13 Juni 2026

Infoglobal Dapatkan Kontrak Ekspor Avionik C-130 Hercules AU Bangladesh

13 Juni 2026

Infoglobal berhasil mendapatkan pesanan 6 unit EFD-5.5 ke Bangladesh (photo: Infoglobal)

Infoglobalavionics -- Pada 11 Juni 2026 di Dhaka, Bangladesh, Infoglobal resmi menandatangani kontrak ekspor avionik untuk pesawat C-130 milik Angkatan Udara Bangladesh.

Melalui kontrak ini, Infoglobal akan mengekspor 6 unit Electronic Flight Display 5.5 (EFD-5.5), sebuah instrumen avionik yang menyediakan informasi penerbangan utama bagi pilot untuk meningkatkan keselamatan, kesadaran situasional, dan efektivitas operasi pesawat.

Pencapaian ini menjadi bukti bahwa teknologi avionik yang dikembangkan dan diproduksi di Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pengguna internasional serta bersaing di pasar global.

Kontrak ini juga memperkuat rekam jejak ekspor Infoglobal sekaligus menjadi langkah penting dalam memperluas kehadiran teknologi pertahanan Indonesia di dunia.

Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada Infoglobal. Kami akan terus berinovasi untuk menghadirkan solusi avionik dan teknologi pertahanan yang andal bagi pengguna di dalam maupun luar negeri.

(Infoglobal)

17 komentar:

  1. BANGLA KOK GA KE MALAYDESH KATANYA SATU RUMPUN SEJATI SUDAH DAPAT KARPET MERAH SEGALA 🤡🤡🤡🤡🤣🤣🤣🤣🤣

    BalasHapus
  2. INFOFLIGHTMENT ,
    HADIRKAN GOSIP PANAS SEPUTAR PENERBANGAN & AVIONIC.

    BalasHapus
  3. Malaydesh ( Malaysia dan Bangladesh,satu ikrar tanah serumpun)

    BalasHapus
  4. wahh Mairod kelewat lagiii haha!🤭🤥😂

    BalasHapus
  5. MAIROD BOTOL IQ BELACAN MANA DIANGGAP OM 🤡🤡🤡🤡🤣🤣🤣🤣🤣

    BalasHapus
  6. INDONESIA bangun 1 unit LPD Filipina = 6 Bulan

    malaydesh bangun 1 unit LCS Gowind class = 15 tahun Belum selesai 100% artinya REAL DELAY.


    Ngerti kan kenapa malaydesh itu LOW IQ Grade, right?

    WKWKWK

    BalasHapus
  7. 2026 AKIBAT SUBSIDI BBM =
    CUT BUDGET
    Malondesh’s treasury has directed all federal ministries and agencies to cut their 2026 operating budgets to offset ballooning subsidy costs caused by the Middle East conflict. Soaring energy prices forced Putrajaya's projected subsidy bill to balloon from RM15 billion to RM58.4 billion
    ----------------------------------
    SURAT UTANG LUAR NEGERI MALAYDESH (1998–2026):
    -
    1998: Fokus restrukturisasi internal; absen di pasar global akibat pembatasan modal.
    -
    1999: Menerbitkan Global Bond USD 1 miliar di AS dan Eropa untuk bukti pemulihan.
    -
    2002: Merilis Sovereign Sukuk Ijarah Global pertama dunia USD 600 juta di London & Timur Tengah.
    -
    2004: Mempromosikan surat utang luar negeri melalui Khazanah Nasional.
    -
    2006: Khazanah menerbitkan Exchangeable Sukuk USD 750 juta di Asia dan Eropa.
    -
    2011: Menerbitkan Wakala Global Sukuk USD 2 miliar; kebanjiran permintaan 4,5 kali lipat.
    -
    2015: Merilis Sukuk Wakala Global USD 1,5 miliar untuk infrastruktur dan utang.
    -
    2016: Menerbitkan Sukuk Global USD 1,5 miliar (tenor 10 & 30 tahun) demi efisiensi biaya.
    -
    2019: Diversifikasi ke Samurai Bond JPY 200 miliar dengan jaminan JBIC di Jepang.
    -
    2021: Meluncurkan Sovereign Sustainability Sukuk USD 1,3 miliar pertama dunia permintaan melonjak 6,4 kali lipat.
    -
    2022–2024: Absen di valas; fokus mempromosikan obligasi domestik (MGS/MGII) untuk menarik modal asing.
    -
    2025: Bersiap kembali ke pasar valas dengan menunjuk bank sindikasi internasional.
    -
    2026: Mempromosikan rencana obligasi global USD 1 miliar
    ----------------------------------
    HUTANG & LIABILITAS MALAYDESH 1998–2026
    -
    1998: RM 103,1 Miliar – Dampak Krisis Keuangan Asia dan dimulainya defisit anggaran berkepanjangan.
    -
    1999: RM 116,6 Miliar – Penerbitan instrumen obligasi domestik baru untuk stimulus ekonomi.
    -
    2000: RM 125,6 Miliar – Restrukturisasi sektor korporasi dan perbankan pasca-krisis selesai.
    -
    2001: RM 145,7 Miliar – Peningkatan belanja pembangunan guna menopang pertumbuhan domestik.
    -
    2002: RM 165,0 Miliar – Rasio utang terhadap PDB mulai merangkak naik secara perlahan.
    -
    2003: RM 188,8 Miliar – Batas plafon utang resmi pertama kali dinaikkan menjadi 40% dari PDB.
    -
    2004: RM 216,6 Miliar – Pengeluaran publik meluas demi mendukung proyek infrastruktur baru.
    -
    2005: RM 228,7 Miliar – Konsolidasi fiskal awal di bawah manajemen kepemimpinan baru.
    -
    2006: RM 242,2 Miliar – Pengendalian defisit secara ketat di tengah lonjakan harga komoditas global.
    -
    2007: RM 266,7 Miliar – Posisi keuangan masih stabil menjelang gejolak finansial global.
    -
    2008: RM 306,4 Miliar – Kenaikan plafon utang menjadi 45% akibat dampak awal krisis finansial global.
    -
    2009: RM 362,4 Miliar – Batas utang melonjak ke 55% demi mendanai paket stimulus ekonomi besar.
    -
    2010: RM 407,1 Miliar – Pertumbuhan awal pasca-krisis finansial global.
    -
    2011: RM 456,1 Miliar – Rasio utang mulai meningkat stabil.
    -
    2012: RM 501,6 Miliar – Melewati ambang batas RM 500 miliar.
    -
    2013: RM 547,7 Miliar – Ekspansi belanja infrastruktur nasional.
    -
    2014: RM 582,8 Miliar – Berdasarkan Laporan Keuangan Pemerintah Federal 2014.
    -
    2015: RM 630,5 Miliar – Penyesuaian ekonomi akibat fluktuasi harga minyak.
    -
    2016: RM 648,5 Miliar – Konsolidasi fiskal di bawah pemerintahan saat itu.
    -
    2017: RM 686,8 Miliar – Data tercatat dalam Laporan Tahunan Bank Negara Malaydesh 2017.
    -
    2018: RM 1,19 Triliun – Transparansi Baru: Termasuk liabilitas 1MDB & proyek PPP. [
    -
    2019: RM 1,25 Triliun – Laporan pengungkapan utang menembus RM 1 triliun.
    -
    2020: RM 1,32 Triliun – Lonjakan akibat paket stimulus pandemi COVID-19.
    -
    2021: RM 1,38 Triliun – Akumulasi utang federal selama masa pemulihan ekonomi.
    -
    2022: RM 1,45 Triliun – Posisi utang sebelum pergantian pemerintahan.
    -
    2023: RM 1,53 Triliun – Dikonfirmasi oleh PM Anwar Ibrahim sebagai warisan utang & liabilitas.
    -
    2024: RM 1,63 Triliun – Berdasarkan Belanjawan (APBN) 2024.
    -
    2025: RM 1,71 Triliun – Proyeksi dalam Tinjauan Fiskal 2026 (Kementerian Kewangan).
    -
    2026: RM 1,79 Triliun – Target manajemen utang dalam Economic Outlook 2026.

    BalasHapus
  8. Avionik lon..punya Hercules lagi..malon bikin amunisi Segede alat viral tikus je kagak bisaaa..🤣🤣🤣🤪😜😝

    BalasHapus
  9. Alhamdulillah,,,quality kerja dan produk anak bangsa di akui dunia,,lanjutken!

    BalasHapus
  10. Malaydesh kepakaran bikin Kondom Rasa Kurma dan Belacan....🇲🇾🙈🙈🙈🙈🇲🇾💩💩💩💩🇲🇾🤮🤮🤮🤮🇲🇾😝😝😝😝

    BalasHapus
  11. Bangla punya Herky J, malaydesh tak punya...🤣🤣😂😂😛

    BalasHapus
  12. MALAYDESH CUMA PUNYA OTAK BOTOL BELACAN 💩💩💩💩🇲🇾🤮🤮🤮🤮

    BalasHapus
  13. MALONDESH CUT DEFENSE BUDGET
    -
    • Kementerian Dalam Negeri (KDN): Dipotong RM674 juta.
    • Perbendaharaan (Kementerian Kewangan): Dipotong RM664 juta.
    • Kementerian Kemajuan Desa dan Wilayah (KKDW): Dipotong RM571 juta.
    • Kementerian Pertahanan (MINDEF): Dipotong RM508 juta.
    • Kementerian Pendidikan (KPM): Dipotong RM466 juta.
    --------------------------------
    SURAT UTANG LUAR NEGERI MALAYDESH (1998–2026):
    -
    1998: Fokus restrukturisasi internal; absen di pasar global akibat pembatasan modal.
    -
    1999: Menerbitkan Global Bond USD 1 miliar di AS dan Eropa untuk bukti pemulihan.
    -
    2002: Merilis Sovereign Sukuk Ijarah Global pertama dunia USD 600 juta di London & Timur Tengah.
    -
    2004: Mempromosikan surat utang luar negeri melalui Khazanah Nasional.
    -
    2006: Khazanah menerbitkan Exchangeable Sukuk USD 750 juta di Asia dan Eropa.
    -
    2011: Menerbitkan Wakala Global Sukuk USD 2 miliar; kebanjiran permintaan 4,5 kali lipat.
    -
    2015: Merilis Sukuk Wakala Global USD 1,5 miliar untuk infrastruktur dan utang.
    -
    2016: Menerbitkan Sukuk Global USD 1,5 miliar (tenor 10 & 30 tahun) demi efisiensi biaya.
    -
    2019: Diversifikasi ke Samurai Bond JPY 200 miliar dengan jaminan JBIC di Jepang.
    -
    2021: Meluncurkan Sovereign Sustainability Sukuk USD 1,3 miliar pertama dunia permintaan melonjak 6,4 kali lipat.
    -
    2022–2024: Absen di valas; fokus mempromosikan obligasi domestik (MGS/MGII) untuk menarik modal asing.
    -
    2025: Bersiap kembali ke pasar valas dengan menunjuk bank sindikasi internasional.
    -
    2026: Mempromosikan rencana obligasi global USD 1 miliar
    ----------------------------------
    HUTANG & LIABILITAS MALAYDESH 1998–2026
    -
    1998: RM 103,1 Miliar – Dampak Krisis Keuangan Asia dan dimulainya defisit anggaran berkepanjangan.
    -
    1999: RM 116,6 Miliar – Penerbitan instrumen obligasi domestik baru untuk stimulus ekonomi.
    -
    2000: RM 125,6 Miliar – Restrukturisasi sektor korporasi dan perbankan pasca-krisis selesai.
    -
    2001: RM 145,7 Miliar – Peningkatan belanja pembangunan guna menopang pertumbuhan domestik.
    -
    2002: RM 165,0 Miliar – Rasio utang terhadap PDB mulai merangkak naik secara perlahan.
    -
    2003: RM 188,8 Miliar – Batas plafon utang resmi pertama kali dinaikkan menjadi 40% dari PDB.
    -
    2004: RM 216,6 Miliar – Pengeluaran publik meluas demi mendukung proyek infrastruktur baru.
    -
    2005: RM 228,7 Miliar – Konsolidasi fiskal awal di bawah manajemen kepemimpinan baru.
    -
    2006: RM 242,2 Miliar – Pengendalian defisit secara ketat di tengah lonjakan harga komoditas global.
    -
    2007: RM 266,7 Miliar – Posisi keuangan masih stabil menjelang gejolak finansial global.
    -
    2008: RM 306,4 Miliar – Kenaikan plafon utang menjadi 45% akibat dampak awal krisis finansial global.
    -
    2009: RM 362,4 Miliar – Batas utang melonjak ke 55% demi mendanai paket stimulus ekonomi besar.
    -
    2010: RM 407,1 Miliar – Pertumbuhan awal pasca-krisis finansial global.
    -
    2011: RM 456,1 Miliar – Rasio utang mulai meningkat stabil.
    -
    2012: RM 501,6 Miliar – Melewati ambang batas RM 500 miliar.
    -
    2013: RM 547,7 Miliar – Ekspansi belanja infrastruktur nasional.
    -
    2014: RM 582,8 Miliar – Berdasarkan Laporan Keuangan Pemerintah Federal 2014.
    -
    2015: RM 630,5 Miliar – Penyesuaian ekonomi akibat fluktuasi harga minyak.
    -
    2016: RM 648,5 Miliar – Konsolidasi fiskal di bawah pemerintahan saat itu.
    -
    2017: RM 686,8 Miliar – Data tercatat dalam Laporan Tahunan Bank Negara Malaydesh 2017.
    -
    2018: RM 1,19 Triliun – Transparansi Baru: Termasuk liabilitas 1MDB & proyek PPP. [
    -
    2019: RM 1,25 Triliun – Laporan pengungkapan utang menembus RM 1 triliun.
    -
    2020: RM 1,32 Triliun – Lonjakan akibat paket stimulus pandemi COVID-19.
    -
    2021: RM 1,38 Triliun – Akumulasi utang federal selama masa pemulihan ekonomi.
    -
    2022: RM 1,45 Triliun – Posisi utang sebelum pergantian pemerintahan.
    -
    2023: RM 1,53 Triliun – Dikonfirmasi oleh PM Anwar Ibrahim sebagai warisan utang & liabilitas.
    -
    2024: RM 1,63 Triliun – Berdasarkan Belanjawan (APBN) 2024.
    -
    2025: RM 1,71 Triliun – Proyeksi dalam Tinjauan Fiskal 2026 (Kementerian Kewangan).
    -
    2026: RM 1,79 Triliun – Target manajemen utang dalam Economic Outlook 2026.

