06 Desember 2016

"Russian Helicopters" Started to Repair Mi-35P of Indonesian Army

06 Desember 2016


Mi-35P of the Indonesian Army (photo : indoflyer)

Within the framework of military-technical cooperation in accordance with the contract signed in September 2016 specialists of the holding "Russian Helicopters" (part of the State Corporation Rostec) started arrangements for the transportation of Indonesian Mi-35P to the territory of the Russian Federation.

In accordance with the terms of the contract overhaul of Mi-35P helicopters will take place at the production facilities of JSC "150 Aircraft Repair Plant". On November 28, 2016 representatives of the Indonesian company together with the specialists of JSC "150 ARP" started to perform dismantling, conservation, loading operations of helicopters and their components. 

"In the market of South-East Asian countries, there is a stable demand for Russian helicopters. We promptly and efficiently to fulfill its contractual obligations to repair helicopters produced in Russia, as well as provide services for the services, "- said General Director of the holding company" Russian Helicopters "Alexander Mikheyev.

The first combat helicopters Mi-35P were delivered to Indonesia in September 2003. Within the framework of the intergovernmental agreement in September 2007, Indonesia has ordered another three Mi-35P, which were delivered in September 2010. The official ceremony of the Indonesian army transfer took place at the air base ground troops in Jakarta Pondok Chabe 20 October of the same year.

Within the past this autumn forum "Army 2016" Russian holding company signed contracts for the supply of aviation equipment for helicopters, standing on the arms of the Indonesian Army. The contract with the Indonesian side will deliver sets of rotor blades in order to ensure operation of Mi-35P helicopters. In accordance with the terms of the contract, deliveries will be made during the second quarter of 2017.

(RussianHelicopters)

33 komentar:

  1. Silahkan berargumen sesuka hati bagaimana Alutsista "made in Ruski" itu "anti-embargo", atau "menjunjung kedaulatan"!

    Fakta sudah menyatakan sebaliknya.

    Semua Alutsista buatan Barat, tidak pernah ada yg harus dikirm balik untuk mengikuti program "perbaikan mendalam", apalagi untuk model yang baru diantar di tahun 2003 (2 unit), dan 2010 (3 unit). Yah, kelimanya masih cukup baru.

    Walaupun hanya tersisa beberapa unit, F-16 di Sku-03 saja tetap operasional semasa puncak embargo 1999 - 2005 kok, tanpa pernah perlu "perbaikan mendalam", karena paling tidak United States sudah mengajarkan para tehnisi pahlawan kita untuk bisa memperbaiki sendiri secara mandiri, dan berhasil gigih menantang kesulitan spare part.

    Antara Ruski sekarang menagih hutang, karena pengkhianatan di tahun 1969-1970 untuk menghibahkan MiG-21 F-13, dan berbagai macam paket persenjataan Soviet ke United States, dan dengan demikian disengaja agar tehnisi kita tidak bisa memperbaiki sendiri.

    Atau, kualitas barang buatan Ruski memang "jaminan mutu"!

    Sukhoi Kommercheskiy downgrade memang sudah rahasia umum kalau perawatannya sulit, dan mahal. India, Vietnam, dan Malaysia juga sudah melaporkan kesulitan yang sama.

    Tetapi Mi-35P dari keluarga Mi-24 Hind, sampai harus dikirim pulang ke Kaliningrad?

    Banyak negara sudah mengoperasikan ratusan helikopter ini selama puluhan tahun sebelum Sukhoi Flanker diijinkan untuk di-export. Secara tehnis, helikopter akan selalu lebih sederhana dibanding twin-engine rumit seperti Sukhoi.

    Kembali entah kenapa, tehnisi kita antara memang tidak bisa / tidak mendapat ijin untuk memperbaiki sendiri.

    Sudah saatnya kembali ke jalan yang benar, dan menghentikan "love affair" dengan alutsista Ruski!

    BalasHapus
    Balasan
    1. please deh! ente baca ini sblom nulis model bginian harusnye: "Semua Alutsista buatan Barat, tidak pernah ada yg harus dikirm balik untuk mengikuti program "perbaikan mendalam".

      baca dl ini om: http://www.antaranews.com/print/42590/indonesia-terima-pesawat-f-5-yang-ditahan-as

      http://www.antaranews.com/berita/289889/satu-herkules-tni-au-segera-kembali-dari-amerika-serikat

      karne ente sebut alutsista barat,
      kapal selem termasuk ye, meski serpisnye di korsel
      http://www.tni.mil.id/view-2405-kasal-sambut-kedatangan-kapal-selam-kri-cakra.html

      http://news.liputan6.com/read/375909/nanggala-mampu-menyelam-selama-52-hari



      Hapus
    2. Woy kalo komentar nga pake otak asal tjeplos guwe jg bisa coy(darkrider).
      tp guwe masih punya hati, masih byk adek2 sekolahan yg perlu ilmu dan informasi yg benar, bukan penebar kebencian yg tak berujung

      Guwe bkn ruski maniak, urusan alusista guwe serahin ame bos2 berbintang.
      Mau barat,timur, utara and selatan, terserah asal tni bisa pake utk NKRI.

      Kalau ada rupiah yg keluar banyak akibat biaya servis jarak jau ini, itulah reksiko yg hrs didpt karna lokal blom mampu perbaikin ato gak punya alat yg lengkap kali masa mau dipaksa.

      uda ah males bicara tinggi2, kan guwe gak pinter2 bgt soal ginian


      Hapus
    3. Inilah kenapa sy justru mengundang anda supaya research lebih banyak dahulu, agar pengetahuan menjadi semakin luas.

      Contoh-contoh anda untuk F-5E, Hercules, atau U-209 (kapal selam) itu konteksnya berbeda dengan "perbaikan mendalam" ala Sukhoi / Mi-35P.

      ## Pertama-tama, F-5E, Hercules, atau U-209 itu memangnya umurnya sudah beberapa puluh tahun?

      ## Hercules A-1323 itu juga bukan sedang menjalani "perbaikan mendalam" ala Ruski, tetapi sebenarnya semacam Life Extension Program.

      F-16A/B Block-15 OCU sepertinya juga akan harus dikirim balik ke United States dalam jangka pendek, untuk menjalani program MLU (Mid Life Upgrade) program.

      Tidak hanya umur F-16 kemudian diperpanjang agar laik terbang untuk 25 tahun lagi, tetapi juga akan mendapat berbagai macam upgrade, agar dapat mengoperasikan AMRAAM, targeting pod modern (Sniper/Litening), dan smart munitions.

      ## Kenyataannya kembali, memang khususnya Alutsista Ruski itu cepat rusak, karena tidak pernah dibuat untuk tahan lama.

      Artikel BBC tahun 2002 ini saja sudah menggarisbawahi kalau setiap spare part sudah harus diganti setiap beberapa ratus jam. High Maintenance, jauh lebih berat rata-rata pespur Barat.

      Analyst IHS, Mark Bobbi kemudian berkomentar lebih lanjut untuk Moscow Times, 14-Juli-2015"
      ===================
      "Russian aircraft were never designed for maintainability, they were designed to be flown 10 years and then thrown away."
      ===================

      Yah, sebenarnya Sukhoi, atau Mi-35 hanya didesain untuk operasional 10 tahun. Sekali pakai buang.

      Konteksnya begini: di jaman Soviet dahulu kala, sebenarnya semua pabrik persenjataan mereka tidak pernah berhenti memproduksi pesawat, part, perlengkapan. Mereka bekerja setiap hari.

      Kualitasnya memang tidak pernah bagus. Untuk apa? Prioritasnya adalah supaya bisa diproduksi dalam jumlah banyak, dan cepat.

      Karena itu, sistem Soviet, berarti umur alutsista yang pendek tidak pernah menjadi masalah. Toh, barang baru selalu diproduksi setiap hari, bukan?

      Tentu saja di jaman sekarang ini, sudah tidak bisa lagi demikian.

      Pabrik2 ex-Soviet (beberapa pabrik pembuat komponen Sukhoi, dan missile sebenarnya ada di Ukrania), tidak lagi mempunyai kemampuan untuk produksi dalam jumlah sebanyak dahulu kala; karena itu harga part dengan sendirinya akan menjadi lebih mahal.

      Sebaliknya, kualitas part tetap saja sama seperti di tahun 1980.

      Akibatnya -- Sukhoi sangat haus maintenance, dan berumur pendek.

      Jangan heran kalau biaya operasional Sukhoi Indonesia mencapai Rp 500 juta sekarang. Ingat juga, kalau harga spare part, dan biaya perawatan juga akan dicantoli komisi Rosoboron.

      Su-35? Karena jumlah produksinya lebih sedikit dibanding Su-27/30, dan Russia saja belum terbiasa; biaya operasionalnya akan menembus Rp 1 milyar / jam.

      Patut dicatat pula, tidak seperti F-16, service life Sukhoi tidak akan dapat diperpanjang. Hanya 20 tahun menurut pembuatnya, Knaapo.

      Hanya 18 tahun menurut PLA-AF Tiongkok yang mengoperasikan Sukhoi sejak tahun 1992, dan harus mulai mempensiunkan di tahun 2010.

      Semua Sukhoi Indonesia, karena itu tidak hanya akan butuh banyak "perbaikan mendalam", tetapi kira-kira di pertengahan tahun 2020-an, hampir semuanya umurnya sudah akan kadaluarsa.

      Hapus
  2. hehe..
    saya tunggu komentar bantingan dari barisan russia setrong si "Anti Embargo" saja ya..


    (bakar menyan aah...)

    BalasHapus
  3. Pengajaran di negara Arab .
    Ratusan helikopter buatan rusky mendiami hangar dan tidak dpt operasi karna kesulitan service alverhoul . Apalagi kos mantenance helikopter buatan rusky itu mahal banget.
    Kesulitan itu jd sbb banyak negara timur tengah memileh utk membeli heli buatan barat.

    BalasHapus
  4. Masukkan komentar Anda...kita di embargo pesawat tidak bisa kirim perbaiki f16 ke blok barat samasekali saat itu thn90as/d th2000an..bisa operasi pesawat cuma 2biji pesawat saja itupun dgn cara kanibalisme dari pesawat yg grounded dan di lakukan oleh teknisi kita di Indonesia ..utk service kerusakan spare part utama jika berbahaya yg harus di ganti teknisi kita tdk mampu lakukan..ini kenyataan masa di embargo barat.. saya masih ingat bagmana pespur aussie hilir mudik di tahun 1998 dan tahun berikutnya di atas bali dan nusa tenggara dan TNI cuma melihat kelangit sebagai penonton layaknya nonton bokep..napsu tapi ujung nya cuma coli aza..setelah masuk era sukhoi 2ekor 2004 agak jarang tuch pespur aussie yg ngintip tapi masih ada juga sekali dua...tambah panas lagi hati saat kapal induk asu lewat selat bali lombok jaman embargo niat bantu ngawal iringan kapal induk asu keluar perairan Indonesia eh malah 2 biji f16 ayan dgn spare part rosokan kita yg malah di usir pespur body guard kapal induk asu ..udah di embargo plus di permalukan.. indonesia haru independen utk alusista.utk blok barat jgn beli pesawat nya cukup di beli artileri dan senjatanya saja ..

    BalasHapus
  5. punya pesawat blok barat itu serba salah.. TNI beol n tainya ke injak OPM aja,Indonesia bisa di embargo.... mending pake senjata punya rusia,TNI pake nembaki kepala lu semua juga om putin cuma senyum aza... wkwkwj

    BalasHapus
  6. NB:

    Indonesia satu satunya negara nonblok yang berbatasan langsung atau di di kelilingi oleh negara negara blok barat dan yang pro blok barat ..dan potensi konplik terbesar adalah dengan negara tetangga Sendiri sedikit kemungkinan konplik dengan negara yang jauh dari Indonesia..
    cobalah lebih bijak menyikapi alusista TNI berdasarkan kenyataan di lapangan..apakah mungkin kita gunakan peralatan blok barat untuk berkonplik dengan negara blok barat juga dengan negara pro blok barat tanpa di embargo blok tersebut.. yang mana potensi konplik tertinggi adalah sekutu mereka di sekitar Indonesia ???

    BalasHapus
    Balasan
    1. =============
      cobalah lebih bijak menyikapi alusista TNI berdasarkan kenyataan di lapangan..apakah mungkin kita gunakan peralatan blok barat untuk berkonplik dengan negara blok barat juga dengan negara pro blok barat tanpa di embargo blok tersebut.. yang mana potensi konplik tertinggi adalah sekutu mereka di sekitar Indonesia ???
      =============

      Nah, inilah contoh pemikiran yang justru salah tempat.

      Hubungan antara negara2 ASEAN - Australia tidak pernah seharmonis sekarang. Tidak ada satupun negara tetangga yang pernah mencoba mengklaim territorial Indonesia. Kalau ada konflik singkat seperti di Ambalat, tidak pernah sampai meruncing, bukan?

      Australia.
      Entah kenapa terlalu dimusuhin? Padahal semasa perang Kemerdekaan 1945 - 1949, termasuk salah satu negara pertama yang mengkritik Belanda, dan mendukung kemerdekaan Indonesia. Para buruh di pelabuhan2 Australia sampai menolak untuk mengurus kapal2 Belanda yang menuju ke Indonesia di kala itu.

      Sekarang ini, Australia adalah salah satu partner perdagangan bilateral terbesar Indonesia; dan puluhan ribu orang Indonesia sudah memilih untuk menetap dan membuat komunitas disana.

      Sejak tahun 1967, dengan menumpas PKI, dengan demikian memang kita sudah menobatkan diri sebagai sekutu US kok; dan tentu saja, Russia tidak akan pernah melupakan pengkhianatan hibah Mig-21 F-13 ke United States di tahun 1969 - 1970.

      Kita harus memperhatikan dahulu, kalau permasalahan Embargo, dan potensi konflik di akhir tahun 1990-an itu hanya berpusat di satu titik: Timor Timur.

      FYI - sebenarnya tidak ada negara yang mengakui kedaulatan Indonesia atas Timor Timur.

      Sekarang semuanya itu sudah berlalu. Kita sudah tidak lagi terlibat hutang di masa lalu; dan seluruh dunia sudah mengakui keutuhan integritas territorial Indonesia dari Sabang - Merauke, kecuali satu negara......

      People's Republic of China (PRC), yang mengklaim territorial Timur Laut dari Natuna.

      Hapus
    2. Nah, sekarang pikirkan lagi baik2 apakah terus gandrung dengan Sukhoi, yang cepat rusak akan menjadi ide yang baik!

      PRC sudah berpengalaman mengoperasikan ratusan Sukhoi sejak tahun 1992.
      Su-35 pertama mereka akan mulai operasional dari tahun 2008, dan ya, mereka akan mulai mempergunakannya untuk memperkuat klaim mereka atas LCS.

      Memang seperti pembeli yang lain, Su-35 PRC akan menjadi versi K -- Kommercheskiy -- versi export downgrade.

      Tetapi tidak seperti pembeli yang lain, PRC tidak akan terlalu tergantung kepada Rosoboronexport.

      Lebih lanjut,
      Semua Sukhoi mereka sudah masuk ke mesin fotokopi pabrik Shenyang. Ini paling tidak akan memastikan kalau kesiapan terbang Sukhoi PRC akan lebih tinggi vs semua pengguna lain, termasuk India.

      Semantara semua pembeli Sukhoi terpaksa memakai missile RVV-AE (izdeliye 190), yang tidak pernah dibeli, atau dioperasikan dalam jumlah besar di Russia, karena development-nya tidak pernah selesai sejak tahun 1990; dan hanya tersedia dalam versi export dengan seeker Agat 9B-1348E; versi yang berbeda dengan Agat 9B-1348M untuk izdeliye 170 (R-77).

      PRC sudah dikenal membuat missile sendiri, yang dipadukan dari mencuri tehnologi, ex license production dari Israel sebelum tahun 1989, dan tentu saja mereka mempunyai kemampuan finansial untuk mengetes missile lebih baik dibanding Ruski, yang anggaran pertahanannya akan jebol ke bawah $50 milyar di tahun 2017 mendatang.

      Anggaran pertahanan PRC lebih dari 2x lipat lebih tinggi.

      Su-35Kommercheskiy Indonesia, atau semua Su-27/30 Kommercheskiy bertehnologi tahun 1980-an yang lain bisa dipastikan hanya akan dibantai di atas Natuna --- karena untuk pertama kalinya, si pemula akan menghadapi pemain professional yang sudah mengenal Sukhoi mereka luar-dan-dalam; bahkan mempunyai kemampuan untuk membuat carbon-copy Sukhoi dalam bentuk J-11B, J-15, dan J-16.

      Belum lagi menghitung kemampuan PRC untuk juga mengoperasikan single-engine J-10, dan prospektif stealth fighter J-20.

      Err.... kenapa lagi, kita rela menyerahkan kedaulatan kita ke Moscow?

      Yang kebiasaannya hanya membuat pesawat tempur versi export downgrade Kommercheskiy?

      Lagipula Sukhoi mereka sebenarnya inferior luar dan dalam.
      Tidak seperti mimpi, terlalu ketinggalan jaman; bukan tandingannya Super Hornet Australia yang jauh lebih modern, sensor suite dan persenjataannya beberapa generasi lebih maju.

      Tentu saja, pilot2 negara tetangga kembali sudah menabung ratusan jam latihan udara setiap tahun.

      Tidak seperti untuk Sukhoi Indonesia, mereka juga masih mempunyai simulator untuk menambah lebih banyak latihan lagi.

      Hapus
    3. Hanya Grifen pespur no.1 sedunia akhirat.

      Hapus
    4. Memenuhi persyaratan, kebutuhan, dan semua keterbatasan.

      Bukan untuk memenuhi keinginan.

      Simple toh?

      Hapus
  7. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  8. @dark rider. haha anda salah besar jika menganggap cara berkonplik dgn perang konvensional.. perang perebutan toritorial maupun perebutan sumber daya alam dan penguasaan politik tdk lagi di lakukan dgn head to head dgn aussie dan lain lain... tapi dgn perang proxy yg udah nyata terjadi.. misal kejadian kecil aza yg sudah terjadi dan sedang terjadi sekarang.. pihak Indonesia meminta pihak freeport membangun smelter jika tidak di bangun akan beresiko perpanjangan kontrak tambang tidak di akan dilakukan. yg terjadi akibatnya adalah OPM entah dapat dana dari mana melakukan kegiatan internasional dan letupan mulai intens terjadi ..coba aja pake tuch pesawat barat untuk buang mercon petasan ke posisi OPM itu.. gw pengen tau akibatnya..


    beli pespur itu buat jamin keamanan dan keutuhan NKRI.. gua udah capek liat pesawat tempur blok barat canggih tapi ketika Indonesia beli cuma berfungsi jadi pesawat intai karena gak boleh di pake nembak musuh..

    pesawat blok barat klo diandaikan mobil seperti mercy yg canggih canggih tetapi disaat odong odong sukhoi lewat tetap aja tuch mercy ngerem berhenti.kasi lewat dulu odong odong nya.. hehe kenyataan di Suriah pesawat barat harus ijin dulu ke om putin utk boleh terbang di wilayah suriah..

    lebih baik n219 produksi PT DI dipasang bom melotov untuk membom sarang sparatis yg sdh jelas sponsor nya dari pada pake yg nama pesawat aja udah canggih ampe susah nyebut nya saking kelewat canggihnya.tapi impoten klo nyerang pengoyak keutuhan NKRI.. kita kalah dgn embargo yg berselimut HAM yang jadi pion blok barat mengontrol teknology yg di jual kepihak non blok mereka..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anda terlalu banyak menyetuskan "conspiracy theory".

      Teori / hoax yang dibuat-buat, tanpa dasar yang jelas.

      Ini mah, air pun bisa dibilang jadi api.

      Lebih baik kita belajar dari berita2 yg nyata untuk belajar sedikit ttg politik luar negeri.

      Mari melihat baik ke tahun 2014:
      ============
      Peristiwa pencaplokan Crimea oleh Rusia.
      ==========

      Pada tanggal 27-Maret-14, PBB membuat resolusi 68/262 untuk mendukung kalau Crimea sebenarnya tetap merupakan bagian teritorial yang sah dari Ukrania.

      Hasilnya?

      Indonesia bergabung dengan US, Australia, Eropa Barat, dan kebanyakan negara lain (100 negara total) untuk mendukung integritas teritorial Ukrania, dan dengan demikian menyatakan kalau referendum Ruski disana illegal.

      Perhatikan baik2: negara2 pelanggan senjata, dan/atau yg memang mempunyai hubungan akrab Ruski, seperti PRC, India, Vietnam, Venezuela, Algeria -- total 53 negara menyatakan abstain dari pengambilan vote tsb.

      Posisi Indonesia, boleh dibilang sejalan dengan politik luar negeri bebas-aktif kita, tanpa pernah dipengaruhi negara lain.

      Untuk apa mendukung posisi Ruski di Crimea? Demikian pernyatan kita di PBB.

      Sayangnya, jangan berpikir kalau Moscow tidak akan memperhatikan!

      Dalam pandangan mereka, kembali, kita memang adalah sahabat baik US, dan Australia sejak 1967.

      Belum lagi menghitung hibah MiG-21 ke US di tahun 1969-1970.

      Maka itu...

      Jangan terlalu banyak bermimpi yah, kalau membeli senjata Kommercheskiy downgrade dari Ruski, Indonesia akan mendapat perlakuan "spesial"!

      Hapus
    2. Rusia itu sangat tahu dengan dasar politik negara kita .Sebelum kita bicarapun mereka sudah tahu dan paham apa yang akan kita sampaikan.
      Ini pernyataan menlu RI ,Natalegawa waktu itu "Menyerukan kepada Dewan Keamanan PBB, termasuk negara-negara anggota tetap DK PBB, agar memikul tanggung jawabnya sesuai piagam PBB dalam memelihara perdamaian dan keamanan internasional menyangkut krisis di Ukraina, termasuk kemungkinan melalui pengiriman utusan khusus Sekjen PBB ke kawasan terkait," demikian pernyataan tertulis Marty kepada Liputan6.com di Jakarta, Selasa (4/3/2014).

      Dia menegaskan, posisi Indonesia terhadap krisis Ukraina sama dengan konflik di negara lain, yakni netral dan menjunjung tinggi pengormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah sebagai prinsip dasar hubungan antar-negara.

      "Indonesia mendorong semua pihak yang terkait untuk menahan diri, mengelola krisis (crisis management) dan mengutamakan penyelesaian damai situasi di Ukraina dan senantiasa menghormati hukum internasional," sebut Marty.
      Jadi sikap Indonesia jelas tidak mencla-mencle. Dan saya tak pernah dengar rusia marah dengan sikap Indonesia karena kita lurus sesuai dengan UUD kita dan pastinya mereka paham . Dari mulai negara ini berdiri sikap Indonesia tetap sama ,jadi bagi negara luar baik yang setuju maupun tidak pasti merek mengerti . Anda terlalu membesar-besarkan persoalan . Apapun senJatanya yang kita beli pasti di test sesuai nggak dengan yang harapkan .Yakhont saja di test tembak jadi kita bukan beli kucing dalam karung ...anda ada -ada saja.

      Hapus
    3. Silahkan sibuk berargumen dengan kenyataan2 yg sudah dituliskan disini, kenapa membeli senjata Kommercheskiy downgrade dari Ruski adalah ide yang "baik"!

      Hapus
    4. @Dark Rider ,anda sepertinya salah satu BROKER yang mencoba mempengaruhi kebijakan pemerintah demi sejumput dollar ?.
      Dengan berdalih pesawaat versi export rusia adalah jelek dan ,dan tidak berguna jika perang betulan . Dan memuja-muja gripen ,produksi saab . Seakan SAAB juga tanpa cacat ,padahal saab tak lebih dari tukang jahit ,hampir seluruh komponennya buatan AS .Artinya sangat tergantung dengan kebijakan paman sam .

      Hapus
    5. Seperti diatas, semua sumber referensi sy tersedia bebas untuk anda yg mau research.

      FAKTA: Soviet / Russia selalu menjual barang Kommercheskiy, alias versi export downgrade.

      Silahkan saja Google search: "Russian monkey model".

      FAKTA 2: Saab Swedia satu2nya pembuat yg sudah berkomitmen memenuhi UU no.16/2012, dan sebenarnya lebih lagi untuk menjamin kedaulatan bangsa.

      Siapa yg agen sales?

      Agen sales itu biasanya akan menerima komisi sales / perantara, untuk mendukung tawaran versi Kommercheskiy downgrade, yg akan senang "perbaikan mendalam", dan tidak akan memenuhi persyaratan UU no.16/2012.

      Dimana kesadaran hukum, dan Kesadaran nasional, wahai para agen Sales "tak resmi" Rosoboronexport?

      UU no.16/2012 tidak dibuat untuk dilanggar.

      Hapus
  9. Soal perawatan alat perang mau di america atau rusia gak masalah asal dana nya tidak di korting mirip pembelian f16 dan heli apache .masak belli heli apache duwit $$ jutaan dolar bisa di putar ke sana kemari itu penghianatan luar biasa pelaku nya harus di usut tuntas supaya ke jadian tidak terulang kembali .

    BalasHapus
  10. @dark rider atau pembalap alias pemuda bertampang gelap :
    Sebenarnya saya malas mengomentari kamu tapi setelah kamu tak mau kalah dan makin ngawur dengan berat hati saya terpaksa menjawab .
    Harus di ingat juga Petinggi Militer kita sudah jauh lebih tahu dari kamu soal yang kamu sebutkan ,makanya kita ada program IFX/CBG/PKR itu baru 3 diantara program yang harus di kuasai RI agar tidak tergantung dari luar baik barat maupun timur . Tapi kamu harus tahu sendiri ,kita perlu waktu dan dana yang cukup besar untuk mengejar itu . Makanya perlu sasaran antara untuk mengisi kekosongan sementara sampai 7 program prioritas selesai , . Jadi kita beli dari rusia ,itu adalah karena alasan politik dan harga .Barang RUSIA GAHAR tapi lebih murah . Kalau kita beli F16 Viper yang paling canggih ,pasti AS sangat senang artinya pabrik yang mau tutup lini produksinya kembali jalan ,tapi masalah senjatanya ? Nah itu dia,tak kan AS kasih yang paling canggih dan boleh beli banyak macam singapure .. Jadi artinya percuma juga punya pespur bagus tapi impoten .Lebih baik beli SU35 Rusia ,mau senjata apa tinggal pesan ,tapi benar seperti yang kamu katakan umurnya pendek ,20 tahun cukup kok sampai IFX TERBANG .Makanya kita pesan hanya MAX 10 UNIT.Kalau masalah perawatan kan bisa bikin usaha patungan semacam MRO punya garuda ,patungan antara indonesia dan Rusia .Malay punya tuh ,untuk merawat sukhoi mereka .Kalau beli alutsista RUSIA ,harus di masukkan dalam paket ,mesin cadangan ditambah fast moving partS sehingga tehnisi nggak kelabakan jika harus ada pengantian dalam TBO .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anda sebenarnya tidak sedang berargumen dengan saya; tetapi dengan kenyataan.

      Semuanya yg sudah dituliskan disini berdasarkan pengetahuan Umum, yang sudah tersedia bebas, bagi anda yang mau research. Bukan karangan, atau mimpi.

      Sangat mengherankan kalau anda bersorak-sorai mendukung "buatan Ruski", tetapi tidak pernah mau meluangkan waktu untuk mempelajari secara obyektif kemampuan dari yang anda dukung!

      Silahkan terus bermimpi, kalau anda percaya barang2 versi export downgrade buatan Moscow, atau Washington DC (tidak ada bedanya) dapat menjaga wilayah udara NKRI!

      Silahkan bermimpi kalau membayangkan Su-35K bahkan mempunyai kemampuan untuk menembak jatuh F-16!

      IMHO, sudah saatnya mengakhiri era penjajahan Washington DC, ataupun Moscow, untuk menentukan apa yang diperbolehkan untuk kita pakai.

      Selamat berargumen melawan kenyataan!

      Hapus
    2. gausah diladenin sampah macam dark rider ini..mungkin dia maunya kita bikin pesawat LCGP low cost green plane..biar bisa murah dan ramah lingkungan di udara..dengan avionik yang low end, ditambah mesin irit yang "biasa" dan gausah pake rudal..cukup blind bomb dan ditambah alat AN/APX-117 cukup lah buat nakut nakutin mahasiswa dan anak sma tawuran

      Hapus
  11. dark rider ini mungkin lum pernah ke Papua kali ya.. bro klo mau bicara pertahanan harus pernah minim 2 titik perbatasan dan liat potensi ancaman yg terjadi di lapangan..di papua itu banyak warga negara asing dari berbagai negara..anda akan kaget di pedalaman jika di minta menyediakan senjata oleh suku setempat.. yg lebih mengaget kan jika bentuk pembayaran menggunakan USD cash yg entah dari mana mereka peroleh.. itu sekedar hal kecil yg bisa gue cerita kan ke lu..

    gue bukan melebihkan.. gue juga bukan anti barat..apalagi gue pernah hampir 2 tahun di aussie..

    tetapi gue nasionalis demi NKRI ..dan gue gak mau negara gue di bodohi negara manapun dengan apa yg di beli dengan keringat bangsa ini..

    semua yg gue sampaikan di komentar komentar sebelum nya adalah berdasarkan pengalaman dan kenyataan selama traveling di NKRI tercinta ini..mohon maaf gue lum sempat ke sumatera/aceh .daerah lain lainnya sepertinya ada sedikit pengalaman gue..

    BalasHapus
    Balasan
    1. .... dan kalau memang benar, anda sudah berpengalaman, dan berpengetahuan, kenapa tidak memanfaatkan keduanya untuk maksud yang lebih baik?

      Indonesia adalah Negara Kesatuan yang berdaulat, yang harus belajar menghargai setiap suku, tersebar di ribuan pulau.

      Yah, sy tahu kalau jaman sekarang ini masih ada OPM, atau sisa-sisa dari RMS. Dan beberapa pihak memang masih sentimen ke NKRI.

      Namun juga dewasa ini, sudah saatnya kita memulai, dengan berhenti membedakan "mereka" dengan "kita".

      Kita semua sama.

      "Inclusiveness" -- saatnya membangun jembatan, bukan untuk membangun tembok.

      Presiden Jokowi sudah memberikan panutan yang baik dalam hal ini:
      ==========
      Link Liputan 6
      ===========

      Yah, banyak pihak masih terus merasa tidak puas. Memang akan membutuhkan komitmen, dan membutuhkan waktu dari semua pihak untuk membangun SATU Indonesia.

      Anda bisa berkontribusi kecil dengan tidak menyebar cerita2 negatif, dan justru menunjukkan pelajaran2 positif yang anda dapat dari pengalaman anda.

      Hapus
  12. utk alusista yang kita butuhkan adalah yg memiliki efek gentar utk tetangga sehingga meminimalkan potensi dukung an terhadap potensi disintegrasi..
    alutsista mendeteksi dan yg mampu memutus rantai pasokan baik itu dana ataupun pelatihan dan weapon equipment masuk ke wilayah RI bisa dari pihak manapun berdasarkan strategi siapa lawan yg berpotensi komplik..

    semua matra au al ad harus saling sinergi .saya rasa pihak hankam lebih paham dari kita

    tidak ada senjata yg hebat tetapi yg hebat itu adalah orang yg berani mengarahkan dan menarik pelatuk senjata itu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Satu pelajaran lagi --- jangan menyamakan membeli Alutsista modern dengan seperti bisa membuat parang di masa lalu!

      Bisa membeli senjata, bukan berarti mempunyai wewenang untuk asal menyatakan perang, atau membomi rakyat sendiri.

      Dunia sudah berubah.

      Sampai tahun 1945 saja, sebenarnya seluruh Eropa saja tidak pernah melewatkan 100 tahun, tanpa ada peperangan antar negara, dan ratusan ribu korban.

      Kita semua harus belajar untuk menyesuaikan diri.

      Apa yang harus kita bayangkan untuk membangun pertahanan Indonesia?

      ## Harus ada kesadaran kalau Alutsista tujuannya untuk mempertahankan diri terhadap kemungkinan ancaman luar, bukan untuk mencoba memprovokasi konflik external, maupun internal.

      ## UU no.16/2012 bukan dibuat untuk dilanggar, tetapi menjadi awalan baik untuk memulai kemandirian, dan ini lebih penting dibandingkan "asal beli alutsista".

      Kedaulatan atas Alutsista harus berada di tangan sendiri, bukan di tangan negara lain. Kedaulatan, yang seperti diatas, juga turut bertanggung jawab atas perdamaian.

      ## Kemudian, kita harus memilih supplier yang tepat untuk memenuhi persyaratan diatas.

      Sayangnya, dunia alutsista lebih hitam, dan putih dari yang kita bayangkan:
      Ada yang menjual versi export downgrade (Moscow, Washington), atau bukan (biasanya Eropa).

      Dengan versi export, untuk selamanya kita hanya akan didikte dengan apa yang diperbolehkan. Silahkan berargumen sesuka hati, atau berdoa sekhusuk mungkin:

      Serigala akan tetap beranak serigala.

      Dalam hal ini, Saab adalah satu-satunya supplier yang sudah menawarkan komitmen penuh untuk memenuhi UU no.16/2012, dan lebih lagi dalam jangka panjang.

      Tidak seperti yang dipercayai banyak pihak, there's no catch.

      Transfer-of-Technology Saab, sebenarnya tidak hanya menguntungkan kita, tetapi juga menguntungkan mereka sendiri dalam membentuk partnership jangka panjang, yang menghasilkan bermacam-macam proyek.

      Keuntungan lain untuk Saab:
      Kalau kita akhirnya mulai bisa belajar sendiri untuk bisa berinovasi, bukankah inovasi itu juga dapat ditularkan balik ke Saab? Atau bisa dijual bersama di pasar export?

      ## Di lain pihak, belajarlah untuk menghargai keterbatasan negara kita!

      Untuk selamanya, anggaran pertahanan kita akan selalu lebih kecil dibandingkan Australia, ataupun Singapore, yang memang perekonomiannya sudah jauh lebih matang.

      Proporsi terbesar APBN, akan selalu diutamakan untuk pembangunan seluruh Indonesia, bukan menghamburkan uang untuk membeli senjata, atau mengoperasikan barang berbiaya operasional mahal, yang hobinya cuma mudik untuk "perbaikan mendalam".

      Hapus
  13. jika anda bicara eropa yg per 100tahun perng.. maka saya bicara suriah yg mirip dgn Indonesia. perusahan minyak barat byk disana tetapi negara tidak berperang dgn negara lain tetapi siapa negara yang dibalik semua itu.suriah punya produk alutsista barat kenapa gk kepake? ..
    perang antar negara sdh pasti bisa terjadi tapi di awali dengan proxy sebagai dasar penyerangan
    klo proxy bisa diredam maka dasar utk perang nya tidk ada..

    BalasHapus
  14. Sukhoi 35 harga mati...wong teknisi n pilot sku 14.... Lg bljr bhs rusky n pilot F-5 lg test flight su 27-30...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kekeliruan yang luar biasa.

      ## Komisi perantara, dan "perbaikan mendalam" harga mati, kalau memang senang menjual kedaulatan negara ke Moscow.

      ## Sudah barangnya cuma rongsokan versi export downgrade Kommercheskiy, dengan biaya operasional lebih mahal drpd 10 F-16.

      Semua spesifikasi Su-35 yang anda ketahui itu untuk versi lokal S, bukan versi K -- Kommercheskiy yang tersedia untuk export market.

      Jangan bermimpi radar Irbis-E jarak jangkau 400km untuk melihat RCS 3m2!
      Versi K downgrade bisa melihat 200 km saja sudah syukur.

      ## Dengan missile RVV-AE versi export, yg kualitasnya kacau balau, mustahil Su-35K dapat menembak jatuh F-16 hibah, yang sebenarnya masih jauh lebih modern dalan segala hal.

      ## Biaya operasional mahal tidak berarti efek gentar sangar.

      Justru sebaliknya, jam terbang pilot akan sangat berkurang, dan dalam sejarah konflik 100 tahun, tidak pernah ada pilot hijau yg bisa mengalahkan pilot yg sudah berpengalaman.

      ## Sistem training ala Ruski juga terbilang sangat terbelakang vs standard NATO.

      Hapus
    2. @Dark Rider,anda demikian pandainya membahas Produk Rusky yang kata anda downgrade kacau balau .
      Cona deh bahas SU30MKM Malaysia dan MKIIndia. Malaysia sudah men test tembak rudal anti radiasi dengan MKM dan berhasil.Jadi tidak ada alsana juga disebut versi export adalah tidak berguna.

      Hapus
  15. Shop from the awesome range of Hi-Tech Smartphones from one of the top most brands named Xiaomi available with an unexpected concession of up to 75% at Lazada.

    BalasHapus