08 Juni 2016

Indonesia Importir Senjata Ke-2 Terbesar ASEAN

08 Juni 2016


Impor alutsista Indonesia terbanyak berasal dari Cina sebanyak 648 unit.(image : katadata)

Indonesia importir sistem persenjataan (alutsista) terbesar kedua di Asia Tenggara. Lembaga independen internasional pengkaji bidang militer, Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) pada 2015 mencatat impor alutsista Indonesia mencapai US$ 683 juta (sekitar Rp9,3 triliun). Jumlah tersebut hanya kalah dari Vietnam yang mengimpor senjata senilai US$ 870 (sekitar Rp11,8 triliun).

Pengeluaran militer Vietnam meningkat dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Selain terbesar di ASEAN, Vietnam juga merupakan importir alutsista terbesar ke-8 dunia. Besarnya pengeluaran militer Negeri Paman Ho ini seiring dengan upaya peningkatan kapasitas militer untuk menghadapi ancaman Cina memperebutkan kawasan Laut Cina Selatan, wilayah yang kaya perikanan, minyak dan gas.

Pengeluaran impor senjata oleh Indonesia bertujuan untuk peremajaan sekaligus penguatan pertahanan nasional. Impor alutsista Indonesia terbanyak berasal dari Cina (648 unit), Inggris (505 unit), dan Amerika Serikat (462 unit).

Seiring dengan komitmen pemerintah memperkuat sektor maritim, belanja alutsista Angkatan Laut sebanyak 977 unit atau 39,7 persen, hampir mengimbangi Angkatan Darat sebanyak 1.118 unit atau 45,5 persen. Lima jenis alutsista paling banyak diimpor Indonesia adalah C-705, Starstreak, FGM-148 Javelin, AGM-114K HELLFIRE, dan Mistral. Dua jenis pertama merupakan jenis rudal mencapai 500 unit untuk masing-masing jenis.

Meski melakukan impor alutsista cukup besar, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta impor kebutuhan pertahanan nasional dikurangi untuk mewujudkan kemandirian pertahanan dengan mengembangkan industri pertahanan dalam negeri. Bahkan pada akhir 2015 Jokowi menolak rencana pembelian helikopter AgustaWesland AW101 buatan pabrikan Inggris-Italia. 

Dengan mempertimbangkan kondisi keuangan negara, Jokowi menilai helikopter tersebut terlalu mahal dan helikopter kepresidenan saat ini masih dapat digunakan secara maksimal.

(Katadata)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar