14 Desember 2015

Menengok Teknologi Tiga Dimensi di Kokpit N219

13 Desember 2015


Kokpit dalam pesawat N219 buatan PT Dirgantara Indonesia. (all photos : Kompas)

BANDUNG, KOMPAS.com - Pesawat N219 buatan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) yang resmi diperkenalkan pada Kamis (10/12/2015) lalu, di dalam kokpitnya dilengkapi dengan teknologi synthetic vision.

Synthetic Vision Technology (SVT) adalah sistem komputer yang menampilkan citra lingkungan sekitar pesawat di layar utama kokpit (multi function display/MFD).

Layar akan menampilkan kontur permukaan bumi (topografi) dalam model tiga dimensi (3D), komplit dengan informasi-informasi utama penerbangan (primary flight display/PFD) yang dibutuhkan pilot, seperti altitude (ketinggian), airspeed (kecepatan di udara), serta attitude pesawat.

"Synthetic vision ini seperti main game, semua data informasi ditampilkan, kalau ada data gunung di sekitar kita bisa masukkan dan disinkronisasi," kata Direktur Teknologi dan Pengembangan PT DI, Andi Alisjahbana kepada KompasTekno, Kamis (10/12/2015).

"Jadi kalau di depan ada gunung, ya beneran ada, gunungnya akan keliatan (di layar)," imbuh Andi di sela peluncuran pesawat N219 di hangar PT DI, Bandung, Jawa Barat.


Tampilan Synthetic Visual dalam sistem instrumen Garmin G1000 yang dipakai N219, menampilkan pegunungan di sebelah barat bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat. (photo : Kompas)

Menurut Andi, teknologi SVT ini bisa membantu pilot dan kopilot dalam mengambil keputusan. Meskipun dalam kondisi gelap atau saat ada kabut, pilot tetap bisa melihat kondisi alam sekeliling.

"Ini bisa dikatakan sebagai teknologi yang bisa menyelamatkan orang," katanya.

Riset puluhan tahun

Synthetic vision pertama kali dikembangkan oleh NASA dan Angkatan Udara AS (US Air Force) pada akhir tahun 1970-an dan 1980-an. 

Setelah riset puluhan tahun, pada 2005 lalu NASA berhasil mengintegrasikan sistem synthetic vision ini ke dalam pesawat Gulfstream V yang dipakai dalam pengujian.

FAA (lembaga otoritas penerbangan AS) memberikan sertifikasi pertama untuk teknologi SV-PFD (synthetic vision-primary flight display) ini pada 2009 lalu dalam pesawat Gulfstream.

SV-PFD pun menggantikan artificial horizon biru-coklat tradisional dengan tampilan data topografi yang dihasilkan komputer, sekaligus ditimpa dengan simbol-simbol PFD yang sudah dikenal pilot selama ini.


Tampilan synthetic vision di layar instrumen, memadukan kontur dataran (terrain) dengan informasi-informasi yang biasa ditampilkan di primary flight display (PFD). (image : Kompas)

Semenjak itu, banyak pabrikan sistem glass cockpit mengintegrasikan teknologi itu ke dalam produk-produknya, termasuk Garmin dengan G1000 yang juga dipakai dalam N219.

Kini, sebagian besar pesawat-pesawat terbang keluaran terbaru sudah mengintegrasikan SV-PFD di dalam kokpitnya, seperti Twin Otter Series 400 dan Cessna Mustang.

Sementara 4 pabrikan pesawat besar, Boeing, Airbus, Bombardier, dan Embraer telah berkomitmen untuk memberikan fitur SV-PFD dalam pesawat-pesawat buatannya pada 2018 nanti, jika pihak pemesan memintanya.

Riset yang dilakukan oleh CAST (commercial aviation safety team) yang mempelajari 18 kejadian kecelakaan sepanjang 2003 hingga 2012 menyebut bahwa tampilan visual virtual, alias SVT, bisa membantu mencegah 17 dari 18 kejadian kecelakaan yang terkait dengan hilangnya orientasi awak pesawat.

Beberapa insiden kecelakaan yang dimaksud termasuk kecelakaan Bombardier Q400 milik Colgan Air dan Boeing 737-800 Turkish Airlines, yang keduanya terjadi pada 2009 lalu.

Menurut CAST, seperti dikutiup KompasTekno dari Aviation Week, tampilan visual yang mengalir itu bisa membantu awak pesawat dalam menentukan orientasi, gerakan, dan merasakan jarak dengan daratan, dibandingkan dengan tampilan layar attitude sebelumnya.

CAST memprediksi risiko kecelakaan akibat hilang orientasi ini bisa dikurangi sebesar 16 persen, dengan asumsi 30 persen maskapai di dunia sudah menggunakannya pada 2035 nanti.

(Kompas)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar