21 Desember 2016

Rekam Jejak Pengadaan Pesawat Hercules yang Dimiliki Indonesia

21 Desember 2016


Total pengadaan pesawat Hercules untuk TNI AU adalah 39 pesawat (photo : Angkasa)

Ini Rekam Jejak Pesawat Hercules yang Dimiliki Indonesia 

Sepanjang berdirinya dan hadirnya Indonesia sebagai sebuah entitas negara bangsa, negara ini membutuhkan pesawat angkut yang tangguh untuk mendukung pergerakan dan latihan militernya serta untuk keperluan taktis lainnya. Dari rekam jejak yang ada, Indonesia pertama kali menerima pesawat Hercules buatan Lockheed Martin ini pada akhir tahun 1959.

Saat itu, sebanyak 10 pesawat C-130B yang didatangkan pemerintah Amerika Serikat (AS)ke Indonesia untuk ditukar guling dengan Allen Lawrence Pope, seorang penerbang bayaran CIA (Central Intelligence Agency) yang berhasil ditawan oleh tentara Indonesia. Pasalnya Allen Pope terlibat membantu pemberontakan Permesta di Sulawesi pada tahun 1958.



Dengan diterimanya 10 pesawat kargo militer asal AS itu, Angkatan Udara Republik Indonesia (sekarang TNI AU) menjadi negara pertama penguna pesawat ini di luar AS. Kesepuluh pesawat C130B (termasuk dua varian tanker KC 130B dengan kapabilitas air refuelling) itu menjadi embrio lahirnya Skadron Udara 31/Halim dan Skadron 32/Abdurahman Saleh TNI AU. Meskipun demikian, Angkatan Udara Australia (RAAF) telah lebih dulu menggunakan Hercules, namun berbeda tipe, yakni C-130 A pada tahun 1959.

Pada tahun 1975, Indonesia mendapat tambahan 3 pesawat yang sama denga seri yang berbeda, yakni C-130E dari Amerika Serikat yang digunakan dalam operasi udara selama perang Vietnam.


Pesawat C-130H ex Australia (photo : Kaskus Militer)

Pada tahun 1980-an, di bawah program untuk meningkatkan kemampuan AURI, Hercules AURI kembali ditambah dengan unit dari generasi terbaru sebanyak 12 unit pesawat. Keduabelas pesawat tersebut terdiri dari C-130 H (standart), C-130 H-30 (Stretch), L-100-30 Super Hercules (untuk keperluan sipil), dan C-130 H/MP (Maritime Patrol).

Pada tahun 1995, Angkata Udara kembali mendapat tambahan 5 unit pesawat C-130 versi L-100 Super Hercules, hibah dari Pelita Air Servis dan Merpati Nusantara.

Terakhir, pada tahun 2013 pemerintahan RI membeli lima pesawat Hercules C130H bekas dari Militer Australia. Sebagai tambahan pemerintah Australia menghibahkan empat pesawat yang sama untuk TNI AU. Keempat pesawat hibah telah beroperasi terlebih dahulu, namun sejauh ini, baru dua unit pesawat yang telah diterima oleh Indonesia dari pembelian itu.

(Angkasa)

10 komentar:

  1. Rest in Peace to all those people aboard an Indonesian Military Plane.

    BalasHapus
  2. pepo cikeas senengnya barang bekas

    BalasHapus
  3. I don't understand what the article is saying.Can someone translate to English?May I ask if our C130H Australia gifted is involved in the accident or not?The second hand goods we gifted not durable?

    BalasHapus
    Balasan
    1. So basically:

      10 C-130B at the end of 1959 traded by the US Government for Allen Lawrence Pope, a CIA mercenary pilot involved in the PRRI/Permesta rebellion.

      1975 - 3 more ex Vietnam War C-130 E from the US.

      1980 - bought 12 C-130 H (article didn't say whether it's new or not).

      1995 - 5 C-130 L-100 ex Pelita Air Service and Merpati Nusatara airlines.

      2013 - 5 C-130 H ex Aussie (2/5 recieved).

      Article didn't say which C-130 H was involved in the crash, the 1980s or the 2013s.

      Hapus
    2. The one that crashed was the 2013 one, the one bought from Aussie. However it was not caused by poor dirability/quality/maintenance but by very poor weather, heavy fog, poor visibility causing loss of orientation.

      Hapus
  4. Kayanya kebalik 4 buah hibah sudah diterima, 5 buah beli second, sudah diterima 2 buah. Coba admin cek di situs defense studies milik admin sendiri

    BalasHapus
  5. terbukti lagi, beli rongsokan barat jatuh lagi..mau ngeles apa lagi para sales barat

    BalasHapus
    Balasan
    1. TNI AU udah menyelidiki jatuh karena cuaca buruk dan kabut tebal sehingga jarak pandang nyaris nol. Hal yang sangat luar biasa lazim di pegunungan Papua. Baca dulu jangan asal jeplak. Idiot.

      Hapus
    2. mau sama cuaca buruk atau apalah yang jelas belum tidak ditembak musuh sudah jatuh!! kalo cuaca buruk kenapa g menghindar atw dibatalkan aja penerbanganya? memangnya tidak ada sop safety? komen boleh lah tapi gausah asal bacot!! logika lu juga dipake goblok!!!

      Hapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus