18 Juli 2021

Mampukah RI Meraih Offset Alutsista Senilai US$ 18 Miliar?

18 Juli 2021

Manufaktur pesawat angkut C-130J (photo : Lockheed Martin)

Janes Defence Weekly baru menerbitkan laporan tentang peluang offset (upaya alih teknologi militer) global selama 2021-2030 berdasarkan analisis data Janes Market Forecast, Janes Offset Advisory dan Janes Defence Budget.

Peluang offset global mencapai US$ 487 miliar dengan US$ 143 miliar berada di kawasan Asia Pasifik dan US$ 18,1 miliar di antaranya berasal dari Indonesia, sedangkan peluang terbesar berada di India sebesar US$ 32,9 miliar dan Korea Selatan senilai US$ 24,1 miliar. Peluang offset terbagi atas sektor pesawat militer, kendaraan militer darat, radar, rudal dan kapal militer.

Peluang offset di Indonesia senilai US$ 18,1 miliar merupakan potensi ekonomi yang besar sekaligus peluang bagi peningkatan penguasaan teknologi maju.

Namun apakah US$ 18,1 miliar dapat menjadi nilai pendapatan ril akan tergantung pada sejumlah hal yang terkait dengan kemampuan Indonesia sendiri.

Apakah nilai US$ 18,1 miliar akan berkontribusi pada peningkatan penguasaan teknologi maju oleh industri pertahanan Indonesia juga akan tergantung pada apakah offset yang diminta berupa teknologi maju ataukah teknologi rendah demi sekedar menunaikan kewajiban offset sesuai aturan undang-undang.

Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan apabila peluang offset sebesar US$ 18,1 miliar hendak diterjemahkan menjadi wadah peningkatan penguasaan teknologi maju, pendapatan ekonomi dan membuka peluang kerja.

Pertama, prioritas offset. Pada periode 2021-2030, Indonesia diharapkan akan mengimpor pesawat militer, kendaraan militer darat, radar, rudal dan kapal militer.

Manufaktur fregat FREMM (photo : ilsole240re)

Indonesia harus memberikan prioritas pada program offset untuk pengadaan tersebut daripada berfokus pada kandungan lokal sebab offset lebih membantu penguasaan teknologi maju.

Dari semua klasifikasi senjata, Indonesia hendaknya memberikan prioritas pada sektor tertentu saja yang perlu mendapatkan offset berdasarkan pada tingkat kandungan teknologi maju, nilai ekonomis dan kesiapan penyerapan teknologi.

Indonesia sebaiknya tidak bernafsu untuk mendapatkan offset pada semua klasifikasi senjata itu karena selain industri pertahanan tidak siap, juga akan membuat Indonesia tidak fokus pada teknologi apa sebenarnya yang menjadi prioritas.

Tidak berhasilnya semua tujuh program prioritas industri pertahanan hendaknya menjadi acuan sebab keinginan menguasai semua teknologi tidak didukung dengan kapasitas industri pertahanan yang memadai.

Dengan sumberdaya terbatas, lebih baik berfokus pada teknologi tertentu saja daripada hendak menyerap semua teknologi namun kesiapan sumber daya rendah.

Mempertimbangkan kesiapan sumberdaya manusia dan kapasitas industri pertahanan Indonesia saat ini dan kebutuhan penguasaan teknologi maju ke depan, offset sebaiknya berfokus pada pengadaan pesawat militer, kapal militer dan radar. Dalam program pesawat militer dan kapal militer, terkandung pula teknologi elektronika pertahanan, sehingga penguasaan teknologi tersebut bagaikan sekali mendayung tiga pulau terlampaui.

Kedua, perencanaan offset. Mengutip data Janes Intelligence Briefing, salah satu halangan dalam upaya negara-negara kawasan Asia Pasifik dalam mendorong kemandirian industri pertahanan adalah perencanaan offset yang buruk.

Perencanaan offset harus selaras dengan perencanaan pengadaan senjata yang tercantum dalam Daftar Rencana Pinjaman Luar Negeri (DRPLN) yang diterbitkan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas.

Manufaktur pesawat tempur Rafale (photo : India Today)

Hal ini sebenarnya mudah dilaksanakan karena penyusunan DRPLN mengacu pada daftar Rencana Kebutuhan yang diusulkan oleh Kementerian Pertahanan (Kemenhan) sehingga Kemenhan sejak awal memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan perencanaan offset secara matang apabila DRPLN mengecurut menjadi Daftar Rencana Prioritas Pinjaman Luar Negeri (DRPPLN) dan selanjutnya mendapatkan Penetapan Sumber Pembiayaan (PSP) dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Perencanaan offset terkait pula dengan penyiapan kapasitas industri pertahanan yang diharapkan akan menjadi penerima offset. Industri itu harus mempersiapkan secara detail tentang bagaimana rencana offset dalam rencana kerja perusahaan, termasuk aspek-aspek teknis seperti desain, material management organization dan project management.

Misalnya, perlu disiapkan kapasitas dan sumberdaya manusia untuk menyerap know how tentang design philosophy, concept design dan basic design apabila desain termasuk dalam program offset pengadaan kapal perang.

Ketiga, investasi berkelanjutan. Guna mendukung offset, tidak jarang industri pertahanan penerima offset harus berinvestasi agar dapat menyerap teknologi yang telah disepakati untuk diberikan. Investasi itu termasuk dalam penyiapan fasilitas produksi seperti permesinan computer numerical control dengan teknologi terbaru, fasilitas material komposit dan lain sebagainya.

Isu investasi masih menjadi tantangan bagi industri pertahanan Indonesia, baik BUMN maupun swasta karena membutuhkan modal yang besar. Bagi industri pertahanan swasta, salah satu kalkulasi mereka adalah return of investment (ROI) yang memerlukan waktu sangat lama apabila hanya mengandalkan pada pesanan pasar dalam negeri saja.

Terdapat kecenderungan kuat bahwa Kementerian BUMN setidaknya hingga 2024 tidak akan mengusulkan pemberian Penanaman Modal Negara (PMN) kepada BUMN industri pertahanan.

Manufaktur kapal selam (photo : Der Spiegel)

Kondisi ini akan memaksa BUMN industri pertahanan untuk mengandalkan pada pinjaman komersial dari perbankan, namun masih ada BUMN yang tidak bankable.

Salah satu solusinya adalah memasukkan kebutuhan investasi yang terkait dengan offset ke dalam kontrak pengadaan senjata yang ditandatangani. Namun hal demikian membutuhkan kesepakatan antara Kemenhan, Kemenkeu, Kementerian PPN/Bappenas dan Kementerian BUMN.

Apakah Indonesia dapat meraih US$ 18,1 miliar dari offset hingga 2030? Semua terpulang pada kesiapan para pemangku kepentingan, baik pemerintah, BUMN maupun swasta.

Berdasarkan data Janes, pasar offset terbesar ada di sektor pesawat militer yang di kawasan Asia Pasifik diproyeksikan bernilai US$ 65 miliar.

PT Dirgantara Indonesia memiliki peluang untuk meraih pendapatan terbesar dari potensi US$ 18,1 miliar dibandingkan BUMN industri pertahanan lainnya. Mampukah industri yang dirintis oleh Nurtanio dan BJ Habibie ini meraih pendapatan minimal US$ 5 miliar dari offset hingga 2030?

45 komentar:

  1. Perlu penerima offset lainnya selain PT PAL dan PT DI agar secara kuantitas industri inhan Indonesia berkembang.

    BalasHapus
  2. indonesia needs their gen 4 jets while they design or develop their own 4.5 jet..
    probably 40 dassault rafale..then 100+ 4.5 gen jet for the next 20 years.

    BalasHapus
  3. for the navy indonesia needs its own aircraft carriers. design their own..no more second hand.

    BalasHapus
    Balasan
    1. I'd rather use the more specific term: helicopter carriers. Not too complex and should be locally built for local jobs. The only purpose of used ones would be for scrap metal.

      Hapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Peluang offset global mencapai US$ 487 miliar dengan US$ 143 miliar berada di kawasan Asia Pasifik dan US$ 18,1 miliar di antaranya berasal dari Indonesia, sedangkan peluang terbesar berada di India sebesar US$ 32,9 miliar dan Korea Selatan senilai US$ 24,1 miliar. Peluang offset terbagi atas sektor pesawat militer, kendaraan militer darat, radar, rudal dan kapal militer.

    ---------------------------

    kok nama KL gak disebut? katanye gred a apa jgn2 dah turun...
    kaburrr aaahh haha!🥳🥳🥳

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heiran juga ya om.....kok KL ga di sebut, berarti analys dan redaksi cnbc nya kurang ber ilmu Krn ga masukkan KL dalam kelompok itu. Xixixixi 😁😁😁

      Hapus
    2. Malon gk di sebut kerana malon bodoh sangat ompal,baca blue print sahaje pun hasilnya LCS salah potong ompal wkwkwk

      Hapus
    3. Menurut malon "Janes Defence Weekly" adalah kantor berita abal abal dan tidak kredible, sama kasusnya dengan laporan sipri.

      Berita yang paling benar menurut malon adalah berita yang dikeluarkan syariat umno geloo..

      Wkwkwkwkwk

      Hapus
    4. KL ga disebut soalnya mereka produksi halimunan semua, PTM gen 6, Taming Sari, Vita Berapi, Stride dll. Semua uji coba dekat black hole Rosmah...mengganggu asgard dan thor. Tak ada agen jane yg sanggup kesana.

      Hapus
  6. Jangan khawatir.. Perusahan patungan ini pasti ammpu menyerap offset sebesar itu .. bahkan mungkin lebih jika sudah full operational:

    1. PT LM Indonesia Corp.
    2. P. Fincantieri Indonesia Engineering Corp.
    3. PT. Dasault Indonesia Aerospace Industris (terkait ToT perakitan dan pembuatan Raffale)
    4. PT. Leonardo Indonesia Electronics Corp (fokus ke avionics, radar, sistem komunikasi etc)
    5, PT Thales Indonesia Corp.
    6. PT Airbus Indonesia (fokud ke MRO + perakitan C295)
    7. PT. GE Turbin Nusantara (Turbin gas GE)
    8. PT. Mitsubishi Mitsui Indonesia (terkait pembuatan frigate Mogami + KS Soryu di Indonesia)
    9. PT. KAI Dirgantara Indonesia (terkait pembuatan F/A 50 dan IFX di Indonesia)
    10. PT. Eurenco dan Roxel Dahana Indonesia (bahan baku amunisi + propelan)

    ++ banyak lagi yang lain dalam tahap negosiasi akhir dengan BUMN Strategis + Swasta Nasional ..

    Salam Tangguh

    BalasHapus
    Balasan
    1. No 7, minta offset buat turbojet biar tidak hanya MRO.

      Hapus
    2. Bung Unknown. Pembuatan perusahaan baru patungan BUMN Industri Pertahanan Strategis dan perusahaan swasta asing diatur di UU Ciptakerja.

      Kemarin itu kan ada berita Perusahaan Ceko yg buat RM70 Grad dan RM70 Vampire mau buat perusahaan cabang di Batam untuk perakitan RM70 Grad dan RM70 Vampire.

      Dan sekarang kan lagi di godok Merger BUMN Industri Pertahanan Strategis menjadi DefenceID tujuan Merger mungkin agar kuat di Modal, Asset, mengurangi PMN supaya bersaing dengan perusahaan sejenis di Luar Negeri dan memudahkan pembeli dari Negeri lain untuk membeli Alutsista buatan Indonesia.

      Hapus
    3. PT itu adalah corp.

      Mitsubishi Mitsui Indonesia bisa dikatakan tidak mungkin terjadi.

      Hapus
  7. Mungkin kudu bikin perusahaan2 baru dibidang militer

    BalasHapus
    Balasan
    1. Malah jadinya unefesiensi, tak efektif dalam pelaksanaan

      Hapus
  8. ...wengi2 ra iso turu, nyetel musik wae lach ;

    Jumbar, jumbar, jumpa
    (Jumbar, jumbar, jumpa)

    Setangkai bunga padi
    Kau selipkan di rambutku
    Aku tak sanggup memandang
    Tatapan bola matamu

    Di pesta panen ini
    Kita bertemu kembali
    Seakan telah tertulis
    Cintaku dengan cintamu

    Ho-o, ho-o (ha-a, ha-a)
    Hoo, hoo (haa, haa)

    Burung-burung ikut bernyayi
    Bernyanyi tentang lagu cinta

    Reff ;

    Badai asmara telah melanda menusuk hatiku
    Bawalah diriku sayang bersama angin cintamu

    Dengarlah suara suling gembala yang bernada rindu
    Irama langkah kita menjadi saksi setia

    Sayangku, ah sayangku
    Dirimu telah tercipta hanya untukku

    Setangkai bunga padi
    Kau selipkan di rambutku
    Aku tak sanggup memandang
    Tatapan bola matamu
    Di pesta panen ini
    Kita bertemu kembali
    Seakan telah tertulis
    Cintamu dengan cintaku

    Ho-o, ho-o (ha-a, ha-a)
    Ho-o, ho-o (ha-a, ha-a)

    Burung-burung ikut bernyayi
    Bernyanyi tentang lagu cinta
    Burung-burung ikut bernyayi
    Bernyanyi tentang lagu cinta
    Burung-burung ikut bernyayi
    Bernyanyi tentang lagu cinta
    Burung-burung ikut bernyayi
    Bernyanyi tentang lagu cinta...















    ... Xixixixixixixi 😁

    BalasHapus
  9. klo cuma sanggup beli 8 viper.. beli laah... tak apa tapi nyata itu ada 8 datang... daripada 36 viper tapi wacana terus.. belilah skrg

    BalasHapus
  10. Peluang offset PTDI,PTPAL,dsn PTLeN

    BalasHapus
  11. A foreign firm offered a joint expansion to foreign market to an Indonesian defense SOE based on success story of their previous partnership. The offered shows foreign firm confidence on Indonesian defense industry capacity. Let's see the SOE response. Kind of bureaucratic issue.
    ------

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pastinya yang punya kerjasama dengan Pindad. PT DI dan PT PAL kan jarang kerjasama. Mungkin kontraktor Cheko atau Turki.

      Hapus
    2. Kalau melihat rekam jejak, kemungkinan kerjasama antara PT. LEN dengan ASELSAN Turki. Nih linknya:

      https://www.kemhan.go.id/2015/08/16/penandatanganan-kerjasama-industri-pertahanan-indonesia-turki.html

      Hapus
    3. CN235 kerja sama antara CASA dan IPTN (PT DI). Jadi yang punya rekam jejak kerja sama sebenarnya PT DI.

      Hapus
  12. Berita basi seminggu yg lalu baru di muat disini..
    Admin ds goblog..

    BalasHapus
  13. Balasan
    1. Order dan offset itu beda lol 😂😂😂, offset disini itu keuntungan yang didapat dari pembelian alutsista luar negeri atau sering disebut Transfer Teknologi. Kalau gak paham mending hapus aja 😂😂😂.

      Hapus
    2. pasti penyembah baliho, hambalang dan balon kuning 3 nih...

      Hapus
  14. Indon tak tau, sembang kencang dibayar juga bagian offset

    BalasHapus
  15. 18 billion usd dari 2021 sampai 2030 ?

    2030 - 2021 = 9 tahun

    18 miliar usd dibagi 9 tahun = 2 miliar usd per tahun.

    Usd 2 miliar per tahun untuk offset sebenarnya tidak susah. Tergantung kesiapan dan kemauan BUMN nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terdapat kecenderungan kuat bahwa Kementerian BUMN setidaknya hingga 2024 tidak akan mengusulkan pemberian Penanaman Modal Negara (PMN) kepada BUMN industri pertahanan.

      Hapus
    2. Kondisi ini akan memaksa BUMN industri pertahanan untuk mengandalkan pada pinjaman komersial dari perbankan, namun masih ada BUMN yang tidak bankable.

      Salah satu solusinya adalah memasukkan kebutuhan investasi yang terkait dengan offset ke dalam kontrak pengadaan senjata yang ditandatangani. Namun hal demikian membutuhkan kesepakatan antara Kemenhan, Kemenkeu, Kementerian PPN/Bappenas dan Kementerian BUMN.

      Hapus
    3. BUMN selalu di kasih PMN kapan berdikari dan Maju nya. Percuma Direksi BUMN gajinya gede tapi gak bisa kelola perusahaan untuk profit.

      Hapus
    4. Faktanya spt itu terutama utk inhan.....kalo user/kemhan tidak komit dg perencanaan/program yg sudah berjalan, ya mereka tidak akan pernah provit/balik modal.

      Dan selamanya hanya menjadi "tukang jahit".....karena skala keekonomiannya tidak tercapai ☝️

      Hapus
    5. Sudah terlanjur investasi besar-besaran utk alutsista tipe ttt....baru produksi 2~3 biji sudah minta ganti tipe yg lain.....trus investasi lagi krn fasiltas yg ada tidak support utk alutsista baru ☝️

      Begitu terus aja. ..kapan majunya 🐒

      Hapus
    6. Tidak ada roadmap yang jelas. Yang berlangsung selera orang bukan mensukseskan program.

      Hapus
  16. Itu artikel sepanjang itu pasti hanya 1~2 yg baca tuntas....maka kesimpulannya bisa kemana-mana 🤷

    BalasHapus