03 Maret 2016

Buat Jet Tempur, Indonesia Siapkan Sumber Daya Besar-besaran

03 Maret 2016


Infografis pesawat tempur KFX/IFX (image : CNN)

Jakarta, CNN Indonesia -- “Pesawat tempur itu seperti ponsel. Teknologinya dalam setahun sudah berubah lebih canggih, apakah itu menyangkut sistem elektronik, sensor, atau senjata.”

Heri Yansyah, Kepala Program Korea Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KF-X/IF-X) PT Dirgantara Indonesia, mengatakan hal itu saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Jumat (19/2).

“Jadi Indonesia harus mampu melakukan upgrading teknologi yang selalu berubah ini. Kalau tidak punya kemampuan upgrade, lalu beli pesawat yang sama dengan negara-negara tetangga, maka dalam waktu dua-tiga tahun, Indonesia sudah kalah,” ujar Heri.

Meski membandingkan pesawat tempur dengan ponsel, untuk membuatnya jauh dari kata mudah. Perlu waktu 10 tahun lebih mengembangkan KF-X/IF-X yang dirancang menjadi jet tempur multiperan generasi 4,5 dengan teknologi mendekati kemampuan pesawat siluman (stealth fighter) generasi 5. 

Sejak mesin jet pertama kali dikembangkan tahun 1946, pesawat tempur telah berevolusi hingga generasi kelima. Generasi termutakhir ini menggabungkan teknologi siluman untuk tak terdeteksi radar, kemampuan menjelajah supersonik, dan sensor baru yang terintegrasi.

Satu-satunya persawat tempur generasi 5 yang kini telah beroperasi ialah F-22 Raptor buatan Lockheed Martin AS. Sementara sejumlah jet lain dari generasi itu seperti F-35 Lighting II dan Sukhoi PAK FA, masih pada tahap uji coba.

200 Insinyur Indonesia

Untuk membuat prototipe KF-X/IF-X, ilmuwan Indonesia dan Korea Selatan akan bekerja bahu-membahu di markas Korea Aerospace Industries di Sacheon, Provinsi Gyeongsang Selatan.

“Saat puncak pembuatan prototipe pesawat, 200 insinyur Indonesia akan terlibat,” kata Heri yang pada periode 2011-2012 ikut ke Korea Selatan selama 18 bulan untuk mengerjakan fase pertama proyek KF-X/IF-X, yakni pengembangan konsep.

Jumlah insinyur Indonesia yang berangkat ke Korea Selatan pada penggarapan fase kedua – pembuatan prototipe– mulai tahun 2016 ini jauh lebih banyak daripada fase pertama yang hanya berjumlah 52 orang.

Para ilmuwan Indonesia itu akan berdatangan ke Korea Selatan secara bertahap dalam kurun waktu 10 tahun ke depan. “Ada insinyur yang harus tinggal di sana selama 10 tahun penuh, tapi ada juga yang dirotasi,” ujar Heri.

Pembangunan fasilitas produksi PT DI untuk program IFX/KFX (photo : Kaskus Militer)

Bangun fasilitas

Di dalam negeri, Indonesia mengebut persiapan sumber daya manusia dan teknologi, mulai dari riset soal teknologi inti mesin jet tempur, material, avionik, aeroninamika, hingga membangun laboratorium untuk menunjang riset tersebut.

Selain itu, meski penggarapan KF-X/IF-X dipusatkan di Korea Selatan, markas PT Dirgantara Indonesia di Bandung, Jawa Barat, bakal tak kalah sibuk. PTDI akan memantau seluruh pengerjaan pesawat tempur tersebut.

PTDI misalnya menyiapkan Design Center Indonesia (DCI) untuk membangun kemampuan teknologi, infrastruktur, dan simulasi. Di tempat ini, seluruh tahap pengerjaan KF-X/IF-X di Korea Selatan akan dikomunikasikan.

DCI merupakan mirroring dari gedung Design Center yang juga dibangun di Sacheon, Korea Selatan. Design Center di Sacheon semacam bangunan yang tertutup rapat dan steril. Orang-orang yang memasukinya dilarang membawa flashdisk dan komputer. Di sana ilmuwan Indonesia dan Korsel akan kerja bersama.

Indonesia juga kebagian tugas membuat komponen pesawat bagian sayap dan ekor kanan, serta penguat di bawah sayap.

Pun, Indonesia mendapat jatah untuk membuat prototipe pesawat. Total ada delapan prototipe yang akan dibuat –enam prototipe terbang, dan dua prototipe tak terbang untuk uji struktur.

“Prototipe kelima akan dibuat di sini,” ujar Heri. “Kenapa mesti yang kelima? Karena Indonesia baru pertama kali ini mengembangkan pesawat tempur. Untuk prototipe pertama dan kedua, Indonesia belum siap,” imbuh pakar aerodinamika PTDI itu.


Pesawat tempur IFX/KFX (photo : CNN)

Oleh sebab itu PTDI juga menyiapkan fasilitas hanggar composing, hanggar titanium, hanggar produksi, dan hanggar perakitan akhir pesawat tempur.

Tak kalah penting, Indonesia bersiap untuk membangun kemampuan persenjataan secara bertahap.

Sementara dari segi sumber daya manusia, ilmuwan-ilmuwan Indonesia akan mendapat pelatihan untuk mempertajam kemampuan, termasuk dengan disekolahkan lagi di dalam dan luar negeri.

Untuk di dalam negeri, Institut Teknologi Bandung digandeng. “Ada 25 orang kandidat S2 dan enam orang kandidat S3 di ITB. Semua sudah dites,” kata Heri.

