05 November 2012

Tiga Kapal Ex-Brunei Dibeli dengan Nilai 20% dari Harga Jual

05 November 2012

Tiga kapal ex Nakhoda Ragam class (photo : Graham Edwards)

Indonesia Bakal Miliki Frigate Inggris

LONDON – Indonesia bakal memiliki tiga kapal perang canggih jenis multi role light Frigate dari Inggris. Dengan tambahan kapal ini, TNI kini memiliki alutsista yang bisa diandalkan untuk menjaga setiap jengkal wilayah NKRI dari ancaman musuh. Tiga Frigate itu dibeli Indonesia sebesar 20% dari harga jual.

“Inggris mendukung penuh upaya Indonesia menjaga keamanan dan memperkuat pertahanan,” kata Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro kepada Investor Daily di London, Jumat (2/11).

Sehari sebelumnya, Menhan Indonesia dan koleganya Menhan Inggris Philip Hammond menandatangani nota kesepahaman bidang pertahanan di kediaman Perdana Menteri Inggris David Cameron di Downing Street No 10, London, Inggris.

Penandatanganan itu disaksikan oleh Perdana Menteri (PM) Inggris David Cameron dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Nota kesepahaman itu merupakan sinyal semangat dan keinginan kedua pihak untuk mengembangkan kerja sama keamanan dan pertahanan di masa akan datang. Kerja sama Indonesia-Inggris telah dimulai sejak 1997 saat keduanya berjanji untuk mempererat kerja sama.

Kapal multi role light Frigate yang akan dibeli dari Inggris, kata Purnomo, awalnya hendak dibeli Brunei Darussalam. Namun, negara kecil itu kemudian membatalkan pembelian dengan alasan tidak terlalu dibutuhkan. “Kita beruntung bisa membeli Frigate itu karena harganya hanya 20% dari harga jual kepada Brunei,” kata Purnomo.

8 komentar:

  1. NR class ini unyu - unyu ya... lebih unyu dari Sigma, cuman kalo tentengannya full gear ya lumayan lah... btw, kalo jalan ngebut terbukti miring gak ya? hhhmmm.. semoga lurus - lurus aja. aamiin :)

    BalasHapus
  2. Beli dari Inggris? Kapal ini milik Angkatan Laut Kerajaan Brunei Darrussalam yang dititipkan di galangan di Glasgow. Kan pengadilan Arbitrase memenangkan pihak BAE System, sehingga Brunei tetap diharuskan membayar sesuai kontrak kemudian pihak kerajaan Brunei meminta perusahaan Lürssen Jerman mecari pihak yang berminat untuk membeli kapal ini.

    Kapal ini sudah dibayar dan bukan milik Inggris lagi. Kapal ini (kabarnya) oleng bila berlayar pada kondisi ombak tertentu.

    BalasHapus
  3. itu dia.... kok pemilik kapal ini jadi simpang siur? atau mungkin ini hanya untuk konsumsi publik inggris aja, supaya pemerintah inggris dinilai berhasil membujuk RI untuk beli kapal perangnya.

    saya kok lebih percaya pada alasan bahwa brunei menolak kapal itu karena brunei sebenarnya tidak memerlukan kapal jenis fregat. terlalu besar. para pengamat militerpun mengatakan brunei tidak perlu kapal perang besar untuk mempertahankan teritori lautnya yang kecil. lalu kenapa kontrak pembelian dilakukan? itulah yang menjadi masalah 'internal' di pemerintahan brunei.

    Kalo memang brunei menolak 3 fregat itu karena kualitas jelek, brunei sebagai negara kaya pasti sudah memesan 3 fregat lain sebagai penggantinya. tapi brunei tidak mencari fregat lain karena tidak butuh fregat. sampai sekarang AL brunei terdiri dari kapal perang jenis fast patrol boat.

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  5. yg punya mmg brunei, tp tau sendirilah gimana Enggris klo ada produk dia yang mo dijual ke tempat lain..mesti kulo nuwun, pasang muka manis, n so on.jangankan dijual, wong mo dipake aja msti ijin sama Mrs. Eli

    BalasHapus
  6. hehehe something's fishy here..
    brunei itu kan bukan pemerintah yg demokratis, konflik internal pasti lebih mudah diselesaikan.
    apalagi kalo soal beli kapal, masa baru nyadar gak butuh pas udah jadi?

    kayak beli celana dalam aja.. hehehe
    something's fishy nih.

    brunei = negara kaya = beli barang pasti bukan barang sembarangan
    kalau brunei menolak barang yg udah jadi, udah dibayar = sebagai negara kaya pasti ada alasan yg sangat kuat kenapa dia tidak mau pakai itu barang.

    sebagaimana layaknya manusia/orang kaya, sangat bisa jadi karena barang itu menurut brunei kualitasnya tidak sebagus yg dipesan.

    BalasHapus
  7. Bisa jd brunei mmg mo beli frigat,tp mgkn trlalu mahal dgn harga sbsar itu yg mgkn mustiny bs jd "real fregate",mgkn mnimal skelas pny malon.jd bkn krn mslh teknis,yg ktny miring ato apalah.nah,krn gengsi,jd mgkn brunei ngga mau pake.bs jd klo dlu brunei mbelinya dgn hrg tni,udah dpake sm mreka.jd itu mgkn pak pur ttp jatuh hati sm ni kopet,krn scra pngadaan,tni ttp dpt kpal dgn hrg yg wajar.tp ni sbtas teori lah..

    BalasHapus
  8. Sistem peluru kendali tidak bisa digunakan karena pabrik peluru kendali Seawolf yang terpasang pada kapal tersebut tutup. Gaga-gara inilah Malaysia, Brunei, Aljazair, dan Filipina batal membeli kapal ini.
    >Kementerian Pertahanan sudah memeriksa masalah teknis kapal tersebut,"Secara teknis, Radar dan kapalnya masih bagus, tinggal masalah satu itu (peluru kendali)," oleh karena itu Sudah dibicarakan masalah upgrading dgn pemerintah inggris, salah satu sistem peluru kendali kapal itu," kata Kepala Badan Perencanaan Pertahanan Mayor Jenderal Ediwan Prabowo.

    BalasHapus