28 Juni 2016

Tawaran Resmi Saab : 6 Gripen Dirakit di Indonesia

28 Juni 2016


Saab Gripen E/F (photo : Saab)

Saab Swedia resmi tawarkan JAS39 Gripen kepada Indonesia

Jakarta (ANTARA News) - Pesawat tempur multi peran buatan Saab Swedia, JAS39 Gripen, secara resmi telah ditawarkan kepada pemerintah Indonesia. 

“Kami telah mengajukan proposal resmi kepada Kementerian Indonesia pada Februari lalu dan kami menawarkan berbagai pola kerja sama dan transfer teknologi yang baik,” kata Kepala Saab Indonesia, Carl Calqvist, di Jakarta, Senin malam. 

Sejauh ini JAS39 Gripen telah dibuat hingga versi JAS39 Gripen A/B, JAS39 Gripen C/D, dan JAS39 Gripen NG (E/F) yang teknologinya melongkapi pesawat tempur di kelasnya. Sebagai misal, jarak tempuhnya1.680 kilometer alias berdiameter 3.360 kilometer, atau lebih dari setengah panjang wilayah Indonesia. 

Untuk Indonesia, katanya, Saab membuka seluas-luasnya pilihan varian yang diinginkan, apakah JAS39 Gripen C/D atau JAS39 Gripen NG (E/F), yang baru diluncurkan pada 18 Mei 2016 lalu di Linkoping, Swedia. 

Saab dari kantor pusatnya di Stockholm, kata dia, menawarkan pola pembelian dan kerja sama serta pengembangan dan teknologi untuk satu skuadron pesawat tempur. Jumlah normatif pesawat tempur dalam satu skuadron adalah 16 unit walau bisa lebih banyak atau lebih sedikit dari angka itu. 

“Yang menarik, enam di antara jumlah yang dibeli Indonesia itu nanti akan dirakit di Indonesia. Ini proses penting untuk penguasaan teknologinya,” kata dia. 

Pelibatan perguruan tinggi dan institusi penelitian-pengembangan dan industri pertahanan nasional yang terletak di Indonesia juga masuk dalam pasal tawaran proposal itu. 

Dia katakan, paling tidak 1.000 tenaga kerja ahli Indonesia bisa turut dalam proyek pengembangan berbasis pembelian JAS39 Gripen dari Saab itu. 

Swedia sangat dikenal dengan konsep Triple Helix-nya, di mana pemerintah, institusi pendidikan tinggi-penelitian dan pengembangan, dan industri pertahanan berada dalam visi dan derap langkah yang sama.


Cockpit pesawat Gripen E (photo : Saab)

“Kami bukan negara super power dan kami sangat sadar itu. Inilah yang membuat kami mengembangkan semuanya secara cerdas dan terpadu dalam sistem yang telah teruji dan kami menaruh perhatian sangat besar pada kualitas SDM,” kata dia. 

Sisa dari unit JAS39 Gripen yang dipesan Indonesia, katanya, dibangun di hanggar produksinya di Linkoping, Swedia. “Akan dikerjakan bersama dengan para teknisi dan ahli dari Indonesia dalam proses pembuatan dari awal hingga akhir di hanggar produksinya di Linkoping,” kata Calqvist. 

“Semuanya nanti akan menyesuaikan dengan keperluan Indonesia dan kami terbuka untuk berdialog tentang itu,” kata dia. 

Dia mengungkap nilai kontrak yang bisa diajukan, yaitu 1,14 miliar dolar Amerika Serikat untuk paket pembelian satu skuadron JAS39 Gripen itu. 

“Saya bisa katakan, 85 persen dari jumlah itu akan berupa alih teknologi dan kerja sama industri pertahanan yang produknya bisa dipergunakan untuk kepentingan lain, sesuai keperluan Indonesia,” kata dia. 

Jika Indonesia menunjukkan komitmennya, kata dia, salah satu hal penting yang juga Saab ajukan adalah investasi dari sisi Indonesia pada aspek peningkatan kualitas SDM Indonesia untuk bidang teknik dan rekayasa teknologi.

Dia menyatakan, ada beberapa skema dan tahapan yang dirancang dalam pola kerja sama pada proposal itu. 

Operator —dalam hal ini TNI AU— di antaranya akan bisa memperbaiki dan mereparasi pada tahap tertentu sehingga menghemat pengeluaran untuk pemeliharaan dan perawatan karena bisa dilaksanakan di Indonesia.

Indonesia berniat mengganti armada F-5E/F Tiger II di Skuadron Udara 14 TNI AU yang telah berdinas lebih dari 30 tahun dan teknologinya sudah jauh ketinggalan. Semula disebut-sebut akan ada beberapa pesawat tempur yang digadang-gadang akan beradu peruntungan. 

Mereka adalah F-16 Viper (alias F-16 Block 60 Fighting Falcon) buatan Lockheed Martin, Amerika Serikat, Sukhoi Su-35 (Knaapo, Rusia), Eurofighter Typhoon (Airbus Military, konsorsium Airbus), dan JAS39 Gripen C/D dan kini JAS39 Gripen NG (E/F) (Saab, Swedia). 

Berbeda dengan yang lain-lain, Saab menjamin unit pesawat tempur bermesin tunggal multi peran (interseptor, serang darat, dan pengamatan-pengendalian tempur) ini bisa mendarat di Bumi Pertiwi hanya 12 bulan setelah kontrak pasti ditandatangani. 

Umumnya pesawat tempur baru benar-benar hadir unitnya di negara pemesan antara tiga hingga lima tahun setelah kontrak pasti ditandatangani. 

Ekskalasi pertahanan dan politik di Laut China Selatan serta zone ekonomi eksklusif Indonesia di perairan Kepulauan Natuna semakin tinggi dan Indonesia perlu pesawat tempur multi peran yang bisa digelar bahkan dari pangkalan aju dengan dukungan paling minim sekalipun. 

Sampai saat ini, JAS39 Gripen NG dan keluarga Gripen secara keseluruhan merupakan “pendatang baru” dalam khasanah pesawat tempur canggih dunia. 

JAS39 Gripen diketahui --berdasarkan data teknis dan pengalaman empirik pengguna-- bisa lepas landas dan mendarat pada angka ratusan meter saja di jalan raya selebar 15 meter. 

Untuk mendukung operasionalisasi dan perawatan/pemeliharaan lapangan satu skuadron penuh JAS39 Gripen, cukup diladeni belasan teknisi dan peralatan serta suku cadang yang dibawa dalam satu C-130 Hercules.

Dia berhadapan dengan keluarga Sukhoi Su-27, Su-30, dan Su-35, juga dengan keluarga F-16 Fighting Falcon, Eurofighter Typhoon, dan Dassault Rafale (Prancis).

(Antara)

61 komentar:

  1. Jika melihat eskalasi konflik antara Indonesia dan China di zona ekonomi eksklusif Indonesia di laut china selatan yang semakin meningkat, kebutuhan pembangunan kekuatan udara TNI-AU yang singkat sangat diperlukan untuk mengimbangi dominasi China di matra udara. Jalan keluar yang paling tepat adalah dengan membeli JAS39 Gripen, karena hanya dalam satu tahun sejak ditanda tangani perjanjian jual beli pesawat pesawat tempur tersebut sudah hadir dan siap digunakan mempertahankan kedaulatan Indonesia di sebagian wilayah laut china selatan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buat apa belli jet tempur bisanya di sayap bawak tangki bahan bakar doang ....swedia dan barat paling mahir gakalin negara peminpinya gampang di putar di tegah jalan alias doyan krupsi dari saman orba dan demokrat turun temurun terjebak harta haram imbas nkri di kebiri peminpinya sendiri demi selamat nya harta dan family dari kejaran penegak hukum .

      Hapus
    2. Ga lulus ujian mengeja di TK diem aja di pojokan sana sambil min susu. Belajar dulu bahasa indonesia yg baik dan benar baru ngebacot.

      Hapus
    3. Hehe....bebei orba.. kita bicara fakta hasil jarahan para bekas peminpin di timbun di barat iya toh . kok anda kebakaran jennggot kita bicara fakta ? Aneh bukan .

      Hapus
    4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    5. muarif atau siapapun kamu..
      kalau kamu orang islam, belajarlah hukum islam yg benar sebelum membuat fitnah dan mengumbar caci-maki di blog ini

      sebutkan orang2 yg kamu tuduh telah berkorupsi..
      adakah kamu punya bukti?
      adakah kamu punya saksi?

      bila tidak bisa, berarti kamu termasuk golongan orang2 yg fasik

      Hapus
    6. Maste orba...anda ini mabok atau gimana ...kalau mau cari bukti pejabt atau mantan peguasa krupsi bukan di block ini ...kau kira block ini pegadilan apah hehe....mari kita bahas jet tempur rawan emabrgo slalu jadi yg terdepan bakal di akusisi peminpin gampang melupakan sejarah .

      Hapus
    7. Blog mas bukan block.. Gunakanlah bahasa yang benar, jangan di korupsi ejaannya.. Hehehe

      Hapus
    8. jia hah ha ha..
      dasar manusia munafik

      siapa yg sering ngomongin korupsi di blog ini?
      siapa yg sering ngoceh tentang politik di blog ini?

      sekarang mau ngomong tentang pesawat..

      hahaha.. sotoy bener kau muarif
      pertanyaan bung Bebei tentang rotor anti peluru sudah ada belum?

      Hapus
  2. Kalo dari tawarannya cukup menggiurkan. Tapi air superiority mungkin masih lebih baik Su.
    Lebih baik dua2nya beli. Lengkap sudah gado2nya. Haha

    BalasHapus
  3. Akhirnya rilis ke publik juga setelah berbulan-bulan di kekepin di kementrian. Skrng lg rame krn kemenristek,sama perindustrian dukung proposal ini, sementara internal kemhan sendiri jg bingung. Kedepannya TNI-AU bakal punya 3 macam jet tempur. Keluarga Sukhoi(utk mengganti peran F5 dan air superiority), IFX(gantiin F16) dan kemungkinan satu lagi gripen.
    IFX dan/gripen bakal jadi kuda beban patroli rutin khususnya di hotzone, sukhoi bakal lebih jarang beraksi krn selain biaya flight hoursnya mahal juga utk ngirit umur airframe..skrng ini sukhoi banyak beraksi semata2 krn cuma sukhoi yg capable menandingi barang2 punya tetangga sekitar+jarak jangkau super jauh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sejak kapan antec barat sampai cekok an jadi brokerr jet tempur rawan embargo ...peminpin yg kita pilih gak bakalan terpesona oleh antec antec barat bisa nya koar koar dari belakang panggung .

      Hapus
    2. Jangan lupa berita AU mau menggantikan Hawk 209/109 dengan FA50 Goldenhawk demi IFX dan inline dengan T50i dan F16.

      Jadi semakin bingung itu Kemenhan?

      Hapus
    3. @dropzone bener bang, tapi jgn sampe maintenances jd masalah dan yg pasti pemirsanya juga tambah bingung. Haha.

      Hapus
  4. Tot yg di tawarkankan saab memang cukup bagus untuk menunjang kemandirian negara. Dan gripen e/f layak d pilih untuk d tempatkan d pangkalan2 aju yg kondisinya sangat minim untuk sebuah pangkalan.

    BalasHapus
  5. @muarif atau siapapun namamu
    buka mata dan telingamu
    kita belajar membuat pesawat dari CASA Spanyol
    kita belajar membuat APC dari perancis
    kita belajar membuat fregat dari Belanda
    kita belajar membuat senapan dari Belgia
    kita belajar membuat medium tank dari Jerman
    pak Habibie belajar ilmu aeronotika di Jerman

    apakah kamu tidak mengakui itu?
    apakah mereka yg belajar ilmu dari barat akan kamu sebut antec barat?

    lalu teknologi apa yg bisa kamu tunjukkan dari blok timur (yg kamu banggakan itu) yg sudah dishare kepada kita?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hasilnya apa selama jadi antec barat ?? Tim tim lepas ...hutang berjibun kekayaqn alam di daearah hanya buat bayar bunga hutang di jarah . Wok anda sadar diri toh ...jadi tukang tipu jangan ama bangsa sendiri broo . Fakta indonesia yaris jadi negara gagal jauh tertinggal dari china ama india karna gampang melupakan sejarah !!!

      Hapus
    2. ga nulis yg aneh2, orba adalah masa lalu dan sekarang kita hidup di jaman saat ini.
      negara kita non blok.

      jawab saya pertanyaan saya yg ini

      teknologi apa yg bisa kamu tunjukkan dari blok timur (yg kamu banggakan itu) yg sudah dishare kepada kita?

      Hapus
    3. bro..bro...
      pertanyaan sy aja blm dijawab sm muarif. jg pertanyaan bung bebei. lha skrg ente nanya mslh teknis, jgn kecewa klo gak dijawab .
      klo ente nanya mslh antec, saman, demokrat, korupsi, orba, politec, rongsokan, kaleng krupuk, pasti dia jawab.
      Sorry ya...hehehe..peace...

      Hapus
    4. Betul.

      Pindad sudah membuktikan bahqa sekarang sudah mampu mendesain dan memproduksi sendiri SS2, dengan sebelumnya belajar dari lisensi SS1 / FNC.

      Juga menghasilkan APC Anoa yang asli buatan lokal.

      PTDI sudah mampu mendesain sendiri dan produksi N219 dengan basis pengalaman lisensi NC212 (bahkan Airbus sudah menyerahkan seluruh alat pembuatan NC212 ke PTDI, sehingga PTDI satu2nya pembuat resmi C212 di dunia).

      Selain juga mendesain CN235 bersama CASA, dan sekarang bersama Korsel mendesain pesawat tempur KFX/IFX.

      Belum termasuk karya PAL (LPD buatan sendiri, setelah belajar dari DSME, dan berlanjut ke submarine) dan galangab kapal dalam negeri.

      Suatu arah yang jelas dalam kemandirian alutsisa.

      Hapus
  6. Kita pesan saja pesawat tiongkok lawan china gimana?

    BalasHapus
  7. Kita pesan saja pesawat tiongkok lawan china gimana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lw ga serius kan Bro? Ato mank pernyataan sinis?

      Hapus
  8. Tawarannya sih menggiurkan ya, apalagi kalo yang dipilih varian JAS39 Gripen NG (E/F). IMO, ambil dulu aja nih tawaran buat jet patroli rutin. Spec-nya juga gahar soalnya. Selain itu, sembari nunggu deal beli SU-35 yang nego kontraknya gak kelar2 hehe

    BalasHapus
  9. Mendingan ini dibanding Sukhoi. Ini irit, bisa dipakai sering dan pilot jadi ahli nerbanginnya. Sukhoi memang jempol, tapi boros bahan bakar. Buktinya para Jendral udah ngeluh biaya jam terbang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kl takut boros BBM ya pake simulator. Spek gahar tau dari mana? Daya angkut senjata dan combat range udah dibandingin blm dengan Su-35? Radar bagusan mana?

      Hapus
    2. Kalo mau murah, pake super tucano..btw lu ga lg becanda kan? Lu mo tandingin LCGC buat ngelawan ferrari? Ono rego ono rupo..bohong kalo ngga..gausah munafik..kecuali kalo lu emg sales grippen

      Hapus
  10. Copas artikel Kompas yg linknya hanya bisa dibuka pelanggan kompas cetak digital.
    ————————————————————————

    Kompas, Minggu, 19 Juni 2016.

    TAWARAN MENGGIURKAN SAAB UNTUK INDUSTRI PERTAHANAN INDONESIA

    Dalam sebuah kesempatan wawancara dengan mantan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro tentang industri pertahanan, saat ditanya seperti apa model yang ingin dicapai Indonesia, tanpa ragu dia menyebut model industri pertahanan di negara-negara Nordic. Lebih khusus lagi dia menyebut Swedia.

    Sejarah industri pertahanan di Indonesia telah ada sejak masa kolonial Hindia Belanda antara lain dengan berdirinya Leger Produktie Bedrijven atau Perusahaan Produksi Militer di Bandung yang menjadi cikal bakal PT Pindad dan Marine Establishment yang nantinya berubah menjadi PT PAL di Surabaya. Namun, peta jalan industri pertahanan Indonesia sebenarnya mulai terang saat pemerintah mengesahkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan.

    Purnomo menuturkan, Indonesia tidak ingin meniru negara-negara yang industri pertahanannya sebangun dengan keinginannya membangun kekuatan militer, seperti Amerika Serikat, Inggris, atau Jerman. Indonesia, kata Purnomo, juga tak ingin meniru negara yang punya alat utama sistem persenjataan dan kekuatan militer yang kuat, tetapi tak mau mengembangkan industri pertahanan seperti Arab Saudi dan negara Timur Tengah lainnya.

    “Yang ingin kita tiru bukan seperti Amerika Serikat, Jerman atau Arab Saudi. Tidak di antara negara-negara ini juga. Kalau begitu, mana kiblatnya? Nordic countries. Anda tahu enggak Swedia, yang punya SAAB. Kamu tahu Singapura beli kapal selam Swedia. Nordic countries itu tidak pernah perang, tetapi Sukhoinya Rusia kalau patroli enggak berani lewat situ (wilayah negara Nordic). Nordic countries itu ada lima: Swedia, Norwegia, Finlandia, Denmark, dan Islandia. Itu kuat sekali. Mereka enggak pernah perang, tetapi orang takut sama mereka,” ujar Purnomo.

    UU Industri Pertahanan dengan tegas menyatakan, TNI dan Polri harus menggunakan peralatan pertahanan dan keamanan buatan dalam negeri selama masih bisa dibuat oleh industri pertahanan Indonesia. Jika memang spesifikasi teknis peralatan pertahanan dan keamanan yang dibutuhkan TNI dan Polri belum dapat diproduksi di Indonesia, mereka boleh membeli dari luar negeri dengan sejumlah persyaratan. Syarat itu tertulis tegas di Ayat 5 Pasal 43 UU Industri Pertahanan, yakni mengikutsertakan industri pertahanan dalam negeri, harus ada kewajiban alih teknologi, jaminan tidak adanya embargo, adanya imbal dagang, kandungan lokal dan atau ofset paling rendah 85 persen, dan pemberlakuan ofset paling lama 18 bulan. Ofset pertahanan adalah kompensasi yang diberikan industri pertahanan terhadap negara pembeli produk.

    .............

    BalasHapus
    Balasan
    1. Transfer teknologi

      Misalnya Indonesia membeli tiga kapal selam kelas Changbogo dari Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME). Ofset pertahanan dari kontrak pembelian kapal selam ini adalah satu di antara tiga pesanan kapal selam tersebut dibuat di galangan milik PT PAL Surabaya dan DSME punya kewajiban melakukan transfer teknologi. Sebagai bagian dari ofset pertahanan pembelian kapal selam ini, TNI AL mengirimkan perwiranya ke DSME, sementara PT PAL mengirimkan teknisinya.

      Polemik yang mencuat saat petinggi TNI AU ingin membeli helikopter VVIP AugustaWestland AW 101, beberapa waktu lalu, menjadi contoh seberapa konsisten pemerintah menerapkan UU Industri Pertahanan. Keinginan petinggi TNI AU membeli helikopter VVIP AugustaWestland ditentang karena PT Dirgantara Indonesia bekerja sama dengan Airbus mampu membuat helikopter EC 725 Super Cougar. Helikopter ini diklaim PT DI dapat dikustomisasi menjadi helikopter VVIP. Istana akhirnya membatalkan keinginan petinggi TNI AU membeli AugustaWestland. Salah satu pertimbangannya karena PT DI mampu membuat helikopter dengan spesifikasi teknis untuk VVIP. Jika pemerintah menyetujui pembelian helikopter AugustaWestland, bisa saja pemerintah dinilai melanggar UU Industri Pertahanan.

      UU Industri Pertahanan mensyaratkan secara ketat ketentuan ofset ini. Ketentuan UU ini yang disadari salah satu industri pertahanan global asal Swedia, SAAB, saat menawarkan pesawat tempur multiperan JAS-39 Gripen hingga sistem radar airborne GlobalEye AEW&C ke Indonesia. Kepala Kerja Sama Industri SAAB Eva Soderstrom, seusai pelucuran generasi terbaru Gripen, pertengahan Mei lalu, di Linkoping, Swedia, mengungkapkan, perusahaannya menyadari betul ketentuan ofset yang diterapkan negara calon pembeli seperti Indonesia. “Lewat kerja sama industri dan transfer teknologi, SAAB dapat menawarkan akses pada teknologi yang kami miliki. Dengan akses ke teknologi yang kami miliki dan dukungan dari kami, keinginan suatu negara membangun kemampuan dan kekuatannya dapat dicapai secara efektif,” ujar Soderstrom.

      ........

      Hapus
    2. Membangun pabrik

      SAAB punya model kerja sama industri dengan negara pembeli produknya. Mereka menamakan model kerja sama ini dengan triple helix. Platform kerja sama yang melibatkan perguruan tinggi, industri lokal, dan badan pemerintah. Soderstrom tak asal bicara. SAAB melakukan kerja sama industri dengan lebih dari 30 negara. Salah satu yang terbesar adalah Brasil yang membeli 28 Gripen NG (Next Generation) dan 8 Gripen F.

      Saat ini, ada 107 insinyur asal Brasil dan keluarganya yang datang ke Swedia untuk memastikan bentuk ofset pertahanan dengan SAAB berjalan. Mereka bagian dari 350 insinyur asal Brasil yang ikut terlibat langsung dalam pembuatan Gripen NG dan Gripen F. SAAB dan industri dirgantara Brasil membangun pabrik dan fasilitas produksi Gripen di Gavio Peixoto, kota tempat pabrik pesawat asal Brasil, Embraer, berada. SAAB juga membangun fasilitas uji coba penerbangan di sini. SAAB bersama Brasil tengah merancang desain pesawat tempur masa depan.

      Menurut Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Pertahanan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan Marsekal Pertama Danardono Sulistyo Adji, nilai kesepakatan ofset antara SAAB dan Brasil lebih 100 persen dari total nilai kontrak pembelian Gripen oleh negara tersebut. Danardono, yang datang ke Linkoping menyaksikan peluncuran Gripen NG, mengatakan, tawaran ofset seperti ini sangat jarang ditawarkan industri pertahanan global. Sesuatu yang, menurut dia, sebenarnya cukup menggoda Indonesia.

      Bagi SAAB, kerja sama dengan industri pertahanan lokal telah menjadi kunci sukses pertumbuhan bisnis mereka. “Kerja sama industri telah mengarahkan kami pada keuntungan bisnis dan pertumbuhan yang lebih baik,” kata Soderstrom.

      Ini antara lain dibuktikan dengan backlog atau pesanan yang belum terselesaikan pada 2015 yang mencapai rekor tertinggi sepanjang berdirinya SAAB, yakni 13 miliar dollar AS. Salah satunya disumbang dari order penjualan Gripen ke beberapa negara dengan menyertakan proposal kerja sama dengan industri pertahanan lokal.

      Bagaimana dengan Indonesia yang tengah mencari pengganti F-5 Tiger? SAAB menawarkan Gripen ke Indonesia dengan proposal menggiurkan ofset pertahanan yang bisa mencapai lebih 100 persen dari kontrak pembelian “Iya, insya Allah pemerintah menjatuhkan pilihannya ke Gripen,” ujar Danardono.

      http://print.kompas.com/baca/2016/06/19/Tawaran-Menggiurkan-SAAB-untuk-Industri-Pertahanan

      Hapus
    3. Makanya kemenristek,perindustrian, dan lainnya langsung ijo matanya begitu liat penawaran sales SAAB.sepertinya saab TOT cara menikung proyek militer di indonesia dari Korea.. 😀😀😀😀😀

      Hapus
    4. Ohh ...jellas dapat tawaran dari barat swedia pak menhan dan mentri perindustrian langsung hijau matanya karna meyangkut dana milyaran dolar $$$$ . Hehe...nah setelah di embargo biasa nya pada tiarap mirip tahun 1998 negara di yatakan bangkrut karna ulah manusia tidak bertanggung jawap .

      Hapus
  11. Buang buang dana..lebih baik dalam waktu dekat sekarang beli pesawat yang mumpuni..minimal.yang sebanding F15 atw su35...kan yang tot udah pesen ke korea kfx gen 4.5 ngapain lagi beli kacangan model begini udah ketinggalan...gakan menggetarkan malin gini mah disamakan kek au thailand payah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beda spek dengan thailand kok.. lagian kalo memang anda mendukung pengembangan industri dalam negeri harusnya mempertimbangkan tawaran saab ini. Alih teknologi bukan hal yg murah, intangible offset justru yg paling mahal, dg ilmu yg di dapat para ilmuwan bisa ditantang utk mengembangkan versi yg lebih bagus.. beli pabrik sukhoi trus pindahin ke indonesia memang lebih mudah, tapi yg mengelola siapa? Apakah kita mau hanya sebatas buruh pabrik terus? Ga dooong... sudah waktunya ilmuwan yg berkarya, bukan sebatas buruh lagi..buruh lagiii.. kapan mau maju negeri ini.

      Hapus
    2. Jangan korbankan operational requirement demi janji janji muluk ToT. Emang kita udah tau opsreq TNI AU spt? Emang kita tau butuhnya pespur dgn operational range berapa jauh, maximum payload brp, misi yg bakal diemban spt apa? Jangan terlalu gampang merubah planning cm demi ngejar ToT.

      Kl sudah ditetapkan pespur yg memenuhi kriteria itu Su-35 knp ujug-ujug harus diganti Gripen demi hasrat ToT? Apa Gripen bisa memenuhi opsreq dan karakteristiknya sama dengan Su-35?

      Lagipula ToT cuma ngerakit, kita jangan langsung ijo matanya karena ya gitu-gitu aja hasilnya. Dulu kita pernah kebagian ngerakit F-16, Bell 412, T/A-50, dll apa sekarang sdh bisa bikin pespur sendiri? Kecuali kl kita dikasih basic design Gripen atau diikutsertakan dalam pengembangan Gripen selanjutnya baru ada gregetnya.

      Sy setuju pembelian Gripen asal pengadaan baru, bukan buat menyalip proses pengadaan Su-35 karena pasti sudah ada perhitungan matang dr segi operasional.

      Hapus
    3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    4. Kl kita butuh mobil off road dan akan membelinya di dealer. Tiba2 salesnya nawarin beli mobil sedan terbaru aja. Mau nggak dituker sm mobil sedan dengan embel2 diajarkan cara merawatnya dan bisa diutak atik sendiri dalemannya? Lah kita butuhnya mobil off road kok..

      Hapus
    5. Tidak match analogi mobil sedan vs off road dgn JAS39 vs Su35. Terlalu lebai.

      Contoh nyata, AU lebih pilih C27 Spartan tapi dibelikan CN295. AU ngambek? Mau menang sendiri? Nggak, kan?

      Lucu saja, jika TNI yang notabene adalah pelaksana pertahanan tetapi tidak mau berpikir lebih luas, termasuk ke pertahanan dalam hal industri dll.

      TNI memang tahu, tapi dianggap paling tahu segalanya? Itu namanya sombong dan tidak berdasar. Semua pihak ada kelebihannya masing2, nah bagaimana menyatukan semua pengetahuan itu untuk menghasilkan kebijakan yang pas untuk Indonesia.

      Coba baca lagi itu artikel yang ditempel oleh bung Errik, deh.

      Oya, sewaktu perang kemerdekaan 1940-an, sempat didirikan pabrik senjata di Jawa walau tidak besar, untuk mendukung perjuangan.

      Hapus
    6. C-295 dan Spartan itu saling substitutif dan karakteristiknya mirip. Sebaliknya, sy bandingkan mobil off road dgn sedan bukan dari segi kualitas atau jenis tapi dari segi karakteristik, jadi nggak lebay. Su-35 itu heavy fighter yg sekelas dgn F-15, maximum speednya optimal utk mendukung misi intersepsi (buru sergap) yg merupakan tupoksi F-5 yg akan digantikannya, combat range tinggi dan payload juga besar, dengan jangkauan radar optimal mencapai 400 km. Sedangkan Gripen itu medium fighter sekelas F-16, maximum speed, combat range, dan payloadnya inferior dibandingkan Su-35, dan jangkauan radar juga lebih rendah meskipun sudah AESA. Jadi jelas Gripen belum tentu mampu menjalankan opsreq dan tuntutan misi yg harus diemban sbg pengganti F-5.

      Dgn wilayah udara Indonesia yg sangat luas sedangkan jumlah pespur masih terbatas, tentu kita butuh pespur dgn combat range, payload, maximum speed, dan jangkauan radar optimal. Lagipula role Gripen itu tumpang tindih dgn F-16 karena karakteristiknya serupa dan sama-sama medium fighter. Makanya sy setuju kl kita ambil Gripen utk menggantikan F-16 atau Hawk 100/200 karena bisa saling menggantikan, kapabilitas tidak jauh beda, dan misi yg diemban hampir sama. Tapi utk menggantikan Su-35 dgn profil misi sebagai pespur buru sergap sebagai pengganti F-5 (apalagi ToT nya cuma merakit atau menjahit, bukan mendesain atau membuat dari nol seperti proyek IFX/KFX) jawabannya: a big NO!

      Poin lainnya, memangnya kita tau tawaran ToT Sukhoi seperti apa? Udah pernah liat draft kontraknya? Kok bisa menyimpulkan tawaran ToT dari SAAB lebih baik padahal cuma ditawarkan ToT menjahit dan gimmick lain yg belum jelas manfaat dan end product-nya apa.

      Hapus
    7. Makanya mas Nyubitol Kaskus, kalo komentar yang bagus.

      Bagi saya ya tetap lebay itu menganalogikan offroad dgn sedan. Kalo truk roda 6 dengan roda 8 ya masih lebih baik analoginya, atau antara MBT dengan IFV. Di mana sekarang malah trend-nya MBT kalah naik dibandingkan IFV. Apakah IFV tidak mampu mengalahkan MBT.

      Lagi pula banyak hal koq yang patut dipertanyakan? Misalnya F-5 koq diganti dgn Su-35? Bukannua itu beda jauh kelasnya, seperti yang anda bandingkan dgn JAS-39?

      Soal ToT, anda merasa tahu benar apa yang diberikan Rusia???

      Apa anda tahu benar apa yanh dimaksud dgn "merakit" dalam hal ToT oleh Saab dan Swedia??? Apa sama dengan "merakit" pada mainan Lego?

      Saya tidak meremehkan Su-35 koq. Masalahnya adalah dalam memandang pertahanan yang pas itu meliputi banyak hal. Bukan hanya ditentukan oleh daya angkut, jarak jangkau pesawat dan radar, tetapi juga network, expeditionary, bahkan keekonomisan dan keberlanjutan alutsista dalam arti luas termasuk di dalamnya industri lokal.

      Coba deh baca lagi itu artikel wawancara mantan menteri pertahanan yang punya pemikiran menyeluruh dan pengalaman walaupun bukan berlatarbelakang tentara.

      Hapus
    8. Buat bebei dan sales grippen, gausah banyak omong!!! Simpan analogi perawatan murahan & hemat hematan ala orang susah.. http://jakartagreater.com/gripen-vs-su-35/ mending baca aja lah..males debat ama sales grippen yang dibayar cia kek kalian

      Hapus
    9. @ Teguh, kl sampeyan kurang bisa menalari analogi mobil off road vs sedan ya sudah nggak usah terlalu dipikirin. Nggak susah sebenarnya buat menilai bahwa pespur heavy fighter vs medium fighter itu beda karakteristiknya bisa menyerupai perbedaan antara mobil off road vs sedan. Tapi bagi yg awam mgkn akan beranggapan semua pespur itu sama saja karakteristiknya.

      F-5 diganti Su-35 memang beda kelas, tapi di jamannya memang F-5 digunakan untuk misi buru sergap (intersepsi), dan utk misi buru sergap itu tetap butuh pespur dgn maximum speed tinggi dan operational range besar. Mengenai apakah dulu F-5 dipilih sudah sesuai kriteria itu adalah perkara lain. Toh kita tidak perlu mengulangi kesalahan di masa lalu.

      Skrg sy balik tanya, apa kelebihan Gripen kl mau digunakan utk role buru sergap?

      Saya juga menanya, apa sampeyan tau persis penawaran ToT dari Sukhoi dan Saab sehingga bisa menilai bhw tawaran Saab lebih bagus buat industri lokal. Anda tau kan merakit? Cuma menyatukan komponen-komponen yg dikirim terpisah dari pabrik Saab di Swedia sana. PT DI udah berpengalaman merakit pespur T-50 dan heli Bell 412 sebelum ini, dan hasilnya apa? Jadi bisa merakit tapi nggak bisa membuat atau punya pengetahuan rancang bangun pesawat.

      Betul, pertahanan dan keamanan nasional yg bagus merupakan gabungan dari berbagai elemen di dalamnya. Tapi membeli pespur yg tidak sesuai dgn spektek, opsreq, dan misi yg akan diemban cuma demi mengejar tawaran gimmick ToT yg nggak jelas manfaat langsung dan end product-nya, justru itu sangat kontraproduktif dan merusak perencanaan dan analisis yg sudah disusun sebelumnya. Sistem yg baik adalah yg dilakukan sesuai perencanaan, bukan sistem yg dirubah-rubah karena tergiur harga murah atau gimmick sales seperti ToT yg nggak jelas muaranya ke mana.

      Hapus
    10. Buru sergap memang perlu kecepatan dan bukan kah kecepatan Gripen juga tinggi? Saya tidak meragukan Su-35 dalam hal ini.

      Mengenai jarak jangkau besar, bukan berarti jarak jangkau menengah tidak dapat dipakai. Saya coba melihat lebih luas lagi, yaitu memasukkan nilai ekonomis, karakteristik geografi dll. Sehingga didapat alutsista yabg ekonomis dan tetap memenuhi kebutuhan pertahanan (termasuk buru sergap).

      Kalau mau detil, contohnya akan lebih ekonomis menempatkan flight dekat perbatasan seperti yang juga TNI-AU biasa lakukan.

      KSAU di satu sisi mengelukan Su-35 dan di sisi lain langsung/tidak langsubg mengeluhkan operasionalnya.

      Soal ToT, suah banyak medsos yang menjabarkan apa yg ditawarkan Saab. Nah bagaimana dgn Rusia?

      Saya bertanya itu bukan berarti saya tahu benar apa yang diberikan Saab, dan saya malah belum tahu apa yabg ditawarkan Rusia. Makanya saya bertanya ke anda untuk mendapatkan informasi.

      Mengenai rakit-merakit kemudian ada T-50 dan NBell 412 kemudian disimpulkan " nggak bisa membuat atau punya pengetahuan rancang bangun pesawat. " sepertinya jadi jauh panggang dari api. Karena masih ada faktor lain seperti apakah itu masuk perencanaan yang ada (alias sudah mampu tapi sedang tidak prioritas bikinnya). Misalnya, Habibie dan IPTN dulu lebih fokus membuat pesawat angkut sayap tetap (lisensi NC212 -> joint design CN235 -> desain mandiri N250) bukan berarti tidak mampu membuat helikopter, tetapi ke masalah strategi ekonomis dan keberlanjutan.

      Itu ada artikel wawancara dgn mantan menhan yang saya pikir bisa menambah cakrawala pengetahuan dan cara berpikir.

      Nah pernyataan "gimmick yang gak jelas" dan sejenisnya, sudah menunjukkan bahwa ini sudah debat kusir karena lebih menekankan ego masing-masing dan saya lebih baik stop sampai di sini dalam perbincangan ini.

      Saya ucapkan mohon maaf lahir batin jika ada salah2 kata.

      Hapus
    11. Masalahnya kalo utk tot indo sudah terlanjur teken sm korea, dan totnya ga main2..pespur gen 4.5..bikan pesawat kelas dibawah f16 kek grippen...tot korea yang rencanny kelar 2025..kalo mundur, bisa kena sangsi malah amburadul lagi..nah kita kan butuhnya sekarang pespur kelas berat setara f 15..kalo kelas kacangan gini kta udh punya..udh banyak ada f 16 rongsokan block 52..2 skadron, punya f 16 a/b 1 skadron punya t 50 satu skadron, rencana nambah T50 versi tempur 1 sadron...gmana..

      Hapus
  12. Untuk pengembangan jet tempur nasional, ada baiknya nggak bertumpu pada kerjasama satu pabrik/negara aja. Gimana jika Indonesia memilih mundur dari proyek KFX karena alasan politis? Ketergantungan KFX pada teknologi AS lebih tinggi dibanding Gripen. Swedia juga termasuk negara netral & nggak punya aliansi militer dengan negara manapun dibanding Korsel.

    Dan jangan remehkan juga Swedia yg negara kecil, tanpa aliansi militer, tapi berada dalam jangkauan ancaman langsung Rusia sampai saat ini hanya mengandalkan Gripen sebagai lawan utama jet2 tempur utama Rusia. Brazil yg negaranya lebih besar dari Indonesia pun nggak ragu pilih Gripen lengkap dengan kerjasama produksi & pengembangan. Padahal Brazil lebih maju dalam produksi pesawat dibanding Korsel yg industri pesawat terbangnya nggak lepas dari AS.

    Kalo mau bicara menggentarkan, jauh lebih menggentarkan negara yg bisa memproduksi & memperbaiki alutsistanya sendiri. Apalagi mengembangkannya teknologinya hingga tidak sama/susah ditebak kemampuannya oleh negara lain.

    Coba, apa menggentarkannya jika, misal, hanya punya 8 SU-35 yg perbaikannya harus dilakukan di luar negeri? Entar itu sukhoi yg dikirim ke luar buat perbaikan belum sempet operasional di sini malah dicegat duluan di negara lain :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ngirim buat servis nggak diterbangin kan, tp dilipet digendong antonovnya papa bear.. Berani nyegat doi? Sebaiknya sambil diamati perkembangan proyek tot dengan Brasil itu benar sesuai kontrak, untk melihat komitmen SAAB. Jika memang oke, tidak ada salahnya bangun fasilitas uji coba itu.

      Hapus
    2. Kl beli Su-35 kita juga minta ToT nya berupa Sukhoi harus melakukan pembuatan fasilitas maintenance dan overhaul di Indonesia kok.

      Hapus
    3. Nah kalo Rusia nggak mau kasih ToT?

      Hapus
    4. Selama ini pihak Rusia udah menyampaikan kesediannya kok utk membuat fasilitas maintenance (MRO) di Indonesia sbg bagian dari ToT pembelian Su-35. Yg tinggal jadi kendala kan masalah mata uang yg akan dipakai utk kontrak pembelian, mengingat Rusia masih diembargo oleh EU sehingga nggak bisa pakai mata uang Euro

      Hapus
    5. Nah, mas Nyubitol Kaskus, komentar yang anda berikan di atas ini kan lebih baik daripada membabibuta meremahkan yang lain dan mengagung2kan Su-35.

      Semua memiliki kelebihan dan kekurangan masing2. Tidak ada yang sempurna. Yang sempurna itu malah justru harusnya di strategi yang kita pilih.

      Kalau cara kelola dan cara gelar yang bagus, bisa saja jika ada flight Su-35 RRC masuk ruang udara Natuna dapat dihalau atau digetarkan oleh pesawat tempur ringan atau medium seperti F-16 atau JAS-39.

      Keunggulan udara di lapangan itu bukan semata-mata berdasarkan pada besarnya pesawat dgn jarak jangkau jauh dan bawa senjata banyak.

      Hapus
    6. orang indo tuh yaa mikir nya embargo melulu... dikirain rusia ga bisa embargo? selama belom produksi sendiri bayang2x embargo selalu ada karena senjata2x ini dibeli berdasarkan deal2x politik luar negri juga.

      Hapus
    7. @ Teguh, kembalikan semuanya ke tupoksi dan misi yg akan diemban, jangan berlandaskan argumen "bisa saja" dgn asumsi bahwa Gripen dan F-16 "mungkin" bisa menghalau pespur lawan.

      Hapus
    8. Pernah mikir ga kalo batalkn kontrak ruginya kaya apa? Lu kontrak jd pegawe outsorcing kalo lu batalkn kena apa? Pernah denger namanya penalti? Gw asumsikan lu lbh pinter bukan taunya cm tendangan pinalti..apalagi ini kontrak kerjasama pembuatan pesawat yang harganya trilyunan rupiah..kalo batalkn trus kena penalti, trus saab menarik diri krn indo wanprestasi cidera janji sm korea.. malah amburadul sekaligada lg yg mau teken kontrak sm indonesia..jadi harus mikir panjang sblmny bkn asal bikin keputusan

      Hapus
  13. Sik... Sik... Sik...,
    Bodrex mana bidrex...

    #sambilpegangkepala

    BalasHapus
  14. pesawat ini udah nge lock SU27 china beberapa kali. ga bisa juga dianggap enteng. Interlink communicationnya dashyat

    BalasHapus
  15. Buset dah...udah pade mikir itu Sukhoi berapa ongkos ngerawatnya ?? F-16 aja deh..jadi antek barat le ih asoy daripada jadi antek pecundang Rusia atau China..barang KW (Sukhoi)..mau diagung agungkan..ha,ha..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berapa emang ongkosnya kl sampeyan tau? Kl mau irit silahkan pespur make pesawat kitiran.

      Tidak ada harga yg terlalu mahal utk yg namanya kedaulatan.

      Hapus
    2. Berapa emang ongkosnya kl sampeyan tau? Kl mau irit silahkan pespur make pesawat kitiran.

      Tidak ada harga yg terlalu mahal utk yg namanya kedaulatan.

      Hapus
    3. Mo murah pake super tucano buat kejar F 18 hornet...saya jamin..binasa!!!

      Hapus