20 Mei 2009

LIPI Kembangkan Radar Pengawas Pantai

16 April 2007
Radar Indra-1 salah satu radar yang berhasil dikembangkan (photo : Defense Studies)

Untuk memenuhi kebutuhan yang besar di dalam negeri, Lembaga Ilmu Pengetahuan indonesia (LIPI) mengembangkan radar pengawas pantai secara mandiri. Proyek penelitian yang dimulai sejak pertengahan tahun 2006 ini diharapkan dapat menghasilkan prototip radar siap pakai pada pertengahan tahun 2008.

Pengembangan radar ini merupakan hasil kerja sama Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi (P2ET) dan International Research Centre for Telecommunications-transmission and Radar Technical University (IRCTR-TU) Delft, Belanda. LIPI bertanggung jawab untuk membuat bagian hardware yang terdiri dari rangka, penerima sinyal, dan antena radar. Sedangkan desainnya dirancang TU Delft.

Pada tahap pertama akan dilakukan perancangan antena yang dilakukan para peneliti dari LIPI dan TU Delft Belanda. Perancangan dan realisasi bagian pengolah citra radar termasuk display unit akan dilakukan antara tahun 2007 hingga 2008. Sementara itu, integrasi sistem radar dan pengujian lapangan serta penyempurnaan diharapkan selesai pada tahun 2008.

Hemat

Pembuatan radar pengawas pantai merupakan kontribusi LIPI untuk membantu pemerintah untuk mengawasi seluruh perairan di wilayah Indonesia. Sebab, dengan membuatnya sendiri ongkos yang harus dikeluarkan bisa dihemat hingga 10 persen daripada radar yang diimpor. Selain itu, radar termasuk perangkat yang sulit didapat karena merupakan teknologi strategis.

"Untuk membeli satu unit radar TNI memerlukan dana di atas 100.000 dolar AS. BMG bahkan membeli radar cuaca hingga puluhan miliar rupiah, padahal harga komponennya sendiri sebenarnya tidak sampai Rp500 juta," kata Kepala ujar Dr. Mashury, Kepala Bidang Telekomunikasi P2ET LIPI kepada pers di Jakarta, Senin (16/4).

Ia mengatakan, sebagai negeri yang memiliki lebih dari 17.000 pulau, luas perairan sekitar 8,5 juta kilometer persegi, dan panjang pantai 5.556 kilometer, Indonesia membutuhkan banyak sekali radar pengawas pantai. Selain itu, karena pengawasan yang minim, Indonesia sudah mengalami kerugian sekitar Rp188 triliun akibat pencurian pasir laut, penyelundupan BBM, penyelundupan kayu ilegal, dan pencurian kekayaan laut seperti ikan.

Sementara itu, perbandingan jumlah kapal terhadap luas wilayah perairan di Indonesia 1 berbanding 72 ribu kilometer persegi. Departemen Pertahanan memperkirakan, dibutuhkan sekitar 350 kapal patroli untuk mengawasi seluruh wilayah perairan.

"TNI AL hanya memiliki 117 kapal, 77 di antaranya berusia 21 hingga 60 tahun dan segera digudangkan. Belum lagi biaya operasionalnya yang sangat besar. Karena itu penempatan radar akan jauh lebih efektif," katanya.

Menurut Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI Prof. D.r Masbah Siregar, radar maritim pertama buatan Indonesia ini akan dipasang di perairan Cilegon pada tahun 2008. Sistem radar tersebut dapat digunakan untuk mengatur lalu lintas kapal, memonitor kapal-kapal yang berlayar perairan Indonesia, serta mengamankan wilayah dari kapal penyusup.(Wah)

(Kompas)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar