26 Mei 2009

Simulator C-130H : Alat Tercanggih di Asia Pasifik

11 April 2008

C-130 Hercules TNI-AU (photo : Indoflyer)

Simulator Hercules di Pangkalan TNI A (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta, menjadi perlengkapan latih yang termodern di matra udara. "Bakan tercanggih di Asia Pasifik," ujar Komandan Wing I, Lanud Halim Kolonel Pnb Gutomo.

Maklum saja, alat yang dibeli merupakan produk terakhir simulator C-130 versi H yang sudah electronic flight instrument system. Beberapa keunggulan lainnya, sudut pandang awak kokpit yang lebar hingga 180 derajat. Beda dengan simulator sebelumnya yang hanya menggunakan empat proyektor sehingga pandangan awak kokpit terbatas pada pandangan depan saja.

Kokpitnya bisa memuat enam orang, pilot, kopilot, observer, navigator, flight engineer, dan instruktur. Versi terbaru juga bisa membuat berbagai macam lanskap landasan. Panjang dan lebar bisa diatur. Berbagai macam halangan (obstacle) bisa dimunculkan.

Termasuk sarana dan prasarana yang ada di pangkalan. "Jadi bisa bikin sesuai yang diminta," ucap Gutomo. Tidak hanya itu, jika versi sebelumnya sistem hidrolik hanya 1.300 psi, simulator terbaru berkemampuan 1.800 psi. Tekanan ini membuat akselerasi saat take off maupun landing, aksi kontrol, nose gear, maupun main gear persis sama dengan aslinya.

"Perawatannya juga mudah karena sistemnya telah terpadu," katanya. Sebelumnya, para penerbang Hercules TNI AU pergi dan berlatih simulator di Singapura. Ketika itu, hanya negeri Singa yang memiliki simulator C-130 Hercules versi B buatan tahun 1979. Namun sejak memiliki semulator ini, 2000, kini tak perlu lagi.

Tidak semua negara punya simulator. Wajar jika berbagai negara tetangga, seperti Angkatan Udara Singapura, Malaysia, dan Filipina pernah melakukan latihan di simulator ini. Menurut Gutomo, simulator menjadi jawaban bagi keterbatasan anggaran dan fasilitas yang dimiliki. Apalagi dalam operasional pelaksanaan tugas harus mampu menyelenggarakan program keselamatan terbang dan kerja agar misi dapat berhasil dan zero accident dapat terwujud.

(Jurnal Nasional)

Baca Juga :

Jelajah 100 Bandara dengan Simulator C-130H
3 Desember 2001


Simulator C-130H TNI Angkatan Udara (photo : Angkasa)

Benar kata pemeo. Dari luar C-130 Hercules tak lebih sebuah truk pengangkut. Tapi coba rasakan menerbangkannya, dia bahkan seringan Cessna. Tidak salah, pesawat ini digunakan di lebih 66 negara. Angkasa turut meninjau keberadaan simulator canggih versi H seharga 30 juta dollar AS, yang belum banyak diketahui orang ini, di Fasilitas Latihan Wing I Lanud Halim Perdanakusuma.

Keberadaan Simulator C-130H di Fasilitas Latihan (Faslat) Wing I Lanud Halim Perdanakusuma memang belum terbilang lama. Instalasi kesemua perangkatnya sendiri baru dilaksanakan pada 5 Desember 1999 saat simulator ini tiba dari vendornya Canadian Aviation Electronic (CAE), Kanada. TNI AU yang memiliki tidak kurang 25 buah C-130 (Skadron Udara 31 dan 32), melakukan kontrak pembeliannya pada tahun 1997. Namun tidak lama kemudian negara masuk krisis ekonomi sehingga pengaktifan kontraknya baru dibuka lagi pada awal 1999.

Namun dengan diberlakukannya embargo suku cadang oleh AS terhadap Indonesia, menyebabkan keberadaan simulator yang setara dengan harga dua setengah pesawat aslinya ini tidak dipublikasikan TNI AU kepada umum. Baru setelah pencabutan embargo suku cadang beberapa bulan silam, KSAU memberikan keleluasaan kepada Faslat Wing I sebagai pengelolanya untuk membuka kran publikasi sekaligus memasarkannya ke negara-negara operator C-130.

Dalam Surat Keputusan KSAU No: Kep/26/X/2000 dijelaskan tentang pinjam pakai dan pemanfaatan Simulator C-130H yang ada di Wing I Lanud Halim Perdanakusuma kepada Induk Koperasi TNI AU (Inkopau). Semisal kapasitas diam (idle capacity) dari jam latih yang tidak terpakai oleh para penerbang C-130 TNI AU, bisa disewakan guna menambah dana pemeliharaan.

Tentang kapasitas diam, dari 24 jam operasi per satu hari sesuai rekomendasi CAE, ternyata para penerbang TNI AU hanya menghabiskan empat jam latihan per hari, atau setara 80 jam dalam satu bulan (hitungan 20 hari aktif satu bulan). "Itu pun sudah maksimal. Pada saat terjadi banyak misi seperti ke Aceh, Ambon, dan lainnya beberapa waktu lalu, maka yang terpakai hanya 40 jam," ujar Mayor (Tek) Teguh Purwo S, SE Kepala Faslat Simulator C-130H menjelaskan.

Teguh melanjutkan, bila menggunakan rumusan boleh operasi 24 jam perhari, dalam satu tahun akan terkumpul 4.800 jam. Sedangkan jam terpakai oleh TNI AU per tahun hanya 960 jam, atau maksimal 1.500 jam. "Berarti di sini ada idle capacity sekitar 3.000-an jam," urai Teguh.

Digunakan RSAF

Teguh dengan 19 orang anggotanya segera bergerak. Dalam beberapa bulan promosi, alhasil sambutan datang dengan cukup baik. Angkatan Udara Singapura (RSAF) adalah salah satu yang langsung menandatangani kontrak setelah melakukan kunjungan pada bulan Mei lalu. "Tiga slot pelatihan pada akhir tahun ini dan 30 slot lagi untuk tahun 2002," jelas Teguh Purwo yang keberatan menyebut nilai kontrak antara RSAF dengan Inkopau. "Kami hanya pelaksana teknis saja. Yang jelas, sebagai gambaran, biaya perawatan ideal 200 dollar AS per jam, terbantulah dengan kontrak itu," ujarnya singkat.

Selain RSAF, TUDM (AU Malaysia), dan Filipina juga telah melakukan kunjungan. TUDM diperkirakan menyusul melakukan kontrak pada Desember ini. "Bila bicara peluang, dapat dikatakan penyewaan simulator C-130 di kawasan Asia Pasifik (saja) sudah cukup besar. Data 1992 menyebutkan, dari 153 C-130 militer yang dioperasikan di Asia, hanya Indonesia yang memiliki simulator," urai lulusan AAU tahun 1997 ini.

AU Singapura, sebelumnya memang memiliki Simulator C-130B buatan tahun 1979. Bahkan dengan simulator ini pula para penerbang Hercules TNI AU sebelumnya pergi dan berlatih di negara dengan wilayah kecil ini. Namun pada bulan Juli lalu, simulator ini telah dijual seiring nilai investasinya yang telah kembali (ROI-return of investment). "Australia punya simulator versi E dan J, tetapi mereka tidak menyewakannya kepada negara lain," tambah Teguh.

Fasilitas Canggih

Beruntung TNI AU membeli produk terakhir simulator C-130 versi H (di luar seri terbaru C-130J yang instrumennya sudah EFIS-electronic flight instrument system). Simulator versi H ini bahkan yang tercanggih dari yang dipunyai lebih dahulu oleh Belgia, Mesir, dan Singapura.

Beberapa keunggulan sebut saja, misalnya, sudut pandang awak kokpit (memuat enam orang: pilot, kopilot, observer, navigator, flight engineer, dan instruktur) yang lebar hingga 180 derajat. Beda dengan simulator versi sebelumnya yang hanya menggunakan empat proyektor sehingga pandangan awak kokpit terbatas pada pandangan depan saja.

"Sistem hidrolik yang sudah 1.800 psi (versi sebelumnya hanya 1.300 psi) membuat akselerasi pada saat take off maupun landing, aksi kontrol kolom, nose gear, maupun main gear persis sama dengan aslinya," ujar Teguh. Lebih dari itu pada simulator ini 'tersimpan' 100 bandara dunia, baik militer maupun sipil. Ditambah satu sistem generik, dimana landasan dengan lanskap yang diinginkan bisa dibuat. "Mau panjang-lebar landasannya berapa, lampu landasannya model apa, apron-nya mau di sebelah kiri atau kanan, ada gunung atau laut di sebelahnya dan sebagainya. Jadi misalnya, bila tim suatu negara ke sini ternyata landasannya tidak ada, maka kita bisa bikin sesuai yang diminta," jelasnya.

Dengan server komputer IBM RISC/6000, processor AIX 4.2.1 dan sistem pemrograman bahasa Fortran dan C-languange, diakui Teguh, menjadikan fasilitas simulator ini terpadu dan gampang dioperasikan. Terpadu karena sistemnya tidak terpisah-pisah dan bahasanya mudah. "Perawatannya juga mudah, karena sudah menggunakan modul, card, dan indikator bila ada malfungsi. Yang kedua karena menggunakan sistem remove and replace (angkat dan ganti)," tambah lulusan terbaik kursus flight engineer tahun 1998 kelahiran Tulungagung, 25 Maret 1964 ini.

Efektivitas maupun efisiensi dari adanya simulator yang telah digunakan sekitar 675 jam operasi ini diutarakan Teguh mencakup beberapa hal. Yang utama, tentu bisa mengurangi jam terbang pesawat sebenarnya. Dengan simulator ini juga para penerbang dapat melakukan simulasi emergensi yang paling berbahaya sekalipun. Contohnya bila kabel tuas gas (throttle) putus sehingga begitu digerakkan, reaksinya hilang. Bagaimana cara menanggulanginya? Coba bayangkan bila hal ini terjadi dalam penerbangan sesungguhnya, sementara penerbang belum pernah melakukan simulasi?

Lalu bila terjadi kebakaran pada mesin. Bagaimana tindakan yang harus diambil penerbang. Begitupun latihan air refuelling (isi bahan bakar di udara), terbang malam, terbang dalam kondisi alam buruk, simulasi es (icing), berlatih mendrop barang pada ketinggian rendah (LAPES- low altitude parachute extraction system), terbang formasi dalam jarak dekat hingga lebih delapan pesawat, dan simulasi berbahaya lainnya.

Pada akhirnya, mempunyai fasilitas simulator sendiri memang adalah tuntutan itu sendiri. Demi meningkatkan keselamatan penenerbangan yang sepanjang zaman menjadi tuntutan yang tidak akan pernah berhenti. Lebih dari itu, bila keberadaannya juga bisa didayagunakan guna mendatangkan uang, mengapa tidak? (ron)

(Angkasa)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar