03 Januari 2017

Evaluasi Kendaraan BTR-4M Korps Marinir

03 Januari 2017


Lima kendaraan BTR-4M telah dikirim ke Jakarta pada bulan September sebagai bagian dari kesepakatan dengan Ukraina, karena Indonesia berusaha untuk menggantikan 100 BTR-50PK APC yang diperoleh dari Kiev (photo : judaic)

Selama tes di Indonesia,  terungkap kekurangan BTR-4M Ukraina

Menurut Ridzwan Rahmat dalam artikel "Indonesia reconsiders further acquisition of BTR-4 APCs after early trials" edisi dari "Jane's Defence Weekly", Korps Marinir Indonesia (KORMAR) telah menggelar pengujian tahap pertama dari BTR-4M buatan Ukraina, tapi setelah itu mereka mengusulkan untuk meninjau kembali keinginan untuk melanjutkan pembelian. Demikikian kata sumber yang berasal dari Korps Marinir.

Kubah senjata BM-7 Parus (photo : KMDB)
  Revisi rencana pembelian datang setelah menerima laporan dari hasil pengujian tahap pertama yang menunjukkan beberapa isu permasalahan. Ada kejadian "trimmed by the bow" (badan depan kendaraan lebih masuk ke dalam air) pada mode kecepatan penuh. Hal ini terutama terlihat selama latihan pendaratan yang berlangsung pada bulan Desember, kata sumber itu.


Pengujian BTR-4M di waduk Saltov, Kharkiv, Ukraina (photo : National Academy)

Di dalam air, APC ini didorong dengan 2 propeller yang terletak di kedua sisi belakang kendaraan. Dengan bantuan peralatan ini, kecepatan APC di atas air mencapai 10 km/jam.

Versi tempur BTR-4M Indonesia dilengkapi kubah BM-7 "Parus" dengan meriam otomatis ZTM-1 kaliber 30mm, peluncur granat AG-117 kaliber 30mm atau dapat dilengkapi juga dengan senapan mesin.


Pengujian BTR-4M di waduk Saltov, Kharkiv, Ukraina (photo : National Academy)

Resimen Kavaleri 2 Korps Marinir Indonesia yang berlokasi di Cilandak (Jakarta Selatan) mengadopsi BTR-4 M pada bulan Oktober 2016. Kementerian Pertahanan Indonesia telah membeli lima BTR-4 dari perusahaan Ukraina "Ukroboronprom" pada bulan Februari 2014. Kendaraan APC ini diterima pada bulan September 2016.


Pengujian BTR-4M di waduk Saltov, Kharkiv, Ukraina (photo : andrei bt)

Korps Marinir akan melakukan analisis mendalam tentang kekurangan yang timbul saat pengujian, dan kemudian akan mengeluarkan rekomendasi tentang perlu-tidaknya pembelian lebih lanjut dari BTR-4.

Kementerian Pertahanan Indonesia telah menandatangani kontrak untuk pembelian lima unit BTR-4 dalam versi khusus amfibi (BTR-4M) pada akhir Februari 2014. Keseluruhan lima kendaraan telah diselesaikan oleh pabrikan KMDB pada semester pertama 2016.


Pengujian BTR-4M oleh Korps Marinir (photo : istimewa)

Kapal kargo Texel yang membawa lima BTR-4M berangkat dari pelabuhan Oktyabrsk di Ukraina pada akhir Juli 2016, dengan arah menuju ke Laut Mediterania, lalu ke Ravenna Italia, kemudian pada tanggal 24 Agustus, telah kembali ke Laut Hitam hingga tiba di Constanta (Rumania), Pada tangggal 26 Agustus pindah sudah arah ke Indonesia sambil melewati Uni Emirat Arab dan Thailand.

Setelah pembelian lima BTR-4M ini akan disusul dengan akuisisi lanjutan sehingga Korps Marinir memiliki 50 ini kendaraan lapis baja ini, tetapi sekarang muncul ketidak pastian akan masa depan pembelian lanjutan tersebut.



Spesifikasi kendaraan BTR-4 yang dikeluarkan oleh pabrikan (image : Ukroboronprom)

BTR-4M yang dibuat dalam versi amfibi sebagai persyaratan khusus dari Korps Marinir Indonesia (termasuk pengapung tambahan dan instalasi "snorkel"), sampel pertama dari BTR-4M versi tempur mampu mengapung dan berenang dengan baik selama pengujian bulan Mei 2016 di waduk Saltov wilayah Kharkiv, Ukraina.

BTR-4 M dilengkapi dengan mesin diesel Deutz BF6M 1015CP buatan Jerman dengan kapasitas 490 hp dan transmisi otomatis Allison 4600SP buatan Amerika Serikat dengan enam gigi maju dan satu gigi mundur.

(BMPD)

56 komentar:

  1. balikin aja udah, Irak dulu juga gitu

    http://defence.pk/threads/iraqi-btr-4-shipment-heads-back-to-ukraine.294041/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju. Sample dibeli buat diuji lapangan di Indonesia. Di sini terbukti gagal memenuhi persyaratan dana kemampuan yang dijanjikan, ya balikin aja.

      Hapus
    2. @anonymous

      Kali aja kemarin niat beli 1 biji heli AW buat diuji coba disini ya oom....horang kaya,heeee

      Hapus
  2. Indonesia gonta ganti peminpin sama sajaa gak nendang ...katanya new sukarno langit dan bumi . Setahuku bung besar pendiri nkri hidup apa adanya keras dan jauh dari pencitraan .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ga nyambung. Ga ada isinya. Idiot.

      Hapus
    2. mulei deh muleei..namanya manusie, mana ada yg sama. kalo sama artinye kloningan dong! yg sama tuch cuman luh ma muarip 100% haha!

      makanya kalo baca brita jgn ditelen bulet2, goyang2in tuch otak ke kiri-kanan, depan blakang eyyaaaa..

      kalo mau indonesia hebat, mulailah dari dirimu sendiri!
      dah balik kanan bubar jalan sana huss huss

      Hapus
    3. Contoh yata alangkah buruk nya sytem management ke mentrian pertahanan . Siapa harus bertanggung jawap ? barang busuk buat bangsaku asal bank saku penuh urusan belakang .

      Hapus
    4. Itu uji coba, masa ga bisa baca sih ??

      Hapus
  3. trims mimin buat foto uji coba btr 4m di cilandak.
    kalo ada yg video youtube dong, masih pnasaran spy bisa liat nunggingnya seperti apah? berapa unit yg nungging, bocor de el el..

    jujur, guwe liatnya sama ajah seperti wkt test di waduk saltov

    silakan masuken dr temen2 yg laen.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak tahan digoyang....sama ombak, xixixixi

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    3. Pelajarannya sama dengan polemik alutsista yang heboh kemarin.

      Sudah waktunya user melibatkan tim inhan dalam mengevaluasi alutsista yang akan dibeli utk memperoleh kajian secara aspek teknisnya, memberi info yang sinkron diantara (user,depkeu dan satuan perawatan), mencocokkan dg kemampuan industri dalam negri yang kira2 bisa mensuplai komponennya atau menyerap TOT dalam skala lebih luas.

      Seperti pd kasus heli AW...mengutip tulisan seorang test pilot ptdi, matra udara tidak punya (tidak mau berinvestasi) experimental test pilot (lulusan sekolah test pilot), maka tidak aneh muncul kajian tentang heli ini (versi matra pengguna) yang tidak relevan (dg berbagai kajian dari sumber kredibel yang lain).

      Padahal jauh2 hari, ketika beliau ini menempuh pendidikan test pilot (era 80/90-an), pernah melakukan evaluasi thd heli AW ini....!!!

      Hapus
    4. RAND juga pernah membuat kajian (preliminary analisis of helikopter option to support counterterrorism operations) ttg alternatif helikopter yang bisa dipakai dlm sebuah "oriented mission" jika diperbandingkan dg perfoma heli UH-60M.

      Jika diterapkan disini (disesuaikan dg misi dan kondisi geografis disini), angka2 yang tersaji akan berbeda...tetapi tetap saja rujukan ini tidak akan meleset terlalu jauh.

      Hapus
    5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    6. om hari...waduw spertinya salah kamar lagi tulisannya om, heli lage. kan lg bahas btr 4 m hiks..hikkss

      Hapus
    7. kembali lg ke BTR 4M, buat teman2 yg bertanya kenapa calon pemakai tidak dikirim ke ukraina utk jalani tes dulu sblom ada pengiriman. Jawabnya SUDAH haha!

      ini guwe ada oleh tulisan ekslusif dibulan juni 2016 dari om aryo nugroho(indomi.com)yg hadir disana bersama baret ungu(marinir) untuk melakuka serangkaian tes darat&air.

      uji darat, terlihat baret ungu turut hadir

      indomil.com/laporan-eksklusif-btr-4m-dari-ukraina-tembak-tembak/

      uji air, dari deskripsi tulisan, spertinya penulis turut hadir jg di tes waduk saltov yg ada di youtube

      http://indomil.com/laporan-eksklusif-btr-4m-dari-ukraina-uji-renang/

      sekian!

      Hapus
    8. @PG

      Yang AW ini unik...soale udah ada presedennya, waktu tender nc-295 vs C-27. Polemiknya begini juga

      Hapus
    9. geng airbus vs leo jg tuhh om haha!

      nanti guwe kasi liat kenapa itu heli dibeli, tp disebelah yach

      Hapus
    10. pilot tes yg dimksd om hari itu yg py blog ts kan, dari tulisannya mirip2 gt sm kepunyaan om haha!nanti kita bahas...disebelah tp

      Hapus
    11. @PG

      Biarin....yg penting aku kulakannya lebih dulu & masi laku dijual disini, wkwkwkwk

      Hapus
    12. @PG

      Mas, liat bang rian....

      Hapus
    13. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    14. liat rian sape?rianti cartwright guwe mao bingits haha!

      Hapus
  4. barang rusia itu technology thn 80an.. alias tuaa! beli tuh yg dikasih korea.. ape namanye tuh..

    BalasHapus
  5. Ini barang udah direject Irak maka terus dibeli Indonesia.
    Lihat aja harganya super murah karna ngak ada yg Mau membelinya.
    Udah dibeli baru Mau diuji.
    Seharusnya uji dulu baru dibeli.
    Contohi jiran gmana Mau membeli
    Indonesia asal murah aja pasti tertarik membelinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. @aloy man

      Kalo "hidden cost" baru ketahuan setelah ranpur dioperasikan tuh masih wajar...lha ini kejadian yang bisa terlihat scr langsung waktu uji coba (dilaut)?!!!!

      Apa diukraina gak ada laut ya...

      Hapus
    3. di waduk om lautnya diambil sm paman beruang merah haha!
      sama disini jg di tes waduk py marinir soalnye marinir gak py laut di cilandak haha!
      mungkin hrs di tes di marinir armatim py tempat, situbondo baru maknyus

      Hapus
    4. Apa varian "M" ini masih puwarupa ya?

      Hapus
    5. m utk marinize/laut. klo di bmp 3 seri f utk kemampuan amfibi.

      tp myanmar justru pake btr 3 yg lbh lama, gak tanggung2 pesen 1000 cuy

      Hapus
    6. Maksute, apa ukrain baru pertama kali ini bikin varian "M" pd ranpur btr-4...soale liat gambar btr-4 punya iraq (bukan tipe "M") juga ada propelernya

      Hapus
    7. betul, smua btr 4 py kemampuan amfibi mnurut militarytodays http://www.military-today.com/apc/btr_4.htm.
      ada tipe MV,E1,K,Ksh dll.
      makanya modelnya depan jd beda, proteksi armor lbh byk dan tahan ranjau tank 8kg
      tipe M ini baru dipake oleh marinir kita, mungkin pesanan ini spesial kustom.

      Hapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  7. ganti sama EFV (Expeditionary Fighting Vehicle) pake Mantap sudah gada yang lebih bagus itu ngapain tanggung-tanggung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lu yang bayarin ye. Harga per unit BTR-4 mentahan 1 juta dollar. Harga EFV 22 juta dollar kurang lebih. Ngomong yang masuk akal lah. Duit Indonesia bukan ga terbatas ala US.

      Hapus
    2. bacot ga mikir ya begini..mikir harga mulu mau murah pake senapan angin bung!!! kalo maunya murahan ya begini jadinya..beli sampah..otak pelit mau menang perang? jadi pemulung aja bung anonymus..nampilin nama aja ga berani..pengecut!!!

      Hapus
    3. Begonya kan keliatan. Duit Indonesia itu terbatas dengan uang yang sama dapet 22 BTR-4 (standar) vs 1 EFV. Pilih yang mana? Di perang kualitas bukan segalanya. Tapi kuantitas juga bukan segalanya. 1 biji EFV ga mungkin menang dari 15-20 BTR-4 karena walaupun mahal bukan berarti EFV ga bisa ditembus 20-40 an ATGM yang digotong BTR-4 dan infantri yang dibawa.

      Otak dipake buat mikir jangan cuma liat angka, harga, terus dikira pasti menang karena lebih "canggih" dan lebih mahal. Liat Leopard 2 Turki hancur dihajar ATGM ISIS karena salah taktik penggunaan, kalah jumlah, dsb. Dalam perang barang mahal bukan end all be all solution. Idiot.

      Nama saya rahasia untuk privasi. Saya ga mau idiot macam anda tahu nama saya, alamat saya, dsb. Karena semua informasi sekarang gampang dicari online kalau tahu nama asli dsb. Dasar idiot.

      Hapus
    4. "Nama saya rahasia untuk privasi. Saya ga mau idiot macam anda tahu nama saya, alamat saya, dsb. Karena semua informasi sekarang gampang dicari online kalau tahu nama asli dsb. Dasar idiot." wkwkwkwkwkwkwk....banci online
      sorry tidak melayani debat kusir sama banci online

      Hapus
    5. Kalau ga mampu argumen ngaku aja dang. Ga ada argumen lain lalu melintir ke hal yang sama sekali ga berhubungan. Idiotnya semakin kelihatan.

      Hapus
    6. kalo ga berani tampilkn nama biar saya kasih nama ya? Bella {bencong lanang}..udah kalah debat, logikanya g dipake, banci pula..lengkap

      Hapus
    7. Lu debat apa tong? Argumen ga ada cuma teriak-teriak doang. Kelakuan kok kaya simpanse isi ga ada cuma bisa teriak2 hal yang sama sekeras mungkin. Dasar imbesil.

      Hapus
    8. setuju dengan om dadang

      Hapus
  8. To the point aja dah...ini rekanannya siapa?

    BalasHapus
  9. Aha...ini kontraknya tahun 2014, ada yang punya info kapan pesanan irak direturnya?!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. 88 dibalikin tp dipake ukraina sendiri, malah AB ukraina nambah 154+40 ekor tahun 2014. 100 ke kazakstan.
      kalo liat2 yg di retur itu rata2 bodynya bermasalah, sperti retak karat.

      Hapus
  10. Masih prototyp kok dibeli. Bisa tolong jelas ada permainan makelar kah karena ukraina asala ada duit ada barang

    BalasHapus
    Balasan
    1. prototaip dari hong khongg. uda batel pruven di irak ame ukraina cuy.

      Hapus
    2. lah btr 4 kan bukan prototaip lg om,
      kalo varian M bkn berarti prototaip, cuman nambah armor.
      kalo prototaip itu brg ujicoba yg sama sekali baru dari segi bentuk dan isi, blom dijual & launching malah. sekian

      Hapus
    3. @PG

      Ya enggak dong..

      Btr-4 kan desain baru(beda dg btr-3), apalagi, yang varian "M" jd belum tentu teruji sanggup berenang dilaut yang berombak. Seperti anoa aja, patronnya (VAB) bisa renang disungai tapi tidak rekomended buat dilaut, makane pindad bikin prototypenya lagi biar bisa renang dilaut

      Hapus
    4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    5. lah artinye si om hari gak di baca yah link yg guwe kirim diatas dari web military todays???

      prototaip btr 4 muncul 2006, mulai produksi massal 2008 utk pemesanan ab ukraina dilanjutkan iraq dll smpe indo. Kalo skg btr 4 dan turunannya masih dianggap prototaip, ckp aneh mnrt guwe. Ude 10 taun gt loh?

      krn sblomnya sudah lewat jalur produksi massal selama bertahun2, walopun marinir kita pengguna pertama model M/marinize ini yg konon dipesan spesial kustom . jd mnurut hemat guwe btr yg M itu bkn prototaip lg lah melainkan hanya varian/model upgrade terbaru khusus laut.

      Di berita web LN pun menulis kendaraan ini adalah upgrade model bukan prototaip. Seterusnya di dibawah tulis prototaip diluncurkan pd the Aviasvit 2006 exhibition di Ukraine. Nah silakan tanya penulis sono yah, nih linknya http://defence-blog.com/army/ukraine-unveil-upgraded-model-of-btr-4-armored-amphibious-vehicle.html

      Soal anoa, kyknya gak bisa disamain dech, kan desain awal anoa bkn utk amfibi. sedangkan btr 4, guwe ulangi lagi yech utk smua kendaraan sudah full amfibi dan dilengkapi 2 propeller waterjet untuk di air. nah pengertian di air seperti yg ditulis pd web military todays silakan pikir masing2 yach gimana enaknye.

      Biar cakep guwe ulang lg linknya http://www.military-today.com/apc/btr_4.htm

      tak ada larangan jg menggunakan alat2 yg belum pernah digunakan oleh negara lain.
      banyak contoh: diantaranya bmp 3f, kapal cbg type 209/1400 dan kapal pkr sigma 105. masing2 turunan dari tipe/model sblomnya.

      pertanyaanya, guwe ke om hari, apa smua ini masih dibilang prototaip ato bukan, krn selain indo blom satupun di dunia ini ada negara pemakainya

      tapi terserah kalo si om dkk pgn btr 4 m ini dibilang sbg prototaip gpp kok, gak ada yg larang, tp jgn larang guwe haha! krn guwe hanya memberi masukan sj.
      Guwe mengerti kok, smua pst pada ragu akan btr 4m ini, kan uda guwe tulis diatas lg tuh, marikita tungguin hasil selanjutnya dan pernyataan dari user. Btr 4m ini jg buat tester, sm jg ketika beli bmp 3f. Kalo cocok lanjut, kalo ga yah setop, gitu aja repot pot haha!

      Hapus
    6. Nah...kan enak kalo sambil dibacain gini, bisa sambil ngopi tanpa direpotin buka kamus

      Hapus
  11. yG DI KIRIM BUKAN BTR4 ASLI, DI KONTRAK ADALAH BTR 4 APC dan AIFV Jadi BTR 4M adalah "Palsu"

    BalasHapus