12 Juni 2009

Amerika Janji Bantu 6 Hercules Kepada Indonesia

1 Juni 2009

C-130J Hercules-varian baru yang diproduksi oleh Lockheed Martin, AS (image : Murdoc)

PEMERINTAH Amerika Serikat (AS) menjanjikan bantuan pengadaan enam pesawat angkut C-130 Hercules tipe H dan J untuk Indonesia. "Bantuan berupa potongan harga dengan menggunakan fasilitas Foreign Military Financing (FMF)," ungkap Menteri Pertahanan, Juwono Sudarsono usai mengadakan pertemuan dengan Menteri Pertahanan AS, Robert Gate di sela-sela Forum ke-8 Dialog Keamanan Asia Pasifik "Shangrilla-Dialogue" di Singapura, Minggu (31/5).

Selain itu, AS juga menjanjikan bantuan suku cadang bagi pesawat angkut berat Hercules. Juwono tidak menjelaskan lebih jauh tentang jumlah potongan harga dan jangka waktu kredit yang digunakan untuk pengadaan enam Hercules baru tersebut .

Indonesia mengoperasikan jenis C-130B sejak 1960 dalam dua tahap kedatangan, tahap pertama membeli langsung dari Lockheed sebanyak delapan unit C-130B dan dua KC-130B (air-refueling capability).

Tahap kedua pada tahun 1975 setelah mendapat hibah dari Amerika sebanyak 3 unit C-130B bersama dengan pesawat latih jet T-33A dan helly S-58T lewat program Defense Liaison Group (DLG).

Dalam program peningkatan kemampuan AU pada 1980 didatangkan tiga unit C-130H, 7 unit C-130HS (long body), satu unit C-130 MP (maritime patrol), satu unit L-100-30 (Hercules tipe sipil untuk VIP), selain enam unit L-100-30 yang juga dioperasikan PT Merpati dan Pelita Air untuk program transmigrasi. Populasi Hercules 27 unit di Indonesia kini dioperasikan semua Skuadron Udara 31/Halim dan Skuadron 32/Abdurahman Saleh.

Hingga kini Indonesia memiliki sekitar satu skuadron C-130 Hercules berbagai tipe, yakni C-130 Hercules VIP, C-130 H/HS, C-130 B/H dan C-130 BT dengan tingkat rata-rata kesiapan 60 persen atau sekitar sembilan unit.

Meskipun telah puluhan tahun, TNI AU tetap menggunakan dan memelihara C-130 Hercules melalui perawatan terjadwal service life extension programmed (SLEP), inspection repair as necessary (IRAN), dan program retrofit dengan biaya 51 juta dolar AS untuk empat pesawat agar dapat bertugas lebih lama lagi yakni sekitar 15 tahun.

"Kini dari dua Hercules yang menjalani peremajaan di Singapura, dua telah selesai dan sisanya akan dikerjakan dan menyusul lima unit lainnya," kata Juwono Sudarsono seperti dikutip Antara.

(Jurnal Nasional)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar