28 Maret 2014
Tank AMX-13 hasil retrofit PT Pindad (photo : BUMN)
TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama PT Pindad Tri Hardjono mengatakan, tahun ini, perusahaanya menargetkan pendapatan Rp 2 triliun. "Meski sempat tergerus rugi kurs akibat anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, Pindad masih bisa meraup pendapatan Rp 1,8 triliun pada 2013," katanya di Bandung, Rabu, 26 Maret 2014.
Menurut Tri, target rencana kerja pemerintah sekitar Rp 1,8 triliun sudah tercapai. Untuk mencapai target itu, Pindad mengandalkan penjualan alat utama sistem senjata pesanan pemerintah. "Tapi kami juga tidak mengurangi order nonmiliter, seperti bahan peledak komersial, transprotasi, dan sebagainya," ujarnya.
Tri menyatakan, mulai tahun ini, Pindad akan melepaskan produk baru untuk sistem senjata dan amunisi besar. Harapannya, kendaraan tempur produksi Pindak, Anoa, juga masih menjadi primadona TNI Angkatan Darat. "TNI AD masih membutuhkan cukup banyak alutsista untuk rencana pengembangan batalion infanteri mekanis," katanya.
Pindak, kata Tri, harus menjaga keseimbangan dari dua program utamanya, yakni sebagai BUMN harus cari untung dan sebagai industri pertahanan harus bisa mandiri. Jadi, dalam lima tahun ke depan, penguatan bisnis nonmiliter harus terus tumbuh. "Ini yang sedang kita kejar dan kembangkan ke depan," ujarnya
Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsudin optimistis target pengerjaan pesanan pemerintah untuk menggenapi target modernisasi alutsista 2010-2014 tuntas tahun ini. “Saya kira sudah masuk target, tinggal mengirimnya, mendistribusikan hasil dari produksi ini. Kami punya (waktu untuk) memfinalkan sampai 5 Oktober 2014," katanya saat berkunjung ke PT Pindad, Bandung. Dia datang ke Pindad mewakili High Level Committee untuk mengecek perkembangan proyek modernisasi alutsista milik TNI.
Menurut dia, target modernisasi alutsista pada Rencana Strategis 2010-2014 itu menjadi salah satu target kerja Kabinet Indonesia Bersatu jilid kedua. Komite tingkat tinggi yang berasal dari unsur Kementerian Pertahanan, Bappenas, Kementerian Keuangan, dan BPKP bertugas mengecek pesanan alutsista pemerintah yang tengah digarap sejumlah BUMN Strategis Indonesia. “Kami mengecek kualitas pembiayaan, pengadaan, dan pengawasan, apa betul ini on the track atau under,” katanya.
(Tempo)
28 Maret 2014
New Helicopter Facilities in Townsville a Step Closer
28 Maret 2014
Townsville, Australia (image : Google Maps)
Parliamentary Secretary for Defence, the Hon Darren Chester MP, today announced that the $54.8 million Replacement Chinook Facilities Project, which supports the acquisition of seven new Boeing CH-47F Chinook Helicopters, has been referred to the Parliamentary Standing Committee on Public Works.
“If approved, the facilities project will provide new and upgraded working accommodation, new maintenance hangars, storage and workshop facilities, and a simulator building,” Mr Chester said.
The project will give the Army’s 5th Aviation Regiment, located at RAAF Base Townsville, the modern and appropriate facilities they need to operate, train and maintain the new helicopters and simulators.
“This project will offer strong economic benefits to the Townsville region over the next three years, with potential involvement for local sub-contractors to be part of the development,” he said.
Subject to Parliamentary approval, construction is expected to commence in late 2014 with planned completion by mid 2017.
(Aus DoD)
Townsville, Australia (image : Google Maps)
Parliamentary Secretary for Defence, the Hon Darren Chester MP, today announced that the $54.8 million Replacement Chinook Facilities Project, which supports the acquisition of seven new Boeing CH-47F Chinook Helicopters, has been referred to the Parliamentary Standing Committee on Public Works.
“If approved, the facilities project will provide new and upgraded working accommodation, new maintenance hangars, storage and workshop facilities, and a simulator building,” Mr Chester said.
The project will give the Army’s 5th Aviation Regiment, located at RAAF Base Townsville, the modern and appropriate facilities they need to operate, train and maintain the new helicopters and simulators.
“This project will offer strong economic benefits to the Townsville region over the next three years, with potential involvement for local sub-contractors to be part of the development,” he said.
Subject to Parliamentary approval, construction is expected to commence in late 2014 with planned completion by mid 2017.
(Aus DoD)
27 Maret 2014
Wamenhan Mendorong Peningkatan Radar CMS Produksi PT Len
27 Maret 2014
Combat Management System produksi PT Len (photo : Defense Studies)
Radar PT Len Dipakai Kapal TNI AL
Bisnis.com, BANDUNG--Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mendorong peran PT Len Industri (Persero) untuk meningkatkan kualitas radar combat management system (CMS) untuk kapal AL.
“CMS adalah sistem yang mengombinasikan alat penembakan dengan radar,” kata Wamenhan saat mengevaluasi kesiapan PT Len dalam membangun industri radar nasional di Kantor PT Pindad, Rabu (26/3/2014)
Saat ini, CMS sebagai salah satu produk pendukung industri pertahanan telah terpasang pada 3 kapal KRI Van Speijk, dan satu KRI kelas Parchim sejak 2013 lalu.
Cara kerja CMS tersebut berfungsi untuk melakukan pengolahan data yang berasal dari berbagai sensor menjadi informasi sebagai navigasi, potensi ancaman, serta reaksi untuk melumpuhkan ancaman.
CMS juga memberian visualisasi menyeluruh terhadap situasi taktis pertempuran, dan menyediakan sarana untuk melakukan reaksi secara efektif dan efisien.
Menurut Wamenhan, pihaknya juga memiliki kebutuhan radar untuk mengisi kerenggangan di kawasan Timur, yang sekarang masih mengonfigurasikan antara radar sipil dan radar militer. Sedangkan radar di kawasan barat dinilai sudah cukup baik.
(Bisnis Indonesia)
Combat Management System produksi PT Len (photo : Defense Studies)
Radar PT Len Dipakai Kapal TNI AL
Bisnis.com, BANDUNG--Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mendorong peran PT Len Industri (Persero) untuk meningkatkan kualitas radar combat management system (CMS) untuk kapal AL.
“CMS adalah sistem yang mengombinasikan alat penembakan dengan radar,” kata Wamenhan saat mengevaluasi kesiapan PT Len dalam membangun industri radar nasional di Kantor PT Pindad, Rabu (26/3/2014)
Saat ini, CMS sebagai salah satu produk pendukung industri pertahanan telah terpasang pada 3 kapal KRI Van Speijk, dan satu KRI kelas Parchim sejak 2013 lalu.
Cara kerja CMS tersebut berfungsi untuk melakukan pengolahan data yang berasal dari berbagai sensor menjadi informasi sebagai navigasi, potensi ancaman, serta reaksi untuk melumpuhkan ancaman.
CMS juga memberian visualisasi menyeluruh terhadap situasi taktis pertempuran, dan menyediakan sarana untuk melakukan reaksi secara efektif dan efisien.
Menurut Wamenhan, pihaknya juga memiliki kebutuhan radar untuk mengisi kerenggangan di kawasan Timur, yang sekarang masih mengonfigurasikan antara radar sipil dan radar militer. Sedangkan radar di kawasan barat dinilai sudah cukup baik.
(Bisnis Indonesia)
Label:
ANGKATAN LAUT,
INDONESIA,
Industri Pertahanan,
TNI-AL
TNI Mulai Latih Pilot Apache
27 Maret 2014
Indonesia membeli 8 helikopter serang Apache yang akan datang tahun 2017 (photo : Jimmy van Drunen)
Semarang (ANTARA News) - TNI mulai melatih pilot yang akan menerbangkan helikopter serang Apache sebagai salah satu kesiapan sebelum kedatangan alat tempur asal Amerika Serikat itu pada 2017.
"Delapan Apache keseluruhannya baru akan tiba pada 2017," kata Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Budiman usai kunjungan di Pangkalan TNI Angkatan Darat Bandara Ahmad Yani Semarang, Kamis.
Tahun ini, lanjut dia, para pilot yang akan menerbangkan heli tempur tersebut akan dilatih bekerja sama dengan Amerika Serikat.
Untuk latihan tersebut, Indonesia akan memperoleh pinjaman heli. "Ini kan heli canggih, jadi harus dilatih dahulu," katanya.
Jika telah tiba di Indonesia, kata dia, heli tempur yang menjadi bagian dari penguatan alat utama sistem pertahanan tersebut akan ditempatkan sebagian di Natuna.
"Akan ditempatkan di Natuna, cadangannya di Jakarta," kata dia.
Untuk seluruh alutsista baru, Budiman mengatakan sebagian besar belum datang ke Indonesia. Dia memperkirakan sebagian alat tempur akan datang pada Oktober 2014.
"Diperkirakan pada Oktober 2014, mudah-mudahan lebih dari separuh sudah datang," katanya.
(Antara)
Indonesia membeli 8 helikopter serang Apache yang akan datang tahun 2017 (photo : Jimmy van Drunen)
Semarang (ANTARA News) - TNI mulai melatih pilot yang akan menerbangkan helikopter serang Apache sebagai salah satu kesiapan sebelum kedatangan alat tempur asal Amerika Serikat itu pada 2017.
"Delapan Apache keseluruhannya baru akan tiba pada 2017," kata Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Budiman usai kunjungan di Pangkalan TNI Angkatan Darat Bandara Ahmad Yani Semarang, Kamis.
Tahun ini, lanjut dia, para pilot yang akan menerbangkan heli tempur tersebut akan dilatih bekerja sama dengan Amerika Serikat.
Untuk latihan tersebut, Indonesia akan memperoleh pinjaman heli. "Ini kan heli canggih, jadi harus dilatih dahulu," katanya.
Jika telah tiba di Indonesia, kata dia, heli tempur yang menjadi bagian dari penguatan alat utama sistem pertahanan tersebut akan ditempatkan sebagian di Natuna.
"Akan ditempatkan di Natuna, cadangannya di Jakarta," kata dia.
Untuk seluruh alutsista baru, Budiman mengatakan sebagian besar belum datang ke Indonesia. Dia memperkirakan sebagian alat tempur akan datang pada Oktober 2014.
"Diperkirakan pada Oktober 2014, mudah-mudahan lebih dari separuh sudah datang," katanya.
(Antara)
Label:
ANGKATAN DARAT,
Helikopter Serang,
INDONESIA,
TNI-AD
PZL Mielec Completes the Assembly of the S-70i Black Hawk to Brunei Armed Forces
27 Maret 2014
S-70i Blackhawk helicopter (photo : PZL Mielec)
TSAMTO - Polish company PZL Mielec (part of Sikorsky Aircraft Corporation) completed the assembly of the next helicopter S-70i «Black Hawk", intended to Brunei Armed Forces.
According Gazeta.pl, March 18 at the airport Melzi, a demonstration of the helicopter company representatives "Sikorsky" and the media.
After completion of the flight testing and acceptance procedures helicopter will be sent to the customer. This is the 28th S-70i Black Hawk made by the Polish division. Helicopters Polish assembly also delivered to Mexico, Saudi Arabia and Colombia.
As previously reported TSAMTO, Ministry of Defence of Brunei December 2, 2011 signed with "Sikorsky International" contract for the purchase of 12 multipurpose helicopters S-70i "Black Hawk International" as well as the supply of ground support equipment, spare parts and services for the results of the tender.
The cost of machinery is not officially announced. According to "Jane's Defence Weekly", it is 325 million dollars. The agreement includes an option to supply an additional 10 helicopters.
The first batch of four helicopters arrived in Brunei at the end of 2013.
(ArmsTrade)
S-70i Blackhawk helicopter (photo : PZL Mielec)
TSAMTO - Polish company PZL Mielec (part of Sikorsky Aircraft Corporation) completed the assembly of the next helicopter S-70i «Black Hawk", intended to Brunei Armed Forces.
According Gazeta.pl, March 18 at the airport Melzi, a demonstration of the helicopter company representatives "Sikorsky" and the media.
After completion of the flight testing and acceptance procedures helicopter will be sent to the customer. This is the 28th S-70i Black Hawk made by the Polish division. Helicopters Polish assembly also delivered to Mexico, Saudi Arabia and Colombia.
As previously reported TSAMTO, Ministry of Defence of Brunei December 2, 2011 signed with "Sikorsky International" contract for the purchase of 12 multipurpose helicopters S-70i "Black Hawk International" as well as the supply of ground support equipment, spare parts and services for the results of the tender.
The cost of machinery is not officially announced. According to "Jane's Defence Weekly", it is 325 million dollars. The agreement includes an option to supply an additional 10 helicopters.
The first batch of four helicopters arrived in Brunei at the end of 2013.
(ArmsTrade)
Label:
ANGKATAN UDARA,
BRUNEI,
Helikopter Angkut Sedang
26 Maret 2014
Pindad Mulai Mengerjakan Retrofit Tank AMX-13
26 Maret 2014
Tank AMX-13 retrofit prototipe kerjasama dengan Sabiex Belgia ketika diuji coba (photo : Agape zacharia)
PINDAD Kembangkan Tank Ringan
Antarajawabarat.com - PT Pindad mengembangkan jenis tank ringan dan melakukan "retrofit" tank jenis AMX-13 sehingga memenuhi kebutuhan teknologi dan operasional TNI, kata Wakil Menteri Pertahanan Sjafri Syamsudin pada kegiatan inspeksi di PT Pindad Kota Bandung, Rabu.
"Dari inspeksi yang kami lakukan PT Pindad ada kemajuan, salah satunya pengembangan tank ringan, retrofit tank jenis AMX-13," kata Wamenhan Sjafri Syamsudin.
Pengembangan tank ringan itu dilakukan dengan melakukan modifikasi teknologi tank jenis itu menjadi tank yang memiliki spesifikasi teknologi yang tangguh dan sesuai dengan kebutuhan lapangan.
Tahap pertama, kata Sjafri akan dibuat 23 unit tank ringan. Ia menyebutkan saat ini ada 400-an tank AMX-13 yang rencananya akan masuk dalam program retrofit itu.
"Rencananya program itu masuk pada program 2015-2019, jumlahnya tergantung pemerintah dan angaran yang disiapkan saat itu," katanya.
Panser Anoa Versi Intai
Selain itu Pindad juga akan melakukan pengembangan Panser 6x6 Anoa yang dimodifikasi menjadi panser untuk kebutuhan pengintaian.
"Panser intai itu dimodifikasi mengangkut personil namun memiliki kecepatan lebih tinggi dibandingkan panser sejenis yang ada, spesifikasinya akan dilengkapi untuk kebutuhan pengintaian," katanya.
Ia menyebutkan tahap pertama panser intai itu akan di bangun satu unit sebagai prototipenya. Rencananya panser itu diperuntukan bagi Koppasus.
"Kebutuhan panser masih cukup besar, setidaknya sekitar 250-an lagi, termasuk panser yang akan dikembangkan itu," katanya.
Pada kesempatan itu, Wamenhan menyatakan komitmen pemerintah untuk mermanfaatkan alat utama sistem pertahanan (Alutsista) produk dalam negeri.
"Dalam setiap pengadaan alutsista ditetapkan spesifikasi dan standarnya, untuk itu kami terus mendorong agar produk alutsista dalam negeri terus meningkatkan kualitas dan memenuhi kriteria itu. Bila memenuhi spesifikasi maka prioritas adalah produk alutsista dalam negeri," katanya.
(Antara)
Baca Juga :
Apa Kecanggihan Tank AMX-13 Modifikasi Pindad?
Bisnis.com, BANDUNG--PT Pindad saat ini tengah mendapatkan tugas untuk memodifikasi (retrofit) tank AMX-13 milik TNI. Seperti apa modifikasi yang dilakukan?
Pada saat kunjungan Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin ke PT Pindad, Rabu (26/3/2014), Direktur Utama PT Pindad (Persero) Tri Hardjono menjelaskan tank AMX-13 merupakan tank lama dari masa Perang Dunia II sehingga perlu dimodernisasi.
Dia memaparkan setelah dilakukan retrofit, tank tersebut memiliki kelebihan yang dilengkapi senjata Canon 105 mm, fire control system sudah elektronik, serta mesin diesel yang bisa bertahan sampai 20 tahun dan transmisi otomatis.
Model lama AMX-13 masih bermesin bensin dari Eropa, dan modifikasi ini diganti menjadi mesin Diesel Turbointercooler dari Navistar Amerika Serikat. “Biaya untuk retrofit hanya sekitar Rp9 miliar-Rp10 miliar, lebih murah dibandingkan tank baru yang minimalnya Rp30 miliar,” ungkapnya.
Pihak Kemenhan juga memiliki program pembuatan tank medium, dengan senjata 105 mm, dan memiliki kemampuan tank modern yang dibutuhkan kavaleri.
“Untuk tank medium ini dikembangkan sekitar 3 tahun ke depan, sehingga protitipenya baru akan selesai pada 2016. Sedangkan yang ada saat ini adalah tank Pindad hasil pengembangan sendiri kendaraan roda rantai yang sedang dicoba diaplikasikan,” katanya.
(Bisnis Indonesia)
Tank AMX-13 retrofit prototipe kerjasama dengan Sabiex Belgia ketika diuji coba (photo : Agape zacharia)
PINDAD Kembangkan Tank Ringan
Antarajawabarat.com - PT Pindad mengembangkan jenis tank ringan dan melakukan "retrofit" tank jenis AMX-13 sehingga memenuhi kebutuhan teknologi dan operasional TNI, kata Wakil Menteri Pertahanan Sjafri Syamsudin pada kegiatan inspeksi di PT Pindad Kota Bandung, Rabu.
"Dari inspeksi yang kami lakukan PT Pindad ada kemajuan, salah satunya pengembangan tank ringan, retrofit tank jenis AMX-13," kata Wamenhan Sjafri Syamsudin.
Pengembangan tank ringan itu dilakukan dengan melakukan modifikasi teknologi tank jenis itu menjadi tank yang memiliki spesifikasi teknologi yang tangguh dan sesuai dengan kebutuhan lapangan.
Tahap pertama, kata Sjafri akan dibuat 23 unit tank ringan. Ia menyebutkan saat ini ada 400-an tank AMX-13 yang rencananya akan masuk dalam program retrofit itu.
"Rencananya program itu masuk pada program 2015-2019, jumlahnya tergantung pemerintah dan angaran yang disiapkan saat itu," katanya.
Panser Anoa Versi Intai
Selain itu Pindad juga akan melakukan pengembangan Panser 6x6 Anoa yang dimodifikasi menjadi panser untuk kebutuhan pengintaian.
"Panser intai itu dimodifikasi mengangkut personil namun memiliki kecepatan lebih tinggi dibandingkan panser sejenis yang ada, spesifikasinya akan dilengkapi untuk kebutuhan pengintaian," katanya.
Ia menyebutkan tahap pertama panser intai itu akan di bangun satu unit sebagai prototipenya. Rencananya panser itu diperuntukan bagi Koppasus.
"Kebutuhan panser masih cukup besar, setidaknya sekitar 250-an lagi, termasuk panser yang akan dikembangkan itu," katanya.
Pada kesempatan itu, Wamenhan menyatakan komitmen pemerintah untuk mermanfaatkan alat utama sistem pertahanan (Alutsista) produk dalam negeri.
"Dalam setiap pengadaan alutsista ditetapkan spesifikasi dan standarnya, untuk itu kami terus mendorong agar produk alutsista dalam negeri terus meningkatkan kualitas dan memenuhi kriteria itu. Bila memenuhi spesifikasi maka prioritas adalah produk alutsista dalam negeri," katanya.
(Antara)
Baca Juga :
Apa Kecanggihan Tank AMX-13 Modifikasi Pindad?
Bisnis.com, BANDUNG--PT Pindad saat ini tengah mendapatkan tugas untuk memodifikasi (retrofit) tank AMX-13 milik TNI. Seperti apa modifikasi yang dilakukan?
Pada saat kunjungan Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin ke PT Pindad, Rabu (26/3/2014), Direktur Utama PT Pindad (Persero) Tri Hardjono menjelaskan tank AMX-13 merupakan tank lama dari masa Perang Dunia II sehingga perlu dimodernisasi.
Dia memaparkan setelah dilakukan retrofit, tank tersebut memiliki kelebihan yang dilengkapi senjata Canon 105 mm, fire control system sudah elektronik, serta mesin diesel yang bisa bertahan sampai 20 tahun dan transmisi otomatis.
Model lama AMX-13 masih bermesin bensin dari Eropa, dan modifikasi ini diganti menjadi mesin Diesel Turbointercooler dari Navistar Amerika Serikat. “Biaya untuk retrofit hanya sekitar Rp9 miliar-Rp10 miliar, lebih murah dibandingkan tank baru yang minimalnya Rp30 miliar,” ungkapnya.
Pihak Kemenhan juga memiliki program pembuatan tank medium, dengan senjata 105 mm, dan memiliki kemampuan tank modern yang dibutuhkan kavaleri.
“Untuk tank medium ini dikembangkan sekitar 3 tahun ke depan, sehingga protitipenya baru akan selesai pada 2016. Sedangkan yang ada saat ini adalah tank Pindad hasil pengembangan sendiri kendaraan roda rantai yang sedang dicoba diaplikasikan,” katanya.
(Bisnis Indonesia)
Label:
ANGKATAN DARAT,
INDONESIA,
Industri Pertahanan,
Tank,
TNI-AD
Seoul Eyes Secure Satcom, KF-X Tech In F-35 Deal
26 Maret 2014
F-35 Lightning II (photo : Lockheed Martin)
With Seoul’s March 24 announcement of its long-held intent to purchase the F-35A, South Korea is likely securing an offset deal that will include a new military communications satellite and technical assistance in the country’s plans to develop an indigenous stealthy KF-X fighter.
Lockheed Martin, the sole producer of stealthy fighters globally, will provide more than 300 man-years worth of engineering expertise in assisting Seoul in designing its KF-X. The F-22 and F-35 builder will also offer more than 500,000 pages of technical documentation derived from the F-16, F-22 and F-35, says Michael Rein, a company spokesman.
South Korea is looking at multiple KF-X designs, but has recently found that a single-engine option may be as effective at an affordable price point as a twin engine. It is slated to become operational around 2025.
Also in the offset proposal is a secure satellite communications satellite; Lockheed is building the newest U.S. Air Force jam-proof satellite called the Advanced Extremely High Frequency spacecraft. It is built on the company’s A2100 bus and includes the latest security measures to avoid interference or jamming. The offset also includes “necessary control equipment and technical training,” Rein says. The deal could cover delivery of the new satellite, launch and turnover of the operational system.
KFX design (photo : kjclub)
Seoul announced its choice of the F-35A over the Eurofighter Typhoon and Boeing F-15 Silent Eagle, a Strike Eagle modified with stealthy weapons bays and leading edges, in December. Though Boeing’s offer was the only one to comply with South Korea’s budget limitations, the government overrode a recommendation to buy the Super Hornet. To stay in a budget of 8.3 billion won ($7.2 billion), the country is only purchasing 40 F-35As, far less than its intended buy of 60 aircraft in the F-X phase 3 program.
Lockheed Martin also included development of a virtual warfare center to be used for modeling and wargaming in its offer. However, since the deal was cut to 40 aircraft, there could be changes to the plan, one industry official says.
South Korea is the 10th country that has announced its intentions to buy the F-35. Israel and Japan committed in 2010 and 2011, respectively. Seoul’s sale will make use of the Pentagon’s foreign military sales program. It is widely assumed that the country will include an option of the additional 20 fighters in its program for purchase on a later date.
South Korea plans to take delivery of its first F-35As in 2018; they will be included in the Pentagon’s low-rate, initial production buy. Seoul plans to buy as many as 10 per year.
The final agreement on the buy is expected to be signed by year’s end, says Steve O’Bryan, vice president of program integration and business development at Lockheed.
(Aviation Week)
F-35 Lightning II (photo : Lockheed Martin)
With Seoul’s March 24 announcement of its long-held intent to purchase the F-35A, South Korea is likely securing an offset deal that will include a new military communications satellite and technical assistance in the country’s plans to develop an indigenous stealthy KF-X fighter.
Lockheed Martin, the sole producer of stealthy fighters globally, will provide more than 300 man-years worth of engineering expertise in assisting Seoul in designing its KF-X. The F-22 and F-35 builder will also offer more than 500,000 pages of technical documentation derived from the F-16, F-22 and F-35, says Michael Rein, a company spokesman.
South Korea is looking at multiple KF-X designs, but has recently found that a single-engine option may be as effective at an affordable price point as a twin engine. It is slated to become operational around 2025.
Also in the offset proposal is a secure satellite communications satellite; Lockheed is building the newest U.S. Air Force jam-proof satellite called the Advanced Extremely High Frequency spacecraft. It is built on the company’s A2100 bus and includes the latest security measures to avoid interference or jamming. The offset also includes “necessary control equipment and technical training,” Rein says. The deal could cover delivery of the new satellite, launch and turnover of the operational system.
KFX design (photo : kjclub)
Seoul announced its choice of the F-35A over the Eurofighter Typhoon and Boeing F-15 Silent Eagle, a Strike Eagle modified with stealthy weapons bays and leading edges, in December. Though Boeing’s offer was the only one to comply with South Korea’s budget limitations, the government overrode a recommendation to buy the Super Hornet. To stay in a budget of 8.3 billion won ($7.2 billion), the country is only purchasing 40 F-35As, far less than its intended buy of 60 aircraft in the F-X phase 3 program.
Lockheed Martin also included development of a virtual warfare center to be used for modeling and wargaming in its offer. However, since the deal was cut to 40 aircraft, there could be changes to the plan, one industry official says.
South Korea is the 10th country that has announced its intentions to buy the F-35. Israel and Japan committed in 2010 and 2011, respectively. Seoul’s sale will make use of the Pentagon’s foreign military sales program. It is widely assumed that the country will include an option of the additional 20 fighters in its program for purchase on a later date.
South Korea plans to take delivery of its first F-35As in 2018; they will be included in the Pentagon’s low-rate, initial production buy. Seoul plans to buy as many as 10 per year.
The final agreement on the buy is expected to be signed by year’s end, says Steve O’Bryan, vice president of program integration and business development at Lockheed.
(Aviation Week)
Langganan:
Postingan (Atom)







