25 Januari 2017

Dirgantara Indonesia targetkan pesawat terbaru N-245 terbang 2018

25 Januari 2017

Model pesawat N-245 (photo : Defense Studies)

Jakarta (ANTARA News) - Pesawat terbaru buatan PT Dirgantara Indonesia (DI), yaitu tipe N-245 ditargetkan mulai terbang pada 2018 mendatang. 

Direktur PT DI Budi Santoso saat ditemui di Kementerian Badan Usaha Milik Negara, Jakarta, Selasa, mengatakan saat ini tengah masih dalam tahap desain.

"Masih dalam desain, jadi Insya Allah kita mulai karena ini pesawat derivatif (turunan) dari CN-235, jadi bukan pesawat baru 80 persen komponen sama dengan CN 235 dan 295. Jadi, kita targetkan 2018 sudah bisa terbang," kata Budi. 

Budi mengatakan target pembuatan pesawat tersebut bisa dikejar pada 2018 karena dinilai tidak seberat dalam pembuatan pesawat N 219.

"Kalau 219 itu buat semua baru, kalau 245 kita buat ekornya saja, jadi yang lain sama, sertifikasinya sama melanjutkan yang 235," katanya. 

Saat ini, ia mengatakan pihaknya tengah mengurus sertifikasi yang dibantu oleh perusahaan manufaktur pesawat yang bermarkasi di Toulouse, Prancis melalui kerja sama. 

Budi menngatakan hal itu dilakukan untuk mempercepat proses sertifikasi pesawat di bawah tipe ATR 72 tersebut. 

"Kalau kita ingin mensertifikasi produk, katakanlah ke EASA atau FAA (Federal Aviation Administration), kalau kita apply (mengajukan) langsung, maka dapat urututan paling buntut (akhir)," katanya. 

Ia mengatakan Airbus mendukung proyek ini karena akan melengkapi seri sebelumnya, yaitu CN 235 dan CN 295.

"Insya Allah akan cepat prosesnya karena ini bukan pesawat baru, 80 persen komponennya sudah ada di kita," katanya. 

Meskipun dalam proses sertifikasi dibantu oleh Airbus, Budi menegaskan ide dan desain murni hasil karya anak negeri. 

Dia mengatakan N-245 merupakan pesawat kecil untuk daerah komersil yang jika dikembangkan bisa berkapasitas bisa 30-50 penumpang seiring dengan perkembangan teknologi yang semula hanya 10-12 penumpang. 

Saat ini, Budi menuturkan pesawat-pesawatnya sebagian besar dibeli untuk keperluan pemerintahan dibandingkan dengan swasta, porsinya masih 90:10 persen. 

"Kalau untuk keperluan pemerintahan itu biasanya (mempertimbangkan) performance (kegunaan) paling penting, tapi kalau swasta itu harga paling penting," katanya. 

Selain itu, lanjut dia, negara-negara yang paling banyak memesan pesawat-pesawat PT DI tersebut, yaitu dari Timur Tengah dan Afrika. 

"Itu pasar-pasar baru karena bisa dibilang dulu Afrika belum bisa beli pesawat baru, sekarang sudah bisa. Timur Tengah juga kita harapkan enggak ada masalah," katanya. 

Budi mengatakan salah satu kelebihan dari pesawat yang diproduksinya, yaitu bisa dimodifikasi sesuai pesanan, terutama untuk VVIP.

"VVIP juga bisa dua versi, bisa dipakai penumpang biasa, bisa dipakai medical (medis), jadi satu pesawat dengan berbagai konfigurasi seperti ini, kalau pabrik besar kan sudah malas mengerjakannya," katanya.

(Antara)

41 komentar:

  1. Ini salah satu alasan kenapa pt.di harus nolak heli awe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini salah satu alasan kenapa pt.di harus nolak A400M...
      (sarcasm)

      Hapus
    2. Kalo produknya bakalan jadi kompetitor (n-245 vs atr-72 dan n-270 vs atr-72) ngapain harus dibaik2in...heeeee

      Hapus
    3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    4. Aw101 menurut saya punya kelebihan sndiri hlo

      Hapus
    5. Bukan lagi ngebahas ttg keunggulan heli ttt bang caan, tapi kalo pt.di membuka kerjasama dg leonardo (seperti tuntutan kelompok pembela leonardo), sama aja pt.di melapangkan jalan bagi calon kompetitor potensial toh untuk memasuki pasar domestik toh...

      Emmm...jadi kepingin tau nih ttg keunggulan aw-101, ayo dong bang ceritain disini

      Hapus
    6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    7. Buat apa Leonardo kerjasama dengan PT DI kalau sudah kerjasama dengan Indopelita? Kalau tujuannya monopoli jelas2 nggak bener. Competition is good.

      Btw, saya anti KKN. Baik KKN dalam pengadaan AW101 atau A400M, maupun KKN dalam pembatalan AW101 atau A400M.

      Kinda unfair comparing the AW101 vs H225M (EC725). It has greater MTOW. It carries slightly more passengers, but less weight. More stretchers. 65% more range, and 57% more endurance. 15% higher ceiling (4570m vs 3968m), but a four times higher hover ceiling (3307m vs 792m)! All that just from the official brochures.

      Hapus
    8. Hari : haha, iya seperti yang dibilang bung irs. Enggak bisa bandingin apple to orange.
      Saya bukan pro Aw101 hlo ya.
      Cuma terkadang pt.di itu emang sering telat nyerahin pesanan. Kadang jengkel juga. No offends sama siapapun ya.
      Masalah atlas kita lihat kelanjutannya deh, bakal jadi drama kayak aw101 enggak 😂 haha

      Hapus
    9. @IRS

      Yang marah2 gara2 pt.di enggan menjalin kerjasama dg leonardo itu pihak salesnya yang dimotori oleh "mpok koni lho...malah komplinnya pake segala macam teori kuliah ttg industri pertahanan, mirip orang bikin disertasi lho...

      Hapus
    10. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    11. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    12. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    13. @IRS

      Entah bang IRS baca brosurnya dimana, tapi kalo lebih teliti bacanya perfoma aw-101 tidaklah seindah yang abang tuliskan itu...

      Hapus
    14. @IRS

      Punten bang IRS, boleh kutipan brosurnya diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, krena saya tak fasih bahasa inggris...

      Hapus
    15. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    16. Buat bahan bacaan yang mau


      http://angkasa.co.id/komunitas/mengenal-heli-sar-aw101-au-norwegia-seharga-100-juta-dolar/

      Hapus
    17. @caan

      Mana yang lebih kredibel menurut bang caan...catatan seorang test pilot yang pernah melakukan. evaluasi atas heli ybs atau tulisan seorang wartawan yang pernah merasakan mjd penumpang heli tsb?

      Hapus
    18. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    19. @IRS

      Kutipan bang IRS yang menyatakan "15% higher ceiling"...itu dibandingkan dg heli apa?

      Kalo diasumsikan service ceiling aw-101 lebih tinggi dibanding h-225 jelas salah, karena h-225 disertifikasi mampu terbang hingga ketinggian 6000 meter (silahkan dicek diwiki ato brosur airbus).

      Kalo kutipan ttg service ceilingnya saja sudah salah, kutipan yang lainnyapun menjadi bias...ada baiknya brosur tsb dipelajari dg baik lebih dulu (aturan pakenya), supaya tidak salah mengartikan.

      Salam,

      Hapus
    20. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  2. Ini salah satu alasan kenapa pt.di harus nolak heli Apache...

    BalasHapus
  3. Ini salah satu alasan kenapa pt.di harus nolak heli Apache...

    BalasHapus
  4. Yang penting jangan molor-molor lagi.
    Pesanan dah numpuk enggak selesai-selesai 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Soal delai-delai itu kenapa dulu pihak yang suka kasi tudingan gak bisa mengidentifikasi masalahnya dimana...

      Padahal posisi sbg komisaris sbg kan gag maen2...trus saran perbaikannya apa, itu yang lebih penting.

      Soale yang lebih nyaring terdengar cuma soal delainya aja

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    3. Percuma aja menggaji komisaris yang malah ingin mengeliminasi produknya sendiri...

      Hapus
    4. Masalah komisaris no komen deh 😂
      Tapi emang bener sih TNI au kan sebgai komisaris juga. Cmiiw.
      Harusnya bisa ngasih peringatan, dan himbauan kalau pesanan enggak selesai-selesai.

      Hapus
    5. Eya masak sekelas komisaris actionnya cuma menghimbau/memperingatkan...

      Ane kasi contoh aja...saat ini pt.di kekurangan test pilot utk tipe rating helikopter, harusnya dipinjamkanlah 1 atau 2 test pillotnya spy pesanannya cepet kelar...

      Tapi apa daya, ternyata matra ini juga tidak punya test pilot (padahal AU negara2 tetangga rutin mengirim pilotnya mengikuti pendidikan test pilot)...semoga dg kepemimpinan yang baru mampu membuat perbaikan yang fundamental

      Hapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. Masalah DI dalam mewujudkan pesawat ini hanya dukungan dana .Jika dana tersedia maka proyek ini akan cepat selesai .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan masalah dana, tapi SDM

      Hapus
  7. Pt.DI kebanyakan kembangkan pswt..gpp sih yg penting jgn smpe gagal fokus..N219 nya gak terbng2...pesanan heli gak siap2...atw gak Pt.DI bkin anak perusahaan khusus membuat helikopter..biar fokus..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sabar bang tupez...dg keterbatasannya saat ini, lebih baik fokus dulu ke bidang yang bener2 dikuasai (pesawat fixed wing, desain sendiri) supaya marjinnya membaik. Nanti bisa buat ngembangin usaha, memperkuat sdm, invest alat kerja&mesin...nah baru kalo udah kesampaian, bolehlah nambah lini usaha baru

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    3. Enggak harus lah. Lagian pesanan juga enggak banyak-banyak banget kan. Iya masalah paling besar ptdi kan jumlah sdm yang terbatas sama kebanyakan bayar penalty

      Hapus
  8. Gue pernah baca artikel katanya pak presiden Jokowi meminta agar PT.DI dipindahkan kelahan yang lebih luas.
    Alamat pastinya gue lupa. Btw kalo emang ini bener semoga ajah PT.DI bisa menibgkatkan kinerjanya dan gak lelet lagi.
    Emang banyak faktor perihal sering terlambatnya produksi pesanan shg kena pinalti.
    Nah dgn tersedia lahan yang luas ini semoga mereka bisa lebih fokus dengan menyerap lebih banyak sdm agar produksi bisa cepet kelar spt PT.Pal dan Pindad.

    Berdoa ajah deh semoga indah pada akhirnya. Aamiin. ☺

    BalasHapus
    Balasan
    1. @lutfhi

      Koreksi dikit boleh bang...gimana kalo kata "semoga indah pada akhirnya" diganti dg "semoga indah pada waktunya"?

      Soale kalo "indah pd akhirnya", ngrasainnya cuma sebentar...udah itu bubar, heeee

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    3. Oiya ya bang betol juga kau bang...
      Semoga waktunya gak lama lagi ya bang. 👍👌

      Hapus