21 Agustus 2017

TNI AU Terus Cetak Penerbang Tempur

21 Agustus 2017


Pilot F-16 TNI AU (photo : Sasandri)

Jumlah Penerbang Pesawat Tempur TNI AU Masih Jauh dari Target

SLEMAN - Penerbang militer pesawat tempur TNI AU masih jauh dari target. Sebab sesuai dengan rencana strategis (Renstra) tahun ini TNI AU akan menambah kekuatan lagi pesawat tempur, yaitu 24 pesawat tempur F16. Sehingga dengan penambahan ini nantinya jumlah pesawat tempur F16 akan menjadi 34 pesawat. 

Sebab sebelumnya sudah ada 10 pesawat tempur F16. Padahal sekolah penerbang (Sekbang) TNI AU tahun 2017, hanya mampu menambah 13 penerbang pesawat tempur.

“Dari penambahan 13 penerbang pesawat tempur ini jumlah penerbang pesawat tempur jauh dari target,” ujar KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto usai melantik penerbang militer Sekbang Terpadu TNI angkatan 91 di lapangan Jupiter, Lanud Adisutjipto, Yogyakarta, Sabtu (19/8/2017).

Hadi mengatakan, sebagai solusi untuk kondisi tersebut, selain akan memaksimalkan penerbang militer yang ada, juga akan menambah kuota Sekbang, terutama jurusan pesawat tempur. Diharapkan dengan langkah tersebut kebutuhan penerbang pesawat tempur akan terpenuhi. Meskipun untuk pemenuhan kebutuhan itu sesuai dengan renstra dilakukan secara bertahap.

“Karena itu, meminta kepada penerbang militer yang baru dilantik segera menyesuaikan diri dengan alutsista yang akan diawakinya nanti,” terangnya.

Sekbang Terpadu

Mengenai kelanjutan pendidikan Sekbang terpadu yang melibatkan tiga angkatan, AD, AL dan AU, menurut Hadi, untuk tetap akan dilanjutkan. Sebab yang membutuhkan penambahan penerbang militer bukan hanya AU, namun AD dan AL juga sama. 

Pasalnya, di ketiga angkatan tersebut, bukan hanya ada penambahan alutsista pesawat, baik tempur, angkut dan heli. Namun, alutsista yang datang juga lebih canggih, yaitu generasi 4.5.

“Sekbang terpadu tetap akan dipertahankan,” paparnya.

Hadi juga berpesan kepada penerbang pesawat militer muda yang baru dilantik tetap harus mempertahankan airmanship, disiplin dan dapat melaksanakan tugas dengan baik. Apalagi uang untuk membeli pesawat yang harganya cukup mahal itu memakai uang rakyat. Sehingga mereka dituntut dapat menerbangkan pesawat dengan aman dan selamat.

“Yang jelas bertambahnya penerbang pesawat militer ini tentunya akan menjadi kekuatan TNI,” tandasnya.

Sekbang Terpadu angkatan 91, menghasilkan 46 penerbang militer muda. Terdiri dari penerbang militer TNI AU sebanyak 35 orang (14 penerbang militer pesawat angkut, 13 pesawat tempur dan 8 heli), AD 8 orang dan AL 3 orang.

“35 penerbang militer TNI AU akan disebar ke skudron di Indonesia, untuk penerbang militer AD dan AL akan memperkuat kesatuan masing-masing, yaitu di Puspernebad dan Puspenerbal,” tambah Kapentak Lanud Adisutjipto Mayor Sus Giyanto. 

13 komentar:

  1. melatih pilot apache lebih sulit dari pilot f16....sensornya lebih banyak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Not true. Jumlah sensor tidak berpengaruh terhadap sulit atau tidaknya pilot training. Saya cenderung berpikir mencetak pilot F-16 lebih susah dari Apache karena dia harus mengerjakan tugas pilot dan gunner sekaligus. Nembakin Maverick jelas lebih mudah bagi pilot Apache (orang lain yg targeting) dari pada pilot F-16 (harus mengerjakan sendiri).

      Hapus
    2. @IRS it IS true. Read the novel "Apache" by Ed Macy, an ex-british Apache pilot operating in the Helmand province, Afghanistan. These apache pilots literally need to move each eyeball independently to deal with the amount of sensors, controls, and information streaming from their display panels, HUD, and eye piece required to fly the helicopter. It is so weird, it freaked out the pilot's wife when she saw the video recording of her husband's eyeball while flying the Apache. Read the book, if you don't believe me.

      Shooting a Maverick on the F-16 doesn't require a weapons officer because the pilot only needs to align the crosshair to where the target should be. The Maverick missile recognizes the target, locks on, then fires. After it is launched it doesn't require further assistance. So it is fire-and-forget just like any missile.

      So no. Apache training is harder than F-16 training.

      Hapus
    3. That is actually the same for an F-16C. And it isn't the amount of sensors, but the way they are presented. It's one of the reasons those *35 planes boast sensor fusion.

      The difference between the two is how workload is distributed. It's one of the reasons why most strike aircraft are twin seat instead of single seat.

      TV guided Mavericks are actually guided from an MFD. You actually can see what the missile is seeing.

      Hapus
    4. Fly choppers itself is not easy. They say if u can rub your tummy with 2 hands one in the opposite direction that is exactly following oppositely and perfect sinchronised fashion at the same time read any article or book without stumbling your words and read smoothly u r born to fly a chooper. Its what some people joked about.

      Hapus
    5. @Benjamin Ong
      That's true.

      The hardest military aircraft to fly AFAIK are the Harrier, then Ka-50, then other rotoray aircraft and finally fixed wing aircraft. As you can see, it isn't related to the amount of sensors. It is actually related to the aircraft dynamics and pilot workload. Hence they used a lot more automated pilot assistance in the F-35B. They also cancelled the Ka-50 for the twin seat Ka-52.

      Hapus
  2. Pilot TUDM paling teramat jaguh dunia akhirat boleh eject kat hanggar dan telah tewaskan F22 USA...Menggerunkan

    BalasHapus
  3. Untuk kepemilikan apache maksimal 40 unit untuk penerbad, kalo cocok dari kemampuan anggaran beserta toty, nanti ada tambahan apache berikuty setelah batch awal 8 unit, tni ad tidak akan membeli helikopter tempur tambahan dari rusia karena terkenal pelit hanya untuk urusan perawatan saja beda dengan amerika dan sekutuy rusia bussenis itu yang melekat sekarang itu korbany malaysia harus bayar upeti mahal untuk su 30 mkm y biar di dirikan MRO, padahal kalo amerika dan sekutuy MRO adalah kewajiban bagi setiap pelanggan

    BalasHapus
  4. This is a very good blog, however admin should be more cautious in choosing which comment should be kept

    BalasHapus
  5. Masih sedikit ya..penambahan pilot pespur,memang harus orang2 pilihan,kuat otak,fisik dan mau berani mati..tiadak gampang itu,semoga masih banyak orang2 yg seperti itu..kalo tidak bisa kacau ntar..kayak tetangga kita..gak nambah2 pespurnya..xixixi..kehabisan generasi..penempur tidak hanya mempunyai 3 unsur diatas saja..tapi harus mempunyai art of war...seni bertempur..ini yg membedakan dr penempur2 laenya...insting membunuhnya juga harus kuat...nanti ada istilahnya "barbakat"..menurut ane lho..

    BalasHapus
  6. Seperti y sudAh terjawab keinginan kita dulu kok beli pespur ngeteng mulu, bukan kita gak mampu beli pespur dalam jumlah banyak tetapi buat apa pespur banyak pilot y kurang, masa pespur ngejogrog di hanggar karena keterbatasan pilot malu ma tetangga esebelah di kira gak ada bbm, jadi pilot zet tempur itu susah bro latihany ketat bukan prajurit asal2 an yang di pilih harus dari calon prajurit disiplin tinggi, smart dan siapa menerima resiko

    BalasHapus
  7. Sukhoi yang menjalani perawatan berat dan sekaligus di upgrade di belarusia adalah 2 su 27 sk & 2 su 30 mk hasil pembelian di era megawati tahun 2003 waktu indonesia masih di embargo amerika & sekutuy sekarang sudah bisa terbang bahkan lebih canggih dari sebelumny, 24 f 16 52ID sudah mampu meladeni perang BVR bahkan kemenhan sudah pesan rudal jarak menengah 120 amram dan tinggal nunggu di kirim esemoga tahun ini sudah bisa id terima oleh pihak TNI au, untuk 10 f16 di rencanakan akan menjalani MLU di amerika dan mampu menembakan missil 120 amram, mlu ke 10 f16 akan di lakukan setelah 24 f16 dari amerika sudah tiba semua, untuk zet tempur t50 dari korsel 3 unit dari 15 unit , dapat info dari warung sebelah sudah di pasangi radar dan kemarin 3 unit t50 di kirim ke kupang untuk uji coba rencana ke depan t50 semuanya akan di pasang radar dan di persenjatai rudal , saya sudah bilang @ tentara kabur 2 sukhoi tni au di lock oleh sigma 90 m ketika uji coba peralatan jaming salah satu dari negara di eropa

    BalasHapus