01 Juni 2009

Pengganti MK-53 Diajukan Bulan Depan

19 September 2008

T-50 Golden Eagle (photo : Militaryphotos)

TNI AU tengah menggodok intensif pengganti pesawat Hawk MK-53. Menurut Kepala Staf TNI AU (KSAU) Marsekal Subandrio, hasil kajian alternatif pengganti jet tempur latih itu akan diajukan ke Departemen Pertahanan (Dephan) bulan depan.
Yak-130 (photo : Airforce Technology)


"Secepatnya habis Lebaran," katanya usai meresmikan batalyon baru korps Pasukan Khas di Jakarta, Kamis (18/9). Dia menjelaskan, terdapat lima alternatif sebagai pengganti Mk-53, yakni, L-159B dari Republik Chek, Yak-130 dari Rusia, Aermacchi M346 asal Italia, Chengdu FTC-2000/JL-9 dari China, dan T-50 asal Korea.

Pilot-pilot tempur matra udara telah mencoba seluruh pesawat-pesawat tersebut. Namun, KSAU masih mengelak menyebutkan pesawat mana yang menjadi prioritas TNI AU.

M-346 Master (photo : Aleniana)

Mengenai spesifikasi, Subandrio mengungkapkan, pihaknya menginginkan pesawat yang dipilih tidak hanya untuk keperluan latihan. Pesawat juga harus bisa "berkelahi" agar dapat mengantisipasi kehadiran pesawat asing di yuridiksi udara nasional.

Masa pakai MK-53 akan habis tahun 2011. Untuk itu, tambah dia, pengadaan penggantinya harus dipersiapkan sejak dini. Terlebih, dalam beberapa pengadaan pesawat sebelumnya, seperti Sukhoi dan pengganti OV-10 Bronco proses pengadaannya sangat lama.


L-159B (photo : Defense Industry Daily)
"Jangan sampai sudah dikandangkan (grounded), penggantinya belum ada," kata lulusan Akademi Angkatan Udara tahun 1975 itu. Saat ini, terdapat enam unit MK-53 di Skadron Udara 15 di Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Iswahjudi. Dari enam pesawat buatan 1977 itu, hanya dua unit yang kondisinya siap terbang. Ketersediaan suku cadang yang makin sulit mengakibatkan tingkat kesiapan MK-53 makin menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tak hanya MK-53, TNI AU juga terus menunggu kepastian penggantian pesawat tempur taktis OV-10 Bronco. Proposal pengganti sudah dikirim ke Dephan awal tahun ini. Matra udara merekomendasikan Super Tucano dari Brasil untuk menggantikan Bronco yang dikandangkan medio 2007 lalu.

"Sampai saat ini belum ada kabarnya," kata dia. Dirjen Sarana Pertahanan Dephan Marsda Eris Herryanto mengatakan, saat ini proses pengadaan Bronco di tangan Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas).

JL-9/FTC-2000 (photo : Airliners)

"Dananya belum dialokasikan Bappenas. Bagaimana mau mengadakan kalau uangnya tidak ada," kata Eris kepada Jurnal Nasional. Meski demikian, Eris mengerti sepenuhnya jika Bappenas belum memprioritaskan pengadaan senjata dibanding persoalan ekonomi dan kesejahteraan rakyat. n

(Jurnal Nasional)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar