20 Mei 2009

TNI-AD Bangun Delapan Skadron Helikopter

22 Maret 2007

Bell 205 TNI Angkatan Darat dalam latihan penyerbuan (photo : Kaskus Militer)

Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad), Jenderal TNI Djoko Santoso mengatakan, TNI AD berencana membangun minimal delapan skuadron helikopter untuk membentuk satuan penerbad yang kuat, solid, modern, dan profesional.

Kasad usai upacara peresmian Korps Penerbangan Angkatan Darat di Lanumad A. Yani Semarang, Kamis, menyebutkan, skuadron tersebut di antaranya di Semarang (dua skuadron), di Waituba (satu skuadron), Kalimantan Timur (satu skuadron), NTT (satu skuadron), Papua (satu skuadron), dan di Maluku dan Sulawesi (satu skuadron).

"Sampai saat ini, kita baru mempunyai empat skuadron helikopter. Kita akan membangun empat skuadron lagi karena begitu pentingnya kekuatan AD, baik dalam rangka membantu satuan manuver menjadi unsur bantuan tembakan, maupun unsur bantuan administrasi, dan kodal (komando pengendalian)," katanya.

Termasuk, lanjut dia, dalam melaksanakan operasi militer selain perang, yaitu membantu mengatasi bencana alam. "Helikopter merupakan satu alutsista (alat utama sistem pertahanan) yang sangat penting untuk segera dibangun di Tanah Air," katanya.

Soal penambahan pesawat helikopter, dia mengatakan, memang sudah direncanakan sesuai dengan kemampuan pemerintah. "Untuk menambah empat skuadron ini, kita akan menambah 135 helikopter," katanya.

Ketika ditanya realisasi penambahan pesawat tersebut, dia mengatakan, sesuai dengan kemampuan negara secara bertahap per tahun anggaran.

Ia mengatakan, pembangunan angkatan bersenjata atau perang tidak bergantung pada alutsista.

Ia menjelaskan, yang pertama untuk membangun kekuatan angkatan bersenjata adalah dari sisi manusianya, pemimpinnya, dan para prajuritnya, kemudian yang kedua adalah kekuatan nonfisik.

Kekuatan nonfisik tersebut, menurut dia, adalah militansinya, disiplin, memahami tugas, dukungan rakyatnya, doktrinnya, dan terakhir alutsistanya.

"Kita bertahap saja tidak apa-apa, tetapi kita siapkan manusianya, militansinya, siapkan latihannya, dan kita bersama serta menyelesaikan permasalahan dengan rakyat. Ini modal yang sangat besar," katanya.

Ketika ditanya soal teknologi persenjataan dalam negeri, dia mengatakan, TNI AD memang memiliki komitmen untuk alutsista yang bisa dibuat di dalam negeri, seperti di Pindad, adalah senjata-senjata yang dipakai batalyon infantri.

"Kita membeli dari dalam negeri, termasuk juga panser-panser ringan untuk alat angkut personel, kecuali teknologi-teknologi yang tinggi, seperti rudal masih beli dari luar negeri," katanya.

Tetapi, kata dia, pengembangan harus tetap ke sana karena sebagai bangsa yang ingin maju, pengembangan ke depan harus diikuti dan diupayakan. "Kita harus bisa buat sendiri," katanya.

(Antara)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar