13 Maret 2015

Sistem Radar Terbang Erieye Bisa Dipasang di Pesawat Buatan PT DI

13 Maret 2015


Sistem radar  Erieye di pesawat Saab S-100 Argus (photo : Taringa)

GOTHENBURG, KOMPAS — Perusahaan sistem pertahanan Swedia, Saab Group, menjelaskan, secara prinsip sistem peringatan dini dan kendali terbang (airborne early warning and control/AEW&C) Erieye buatannya bisa dipasang di pesawat-pesawat jarak menengah buatan PT Dirgantara Indonesia, seperti CN-235 dan CN-295.

Selama ini, sistem radar canggih AESA (active electronically scanned array) tersebut dipasang di atas platform tiga pesawat sipil, Saab 340 dan Saab 2000 yang bermesin turboprop serta Embraer E145 yang bermesin jet (turbofan).

Erieye berbasis Saab 340, misalnya, dipakai Angkatan Udara (AU) Swedia, Thailand, dan Pakistan. Sementara Erieye berbasis Embraer E145 dipakai AU Brasil dan Meksiko.

Lars Ekstrom, mantan perwira AU Swedia yang kini menjadi pejabat di bagian Pengembangan Bisnis Sistem Pengawasan Udara Saab, Senin (9/3), mengatakan, secara prinsip radar Erieye yang berbentuk seperti papan yang dipasang di atas badan pesawat tersebut bisa dipasang di platform CN-235 atau CN-295.

"Kami bersedia memasangnya di platform-platform baru, termasuk pesawat CN-235 atau CN-295," ujar Ekstrom kepada enam wartawan Indonesia, termasuk Kompas, di Gothenburg, Swedia.

Akan tetapi, Wakil Presiden dan Kepala Bagian Sistem Pengawasan Udara Saab Lars Tossman mengingatkan, proses pemasangan radar sistem Erieye di platform pesawat baru bukanlah proses yang bisa mudah dan cepat dilakukan. Bentuk radar yang besar dan dipasang di atas badan pesawat akan memengaruhi aerodinamika pesawat dan perlu dilakukan modifikasi desain sayap vertikal pesawat.

"Dan, itu membutuhkan tambahan dana hingga ratusan juta dollar AS, belum ditambah proses sertifikasi kelaikan udaranya yang bisa memakan waktu dan biaya lagi," papar Ekstrom.

Sistem AEW&C Erieye saat ini menjadi sistem peringatan dini udara yang paling laris di luar produk buatan AS. Sistem ini serupa dengan sistem AEW&C semacam E-2 Hawkeye yang digunakan, antara lain, oleh AS, Jepang, dan Singapura; atau Boeing E7A Wedgetail yang dipakai Australia.

(Kompas)

2 komentar:

  1. Pesawat AEW&C Erieye yg ditawarkan Swedia ini memang cukup menarik. Hanya saja untuk dipasang di pesawat C-295 atau CN-235 akan membutuhkan dana modifikasi dan sertifikasi yg nulainya ratusan juta dolar. Ujung2 nya akan lbh mahal dari beli dgn flatform yg udah ada.

    dilain pihak, ada kandat lain yg kemungkinan pynya peluang besar yaitu pesawat C-295 versi AEW&C dan juga Boeing Wedetail.

    Keputusannya akan di tentukan setelah penentuan pengganti pesawat tempur pengganti F5 Indonesia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dari sudut pandang biaya, pilihan antara platform Erieye yg sudah ada -- seperti SAAB-340, SAAB-2000, atau pesawat jet Emb-145 akan menjadi lebih murah untuk Indonesia.

      Tetapi, kalau Indonesia mau berinvestasi di biaya instalasi dan sertifikasi untuk C-295 atau CN-235, Indonesia dapat membuka pasar baru untuk menjual Erieye bersama SAAB -- berdasarkan kedua platform ini. Kemampuan ini akan meningkatkan industri pertahanan Indonesia ke level baru.

      Radar Erieye termasuk radar AEW&C yg terlaris diluar tawaran US -- yg belum tentu diijinkan untuk dibeli setiap negara. Jadi pasarnya masih cukup luas.

      Hapus