11 Juni 2016

Mengintip “Mata” Baru JAS39 Gripen NG

11 Juni 2016


IRST Selex Skyward-G dan radar AESA Selex Raven ES-05 (photo : dunkbear)

Linkoping, Swedia (ANTARA News) - Saat menginjakkan kaki ke dalam hanggar di mana JAS39 Gripen E nomor seri 39-7 berada di samping JAS39 Gripen C, di Linkoping, Swedia, hal yang ada di depan mata langsung bisa mengarahkan pada bagian “hidung” pesawat tempur terkini produksi Saab, Swedia itu. 

Ada yang berbeda di “hidung” yang sebetulnya “tudung” alias radome radar pesawat jet tempur itu. 

“Itu adalah instrumen yang telah kami ‘tanam’-kan pada Gripen E dan F, infra red search and track sebagai penjejak target berbasis elektro optik yang memungkinkan dia meningkatkan kewaspadaan situasionalnya saat bertempur di udara,” kata Kepala Wing Penerbang Saab, Hans Einerth, di hanggar JAS39 Gripen di Linkoping, beberapa waktu lalu. 

Instrumen baru itu bentuknya seperti bola kaca yang cukup mencolok mata, terletak di sisi kanan luar kaca depan kokpit JAS39 Gripen E.


Saab meluncurkan JAS39 Gripen NG yang sebetulnya nama lain dari JAS39 Gripen E/F, namun untuk keperluan domestik Brazil sebagai pengguna terbaru pesawat tempur multiguna-multimisi ini. Tidak tanggung-tanggung, Brasil membeli 36 unit JAS39 Gripen NG lengkap dengan skema transfer teknologinya. 

Pertama kali IRST ini diujicobakan pada JAS39 Gripen E nomor seri 39-7 adalah pada awal April 2014 yang terus-menerus disempurnakan sistemnya. Adapun pabrikan yang dipilih adalah sistem Skyward-G buatan pabrikannya di Nebbiano, Italia, dan dari Selex, yang sama-sama berbasis sistem Passive Infra Red Airborne Track Equipment alias PIRATE, suatu sistem buatan Eurofirst (konsorsium Sales EX, Thales Optronics, dan Tecnobit), yang juga dipakai di Eurofighter Typhoon.

Beda platform alias basis fuselage pesawat terbang yang sangat jelas (Gripen mesin tunggal dan lebih “kecil” ketimbang Typhoon bermesin ganda dan lebih “besar”) bukan halangan untuk menerapkan sistem penjejakan dan kewaspadaan situasional ini. Skyward-G dan Selex sebagai pemasok IRST ini akan bahu-membahu dengan radar aktif AESA (Actively Electronics Scanned Array) Raven ES-05 aktif buatan Selex yang dipasang hingga tiga unit.


“Inilah jawaban kami atas target dengan jejak radar minim sehingga kami bisa mendeteksi mereka,” kata Wakil CEO Saab Group, Lennart Sindahl, dalam penjelasannya secara terpisah kemudian. JAS39 Gripen sejak masih di seri A hingga NG alias E/F memang tidak menganut trend stealth yang kondang dengan bentuk persegi diamond cut-nya. 

Radar AESA Raven ES-05 aktif-nya memang memungkinkan JAS39 Gripen NG menyapu ruang pada sudut 100 derajad ke depan di sekeliling “hidung”-nya. Jika mengandalkan radar berpola kerja forward looking infra red, pilot bisa saja menerapkan taktik mematikan radar untuk mengelabuhi lawan, tetapi pilot bisa lebih mantap dengan misinya setelah menghidupkan sistem PIRATE itu. 

Prinsip kerjanya sebetulnya sederhana saja, yaitu menyapu ruang seluas 100 derajad di depan dalam bentuk konus, mencari dan melacak target dan emisi sinar infra merahnya (yang satu “paket” dengan jejak thermal pancaran gas buang target, apakah itu mesin jet ataupun roket).


IRST, AESA and IFF on Gripen E (photo : Vianney Riller Jr)

Data “temuan” inilah yang secara simultan dikomunikasikan oleh subsistem aspek nonkritis penerbangan di dalam JAS39 Gripen NG, melalui radar AESA Raven ES-05 aktif. 

Bekerja pada pancaran dual band infra merah, yaitu 3-5 dan 8-11 mikrometer, maka kalkulasi penjejakan dan penentuan target dilakukan secara pasif dan bisa diterapkan pada target di darat, laut, ataupun udara. 

Sebagai sistem pasif, IRST tidak memberi kisaran jarak ke target namun memberi data percepatan kinetik yang dihasilkan dari manuver serta perubahan sudut azimuth antara target dan pesawat tempur JAS39 Gripen NG. Jika ini dioperasikan secara simultan pada dua atau lebih JAS39 Gripen NG maka mereka bisa menentukan sudut triangulasi target melalui datalink TAU.

 Bisa dibilang, paduan sistem PIRATE dari Skyward-G dan Selex serta AESA Selex Raven ES-05 itu bisa juga dipakai untuk operasi SAR maritim, jika diperlukan dan diinginkan. 



Laiknya teknologi masa kini maka data hasil bacaan kedua sistem itu (PIRATE dari Skyward-G dan Selex serta AESA Selex Raven ES-05) bisa diubah menjadi tampilan grafis dan dilihat pilot di visor helm khususnya. 

“Prinsipnya adalah tampilkan hanya hal-hal yang Anda perlukan. Kenapa begitu? Karena data yang bisa disajikan sangat amat banyak dan Anda harus memilih data yang sesuai dengan misi Anda. Abaikan yang tidak perlu, serahkan pada sistem komputasi di pesawat tempur. Dia akan melakukannya untuk Anda,” kata Kepala Pilot Uji Saab, Richard Ljungberg. 

Dia katakan itu sesaat sebelum JAS39 Gripen NG diluncurkan di hanggar produksi yang diubah menjadi arena peluncuran laksana panggung opera yang kaya akan tata lampu dan tata suara megah. 

“Cukup aktifkan mode helmet mounted sight dan Anda akan mendapatkan data itu,” katanya. IRST sistem PIRATE dari Skyward-G dan Selex mampu melacak dan menjejaki 200 sasaran berbeda secara simultan secara mode tunggal atau mode jamak (multiple).



Jika sasaran sudah dikenali dan akan dikunci, maka arahkan sapuan IRST Skyward-G dan Selex dan AESA Selex Raven ES-05 itu ke sana, maka kinerjanya akan lebih sehingga akurasi akan semakin meningkat tajam. 

Kegunaan data dari sistem PIRATE Skyward-G dan Selex pada sistem IRST dan AESA Selex Raven ES-05 juga sangat dirasakan dalam praktik dogfight ketat. 

Selain kemampuan tempur dan mengemudikan pesawat tempur, pilot dapat memenangi pertempuran jarak dekat ini dengan bantuan teknologi. Di sinilah penting peran kanon 27 milimeter Mauser BK-27 —kanon standar JAS39 Gripen series— yang dipasang di sisi kiri bawah “hidung” JAS39 Gripen NG. 

Kedua sistem ini (sistem avionik IRST dan AESA plus Mauser BK-27) saling berkomunikasi dan memudahkan pilot untuk membidik dan “mengunci” sasaran yang akan ditembak dengan amunisi seukuran 27 x 145 milimeter berbasis sistem pemantik pyrotechnic high explosive dengan kecepatan 1.100 meter perdetik. 

(Antara)

5 komentar:

  1. Di luar pesawat tempur siluman, SU-35 tetap lebih baik dan lebih unggul

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, ya?
      Dalam hal apa Su-35 lebih unggul?

      ## Training??
      Dengan biaya operasional $40,000/jam di Russia, dan bisa melompat ke >$100,000/jam untuk AU yg hanya bisa beli 8 unit, pilot Sukhoi akan mendapat berapa jam terbang per tahun?
      Untuk setiap jam terbang Sukhoi, pilot Gripen dapat menabung 10x jumlah jam terbang latihan.
      Jangan lupa juga, kalau Sukhoi sudah dikenal sebagai "hanggar queen", atau mungkin perlu dikirim balik ke Russia setiap beberapa tahun untuk "perbaikan mendalam".
      Sebaliknya Gripen sudah dirancang untuk terbang berkali-kali dalam sehari. Didesain untuk mengudara, dan menjaga wilayah udara nasional, bukan untuk ngendok di hanggar, atau dalam perut AN-124.

      ## Radar saja masih tipe PESA, single-frequency, 20kW; gelombang radarnya akan mudah terlihat. Pilot Sukhoi yg menyalakan radarnya sudah "memberitahukan" posisinya sendiri ke semua pespur dngn AESA radar, dan sistem RWR modern dari jarak 400 kilometer+.

      ## Persenjataan BVRAAM yang diperbolehkan untuk di-export juga hanya RVV-AE, izdeliye-190, alias R-77 versi export.
      Ironisnya, Russia sendiri tidak pernah terlihat membawa satupun R-77 di setiap pespur mereka, melainkan R-27 (AA-10 Alamo), yang pabriknya berada di Kiev, Ukrania.
      Silahkan cari foto Su-30SM, atau Su-35 di Russia, dan lihat missile apa yg dicantoli disana!
      Kemampuan kill RVV-AE? Tehnologi tahun 1990-an, dan jarang di-tes bukanlah tandingan AIM-120C7 AMRAAM buatan US, apalagi MBDA Meteor, untuk ketiga Eurocanards.
      Gripen adalah Eurocanards pertama yg sudah mengintegrasikan Meteor. Jarak jangkau maksimum diperkirakan bisa mencapai 300 kilometer, dan kemampuan kill-nya tidak akan berubah bahkan pada jarak maksimum, berkat sistem propulsion ramjet utk mengatur kecepatan secara optimal, next generation guidance system, yg dipandu dgn 2-way datalink.

      ## Kemampuan kinematis, dan TVC?
      T/W Ratio dan wing-loading Su-35 dengan kondisi combat load, akan hampir seimbang dengan F-18F Super Hornet; jauh dibawah dibandingkan F-15C/E.
      Pilot yg berani main TVC dalam jarak dekat, hanya akan menggali kubur sendiri. Kehilangan daya dorong mesin, atau gaya lift dari sayap = kecepatan NOL! TVC merubah Sukhoi menjadi bebek tak berdaya untuk dibantai pesawat tempur non-TVC!
      ## Dalam pertempuran jarak dekat, ukuran bongsor, dan dua mesin panas juga hanya akan menjadi liabilitas!
      Sukhoi, ataupun F-15, adalah target yang jauh lebih besar dan mudah terlihat oleh radar Mk1: Mata pilot!
      Peluru, dan missile kan juga "bodoh" -- mereka tidak bisa membedakan mana pespur twin-engine, atau single-engine. Yang mereka tahu, pespur yg ukurannya lebih besar, dan pantatnya lebih panas, adalah sasaran yang lebih aduhai!
      Sebaliknya, Gripen sudah dirancang dari awal untuk ukuran kecil, justru agar lebih sukar dilihat mata dalam pertempuran jarak dekat, pengurangan Infra-Red Signature utk menyulitkan lock dari WVR missile modern, dan Radar Cross Section juga jauh lebih rendah (<0,1 m2).

      ## Jarak jangkau lebih unggul?
      Hanya 4.500 km, padahal kapasitas tangki internal 11.500 kg + 2 drop tank.
      Gripen dapat mencapai 4.000 km, dengan kapasitas tangki hanya 3.360 kg + 2 drop tank.
      Boros, bukan? Dan dalam kondisi tempur, jarak jangkau Gripen akan lebih unggul. Tidak seperti Sukhoi yg bongsor, dan DRAG RATE-nya tinggi, Gripen bisa supercruise w/ combat load. Tidak perlu banyak menyalakan afterburner, lebih hemat bahan bakar.

      ## Terakhir, mana upgrade untuk Su-35?
      Sejak tahun 2007, pespur ini tidak pernah berubah. Russia tidak pernah mendesain pesawat agar mudah di-upgrade.
      Sebaliknya Gripen dapat di-upgrade terus menerus, dengan paket MS setiap 3 tahun untuk standardisasi.

      ## Hampir tidak mungkin pilot Su-35 akan dapat menembak jatuh Gripen.
      Pilot Gripen akan mempunyai keunggulan TRAINING dibanding pilot Sukhoi manapun. Pesawat tempur mereka sendiri jauh lebih modern, dan jauh lebih sukar untuk dideteksi. Persenjataan, dan perlengkapan juga semuanya akan 100% tehnologi Abad ke-21, bukan peninggalan Perang Dingin.

      Hapus
    2. mending f-16 viper dihadapan viper gripen mah cupu

      Hapus
  2. Your website is terribly informative and your articles are wonderful.<a href='http://www.militarymovers.co/about-us/

    BalasHapus
  3. semoga tni au jangan tergoda barat dalam melemahkan aangkatan udara!! sekali pilih su 35 tetap su 35...karena zaman sekarang ujung tombak angkatan bersenjata adalah supremasi udara..

    BalasHapus