27 Desember 2025

Successful Completion of DART Mk-2 Multipurpose Rocket Qualification Tests

27 Desember 2025

DART Mk-2 Multipurpose Rocket (photo: E-System Solutions)

E-System Solutions, primarily recognised as an aerospace technology leader, has over the past decade also developed a robust Land Systems Division focused on missiles, rockets, and loitering munitions. Quietly but steadily, over the last seven years, E-System has designed, prototyped, and qualified a family of advanced weapon systems, several of which have now reached full operational maturity — and some are already combat-proven.

Spotlight on the DART Multipurpose Rocket
Today, we proudly highlight one of our flagship systems: the DART Mk-2 Multipurpose Rocket, a lightweight, modular RPG-class weapon designed for infantry, special forces, and amphibious units. The DART system has successfully completed its full suite of qualification and fieldtesting trials, demonstrating consistent performance in:
-Anti-armour, anti-structure, and anti-personnel configurations.
-Urban combat, jungle warfare, and coastal operations.
-Extreme weather and terrain, including high humidity and dust/sand conditions.

With multiple warhead options, smart fuzing, and a compact logistical footprint, DART offers a highly adaptable and cost-effective solution for modern dismounted forces and drones.

E-System Solutions is a UAE company headquartered in Ras al-Khaimah, United Arab Emirates, with a subsidiary company PT E-System Solutions Indonesia domiciled in Jakarta  (infographic: E-System Solutions)

First Export Success: Indonesia Armed Forces
E-System Solutions is proud to announce that the Indonesian Army, including Kopassus (Special Forces) and Marine Corps units, has become the first international customer of the DART Mk-2 Multipurpose Rocket System.

This milestone is part of a broader Technology Transfer and Industrialisation Agreement signed with the Indonesian Ministry of Defense, aimed at equipping newly formed infantry battalions with cutting-edge, locally produced weapon systems.

Local Production with PT Republikorp
To ensure sustainable supply and regional growth, E-System has partnered with PT Republikorp, an emerging defense industrial player in Indonesia. Together, we are establishing a dedicated production facility capable of manufacturing up to 5,000 DART rockets annually, supporting not only the Indonesian Armed Forces’ long-term requirements, but also positioning Indonesia as a regional hub for exports across Southeast Asia and beyond.

This partnership includes:
-Full knowledge transfer and assembly-line setup.
-On-site quality assurance and training by E-System personnel.
-Long-term maintenance, support, and upgrade packages.

DART Mk-2 launch multipurpose rocket (video: E-System Solutions)

A Growing Arsenal: What’s Next?
While DART is the first to be officially announced, E-System Solutions is preparing to unveil several other advanced weapon programs, which have reached late-stage development or early production readiness:
-Viper Loitering Munition Family: modular loitering drones, infantry and vehicle launched, featuring AI-assisted target acquisition.
-Vespa Network-Enabled ATGM: a multipurpose missile and smart launcher system with battlefield networking and manned-unmanned teaming capability
-Delta Mk-1 Light.
-Cruise Missile: a man-launched or vehicle-launched, multi-role cruise missile for deep strike, SEAD/DEAD, and anti-ship roles.

Each of these systems reflects E-System’s philosophy of affordable high-performance capability, with modularity, local production compatibility, and AI integration at the core of their design.

(ESS)

KAI Teken Kesepakatan untuk Upgrade Pesawat Tempur FA-50PH Filipina

27 Desember 2025

Pesawat tempur FA-50PH Angkatan Udara Filipina (photo: PAF)

SEOUL -- Korea Aerospace Industries Ltd. (KAI), produsen pesawat terbang Korea Selatan, mengatakan pada hari Jumat bahwa mereka telah menandatangani kesepakatan dengan Kementerian Pertahanan Filipina untuk meningkatkan kinerja pesawat tempur FA-50 yang dioperasikan oleh Angkatan Udara Filipina.

Perusahaan tersebut mengatakan akan melaksanakan program peningkatan kinerja senilai 93 miliar won (US$64 juta) untuk 11 pesawat serang ringan FA-50PH hingga tahun 2029.

Sebanyak 12 pesawat FA-50PH telah dikirim ke Angkatan Udara Filipina antara tahun 2015 dan 2017, tetapi satu pesawat hilang dalam kecelakaan latihan.

Di bawah program ini, armada FA-50PH akan mendapatkan peningkatan kemampuan amunisi berpemandu presisi, jangkauan operasional yang lebih luas, dan daya tahan yang lebih baik untuk misi berkelanjutan. Peningkatan ini juga akan memperkuat interoperabilitas berbasis jaringan, memungkinkan operasi militer gabungan yang lebih efektif, kata perusahaan tersebut.

Upgrade kemampuan pesawat tempur ringan KAI FA-50 (photo: MaxDefense)

“Kami akan terus memperluas kehadiran KAI di pasar pertahanan global melalui peningkatan kinerja yang disesuaikan dan program dukungan lanjutan yang sistematis,” kata seorang pejabat perusahaan.

Pesawat serang ringan FA-50PH berbagi platform dengan pesawat latih canggih T-50, yang dapat berubah menjadi pesawat serang ketika dilengkapi dengan senjata.

Pada bulan Juni, KAI menandatangani kesepakatan senilai US$700 juta dengan pemerintah Filipina untuk mengekspor 12 pesawat FA-50PH tambahan pada tahun 2030.

26 Desember 2025

LIG Nex1 akan Mengembangkan Rudal Udara-ke-Udara Jarak Pendek untuk KF-21 Boramae

26 Desember 2025

LIG Nex1 secara resmi meluncurkan pengembangan sistem SRAAM-II (image: LIG Nex1)

LIG Nex1 menyatakan pada tanggal 24 Desember lalu bahwa mereka telah menandatangani kontrak dengan Agency for Defense Development (ADD) untuk proyek "integrasi Sistem Rudal Udara-ke-Udara Jarak Pendek II/Short-Range Air-to-Air Missile-II (SRAAM-II) dan prototipe integrasi rudal".

Proyek rudal udara-ke-udara jarak pendek ini bertujuan untuk mengembangkan, dengan teknologi dalam negeri, rudal udara-ke-udara jarak pendek yang akan dipasang pada pesawat tempur Korea KF-21. Proyek ini bernilai total 207 miliar won.

Berdasarkan kontrak ini, LIG Nex1 berencana untuk mengembangkan komponen-komponen utama rudal tersebut pada tahun 2032, termasuk integrasi sistem, pencari citra inframerah, unit panduan (guidance) dan kontrol, unit navigasi inersia, unit aktuasi, dan unit deteksi target.

Rudal udara-ke-udara jarak pendek/Short-Range Air-to-Air Missile (SRAAM) (image: Miltech)

Setelah pengembangan rudal udara-ke-udara jarak pendek selesai, KF-21 akan membawa rudal udara-ke-udara jarak pendek buatan dalam negeri di samping rudal udara-ke-darat jarak jauh. Ini berarti pesawat tersebut akan dipersenjatai dengan senjata udara-ke-darat dan udara-ke-udara yang dikembangkan sepenuhnya dengan teknologi dalam negeri.

Shin Ik-hyun, CEO LIG Nex1, mengatakan, "Melalui kerja sama erat dengan Agency for Defense Development (ADD), badan utama proyek ini, serta lembaga dan perusahaan terkait, kami berencana untuk memobilisasi kemampuan seluruh perusahaan kami untuk berhasil menyelesaikan pengembangan rudal udara-ke-udara jarak pendek II (SRAAM-II)."

PT PAL Indonesia Kembangkan Senjata Laser Hand-held

26 Desember 2025

Senjata laser hand-held sistem directed-energy (photos: PAL)

Inovasi Senjata Laser PT PAL Indonesia
PT PAL mengembangkan Laser Weapon System sebagai solusi non-kinetik enegi terarah untuk menghadapi ancaman modern. Teknologi ini dirancang untuk memberikan ganguan visual dan sensonik pada sistem optik jarak jauh, khususnya ancaman udara tak berawak seperti drone.


Inovasi ini menjadi terobosan penting menjadi senjata futuristik berbiaya relatif rendah, sekaligus menegaskan Indonesia sebagai pelopor sistem directed-energy di kawasan ASEAN. Bekerjasama dengan mitra stategis internasional, senjata laser hand-held yang dikembangkan oleh PT PAL Idonesia memiliki jarak tembak yang dapat diatur mulai 50 meter hingga 500 meter.


Inovasi senjata laser PT PAL Indonesia menjadi wujud kesiapan anak bangsa menghadapi ancaman modern melalui teknologi non-kinetik berbasis energi terarah. Dikembangkan sebagai solusi pertahanan adaptif dan efisien, sistem ini dirancang untuk menghadirkan perlindungan efektif terhadap ancaman udara tak berawak. Menegaskan komitmen PT PAL mendorong kemandirian industri pertahanan nasional.

(PAL)

Empat Pesawat Tanpa Awak Buatan Peneliti BRIN Uji Terbang, Begini Hasilnya!

26 Desember 2025

Drone LSU 02 VTOL (photo: BRIN)

Bogor – Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Teknologi Penerbangan melakukan uji terbang empat pesawat tanpa awak sebagai bagian dari pengembangan teknologi penerbangan nasional. Uji terbang tersebut dilaksanakan di Lanud Rumpin, Kabupaten Bogor, pada Rabu s.d. Jumat (17-19/12). Kegiatan ini bertujuan untuk menguji performa terbang serta keandalan sistem pada masing-masing wahana.

Salah satu pesawat yang diuji adalah LSU 02 VTOL, pesawat tanpa awak yang mampu lepas landas dan mendarat secara vertikal tanpa memerlukan landasan panjang. Dalam pengujian ini, LSU 02 VTOL terbang pada ketinggian sekitar 300 kaki dengan kecepatan 53 knot selama kurang lebih delapan menit. 

“Hasil uji terbang menunjukkan bahwa performa terbang dan sistem VTOL pesawat berfungsi sesuai harapan. Pesawat ini dirancang untuk mendukung misi pengawasan wilayah dan pemetaan area,” ungkap Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Penerbangan BRIN, Danartomo Kusumoaji.

Drone Alap-alap (photo: BRIN)

Pesawat tanpa awak lainnya, Alap-Alap, menjalani uji terbang dengan misi optimalisasi sistem autopilot. Pesawat tersebut terbang pada ketinggian 800 kaki dengan kecepatan 50 knot selama 30 menit. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem autopilot berfungsi dengan baik.

Sementara itu, pesawat Kresna diuji untuk mengevaluasi sistem telemetri, yaitu sistem pengiriman data penerbangan secara real time ke stasiun kendali di darat. Berdasarkan hasil pengujian, Kresna terbang selama 10 menit pada ketinggian 300 kaki dengan kecepatan sekitar 50 knot.

BRIN juga melakukan uji terbang pesawat Skywalker untuk mengenali karakteristik aerodinamika pesawat, seperti kestabilan dan respons saat terbang. Data yang diperoleh dari pengujian ini akan digunakan sebagai dasar penyempurnaan desain dan peningkatan performa pesawat ke depan.


Lebih lanjut, Danartomo menjelaskan bahwa pesawat tanpa awak LSU-02 VTOL dan Alap-alap merupakan murni semuanya dikembangkan oleh para periset BRIN dari design dan juga teknologi Flight Control Computer (FCC). Sementara itu, untuk pesawat tanpa awak Skywalker dan Krishna, memakai desain pesawat yang sudah ada, sedangkan terkait perkembangan risetnya itu dilakukan oleh para periset di Pusat Riset Teknologi Penerbangan.

“Nah jadi ceritanya memang untuk yang Krishna itu memang kita mencontoh dari pesawat Cessna ya, yang sebenarnya desainnya juga sudah ada. Memang pesawatnya bukan didesain sendiri oleh teman-teman PRTP. Karena memang untuk menguji FCC, jadi harus dengan pesawat yang memang sudah benar-benar bagus. Sedangkan untuk Skywalker ini kan kita mau melihat identifikasi parameter aerodinamikanya. Nah itu juga memakai pesawat yang sudah ada,” terangnya.

Danartomo menyampaikan bahwa uji terbang ini merupakan tahapan penting dalam pengembangan pesawat tanpa awak nasional. Hasil pengujian diharapkan dapat memperkuat pengembangan teknologi drone dalam negeri untuk mendukung berbagai kebutuhan, seperti pemetaan dan pengawasan wilayah. “Melalui uji terbang ini, kami dapat mengevaluasi performa pesawat sekaligus memastikan seluruh sistem bekerja secara aman dan stabil,” pungkasnya.

Thailand Latihan Penarikan Amfibi (Amphibious Withdrawal)

26 Desember 2025

Latihan Penarikan Amfibi (Amphibious Withdrawal) Korps Marinir dan Angkatan Laut Thailand (photos: RTN)

Pada tanggal 24 Desember 2025, Laksamana Korawit Chayarathee, Komandan Komando Armada, memeriksa latihan perang amfibi. 


Latihan ini berfokus pada pengujian rencana penarikan amfibi, yang melibatkan penarikan sistematis personel, peralatan, dan kendaraan dari pantai kembali ke kapal perang  (Amphibious Withdrawal).

Hal ini sering terjadi di bawah tekanan musuh atau kebutuhan mendesak untuk mempertahankan kekuatan tempur untuk penggunaan di masa mendatang.


Berbagai unit di dalam Komando Armada, termasuk Armada Amfibi dan Logistik, Armada Perang Ranjau, Komando Penerbangan Angkatan Laut, dan Unit Perang Khusus Angkatan Laut, serta Unit Angkatan Laut di wilayah Sattahip seperti Divisi Korps Marinir, Pusat Pelatihan Komando Korps Marinir, dan Departemen Konstruksi dan Pengembangan Pangkalan Angkatan Laut Sattahip, berpartisipasi dalam latihan di Lapangan Latihan Angkatan Laut Kerajaan Thailand, Pantai Haad Yao, Sattahip.


Latihan ini merupakan bagian dari pelatihan personel, taktis, armada, udara, dan perang khusus angkatan laut. Untuk Komando Armada, Tahun Anggaran 2026.

25 Desember 2025

Lawatan Kerja Panglima Tentera Udara ke Destini Prima Sdn Bhd

25 Desember 2025

Destini Prima Sdn Bhd bergerak dalam bidang Aviation Defence, Marine Defence, dan layanan lainnya (photo: TUDM)

SUBANG – Panglima Tentera Udara, Jeneral Dato’ Sri Haji Muhamad Norazlan bin Aris TUDM telah mengadakan lawatan kerja ke Destini Prima Sdn Bhd hari ini.


Lawatan kerja ini adalah bagi memaksimakan peluang kolaborasi strategik dengan industri dan rakan strategik dalam memastikan kemampanan aset dan kejayaan operasi TUDM sepertimana tonggak keempat Perintah Ulung Panglima Tentera Udara iaitu “Meningkatkan Dokongan Logistik”.


Selain itu, lawatan Panglima Tentera Udara ini juga untuk melihat keupayaan syarikat–syarikat di bawah industri pertahanan dalam mendukung kelestarian operasi (operational sustainability) khususnya kepada TUDM.

Salah satu layanan dalam Aviation Defence adalah mempunyai kapabilitas dalam hal MRO (image: Destini)

Turut serta dalam lawatan ini adalah Panglima Bantuan Udara, Mejar Jeneral Dato' Ahmad Khusairi bin Ahmad Fadli TUDM; AKS Perancangan & Pembangunan, Mejar Jeneral Mohd Sani bin Omar TUDM dan AKS Kejuruteraan, Mej Jeneral Muhd Aznor bin Hj Md Ghazali TUDM.