15 September 2016

Pindad - SAAB - PussenArhanud Bahas GBAD

15 September 2016


Rudal RBS-70 TNI AD buatan SAAB (photo : HaloMalang) 

Pindad dan SAAB Gelar One Day Workshop GBAD

Rabu, 14 September 2016, PT Pindad (Persero) yang menggandeng perusahaan pertahanan asal Swedia, SAAB AB mengadakan workshop sehari di Auditorium PT Pindad (Persero).

Workshop yang mengambil tema Ground Base Air Defence ini dihadiri oleh anggota kesatuan Pusat Kesenjataan Artileri Pertahanan Udara (Pussenarhanud) yang dipimpin oleh Wakil Komandan Pussenarhanud, Kolonel Arh I Ketut Sugiartha. Direktur Komersial PT Pindad (Persero) Widjajanto turut hadir membuka acara workshop.

Dalam kata sambutannya, Widjajanto mengatakan bahwa Pindad sedang diarahkan oleh Kementerian Pertahanan untuk mengawal secara ketat semua pengembangan air defence terkait kemampuan industri pertahanan nasional untuk menyerap teknologi melalui Transfer of Technology dan lisensi produk.

“Diharapkan dari workshop hari ini, sudah semakin tergambar requirements dari Pussen Arhanud apa, karena tugas kami di sini menyimak, mendengarkan permintaan dari bapak-bapak semua sebagai pengguna langsung dari sistem pertahanan udara ini,” tuturnya.


Radar Giraffe mampu mengikuti 9 target secara bersamaan hingga jarak 40km (photo : HaloMalang)

Ia juga mengatakan bahwa Pindad membuka lebar-lebar jalur komunikasi untuk terus berinteraksi dengan para pengguna untuk mendapatkan kesepahaman yang baik satu sama lain. “Semoga workshop hari ini dapat memberikan berkah bagi pengembangan sistem pertahanan udara kita, bagi Pindad sebagai pengemban amanah UU Industri Pertahanan no. 16 tahun 2012, maupun bagi hubungan baik Indonesia dengan rekan-rekan SAAB Swedia,” ujar Widjajanto.

Wadan Pussenarhanud, Kolonel I Ketut Sugiartha mengatakan bahwa dalam teknologi sistem senjata rudal yang  dibutuhkan oleh Pussenarhanud, kesatuannya menitikberatkan kebutuhan-kebutuhan tersebut pada 4 hal.

“Dari sudut pandang pengguna, komponen atau aspek wajib dari pengadaan sista rudal minimal terdiri dari 4 hal : aspek operasional, pendidikan dan latihan, pemeliharaan, serta alih teknologi. Keempat hal ini harus diperhatikan karena akan sangat berpengaruh pada operasional sista selama masa aktifnya. Besar harapan kami, selain membahas secara dalam aspek teknis, keempat hal tersebut harus juga dibahas dalam workshop ini,” tuturnya.

Beliau juga mengatakan bahwa workshop ini merupakan awal dari langkah besar menuju kemandirian industri pertahanan nasional. “Kemandirian industri pertahanan sistem senjata rudal merupakan langkah besar yang sangat strategis dan langkah besar itu telah dimulai dari kegiatan hari ini,” ujarnya.

Kegiatan workshop hari itu dilanjutkan dengan presentasi mendalam tentang teknologi ground base air defence dari SAAB AD Swedia dan ditutup dengan diskusi. 

(Pindad)

14 komentar:

  1. Beli rudal pertahanan udara jarak menengah kapan yaa...
    BUK-M3, Pantsir S2...S300/400..

    BalasHapus
  2. jangan sampai meleset kayak rudal c705 yeeee

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    3. pindap itu apaan bos? Hehe..

      Hapus
  4. pengadaan sista rudal minimal terdiri dari 4 hal : aspek operasional, pendidikan dan latihan, pemeliharaan, serta alih teknologi. Betul engak apa yg aku katakan.....dan ini smya butuh penguasan bahasa ingris yg mantap....emang kta harus adakan pengalih bahasa? Mangka nya jgn cepat judas ama komentar aku anak bangsa baik indonesia mau pon malaysia harus mendalami bahasa ingris utk menguasai teknologi barat.....periode

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rusia and china bahasa inggris english tidak bagus amat tapi soal tehnologi dua negara kerap memunculkan tehnologi tidak terpikirkan .

      Hapus
    2. ngopi dulu mas, biar lancar cas cis cusnya...dewa amat tuh bahasa Inggris. Bahasa Inggris saya gak pernah mudeng tapi tetap saja saya diluluskan walaupun pas2an hehehe.

      Hapus
    3. English is currently the universal language. You don't need it to learn western technology, you use it to learn technology. At least it makes things a whole lot easier for both parties in the learning process.

      It's also important to understand the metric system since it is the one used by the non-english speaking countries like France, Germany, Russia, China and Japan.

      I also find it ironic that a comment about English was made here. It would actually be easier for the Indonesians to learn Swedish or the Swedes to learn Indonesian to get that workshop going. Looking at the pictures, the only English term I can see is "Air Defence Missile system".

      Hapus
    4. Irs: true, there's no point talking about languange. If i should ever learn a languange to understand any technology, than i prefer to learn the languange from where the tech came from, either it's dutch, france, german or even sweden.

      Hapus
    5. IRS..lu salah tu klu ngomong engak usah mendalami bahasa ingris utk mendalami teknologi barat...luhat singapor apa bahasa cina yg d pake utk menguasai teknoligi barat...Apa terminologi terminologi nya pake bahasa jawa....singapor cepat menerap teknologi pembikinan alatan apa pon kerna anak bangsa nya bs berbahasa ingris mudah bagi negara barat utk transfer teknologi nya loh..itu aja...kmu harus pikir singapor ada apa nya melainkan tenaga kerja yg mahir dan bs bervahasa ingris

      Hapus
    6. Korea selatan dan singapure taiwan negara yg di bentuk buat proyek percontohan ....di desain supaya makmur di sokong secara economi . Cuma sekarang anerica dan eropa barat kelabakan krisis karna perang tidak berkesudahan dan negara negara besar kuat secara economi bermunculan .

      Hapus
  5. Kemandirian industri pertahanan sistem senjata rudal merupakan langkah besar yang sangat strategis dan langkah besar itu telah dimulai dari kegiatan workshop ini.
    Semoga lancar & segera terealisasi programnya. Aamiin.

    BalasHapus