    BalasHapus
  14. Banglades :
    Kereta api made in indonesia masuk..
    Bus indonesia ..masuk...
    Oh avionik hercules ..masuk...

    BalasHapus
  15. 1998 - 2026 = 28 TAHUN
    PENDAPATAN : RM334,1 Miliar
    PENGELUARAN : RM470 Miliar
    BEBAN SUBSIDI 23,9%
    RM470 – RM334,1 = MINUS RM135,9 ......
    --------------------------------
    HUTANG & LIABILITAS MALONDESH 1998–2026
    1998 : RM 165,4 Miliar
    1999 : RM 178,3 Miliar
    2000 : RM 192,2 Miliar
    2001 : RM 207,2 Miliar
    2002 : RM 223,3 Miliar
    2003 : RM 240,7 Miliar
    2004 : RM 259,5 Miliar
    2005 : RM 279,7 Miliar
    2006 : RM 301,5 Miliar
    2007 : RM 325,0 Miliar
    2008 : RM 350,4 Miliar
    2009 : RM 377,7 Miliar
    2010 : RM 407,1 Miliar
    2011 : RM 456,1 Miliar
    2012 : RM 501,6 Miliar
    2013 : RM 547,7 Miliar
    2014 : RM 582,8 Miliar
    2015 : RM 630,5 Miliar
    2016 : RM 648,5 Miliar
    2017 : RM 686,8 Miliar
    2018 : RM 1,19 Triliun
    2019 : RM 1,25 Triliun
    2020 : RM 1,32 Triliun
    2021 : RM 1,38 Triliun
    2022 : RM 1,45 Triliun
    2023 : RM 1,53 Triliun
    2024 : RM 1,63 Triliun
    2025 : RM 1,71 Triliun
    2026 : RM 1,79 Triliun
    -
    SUMBER :
    Bloomberg & Reuters | CNA & The Star | The Edge Malondesh | MOF & Bernama | Kementerian Kewangan
    --------------------------------_
    TAHUN RASIO UTANG TERHADAP GDP (%) 1998–2025
    1998 : 35,8%
    1999 : 40,4%
    2000 : 36,1%
    2001 : 42,5%
    2002 : 44,9%
    2003 : 45,9%
    2004 : 45,1%
    2005 : 43,8%
    2006 : 41,5%
    2007 : 41,1%
    2008 : 41,3%
    2009 : 51,1%
    2010 : 52.4%
    2011 : 51.8
    2012 : 53.3
    2013 : 54.7
    2014 : 55.0
    2015 : 55.1
    2016 : 52.7
    2017 : 51.9
    2018 : 52.5
    2019 : 52.4
    2020 : 62.0
    2021 : 63.3
    2022 : 60.2
    2023 : 64.3
    2024 : 70.4
    2025 : 70.5
    -
    SUMBER : Macrotrends / World Bank / Statista / Trading Economics
    --------------------------------
    DEFISIT FISKAL MALONDESH PERIODE 1998–2025:
    1998 : -1,8% (± USD 33,6 MILIAR)
    1999 : -3,2% (± USD 34,3 MILIAR)
    2000 : -5,8% (± USD 32,5 MILIAR)
    2001 : -5,5% (± USD 38,0 MILIAR)
    2002 : -5,6% (± USD 39,5 MILIAR)
    2003 : -5,0% (± USD 41,3 MILIAR)
    2004 : -4,1% (± USD 41,9 MILIAR)
    2005 : -3,6% (± USD 40,7 MILIAR)
    2006 : -3,3% (± USD 39,6 MILIAR)
    2007 : -3,2% (± USD 39,3 MILIAR)
    2008 : -4,8% (± USD 39,3 MILIAR)
    2009 : -6,7% (± USD 50,4 MILIAR)
    2010 : -5,4% (± USD 51,8 MILIAR)
    2011 : -4,8% (± USD 53,7 MILIAR)
    2012 : -4,5% (± USD 55,6 MILIAR)
    2013 : -3,9% (± USD 55,3 MILIAR)
    2014 : -3,4% (± USD 56,9 MILIAR)
    2015 : -3,2% (± USD 55,7 MILIAR)
    2016 : -3,1% (± USD 54,3 MILIAR)
    2017 : -3,0% (± USD 55,6 MILIAR)
    2018 : -3,7% (± USD 57,0 MILIAR)
    2019 : -3,4% (± USD 67,6 MILIAR)
    2020 : -6,2% (± USD 69,1 MILIAR)
    2021 : -6,4% (± USD 65,5 MILIAR)
    2022 : -5,6% (± USD 69,7 MILIAR)
    2023 : -5,0% (± USD 68,3 MILIAR)
    2024 : -4,1% (± USD 298,4 MILIAR) (Pemangkasan subsidi)
    2025 : -3,8% (± USD 325,6 MILIAR) (Rasionalisasi RON95)
    -
    SUMBER:
    IMF | World Economic Outlook | World Bank | Bank Negara Malondesh.
    --------------------------------
    MAHATHIR = MALAS MISKIN
    menyebut orang-orang suku Melayu terus-terusan miskin karena tak mau bekerja keras. Ia pun mengkritik sifat warga Melayu yang malah menyalahkan etnis lain karena kesuksesan mereka.
    -
    Sumber Berita:
    The New York Times (2025): "Mahathir Mohamad, 99, Reflects on a Contentious Legacy".
    Kompas (2019): "Mahathir: Suku Melayu Tetap Miskin karena Tak Mau Bekerja Keras".
    Today Online (2014): "Mahathir defends 'lazy Malays' remarks"
    -
    ANWAR IBRAHIM = MISKIN
    “Tapi saya kata, sebagai contoh projek tebatan banjir…kerana banjir itu menyeksa rakyat dan yang jadi mangsa itu orang miskin dan majoriti yang miskin itu Melayu.
    -
    Sumber Berita:
    Bernama (2025): "PM Anwar Wants Flood Mitigation, Poverty Eradication Projects To Be Expedited".
    Kementerian Kewangan Malondesh (2025): "PM Anwar: Flood Mitigation, Hardcore Poverty Eradication Projects Must Be Expedited".
    The Straits Times (2022): "Malondesh PM Anwar halts $2b flood projects in widened dragnet".
    --------------------------------
    2026 Government Debt-to-GDP Ratio: 70.5%
    (Note: This has exceeded the established safety threshold of 65%)
    -
    2026 Household Debt-to-GDP Ratio: 84.3%
    (Note: This has also exceeded the safety threshold of 65%)
    =============
    =============
    INDONESIA
    2026 Government Debt-to-GDP Ratio: 40,46%
    (Note: The safety threshold of 60%)
    -
    2026 Household Debt-to-GDP Ratio: 15,70%
    (Note: The safety threshold of 60%)

    BalasHapus