05 Juni 2009

Satu Sukhoi Tambahan Tiba

17 Januari 2009

Tiga Su-30MK2 yang telah datang (photo : TNI-AU)

SATU pesawat tempur Sukhoi tambahan tiba di Pangkalan TNI AU (Lanud) Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, hari ini (17/1). Mesin dan sejumlah komponen pendukung di darat (ground support) pesawat buatan Rusia itu telah mendarat sehari sebelumnya.
Komandan Skadron 11 Letkol Widyargo Ikoputro mengatakan, perakitan pesawat diperkirakan memakan waktu lima hari.

"Akhir pekan depan sudah dapat uji terbang oleh pilot Rusia," katanya saat dihubungi Jurnal Nasional, Jumat (16/1).

Sebelumnya, 26 Desember lalu, dua Sukhoi telah tiba di Indonesia. Pesawat telah menjalani uji terbang dan dinyatakan layak. Iko menjelaskan, jika pesawat ketiga juga dinyatakan bagus, Rusia akan menyerahkan secara resmi pada Departemen Pertahanan (Dephan) sebagai wakil pemerintah Indonesia, pekan pertama Februari. Dephan selanjutnya menyerahkan ke Mabes TNI, kemudian pada TNI AU sebagai pengguna.

Indonesia memesan enam elang tempur dari Rosoboronexport itu saat pembukaan Pameran Kedirgantaraan Moskwa, 21 Agustus 2007. Dalam nota kesepahaman disebutkan nilai pembelian mencapai sekitar Rp3,6 triliun.

Setelah hadir tiga pesawat, pesawat sisanya menyusul secara bertahap hingga 2010. "Dua pesawat akhir tahun ini, satu terakhir menyusul awal 2010," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsma Chaeruddin Ray.

Tiga pesawat yang pertama datang bertipe Sukhoi SU-30MK2 (kursi ganda). Tiga pesawat terakhir jenis SU-27SKM (berkursi tunggal). Enam pesawat tambahan ini melengkapi empat pesawat Sukhoi yang telah dimiliki TNI AU sejak September 2003.

Seiring penambahan pesawat, matra udara akan menambah pilot pesawat berjuluk Flanker itu.



Tiga Su-30MK2 terbaru (photo : Kaskus Militer)

"Idealnya, jumlah penerbang satu setengah kali jumlah pesawat," katanya. Artinya, pada 2010 setidaknya dibutuhkan 15 penerbang pesawat berjuluk Flanker itu.

Mulai tahun depan pihaknya akan melakukan penjajakan terhadap beberapa penerbang tempur TNI AU seperti F-5E Tiger dan F-16 Fighting Falcon. Syaratnya, minimal telah mengantongi 200 jam terbang.

TNI AU tampaknya tak ingin main-main mencari pengawak pesawat canggih tersebut. Dari tujuh pilot yang ada, yakni Letkol Iko, Mayor Dedy Ilham, Mayor David Yohan Tamboto, Mayor Yosta Riza, Mayor Tonny Haryono, Mayor Untung Suropati, dan Letkol Andi Kustoro, semuanya sudah mengantongi lebih dari 2.000 jam terbang. Bahkan, Oktober lalu, empat penerbang Sukhoi juga telah menjalani simulasi Sukhoi di China guna memantapkan kemampuan pilot Sukhoi yang sudah ada.

(Jurnal Nasional)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar