22 Desember 2016

Afrika, Prioritas Penjualan Produk Industri Strategis 2017

22 Desember 2016


Negara-negara Afrika merupakan pasar potensial untuk pesawat angkut (photo : Indoflyer)

TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah dan dunia usaha menilai negara-negara di kawasan Afrika memiliki potensi sebagai prioritas penjualan produk industri strategis nasional pada tahun depan.

Pelaksana harian (Plh) Direktur Afrika Ditjen Aspasaf Kementerian Luar Negeri Irwan Iding mengatakan pemerintah dan dunia usaha nasional perlu terus memperkuat konsolidasi dan sinergi dalam menggarap peluang kerja sama dengan Afrika.

Pada 15-16 Desember telah diselenggarakan Forum Koordinasi Penguatan Diplomasi RI ke Afrika di Tangerang Selatan. Forum yang dihadiri sekitar 40 peserta dari kalangan pemerintah dan pengusaha nasional tersebut membahas rencana kegiatan 2017 ke Afrika dan permasalahan yang dihadapi bersama.

Dalam forum tersebut dibahas produk industri strategis Indonesia yang memiliki potensi untuk dipromosikan ke Afrika dan menetapkan negara-negara Afrika sebagai prioritas penjualan produk industri strategis.

Misalnya, saat ini akan diserahterimakan sebuah pesawat CN-235 untuk Senegal dan sebuah pesawat lagi dalam tahap pembuatan yang dipesan Pemerintah Ghana. Sementara pemesanan pesawat dalam tahap perundingan akhir adalah dari Pemerintah Nigeria.
Demikian juga dengan produk dari PT Pindad yang masih dalam perundingan dengan Pemerintah Madagascar, Mozambik, dan Nigeria.

“Forum menyepakati kerja sama di bidang pertanian, khususnya pelatihan, merupakan program kerja sama yang berhasil dikembangkan di Afrika,” tulis laman Kementerian Luar Negeri, Selasa, 20 Desember 2016.

Adapun dua Pusat Pertanian Pedesaan dibangun di Tanzania dan Gambia. Sebanyak 286 orang yang diberikan pelatihan oleh Pemerintah Indonesia di samping 50 bantuan hibah traktor ke negara-negara Afrika.

Pemberian bantuan traktor tersebut sekaligus memperkenalkan produk Indonesia kepada petani Afrika. Pada tahun depan, Kementerian Pertanian menempatkan prioritas kerja sama pertanian dengan negara-negara Afrika.

Sementara di bidang perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menawarkan fasilitas Center of Excellence Penangkaran Ikan di Indonesia untuk kerja sama pelatihan.

Fluktuasi Mata Uang

Di bidang ekonomi, forum mengangkat isu-isu permasalahan perdagangan, seperti fluktuasi mata uang lokal dan kredibilitas mitra lokal. Hal ini dapat ditangani dengan mengajukan asuransi gagal bayar dan meneliti mitra dengan lebih cermat yang dapat dibantu KBRI dan ITPC di negara akreditasi.

Ketua Komite Tetap Kadin Mintardjo Halim mengusulkan perlunya pendirian zona ekonomi khusus Indonesia di Djibouti untuk mempermudah akses masuk produk Indonesia ke Afrika Timur.

“Pendirian zona ekonomi khusus tersebut diharapkan dapat memotong biaya logistik ke Afrika dan menjadi hub distribusi barang-barang Indonesia ke negara-negara sekitar, seperti Etiopia, Sudan, dan lain-lain,” katanya.

Adapun Afrika merupakan salah satu pasar non-tradisional Indonesia dengan nilai perdagangan antara RI-Afrika pada 2015 mencapai US$ 8,2 miliar. Beberapa produk Indonesia, seperti mi, kertas, sabun, dan minyak goreng, telah mudah ditemui di berbagai negara di Afrika.

(Tempo)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar