple complementary capabilities, including the Ghost Shark extra-large autonomous underwater vehicle (XL-UUV), Bluebottle uncrewed surface vessel (USV) and the Speartooth large uncrewed underwater vehicle (LUUV).

The unit comprises the Uncrewed Systems Control Centre and Deployable Vehicle Team, enabling the deployment and control of autonomous systems from any wharf location anywhere in the world. 

MASU Bluebottle uncrewed surface vessel (USV) (photo: Aus DoD)

MASU’s motto, ‘We Wait, We Strike’, reflects the strategic impact of maritime uncrewed systems through multifaceted roles, including extended endurance and kinetic strike effect. 

Officer in Charge of MASU Commander Chris Forward said it was exciting to see Navy’s newest unit taking shape.

“Announcing MASU’s name gives the team a formal sense of identity as we work to rapidly introduce this capability into the Fleet,” Commander Forward said. 

As part of the Royal Australian Navy’s contribution to AUKUS Pillar Two, MASU will act as the focal point for doctrine development, experimentation, employment, training, and test and evaluation of maritime uncrewed systems.

Speartooth large uncrewed underwater vehicle (LUUV) (photo: C2 Robotics)

The unit will work closely with Defence industry, research partners and international allies to rapidly deliver emerging capabilities.

Commander Submarines Commodore Dan Sutherland said he was pleased to see MASU continue its progress towards full integration into Navy.

“MASU will provide Navy with a long-range autonomous undersea capability through uncrewed systems like the Ghost Shark XL-UUV, Bluebottle USV and Speartooth LUUV to provide a range of asymmetric options to complement Defence's existing crewed force,” Commodore Sutherland said.

By complementing crewed platforms, MASU will extend the Royal Australian Navy’s reach, persistence and resilience while reducing risk to sailors – positioning Navy to meet the demands of the future battlespace.

13 April 2026

CTU, Philippine Navy Partner to Develop Hybrid Transport, Autonomous Ships

13 April 2026

Signing of partnership CTU and PN (photo: CBU)

Cebu Technological University (CTU) and the Philippine Navy have formalized a partnership to develop innovative maritime and transport technologies aimed at improving disaster response and interisland connectivity in the Philippines.

The partnership was sealed through a Memorandum of Agreement (MOA) signed on March 26 at the CTU Main Campus between the university and the Naval Research and Technology Development Center (NRTDC), aimed at strengthening research, innovation, and technical development in the country.

The ceremony was attended by key officials from the Philippine Navy, including Vice Admiral Jose Ma. Ambrosio Q. Ezpeleta and Rear Admiral Juario C. Marayag, along with CTU administrators and representatives, underscoring the significance of the collaboration.

Under the ageement, CTU will lead the design, development, and testing of the prototypes, including system integration and performance evaluation. The university will also provide technical training for Philippine Navy personnel. /Jhevey Yan - CTU Main BAL intern

(CTU)

14 Maret 2026

Royal Australian Navy Mendapatkan 11 Bluebottle Surveillance USV

14 Maret 2026

Bluebottle USV untuk pengawasan jalur laut (photos: Ocius Technology)

Departemen Pertahanan Australia (DoD) telah memberikan kontrak senilai AUD176 juta (USD126 juta) kepada perusahaan domestik Ocius Technology untuk pengadaan kendaraan permukaan tak berawak (USV) untuk Angkatan Laut Kerajaan Australia/Royal Australian Navy (RAN).

Berdasarkan kontrak tersebut, Ocius akan mengirimkan 40 USV Bluebottle kepada DoD untuk meningkatkan operasi intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR) RAN, demikian diumumkan DoD pada 11 Maret.

Ocius mengatakan Bluebottle ini akan diproduksi di fasilitas baru perusahaan di Sydney dengan dukungan produksi dari fasilitas lain yang terletak di Hunter Valley di New South Wales. Perusahaan tersebut menambahkan bahwa mereka akan menyelesaikan pengiriman Bluebottle ini pada akhir tahun 2031.

Menteri Industri Pertahanan Australia, Pat Conroy, mengatakan, “Dengan [USV Bluebottle], kami dapat meningkatkan pengawasan di jalur masuk utara Australia dan menanggapi ancaman maritim yang semakin meningkat.”


CEO Ocius, Robert Dane, mengatakan, “Bluebottle ini seperti ‘satelit laut’, yang memberikan kemampuan ISR (Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance) yang terus mengawasi di atas dan di bawah lautan kita dengan biaya yang sangat rendah.”

Ocius sebelumnya telah memasok 15 Bluebottle yang ditenagai oleh energi terbarukan ke Angkatan Laut Australia (RAN). Perusahaan tersebut mengatakan sebagian besar Bluebottle ini telah dikerahkan untuk mendukung Operasi ‘Resolute’ Angkatan Pertahanan Australia (ADF), yang berfokus pada perlindungan perbatasan Australia dan kepentingan maritim lepas pantai dalam kemitraan dengan Pasukan Perbatasan Australia.

Dane mengatakan kepada Janes pada 11 Maret bahwa Bluebottle baru yang akan dikirim ke RAN juga akan ditenagai oleh energi terbarukan, termasuk energi surya, angin, dan gelombang. Sumber energi terbarukan memungkinkan pengoperasian USV yang lebih lama dan lebih tenang.

01 Maret 2026

SYOS Awarded Contract to Boost New Zealand Defence Force Capability

01 Maret 2026

SYOS will deliver SM300 USV to NZDF (photo: SYOS)

We’re proud to share a new agreement with the New Zealand Defence Force NZDF | Defence Science & Technology (DST) to strengthen advanced uncrewed systems capability, and ensure NZDF are fully equipped to integrate, operate and evaluate emerging technologies.

SYOS will deliver SG400 UGV to NZDF (photo: SYOS)

SYOS will deliver a portfolio of air, land and sea uncrewed autonomous vehicles, supported by a programme of structured experimentation, evaluation, and development.

SYOS will deliver SA7 UAV to NZDF (photo: SYOS)

We’ll also provide specialist services to the NZDF Capability Branch, including advanced testing, technical services, training, and operational support. Conducting trials in a range of scenarios, such as transporting supplies, performing maritime patrols, and completing route reconnaissance.

SYOS will deliver SA2 UAV to NZDF (photo: SYOS)

Samuel Vye SYOS: “We’re delighted to contribute to the growth of New Zealand’s defence‑technology ecosystem – with solutions that are mission ready, combat proven and scalable.  The NZDF’s structured experimentation aligns with how we operate – working shoulder to shoulder with customers and end users to tackle complex, real‑world challenges.”

31 Desember 2025

Bintang 2025: PT PAL dan Kaharuddin Djenot

31 Desember 2025

Fregat Merah Putih dan KSOT (kapal selam otonom tempur) (photo: FMI)

Berita terbaik sepanjang tahun 2025 adalah ini: PT PAL dengan dirutnya, Kaharuddin Djenot. Itulah ''Bintang 2025''. Anda bisa punya bintang sendiri. Silakan pilih.

Perusahaan pembuat kapal perang itu berubah drastis: bukan hanya kinerja perusahaannya, juga artinya bagi Indonesia.

Lokasi perusahaan itu di dekat pangkalan TNI-AL, Ujung, Perak, Surabaya. Saat Kaharuddin menerima amanah sebagai dirut baru, PT PAL dalam kondisi Kol 5 (kolektibilitas 5). Artinya: macet. Sudah waktunya dinyatakan pailit, dilelang, dan dilikuidasi. PT PAL sudah lama tidak bisa memenuhi kewajibannya kepada bank dan pihak ketiga lainnya.

Hanya dalam tiga tahun keuangan PT PAL bisa kembali sehat. Bukan saja sembuh tapi sudah bisa lari cepat.

Dibanding zaman paling sehatnya dulu pun sudah lebih baik 10 kali lipatnya. PT PAL pernah sehat, lalu sakit kronis yang amat akut –saya pun tidak mampu menyehatkannya.

Loading torpedo ke KSOT (photo: Kemhan)

Baru-baru ini saya meninjau PT PAL –sebelum Natalan ke Sidikalang, Sumut. Saya bertemu Dirut Kaharuddin Djenot. Saya ingin tahu apakah yang dikatakan Kaharuddin empat tahun lalu berhasil diwujudkan. Waktu itu saya ajak Kaharuddin podcast. Ia mengungkapkan begitu banyak rencana kerja. Sangat muluk. Ambisius.

Ternyata semua yang ia katakan terlaksana. Bahkan jauh lebih maju. Ia seperti menyulap rongsokan PT PAL menjadi emas. Itu karena ia bukan dirut biasa. Ia dirut perusahaan kapal yang punya keahlian mendesain kapal. Kapal apa saja. Termasuk kapal perang. Bahkan mahkotanya kapal perang: kapal selam.

Ibarat petani ia bisa mencangkul, membajak, menyemai benih, menanam, memanen, menggilingnya jadi beras, memasaknya jadi nasi, sekaligus mampu menjual nasi itu.

Menuju produksi 30 kapal selam tanpa awak
Kalau yang ia buat kapal selam konvensional mungkin tidak tercipta sejarah baru. Yang ia buat di PT PAL adalah kapal selam era baru: kapal selam tanpa awak atau kapal selam autonomous (KSOT). Biaya produksinya pun menjadi sangat murah. Biaya membuat satu kapal selam konvensional bisa untuk memproduksi 30 kapal selam tanpa awak made in Kaharuddin.

KSOT dalam kondisi menyelam (image: Medef)

Tahun depan, dimulai lusa, PT PAL akan memproduksi 30 kapal selam tanpa awak. Produk pertamanya sudah selesai diuji coba Oktober lalu. Sukses. Termasuk ketika meluncurkan senjata torpedo ke sasaran tembak di bawah permukaan air.

Bayangkan: tiba-tiba saja Indonesia punya 30 kapal selam. Siapa yang mengira. Negara konsumen ini bisa menjadi produsen.

Dengan 30 kapal selam praktis semua ''pintu masuk'' perairan Indonesia bisa dijaga oleh kapal selam bertorpedo.

Di produk pertama yang saya lihat itu, satu kapal selam membawa empat torpedo. Dua di kanan, dua di kiri. Di produksi selanjutnya, satu kapal selam bisa membawa delapan torpedo. Torpedonya pun buatan PAL sendiri.

KSOT nomor 003 (photo: IKMI)

Kapal selam tanpa awak itu bisa diparkir di bawah laut berbulan-bulan. Tanpa perlu mengapung. Tidak perlu takut kehabisan oksigen. Atau kehabisan bahan pangan. Tidak ada manusia di dalamnya. Mata dan telinga di kapal itu semuanya artificial intelligence.

Tenaga di kapal itu mengandalkan baterai. Tidak perlu takut low bat. Kalau isi baterainya berkurang bisa di-charging di bawah laut. Charging terjadi otomatis setiap saat diperlukan.

Di bagian bawah kapal selam dilengkapi turbin. Penggerak turbinnya alami: arus bawah laut. Arus air laut itulah yang memutar turbin. Turbin yang memutar membuat generator memutar: menghasilkan listrik –dipakai charging baterai kapal selam tanpa awak.

Tiba-tiba saja Indonesia menjadi negara produsen kapal selam. Secara masif pula. Tiba-tiba saja kapal selam model lama tidak begitu relevan lagi. Negara-negara yang tidak kaya pun akan bisa membeli kapal selam. Indonesia langsung bisa menjadi eksporter kapal selam.

Fregat Merah Putih KRI Balaputradewa 322 (photo: FMI)

Menuju produksi 100 blok kapal perbulan
Kini seluruh galangan kapal yang ada di PT PAL sedang diperbarui. Kapasitasnya dinaikkan. Kalau dulu sebulan hanya bisa membuat 15 blok, kini sudah bisa 40 blok. Tahun 2027 meningkat menjadi 100 blok/bulan.

Kalau itu terwujud, kata Kaharuddin, PT PAL sudah setara dengan galangan kapal terbesar milik Jepang –tempat Kaharuddin memperoleh gelar S-1, S2, dan S-3 di bidang perkapalan.

Anda sudah tahu: pembuatan kapal itu dilakukan per blok. Dikerjakannya di atas tanah. Setelah semua blok selesai dibuat, barulah disambung-sambung menjadi satu kapal. Satu kapal kecil terdiri dari 20 blok. Kapal besar, kelas Panamax (bisa melewati terusan Panama), terdiri dari sekitar 110 blok.

Fregat Merah Putih KRI Balaputradewa 322 (photo: FMI)

Rencana PAL selanjutnya: seluruh galangan kapal milik BUMN digabung ke dalam PT PAL. Bahkan PAL berencana menggandeng seluruh galangan kapal swasta di Indonesia. Mereka akan menjadi satu koordinasi: Indonesia Maritime Incorporated.

Pasar kapal Indonesia sangat besar. Selama ini lebih banyak impor. Kalau semua kapal yang diperlukan Indonesia buatan Indonesia maka industri maritim akan hidup –BUMN maupun swastanya.

Diam-diam saya bersyukur Kaharuddin Djenot batal jadi pimpinan Danantara. Ia sudah pernah di-SK-kan menjadi CEO Danantara. Tapi batal sebelum dilantik.

"Bolehkah saya bersyukur seperti itu –meskipun Anda sendiri mungkin sempat kecewa?"

"Boleh," katanya lantas tersenyum. Saya sulit memaknai senyumannya itu.(Dahlan Iskan)

23 Desember 2025

ASELSAN and Malaysian NAVAMAS to Jointly Develop USV

23 Desember 2025

Signing agreement between Aselsan and Navamas (photo: Navamas)

ASELSAN and NAVAMAS have signed a Teaming Agreement to jointly develop a mission-ready Unmanned Surface Vessel (USV) tailored for Malaysian end users, including the Royal Malaysian Navy and the Malaysian Maritime Enforcement Agency. 

Aselsan has developed of a range of 'Marlin USVs' for various naval and security roles (image: Aselsan)

Combining ASELSAN’s advanced autonomous and payload technologies with NAVAMAS’ local shipbuilding and integration capabilities, the collaboration aims to enhance Malaysia’s maritime surveillance, security, and defense readiness while supporting local industry, technology transfer, and long-term national maritime security objectives.

12 November 2025

Rudal NSM Akan Lengkapi Fregat Improved Mogami class dan USV Australia

12 November 2025

Sebuah model fregat Improved Mogami dipamerkan di Indo Pasifik 2025 (photo: Janes)

Armada fregat kelas Improved Mogami Australia sedang dibangun untuk mengakomodasi  Naval Strike Missile (NSM), seorang perwakilan dari Mitsubishi Heavy Industries (MHI) telah mengonfirmasi.

Berbicara kepada Janes di Pameran Maritim Internasional Indo Pasifik 2025 di Sydney, perwakilan tersebut mengatakan bahwa ini akan menjadi perbedaan utama antara fregat kelas Improved Mogami yang sedang dibangun untuk Angkatan Laut Kerajaan Australia (RAN) dan yang sedang dibangun untuk Pasukan Bela Diri Maritim Jepang (JMSDF).

Sebagai ganti NSM, fregat kelas Improved Mogami yang sedang dibangun untuk Jepang akan dilengkapi dengan rudal Tipe 12 yang telah ditingkatkan.

Selain pilihan rudal antikapal, yang akan dipasang di tengah kapal, kapal perang Australia akan dilengkapi dengan persenjataan dan sensor yang sebagian besar sama dengan yang sedang dibangun untuk JMSDF, tambah perwakilan MHI.

Perlengkapan ini meliputi mast utama Unified Complex Radio Antenna (UNICORN) kelas Improved Mogami dan sistem radar multifungsi OPY-2 X-band empat sisi pada superstruktur.

Demikian pula, varian Australia dan Jepang juga akan dipersenjatai dengan meriam angkatan laut Mk 45 Mod 4 127 mm di posisi utama, turret sistem pertahanan udara SeaRAM yang menghadap ke belakang di atas hanggar helikopter, dan sistem peluncur vertikal (VLS) Mk 41 32-sel.

Australia mengumumkan pada bulan Agustus bahwa mereka telah memilih fregat kelas Improved Mogami MHI sebagai platform pilihan untuk kebutuhan fregat serbaguna RAN.

Kapal-kapal baru ini akan menggantikan armada fregat kelas Anzac milik Angkatan Laut Australia yang sudah tua dan telah beroperasi sejak tahun 1990-an. (Jane's)

Leidos’ next-generation uncrewed surface vessels (USVs), Sea Archer and its larger variant, Longbow, equipped with NSM missile (image: Leidos)

Leidos Australia and Kongsberg Sign MOU to Advance USV Strike Capability

Sydney, Australia – 6 November 2025: Leidos Australia and Kongsberg Defence Australia have signed a Memorandum of Understanding (MOU) to explore the integration of Kongsberg’s Naval Strike Missile (NSM) with Leidos’ next-generation uncrewed surface vessels (USVs), Sea Archer and its larger variant, Longbow.

Building on Leidos’ proven success in launching missiles from unmanned vessels, the partnership aims to demonstrate how integrating the NSM with advanced USVs could extend the reach, responsiveness and adaptability of maritime strike possibilities.

Kongsberg’s ship-based NSM is a sea-skimming, precision-guided cruise missile capable of engaging targets at a range of more than 300 km. Designed for survivability, the NSM features autonomous target recognition and advanced terminal manoeuvres to evade modern defences.

Sea Archer, currently under construction in Australia, is a high-speed, long-range USV designed to support modular payloads for strike, electronic warfare, logistics resupply and intelligence, surveillance, and reconnaissance (ISR). Equipped with Leidos’ advanced autonomy software and AI-powered battle management technologies, the vessel reaches speeds up to 40 knots, has a range of 1,500 nautical miles and supports a payload of over 900 kg. 

The larger Longbow variant has an increased payload capacity of 3,000 kgs and is powered by four (4) OXE marine diesel engines with 300 horsepower supporting a range in excess of 2,750 nautical miles.  

Currently at the proof-of-concept stage, there is potential to explore NSM integration with a variety of Leidos USVs. Further development and integrated payload capabilities are being trialled both in the US and in Australia in 2026.

“This MOU represents a significant step forward in exploring a mission-ready, sovereign maritime strike capability for Australia,” said Paul Chase, chief executive of Leidos Australia. 

“By combining the proven performance of the NSM with the flexibility and endurance of a Longbow Sea Archer, we are offering Defence a potent, adaptable and locally supported solution for future operational needs.” (Leidos)

26 Agustus 2025

Proyek Kendaraan Udara Nirawak Maritim Filipina

26 Agustus 2025

Philippine Autonomous Littoral Interdiction Drone (Palid) (image: Mindanao State University)

Para insinyur dari Universitas Negeri Mindanao di Filipina sedang merancang prototipe platform angkatan laut nirawak, Drone Interdiksi Pesisir Otonom Filipina/ Philippine Autonomous Littoral Interdiction Drone (Palid). Drone ini dirancang dengan bobot benaman 650 kg dan membawa muatan tempur 150 kg. Proyek ini diresmikan pada KTT Self Reliance Defense Posture (SRDP) baru-baru ini, yang diselenggarakan oleh Angkatan Laut Filipina di Manila.

Palid ditujukan terutama untuk serangan bunuh diri/suicide attacks di laut. Sensor optik dan inframerah yang terpasang pada kapal akan menargetkan sistem propulsi atau radar kapal musuh. Sistem ini akan menjadi target utama selama serangan. Palid dirancang untuk mencapai kecepatan maksimum 75 km/jam.

Tangki bahan bakar kendaraan ini akan menampung 120 liter bensin. Setelah dayanya habis, drone ini akan ditenagai oleh motor listrik bertenaga baterai. Motor ini akan memungkinkan Palid berlayar selama 48 jam lagi dengan tangki kosong.

Prototipe drone skala penuh diperkirakan akan selesai dalam dua tahun. Drone ini akan diuji tidak hanya sebagai unit tempur tetapi juga sebagai platform pengawasan. Sistem Starlink yang terpasang akan menyediakan jangkauan komunikasi yang hampir tak terbatas.

27 Juli 2025

RNZN Deploys 2 Bluebottle USV in Fiji for Joint Maritime Security Operations

27 Juli 2025

HMNZS Canterbury a a multi-role vessel (MRV) (photo: RNZN)

HMNZS Canterbury delivers leading-edge technology to support regional security tasks in Fiji

The Royal New Zealand Navy’s (RNZN) multi-role vessel HMNZS Canterbury has sailed into Suva for annual Operation Calypso, this time with a technologically advanced capability aboard.

Op Calypso focuses on supporting Pacific partners through a range of joint maritime security activities and HMNZS Canterbury carried into the Fijian port advanced capability in the form of Uncrewed Surface Vessels (USV) - the Bluebottles Tahi and Rua.

The autonomous vessels can conduct long-endurance operations without requiring refuelling or crew. Propelled and powered by sun, wind and wave action, the Bluebottles are ideal platforms for fishery protection, border patrols, surveillance, and the collection of oceanic and meteorological data.

The RNZN will work with Republic of Fiji Navy personnel deploying and monitoring the Bluebottles to help identify and track vessels operating suspiciously in Fiji’s exclusive economic zone - including those potentially involved in narcotics trafficking.


A Royal New Zealand Air Force No. 42 Squadron King Air aircraft will provide identification and surveillance oversight while a Fijian Navy vessel will be available to carry out boarding and seizure tasks.

Commodore Shane Arndell, the New Zealand Defence Force’s Maritime Component Commander, says the joint effort reflects the deep commitment shared by both nations to tackle common security and economic challenges.

“For many years, at the request of the Fijian government, we have conducted joint fishery patrols to ensure Fiji’s natural resources and vital revenue streams aren’t being exploited through illegal fishing by other countries. 

“Now we are confronting a criminal issue just as important but with deadly consequences,” Commodore Arndell said.

“The movement of drugs from South America through the Pacific is a very real concern and has a significant and long-lasting impact on the lives of Fijians, their families and the wider Pasifika community.

The Bluebottles Tahi and Rua (photo: RNZN) 

“All too often we see the harm these narcotics bring, so the opportunity to work with our friends and partners in the Fijian Navy to intercept and disrupt their importation is something we are committed to doing. What affects Fiji - directly affects us as well.”

The Bluebottles will be jointly monitored by Fijian Navy and RNZN personnel from the newly established Maritime Essential Services Centre in Suva.

Outside of normal operating hours, monitoring will be conducted by a team from HMNZS Matataua operating from a control room at Devonport Naval Base in Auckland.

While alongside in Suva, Canterbury crew will participate in a range of important activities, including the Southwest Pacific Heads of Maritime Forces meeting and the Fijian Navy’s 50th Golden Jubilee celebrations. 

Commodore Arndell said operations like Calypso were crucial to maintaining regional preparedness and resilience.


“Canterbury conducts these multi-faceted missions in the southwest Pacific to grow our Navy’s capabilities and maritime culture, and to strengthen the ability of our partners in this region,” he said.

“Our long-standing relationships and presence in the region positions us to respond quickly to humanitarian assistance and disaster relief events and other security-related issues —but more than that, it provides us with an opportunity to share vital maritime skills and training to partners like Fiji.

“That’s a commitment we take very seriously, to help ensure we can maintain a secure and prosperous future for all Pacific nations.”

For HMNZS Canterbury, Op Calypso follows quickly from its role in Exercise Talisman Sabre, where it transported NZ Army and Royal New Zealand Air Force personnel, equipment, armoured vehicles and aircraft to Australia for the major multinational military exercise.

25 Juni 2025

Exail to Equip Indonesian Navy with Next-generation Unmanned Mine Countermeasures System

25 Juni 2025

Four Exail Inspector 90 USV will equip KRI Pulau Fani and KRI Pulau Fanildo (photo: Exail)

Exail has been selected to supply multiple Unmanned Surface Vessels (USVs) and Mine Identification and Disposal Systems (MIDS) to the Indonesian Navy enabling a fully integrated unmanned Mine Countermeasures (MCM) capability.


The contract covers the delivery of four Exail’s Inspector 90 USVs, along with Seascan and K-Ster Mine Identification and Disposal Systems. These advanced systems will be deployed from two new, next-generation MCM motherships, (KRI Pulau Fani and KRI Pulau Fanildo).

Seascan, a smart ROV for subsea inspection (photo: Exail)

All systems will be remotely operated from the mothership and coordinated through Exail unified Command and Control (C2) center. The C2 center, powered by Umisoft software suite and installed in the ship’s combat room, will provide integrated control software for both sweeping and hunting operations. Exail Umisoft software supports comprehensive mission planning, real-time supervision, multi-system coordination, and detailed post-mission analysis and data management.

K-Ster C Expendable Mine Disposal Vehicle (photo: Exail)

This new success highlights the strength of our modular MCM solution, UMIS, which is specifically designed to adapt to the unique operational needs of each navy,” said JĂ©rĂ´me Bendell, Head of Exail Maritime Systems Business line. “Its flexibility enables the delivery of scalable, high-performance unmanned systems, configurable for a wide range of mine warfare missions. This selection, showcasing yet another adaptable configuration, further reinforces Exail’s position as a key player in shaping the future of naval mine countermeasures.

KRI Pulau Fani and KRI Pulau Fanildo (photo: Abeing & Rasmussen)

"This new success highlights the strength of our modular MCM solution, UMIS, which is specifically designed to adapt to the unique operational needs of each navy. Its flexibility enables the delivery of scalable, high-performance unmanned systems, configurable for a wide range of mine warfare missions. This selection, showcasing yet another adaptable configuration, further reinforces Exail’s position as a key player in shaping the future of naval mine countermeasures." JĂ©rĂ´me Bendell, Head of Exail Maritime Systems Business line. 

14 Juni 2025

PT PAL Bersiap Meluncurkan Kapal Selam Otonom Pertama

14 Juni 2025

Model Kapal Selam Otonom PT PAL dalam pameran Indo Defence 2025 (photo: Jane's)

Galangan kapal milik negara Indonesia, PT PAL, telah memproduksi prototipe pertama kapal selam otonom yang dikembangkan di dalam negeri dan bersiap meluncurkan kapal tersebut pada akhir tahun 2025.

Berbicara kepada Janes di pameran Indo Defence 2025, General Manager Divisi Desain PT PAL, Chabibi Nur Tahlil, membenarkan bahwa pekerjaan konstruksi kapal selam tersebut – yang dikenal di dalam negeri sebagai Kapal Selam Otonom (KSOT) – dimulai pada Januari 2025.

Konsepnya mirip dengan konsep KSOT yang diluncurkan pada ajang Indo Defence tahun 2022, tetapi memiliki panjang keseluruhan yang lebih pendek sekitar 15 m, bukan 25 m.

Model Kapal Selam Otonom PT PAL (photo: NavalNews)

Kapal ini memiliki lebar 2,2 m, draft 1,85 m, dan bobot mati sekitar 37 ton saat terendam.

Ditenagai oleh motor listrik, KSOT memiliki kecepatan maksimum 8 knot dan kecepatan jelajah 5 knot. Pada kecepatan jelajah tersebut, kapal ini memiliki daya tahan 18 jam dengan jangkauan maksimum 90 mil laut.

Ada rencana untuk meningkatkan daya tahan dan jangkauan maksimum KSOT menjadi enam bulan dan 6.000 mil laut, kata Chabibi.

KSOT yang akan diluncurkan pada tahun 2025 merupakan prototipe generik tetapi PT PAL berencana untuk akhirnya memproduksi tiga varian kapal selam otonom yang berbeda.

Spesifikasi teknis Kapal Selam Otonom (image: NavalNews)

Yaitu varian torpedo, varian pengintaian, dan varian bunuh diri/kamikaze.

Untuk varian torpedo, KSOT akan dapat membawa dan menyebarkan hingga dua torpedo kelas berat per misi. Instruksi untuk meluncurkan torpedo dapat disampaikan dari jarak jauh setelah kapal mencapai posisi yang dituju.

(Jane's)

24 Mei 2025

TLDM Terima USV Swift Sea Stalker (S3)

24 Mei 2025

Serah terima USV Swift Sea Stalker (S3) kepada TLDM (photos: TLDM)

TLDM Terima Kenderaan Permumur Tanpa Kawalan LIMA '25

(LANGKAWI) - Menteri Pertahanan, YB Dato' Seri Mohamed Khaled bin Nordin telah menyaksikan serah terima Unmanned Surface Vehicle (USV) Swift Sea Stalker (S3) dari perusahaan Swiftships kepada Royal Malaysian Navy (TLDM) di Mahsuri International Exhibition Centre (MIEC) hari ini.


Upacara serah terima di Paviliun RMN turut dihadiri Wakil Menteri Pertahanan, YB Adly bin Zahari; Sekjen Kementerian Pertahanan, Datuk Lokman Hakim bin Ali dan jajaran perwira senior Angkatan Bersenjata Malaysia (ATM).

USV Swift Sea Stalker (S3) (all images: Swiftships)

Panglima Angkatan Laut, Admiral Datuk (Dr.) Zulhelmy bin Ithnain mewakili TLDM sementara Swiftships diwakili oleh Wakil Presiden Eksekutifnya, Kristina Paskeviciute.


Swiftships yang berbasis di Los Angeles, Amerika Serikat telah menyumbangkan platform tanpa pengemudi yang akan memperkuat kemampuan TLDM dalam perang laut. TLDM telah mulai mengoperasikan platform tanpa awak dengan terciptanya Skudaron 601 yang menggunakan aset udara yaitu Unmanned Aerial System (UAS) ScanEagle sebagai pengganda kekuatan dalam operasi maritime.


S3 juga merupakan platform surface driverless yang akan memberikan keuntungan bagi armada TLDM untuk meningkatkan kemampuan perang laut dalam hal pengawasan dan kegiatan intelijen. 


Platform ini dapat dilengkapi dengan senjata yang meningkatkan pencegahan (keturunan) dalam perang laut.


Pengambilan S3 ini membuka peluang baru bagi TLDM untuk menjelajahi platform driverless lainnya dan ini akan dapat mendukung visi ATM khususnya dalam Rencana Pengembangan Pasukan Masa Depan.

04 Mei 2025

NZDF Acquire Two Bluebottle USVs

04 Mei 2025

The two USVs, Tahi and Rua (photos: NZDF)

Defence and Customs strengthen maritime security with uncrewed surface vessels

The New Zealand Defence Force (NZDF) and the New Zealand Customs Service have unveiled and named two new state-of-the-art Bluebottle uncrewed surface vessels (USVs) to help combat transnational serious and organised crime.

The two agencies have acquired the USVs to further enhance New Zealand’s ability to patrol and protect its maritime interests and security. 

Minister of Customs Casey Costello, alongside Defence and Customs officials, attended a naming ceremony at Devonport Naval Base this afternoon. The USVs are named Tahi and Rua.

Built by Sydney-based Ocius Technologies, the USVs were purchased following a successful seven-month trial last year. During the trial a USV played a critical role in an operation to recover a steel box with 7kg of cocaine hidden on the hull of a commercial vessel heading to Auckland.

The 7.4-metre USVs use solar, wind or wave motion to power its monitoring systems and propulsion. It has a top speed of five knots and can operate at sea for a significant period of time before returning to shore.  Its sensors include radar, electro-optic and infrared cameras.


Customs Deputy Chief Executive Operations Jamie Bamford says organised crime groups exploit the Pacific to smuggle drugs to New Zealand, and this additional capability helps counter that threat and protect our coastline. 

“New Zealand's maritime border faces growing threats from transnational serious and organised crime groups as they continue to focus on exploiting New Zealand and undermining the integrity of the international supply chain and trade routes.  

“By investing in new technology that enhances our ability to monitor New Zealand’s vast maritime environment, and can operate at sea for extended periods, USVs represent a, practical, cost-effective and future-ready capability to help protect New Zealand’s interests. 

“These vessels enable Defence and Customs to monitor in real time. This live intelligence strengthens our ability to better understand situations and enforcement requirements and enable faster decision-making. This allows Customs, Defence and our agency partners to respond more effectively.”

NZDF Maritime Component Commander, Commodore Shane Arndell, says the USVs are an important part of the Defence Force’s move towards smarter, more sustainable surveillance methods. 

“From the outset, the success of the USV trials has come down to strong cooperation across agencies. The technology gives us a clearer maritime picture and helps improve safety and security in challenging environments.