Sebagian ilmuwan lainnya disekolahkan ke Inggris. Negeri di barat laut benua Eropa itu dipilih karena karena masa kuliah di sana relatif singkat. Dengan demikian, para ilmuwan Indonesia diharapkan cepat merampungkan kuliah dan langsung mempraktikkan pengetahuan barunya di Indonesia. 

Teknologi, seperti diucapkan Heri, berubah cepat. Indonesia mesti berpacu, bersiap dengan cepat jika tak mau tertinggal. (CNN)

Lima pilot TNI AU disiapkan

TNI Angkatan Udara turut dilibatkan dalam proyek KF-X/IF-X yang pengerjaannya dipusatkan di Sacheon, Korea Selatan –kota yang menjadi markas Korea Aerospace Industries.

Sejak fase awal, yakni pengembangan teknologi KF-X/IF-X, sejumlah personel TNI AU ikut mendesain bentuk pesawat dan menyatukan doktrin militer dengan angkatan bersenjata Korea Selatan sampai tingkat tertentu. 

TNI AU dilibatkan penuh karena KF-X/IF-X terang dibuat untuk memenuhi kebutuhan armada tempur mereka. Nantinya akan ada sekitar 50 unit pesawat KF-X/IF-X yang digunakan TNI AU.


Pesawat tempur KFX/IFX (photo : Aviation Week)

TNI AU juga menyiapkan lima orang pilot untuk menguji terbang KF-X/IF-X. Usai prototipe pesawat rampung dibuat pada 2019, KF-X/IF-X akan diuji terbang di Korea Selatan dan Indonesia sebelum memasuki proses produksi yang direncanakan dimulai tahun 2020.

“Uji terbang pesawat tempur akan butuh waktu lama. Tak bisa dilakukan sembarang pilot. Jadi lima penerbang muda TNI AU disekolahkan S1 Teknik Penerbangan ITB supaya mereka bisa melakukan test flight dengan baik,” kata Andi.

Kelima penerbang muda itu saat ini pun sudah bisa menerbangkan pesawat-pesawat buatan Korea Selatan, yakni pesawat latih dasar KT-1 Woongbi dan jet tempur ringan T-50 Golden Eagle yang memang dimiliki TNI AU masing-masing satu skuadron.

Kebutuhan-kebutuhan TNI AU juga diakomodasi dalam KF-X/IF-X. Contohnya, AU butuh pesawat tempur yang bisa mendarat di landasan pacu pendek daerah mana pun mengingat wilayah Indonesia yang amat luas.

Soal jenis KF-X/IF-X yang dirancang menjadi pesawat tempur canggih generasi 4,5 di atas F-16 Fighting Falcon, Eurofighter Typhoon, Dassault Rafale, atau Sukhoi Su-30 yang masuk generasi 4, Andi menyebut kecanggihan bukan segalanya.

Selain teknologi pesawat, ujar Andi, ada sejumlah hal lain yang tak kalah penting, antara lain doktrin tempur, strategi berdasarkan letak geografis, atau cuaca di udara.

“Yang utama, Indonesia harus punya pesawat dengan doktrin tempur yang dimiliki TNI AU, seperti Amerika mendesain F-16 berdasarkan doktrin tempur dia, dan Perancis merancang Rafale untuk dia sendiri.

TNI AU, melalui Kepala Dinas Penerangan Marsekal Pertama Dwi Badarmanto, berharap KF-X/IF-X akan terwujud dan menjadi kebanggaan Indonesia di masa depan.

Pakar pertahanan dari Universitas Indonesia, Connie Rahakundini, mengingatkan agar KF-X/IF-X tak menjadi euforia sesaat. Tak kalah penting, ujarnya, doktrin dan orientasi pertahanan Indonesia juga mesti dibangun seiring penguatan industri pertahanan. (CNN)

11 komentar:

  1. Kita bantu berdoa sajaa semoga proyek mistrius kfx makan dana $$ milyaran dolar besutan dari saman pemerintahan demokrat berjalan lancar , cuma proyek antec barat tidak semudah membalikkan telapak tangan belli f16 rongsokan sudah bayar kontan di persulit apa lagi jet tempur baru mesin dan radar avionic buatan amrik bakal sulit sesulit puguk merindukan bulan terbang berjam jam tidak pernah sampai ke bulan .

    BalasHapus
    Balasan
    1. komentar dan tulisanmu menunjukkan pribadi dan wawasanmu..

      Hapus
    2. Maaf bukan sombong soal proyek jet tempur kfx jangan terlalu berharap pergi ke bulan tampa pesawat astronot broo...Filing dan naluriku di bidang dunia politec hampir meyamai tajam nya pisau cukur buatan jerman ...kita apa adanya bicara barat dan sekutu di motori canberra ausi , nkri buat mereka duri dalam sekam dan ancaman yata takut nusantara menjelma jadi negara se class india dan china . Walau sesungguhnya indonesia economi dan meliter hanya tinggal menunggu waktu bakal setara dengan india china ,dengan sharat keturunan kedektatoran orde baru tidak kembali berkuasa bumi nusantara .

      Hapus
    3. "Feeling", bukan "filing"..
      "Syarat", bukan "sharat"
      "Politik", bukan "politec"
      "Kediktatoran", bukan "kedektatoran"

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Semoga semua berjalan lancar dan tercapai semua yang diharapkan.
    Semoga para ilmuwan Indonesia diberikan kesehatan dan panjang umur serta terpatri jiwa nasionalisme yang besar demi kemajuan dan kejayaan negeri tercinta Indonesia Raya. Aamiin.

    BalasHapus
  4. kok gw baca ginian sambil kejang kejang yahh

    BalasHapus
  5. saya sangat optimis, karena gen 45.000 ribu insinyur pembuat N-250 sudah mendarah daging ke anak cucunya, maka tinggal menunggu waktu bangsa ini akan maju dan berkembang....

    BalasHapus