10 Juni 2009

43 Tahun Pengabdian : Fokker 27 di Indonesia

8 Mei 2009

F-27 TNI Angkatan Udara (photo : Airliners)

43 Tahun Pengabdian

Dengan total produksi mencapai 793 pesawat, Fokker F27 Friendship bisa dikategorikan sebagai pesawat bagus. Logikanya, tidak mungkin sejumlah maskapai dunia membeli jika tidak ada jaminan. Dari jumlah ini memang hanya dua pesawat yang dibeli AD AS. Dengan nama baru C-31A, pesawat digunakan oleh tim terjun paying Golden Knights. Di lingkungan militer, F27 dapat nickname “Trooship”. Pabrik Fokker yang bangkrut 1996 sempat memproduksi 14 varian F27.

Bagaimana riwayat pesawat ini di Indonesia ? Jauh hari sebelum pesawat ini mulai memperkuat Skadron 2 Wing Operasi 001 Lanud Halim Perdanakusuma sejak 1976, F27 untuk pertama kali di Indonesia dioperasikan oleh PT. Pertamina. Mayor (Pur) Sudarjono, adik kandung founding father TNI AU Agustinus Adisutjipto, penerbang generasi pertama TNI AU dan pelopor Skadron 2 yang kemudian bergabung dengan Pertamina, masih ingat berbagai persiapan yang diikutinya sebelum transis dari DC-3 Dakota ke F27.

“F27 pertama Pertamina tiba di tanah air tahun 1966,” ujar Sudarjono ketika menjawab pertanyaan Angkasa via telepon. Sudarjono bergabung dengan Pertamina setelah keluar dari TNI AU yang digelutinya sejak 1946. Sambil membuka log book, Sudarjono menjawab setiap pertanyaan Angkasa seputar kariernya sebagai penerbang generasi pertama F27 di Indonesia.

Sekitar tiga bulan setelah kedatangan F27 pertama yang diberi registrasi PK-PFA, Sudarjono berangkat ke Schipol, Belanda, “September 1966, saya ke Belanda untuk mengikuti pendidikan terbang” kata Sudarjono. Setelah mengikuti pendidikan beberapa bulan, Sudarjono pun dipercaya membawa pulang F27. Pesawat kedua yang diberi registrasi PK-PFB ini berangkat dari Schipol menuju Roma tanggal 3 Januari 1967, dengan Sudarjono duduk di bangku pilot. Setelah RON semalam, dilanjutkan dengan rute Roma-Kairo (4 Januari), Kairo-Bahrain-Karachi (5 Januari), Karachi-Kolombo (6 Januari), dan esoknya terbang ke Kolombo-Medan-Kemayoran.

F-27 TNI Angkatan Udara (photo : Airliners)

Beberapa bulan kemudian Sudarjono mendapat tugas khusus membawa PK-PFB ke beberapa Negara Asia untuk promosi. Penugasan ini berdasar permintaan Fokker untuk menggunakan pesawat Pertamina sebagai media promosi.

Bersama Capt. Bob Budiarto dan tim pemasaran Fokker termasuk pilot demo Fokker, pesawat terbang pada 21 April 1967 dari Kemayoran tujuan Kinabalu. Setelah refuel dilanjutkan ke Manila. Esoknya Sudarjono terbang ke Hongkong. Dua hari kemudian kembali ke Manila. Esoknya Sudarjono terbang ke Hongkong. Dua hari kemudian kembali ke Manila. Hari itulah kata Sudarjono, pesawat diserahkan kepada pilot Fokker untuk demo terbang. Bertempat di Malaybalay, 27 April 1967, demo dilaksanakan. Bob Budiarto diikutkan sebagai supervisor. Saat itu Fokker tengah bersaing dengan Hawker Siddeley HS 748 untuk mendapatkan kontrak dari Philippines Airlines.

Naas rupanya. “Salah satu mesin yang sengaja dimatikan untuk demo, ngadat dan tidak mau hidup,” ingat Sudarjono. Pesawat yang dalam kondisi terbang rendah, tidak mampu menambah ketinggian hingga jatuh. Beberapa orang jadi korban, syukurlah Bob Budiarto selamat. Pesawat dinyatakan total loss. Sebagai bentuk tanggung jawabnya, Fokker langsung mengganti F27 yang hancur dengan pesawat sejenis yang baru. “Pesawat pengganti diberi registrasi PK-PFC”, ujar Sudarjono. “Saya tidak ingat berapa lama waktu penggantiannya, namun di log book tertulis saya sudah terbang pesawat ini Desember 1967”; aku Sudarjono.

Selama dioperasikan Pertamina, F27 digunakan sesuai fungsi asasinya pesawat transport. Paling sering ke Medan, Palembang dan Sorong. Termasuk ketika Pepera (Pengumpulan Pendapat Rakyat) di Irian Barat tahun 1969, Pertamina mengirim masing-masing satu DC-3 Dakota dan F27. Barulah setelah itu F27 dioperasikan oleh Garuda Indonesia.

Kesan Saleh Basarah

F-27 TNI Angkatan Udara (photo : Airliners)

Garuda diketahui menggunakan F27 mulai 1969, setelah menjual pesawat DC-9 kepada KLM. Hasil penjualan digunakan untuk membeli F27. Oleh Dirut Garuda Wiweko Soepono, F27 dimaksimalkan sebagai mesin uang yang keuntungannya digunakan untuk pengadaan armada baru. Pengabdian F27 di Garuda berakhir tahun 1977, menandai mulainya Garuda mengoperasikan pesawat jet. Bersama F28, DC-8 dan DC-9, F27 termasuk yang dilibatkan Garuda dalam mendukung Operasi Seroja tahun 1975. Padahal setahun sebelum Garuda resmi memensiunkan F27, TNI AU baru mulai menggunakan F27 sejak 8 Agustus 1976. Total delapan pesawat dioperasikan di bawah Skadron 2. Selain Garuda, Merpati juga pernah mengoperasikan F27. Salah satunya PK-MFL, jatuh pada 26 Maret 2001 di desa Maranti, sebelah utara runway Bandara Juanda, Surabaya. Tiga awak tewas.

TNI AU mulai mengoperasikan F27 sejak kedatangan pesawat pertama A-2701 pada 7 September 1976. Sedikit berkisah, salah satu alasan dipilihnya F27 selain untuk modernisasi dari armada C-47, adalah kesan mendalam KSAU Marsekal Saleh Basarah ketika diundang ke Belanda. Dalam suatu perjalanan dinas, Saleh Basarah diterbangkan menggunakan F27 VIP, dan terkesan. Selain itu, F27 berkonfigurasi sayap utama high wing yang tidak dimiliki pesaingnya HS-748. Total delapan pesawat dibeli Pemerintah untuk TNI AU.

Empat penerbang disiapkan sebagai generasi pertama pilot F27. yaitu Mayor Pnb Darmadji, Mayor Pnb Abdul Muluk, Mayor Pnb Mas Susilo, dan Mayor Pnb Safril Dauli. Mayor Darmadji kemudian menjadi instruktur pertama. Penerbangan feri pertama VH-FRL sebelum berganti T-2701dari Belanda ke Halim Perdanakusuma pada 3 September 1976, diawaki oleh Captain Holswider dari Fokker didampingi Mayor Darmadji dan Mayor Safril.

Beberapa operasi penting pernah diikuti oleh F27 Trooship. Membantu jembatan udara ketika awak kabin Garuda mogok terbang Januari 1980; operasi SAR tenggelamnya KM Tampomas II di Masalembo, Januari 1981; dan lusinan operasi Kamdagri lainnya. Bahkan ketika Latgab TNI 2008 silam, F27 A-2707 menjadi pesawat komando yang ditumpangi Panglima Komando Tugas Gabungan (Kogasgab) Letjen TNI George Toisutta. (ben)

Jadwal Kedatangan
Tail Number : Kedatangan
A-2701 : 7 September 1976
A-2702 : 26 September 1976
A-2703 : 26 September 1976
A-2704 : 20 Oktober 1976
A-2705 : 1 November 1976
A-2706 : 12 November 1976
A-2707 : 29 November 1976
A-2708 : 9 Februari 1977


(Angkasa No. 8 Mei 2009)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar