31 Maret 2024

Hanwha Aerospace Begins Assembling Australia’s ‘AS9 Huntsman’ Self-propelled Howitzer and ‘AS10 Armored Ammunition Supply Vehicle’

31 Maret 2024

Hanwha will build 30 AS9 SPH and 15 AS10 Armored Ammunition Supply Vehicle for Royal Australian Army (photo: Hanwha Aerospace)

Hanwha Aerospace has begun assembling Australia's first 'Huntsman' howitzer at its Changwon plant. This howitzer is based on the Australian K9 Thunder and is one of the world's most advanced artillery systems with enhanced armor protection and firing capabilities. 


Under the Land 8116 Phase 1 contract signed in 2021, Australia will deploy 30 AS9 'Huntsman' self-propelled armored vehicles and 15 AS10 armored ammunition resupply vehicles. 

The initially produced vehicles will lay the foundation for further production at Hanwha's Armored Vehicle Center of Excellence in Geelong, Victoria, which will contribute to strengthening Australia's defense capabilities and growing the local economy and industry.

Two PPAs for Indonesia

31 Maret 2024

Marcantonio Colonna, the fifth PPA (photo: Fincantieri)

Fincantieri and the Indonesian Ministry of Defense have signed the contract for the supply of 2 Multipurpose Offshore Patrol Vessels to Indonesia, for a value of 1.18 billion euros.

The 2 PPAs covered by the order are units originally intended for the Navy, currently under construction at the Integrated Shipyard of Riva Trigoso-Muggiano. Specifically, there should be 2 PPAs in the LIGHT + version, therefore the MARCANTONIO COLONNA (launched on 26 November 2022) and the RUGGIERO DI LAURIA (launched on 6 October 2023), given that the third and final LIGHT+ unit, RAIMONDO MONTECUCCOLI, has already been delivered to the Navy (27 September 2023). 

Ruggiero Di Laura, the sixth PPA (photo: Fincantieri)

However, given the value of the contract, and considering the growth margins of the units, it is possible to hypothesize a capacity upgrade of the PPAs in question, towards the FULL Combat version.

The Contract was signed by the CEO of Fincantieri, Pierroberto Folgiero, in the presence of the General Director of the Military Ships Division, Dario Deste.

PPA in full combat version (image: Ciro Nappi)

The Indonesian interest in PPAs, which we had already written about previously, was born from the FRANCESCO MOROSINI (LIGHT) naval campaign in the Indo-Pacific (which ended in October 2023), which contributed to making the PPA product known internationally, arousing great interest on the market.

Jepang Hibahkan Kapal Patroli Baru untuk Bakamla RI

31 Maret 2024

Bakamla Indonesia akan menerima satu kapal patroli besar dan baru dari Jepang (photo: Minoru Tanaka)

Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Jepang menghibahkan satu unit kapal patroli kepada Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI.

Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Masaki Yasushi, mengatakan kapal ini akan tiba di Indonesia sekitar dua hingga tiga tahun ke depan. Kapal yang diberikan pun merupakan kapal baru.

"Kami akan memproduksi yang baru dan akan menyerahkannya kepada Bakamla," kata Yasushi dalam press briefing di Kedutaan Besar Jepang di Jakarta, Senin (25/3).

Yasushi juga menuturkan Jepang tidak cuma akan memberikan kapal kepada RI, tetapi juga teknologinya.

"Tak hanya hibahkan kapalnya, kita juga akan ada transfer teknologinya," ujar dia.

Pada Desember lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN-Jepang di Tokyo.

Dalam kesempatan itu, Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi dan Menlu Jepang Yoko Kamikawa melakukan pertukaran nota mengenai bantuan hibah "Proyek Peningkatan Kemampuan Keselamatan dan Keamanan Maritim" untuk penyediaan kapal patroli berukuran besar bagi Bakamla RI.

Hal itu dilakukan usai pertemuan Jokowi dengan Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida.

Alasan Jepang beri RI kapal
Menurut Jepang, Indonesia memiliki Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) terbesar ketiga di dunia yang letaknya berada di jalur transportasi laut penting seperti Selat Malaka. Namun, hal itu tak didukung dengan fasilitas keamanan maritim yang memadai.

Oleh sebab itu, pemerintah Jepang menghibahkan kapal patroli dengan harapan bisa memperkuat kemampuan penegakan hukum maritim Bakamla serta meningkatkan keamanan maritim di Indonesia.

Proyek hibah ini sendiri sebesar 9,053 miliar Yen atau setara Rp 945 miliar, demikian seperti dilansir dari laman Kementerian Luar Negeri Jepang.

(CNN)

30 Maret 2024

Australia Mengesahkan Undang-undang untuk Meningkatkan Perdagangan Pertahanan Anggota AUKUS

30 Maret 2024

Konsep visual kapal selam AUKUS digambarkan di atas (image: BAE Systems)

Parlemen Australia mengesahkan undang-undang pada tanggal 27 Maret yang akan mendukung kemitraan AUKUS negara tersebut dengan Inggris dan Amerika Serikat namun memperketat aturan mengenai transfer teknologi ke negara asing lainnya.

Departemen Pertahanan (DoD) di Canberra mengatakan Undang-Undang Amandemen Kontrol Perdagangan Pertahanan 2024/Defence Trade Controls Amendment Act 2024 (DTC Act) yang baru akan meningkatkan perlindungan “teknologi dan informasi Australia serta mitra-mitra utama”.

Ia menambahkan bahwa undang-undang tersebut akan “mempercepat penyampaian kemampuan canggih kepada Australian Defence Force (ADF) dengan menyederhanakan perdagangan dan kolaborasi dengan mitra AUKUS kami, sehingga menjaga keunggulan kemampuan Australia”.

Landasan undang-undang tersebut, yang mengamandemen Defence Trade Controls Act 2012, adalah pelonggaran birokrasi dalam perdagangan pertahanan antara mitra AUKUS dengan mendukung pembentukan “lingkungan bebas izin untuk industri Australia”, kata Departemen Pertahanan.

Langkah ini sendiri diharapkan dapat “membuka peluang investasi dan kolaborasi bagi industri pertahanan Australia di bawah kerangka AUKUS” yang bernilai sekitar AUD5 miliar (USD3,3 miliar) dalam ekspor pertahanan tahunan, kata Departemen Pertahanan.

Untuk mendukung perdagangan dan transfer teknologi AUKUS, Undang-Undang DTC memperkenalkan pengecualian bagi perusahaan-perusahaan Inggris dan AS dari persyaratan izin kendali ekspor Australia.

Undang-undang ini juga mendukung pengecualian tambahan untuk mendukung AUKUS melalui Australia's Defence Trade Controls Regulation 2013 dan Australia's Defence and Strategic Goods List (DSGL). Yang terakhir ini mengidentifikasi barang dan teknologi yang dilarang oleh Canberra untuk diekspor.

UU DTC juga memperkenalkan tiga pelanggaran pidana baru dalam UU Pengendalian Perdagangan Pertahanan tahun 2012.

Ahli Tekankan Pentingnya Kuasai Database Kapal-kapal Asing di Kawasan

30 Maret 2024

Sistem pengukuran acoustic signature kapal selam (image: SAES)

Jakarta (ANTARA) - Ahli Pertahanan Alman Helvas Ali menekankan penting bagi TNI Angkatan Laut memiliki pusat data (database) “accoustic signature” untuk kapal-kapal selam dan kapal-kapal permukaan negara-negara di kawasan.

Database itu, menurut Alman, menopang kemampuan TNI AL dalam menjaga perairan Indonesia, terutama dari ancaman serangan bawah laut ataupun dari ancaman kapal-kapal selam asing yang menyusup ke perairan Indonesia.

“Kita tidak memiliki database untuk (acoustic) signature kapal-kapal selam maupun kapal-kapal permukaan yang ada di kawasan. Tanpa database itu, ketika kapal selam kita beroperasi, tidak mungkin kita tahu kapal selam apa yang masuk sonar kita, yang ditangkap sonar kita, karena kita tidak punya (acoustic) signature database,” kata Alman saat acara diskusi terkait kemampuan peperangan antikapal selam (ASW) dan peperangan antikapal permukaan (ASuW) yang diikuti dari platform YouTube di Jakarta, Selasa.

Sensor Acoustic dan Artificial Intelligence (image: CMRE)

“Acoustic signature” sederhananya merupakan gelombang akustik yang dipancarkan kapal selam dan kapal-kapal permukaan saat mereka beroperasi di laut. Tiap kapal diyakini memiliki karakter gelombang akustik yang unik sehingga dapat dikenali jenisnya oleh sistem deteksi bawah laut/sistem penangkap gelombang bawah laut seperti misalnya sonar atau hydrophone.

Tidak hanya soal database, Alman juga menyinggung alutsista TNI AL yang belum memadai untuk menjaga perairan bawah laut Indonesia, yang luasnya mencapai 6,4 juta kilometer persegi. Dia menilai kapal-kapal selam yang saat ini memperkuat TNI AL belum memadai untuk operasi peperangan kapal selam.

“Pertama, karena aset yang sudah tua. Kedua, karena ada kesalahan decision-making masa lalu untuk procurement (pengadaan, red.) kapal selam,” kata Alman.

Dia melanjutkan kemampuan peperangan antikapal selam TNI AL saat ini dimiliki beberapa kapal perang permukaan, tetapi itu pun kondisinya belum setara alias masih berbeda-beda untuk tiap kapal.

Suara bawah air, informasi AIS dan angin (image: FFI)

“Berikutnya, kemampuan ASW yang berasal dari penerbangan TNI AL juga terbatas. (Helikopter) fixed wing yang kita punyai hanya mampu mendeteksi sasaran permukaan, sementara (helikopter) rotary wing yang kita punya tidak dapat melaksanakan misi ASW secara penuh,” kata Alman.

Dia mengusulkan TNI AL perlu diperkuat dengan helikopter yang ukurannya lebih besar sehingga dapat melaksanakan operasi peperangan antikapal selam secara penuh. Ukuran helikopter yang besar memungkinkan pesawat angkut itu dilengkapi perangkat deteksi (sonar) dan persenjataan yang lengkap tanpa harus mengurangi performa terbang helikopter.

Terakhir, dia juga menekankan pentingnya memiliki sistem deteksi bawah laut (underwater listening devices) yang dipasang di perairan-perairan rawan, yaitu perairan-perairan sempit (choke point) yang kerap menjadi akses masuk dan akses keluar kapal-kapal asing ke wilayah Indonesia. Indonesia memiliki beberapa choke point, yaitu di Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Lombok, Selat Sulawesi, dan Laut Natuna Utara.

“Kita tidak memiliki underwater listening devices (perangkat/sistem deteksi bawah laut, red.) yang kita pasang di perairan kita, termasuk di choke point. Ini sudah pekerjaan rumah sejak lama,” kata Alman.

Spesifikasi Meriam Ares UT30MK2 yang Terpasang di IFV Pandur II Milik TNI

30 Maret 2024

Pandur II IFV 8x8 (photo: Pindad)

Beberapa waktu lalu, PT Pindad resmi meluncurkan desain ranpur terbarunya, yakni Pandur II IFV yang merupakan lisensi dari Excalibur Army dari Repunlik Ceko. Melansir dari akun twitter resmi PT Pindad, @pindad, ranpur Pandur II yang nantinya akan dilisensi dan dire-branding dengan nama panser Cobra tersebut terlihat telah dipasangi meriam yang diperkirakan merupakan kanon otomatis kaliber 30 mm.

Hal ini senada dengan rencana TNI-AD yang ingin mengintegrasikan ranpur Pandur II tersebut dengan meriam buatan Brazil, yakni Ares UT30MK2 yang memiliki kaliber 30 mm. Melansir dari laman indomiliter.com, Pandur II yang telah datang ke Indonesia sebanyak 11 unit akan dipersenjatai dengan meriam tersebut selain ada yang akan dipersenjatai meriam Cockerill 105 mm buatan Belgia.

Meriam 30mm UT30MK2 (photo: Elbit Systems)

Meriam Lisensi Buatan Elbit System Israel
Meriam UT30MK2 sejatinya merupakan kanon otomatis buatan pabrikan Elbit System dari Israel. Melansir dari laman resmi elbit system (elbitsystems.com), turret meriam ini mampu membawa kanon otomatis 20-30 mm tergantung permintaan dari pengguna. Untuk tipe yang digunakan oleh TNI-AD, nantinya akan mengusung jenis kanon Orbital ATK Mk 44 Bushmaster ABM (Air Burst Munition) kaliber 30 mm.

Turret atau kubah meriam ini sendiri sepenuhnya dikendalikan secara remote-control system atau yang dikenal dengan nama Remote-control Weapon System (RCWS). Sehingga, teknologi tersebut dapat meminalkan jumlah awak yang mengoperasikannya. Selain kanon otomatis 30 mm tersebut, terdapat pula senapan otomatis kaliber 7.62 mm yang terpasang coaxial atau satu arah dengan senjata utama.

Meriam 30mm Ares UT30MK2 (photo: TNI AD)

Selain mengusung senjata dengan sistem senapan, turret tersebut juga dapat mengoperasikan sistem rudal anti-tank berpemandu atau ATGM (Anti-tank Guided Missile), sehingga mampu melawan tank tempur utama. Adapula 6 tabung granat asam yang terpasang di masing-masing sisi kubah meriam tersebut guna perlindungan tambahan.

Melansir dari laman militarytoday.com, kubah meriah tersebut dilapisi campuran baja aluminium sekelas STANAG 4569 level 2, 3 atau 4. Lapisan tersebut mampu menahan tembakan amunisi hingga kaliber 12.7 mm dan pecahan peluru artileri hingga kaliber 105 mm untuk perlindungan level 4. Adapula sistem pelacakan otomatis, laser ranged-finder dan juga sistem penyeimbang gyroscope untuk sistem stablisator senjata. (Zahir Zahir)

29 Maret 2024

Pindad Kerja Sama dengan Dislitbangau Terkait Material Double Base Propellant

28 Maret 2024

Penanda tanganan Perjanjian Kerja Sama Pindad dan TNI AU (photo: Pindad)

Wakil Direktur Utama PT Pindad, Syaifuddin, Direktur Teknologi dan Pengembangan (Dirtekbang) PT Pindad, Sigit Santosa dan Kepala Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI Angkatan Udara (Kadislitbangau) Marsekal Pertama TNI Tjatur Pudji Handojo menandatangani perjanjian kerja sama (PKS) dan perjanjian kerahasiaan (NDA) antara PT Pindad dan TNI AU pada Rabu, 27 Maret 2024 berlokasi di PT Pindad. Perjanjian Kerja Sama yang ditandatangani berkaitan dengan penelitian dan pengembangan material Double Base Propellant untuk Roket tahap III. Kegiatan ini juga dihadiri oleh jajaran Eselon 1 PT Pindad serta jajaran Dislitbangau.

Dalam sambutannya, Dirtekbang PT Pindad, Sigit Santosa menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas kerja sama dengan Dislitbangau yang telah terjalin hingga saat ini. “Terima kasih atas dukungan dari tim ahli Dislitbangau hingga support dari peralatan yang luar biasa lengkap pak. Sangat lengkap menurut kami. Semoga riset ini dapat berjalan dengan sangat baik dan kita bisa menciptakan kemandirian terhadap Propellant. Karena Propellant ini kebutuhannya sangat tinggi pak, terutama dengan berbagai konflik internasional saat ini.” Jelas Sigit Santosa. 

Kadislitbangau, Marsma TNI Tjatur Pudji Handojo menyambut baik kerja sama antara PT Pindad dengan dislitbangau. “Maksud dan tujuan kami melaksanakan penandatanganan kerja sama dan juga NDA antara TNI AU dengan PT Pindad dan ini dalam rangka litbang material Double Base Propellant untuk Roket tahap III. Kami juga menyampaikan bahwa Dislitbangau adalah ujung tombak untuk kegiatan penelitian dan pengembangan TNI AU. Dan saya melihat bahwa kerja sama dengan PT Pindad bukanlah sesuatu yang baru karena telah mencapai tahap III saat ini. Dengan adanya kerja sama strategis ini diharapkan PT Pindad dapat memajukan pertahanan negara.” Jelas Marsma TNI Tjatur Pudji Handojo.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi dan ramah tamah. Kegiatan penandatanganan kerja sama antara PT Pindad dengan Dislitbangau diakhiri dengan kunjungan ke fasilitas produksi PT Pindad.

(Pindad)

Malaysia Rancang Life Extension Program (LEP) Terhadap Kereta Kebal “Pendekar” PT-91M

29 Maret 2024

Kereta kebal PT-91M "Pendekar" (photo: BTDM)

(DSA) — Menteri Pertahanan Datuk Seri Mohamed Khaled Nordin di dalam jawapan lisannya bertarikh pada 25 Mac lepas menyatakan bahawa Kementerian Pertahanan merancang untuk melaksanakan Life Extension Program (LEP) terhadap kereta kebal utama “Pendekar” PT-91M milik Tentera Darat Malaysia.

Menjawap soalan Datuk Seri Ikmal Hisham Abdul Aziz (PN-Tanah Merah), beliau berkata,program LEP itu akan  dijangka akan didaftarkan dalam Rancangan Malaysia ke-12 (RMK-12) atau RMK-13.

“Selain itu, pihak Tentera Darat Malaysia juga sedang merancang untuk melaksanakan Life Extension Programme (LEP) ke atas Kereta Kebal PENDEKAR dan dijangka akan didaftarkan dalam RMK-12 atau RMK-13,” kata beliau.

Ikmal Hisham yang juga merupakan bekas Timbalan Menteri Pertahanan mahu mengetahui  perancangan Tentera Darat Malaysia berkenaan pelan masa hadapan aset kereta kebal “Pendekar” PT-91M mengambil kira syarikat Original Equipment Manufacturer (OEM) iaitu Bumar Laberdy daripada Poland sudah menghentikan pengeluaran alat ganti kereta kebal jenis itu.


Beliau juga mahu mengetahui perancangan masa depan kereta kebal Pendekar PT-91M berikutan prestasi buruk kereta kebal dari model yang sama pada Perang Rusia – Ukraine.

Mohamed Khaled berkata, kereta  kebal Pendekat PT-91M merupakan aset bersifat ofensif berdaya musnah yang penting untuk pertahanan negara dan juga merupakan elemen deterrence pertahanan daratan.

Penerimaan kereta kebal Pendekar PT-91M oleh Tentera Darat Malaysia telah dilaksanakan secara berfasa mulai tahun 2007 hingga 2011 dan aset ini diletakkan di bawah pengoperasian Rejimen Ke-11 Kor Armor Diraja yang berpengkalan di Kem Syed Sirajuddin, Gemas.

“Bagi menentukan kereta kebal Pendekar PT-91M dapat diaturgerakkan untuk penugasan operasi dan latihan, kerajaan Malaysia telah mewujudkan Kontrak Perkhidmatan Senggaraan dan Pembekalan Alat,” katanya.

Beliau juga berkata bahawa dua ganti kereta kebal Pendekar PT-91M dilaksanakan menggunakan kepakaran tempatan bagi mengurangkan kebergantungan kepada Original Equipment Manufacture (OEM) dan juga masalah ‘no more production’ pada sesetengah komponen utama pada kereta kebal tersebut.


Kontrak senggaraan dan pembekalan alat ganti ini akan tamat pada September 2024 dan akan dilanjutkan sehingga September 2025.

Sebagai inisiatif lain, satu kajian bersama melibatkan pengguna, pasukan teknikal dan pemegang Kontrak Perkhidmatan Senggaraan dan Pembekalan Alat Ganti sedang dilaksanakanm kata Mohamed Khaled Nordin.

Pelaksanaan kajian ini dibuat ke atas 2 buah Main Battle Tank (MBT) bagi mengenalpasti permasalahan kritikal melibatkan Transmisi RENK, Komponen Elektronik Gunner Laser Range Finder (GLRF) dan Sistem Sokongan Kawalan Tembakan (Fire Control System), kata Mohamed Khaled.

Kajian telah dilaksanakan mulai Jun 2023 dan dijangka siap sepenuhnya pada Mac 2024.

Menteri Luar India, adanya kajian ini, isu melibatkan permasalahan OEM kepada aset yang berstatus Obsolete dan tiada pengeluaran bakal diatasi dengan kewajaran kajian yang sedang dilaksanakan di peringkat Tentera Darat. 

Pusdikkav Menerima Kendaraan Tempur Tank Kanon "Harimau"

29 Maret 2024

Satu tank medium Harimau telah tiba di Pusdikkav, Padalarang, Bandung (photos: Pusdikkav)

PADALARANG. Pusdikkav Pussenkav merima 1 unit kendaraan tempur (Ranpur) tank kanon "Harimau" PT Pindad (Persero) bertempat di Garasi A Mapusdikkav, Padalarang, Bandung Barat. Kamis (28/3/2024).

"Kaplan MT atau Harimau" merupakan tank medium yang dikembangkan bersama oleh pabrikan Turki FNSS dan pabrikan Indonesia PT Pindad. Program pengembangan tank tersebut disebut Modern Medium Weight Tank (MMWT). Tank dengan berat total 32 ton ini dinamakan Kaplan MT oleh Turki dan Harimau oleh Indonesia.

Harimau dibuat untuk memperkuat Alutsista TNI khususnya satuan Kavaleri TNI Angkatan Darat. Alat tempur ini memiliki bobot 32 ton, power 20 HP/ton, kecepatan maksimal 70 km/jam dengan daya jelajah sejauh 450 kilometer, dapat menampung 3 orang kru yang terdiri dari komandan, penembak dan pengemudi, serta memiliki senjata utama turret kaliber 105 mm yang memiliki daya hancur besar.

Tank Harimau sudah dilengkapi dengan berbagai teknologi baru, seperti sistem kewaspadaan mandiri, hunter killer system, perlindungan pasif (laser warning system), battle management system, serta proteksi level 5. Turret tank ini memiliki mekanisme autoloader dengan 12 butir peluru di turret dan 26 butir peluru cadangan di dalam hull.

Tank Harimau memiliki kemampuan pertahanan balistik dan anti-ancaman ranjau terkini. Medium tank ini menjadi generasi terbaru, dilengkapi dengan kemampuan daya gempur yang luas, mulai dari perlindungan jarak dekat untuk pasukan infantri hingga pertempuran antar kendaraan tempur.

Setelah dilaksanakan penerimaan dan pemeriksaan materil kendaraan tempur dan perlengkapannya, kendaraan ini akan memperkuat Pusdikkav serta akan digunakan sebagai Alins tidak murni untuk mendidik dan melatih prajurit-prajurit Kavaleri untuk mengawakinya.

(Pusdikkav)

28 Maret 2024

Fincantieri: Contract Signed for the Supply of Two PPAs to Indonesia

28 Maret 2024

The order is worth 1.18 billion euro and confirms the Group's growth strategy in the Defence market (photo: Italian Navy)

Fincantieri and the Indonesian Ministry of Defence have signed a 1.18-billion-euro contract, within the framework of collaborative relations initiated by the Italian Ministry of Defence, for the supply of two PPA Units. PPA is a highly flexible ship with an outstanding technological standard. It has the capacity to serve multiple functions, ranging from patrol with sea rescue capacity to Civil Protection operations and first line fighting vessel.

The contract was signed by Pierroberto Folgiero, CEO and Managing Director of Fincantieri, and by the Indonesian Ministry of Defence, in the presence of Dario Deste, General Manager of the Naval Vessels Division.

The ships subject to the order - originally destined for the Italian Navy - are currently under construction and fitting at the Integrated Shipyard in Riva Trigoso-Muggiano.

The interest of the Indonesian Ministry of Defence in PPA Units stems from the Maritime Campaign in the Far East of the Francesco Morosini, the second ship of the Italian Navy's PPA class, which also stopped over in Indonesia in July 2023. The transaction can catalyze additional synergies in the operational, industrial, and technological fields between the two countries. The Units will be able to support Indonesia in protecting national interests and contribute to the stability of the delicate Indo-Pacific strategic quadrant.

As part of the transaction, Fincantieri will act as the prime contractor towards the Indonesian Ministry of Defence and will specifically coordinate the other industrial partners, including Leonardo, for the customization of the ships' combat system and the provision of related logistic services. The parties will define the relevant agreements in compliance with the applicable legislation, including that relating to transactions between related parties.

The effectiveness of the contract is subject to the necessary authorizations from the competent authorities.

Pierroberto Folgiero, CEO and Managing Director of Fincantieri, said: “This contract is a milestone for the development of a strategic partnership between our Group and Indonesia. We view this as the first of many significant collaborative opportunities with the Indonesian Ministry of Defence, following a long-term partnership approach thanks to the structural support of our institutions, starting with the Ministry of Defence and the Italian Navy. Southeast Asia is a region of central geopolitical importance where Fincantieri aims to strengthen its presence, as defined in the Business Plan”.

Vessel’s characteristics of the PPA Unit

The vessel is capable of operating high-speed vessels such as RHIB (Rigid Hull Inflatable Boat) up to 11 meters long, with launching through lateral cranes or a hauling ramp located at the far stern.

•  143 meters long overall

•  Speed more than 32 knots according to vessel configuration and operational conditions

•  Crew of about 170 persons

•  Equipped with a combined diesel, a gas turbine plant (CODAG) and an electric propulsion system

•  Capacity to supply drinking water to land

(Fincantieri)

Construction Begins on New Boeing MQ-28 Production Facility in Queensland

28 Maret 2024

Boeing MQ-28 Ghost Bat loyal wingman (photo: Boeing)

BRISBANE --- Construction will begin on Boeing’s [NYSE: BA] new production facility in Toowoomba, Queensland, to support the manufacture of Australia’s first military combat aircraft designed and developed in over 50 years – the MQ-28 Ghost Bat.

The 9,000 square-metre facility at the Wellcamp Aerospace and Defence Precinct is expected to be operational in the next three years. The company’s latest investment in Australia will bring new aerospace skillsets and technologies, such as advanced composites manufacturing and robotics to Queensland.

“Boeing Australia is investing to bring this innovative, uncrewed capability to market in the timeframe that supports our customers’ future needs,” said Amy List, managing director, Boeing Defence Australia. “The MQ-28 is designed to transform air combat and provide affordable mass for Australia and our allies.”

“We’re partnering with the Queensland Government and Wagner Corporation to build Boeing’s first final assembly facility outside of North America – which is indicative of our global focus and a continued commitment to a sustainable and robust Australian aerospace industry.”

Boeing's new MQ-28 Production Facility to be constructed in Toowoomba, Queensland (image: Boeing)

Wagner Corporation will develop and manage construction of the facility at their Toowoomba precinct using sustainable construction methods, and work with Boeing to incorporate renewable technologies and human-centric design.

The MQ-28 production facility will include aerospace manufacturing capabilities, including carbon fibre composites manufacture, along with advanced robotic assembly for major components, and final assembly and test capabilities. 

About Boeing Australia
After more than 97 years, Boeing Australia is the leading aerospace company in the region. Our 4,800 employees work across the broadest aerospace portfolio in Australia, including advanced manufacturing, defence, services, and research and development. We have a thriving Australian supply chain supporting our operations, and we're proud to partner with great organisations that support veterans, STEM and the communities we live and work in.


Pesawat F-16 EMLU Kedelapan Lakukan Uji Terbang

28 Maret 2024

Pesawat F-16 A/B nomor TS-1611 melakukan uji terbang setelah menjalani EMLU (photo: Blackphoenix DT) 

Blackphoenix Development Team, tim fotografi dan techical development Skadron Udara 3 Iswahjudi dalam laman resminya kemarin melakukan upload penerbangan perdana dari pesawat F-16 A/B nomor registrasi TS-1611 hasil program EMLU (Enhanced Mid-Life Update) pada 10  pesawat F-16A/B yang dimiliki TNI AU.

Livery pesawat tempur belum diubah, nantinya setelah selesai semua pengujian, bodi pesawat akan diubah warnanya menjadi abu-abu, menyusul seperti tujuh pesawat F-16A/B EMLU sebelumnya.

Setelah selesainya program EMLU maka pesawat-pesawat ini siap untuk dipersenjatai dengan senjata-senjata modern dan mematikan seperti AMRAAM, AIM-9 X, Laser JDAM, Air to Ground Missile AGM-65 D/G dan juga siap dipasang Advanced Targeting Pod.

Dengan telah selesainya delapan pesawat F-16A/B yang menjalani program EMLU kini tinggal tersisa dua pesawat F-16A/B yang belum menjalani program tersebut yakni pesawat dengan nomor registrasi TS-1603 dan TS-1608.

(Defense Studies)

Naval Group Gandeng PT PAL Bangun Kapal Selam Scorpene

28 Maret 2024

Naval Group saat menjelaskan produk Kapal Selam Scorpene dalam sebuah acara di Jakarta, beberapa waktu lalu (photo: ISDS)

JAKARTA - Pemerintah Indonesia terus menambah koleksi alat utama sistem senjata (alutsista) untuk memperkuat pertahanan di Tanah Air. Dalam waktu dekat, pemerintah akan membeli dua kapal selam Scorpene untuk menambah jumlah kapal selam dalam menjaga perairan Nusantara. 

Rencana teken kontrak pembelian dua kapal selam asal Prancis tersebut akan dilakukan oleh PT PAL dan Naval Group. ‘’PT PAL digandeng Naval Group untuk menjadi partner whole local production kapal selam Scorpene,’’ kata Senior Executive Vice President (SEVP) Transformation Management PT PAL, Satriyo Bintoro di acara Buka Puasa di Jakarta Pusat, Kamis (21/3/2024). 

Satriyo Bintoro mengungkapkan pihaknya siap untuk ikut membangun kapal selam baru tersebut. Menurut dia, PT PAL sudah memiliki kelengkapan sarana dan prasarana untuk pembuatan kapal selam tersebut. Ditambah lagi, sambung Satriyo Bintoro, PT PAL mempunyai para teknisi yang andal dan telah berpengalaman dalam membuat kapal selam. 

Para pimpinan PT Naval Group terkesan dengan kemampuan setelah melakukan kunjungan dan melihat fasilitas-fasilitas PT PAL di Kota Surabaya, Jawa Timur, beberapa waktu lalu. Menurut Satriyo Bintoro, sebanyak 93 persen fasilitas di PT PAL bisa digunakan untuk membangun kapal selam Scorpene. ‘’Kita hanya butuh tambahan fasilitas produksi untuk tujuh komponen. Jadi secara keseluruhan sudah siap. Makanya PT Naval percaya dengan PT PAL untuk jadi partner lokal pembuatan Scorpene,’’ ungkap Satriyo Bintoro yang menjabat Ketua Proyek Frigat Merah Putih ini.

Riset baterai Li-Ion Batteries (LIB) untuk kapal selam Belanda oleh Naval Group bersama TNO dari Belanda yang diunggah pada X (twitter) tanggal 26 Maret 2024 (image: Naval Group)

Kapal selam Scorpene ini memang salah satu paling bagus di dunia. Apalagi, Naval Group bahkan memperbaharui proposal kapal selam jenis Scorpene untuk Indonesia akan menggunakan full lithitum-ion batteries (LIB). Dengan demikian, kapal selam jenis Scorpene Evolved ini akan memiliki endurance paling lama dibanding varian Scorpene sebelumnya. Berdasar berbagai informasi, Scorpene Evolved mampu menyelam selama 80 hari, 78 di antaranya dalam posisi menyelam, dengan jangkauan operasional lebih dari 8.000 mil laut, memiliki lower indiscretion rate, dan mampu mempertahankan kecepatan tertinggi lebih lama. Kapasitas ini dimiliki karena LIB bisa menyimpan dan menyalurkan lebih banyak energi dengan waktu pengisian lebih singkat dibandingkan baterai timbal-asam (lead-acid batteries). 

Lebih jauh, Satriyo Bintoro menjelaskan untuk pengerjaannya, tenaga kerja yang dibutuhkan untuk membuat kapal selam Scorpene cukup besar. Bahkan, diperkirakan jumlah tenaga kerja yang nanti akan menangani kapal selam Scorpene lebih besar dibandingkan saat PT PAL membuat kapal selam KRI Alugoro (405) dari Korea Selatan. ‘’Jumlah teknisi untuk mengerjakan Scorpene bisa jadi dua kali lipat daripada saat merakit kapal selam Alugoro yang digarap di galangan PT PAL,’’ jelasnya sambil menyebut panjang kapal selam Scorpene nanti sekitar 70 meter. 

Soal target penyelesaian pengerjaan kapal selam buatan Prancis tersbut akan memakan waktu enam hingga tujuh tahun. Pengerjaan kapal akan dimulai begitu kontrak nanti efektif ditandatangani kedua belah pihak. ‘’Soal akhirnya pemerintah memutuskan untuk membeli kapal selam selam Scorpene, Satriyo Bintoro mengungkapkan murni diputuskan oleh pihak pengguna, yakni Kementerian Pertahanan dan TNI AL. 

Sebelumnya, sudah dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pembangunan dua unit kapal selam Scorpene oleh Dirut PT PAL Kaharuddin Djenod dan CEO Naval Group Pierre-Eric Pommellet di kantor Kementerian Pertahanan pada 10 Februari 2022. Acara tersebut kala itu disaksikan oleh Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan Menteri Angkatan Bersenjata Prancis Florence Parly. 

Awalnya, Indonesia memiliki lima kapal selam aktif. Yaitu KRI Cakra-401, KRI Nanggala-402, KRI Nagapasa-403, KRI Ardadedali-404, dan KRI Alugoro-405. Namun, tenggelamnya KRI Nanggala-402 beberapa waktu lalu membuat jumlah kapal selam aktif yang dimiliki Indonesia saat ini menjadi empat buah. Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali pada akhir tahun lalu pernah menyebut untuk menjaga perairan Indonesia yang sangat luas, Indonesia idealnya membutuhkan 12 kapal selam. Hanya saja, TNI AL tetap mempertimbangkan kesiapan anggaran dari pemerintah.

(SindoNews)

27 Maret 2024

Two Tugboats for Philippine Navy Already Completed and Undergoing Sea Trials

27 Maret 2024

Two new tugboat for Philippine Navy (photos: MaxDefense)

Based on the information shared by MaxDefense's contributors, it appears that both the Harbor and Oceangoing Tugboats ordered by the Philippine Navy from Josefa Slipway are already completed and undergoing sea trials.


The tugboats were built by Josefa Slipway in Sual, Pangasinan, and are based on the internationally successful RAmparts 3000W oceangoing tugboat and RAmparts 2700 harbor tugboat design.

The Philippine Navy aims to acquire more of both designs once they find the performance and build quality of both tugboats to be beyond expectations.

Myanmar Melengkapi Fregat Kelas Kyan Sit Thar Kedua dengan Radar Buatan India

27 Maret 2024

UMS Sin Phyu Shin, terlihat di sini saat tiba di Visakhapatnam, India dan dilengkapi dengan radar Revathi (photo: Kemhan India)

Myanmar telah melengkapi kapal fregat berpeluru kendali kelas Kyan Sit Thar kedua yaitu UMS Sin Phyu Shin, dengan radar pengawasan udara/air surveillance radar 3D Revathi buatan India.

Janes sekarang dapat mengonfirmasi bahwa radar tersebut telah sepenuhnya terintegrasi pada tahun 2023, dan sebagian validasi kemampuannya dilakukan pada latihan angkatan laut multilateral ‘Milan’ di Visakhapatnam, India. Latihan berlangsung pada tanggal 19 hingga 27 Februari 2024.

Gambar Sin Phyu Shin tiba di Visakhapatnam untuk latihan tersebut dirilis oleh Angkatan Laut India pada 19 Februari, dan gambar tersebut menggambarkan fregat dengan sensor baru pada tumpuan di atas superstruktur buritannya.

Sensor yang sebelumnya ditemukan pada posisi ini adalah radar pencarian permukaan Bharat Electronics Limited (BEL) RAWL-02.

Janes sejak itu memverifikasi bahwa BEL dikontrak untuk menggantikan radar Revathi sebagai bagian dari upayanya untuk meningkatkan kemampuan pertahanan udara fregat itu.

Radar Revathi mampu melakukan pelacakan beberapa target dan memiliki fasilitas identifikasi teman-atau-lawan/identification friend-or-foe (IFF) terintegrasi. Ia diyakini memiliki jangkauan maksimum sekitar 180 km, dengan cakupan ketinggian hingga 18.000 m.

Sin Phyu Shin adalah fregat buatan Galangan Kapal Angkatan Laut Myanmar yang ditugaskan oleh Angkatan Laut Myanmar pada bulan Desember 2015. Kelas tersebut tampaknya sebagian besar mengambil desain dari satu-satunya fregat kelas Aung Zeya di negara tersebut.

RTAF has Revealed a Set of Images from the AT-6TH Wolverine Training Flight in the United States

27 Maret 2024

The AT-6TH Pilot Training Course at Textron Aviation Defense in Wichita, Kansas. They are flying AT-6TH numbered 41103, which the Royal Thai Air Force has purchased and will be delivered to 411 Squadron, Wing 41 by the end of this year (all photos: RTAF)

The Royal Thai Air Force (RTAF) released the first set of images of its Beechcraft AT-6TH Wolverine attack and training aircraft during a training flight in the United States on its online social media on March 25, 2024.

The set of images shows the attack and training aircraft, AT-6TH, number "41103", US registration "N2790B", conducting flight training during a pilot training course at Textron Aviation Defense Company in Wichita, Kansas, taking place on 12 February - 15 May 2024.

The AT-6 attack and attack aircraft pilot training course for 8 pilots of Squadron 411, Wing 41 Chiang Mai, who are the first generation pilots, includes training on Close Air Support (CAS) as a light attack aircraft.


A set of images shows the AT-6TH 41103 installed with a camera detection system electro-optic/infrared(EO/IR) WESCAM MX-15Di inside the fuselage airframe in the middle of the bottom of the machine It provides search, detection, tracking, and targeting capabilities.

The images also show the installation of a 500lbs GBU-12 Paveway II laser-guided bomb, a 7-round LAU-131/A pod for a Hydra 70 air-to-surface missile, an M156 White phosphorus (WP) warhead and FN HMP-400 air machine gun pod, size .50cal, bullet capacity 400 rounds.

Before that, on March 11, 2024, Wing Commander Prathon Chinawat, Commander of Wing 41 announced to the Thai media about his readiness to bring the AT-6TH into service with Squadron 411, Wing 41, with the first 2 aircraft expected to be transported to Thailand in June 2024.


The Royal Thai Air Force has signed a contract to supply 8 AT-6TH attack and training aircraft amount 4,314,039,980.80 baht ($143 million) on 14 November 2021 by Squadron 411 will receive the full amount 8 aircraft within the year 2024.

AT-6TH is based on the AT-6E Wolverine light attack aircraft, it also shares basics with the training aircraft Beechcraft T-6TH Texan II (T-6C) of the Flying School Kamphaeng Saen, Royal Thai Air Force that has been given in full 12 aircraft already in the year 2023.

The procurement of attack and training aircraft for the AT-6TH also includes the transfer of technology to Thailand as well as aircraft training and the T-6TH assembled in Thailand by Thai Aviation Industries (TAI) Thailand.


Textron sent its AT-6E light attack aircraft, US registration N610AT, to Kamphaeng Saen Flight School in Nakhon Pathom Province, Thailand for use in testing the integration of various systems since November 2022.

The Royal Thai Air Force originally looked to procure 4 attacks and training aircraft AT-6TH, Phase 2, for a total of 12 machines. However, in the latest RTAF White Paper 2024 published on 29 February 2024, 2024 does not specify the procurement of an additional AT-6TH with only the acquisition of one squadron of new attack aircraft,  12-14 replacements for the fighter aircraft F-5E/F TH Super Tigris and attack aircraft type Alpha Jet A TH only.

(AAG)

26 Maret 2024

DoD Australia Uji Coba Laser Pembunuh Drone Menggunakan Teknologi Directed Energy (DE)

26 Maret 2024

DoD Australia memulai uji coba laser bertenaga tinggi buatan Australia yang dirancang untuk menembak jatuh drone musuh di medan perang (photo: AIM Defense)

Pasukan Australia akan segera dilengkapi dengan laser yang dikembangkan secara lokal dan dapat diangkut yang dirancang untuk menembak jatuh drone musuh yang melaju dengan kecepatan 100 kilometer per jam.

Departemen Pertahanan untuk pertama kalinya memberikan kontrak bernilai jutaan dolar kepada sebuah perusahaan di Melbourne untuk menguji coba teknologi "directed energy/energi terarah" (DE) sebagai cara untuk memerangi kendaraan udara tak berawak (UAV) yang digunakan dengan dampak yang menghancurkan perang di Ukraina.

Senjata DE memusatkan sejumlah besar energi elektromagnetik pada target jarak jauh, dalam bentuk cahaya (laser), atau sebagai alternatif, gelombang mikro dan gelombang radio dapat digunakan.

Sistem Fractl:2 Directed Energy (DE) AIM Defense dipasang pada kendaraan komersial (photo: AIM Defence)

Berdasarkan kontrak senilai $4,9 juta yang diberikan kepada AIM Defence, perusahaan tersebut berharap dapat mengirimkan sistem Fractl:2 DE miliknya kepada Australian Defence Force (ADF) untuk pengujian dan evaluasi anti-drone yang sedang berlangsung pada pertengahan tahun ini.

Menurut AIM Defence, teknologi canggih ini cukup kuat untuk membakar baja sekaligus cukup presisi untuk melacak dan menembak drone yang melaju dengan kecepatan 100 km/jam ketika ditembakkan dari jarak beberapa kilometer.

“Ini membantu melindungi terhadap ancaman nomor satu yang kita hadapi di medan perang saat ini dan ancaman paling asimetris yang pernah kita lihat muncul dalam beberapa dekade terakhir,” kata salah satu pendiri AIM, Jessica Glenn, kepada ABC.

“Sistem pelacakan dan kontrol kami dikembangkan dengan sangat baik untuk dapat melacak target tersebut plus atau minus satu milimeter saat ia melaju dengan kecepatan 100 kilometer per jam.”

Sistem Fractl:2 Directed Energy (DE) AIM Defense (photo: AIM Defence)

Ms Glenn mengatakan sistem ini portabel dan dioperasikan dengan baterai dan dapat menembak jatuh 50 drone sekali pengisian daya, atau dapat dicolokkan ke sumber listrik untuk pengoperasian berkelanjutan.

Senjata DE telah dikembangkan selama beberapa dekade namun hingga saat ini teknologi berbasis ringan belum dianggap sebagai alternatif yang layak dan hemat biaya untuk menggantikan amunisi tradisional di medan perang.

Di bawah pilar kedua kemitraan AUKUS, Amerika Serikat, Inggris, dan Australia berinvestasi pada kemampuan canggih seperti DE, hipersonik, dan teknologi kuantum.

Selama beberapa bulan terakhir, pemerintah dan ADF terus menghadapi kritik karena tidak menggunakan drone yang mematikan dan sistem anti-drone meskipun perang di Ukraina menunjukkan betapa pentingnya hal tersebut dalam peperangan modern.

(ABC)

Thai-US Army Concludes Joint Exercise Hanuman Guardian 2024

26 Maret 2024

Hanuman Guardian 2024 (all photos: Smart Soldiers Strong Army)

The Royal Thai Army (RTA: Royal Thai Army) and the United States Army (US Army) held a closing ceremony for joint exercise code HANUMAN GUARDIAN 2024 at the Army Tactical Training Center, Ban Dee Lang, Phatthana Nikhom District. Lopburi Province on March 22, 2024.

The Hanuman Guardian 2024 mixed exercise was opened with an opening ceremony on 11 March 2024 in Lopburi Province. Practice number 13, it was completed between 11-22 March 2024.


The training covers many aspects, including Jungle Survival, exchange training (CTX), small gun battles (Squad Battle Drills), training in firing the 155mm M777 towed cannon, 2nd Battalion, Rifle Department, 2nd Battalion, 17th Field Artillery Regiment, United States Army and a 105mm towed curved missile light cannon, type 1 LG1 Mk III, 11th Artillery Battalion, 1st Artillery Regiment His Majesty's Guard, 1st Artillery Regiment, 1st Division Royal Guard, Royal Thai Army.


Military dog ​​training (MWD: Military Working Dog), Military Dog Center (MDC), Army Veterinary Department (Veterinary and Remount Department), combat in built-up areas (MOUT: Military Operations on Urbanized Terrain), Close Quarters Battle (CQB).


Royal Guard Assault Battalion Colonel Ror (Ranger Battalion King's Guard), 3rd Special Forces Regiment, King's Guard, 3rd Special Forces Regiment King's Guard, 1st Special Forces Division, 1st Special Forces Division, Command Unit Special Warfare(SWCOM: Special Warfare Command).


Air Mobile Battle (Air Assault) with a general use helicopter, Sikorsky UH-60M Black Hawk, 9th Aviation Battalion, Aviation Regiment, Army Aviation Center, C.B. (AAC) Royal Thai Army UH-60M general use helicopter from the 2nd Assault Helicopter Battalion, 158th Aviation Regiment. Boeing AH-64E Apache attack helicopter, 1st Attack Battalion, 229th Aviation Regiment, Aviation Regiment, 16th Combat Aviation Brigade (16th CAB: 16th Combat Aviation Brigade), 7th Infantry Division.


Live fire exercise (LFX), Stryker RTA ICV 8x8 wheeled armored vehicles, 112th Infantry Regiment, 11th Infantry Division, Royal Thai Army, and Stryker 8x8 wheeled armored vehicles, Royal Thai Army. US Army from the 1st Battalion 17th Infantry Regiment (1st Battalion, 17th Infantry Regiment), 2nd Stryker Brigade Combat Team (2nd SBCT: 2nd Stryker Brigade Combat Team), 2nd Infantry Division (2nd Infantry Division), United States Army Pacific (USARPAC).

(AAG)

Philippine Coast Guard will Receive Two Guardian-class Patrol Ships

26 Maret 2024

Guardian class patrol boat (photo: Austal)

In pursuit of enhancing its maritime capabilities, the PCG has expressed interest in acquiring Guardian-class 39.5-meter patrol boat from Australian Shipbuilder Austal.

This initiative is part of PCG's modernization and expansion efforts aimed at bolstering its fleet with versatile and technologically advanced vessels. 

Guardian class in the PCG' plan (image: PCG)

The Philippine Coast Guard indicated its interest to acquire at least 2 Guardian-class 39.5-meter patrol boats from Australian shipbuilder Austal as part of its modernization and expansion effort.

These are slightly smaller than the Japanese-made 44-meter Parola-class multi-role response vessels, which have seen action in escorting contracted supply boats of the Philippine Navy in re-supplying BRP Sierra Madre in Ayungin Shoal against China Coast Guard and Chinese Maritime Militia ships.

Guardian class patrol boat (photo: Austal)

No mention was made on what process will the boats be acquired (outright purchase, official development assistance grant or loan from Australia, etc) and which Austal shipyard would build these boats (Balamban in Cebu or Henderson in Western Australia). It is highly possible that the Austal Balamban shipyard would be used as the government favors local construction.

It is worth to note that the Guardian class was designed and used by the Australia Government as part of their Pacific Maritime Security Program to grant Pacific island nations with patrol boats to increase their maritime capabilities.

Parola class patrol boat (photo: Rhk111)

Boats granted by Australia to Pacific island nations only carry light weapons, but we believe it can be armed with medium calibre guns like 25/30mm chain guns aside from 12.7mm heavy machine guns like those usually found on PCG patrol boats, depending on the PCG's own assessment and budget.

Also remember that Senate President Sen. Juan Miguel Zubiri also confirmed an allocation of more than Php10 billion for 3 new large patrol vessels also to be built by Austal, which is separate from this effort to acquire Guardian-class boats.

See full article Update PH