18 Mei 2009

Linud Kostrad : Pemukul Tercepat TNI

Februari 2007

Perlengkapan prajurit Linud Kostrad (photo : Angkasa)

Dalam sudut pandang kelembagaan, TNI mengenal pasukan linud yang dikonsentrasikan di Kostrad (komando Strategi dan Cadangan TNI-AD). Pasukan linud ini ditempatkan di bawah kendali Panglima Divisi I dan II Kostrad. Divisi I bermarkas di Cilodong, Jawa Barat dan Divisi II di Malang, Jawa Timur.

Kalau Kostrad dipimpin jenderal berbintang tiga, maka divisi oleh seorang jenderal berbintang dua. Divisi I membawahi Brigif Linud 17 di Cijantung, Brigif Linud 3 di Makassar, Brigif 13 di Tasikmalaya, Resimen Artileri Medan (Menarmed) 2 di Purwakarta, dan Batalion Berdiri Sendiri (battalion BS).

Khusus Brigif Linud 17, membawahi Yonif Linud 305 di Karawang, Yonif Linud 328 di Cilodong, dan Yonif Linud 330 di Cicalengka. Sementara Brigif Linud 3 diperkuat Yonif Linud 431, Yonif Linud 432, dan Yonif Linud 433, yang semua bermarkas di Makassar.

Sementara di Divisi II ada Brigif Linud 18 di Malang, Brigif 6 di Solo, Brigif 9 di Jember, Menarmed 1 di Jember, dan Batalion BS. Lagi-lagi khusus Brigif Linud 18, membawahi Yonif Linud 501 dan Yonif Linud 502 di Malang serta Yonif Linud 503 di Mojokerto.

Dengan komposisi sembilan battalion linud, diduga Kostrad saat ini berkekuatan sekitar 6.300 pasukan Linud. Dengan anggapan, satu battalion berkekuatan 700 personel.

Di lingkungan pasukan paying biasa dikenal pathfinder atau pandu udara. Pathfinder bertugas sebagai tim pendahulu dalam sebuah operasi linud. Mereka diterjunkan atau didaratkan di wilayah musuh untuk menentukan titik penerjunan (dropping zone). Hanya saja di lingkungan Kostrad, tim pandu udara berada di bawah kendali brigade.

Timtim dan NAD

Ada tiga gelombang pendidikan dasar para yang dijadikan acuan linud Kostrad. Setiap pendidikan biasanya diikuti sekitar 50 peserta. Pendidikan dilaksanakan selama satu bulan. Meliputi dua minggu ground training di batalion dilanjutkan dua minggu berikutnya terjun sesungguhnya di PTP (Pusat Terjun Payung) TNi AD di Batujajar, Bandung, Selama penerjunan, tiap prajurit diberi kesempatan tejun tujuh kali. Setelah itu mereka kembali ke battalion dengan ilmu baru sebagai pasukan infanteri lintas udara.

Untuk memelihara kemampuan terjun personel, Kostrad mengenal program pembinaan tiga kali setahun. Mencakup terjun penyegaran (jungar), terjun taktis (juntis), dan terjun gabungan dengan konsep latihan PPRC. Latihan terakhir PPRC dilaksanakan di nanggroe Aceh Darussalam berbarengan dengan dimulainya operasi militer di NAD, Mei 2003. Ketika itu sekitar 480 personel Yonif Linud 502 diterjunkan di Lanud Sultan Iskandar Muda. Penerjunan dilakukan mengikuti konsep linud yang baik dengan adanya pengawalan dari pesawat tempur.

Personel batalion ini pula yang sebagian besar diterjunkan dalam operasi linud terbesar TNi di Timor Timur pada 7 Desember 1975 bersama Grup 1 Kopassandha. Ketika itu pasukan linud Yonif Linud 502 dipimpin Letkol Inf Sugito. Dalam penerjunan dari C-130 TNI AU itu, strop warna kuning sepanjang sembilan meter dari parasut T-10, diperpendek menjadi enam meter agar parasut lebih cepat mengembang (Hendro Subroto, Saksi Mata Perjuangan Integrasi Timor Timur, 1996).

Ketika Brigade 18, induknya Yonif Linud 502 diterjunkan bersama Grup 1, ternyata mantan Tropaz tidak lari. Mereka bertahan dengan gigih, sehingga 122 orang anggotanya tewas. Korban di pihak pasukan gabungan ABRI cukup besar. Hari pertama itu, 35 anggota linud Kostrad dan 16 dari Grup 1 gugur. Enam orang lainnya dari baret merah dinyatakan hilang.

Tiga hari kemudian, 10 Desember, kembali unsure dari Brigif Linud 17 diterjunkan untuk merebut lapangan terbang Villa Salazar di Baucau. Penerjunan melibatkan juga Grup 1 dan Detasemen A Paskhas.

PPRC
Prajurit Linud Kostrad dalam salah satu latihan (photo : kaskus Militer)
Karena pasukan linud pada dasarnya adalah infanteri plus, keberadaan battalion diset tidak jauh-jauh dari pangkalan udara militer. Kalau Brigif Linud 17 orientasinya ke Lanud Halim Perdanakusuma, Brigif Linud 3 ke Lanud Hasanuddin, Makassar, maka Brigif Linud 18 ke Lanud Abdulrachman Saleh, Malang. Sayangnya di Makassar tidak tersedia skadron angkut berat, seperti halnya di Jakarta dan Malang. TNI AU mendukung operasi linud menggunakan pesawat Lockheed C-130 Hercules.

Sebagai pasukan tempur, battalion linud selalu memelihara kesiapan prajurit untuk siap diberangkatkan kapan saja. Istilahnya RRF (Ready Reaction Force). Status RRF biasanya merujuk ke pola penggelaran pasukan TNI yang disebut PPRC (Pasukan Pemukul Reaksi Cepat). Batalion yang ditunjuk sebagai PPRC untuk masa dua tahun, harus selalu siap digerakkan dalam waktu tercepat. Biasanya status PPRC diberikan kepada battalion linud, karena lebih cepat digerakkan dan berprofil ringan (light infantry).

Pasukan berstatus PPRC selalu siaga setingkat battalion. Walau pada praktiknya hanya satu kompi. Kompi yang ditunjuk mewajibkan anggotanya tidak boleh meninggalkan markas dan harus mengenakan pakaian dinas lapangan (PDL). Sebuah ransel berisi perbekalan selama tujuh hari disiapkan, tinggal digotong begitu perintah turun. Status RRF diberlakukan per kompi per hari.

Beban pasukan linud Kostrad melebihi pasukan biasa. Hampir 60 kilogram. Mencakup paying utama RI-T10 berat 13 kilogram, paying cadangan di dada delapan kilogram, dan ransel perbekalan sekitar 30 kilogram. Masih ditambah senapan SS1-V3 atau V5 popor lipat seberat 4 kilogram dan helm sekitar 1,5 kilogram.

Memang tidak selamanya beban seberat itu diusung. Utamanya parasut, hanya dipakai saat embarkasi ke pesawat hingga exit. Setelah mencapai titik pendaratan (dropping zone), merekapun menjadi prajurit infanteri biasa, (ben)

(Edkol Angkasa Airborne : The Fastest & The Mostest, November 2004)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar