06 Mei 2009

Skyhawk Cari Bapak Angkat

16 April 2005

A-4 Skyhawk TNI-AU (photo : Kaskus Militer)

Diapit kiri dan kanan oleh jet tempur F-16 Fighting Falcon, tongkrongan A-4 Skyhawk gagah sekali, tidak kurang sedikit apa pun dari dirinya. Apalagi dijejerkan dengan dua F-16 siap tempur, Skyhawk dengan nomor ekor TT-0431 tersebut yang sudah nongkrong lebih dari setengah tahun di Pangkalan Udara Iswahjudi, Madiun, memberi impresi siap tempur bila ada perintah scramble ke udara dari shelter Fighting Falcon-nya.

Kenyataan tidak demikian. Skyhawk satu ini bakal tidak pernah scramble lagi, kecuali ada upaya mempertahankannya sebagai flying museum-museum terbang. Dia berada di bawah atap shelter F-16 Skadron Udara 3 Iswahjudi, Madiun, menunggu nasibnya menjadi monumen.

"Kasihan deh… luu," dan "Selamat tinggal…", tulis dua penerbang pada badan pesawat tempur yang banyak jasanya selama 25 tahun menjadi tulang punggung kekuatan udara Indonesia ini. Sekujur tubuh dan sayapnya penuh dengan tulisan mengungkapkan perasaan sayang, pilu, serta sedih berpisah.

Bersama dua rekan jet tempur taktis Skyhawk lain-satu di antaranya berkursi tandem- pesawat A-4 yang pernah juga menjadi andalan Amerika Serikat di berbagai medan tempur ini, 5 Agustus 2004 diterbangkan dari Lanud Hasanuddin ke Lanud Iswahjudi dan Adisucipto, Yogyakarta, sebagai penerbangan terakhir mereka.

Setelah terbang 1 jam 15 menit dari Makassar, begitu tiba di Madiun, ketiga Skyhawk buatan pabrik AS McDonnell Douglas tersebut terbang lintas 300 meter di atas landasan pangkalan Iswahjudi. Dengan manuver bom burst indah, kemudian Kapten Penerbang B "Casper" Pramuhardi yang menulis last rider pada badan pesawat TT-0431, belok tajam ke kiri memisahkan diri dan mendarat di Madiun. Dua Skyhawk dari Skadron Udara 11 Lanud Hasanuddin lainnya melanjutkan penerbangan ke Yogyakarta dan mendarat di Lanud Adisucipto. Nasibnya juga sami mawon- akan masuk museum dan dijadikan monumen. Mesin-mesin turbojet Pratt & Whitney J52-P-8-berdaya dorong 9.300 pon-nya akan disumbangkan kepada sekolah dirgantara di kedua kota.

Setelah berjasa sejak Mei 1980, peran Skyhawk pada Skadron 11 Hasanuddin akan diambil alih secara berangsur oleh jet tempur supersonik Mach 2 (dua kali kecepatan suara) Sukhoi Su-27 dan Su-30 buatan Rusia yang juga dikenal dengan nama sandi Barat, Flanker. Saat ini jajaran TNI AU sudah diperkuat dengan empat Sukhoi, secara bertahap tahun 2005 ini jumlahnya bakal bertambah dengan enam unit lagi sehingga pada penutupan tahun, bila tidak ada halangan, akan genap menjadi 10 pesawat lengkap dengan persenjataannya dari 16 Sukhoi yang dibutuhkan Indonesia.


A-4E Skyhawk TNI Angkatan Udara (photo : Indoflyer)


Senin (11/4) lalu keempat Sukhoi dilepas dari Pangkalan Udara Iswahjudi, Madiun, menuju sarang barunya di Makassar, Sulawesi Selatan. Menurut Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Madya Djoko Suyanto seusai acara Peringatan Hari Angkatan Udara ke-59, 9 April, jet-jet tempur tersebut sebelum akhir tahun sudah dipersenjatai dengan roket, peluru kendali (rudal), dan bom (Kompas, 11/4). Sementara pelepasannya "disaksikan" pula oleh A-4 Skyhawk T(empur) T(aktis)-0431 yang nongkrong di bawah atap shelter F-16, shelter yang bertetangga dengan hanggar di mana Su-27 dan Su-30 bersarang selama ini.

Meskipun kalah pamor dengan Sukhoi Su-30 dan F-16 yang digelar di luar shelter, TT-0431 masih mampu menyedot perhatian 85 pembaca Angkasa-para peserta kunjungan "Invasi Angkasa ke Sarang Pemburu ke-2" yang diselenggarakan majalah dirgantara ini bekerja sama dengan TNI AU pada 30 Maret-1 April lalu.

Terlebih lagi tulisan pesan-pesan di sekujur tubuh Skyhawk ini menarik perhatian para peserta dan baru kali itu sebagian besar dari mereka melihat dan menyentuh sosok A-4 yang dilengkapi dengan probe -alat yang mencuat keluar pada hidung pesawat untuk pengisian bahan bakar di udara.

Sebanyak 32 pesawat tempur taktis A-4 Skyhawk yang dibeli secara sangat rahasia melalui sandi "Operasi Alpha" oleh Indonesia dari Israel pada tahun 1980, tulis Marsekal Pertama Djoko Poerwoko dalam bukunya, My Home My Base, Perjalanan Sejarah Pangkalan Udara Iswahjudi 1939-2000, berkemampuan melaksanakan air-refueling atau pengisian bahan bakar di udara dengan pesawat tanker C-130BT Hercules yang dilengkapi dengan selang berkepala droge.

"Tim dari US Marine Corps didatangkan (ke Madiun) untuk mengajarkan metode air-refueling antara A-4 dan pesawat tanker C-130BT sehingga A-4 akan lebih cepat dan lama di dalam melaksanakan suatu misi… membutuhkan kepiawaian penerbang A-4 guna menangkap droge selagi terbang dengan kecepatan 225 knot, sedangkan ketinggian biasanya 5.000 meter," ujar Djoko Poerwoko, yang kini berpangkat Marsekal Muda dan menjadi Panglima Kohanudnas, dalam bukunya.
Dalam tugasnya menjaga kedaulatan wilayah udara Indonesia, Skyhawk dengan kemampuan tersebut melakukan penerbangan jarak jauh Medan-Madiun, Makassar-Biak, Madiun-Manado, serta latihan endurance flight, terbang selama 4,5 jam nonstop. Dan untuk membuktikan kemampuan itu, satu flight A-4 dengan beban enam bom MK-82, 14 roket FFAR dan dua tangki cadangan Januari 1987 terbang dari Iswahjudi langsung ke daerah operasi di Baucau, Timor Timur, dengan dukungan sebuah pesawat tanker C-130BT.

Terakhir Indonesia mendatangkan Skyhawk adalah pada Juni 1999, yakni dua pesawat kursi ganda TA-4J Skyhawk untuk memperlancar pencetakan penerbang baru A-4. Kedua pesawat tersebut adalah bekas pakai US Navy yang di-refurbish-dimutakhirkan oleh Safe Air Limited Bleinheim di Selandia Baru. Meskipun bekas pakai, dua pesawat tersebut tergolong masih usia "muda" dalam jajaran Skadron 11 Hasanuddin. Salah satunya adalah yang diterbangkan ke Yogya 5 Agustus 2004 lalu.
A-4E di museum Yogyakarta (photo Davidelit)

Melihat tulang punggung kekuatan udara Indonesia ini akan menjadi monumen di Madiun dan Yogyakarta, rasanya trenyuh hati ini. Setidak-tidaknya para peserta "Invasi Angkasa ke Sarang Pemburu ke-2" mengharapkan Skyhawk TT-0431 dipertahankan untuk dijadikan museum terbang bersama dua A-4 berkursi tandem atau ganda yang masih "muda" usianya tersebut.

Seperti pengalaman saya di pameran dirgantara "Oskosh Fly-in" di negara bagian Wisconsin, AS, bersama pengunjung lainnya sangat senang melihat pesawat vintage Perang Dunia II masih terbang. Tidak saja pesawat pemburu P-51 Mustang dan Corsair yang terkenal dalam film Ba Ba Black Sheep.., tapi pesawat tempur legendaris Zero Jepang memeriahkan langit Oskosh-kota yang amat terkenal dengan busana bayi dan anak-anak Oskosh B’gosh serta motor gede Harley Davidson-nya.

Kemudian melesat bagaikan roket, dua MiG-21 buatan Uni Soviet dengan atribut Angkatan Udara Vietnam Utara-di Indonesia pesawat supersonik pertama yang memperkuat jajaran Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) era 1960 ini malah dijadikan monumen. Lebih terperangah lagi melihat salah satu Zero-nya, menurut announcer, dari kuburan pesawat terbang Irian Jaya (sekarang Papua). Dihidupkan kembali dan terbang megah di Oskosh. Contoh lainnya, di Farnborough Airshow, di luar kota London, Inggris, hati bergetar oleh deru mesin formasi pesawat bomber Lancaster dan pesawat tempur Spitfire yang terbang melintas pameran bergengsi tersebut.

Pesawat-pesawat vintage di Oskosh masih mampu terbang layaknya pada era jaya-jayanya masa silam, karena ada yang merawatnya. Istilah di Oskosh, "dititipkan" kepada badan atau perorangan. Orang yang dititipkan itu bahkan ada yang menerbangkan sendiri pesawat "titipan" negara tersebut. Dialah yang merawatnya dan apabila diperlukan untuk suatu acara, misalnya di Indonesia, hari ulang tahun TNI AU 9 April, pesawat tersebut ambil bagian dalam terbang lintas atau demo udara.

Dalam arti lain mencari bapak asuh bagi A-4 Skyhawk. Salah satu bapak asuh di TNI AU sendiri antara lain dalam sosok almarhum Marsekal Ramli. Marsekal satu ini terkenal dengan kutak-katiknya di hanggar Pangkalan Udara Kalijati, Subang, Jawa Barat. Banyak pesawat tua yang rusak diperbaiki, kemudian dibuatnya terbang lagi. Di antaranya pesawat P-51 Mustang, Beaver dan Dornier serta sejumlah pesawat lainnya.

Sebagai museum terbang, A-4 Skyhawk antara lain nantinya akan sangat berguna bagi misalnya siswa Universitas Suryadarma Halim Perdanakusuma. Bukan mesin yang mati, tapi mesin hidup Pratt & Whitney J52-P-8 yang mereka bisa pelajari dengan sosok utuh pesawat Skyhawk lengkap dan masih laik terbang. Dengan demikian, pembinaan unsur dirgantara Angkatan Udara sebagai pembinanya akan lebih efektif.

Dari peserta rombongan Angkasa ke Sarang Pemburu yang baru lalu dengan usia termuda sembilan tahun dan tertua 73 tahun, terlihat bagaimana mereka sangat termotivasi dibuatnya. Mereka ingin melihat di masa depan Skyhawk yang mampu melesat 1.392 km/jam dengan rentang sayap 8,38 meter dan panjang badan 12,29 meter serta berat kotor 12.428 kilogram terbang memeriahkan Hari Jadi Angkatan Udara atau dalam suatu pameran mendatang yang bakal diselenggarakan di bumi Indonesia.

"Calon bapak angkatnya banyak di sini… siapa tahu salah satu pabrik terkenal di Jawa Timur sini tertarik untuk merawat Skyhawk sehingga meringankan Angkatan Udara," kata Sugiantoro, salah seorang peserta, memberi gambaran kepada Komandan Pangkalan Iswahjudi Marsekal Pertama TNI Imam Sufaat.

Sementara mantan KSAU Marsekal TNI Hanfie Asnan yang pernah menjadi penerbang Skyhawk mengenang jet tempur berpungguk ini dalam buku Djoko Poerwoko: "Kenangan terbang yang tak terlupakan adalah ketika saya bersama empat rekan mendapat tugas operasi penyelamatan komandan rayon militer Ranai yang disandera penyelundup senjata dan dibawa lari dengan kapal ke arah Vietnam. Operasi yang melelahkan ini benar-benar jadi bukti ketangguhan A-4 Skyhawk."

Sama dengan Skyhawk, pesawat Hawk MK-53 Skadron Udara 15 yang juga kalah pamor dengan Sukhoi Flanker dan Fighting Falcon, dengan caranya sendiri mampu pula menimbulkan kekaguman para peserta sewaktu penerbangnya sebelum masuk kandang memperagakan kemampuan jet tempur produksi British Aerospace ini membuat manuver putaran radius kecil berulang kali di pelataran parkir. Tidak ada lain kecuali mengundang decak kagum penontonnya.

Tidak ayal lagi semua kamera, video kamera, dan telepon seluler diarahkan kepada Hawk MK-53 buatan Hawker Siddeley (kemudian diakuisisi oleh British Aerospace) yang mulai memperkuat TNI AU September 1980. Begitu pilotnya keluar dari kokpit, empat dari enam peserta wanita-Salmi (siswi SMP Rawamangun), Aquarina (mahasiswi Malang), Arie Wahyu (mahasiswi Madiun), dan Veronica (karyawati Jakarta) langsung minta dipotret bersama. Tidak hanya itu, puncaknya, para peserta difoto dalam kokpit Hawk.

TA-4 - pesawat latih Skyhawk (photo : Indoflyer)


Menerbangkan pesawat supersonik F-16 adalah puncak dari kunjungan ke Pangkalan Udara Utama Iswahjudi lainnya. Tentunya bukan duduk di kokpit sesungguhnya, melainkan dalam kokpit simulator F-16 Wing 3 Lanud Iswahjudi. Fasilitas satu-satunya di kawasan ini tidak saja digunakan untuk mencetak penerbang baru Fighting Falcon yang dibutuhkan TNI AU, tetapi juga dipergunakan Angkatan Udara negara tetangga, Singapura.

Selain duduk dalam kokpit simulator F-16, seluruh peserta juga diberi kesempatan duduk dalam kokpit sesungguhnya untuk dibuat foto kenangan. Kemudian untuk mengetahui cara kerja kanon Aden pesawat tempur Hawk, melihat sendiri uji penembakan Aden yang baru selesai menjalani perawatan sebelum dipasang kembali dalam pesawat Hawk.

Di depo senjata digelar berbagai persenjataan mulai dari senapan laras pendek dan serbu, bom, dan roket yang digotong pesawat-pesawat tempur Lanud Iswahjudi, di antaranya peluru kendali Maverick. Rombongan pembaca Angkasa kemudian diajak meninjau bengkel perawatan pesawat di mana sejumlah F-16, F-5, dan Hawk sedang menjalani perawatan.

Secara kebetulan pada saat kunjungan ke Iswahjudi ada upacara siraman 1.000 jam terbang Mayor Pnb Ronny "Red Fox" Moningka pada pesawat tempur F-5 Tiger II. Suatu atraksi tersendiri menyaksikannya-betapa tidak, itu merupakan suatu prestasi bagi pilot tempur. Untuk mencetak penerbang dengan 1.000 jam terbang cukup mahal-biayanya 2.500 dollar AS per jam atau itu sama dengan 2,5 juta dollar AS!

Itulah salah satu alasan Basori (62), warga Surabaya, membawa keponakannya, Syarief Achmad (15), menjadi peserta, antara lain menyaksikan upacara yang mengesankan tersebut. Basori yang pernah jadi pandu udara di masa mudanya serta aktif olahraga dirgantara aeromodelling, sudah akrab dengan pangkalan udara. Di usia senjanya, ia sekarang ingin bernostalgia ke Iswahjudi dan menularkan minat dirgantaranya kepada keponakannya.

"Siapa tahu, Syarief (juga sudah gemar ordiga aeromodelling) dari kunjungan ke sini, tumbuh minatnya menjadi penerbang (tempur)…," ujar Basori memberi alasan lain mengajak keponakannya ke sarang pesawat pemburu Iswahjudi. (Dudi Sudibyo Wartawan, Tinggal di Jakarta)

(Kompas)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar