28 September 2009

Quadrotor UAV Diuji-Coba

28 September 2009

Dr. Judojono dan Quadrotor tipe I (photo : ITB Podcast)

Pengintai Terbang dari Bandung

Peneliti Institut Teknologi Bandung merancang wahana pengintai tanpa awak. Sudah bisa diproduksi massal.


Masih ingat drama pengepungan rumah yang diyakini polisi sebagai tempat persembunyian teroris di Jawa Tengah awal Agustus lalu? Selain pasukan khusus, drama belasan jam di Dusun Beji, Kecamatan Kedu, Temanggung, itu melibatkan satu aktor penting: robot pengintai.

Sambil mengangkut kamera, robot menyusup masuk untuk memantau penghuni rumah di tengah ladang jagung tersebut. Meskipun akhirnya yang didapat polisi ternyata bukan gembong teroris Noor Din M. Top, robot seharga Rp 1 miliar itu telah mendongkrak citra Detasemen Khusus 88 sebagai pasukan yang dilengkapi peralatan canggih.

Peran robot memang semakin penting di dunia militer. Bukan cuma di darat, seperti yang terlihat di Temanggung, tapi juga di udara. Pesawat-pesawat nirawak Amerika Serikat, misalnya, telah menggantikan peran pesawat mata-mata dan pengebom berawak. Tak mengherankan bila militer Amerika mengandalkan jasanya di medan per-tempuran Afganistan dan Irak. Tenta-ra Israel bahkan sering memanfaatkan robot tak berawak untuk memburu musuh-musuhnya di Palestina.

Kelebihan robot terbang itu praktis. Bisa dikendalikan dari jauh. Relatif akurat. Daya tempurnya prima. Dan, ini yang penting, tak perlu mengorbankan nyawa bila ditembak jatuh. Kinerja dan kelebihannya yang sudah teruji di medan tempur inilah yang membuat penelitian-penelitian untuk melahirkan jenis robot baru terus berlangsung. Kalangan militer, sebagai konsumen dan pengguna terbesar, sangat berkepentingan terhadap kemajuan teknologi robotika.

Robot darat di Temanggung itu bahkan boleh dibilang sudah ketinggalan zaman. Andaikan polisi menggunakan robot terbang, boleh jadi drama pengepungan tak akan memakan belasan jam. Soalnya, di Indonesia, robot terbang itu sudah ada. Sebulan sebelum penyerbuan Temanggung, pakar aeronautika Institut Teknologi Bandung, Judojono Kartidjo, mempertunjukkan robot terbang hasil rancangannya.
"Robot ini untuk pengamatan daerah yang berada diluar jangkauan kita," katanya.
Saat ini, robot terbang yang disebut quadrotor karena memiliki empat baling-baling siap diproduksi massal, dan f ungsinya bisa dirancang sesuai dengan kebutuhan pengguna.

Quadrotor Type 1 demikian robot terbang itu diberi nama mampu terbang ke segala arah. Sangat praktis karena wahana dengan panjang dan lebar tak lebih dari satu meter itu bisa mengudara tanpa landasan, seperti helikopter. "Robot ini mampu terbang, bergerak vertikal dan horizontal," kata perancangnya.
Badan quadrotor ini terbuat dari pelat aluminium ringan. Pada tiap ujungnya terpasang satu buah rotor, dan modul elektronik untuk menggerakkan motor dipasang di tengah. Hebatnya, robot ini bisa mengudara sejauh 50 kilometer dari pusat kendali darat.

UAV ini sangat berguna untuk iring-iringan kavaleri sebagai forward looking observer (photo : ITB Podcast)

Prototipe robot yang dipertunjukkan memang masih sederhana. Hanya berbentuk dua batang pelat alumunium yang disatukan dan pada tiap ujungnya dipasang baling-baling. Tapi fungsi pengintaian menjadi keunggulan quadrotor ini.
Pada bagian tengah robot, sekaligus tempat menyatunya dua pelat itu, dipasangkan kamera kontrol untuk mengendalikan arah terbang dan sebuah kamera video untuk merekam obyek yang menjadi sasaran. Selain itu, ada sebuah antena yang menjadi penerima dan pengirim sinyal. Prototipe ini digerakkan dengan tenaga baterai yang bisa bertahan setengah jam.

Menurut Judojono, robot terbang ini merupakan pengembangan teknologi pesawat nirawak yang ia rancang lebih dari lima tahun lalu. Pesawat tanpa awak yang ia kembangkan itu bersifat autonomouse, artinya pesawat bergerak menjaga keseimbangannya sendiri. Inilah yang membedakan pesawat tanpa awak itu dengan pesawat sejenis yang dioperasikan lewat pengontrol jarak jauh (remote control). Pesawat dengan remote control hanya bisa dikendalikan sejauh mata memandang. Semua gerakan dan keseimbangan pesawat dikendalikan penuh dari darat, sehingga sulit difungsikan sebagai pengintai.

Robot yang dikembangkan Judojono itu tahun lalu pernah mendapat penghargaan sebagai rancangan terbaik pada kompetisi robot Korea. Pemakainya, tim Unmanned Aerial Vehicle Indonesia Garuda, menampilkan pesawat yang dirancang dengan tingkat kemandirian tinggi. Seluruh rancangan pesawat, dari desain pesawat nirawak, unit sistem pengendali, navigasi, hingga kontrol darat merupakan hasil rancangan sendiri, dan tidak memakai komponen pabrikan (on-the-shelf) yang dapat dibeli di pasar. Tim lain kebanyakan memakai komponen jadi. Indonesia tak bisa membeli komponen ini karena embargo negara produsen.

Pada lomba itu ada empat misi wajib yang harus dilakukan: menjatuhkan obyek tertentu pada sasaran yang telah ditentukan, mengambil gambar obyek yang diletakkan pada area tertentu, mengambil gambar suatu obyek yang lokasinya telah ditentukan dengan kualitas gambar yang tinggi, dan mencari obyek di permukaan laut dalam bentuk boneka orang yang tidak diketahui posisinya. Misi itu harus dilakukan dalam mode "Autonomous". Artinya, pesawat dikendalikan oleh program komputer yang ada di dalam pesawat tanpa intervensi dari pilot atau operator. Indonesia unggul dalam misi kedua dan ketiga.

Nah, pesawat tanpa awak itu memiliki kelebihan, yaitu stabilitas di udara Quadrotor ini juga dilengkapi sensor terhadap benda di sekitarnya, sehingga bisa digunakan di ruangan tanpa khawatir bakal menabrak dinding.

Rancangan Quadrotor tahap selanjutnya (photo : ITB Podcast)

Judojono mengatakan quadrotor bisa dirancang sesuai dengan keperluan penggunanya, misalnya untuk keperluan jarak jauh dan lama, tenaga penggerak tidak menggunakan baterai tapi mesinnya bisa diganti dengan yang berbahan bakar bensin. "Alat ini bisa dipakai oleh tentara, polisi, hingga pemadam kebakaran untuk mengurangi risiko kehilangan personel".

Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman mengatakan robot terbang buatan Judojono itu sangat bermanfaat, terutama di bidang militer. "Sangat penting untuk misi pengintaian. Ini harus terus dikembangkan," katanya.
la mengatakan negara-negara yang militernya terkenal kuat, seperti Amerika Serikat dan Israel, sangat mengandalkan hasil-hasil riset teknologi untuk memuluskan operasi. la berharap riset-riset teknologi seperti ini akan menambah kemandirian alat-alat tempur TNI. "Kita yakin ke depan kita akan mampu memiliki industri pertahanan yang mandiri," ujar Kusmayanto.

Untuk menuju kemandirian itu, Judojono mengatakan quadrotor sudah bisa diproduksi massal. "Pabriknya sudah ada," katanya. Satu quadrotor dihargai Rp 850 juta. Dengan teknologi yang lebih canggih, tentu harga itu jauh lebih murah dibanding robot darat yang digunakan polisi di Temanggung.
Selain sebagai alat pengintai, polisi bisa mendapat keuntungan dengan menjual gambar yang diambil. "Misalnya beberapa saat setelah ledakan bom Marriott, siapa yang berani masuk hotel? Alat ini bisa masuk dan mengambil gambar. Gambar eksklusif itu bisa dijual ke stasiun televisi," kata Judojono. Anda berminat ?

(Ristek)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar