14 Mei 2009

KRI Cakra (401) Pasca Repowering

25 Juli 2006

KRI Cakra-401 (photo : Kaskus Militer)

Dengan adanya rencana Angkatan Laut untuk memperbesar Armada Kapal Selam tentu kita akan dapat memberikan konstribusi yang lebih besar dalam rangka menjaga kedaulatan negara Republik Indonesia yang memiliki wilayah perairan yang sangat luas.

Hal itu diungkapkan Komandan KRI Cakra-401 Letkol Laut (P) Iwan Isnurwanto, SH saat diwawancarai Redaksi Majalah TNI AL Cakrawala di kantor Satkasel Dermaga Ujung Surabaya. “Kita sangat menginginkan Armada Kapal Selam lebih besar lagi, dalam arti kalau dulu kita pernah mempunyai 11 kapal selam Whisky klas, kemudian sejak 8 Juli 1981 sampai sekarang kita hanya mempunyai 2 buah kapal selam type 209 berbobot 1300 ton, hasil pengadaan alut pada saat Menhankam Pangabnya Jenderal TNI M. Yusuf. Dari dua pun saat ini kondisinya hanya satu yang siap sementara satunya lagi masih dalam perbaikan. Kalau dua-duanya rusak, bagaimana?” ujarnya.

Menurut Letkol Laut (P) Iwan Isnurwanto,SH, kalau dibandingkan dengan Korea Selatan yang wilayah perairannya tidak seluas Indonesia, mereka memiliki 9 kapal selam type 209 berbobot 1200 ton, belum lagi kapal selam jenis lain. “Namun saya optimis ke depan armada kapal selam kita sedikit demi sedikit akan bertambah besar, apalagi salah satu kapal selam kita sekarang kondisinya sangat baik pasca perbaikan (overhaul) di galangan kapal Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering di Korea Selatan”, tuturnya.

Lebih lanjut Pria ganteng kelahiran Situbondo, 9 November 1965 mulai berkisah tentang proses perbaikan mulai dari pemberangkatan hingga kembali lagi ke Indonesia serta kendala-kendala yang timbul selama proses perbaikan maupun pasca perbaikan.

Dengan penuh keramahtamahan ayah dari Aryo Bimo Dewanto (7th) menerima Tim dari Majalah Cakrawala dan dia mulai bercerita sambil mengingat kembali peristiwa 2 tahun lalu ketika akan berangkat menuju negeri ginseng. Sebelum berlayar ke Korea, terlebih dahulu kita harus melaporkan segala kegiatan yang akan dilaksanakan ke Mabesal dengan membuat rencana garis besar pelayaran atau dalam hal ini rencana garis besar penyeberangan yang diberi nama sandi Operasi Hiu Sehat I/06. Dari RGB tersebut Angkatan Laut tahu bahwa kita akan menyeberang kapan, akan muncul dimana, dan lain-lain. Namun untuk pelaksanaan di lapangan kita juga harus mempertimbangkan keselamatan navigasi. Kalau kita menyelam terus menerus bagaimana dengan peralatan, begitupun kalau muncul terus bagaimana dengan peralatan dan disesuaikan dengan kondisi kapal, persenjataan. Mengingat akan melewati perairan internasional yang tentunya kita harus mengikuti peraturan internasional pula. Kalau berlayar di bawah 12 nautical mile berarti kita masuk perairan teritorial wilayah negara lain dan kita harus muncul ke permukaan, tidak boleh kita menyelam. Sementara kalau lebih dari 12 nautical mile kita bebas menyelam.

Pada tanggal 19 Mei 2004 akhirnya Kapal Selam andalan TNI AL , KRI Cakra-401, dari golongan Striking Force diberangkatkan ke Korea Selatan. Dengan pertimbangan-pertimbangan taktis, ekonomis, dan juga kondisi kapal yang tidak memungkinkan untuk berlayar sendiri, maka diputuskan kapal selam itu diangkut dengan menggunakan kapal DOCK WISE, kapal angkut Belanda namun awaknya seluruhnya warga negara Rusia.

Kita sampai di Korea tanggal 28 Mei 2004. Pada saat berangkat posisi kapal selam ada di atas permukaan yang diangkut oleh kapal Dock Wise. Perjalanan menuju Korea selama 9 hari dan langsung masuk ke galangan kapal Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSM). Pada saat itu ABK yang diikutkan sebanyak 10 orang terdiri dari 6 Perwira termasuk Bintara Tinggi dan 4 orang anggota. Anggota sendiri berada di Korea selama 2 bulan dan kemudian kembali lagi ke Indonesia, sehingga yang tinggal di sana hanya 6 orang ditambah 5 orang dari Satgas. Jadi dari awal hingga akhir 11 orang tersebut yang tinggal. Kemudian 5 bulan terakhir sisa personel yang berjumlah 35 orang diberangkatkan ke Korea Selatan. Jumlah ABK sesuai dengan DSP adalah 41 orang namun karena perjalanan ke luar negeri memakan waktu yang lama sehingga diikutkan satu orang dokter dan untuk garansi 2 orang anggota dari DSM, masing-masing tenaga elektrik dan mekanik. Jadi total yang ikut berlayar dalam penyebrangan KRI Cakra dari Korea Selatan menuju Tanah Air adalah 44 orang.

Selama dalam perjalanan tidak ada masalah yang berarti meskipun awalnya memang terasa aneh karena kapal Belanda namun ABKnya orang Rusia semua. Termasuk masalah berkomunikasi, kita cepat beradaptasi bahkan kita diijinkan untuk melihat-lihat situasi kapal yang sebenarnya ada larangan untuk itu.

Setelah perjalanan selama 9 hari, tepatnya tanggal 28 Mei 2004 kapal yang diproduksi galangan kapal Howarldtswerke Deutsche Werft (HDW) Jerman Barat ini masuk ke galangan kapal Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering di Ockpo Korea Selatan. Begitu sampai langsung diadakan inspeksi, kemudian proses perbaikan sampai dengan November sesudah mulai melaksanakan sea trial. Jadi lebih kurang 18 bulan untuk perbaikan, dalam arti sebelum turun ke laut untuk mencoba. Namun secara keseluruhan datang, sampai dengan terakhir sebelum tolak masih dalam proses perbaikan dalam arti pengecekan bagian-bagian mana yang belum berfungsi maksimal langsung disempurnakan.

Setelah perbaikan, kondisi kapal dapat mencapai 80-90%. Ini dapat dibuktikan dengan telah diujinya atau istilahnya NDD (Normal Diving Deapth) untuk mengetahui batas kedalamnya. Dengan adanya NDD ini kita sudah yakin bahwa kapal ini mampu menyelam dalam kedalaman tertentu dengan tidak perlu ada perasaan was-was lagi. Masalah peralatan masih ada peralatan-peralatan lama yang masih dipakai, ada juga peralatan yang seharusnya diganti satu sistem tetapi hanya diganti separuh karena masih bisa digunakan, disamping tambahan beberapa peralatan baru yang sangat berfungsi dan berguna.


Pemuatan torpedo SUT ke KRI Cakra-401 (photo : Bronco1978-kaskus Militer)

Dengan tambahan alat baru yang lebih canggih ABK juga tidak mengalami kesulitan dalam pengoperasiannya karena pada saat pemasangan mereka telah diikutkan. Kita mengoperasikannya dengan cara pelajaran kelas dahulu, bisa juga pelajaran di kapal langsung (On The Job Training). Di lapangan kita sudah langsung praktek mengoperasikan. Diawali oleh instruktur terlebih dahulu yang mengoperasikan, baru kemudian giliran kita yang masang dan mengoperasikan sehingga bila ada kesalahan langsung bisa diadakan pembetulan. Setelah itu kita mengadakan wash up di kelas untuk mengevaluasi dan mencari solusi segala permasalahan yang muncul di lapangan.

Menurut Letkol Laut (P) Iwan Isnuwanto,SH, mungkin yang menjadi kendala lebih kepada sistem peralatan di kapal yang basicnya adalah komputer, sedangkan kita tahu sendiri orang-orang kita/ABK jarang yang menggunakan internet sebagai dasar untuk komputer. Namun sampai sekarang seluruh ABK sudah tidak ada masalah lagi. Yang penting ditekankan kepada mereka untuk selalu berlatih dan berlatih. Kedepan mungkin akan dibekali kursus-kursus secara khusus bagi anggota.

Seusai perbaikan di galangan, pertama kali kita melakukan FTAD atau First Trimming and Diving langsung keluar galangan kapal yang berjarak 300 m kemudian menyelam statis untuk menguji balancing dan kebocoran untuk pertama kali. Latihan dilakukan mulai pagi hingga sore. Setelah selesai kemudian kembali ke pangkalan. Demikian pula keesokan harinya mulai dilakukan Sea Trial di Pohang. Penyelaman mulai dari kedalaman 13m, 30m, 50m, 75m, 100m, 200m kemudian juga kecepatannya. Jadi kita mulai lagi dari awal tahap-tahap pembelajaran dari A - Z.

Penyebrangan ke Indonesia

Seluruh ABK tanggal 9 November 2005 sudah berada di Korea sehari setelah itu mereka langsung melakukan dan mengikuti perbaikan-perbaikan secara otomatis sesuai dengan tugasnya masing-masing. Seperti halnya ketika menyeberang ke Korea, ketika penyebrangan kembalipun pada tanggal 4 April 2006 tidak ada masalah yang berarti kecuali pada saat akan melewati perairan Jepang.

Di Jepang, kita sudah membuat rute namun tidak diijinkan lewat oleh Jepang melalui rute yang telah dibuat dengan alasan yang tidak jelas sehingga kita harus lewat diantara Taiwan. Tidak tahu pasti mengapa Jepang tidak memperbolehkan untuk dilewati. Masalah lain adalah hantaman ombak yang begitu besar setelah sehari keluar dari Korea sampai dengan diutaranya Filipina. Namun sebagai pelaut sejati itu adalah merupakan tantangan, sehingga setelah mengarungi lautan selama 16 hari dengan jarak 2812 mil, kapal yang memiliki panjang 59,57m, tinggi 11,34m dan diameter 6,20m tiba kembali di tanah air dan disambut langsung Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Slamet Soebijanto.

Pada Akhir wawancara dengan Majalah Cakrawala masih sempat suami dari Dewi Kanti Wiludjeng, SE ini menyisipkan pesan kepada junior-juniornya untuk tidak berhenti untuk belajar, karena pada prinsipnya ilmu itu tetap ada dan selalu berkembang diluar kemampuan kita dan kita harus siap untuk itu, kita harus mampu menyerapnya, untuk itu kita tidak boleh berhenti belajar, tidak berhenti mengeksploitasi informasi-informasi yang ada khususnya kapal selam, karena kapal selam memiliki karakteristik yang berbeda dengan kapal permukaan atau lebih kompleks permasalahannya.
Dengan kehadiran kembali kapal selam KRI Cakra-401 semakin memantapkan kemampuan dan kekuatan TNI AL dalam melaksanakan tugas penegakkan kedaulatan dan hukum di laut©

(Beta-TNI AL)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar