01 Mei 2009

Cuaca Buruk, Sukhoi Terlambat Datang 25 Menit

01 September 2003
Sukhoi Su-30MK milik TNI-AU (photo: Kaskus Militer)

Gara-gara dihadang cuaca buruk di atas wilayah Jepang, pesawat kargo Antonov 124-100 yang membawa dua potongan pesawat jet tempur buatan Rusia Sukhoi SU-30 MK terlambat 25 menit untuk mendarat di Pangkalan Udara (Lanud) TNI AU Iswahyudi, Maospati, Kabupaten Magetan, Jawa Timur.

"Semula, pesawat Antonov akan mendarat pukul 04.20 pagi tadi tapi ternyata mendarat pukul 04.45 WIB," kata Kepala Penerangan dan Perpustakaan (Kapentak) Lanud Iswahyudi Mayor (sus) Drs Bintang Yudianta kepada wartawan di Magetan, Senin (1/9).

Ia mengemukakan, kedatangan dua pesawat tersebut disambut oleh Panglima Komando Operasi (Pangkoops) II TNI AU Marsekal Muda (Marsma) TNI Teddy Sumarno. "Potongan pesawat langsung dibongkar untuk dirakit di hanggar Skadron Udara III Lanud Iswahyudi. Proses bongkar potongan pesawat lebih cepat dari proses bongkar saat Sukhoi 27 kemarin karena tidak banyak acara bersifat seremonial," katanya.

Menurut dia, pesawat canggih hasil imbal dagang antara Pemerintah Indonesia dengan Rusia tersebut akan dirakit sepenuhnya oleh teknisi dari Rusia dan diperkirakan akan selesai dalam dua minggu. "Sukhoi 30 akan mulai dirakit setelah tim dari Rusia selesai merakit Sukhoi Su-27. Hingga saat ini dua unit Sukhoi 27 sudah selesai dirakit sekitar 40 persen. Kami berharap pada 11 September 2003 saat akan tes terbang, empat Sukhoi akan bisa terbang sekaligus," katanya.

Pada tanggal 27/8 Lanud Iswahyudi juga menerima potongan pesawat Sukhoi Su-27 SK dengan pesawat kargo Antonov 124. Pesawat tersebut diterima oleh Panglima TNI Jenderal TNI Endriartono Sutarto.

Sukhoi dikenal sebagai pesawat tempur canggih yang mampu melakukan gerakan mirip ular kobra mematuk. Gerakan ini tidak bisa dilakukan pesawat jet tempur di negara mana pun termasuk jet tempur milik Amerika Serikat yang paling mutakhir sekali pun.

Patukan ular kobra dilakukan dengan cara pesawat terbang horisontal lalu tiba-tiba meluncur ke atas lurus. Di atas ketinggian tertentu dengan posisi tegak, pesawat seolah-olah berhenti lalu kepala pesawat ditarik ke belakang dan tiba-tiba kepala pesawat meluncur lurus ke depan.

Selain Indonesia, negara Asia yang memakai Sukhoi adalah Cina, India, Malaysia, Vietnam. Cina memiliki 32 unit Sukhoi Su-27SK dan 18 unit Sukhoi Su 27UBK, India telah memiliki 40 unit Sukhoi Su 30MK, Malaysia memiliki 18 unit Sukhoi Su-30 MK sedangkan Vietnam punya 7 unit Sukhoi Su 27Sk dan Sukhoi Su 27UBK.

Negara pecahan Uni Sovyet juga mempunyai Sukhoi. Ukrania memiliki 67 unit Sukhoi Su-27, Belarusia punya 23 unit Sukhoi Su-27 dan Uzbekistan punya 30 unit Sukhoi Su-27.

Pesawat Sukhoi Su-30 MK merupakan pengembangan Sukhoi Su-27. Pesawat ini memiliki multiperan karena dapat menjadi pesawat penyergap di udara untuk jarak jauh dan pesawat penghancur sasaran di darat.

Su-30 MK memiliki jangkauan tiga kali lipat dibandingkan dengan F 16 buatan Amerika Serikat. Andaikan, SU-30 MK berpangkalan di Lanud Iswahyudi, pesawat itu mampu melakukan tugas tanpa mengisi bahan bakar hingga Jambi, Serawak, Sulawesi Tengah, Nusa Tenggaran Timur bagian barat.

Sementara pesawat F-16 yang kini ada Lanud Iswahyudi hanya mampu menjangkau hingga Jawa barat bagian tengah, Kalimantan Tengah bagian selatan dan Bali.

Berikut Spesifikasi Sukhoi SU-30 MK yang datang hari ini:
pilot : 2 orang
panjang : 21,94 meter
lebar : 14,7 meter
tinggi : 6,36 meter
kecepatan maksimal : 2.125 kph
berat : 24 ribu hingga 26 ribu kg
batas ketinggian : 17.500 meter
daya jelajah : 3 ribu kilometer.
amunisi : 1 meriam 30 mm GSh-30-1, 8 ribu Kg misil dan bom
soket rudal : 12 katup, dapat ditingkatkan 14 katup
misil : misil jarak jauh Kh-59M, misil anti radiasi Kh-31P, & misil udara ke permukaan Kh-29
pengisian bahan bakar : di darat dan di udara.
sasaran : udara ke udara, udara ke darat. (prim)

(Kompas)

Dua Sukhoi Tiba Dengan Selamat

27 Agustus 2003
Sukhoi Su-27SK milik TNI-AU (photo : Indoflyer)

Hari ini dua pesawat Sukhoi Su 27 SK yang dibawa oleh pesawat kargo Antonov AN-124 berhasil mendarat dengan selamat di Lapangan Udara Iswahjudi, Magetan, pada pukul 07.30 WIB.

Dua pesawat Sukhoi Su 30 MK lainnya direncanakan akan datang di Indonesia pada tanggal 31 Agustus 2003. Sementara helikopter MI 35, direncanakan akan tiba di Indonesia pada tanggal 8 September 2003. Untuk selanjutnya, pada tanggal 11 September 2003 akan dilakukan tes uji coba terbang. Tes uji coba terbang ini akan dilakukan oleh pilot-pilot dari Rusia.

Kedatangan pesawat ini disambut langsung oleh Panglima TNI Jenderal Enriartono Sutarto. Sebelumnya rombongan Panglima yang terbang dari Jakarta menggunakan Hercules C-130 yang dipiloti Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Chappy Hakim tiba di Lanud Iswahyudi pukul 07.00 WIB.

Kepada wartawan Endriartono menegaskan dua pesawat Sukhoi Su 27 SK ini merupakan produk baru. Ia tidak menampik jika pemerintah tidak mempunyai uang untuk membeli barang baru maka tidak menutup kemungkinan untuk membeli barang bekas. “Namun yang datang saat ini betul-betul barang baru. Brand new,” katanya.

Endriartono mengatakan, Indonesia sudah memesan 12 buah pesawat Sukhoi dari Rusia pada tahun 1997. Sementara pada tahun 2000, India memesan pesawat Sukhoi ke Rusia. Kemudian Indonesia membatalkan pemesanan pesawat Sukhoi karena krisis ekonomi yang saat itu tengah melanda. India pun mengambil pesawat yang pada awalnya merupakan pesanan Indonesia.

Namun, kata Panglima, India memesan pesawat yang jumlahnya melampaui 12 buah seperti yang direncanakan Indonesia. Saat ini, Rusia sudah mulai memproduksi lagi pesawat pesanan India. Karena 12 pesawat itu diambil India maka pesanan India yang hampir jadi diberikan ke Indonesia.

(
Tempo Interactif)

Last Collins-class Submarine Joins Royal Australian Navy

31 Mei 2003
Collins class submarine of the Royal Australian Navy (photo : Janes)

The sixth and final unit of Australia's Collins-class submarines has been commissioned in the Royal Australian Navy. The HMAS Rankin (SSK 78) was commissioned at the HMAS Stirling Fleet Base on 29 March 2003, ending the nation's first indigenous submarine program and probably the most complex shipbuilding project in the nation's history.

Built by the Australia Submarine Corporation (ASC), all six Collinsclass submarines were delivered at a final cost of approximately $3.4 billion, in essence more than $500 million per unit, considerably higher than the cost of the average diesel-electric submarine available on the international market. Most of the additional costs are associated with infrastructure improvements at ASC and training for submarine construction, as well as repairs and upgrades that are usually associated with a country that attempts to build a complex system for the first time.

Unfortunately for Australia, ASC will no longer have any new program to sustain its work force now that the Collins class is complete. ASC, like every other shipyard in Australia, is facing severe over-capacity as many of the naval programs of the 1980s and 1990s are now complete with no significant orders for many years. Although considered extremely effective by allied navies that have operated with it, the Collins class was wrought with problems that delayed the final deliveries by two years and resulted in program cost overruns of as much as $700 million.

(Navy League)

Lewat Imbal Beli TNI AU Ingin 48 Pesawat Sukhoi

23 April 2003
Sukhoi Su-27 dan Su-30 Flanker (photo : AusAirPower)

Panglima TNI Jenderal TNI Endriartono Sutarto mengungkapkan keinginan TNI AU memiliki 48 pesawat tempur Sukhoi, guna menjaga keamanan dan kedaulatan Tanah Air.

"Idealnya, kita memiliki 4 skuadron, atau 48 pesawat Sukhoi. Diharapkan jumlah itu bisa dicapai dalam kurun waktu empat sampai lima tahun mendatang," katanya kepada pers di Moskow, Selasa malam waktu setempat atau Rabu dinihari WIB.

Ia mengatakan, TNI AU telah memutuskan untuk membeli dua Sukhoi 27 dan dua Sukhoi 30, serta dua helikopter serang M1-35. Nilai kontrak pembelian peralatan itu mencapai 197 juta dolar AS. Dari jumlah itu, 12,5 persen di antaranya harus dibayar tunai. Sisanya akan dibayar melalui progam imbal beli.

Bank Bukopin telah ditunjuk untuk menyiapkan dana 21 juta dolar AS sebagai dana talangan bagi pembayaran 12,5 persen dai nilai kontrak itu. Ia mengatakan, keempaat pesawat Sukhoi itu pada dasarnya tidak mempunyai arti apa-apa dalam sistem pertahanan udara milik TNI AU.

Ketika ditanya wartawan tentang kekhawatiran akan munculnya sikap negatif dari negara-negara Barat, terutama AS akibat pembelian Sukhoi itu, ia menyebutkan bisa memahami perasaan itu.

"Saya bisa memahami tentang munculnya kekhawatiran terhadap sikap negatif negara-negara Barat," katanya, didampingi Menperindag Rini Soewandi.

Namun ia menambahkan, karena keterbatasan anggaran, di tengah kebutuhan mendesak terhadap pesawat itu, pembelian Sukhoi dan M1-35 melalui program imbal beli dari Rusia tidak bisa dielakkan.

Sementara itu, Pangkoops II TNI AU Marsda Teddy Sumarno yang mendampingi Panglima TNI dalam kesempatan itu mengatakan, pesawat itu diharapkan sudah tiba di Tanah Air, September 2003.

Pesawat itu diharapkan sudah bisa ditampilkan kepada masyarakat pada perayaan HUT TNI 5 Oktober mendatang.

Teddy mengatakan sekitar Juni, sejumlah pilot dan tenaga teknis akan dikirim ke Rusia untuk mempelajari operasional Sukhoi dan M1-35 itu.

Ia menyebutkan pesawat Sukhoi generasi ke lima itu mempunyai kemampuan sangat andal, mampu membawa beban peluru kendali seberat 8 ton.

Tahun 2002

Sementara itu, menurut Menperindag Rini Soewandi, pembelian Sukhoi dan helikopter sudah dipersiapkan sejak September 2002, saat ia mengunjungi Moskow. Indonesia telah menawarkan 31 komoditi bagi program imbal beli itu.

Rusia sampai sekarang telah menyetujui untuk membeli 11 komoditi, seperti karet, minyak sawit, teh, kopi, coklat, tekstil, serta bauksit.

Rini mengatakan, perjanjian jual beli itu seharusnya ditandatangani Selasa malam waktu Rusia, namun karena naskah kontrak itu harus diperiksa lagi oleh para ahli hukum, maka baru bisa ditandatangani Rabu.

Pemerintah telah menunjuk Bulog untuk mewakili Indonesia dalam penandatanganan kontrak itu karena Rusia akan diwakili oleh sebuah BUMN- nya.

Bank Bukopin ditunjuk sebagai penyedia dana talangan, karena bank itu sudah keluar dari program rekapitalisasi.

Ia mengatakan, program imbal beli itu dilanjutkan Indonesia, karena neraca perdagangannya dengan Rusia baru mencapai 200 juta dolar AS per tahun, padahal potensinya jauh lebih besar dari itu.

Sebelum membeli Sukhoi dan M1-35, Mabes TNI telah membeli empat helikopter M1-17 untuk TNI AD yang mampu mengangkut 30 prajurit, belasan M1-2 untuk TNI AL, serta sejumlah panser amfibi untuk Korps Marinir. [Tma, Ant]

(Gatra)

PT PAL Selesaikan Kontrak dengan Dephan

7 April 2003
KRI Layang (805) salah satu dari kapal FPB-57 Nav V (photo : Kaskus Militer)

PT PAL Indonesia telah menyelesaikan kapal patroli cepat FPB 57 Nav V KRI Lemadang (806) pesanan Departemen Pertahanan (Dephan). Kapal yang akan digunakan untuk memperkuat jajaran TNI AL tersebut akan diserahkan kepada Dephan hari Senin (7/4) ini.

Direktur Utama (Dirut) PT PAL Adwin H Suryohadiprojo, pekan lalu menjelaskan, dengan selesainya KRI Lemadang tersebut, maka seluruh kontrak kapal sejenis yang dipesan TNI AL telah dikerjakan oleh PT PAL. Dalam kontrak yang dibuat sejak tahun 1994, TNI AL total memesan 12 kapal FPB 57, dan empat di antaranya dibuat dengan versi Nav V.

Sebelum KRI Lemadang, PT PAL Indonesia telah menyerahkan KRI Todak, KRI HIU, dan KRI Layang. Keempatnya merupakan kapal patroli cepat (Fast Patrol Boat/FPB) Nav V yang memiliki kecepatan 29 knot.

KRI Lemadang yang memiliki jarak tempuh maksimum 5.600 mil nautikal ini berukuran panjang 58,10 meter, lebar 7,62 meter, dan tinggi geladak 4,7 meter. "Adapun persenjataan yang terintegrasi dalam kapal antara lain meriam Bofors 57 milimeter (mm) dan 40 mm, serta radar penjelajah dan sensor optronik," kata Adwin.

Sejak awal pemesanan, banyak kendala yang dihadapi dalam proses pembuatan kapal untuk TNI AL. Hambatan itu antara lain dikenakannya embargo terhadap PT PAL dan pembayaran dari pemesan yang tak kunjung lunas.

"Lepas dari segala permasalahan itu, kami baru dapat mulai membangun kapal sesuai kontrak itu secara efektif sejak 20 bulan lalu. Sebenarnya sampai saat ini juga masih banyak ganjalan sih, tetapi kami komit untuk menuntaskan kontrak dengan Dephan, khususnya TNI AL ini," ujar Adwin.

Kapal FPB 57 Nav V, jelas Adwin, memiliki keunggulan dibanding pendahulunya, yakni FPb 57 Nav I-IV. Kapal versi Nav V dilengkapi sistem kendali persenjataan (fire control system), dirancang mampu menyusup ke daerah lawan secara diam-diam dengan radar yang diproduksi khusus, dan memiliki kecepatan lebih tinggi karena konstruksi bangunan atas dibuat lebih ringan.

Menurut Adwin, di bidang kapal perang, PT PAL telah mengimplementasikan penguasaan teknologi rancang bangun dan produksi dalam bentuk pembuatan kapal patroli cepat. Selain menggarap FPB 57 untuk TNI AL, PT PAL juga telah membangun kapal FPB 28 untuk Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai serta Polri.

Sementara di bidang kapal komersial, pengembangan teknologi perkapalan telah dilakukan dengan membangun kapal tanker dengan bobot mati 17.500 ton, kapal kontainer dengan kapasitas 1.600 dan 400 TEUs (twenty feet equivalen units), dan berbagai jenis kapal penumpang.

"Kami juga sudah melakukan ekspansi ke pasar ekspor dengan membuat kapal dry cargo vessel berbobot mati 18.500 ton," tambah Adwin. (RMA)

(Kompas)

Final trials for New Zealand's Seasprite

6 Maret 2003
SH-2G Seasprite helicopter of the RNZN (photo : KiwiAircraftImages)

The Royal New Zealand Navy (RNZN) is conducting final acceptance trials of its fifth and last Kaman SH-2G (NZ) Seasprite helicopter, following its delivery to Auckland on 2 February.

The anti-submarine warfare aircraft will be based at the Naval Flight located within Whenuapai airbase west of the capital.

(Jane’s)

New Zealand selects Raytheon-Lockheed Martin Javelin Anti-Tank Weapon System

30 Januari 2003
Javelin of the Royal New Zealand Army during exercise (photo : DefenceGovtNZ)

The New Zealand Army has selected the Raytheon-Lockheed Martin Javelin anti-tank weapon system to meet its medium range anti-armor weapon capability. The number of Command Launch Units (CLU), missile quantities, along with associated support equipment, spares and training are yet to be determined.

"Javelin's low life cycle and support cost, coupled with its unmatched lethality and operator survivability provides the New Zealand armed forces with the best anti-armor weapon system in the world ," said Col. John Weinzettle, U.S. Army Close Combat Missile Systems (CCMS) project manager. "It also ensures equipment standardization with U.S. Army, Marine Corps and Special Operations Forces deployed throughout the world."

"Javelin is not only the world's most lethal medium range anti-armor system, but the weapon is ideally suited for engaging bunkers, buildings and field fortifications," said Mike Crisp, president, Javelin Joint Venture. "With its sophisticated missile seeker and tracker, the lightweight, one man-transportable Javelin anti-armor weapon system has consistently demonstrated a greater than 90 percent first-time gunner success rate.

"Javelin, with its stand-alone surveillance capability, is ideally suited for U.N. Peace Keeping and Peace Enforcement operations ," said Howard Weaver, Javelin Joint Venture vice president. "Additionally, Javelin has tremendous growth potential with the missile's modular construction, CLU software enhancements and its adaptability to a wide range of platforms."

New Zealand intends to introduce the Javelin anti-armor weapon system into service in 2004, to coincide with the introduction of the Light Armored Vehicle.
The Javelin medium-range, anti-tank missile system is the world's first one man-transportable and employable fire-and-forget anti-armor missile system. Javelin is approved for international sales through the U.S. Army's Foreign Military Sales system and is available to meet national requirements for next-generation anti-armor weapon systems.

Raytheon Company, which leads the Joint Venture, provides system engineering management and support for the Javelin Joint Venture and produces the CLU, missile guidance electronic unit and system software. Work is performed primarily at Raytheon Missile Systems in Tucson, Ariz., and at other Raytheon facilities in Texas, Massachusetts and California.

Lockheed Martin provides missile engineering and production support for the Javelin Joint Venture in Orlando, Fla., produces the missile seeker in Ocala, Fla., and performs missile all-up-round assembly in Troy, Ala.

Raytheon Company (NYSE: RTN), with 2002 sales of $16.8 billion, is an industry leader in defense, government and commercial electronics, space, information technology, technical services, and business and special mission aircraft. With headquarters in Lexington, Mass., Raytheon employs more than 76,000 people worldwide.

(
Lockheed Martin)