27 Desember 2016

Heli AW 101 Bukan untuk Kepresidenan, TNI AU: Ini untuk Militer dan SAR

27 Desember 2016

Material airframe helikopter AW101 (image : Merlin)

Jakarta - Pembelian helikopter AgustaWestland (AW) 101 awalnya ditujukan untuk kepentingan kepresidenan. Namun Presiden Joko Widodo (Jokowi) menolaknya karena merasa saat itu heli yang dipakainya, yaitu Super Puma, masih laik.

TNI Angkatan Udara (AU) yang mengajukan pembelian heli itu lalu merevisinya untuk kepentingan militer dan diajukan kembali. Menurut Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) TNI AU Marsekal Pertama (Marsma) Jemi Trisonjaya, anggaran untuk pembelian heli itu sudah turun sehingga tidak ada masalah lagi yang harus diperdebatkan.

"Lo kita kan menunda membeli pesawat VVIP (very very importan person). Nah, kita kan revisi kebutuhannya itu untuk membeli pesawat militer. Nah, militer sudah kita ajukan ke Kemenhan (Kementerian Pertahanan), makanya prosedur itu sudah kita lewati kemudian kenapa bintang dicabut dan itu sudah pasti penggunaannya pesawat itu," ucap Jemi saat berbincang dengan detikcom, Selasa (27/12/2016).

"Kebutuhan heli ini juga multifungsi, bisa untuk SAR, untuk angkut berat, untuk evakuasi, untuk rumah sakit mobile, begitu, kan? Jadi penggunaannya itu memang kita butuhkan untuk Angkatan Udara, yang selama ini kita melaksanakan SAR itu dengan pesawat-pesawat yang sangat terbatas," sambung Jemi.


AW101 TNI AU (photo: Rich Pittman)

Kemudian, Jemi juga mengatakan bahwa pengajuan anggaran pembelian heli itu untuk tahun ini. Dengan demikian, menurut Jemi, pada tahun ini pembelian heli itu harus segera diproses.

"Itu sebenarnya pengajuannya dari tahun 2015 ya, prosesnya gitu. Kemudian keluarnya tahun 2016. Anggaran ini kan harus dalam tahun anggaran sehingga dalam tahun ini harus segera diproses," ucap Jemi.

Pada 23 Oktober 2015, saat itu Marsma Dwi Badarmanto, yang menjabat sebagai Kadispen TNI AU, menyampaikan tentang peremajaan helikopter kepresidenan yang sudah diusulkan sejak lama dan pengadaannya masuk dalam rencana strategis (renstra) II TNI AU tahun 2015-2019. Dalam renstra, pilihan TNI AU untuk mengganti Super Puma yang diproduksi tahun 1980 itu jatuh pada AW 101. Heli tersebut tidak spesifik diperuntukkan bagi Presiden Jokowi, namun juga bagi pejabat VVIP, termasuk wakil presiden dan tamu kenegaraan.

Alasan TNI AU memilih AW 101 adalah heli tersebut dinilai yang paling mumpuni untuk menunjang kepentingan VVIP. Heli yang akan dibeli TNI AU ini disebut Dwi juga antipeluru. Selain itu, heli baru untuk VVIP tersebut juga dilengkapi dengan bantalan udara yang dapat mengembang seperti kantong udara jika terjadi benturan.

AW 101 dipilih juga karena dapat dipasangi pelampung sehingga heli dapat mendarat dan mengapung di perairan dalam keadaan darurat. Pelat-pelat baja tahan peluru pada heli ini juga bisa dipasangkan pada helikopter lain sesuai keperluan.

(Detik)

25 komentar:

  1. kalo dibela mati2an biasanya ada sesuatu nih, proyek aw101 goal, tinggal proyek pesawat amfibi. Rudal hanud,radar, pesawat tempur ngga penting wkwkwk

    BalasHapus
  2. baca http://nasional.kompas.com/read/2016/12/27/08021361/tni.au.tetap.beli.heli.agustawestland.101

    pengadaannya melanggar UU Industri Pertahanan, gpp yg penting goal proyeknya kata pak Supri, yg laen ngga penting, wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. @ferdhi

      Ahhhh gua tau...ini pasti solidaritas "AXXX Sedunia", xixixixi

      Kan helinya merek ...-Westland

      Hapus
  3. KPK....? hello.... kpn masuk TNI? boleh dunk KPK masuk, kalo masalahnya rahasia hasilnya tdk dipublikasikan lsg aja laporan ke presiden trus lanjut ke mahmil.... kalo ga ya publikasikan aja biar nunjukin TNI itu berusaha bersih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kan udah masuk bang...
      xi xi xi...

      Hapus
    2. Kalau ternyata 100% legal gimana? Hal paling kentara yang saya lihat adalah penerima ToT bukan PT DI, tapi perusahaan lain (Indopelita IIRC).

      Buat SAR masuk akal sih TNI AU lebih memilih ini. 16 stretcher vs. 12 stretcher. Lumayan, empat orang lebih yang bisa diselamatkan satu heli. Ada cadangan satu mesin lagi.

      Tapi kalau SAR di Papua sepertinya mending H225M sih.

      Hapus
    3. @IRS

      Coba diperhatikan 2 foto AW diatas..AW versi angkut&sar punya sliding door disisi kanan-tengah untuk akses keluar masuk sekalian akses hoisting, Kalo yang dibeli ini, sliding doornya dimana ya?

      Hapus
    4. @hari setyawan
      Kalau belum operasional di skadron TNI AU tidak bisa ngomong apa2. Harus tunggu penerimaan dari Indopelita baru bisa bicara. Panther PT DI saja sudah selesai dibuat di Airbus Helicopters sebelum peralatan dipasang di Indonesia. Kalau saya menolak AW101 ini, saya juga harus menolak Panther. Jadi yah, wait and see saja.

      Yang paling unik, kalau ada transfer of knowledge/technology, saya rasa lebih besar yang ke Indopelita daripada yang ke PT DI. Experience kedua perusahaan berbeda soalnya.

      Hapus
    5. @IRS

      Maksudnya begini bro...

      Kalo heli tsb mau diperlengkapi sesuai standar heli sar+angkut, tentunya tidak buru2 dicat dg cammo loreng dulu, karena pd versi VVIP, sliding doornya (sbg akses keluar masuk&hoisting) sengaja "dimatikan"/ditiadakan.

      Lazimnya, setelah tuntas pekerjaan bodi heli (motong plat dan menambahkan sliding door), baru dilakukan pengecatan akhir.

      Jadi tampaknya heli ini, ya heli yang "itu".....(silahkan googling: aw-101 vvip india)...ato saya aja yang parno ya, heeeeee

      Hapus
    6. @IRS

      Maksudnya dengan heli AW ini lebih oke karena punya satu mesin cadangan itu bgmn oom?

      Hapus
  4. Nyaris pasti heli yang awalnya buat India. Tapi konfigurasi akhir harus tunggu lihat hasilnya setelah diserah-terimakan ke TNI AU. Nomor registrasi bukan model TNI AU soalnya. Siapa tahu proses rekonfigurasi bagian dari ToT. ToT yang tidak berguna buat PT DI tapi mungkin berguna buat Indopelita.

    Menurut saya lebih baik wait and see saja. Yang pasti, menurut depkeu dan pihak2 yang mencairkan dana tidak ada masalah. Paling tidak menurut artikel.

    Oh yah, setahu saya yang kita inginkan adalah barang baru dengan transfer of technology/knowlage. Bukan barang fresh of the production line. :D

    BalasHapus
  5. https://garudamiliter.blogspot.co.id/2016/12/panglima-terjunkan-tim-untuk-selidiki.html?m=1

    mantap Pak Gatot bertindak, penasaran samaa jurusnya Pak Supri buat berkelit, xixixi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tenang aja, sekarang udah punya jubir baru....si "ucok-baba", heeeee

      Hapus
  6. jadi ini heli dpt harga berapa duwit?
    apakah masih sama sperti tahun lalu dgn spek vvip? ato beda dgn spek csar plus anti pluru plus tot d el el..
    ada yg tau gak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo dilihat fotonya, heli yang disebut sbg heli angkut+sar ini cukup kompliketit...sekomplikatet pengajuaannya yang berubah-ubah spek.

      Dari sisi proteksi balistik dan sistim defense suitenya...heli ini sangat mumpuni (yaiyalah wong peruntukkannya sbg VVIP), sebaliknya pd caracal pt.di proteksi balistiknya bersifat parsial (plat disamping kaca kockpit, pelindung mesin&tangki bbm) dan defense suitenya opsional alias belum dipasang.

      Tapi ketika melongok keperlengkapan penunjang misi sar...baru terasa kekurangannya. Bisa dilihat pd fotonya disisi kanan-tengah tidak ada sliding door sbg akses keluar masuk dr sisi tsb dan sbg akses hoisting. Flir, hoisting, lampu sorot, tandu dan emergency kit/life support equipment bisa ditambahkan dg cepat...(tapi justru sliding doornya tidak ada???). Yang menjadi pertanyaan, jika akan ditambahi sliding door (supaya sesuai dg misi angkut&sar) tentu harus memotong plat dinding heli lebih dulu, baru dipasangi pintu sliding...tapi kok udah dicat loreng duluan, heeeeeeee?!!!!

      Nah kalo pembeliannya hanya 1 unit, tidak menggunakan pola G2G&tidak melibatkan inhan...TOTnya mo dikasi siapa?

      Kalo sekedar memasang tandu, lampu sorot, flir dll...buat PT. DI mah gak ada nilai tambahnya. Ato mungkin prabrikasi mobil ambulan dalam negri aja bisa mengerjakannya.

      Hapus
    2. om hari yg ini guwe uda jwb diseblah, sbagian,
      kan disini nanya hargenye om, harge...haha!
      dari harga pgn liat turun ato gak? gt aja sich.
      klo ec 725 kita konon, satu unit sekitar 26 juta Euro


      gossip lanjut nanti ya om ahaaii haha!

      Hapus
    3. Kalo soal itu tanya sendiri dah sama yang ngajuin helinya heeee...ato mungkin ke beberapa teman penggiat LSM (yang belakangan ini banting stir jadi pengamat aviasi, seperti bung... dan bung...)

      Hapus
    4. Kalo menurut blog GM...harganya $55 juta, sama dengan pengajuan anggaran heli vvip yang ditolak.

      Jadi yang ini pengajuan ulang dg perubahan misi, kalo speknya...aduh susah ngomongnya (sampeyan udah cek sendiri fisiknya)

      Hapus
    5. nanya lgs?kan gagal, guwe ngeriih om, bisa digodem pala guwe haha!

      Hapus
    6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    7. kesian bentar lage pensiun, ntar darting kumat berabe haha!

      tp guwe salut sm kumendan, pemberani dari mudanye. tipikal fighter jet tempur.

      Hapus
    8. Achh kumendan yang bekgrone pilot fighter banyak kok tapi ga gitu juga...

      Hapus
    9. oh pst itu, cmn mksd guwe yg sperti ini
      http://nasional.kompas.com/read/2016/07/23/16550561/kisah.marsekal.tni.agus.supriatna.bertaruh.nyawa.dalam.belly.landing.1986.

      uda masuk masa purna pensiun, benar/salah bliau kumendan yg baik dimata guwe, ada jg kebijakan bgs dr bliau yg sperti komplen soal
      radar di t50 yg ga ada. itu kan bahaya buat pilot.
      awalnya guwe sempet kaget dan ga se7, ini kan rahasia sbenrnya gak perlu dibuka di pers, blom lg yg terakhir2 ini dgn slh satu instansi pemerintah, tp dgn keterbukaan bliau diharapkan terjadi perbaikan, dan pemenuhan kebutuhan2 utama au kita serta instansi yg atu itu lbh beres.
      beda pendapat itu biasalah, yg ptg setelah itu smua jadi lbh baik.

      Hapus
    10. Komplen pesawat ga pake radar kok yang dibeli helikopter...udah korsleting kali?

      Hapus