Penanda-tanganan LoI PT DI dan PT Sari Bahari (photo: PT DI)
Singapura – PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan PT Sari Bahari menyepakati penandatanganan Letter of Intent (LoI) pada hari kedua pelaksanaan Singapore Airshow 2026. Dokumen kerja sama tersebut ditandatangani oleh Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI, Moh Arif Faisal, dan Vice President Director PT Sari Bahari, Putra Prathama Nugraha, bertempat di booth PTDI A-L31.
Kesepakatan ini mencakup rencana kerja sama penjualan roket kaliber 70 mm dan 80 mm, sekaligus penjajakan peluang pemasaran bersama untuk kedua jenis roket tersebut ke pasar internasional. Kolaborasi ini diarahkan untuk memperluas jangkauan distribusi produk roket nasional, meningkatkan eksposur di pasar global, serta memperkuat daya saing industri pertahanan Indonesia di tingkat internasional.
Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI, Moh Arif Faisal, menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai bagian dari rantai pasok global industri pertahanan. “Kolaborasi ini diharapkan dapat membuka peluang baru bagi perluasan pasar internasional produk roket nasional, sekaligus meningkatkan nilai tambah melalui sinergi kapabilitas antarpelaku industri pertahanan dalam negeri,” ujarnya.
Lebih lanjut, inisiatif ini juga sejalan dengan komitmen PTDI dalam mendorong kemandirian industri pertahanan nasional melalui penguatan portofolio produk, peningkatan skala bisnis, serta perluasan jejaring mitra strategis, baik di dalam maupun luar negeri.
Sebagai lead integrator industri dirgantara nasional, PTDI memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan dan integrasi sistem senjata, termasuk pada platform udara dan sistem pendukungnya. Dengan kapabilitas rekayasa, pengujian, serta sertifikasi yang dimiliki, PTDI terus mengembangkan perannya tidak hanya sebagai produsen pesawat, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam pengembangan sistem persenjataan terpadu. Kerja sama dengan PT Sari Bahari ini diharapkan menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan daya saing produk pertahanan nasional di pasar global.
(PT DI)

EXPANSI .
BalasHapusRoket RHan 70
BalasHapussari bahari sukses ekspor bom ke nam
BalasHapuskali ini roket ffar yak haha!😉🚀😉
CICILAN FA50M = 10 TAHUN
BalasHapusCICILAN FA50M = 10 TAHUN
CICILAN FA50M = 10 TAHUN
CICILAN FA50M = 10 TAHUN
CICILAN FA50M = 10 TAHUN
CICILAN FA50M = 10 TAHUN
CICILAN FA50M = 10 TAHUN
CICILAN FA50M = 10 TAHUN
CICILAN FA50M = 10 TAHUN
CICILAN FA50M = 10 TAHUN
CICILAN FA50M = 10 TAHUN
CICILAN FA50M = 10 TAHUN
CICILAN FA50M = 10 TAHUN
CICILAN FA50M = 10 TAHUN
CICILAN FA50M = 10 TAHUN
CICILAN FA50M = 10 TAHUN
CICILAN FA50M = 10 TAHUN
CICILAN FA50M = 10 TAHUN
CICILAN FA50M = 10 TAHUN
CICILAN FA50M = 10 TAHUN
CICILAN FA50M = 10 TAHUN
CICILAN FA50M = 10 TAHUN
CICILAN FA50M = 10 TAHUN
CICILAN FA50M = 10 TAHUN
CICILAN FA50M = 10 TAHUN
CICILAN FA50M = 10 TAHUN
CICILAN FA50M = 10 TAHUN
------------------
Kesimpulan: Skema "Gali Lubang" 10 Tahun FA-50M
1. Ketergantungan Total pada Utang & Barter
Pengadaan ini membuktikan ketidakmampuan finansial secara tunai (cash). Dengan total kontrak US$ 920 Juta (RM 4,08 Miliar), pemerintah harus memecah pembayaran menjadi dua jalur selama satu dekade penuh, yang mengunci anggaran pertahanan hingga jauh ke depan.
2. Beban Bunga dan Fiskal yang Panjang
Porsi kredit 50% melalui KEXIM (Korea) memaksa negara membayar bunga sekitar 4,5% per tahun. Artinya, harga asli pesawat membengkak karena akumulasi bunga selama 10 tahun. Setiap tahunnya, kas negara harus terkuras sekitar US$ 66,7 Juta hanya untuk mencicil sebagian dari 18 unit pesawat tersebut.
3. Pertaruhan Komoditas (Sawit)
Skema barter 50% menggunakan CPO (Minyak Sawit) adalah langkah berisiko tinggi.
Volume Masif: Harus mengirim 51.111 ton CPO per tahun.
Risiko Harga: Jika harga sawit dunia anjlok di bawah US
900/ton,jumlahvolumesawityangharusdikirimakanmembengkakdemimenutupinilai**US900 / t o n comma j u m l a h v o l u m e s a w i t y a n g h a r u s d i k i r i m a k a n m e m b e n g k a k d e m i m e n u t u p i n i l a i * * cap U cap S
900/𝑡𝑜𝑛,𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒𝑠𝑎𝑤𝑖𝑡𝑦𝑎𝑛𝑔ℎ𝑎𝑟𝑢𝑠𝑑𝑖𝑘𝑖𝑟𝑖𝑚𝑎𝑘𝑎𝑛𝑚𝑒𝑚𝑏𝑒𝑛𝑔𝑘𝑎𝑘𝑑𝑒𝑚𝑖𝑚𝑒𝑛𝑢𝑡𝑢𝑝𝑖𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖**𝑈𝑆
46 Juta/tahun**, yang berpotensi merugikan pendapatan negara dari sektor ekspor.
4. Status Alutsista "Kredit"
Selama 10 tahun ke depan (hingga sekitar 2034/2035), jet tempur ini berstatus "belum lunas". Kondisi ini sangat kontras dengan negara yang memiliki ruang fiskal lebar yang mampu melakukan pengadaan secara bertahap namun tunai untuk menghindari beban bunga OECD.
5. Dampak pada Pengadaan Lain
Cicilan tetap selama 10 tahun ini menjadi alasan utama terjadinya "Kekangan Kewangan" untuk proyek lain seperti MRCA atau LCS. Anggaran yang seharusnya bisa digunakan untuk belanja baru justru habis tersedot untuk membayar cicilan pesawat ringan (Lead-in Fighter) yang teknologinya akan terus menua selama masa angsuran berlangsung.
Ringkasan Kondisi:
Membeli pesawat tempur dengan cicilan 10 tahun dan bayar pakai sawit adalah potret nyata ekonomi yang sedang "sesak napas", di mana alutsista didapat dengan cara menjaminkan kekayaan alam dan utang luar negeri jangka panjang.
KEBETULAN LON ..... 🔥🔥🔥
BalasHapusBANNER KONTRAK KAAN =
BANNER KONTRAK KAAN =
BANNER KONTRAK KAAN =
https://www.indomiliter.com/wp-content/uploads/2025/07/Gwx4UFQW4AAHLqg.jpg
-
https://static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/_250726191324-889.png
---------------------------
BANNER LOA M346F BUKAN LOI
BANNER LOA M346F BUKAN LOI
BANNER LOA M346F BUKAN LOI
-
https://www.indomiliter.com/wp-content/uploads/2026/02/Photo_Signing-Ceremony_Letter-of-Award_Indonesia_Leonardo_M-346F.jpg
-
https://img-s-msn-com.akamaized.net/tenant/amp/entityid/AA1VIflp.img?w=768&h=432&m=6&x=395&y=259&s=215&d=76
-
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiM_xCoQ3XFRdymrLVwgcKBAjWnMy_8pl7m4Gmyk9T4hEteLXwgKlita-YflWudvDvkNqAe53qX3BNhze7VlNiCH5EoEWknHL7ZqC-p2bFZUUj8X3PoHNMchCnDDJ37nNrGS0FkoXeCPQp8jB_O3K7Q7FME9YNkbk62rsuauglHS6C1x374Zt7foRRirU1x/s567/Photo_Signing%20Ceremony_Letter%20of%20Award_Indonesia_Leonardo_M-346F.jpeg
---------------------------
USD 20 MILIAR versus USD 4,7 MILIAR
-
PERBANDINGAN ANGGARAN PERTAHANAN ASEAN 2026 =
-
1. INDONESIA
Rp 335,2 triliun (~USD 20 miliar). Lonjakan 37% dari 2025; fokus pada alutsista baru dan konsep pertahanan total.
-
2. SINGAPURA
SGD 20 miliar (~USD 15 miliar). Konsisten 3–4% dari PDB; investasi jangka panjang untuk teknologi pertahanan canggih.
-
3. VIETNAM
USD 6–7 miliar (estimasi). Tren meningkat, diproyeksi mencapai USD 10,2 miliar pada 2029; fokus pada Laut Cina Selatan.
-
4. THAILAND
204,434 juta baht (~USD 5,7 miliar). Prioritas pada akuisisi jet Gripen dan modernisasi angkatan udara.
-
5. FILIPINA
295–299 miliar (~USD 5,2 miliar). Naik 16% dari 2025; termasuk ₱40 miliar untuk program modernisasi AFP, dengan fokus pada penguatan airpower dan sistem pertahanan rudal
-
6. MALAYDESH
RM 21,2–21,7 miliar (~USD 4,5–4,7 miliar). Fokus modernisasi bertahap: sistem pertahanan udara, kapal perang, dan kendaraan taktis.
------------------
DAFTAR PENGADAAN ALUTSISTA ON PROGRESS
2 KRI Frigate Brawijaya Class dari Italia
2 KRI Frigate Merah Putih dari PT PAL
2 KRI Frigate Istif Class dari Turkiye
1 KRI Rigel Class dari Palindo/Jerman
2 KRI Kapal Cepat Rudal dari Turkiye
1 KRI Kapal Cepat Rudal dari Tesco Bekasi
2 KS Scorpene dari Perancis & PT PAL
1 Kapal Induk Giribaldi dari Italia (Opsi)
1 Kapal LHD Helikopter dari PT PAL (Opsi
42 Jet Tempur Rafale dari Perancis
48 Jet Tempur IFX kerjasama Korsel RI
48 Jet Tempur KHAAN dari Turkiye
6 Jet Tempur T50 dari Korsel
2 Pesawat angkut A400M dari Spanyol
13 Radar GCI dari Thales Perancis
12 Radar Retia dari Retia
3 Baterai Rudal Balistik KHAN Turkiye
3 Baterai Rudal ADS Trisula dari Turkiye
22 Helikopter Blackhawk dari AS
12 Drone Anka dari Turkiye
60 Drone Bayraktar TB3 dari Turkiye
45 Rudal anti kapal Atmaca dari Turkiye
------------------
2025 TAI DAN KEMENHAN RI =
48 KAAN GEN 5
48 KAAN GEN 5
48 KAAN GEN 5
11 Haziran 2025 tarihinde Endonezya Savunma Bakanlığı ile imzaladığımız ve toplamda 48 adet KAAN uçağına yönelik iş birliğini kapsayan “Devletten Devlete (G2G) Tedarik Anlaşması” doğrultusunda; bu anlaşmanın tüm detaylarını ve teknik eklerini içeren ticari sözleşmenin imza törenini bugün itibarıyla gerçekleştirdik.
-----
42 RAFALE RESMI DASSAULT GEN 4.5
42 RAFALE RESMI DASSAULT GEN 4.5
42 RAFALE RESMI DASSAULT GEN 4.5
(Saint-Cloud, le 8 Janvier 2024) – La dernière tranche de 18 Rafale pour l’Indonésie est entrée en vigueur ce jour. Elle fait suite à l’entrée en vigueur, en septembre 2022 et en août 2023, de la première et de la deuxième tranche de 6 et 18 Rafale, et vient ainsi compléter le NOmbre d’avions en commande pour l’Indonésie dans le cadre du contrat signé en février 2022 pour l’acquisition de 42 Rafale.
=======================
=======================
MISKIN =
MALAYDESH NGEMIS 2025-2017 =
9 TAHUN NGEMIS
9 TAHUN NGEMIS
9 TAHUN NGEMIS
-
F18 KUWAIT 2025-2017 =
MAID OF LONDON (MALON) has reportedly sought the Kuwaiti jets since at least 2017. The legacy Hornet is thought to “increase the level of preparedness and capability of the RMAF in safeguarding the country’s airspace”.
sari ituw kata lainnya inti haha!😉👍😉
BalasHapusbetewe apa kabar pt inti yak? bumn satu ini nampaknya gak eksis lg dalam urusan pertahanan.
dulu prasaan ngurusin radar, bareng pt len
PT.Inti sdh almarhum.
HapusDahulu Karyawannya banyak yg pindah kerja ke PT.LEN
NEGARA LAIN BERLOMBA LOMBA EXPORT ALAT PERTAHANAN CUMA MALONDESH BOTOL EXPORT KONDOM UNISEX 🤣🤣🤣🤣🤣
BalasHapus