26 Mei 2009

Tucano Gantikan OV-10 Bronco

11 April 2008
OV-10F dan Super Tucano (photo : Airliners)

Tawaran menarik pembelian KO-1 Wong Bee tidak menjadi pilihan TNI AU.
MARKAS Besar (Mabes) TNI AU akhirnya memutuskan pengganti pesawat OV-10 Bronco yang dikandangkan medio 2007 lalu. "Penggantinya Super Tucano dari Brazil. Sudah ada keputusan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU)," ujar Wakil KSAU Marsdya I Gusti Made Oka disela-sela peringatan HUT TNI AU ke-62 di Jakarta, Rabu (9/4).

Kata Oka, keputusan ini selanjutnya diajukan ke Departemen Pertahanan (Dephan) sebagai pengambil kebijakan. "Sekarang ada di tangan Dephan," tuturnya. Bronco yang mulai digunakan TNI AU sejak 1979 dikandangkan karena usia terbang yang sudah lewat.

Usia uzur diyakini menurunkan kinerjanya sehingga terjadi kecelakaan beruntun.
Sebelumnya, 21 Juli 2005 pesawat tempur taktis itu jatuh saat melakukan latihan rutin hingga menewaskan tiga awaknya. Medio 2007, pesawat sejenis juga jatuh saat melakukan latihan ringan di sekitar Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh, Malang. Satu orang penerbang tewas.

Buntutnya, Skadron Udara 21, homebase Bronco, dinyatakan vakum. Delapan pesawat yang ada dinyatakan tidak laik terbang. Personel tempur pun nganggur. Sejak saat itu, matra udara mendesak agar Dephan segera mengalokasikan dana untuk pengganti pesawat buatan North American Rockwell, Amerika Serikat itu.

"Sebenarnya harapan kami akhir 2008 sudah ada dana. Tapi nampaknya harus bersabar hingga 2009," kata lulusan terbaik AAU tahun 1975 itu. Selain Super Tucano, alternatif lainnya adalah KO-1 Wong Bee (Korea Selatan). TNI AU malah telah punya satu skadron latih KT-IB yang diimpor tahun 2003.

Perbedaan pesawat ini hanya pada persenjataan dan instrumen pendukung pesawat. Pemilihan KO-1 juga melancarkan rencana matra udara yang ingin merampingkan jenis pesawatnya.

Oka menambahkan, pemerintah Korsel juga memberi tawaran menarik. Pembelian satu skadron KO-1 sebesar US$200 juta (sekitar Rp1,8 triliun) akan digunakan Korsel untuk membeli pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia.

"Jadi uangnya tidak kemana-mana," ucapnya. Hanya saja, masih banyak problem di KT-1B yang belum bisa dipecahkan. TNI AU sangat sulit menyiapkan pesawat ini siap 75 persen. Bandingkan dengan pesawat latih Charlie yang telah dimiliki sejak tahun 1970-an kini kesiapannya masih 75 persen. "Masih kami gali, ada apa dengan pesawat Korsel ini," kata Oka. Karena itu, pemilihan Super Tucano dianggap terbaik.

(Jurnal Nasional)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar