20 Desember 2016

Pengadaan Su-35 Diproses dengan Skema Imbal-Beli

20 Desember 2016


Pesawat Su-35 Angkatan Udara Rusia (photo : m1a2444)

Dorong Ekspor, Pemerintah Wajibkan Skema Imbal-Beli

INDUSTRY.co.id - Skema imbal beli atau pola yang diterapkan oleh pemerintah dengan mewajibkan eksportir negara mitra dagang untuk membeli produk dalam negeri, dinilai mampu untuk meningkatkan ekspor serta membuka pasar-pasar baru tujuan ekspor.

Direktur Fasilitasi Ekspor dan Impor Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Nusa Eka, mengatakan bahwa skema imbal beli tersebut wajib untuk pengadaan barang pemerintah yang berasal dari impor dengan nilai tertentu dan atau berdasarkan peraturan perundangan.

"Saat ini kita melihat ada perlambatan ekspor, dan imbal beli ini bisa kita pergunakan sebagai salah satu instrumen untuk penetrasi produk ekspor. Selain itu juga salah satu instrumen untuk mengatasi hambatan dan kendala ekspor," kata Nusa Eka, di Jakarta.

Kementerian Perdagangan telah mengeluarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 44/M-DAG/PER/6/2016 tentang Ketentuan Imbal Beli Untuk Pengadaan Barang Pemerintah Asal Impor sebagai landasan hukum untuk instrumen tersebut.

Skema imbal beli merupakan suatu cara pembayaran barang yang mewajibkan pemasok luar negeri untuk membeli dan atau memasarkan barang tertentu dari Indonesia sebagai pembayaran atas seluruh atau nilai sebagian barang dari pemasok luar negeri.

Selain imbal beli, instrumen lain yang bisa dipergunakan oleh pemerintah antara lain adalah barter atau pertukaran barang dengan barang lain, pembelian kembali dan offset atau pembelian barang dimana pemasok luar negeri menyetujui untuk melakukan investasi kerja sama produksi dan alih teknologi.

Imbal Beli Pesawat Su-35

Skema imbal beli tersebut wajib dilaksanakan pada program pengadaan barang asal impor, seperti oleh Kementerian Lembaga, Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, Lembaga Pemerintah Non Departemen, yang menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

Salah satu contoh rencana pengadaan barang oleh pemerintah dengan menerapkan skema imbal beli dan offset adalah pengadaan delapan unit pesawat tempur Sukhoi Su-35 senilai 1,14 miliar dolar AS. Dalam kesepakatan tersebut, skema imbal beli yang wajib dilakukan oleh pihak Rusia senilai 570 juta dolar AS.

Dalam konteks imbal beli, Indonesia sudah menawarkan sebanyak 35 produk ekspor kepada pihak Rusia. Sejauh ini pihak Rusia sudah menyampaikan keinginan mereka untuk membeli karet alam produksi dalam negeri, namun tidak menutup kemingkinan untuk membeli produk lainnya.

Rata-rata impor Rusia dari dunia untuk karet alam pada 2011-2015 tercatat sebesar 11,5 juta dolar AS per tahun. Namun, dari rata-rata nilai impor tersebut, Indonesia sama sekali belum menjadi negara pemasok kebutuhan Negeri Beruang Merah tersebut.

Produk yang ditawarkan dalam skema imbal beli antara lain adalah produk manufaktur seperti produk kayu, produk kimia, peralatan konveksi, elektronik dan lainnya. Sementara untuk produk industri primer adalah logam mulia, kopi olahan, ikan olahan dan lain-lain, serta komoditi primer seperti udang, rumput laut, batu bara dan karet alam.

"Mereka sudah menyampaikan keinginan untuk membeli karet alam kita, tapi tidak menutup kemungkinan untuk produk lain," kata Nusa Eka.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada November 2016 tercatat ada peningkatan impor senjata dan amunisi sebesar 51,3 juta dolar AS. Secara kumulatif, pada periode Januari-November 2016 nilai impor Indonesia secara keseluruhan mencapai 122,86 miliar dolar AS.

Sementara untuk ekspor, pada periode yang sama mencapai 130,65 miliar dolar AS atau menurun 5,63 persen dibanding periode yang sama tahun 2015. Dengan demikian, hingga November 2016, neraca perdagangan masih mengantongi surplus sebesar 7,79 miliar dolar AS.

(Industry)

50 komentar:

  1. Minta ToT, local content dan imbal beli + ditawar gila2an.
    Mudah2an dapet beneran su-35 ori dengan paket lengkap seperti Knirti. Bukan asal cap Su-35 tapi downgrade abis2an.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah saarnya berhenti bermimpi!
      Belajar reserach dari sumber informasi publik yang sudah ada!

      Google search: "Russian Monkey Model"

      Sejak 70 tahun yang lalu, Ruski hanya pernah menjual versi K Kommercheskiy untuk export.

      Su-27/30 SK/SKM MK/MK2 Indonesia juga sebenarnya... yah, versi export downgrade.

      Jangan berharap kalau sudah pernah menghibahkan MiG-21F-13 ke United States, eh, masih mau ngarap ToT, timbal-balik, dan versi lengkap, yah?

      Komisi Perantara, "perbaikan mendalam", dan Versi Kommercheskiy sih sudah harga mati.

      Lagipula persenjataanpun hanya missile rongsokan RVV-AE (versi export izdeliye-190)...

      Jauh lebih inferior vs AMRAAM C-7 yang sudah bisa mempersenjatai F-16.

      Hapus
  2. mbulet adalah bahasa halus membatalkan deal beli agar tak malu

    BalasHapus
  3. Setuju dengan artikel diatas biar ada nilai tambahnya.
    Untungnya dipihak Rusia juga wellcome ajah jadinya klop.

    Semoga lancar dan segera teken kontraknya.

    .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iye mereka welcome aja. Tapi kualitas Su-35 yang dikirim ntar ga ada yang tau. Amit-amit dikasih "Su-35" tapi versi export dan didowngrade habis alias tanpa sensor tertentu, tanpa ini tanpa itu.

      Hapus
  4. Pke skema imbal beli pun jdi lah...yg pnting su-35 ada memperkuat tanah air...cozna si ausy uda mw dijadikan base si raptor..jd klw kt pnya su 35 pnya penangkal biar si raptor gak main2 nanti nyelonong msuk wilayah nkri..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Su-35 vs Raptor? Su-35 rata dibabat habis. Kelasnya beda jauh. Su-35 vs F-35 nah baru ada harapan sedikit karena F-35 tambun dan kurang lincah. F-22 sama atau bahkan lebih lincah dari Su-35S (bukan versi yang kita dapet) plus dia stealth dan sensornya lebih mantap (harganya juga serem). Apalagi kalau kita dikasih Su-35 export downgrade pula karena syaratnya macem-macem (ToT, imbal dagang, pake pinjaman lunak lagi bayarnya) dan masih nawar lagi. Masih untung kalo ga dikasih Su-35 versi impoten sama mereka.

      Hapus
    2. Di adu juga blm..uda blg kalah Su-35 sma raptor...ingat man behind the guns...mas bro...!!!

      Hapus
    3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    4. Man behind the guns berlaku di WVR combat/dogfight. F-22 bakal menghabisi Su-35 dari BVR. Su-35 dan pilotnya belum lihat/mendeteksi F-22 tiba-tiba udah dihantam AMRAAM F-22. Di WVR F-22 sama lincahnya dengan Su-35 dan F-22 hanya dipiloti oleh ace USAF. Otak dipake. Jangan cuma kasih alasan bullshit ke saya.

      Hapus
    5. Jangan mandang enteng SU-35 yg bakal
      Diambil sama kita, sebabnya dari jenis mutan. Ingat pihak Rusia sendiri yg mengatakan demikian, Mr.Putin tidak akan memberikan senjata kepada sahabatnya yg lebih dari sekutu-sekutunya dengan senjata dounwgrade anda pahamkan.

      Hapus
    6. Sudah saatnya anda bangun dari mimpi Su-35, yang hanya akan dijual dalam bentuk Versi Export downgrade.

      Kalau tak percaya, silahkan cari sendiri di Internet: "Russian Monkey Model". Jangan terlalu sibuk mimpi!

      Bahwa Ruski menjual barang downgrade itu sebenarnya sudah menjadi pengetahuan umum.

      Baru-baru ini, Editor National Interest, Dave Majumdar baru mencatat pernyataan Lt. Gen Evgeny Buzhinsky (purn), komisaris dari PIC Center Russia mengenai versi Su-35 yang dibeli PRC.

      "Russia tidak akan begitu saja menyerahkan "crown jewel"; harta karun tehnologi mereka yang paling beharga ke tangan PRC, tanpa mengambil precaution: penjagaan atas hak cipta mereka. Versi Su-35 untuk China, tidak akan sama dengan versi AU Russia."

      Kami memproduksi versi export, dan mempunyai versi yang kami pakai sendiri”, menurut Buzhinsky.

      Segala sesuatu tentang "efek gentar" Su-35, itu sebenarnya untuk Su-35BM, atau Su-35S milik AU Ruski.

      Kita tidak akan bisa melihat perbedaannya sampai barangnya sudah diuji-coba, karena mayoritas pengurangan spesifikasi versi Export Russia akan dirahasiakan.

      Satu hal yang pasti:
      Spesifikasi Kommercheskiy Indonesia, dapat dipastikan jauh lebih rendah dibanding versi PRC, dan harga premium-nya dipastikan akan sangat mahal.

      Indonesia adalah satu2nya negara yg sudah memenuhi semua persyaratan berikut:
      = 100% anti-Komunis, dan satu2nya negara di dunia, yg membubarkan partai komunisnya sendiri.
      = Menghibahkan MiG-21 F-13 di tahun 1969 ke Amerika Serikat.
      = 99% pesawat / helikopter semuanya masih tergantung kepada spare part buatan Amerika Serikat
      = Mengoperasikan F-16, yang berarti membutuhkan kehadiran support lokal dari perwakilan Lockheed-Martin.

      Silahkan terus bermimpi, atau bangunlah, dan melihat kenyataan!

      Hapus
  5. Balasan
    1. lal lol lal lol...eh bahlul imbal beli jg pake duwit tong, kan disebut diatas penetrasi produk ekspor. itu biasa dilakukan dimana2 spy membatasi mata uang tertentu yg kuat kluar.

      jd pemerintah indo kerja sama dgn misalnye nich ye perusahaan garmen yg terkenal seantero asia afrika & eropah macam sritex utk mensupply kebutuhan seragam militer rusia. pem rusia pilih pihak ri bagian bayar..beres

      ps: gosip diluaran jg ada yg berhembus amrik & eropah keberatan mata uangnya dipake indo buat pembayaran senjata ke rusia yg lg kena embargo akibat aneksasi ukraina bgetoh!

      makanya sukhoi lover sabar yee, jangan blisik. rusia aje kena embargo apalagi kite cuy haha!
      ape muarip aje tuch kite kirim ke rusia jd imbal balik bayar su35 hahahaha!

      Hapus
  6. Era megawati juga imbal beli sama kelapa sawit. Apakah ini tips dari si ibu? Apapun itu semoga bisa dipertanggungjawabkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ... dan seperti sudah diketahui, sebenarnya tidak ada satupun Su-Kommercheskiy yang dibeli di tahun 2003 yang masih bisa terbang.

      TS-2701 & -2702 --- sudah setahun lebih menjalani "perbaikan mendalam" di negara asal, dan masih mau belum mau pulang.

      TS-3001 & TS-3002?
      Sudah tidak pernah terlihat mengudara tuh sejak 2008.

      Hapus
  7. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heran aja ada orang Indo yang begitu pesimisnya dengan langkah imbal beli. Yang jual pesawat aja mau terima, kok ente teriak 2x sok tau. Semua versi eksport, pasti ada resiko downgrade, karena ada teknologi sensitif yang gak bisa dijual bebas. Nggak mau downgrade, ya bikin sendiri.....

      Hapus
    2. ... kalau nggak mau beli downgrade, yah, jangan beli dari Moscow, atau Washington DC.

      Bikin sendiri?
      Ini bukan seperti jamannya bisa menempa kujang, atau keris.

      Tidak ada kemampuan.
      Tidak ada pengalaman.
      Tidak ada tehnologi.
      Tidak ada infrastruktur pendukung.
      Tidak ada modal (butuh puluhan milyar $$).

      Hapus
    3. uda langsung aja bilang yg bagus itu belinya dimana merk apa jgn muter2 gak keruan om darkitem!

      Hapus
    4. Ya liat lah gambar dia apa dan isinya komen dia dr kemarin apa bos... (Gripen)

      Hapus
    5. ohh gt, doi pecinta gripen ape pedagangnye om anonymous?
      kalo die pecinta gripen guwe gak masalah krn die hard bgt, tp kalo pedagang, maaf saja..gak lepel maen disini la yawww haha!

      Hapus
    6. Pecinta kayanya. Pedagangnya ga bakal cukup peduli buat main di sini bos.

      Hapus
    7. Errr....pecinta Gripen?????

      Ini pernyataan salah kaprah!

      Untuk apa memuja Saab, atau (pembuat manapun juga)?

      Kalau kita mulai memuja satu produk, seperti Sukhoi, bukankah tanpa anda sadari sebenarnya anda lebih mementingkan kepentingan penjual, dibandingkan kebutuhan / kepentingan Nasional?

      Seharusnya diskusi semacam ini diawali dahulu dengan pertanyaan yang benar:
      Tawaran mana yang paling mendahulukan kepentingan Nasional? BUKAN kepentingan penjual produk A, atau B!

      Sekarang mudah saja.

      Adakah satu juga supplier militer, yang dapat menenuhi semua persyaratan2 berikut:

      ## Berkomitmen untuk memenuhi semua persyaratan UU no.16/2012, termasuk Transfer-of-technology, dan partisipasi industri lokal.

      ## Setiap kontrak, atau transaksi, dapat dijamin akan ditandatangani melalui skema G-to-G; tidak ada perantara, tidak ada komisi, tidak ada kickback untuk pejabat.

      ## Menawarkan pesawat tempur, yang memberikan kedaulatan penuh ke Indonesia; ToT, maintenance & upgrade terjamin, tidak ada versi downgrade, dan kontrol penuh atas source code komputer pesawat.

      ## Tentu saja, biaya operasionalnya harus terjangkau; sesuai dengan keterbatasan anggaran pertahanan kita, tetapi juga....

      ## Pespur yg memenuhi semua persyaratan kemampuan Abad ke-21; AESA radar, Networking, ultra-modern defense suite, performa kinematis yg mengimbangi/melebihi F-16, dan kemampuan supercruise.

      ## Bagaimana kalau sang supplier juga menawarkan kerjasama jangka panjang (tidak ada batasan waktu) dengan semua lapisan industri pertahanan lokal?

      Tentu saja, memenuhi UU no.16/2012 akan selalu menjadi prioritas utama dalam setiap proyek kerjasama di masa depan.

      Lupakan saja rhetorisme nasionalis, yg salah tempat!

      Sangat memalukan sebenarnya kalau supplier asing (Saab) lebih kelihatan antusias untuk memenuhi UU no.16/2012 daripada kita sendiri!

      Dimanakah kesadaran nasional, untuk membangun kemampuan lokal?

      Kalau ada pilihan yg lebih baik yg ditawarkan ke Indonesia, selain apa yg sudah ditawarkan Saab, silahkan tulis!

      Hapus
    8. Udah lah ga usah ngeles. Poin anda lumayan banyak yang valid, tapi terserah anda mau ngaku apa ngga anda jelas fanboy gripen at the very least. Liat aja isi blog anda apa dan apa isi komen-komen anda. Orang seidiot apapun juga pasti bakal menarik kesimpulan yang sama.

      Saya bilang anda fanboy karena anda sama fanatiknya dengan Tupez dan Muarif yang fanatik ke Sukhoi. Fan kemungkinan bahwa anda sales SAAB asli minimal karena sales SAAB asli pasti udah cukup sibuk dengan usaha promosi ke TNI dan pemerintah.

      Saya paling males ngomong sama fanboy karena diomongin kaya apapun, dikasih alternatif kompromi apapun mereka pasti cuman maunya sendiri. Muarif dan Tupez dengan Sukhoi dan anda dengan Gripen dan keantian terhadap IFX, yang jelas merupakan usaha nyata pemerintah untuk membuat fighter lokal.

      Jadi silahkan tulis komen sepanjang apapun, saya sudah cape ngobrol dengan anda, Muarif, dan Tupez. Ibaratnya seperti ngomong dengan tembok.

      Hapus
    9. Diskusi seperti ini cepat menjadi kotor justru begitu kita mulai melabel orang.

      "Kami" vs "mereka"

      Sejak 2014, sy juga sering dilabel sales.

      Padahal dahulu kala cuma menunjuk kalau Gripen sebenarnya sesuai dengan kebutuhan, dan keterbatasan finansial Indonesia.

      So what toh?

      Kembali, sepertinya anda tidak menangkap apa yg sy sudah tuliskan diatas.

      Sbnrnya sebodo amat dengan Saab!

      Fanatisme satu produk itu adalah pemikiran yg salah.

      Kenyataannya, pasar pespur itu sebenarnya sudah sangat menyempit.

      Anggaran pertahanan Indonesia itu kecil, saat ini hanya $7 milyar.

      ## Dari segi pilihan mesin; Pespur Twin-engine, model manapun juga yang paling ekonomis sekalipun, kita akan melihat biaya operasional minimum Rp 300 juta / jam.

      Sukhoi tentu saja jauh lebih mahal, karena spare partnya cepat habis. Ke-16 Sukhoi di Sku-11 itu saja, akan perlu mengganti mesin 3x minimal, dengan harga per mesin $3 juta/unit.

      Sedang dari sisi single engine, hanya F-16 vs Gripen, dan diantaranya, biaya OP Gripen akan 40% lebih murah.

      ## Dari sisi Transfer-of-technology;

      Tawaran kita tidak pernah banyak: terus menjadi pemakai / langganan setia pespur (versi export), yg TOTnya terjamin nihil, atau mempertimbangkan salah satu dari ketiga Eurocanards, yg tidak mempunyai kebiasaan menjual barang downgrade, dan selalu lebih murah hati soal ToT.

      F-16 yang memenuhi syarat secara ekonomis, jadi harus di-write off, bukan?

      Dari deduction logika ini saja, (dan semua ini FAKTA), kita bisa melihat kenapa Gripen pilihan yg paling sesuai untuk Indonesia.

      Silahkan saja label sy Sales, atau fanboys!

      Sekali lagi, ini hanya berdasarkan logika sederhana.

      ## Lebih lanjut, dan lebih penting lagi:

      Sy sih lebih memikirkan pentingnya banyak peluang kerjasama untuk membangun industri pertahanan lokal.

      Kenyataannya, industri kita sebenarnya sudah tertinggal terlampau jauh, terutama dalam tehnologi pespur, terutama karena beberapa kesalahan politis di masa lalu.

      Sy pernah menuliskan:
      Seandainya dahulu kita memilih Mirage 2000, dan bukan F-16 di tahun 1985, mungkin kita tidak akan sekuper sekarang.

      Mau belajar mengejar ketinggalan, atau mau menjadi bahan permainan pembuat pespur versi export?

      Pilihan kita sederhana, kok.

      Hapus
  8. Beberapa pertanyaan untuk para Agen Sales Sukhoi, kenapa masih senang kalau kita mau coba "nego" Su-35:

    ## Tanyakan dahulu ke Russia: Bagaimana dengan nasib TS-2701, dan TS-2702 yang masih menginap disana?

    Lalu, bagaimana juga dengan Sukhoi2 lain, yang sekarang kesulitan maintenance, atau tidak lagi bisa terbang?

    ## Apakah agen Rosoboronexport disini juga ada yang bisa memastikan, kalau Su-35K kelak tidak akan membutuhkan "perbaikan mendalam", seperti ke-16 Sukhoi Kommercheskiy bertehnologi tahun 1980-an, yang sekarang sudah operasional?

    ## Berapa % Servicability Rate yang bisa dijamin kalian, hai para agen Sales Sukhoi?

    Membeli 8 pesawat, kan belum tentu semuanya siap terbang sewaktu2. Berapa banyak yang bisa terbang setiap saat, kalau dibutuhkan?
    4 dari 8? 2 dari 8?

    Apakah anda bisa menjamin semua 8 pesawat masih bisa terbang dalam waktu 10 tahun?

    ## Seberapa jauh versi Kommercheskiy untuk Su-35 akan di-downgrade?

    Apa saja yang akan dikurangi?
    Apalagi mengingat, kita calon pembelinya, kan tukang hibah MiG-21, dan masih tetap menjalin hubungan diplomatis / militer jauh lebih akrab dengan US, dan Australia sampai sekarang.

    ## Apakah para agen tak resmi Rosoboron juga bisa menjawab mengenai pemenuhan persyaratan UU no.16/2012?

    Komponen apa saja yang bisa diproduksi di Indonesia?
    Sejauh apakah PT Dirgantara Indonesia akan dilibatkan dalam support Sukhoi?

    ## Berapa % Komisi yang harus dibayarkan negara kepada bos2 anda, wahai, para agen sales Sukhoi?

    CBA (Centre of Budget Analisis) seperti dalam artikel di Republika sudah mencatat kalau negara harus membayar 20% komisi.

    Seberapapun banyaknya anda mendapat bagian, jangan lupa, kalau agen yg lain masih akan dapat lebih banyak!

    ## Seberapa jauh para agen sales dapat menjamin kemampuan kill missile versi export, seperti yang tersedia dalam website resmi Tactical Missile Corporation ini?

    ## Berapa biaya operasional Sukhoi?
    Kita mencatat angka Rp 400 juta - Rp 500 juta, hanya untuk Su-27/30 bertehnologi tahun 1980-an, yang sudah diproduksi lebih dari 1000 unit.
    Su-35K, yang jumlah produksinya masih sedikit?

    Mana "written guarantee", kalau harga spare partnya sudah diketok, dan bebas biaya komisi?

    Yang sudah pasti sih, barang akan tetap barang Kommercheskiy.

    Aneh, kok masih pada berharap.
    Ini sih bukan sesuatu yang bisa ditawar.

    Tempo hari, ada advertorial Sukhoi di Combat Aircraft Magazine, yang menjual "Su-32/34 Frontline Bomber".

    Paragraf pertama sangat menarik:
    =================
    The Su-34 front line bomber (the export version is the Su-32)) will be the striking core of Russian frontline aviation.
    =================

    BalasHapus
    Balasan
    1. @ dark rider...kt dukung pmrnth beli sukhoi 35..bkn brarti kt agen atw pro rusia...kt mengharapkan yg terbaik bwt bangsa ini...kt btuh penyeimbang..klw smw pswt made in barat suatu saat diembargo..siapa yg mw mnjaga langit NKRI..?gatot kaca apa...pikir..kir...kir...

      Hapus
    2. Swedia negara netral ga aneh-aneh bos. Kalo urusan embargo mah dulu kita juga sempet diembargo USSR habis kita ganti haluan ke barat. Negara adidaya mah semua sama aja mau Rusia mau US. Kasih produk downgrade (versi ekspor) terus kalo neko-neko diembargo.

      Hapus
    3. @Tupez Flanker 01 --- jadi kecuali argumen "ketakutan akan embargo", yang sebenarnya sudah tidak lagi relevan dengan sikon sekarang, memang ada alasan apa lagi kenapa kita harus mendukung pembelian rongsokan Kommercheskiy dari Moscow?

      Anda tidak menjawab satupun juga dari pertanyaan diatas, bukan?

      TS-2701 & TS-2702 saja masih ditahan disono tanpa penjelesan.
      Kok udah mau beli lebih banyak lagi?

      Ini sih kyk nyekolahin anak, terus anaknya sudah diculik setahun, eh, tapi masih cukup bodoh untuk mau masukin anak berikutnya ke sekolah yang sama.

      ===========
      siapa yg mw mnjaga langit NKRI..?
      ===========

      Sukhoi itu sebenarnya jarang terbang, karena kesulitan maintenance-nya seabrek. Dewasa ini saja, meragukan kalau TNI-AU masih mempunyai kemampuan untuk bisa mengudarakan 6 Sukhoi sekaligus. Atau kalaupun bisa, yah, hanya untuk sehari doang.

      Terus kalau sudah dikirim pulang untuk perbaikan mendalam setahun penuh, memangnya bisa menjaga langit Indonesia?
      pikir..kir...kir...

      Hapus
    4. "Tidak boleh lagi membeli pesawat tempur tanpa berhitung berkalkulasi biaya daur hidup alutsista tersebut dalam 20 tahun ke depan."

      Coba tebak, siapa yang menyatakan pernyataan ini?

      Hapus
    5. @ dark rider...minimal pswt sukhoi blm ada yg crash...F-16 , hawk 100/200 pernah crash bkn...tetapi saya bkn menyatakan pswt tsb jelek...kt perlu penyeimbang hanya itu... apakah selama ini pswt dri US yg kt beli memikirkan biaya daur hidup slma 20 thn ke dpn..kan tdk jg...

      Hapus
    6. Realita ... Pd saat pitch black di australia...mereka mengakui kehebatan sukhoi kt saat dogfight dgn hornet maupun super hornet....yg mencegat black flight pswt2 dgn kecepatan tinggi di wilayah nkri...sapa dy..?SUKHOI.. Jd jgn terlalu mengnggap sukhoi tu buruk...

      Hapus
    7. Ya kt liat sja nanti ketika Su-35 benar2 ada di tanah air...maka saya akan tertawa sekuat2nya...utk menertawakan anda @dark rider & seluruh penentang Su-35.....jika sebaliknya anda blh menertawakan sya...

      Hapus
    8. Anda bermimpi kalau Sukhoi (versi manapun) bisa mengalahkan Hornet / Super Hornet Australia!

      Tahukah anda perbedaan utama antara kemampuan RAAF Australia, dan TNI-AU Indonesia?

      Pilot mereka jauh lebih terlatih, dan jauh lebih berpengalaman. Mereka sudah mengumpulkan 150 - 200 jam terbang setiap tahun, dan sistem latihan mereka ultra-modern, jauuuuuhhhh lebih baik dibanding apa yg bisa dicoba Indonesia, atau bahkan PRC / Ruski.

      Dengan biaya operasional setengah milyar Rupiah per jam, atau hampir dua kali lipat biaya OP SuperHornet Australia, silahkan bermimpi bagaimana pilot kita akan dapat "mengimbangi" bahkan jumlah jam terbang pilot Australia.

      Biaya operasional mahal sebenarnya sudah menjadi suatu "kecacatan" sendiri. Mustahil dengan anggaran hanya 25% Australia, lantas "merasa" bisa mengimbangi mereka.

      Belum lagi mereka sebenarnya mengoperasikan pespur dalam satu Sistem yang jauh lebih modern, bukan seperti kita, yang Networking, atau pesawat AEW&C saja masih belum punya, apalagi bisa membangun sistem pertahanan yg bersaing.

      Faktor kedua, Super Hornet khususnya, adalah pespur yang jauh lebih modern, bahkan dibandingkan Su-35S.
      Avionik, dan control cockpitnya jauh lebih mudah untuk dikuasai dibanding dengan sistem cockpit Ruski yg tehnologinya terbelakang.

      Sampai 100 tahun lagi sekalipun, Su-35K hanya bermimpi kalau bisa menandingi Situational Awareness cockpit Super Hornet, yg berpusat tidak hanya ke radar superior AN/APG-79 AESA, tetapi juga ke penyajian informasi ke pilot secara optimal.

      Terakhir, dengan akan dipersenjatai AMRAAM-D, yang berjarak jangkau melebihi 200 kilometer, bye-bye Sukhoi; yg hanya bisa missile rongsokan RVV-AE (izdeliye-190 versi export) yang tidak akan mempunyai jarak jangkau lebih efektif dari hanya..... 30 kilometer.

      Sukhoi versi export, dengan missile versi export, tehnologi jaman dinosaurus, dan biaya operasional lebih mahal dari F-22 tidak akan ada harapan, bahkan untuk bisa mengalahkan F-16 Block-25+ versi hibah Indonesia.

      Semakin banyak tulisan ttg Sukhoi, sebenarnya anda semakin membawa diri anda ke dunia mimpi, daripada kenyataan.

      Sudah saatnya bangun, dan melihat kenyataan!

      Kalau mau belajar "mengejar ketinggalan" dari Australia, hanya mengandalkan dinosaurus ex-Perang Dingin, yang satupun juga pilot sononya tidak akan mampu mengalahkan F-16 NATO, bukanlah melihat ke arah yg benar!

      Yah, pilot Ruski saja sebenarnya kurang training, kalah jauh dibanding standard training, dan kemampuan independent pilot NATO, yg sudah ditekuni Australia, dan Singapore.

      Tetapi, jangan khawatir!

      Terlepas dari beberapa berita miring, seperti dalam link di atas;
      Sukhoi Su-35K sebenarnya sudah mustahil untuk bisa dibeli.

      .....tidak akan bisa memenuhi semua persyaratan pemerintah.

      =======
      http://m.antaranews.com/berita/574149/presiden-jokowi-kebijakan-alutsista-berdasarkan-kebutuhan-bukan-keinginan
      =======

      Hapus
    9. Sukhoi belum pernah crash?

      Ini bukan karena pesawatnya lebih aman.

      Tetapi karena pesawatnya sudah jarang bisa terbang. Saat ini saja, meragukan kalau bahkan masih ada 6 Sukhoi Sku-11 yang bisa mengudara sekaligus.

      Biaya op mahal, itu artinya membutuhkan puluhan jam maintenance setiap satu jam terbang. Dan kalau sudah masuk fase "perbaikan mendalam", dan harus mudik berbulan2, tidak perlu terbang, bukan?

      Safety standard pesawat buatan Ruski sebenarnya jauh lebih jelek dibanding pesawat buatan Barat. Umur pendek, dan spare part-nya tidak tahan lama. Kalau lebih sering dipakai, tentu saja, faktor resiko akan meningkat berkalo-kali lipat.

      Perhatikan laporan Moscow Times berikut, yang menuliskan bagaimana 6 pesawat AU Russia sendiri bisa rontok dalam kurang dari 2 bulan dipertengahan 2015:
      ===========
      https://themoscowtimes.com/articles/6th-russian-air-force-crash-raises-concerns-over-aircraft-safety-48155
      ===========

      Banyaknya kecelakaan pesawat Barat di TNI-AU, sebenarnya bukan gara2 mengoperasikan pesawat tua, hibah, atau karena tipe Barat gampang rusak.

      Realita safety record TNI-AU tidaklah bagus.

      Sejak 2006 (10 tahun terakhir), kecuali di tahun 2013, TNI-AU sudah menderita sekurangnya 1 kecelakaan write-off setiap tahun, dengan total korban jiwa 304 orang.

      IMHO, daripada mencari kambing hitam, sudah saatnya negara, dan TNI-AU, mulai berusaha meningkatkan safety prosedur, training, dan maintenance ke level yg jauh lebih tinggi, dibandingkan sekarang.

      RAAF Australia? Kecelakaan terakhir mereka, yg memakan korban jiwa terjadi di... 1992.

      Mereka sudah mengoperasikan F/A-18 Hornet A/B sejak 1981; setelah kecelakaan terakhir di tahun 1992, tidak pernah ada kecelakaan lagi sampai sekarang,

      Mengingat hubungan kerjasama AU kita, dan Australia sebenarnya semakin erat, dan bersahabat, tidak ada salahnya kalau kita justru mulai mencoba belajar dari safety standard mereka.

      Hapus
    10. Wah sotoy nie anak...pswt hornet pernah di lock on sama pilot hawk tni au..apa hbtnya tu hornet...berbicra realita di lapangan bkn teori2...anda gak tw sya pnya sdr dinas di hasanudin srangnya sukhoi tingkat kesiapan mereka min 40% dr 16 pswt itu min mas bro..dan rata2 bsa tgkt kesiapn smpai 60%...uda nampak jlz siapa skrg agen barat dan antek2 barat..sapa dy @ dark rider..

      Hapus
    11. 60% itu ga bagus bos... artinya dari 16 6-7 biji ga siap operasi. AU Jerman tingkat kesiapan 50% itu udah bikin rakyatna, medianya, pemerintahnya kebakaran jenggot. Lah ini malah dibanggain....

      Lock on itu baru 1/2 jalan dan lagipula itu di latihan. Kalau di kenyataan itu Hawk ga bakal dapet kesempatan buat dog fight apalagi lock on. Dari ratusan KM udah dideteksi AWACS terus dihabisin AMRAAM. Indonesia ga punya AWACS buat bales. Latihan itu juga bukan "kenyataan lapangan", karena situasinya udah diset.

      Hapus
    12. @anonymous,. Mslh tgkt kesiapan tu kenyataan brta dri org dlm yg tg d hasanuddin bos..terima atw suka gak suka itulah faktanya..waduh mslh dogfight bkn lg lat bos..nie terjadi saat masalah timor- timur..pilot tni au sndri yg cerita dan mendapatkan medali kehormatan..

      Hapus
    13. Lock on doang itu baru setengah jalan. Hornet masuh punya jammer pod dan chaff/flares.

      Dikira Hornet yang notabene dikembangin khusus buat Fighter kalah sama Attacker/Light trainer macam Hawk kalau dogfight? Itu kejadian 1x kalau secara konsisten pasti Hawk yang kalah. Pilot Indo emang banyak yang jago-jago, saya juga kenal beberapa pilot F-16 di Madiun tapi sori aja sejago apapun teknologi itu force multplier.

      Urusan teknologi: Su-35 K < Gripen E/F < Eurofighter/Rafale <= Su-35 S versi domestik Rusia <= F-35 < F-22. Dan anda lebih memilih Su-35 K hanya karena nama Su-35? Versi K itu selalu dibawah versi domestik Rusia, dan versi K yang kita dapet bukan dari versi S Rusia.

      Kalau kita belinya versi S Rusia sih saya seneng aja. Tapi kalau versi K model tahun 80an saya risih. Kenapa? Karena lebih MAHAL dari Gripen, ga dapet ToT dan teknologi baru yang bisa dipakai buat IFX dan itu sangat mengecewakan.

      Hapus
  9. Catatan penting: uni sovyet tidak pernh mengembargo indonesia..tetapi arah kebijakn pmerintah orde baru dgn hasutan pihak barat harus meningglkan alutsista bwtn sovyet..pdhl msh tersisa suku cadang yg msh bnyk di gudang untuk prsnjtaan sovyet tp hrus di kndngkan dan di gnti produk barat...belajar dari realita sejarah bro....yg membntu pemberontakn permesta allen pope ..anggota CIA...jlz siapa yg merusak nkri..antek2 barat...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pernah diembargo. Jangan ngibul. Cuma bahasanya diganti pake "menolak memberi asistensi perawatan". Kalo ga ada embargo dalam bentuk apapun, KRI Irian dan alutsista Soviet lainnya ga mungkin dibesi tuakan.

      Hapus
    2. Sma ajA ente @anonymous gak bljr sejarah...smw persenjataan dri sovyet tu harus di kndangkan atw di besi tuakan...itu karena hasutan pihak barat...tu pd zmn orba..begono tong critanye..

      Hapus
    3. Nah kan ngaco. Persenjataan soviet harus dikandangkan karena setelah G30SPKI Indonesia udah ga mesra lagi hubungannya sama Soviet jadi kesulitan cari suku cadang untuk perawatan. Dikira TNI sebego apa mau disuruh ngebuang 12 Whiskey class dan KRI Irian, MiG 21, Tu-16 dll kalau mereka masih bisa dapat spare part buat perawatan?

      Soviet/Rusia itu sama aja kaya US. Kalau kita nurut ke mereka (jaman Bung Karno) dikasih banyak barang. Begitu ga nurut (Pak Harto) langsung dipersulit cari spare part. Amerika juga sama brengseknya. Kalau nurut apa juga dikasih (South Korea, Singapore) bikin sesuatu yang ga sesuai agenda mereka yan langsug diembargo.

      Makanya mending beli dari negara netral macam Swedia, bukan NATO, bukan Rusia/China.

      Hapus
  10. Pilot australia aja mengakui tgkt profesionalisme penerbang tni au..dan kehebatan mereka menerbangkan sukhoi dlm dog fight pitch black......mntan pilot ausy menyatakan hornet atwpun super hornet akan ketidak mampuannya melawan sukhoi 27/30 apalgi ktka hadir su 35....itu pernyataan dr org ausy nya sndiri..itu faktanya.....ehh ini malah under estimate thdp pilot tni au...dasar sales gripen...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Profesionalitas pilot kita emang ga bisa diragukan. Tapi urusan omongan pilot Aussie apa ga pernah terlintas di otak anda bahwa tujuan mereka persis seperti ini? Cara paling mudah melemahkan musuh adalah dengan memuji-muji mereka setinggi langit supaya mereka lengah.

      Nyatanya kita tau bahwa at least Super Hornet mereka mampu menghabisi Sukhoi kita. Lebih parah lagi sebentar lagi mereka bakal dapat F-35 dan kita malah beli Su-35 K? Kalau kita dikasih Su-35 S saya masih senang karena itu yang paling mutakhir. Lah kalau K itu teknologi 80an dan biaya operasionalnya amit-amit. Apa gunanya kita punya pesawat "canggih" kalau pesawat itu ga bisa terbang karena ga ada bensin atau harus "perbaikan mendalam" di Rusia? Lebih parah lagi pesawat Soviet dan sekarang Rusia itu didesain untuk operasi 20 tahun lalu diganti pesawat baru. Apa gunanya kita beli pesawat macam itu?

      Dasar sales Rosoboron (paling terkenal sejagat ga transparan dan suka komisi).

      Hapus
  11. Awas very dangerous....Ada agen gripen....siapa dy Mr.Dark rider...pantesan benci bgt sma sukhoi...rupanyA mw menggagalkAn rncna pmbilan Su 35...pdhl mw beli sukhoi atw f -16 atw pswt yg lain pemerintah yg nantuin..klw gw mah terima ja yg pnting tni au nya kuat..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mari bertepuk tangan dengan meriah!

      Sukhoi akan membutuhkan perbaikan mendalam, dan menghabiskan uang rakyat.

      Jawabnya: Tidak masalah.
      Kita tetap butuh Sukhoi.

      Sukhoi hanyalah versi export downgrade, dengan persenjataan versi downgrade. Hampir mustahil untuk bahkan bisa mengalahkan F-16 Block-25+.

      Jawabnya: So what?
      Kita tetap butuh Sukhoi.

      Sukhoi harus dibeli lewat perantara, dan negara akan rugi 20%.

      Jawabnya: Cincai ajalah! Yang penting ada Sukhoi!

      Er... dalam akusisi berikutnya, Presiden sudah menginstruksikan kalau penjual harus memenuhi persyaratan UU no.16/2012, dan mengutamakan keterlibatan industri pertahanan lokal.

      Jawabnya: Ah! Kita harus rela berkorban... demi membeli Sukhoi.

      Nah, loh.... seperti bisa dilihat dari semua pernyataan diatas; memangnya siapa yang agen sales?

      Dengan begitu banyak kekurangannya, kenapa agen sales yang satu ini, sangat berkeras untuk mencintai Sukhoi hidup, dan mati?

      Mari sekali lagi, bertepuk tangan dengan meriah untuk agen sales kita!

      Hapus
    2. Udah yg waras gw ngalah ja dah ma bocah2..anak kmrn sore...mw pnggnti f-5...gripen yach monggo silahkan..klw ente jd presidennya..inget ya JAS MERAH tong..

      Hapus
    3. Iye jas merah makanya ga usah beli dari salah satu pihak adidaya (NATO atau Rusia/China. Ga nurut diembargo mampus macam TNI paska G30SPKI atau operasi anti GAM.

      Hapus