29 April 2013

BPPT – PT DI – PT LEN Serius Kembangkan Skuadron PUNA Wulung

29 April 2013


PUNA/UAV Wulung akan diproduksi sebanyak satu skuadron, 16 atau 24 unit. Namun pada  tahap awal PT DI akan memproduksi tiga unit (photo : Viva)

BPPT menggandeng PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dan PT LEN Industri untuk memproduksi dan mengembangkan Teknologi Pesawat Udara Nir Awak (Puna) Wulung. Hal tersebut dituangkan dalam penandatanganan Kesepakatan Bersama yang dilakukan oleh Kepala BPPT, Direktur Teknologi dan Produksi PT LEN Industri, serta Direktur Teknologi dan Pengembangan PT DI, di BPPT (29/4).

“Penandatanganan naskah MoU hari ini merupakan tindak lanjut dari demo terbang Puna Oktober 2012 lalu di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Setelah pengujian dinilai berhasil, kemudian sesuai dengan arahan Menteri Pertahanan dilakukan persiapan produksi. Jika produksi Puna ini berhasil dibentuk menjadi salah satu skuadron dari TNI AU, maka ini akan menjadi skuadron pertama Puna yang merupakan hasil karya anak bangsa,” ungkap Kepala BPPT, Marzan A Iskandar.

Bersatunya tiga stakeholder yang berkepentingan dalam pengembangan Puna, yaitu BPPT, PT DI dan PT Len Industri dinilai Marzan sebagai wujud nyata penerapan sistem inovasi untuk mendukung penerapan inovasi teknologi hingga tahap digunakan oleh end user.

Direktur Teknologi dan Pengembangan PT DI, Andi Alisjahbana pun menekankan bahwa kerjasama tersebut merupakan penajaman peran dari masing-masing institusi. BPPT, yang merupakan lembaga pemerintah bertugas untuk mengkaji, menerapkan dan meneliti teknologi.
Sementara PT DI sebagai industri bertugas untuk mengembangkan teknologi yang telah dihasilkan BPPT untuk diindustrikan sehingga siap digunakan oleh masyarakat.

Sementara itu berbicara mengenai teknologi elektronik dan komunikasinya, Direktur Teknologi dan Produksi PT Len Industri, Darman Mappangara mengatakan pihaknya dalam pengembangan Puna Wulung kali ini karena ditujukan untuk misi surveilance, maka teknologi yang tepat digunakan adalah electro optical surveilance, on board system untuk flight control dan ground station. “Selain itu juga ada sebuah sistem komunikasi yang berfungsi untuk menerima secara real time hasil pantauan Puna yang sedang bertugas,” ungkapnya.

Ke depannya, Darma menegaskan kalau teknologi elektronik dan komunikasi yang akan dikembangkan disesuaikan dengan kebutuhan dari Puna itu sendiri. Dengan semakin berkembangnya kebutuhan Puna baik untuk misi penyusupan maupun pertahanan tentu akan semakin berkembang pula teknologi yang berbeda yang dibutuhkan baik dari sisi elektroniknya maupun dari sisi teknologi lainnya. “Kerjasama ini penting dalam rangka percepatan penguasaan teknologi pertahanan,” terangnya.

Selanjutnya disampaikan Kepala BPPT bahwa kerjasama dengan PT DI dan PT Len Industri ini juga akan diperluas dalam bidang lain diantaranya yaitu bidang teknologi kedirgantaraan, hankam dan energi. “Harapannya semoga kerjasama ini dapat segera direalisasikan dan menjadi contoh nyata bagaimana perlunya sinergi antara berbagai stakeholder agar inovasi teknologi yang telah dihasilkan dapat dimanfaatkan oleh pengguna atau masyarakat,” tutupnya.

Puna Wulung

Puna Wulung menggunakan mesin 2 tak. Untuk memperoleh tenaga yang optimal, bahan bakar yang digunakan dipilih dari jenis pertamax. Bahan material pesawat ini terbuat dari bahan komposit (komposisi serat kaca, fiber, karbon), sehingga menghasilkan struktur pesawat yang ringan.

PUNA mampu terbang selama 4 jam tanpa henti. Jarak tempuh yang maksimalnya 70 km, dengan kecepatan jelajah 52 hingga 69 knot. Puna Wulung bisa dikendalikan dari jarak 73 km dengan menggunakan kendali jarak jauh (remote control).

(BPPT)

HTMS Krabi Jalani Sea Trial

29 April 2013


HTMS Krabi saat pertama kali memasuki laut (all photos : HTMS Krabi)

Berbekal desain dari BAE Systems dan dilanjutkan dengan perjanjian alih teknologi maka Thailand akhirnya berhasil menyelesaikan pembangunan kapal 90 m ini di dalam negeri sendiri. Selesainya kapal ini menandakan kemampuan galangan kapal Thailand dalam membangun dan menguasai teknologi kapal kombatan. Kapal yang mulai dibangun di bulan Agustus 2010 lalu saat ini telah memasuki tahapan sea trial termasuk diantaranya adalah uji penembakan.



Kapal dengan nomor lambung 551 ini akan memasuki dinas di Angkatan Laut Thailand pada 2013. Dalam sistem penomoran kapal Angkatan Laut Thailand kepala 5.... digunakan untuk kategori Patrol Ship and Attack Craft, termasuk disini adalah Pattani Class OPV (511-512),  Sattahip class patrol Vessel (521-526),  Kamronsin class Corvettes (531-533), dan Huahin class Patrol Vessel (541-543).



HTMS Krabi adalah kapal patroli lepas pantai (Offshore Patrol Vessel) Angkatan Laut Thailand yang disainnya dikerjakan oleh BAE Systems yang mangambil dasar dari disain kapal River class. Di Angkatan Laut Inggris (Royal Navy) kapal yang termasuk ke dalam River Class adalah HMS Clyde, HMS Mersey, HMS Tyne dan HMS Severn. Konstruksi kapal ini dibangun di Bangkok Dock, kemudian konstruksi tambahan dilakukan di Royal Thai Navy Mahidol Dockyard di Sattahip.


Menurut spesifikasi resmi yang dikeluarkan oleh BAE Systems kapal ini mempunyai panjang 90 m, lebar maksimal 13,5m dengan berat total mencapai 1.800 ton.  Untuk tugas patroli lepas pantai kapal ini sanggup berlayar dengan kecepatan maksimal 25 knot (46 km/jam), jika diperlukan kapal yang diawaki oleh 36 personil ini sanggup menempuh jarak 5.500 mil (9.260 km) dengan daya tahan berlayar selama 36 hari. Meskipun diawaki dengan 36 personel, kapal ini sanggup menampung akomodasi untuk 70 orang.





Persenjataan utama kapal ini adalah satu meriam Oto Melara 76mm, dan dua meriam laut MSI 30mm pada kedua sisi kapal. Tersedia pula dudukan senjata bila akan ditambahkan senapan mesin lainnya. Pada buritan tersedia dek ukuran 20m yang dapat menampung helikopter dengan berat 7 ton sekelas AW-139. Juga tersedia crane dengan kapasitas 16 ton.


Di samping BAE Systems, Thales juga banyak punya peranan dalam memasok peralatan kapal ini, dimulai dari radar survellance menggunakan Thales Variant, kontrol penembakan (fire control) menggunakan Thales Lirod Mk2, sistem komunikasi menggunakan Thales FIT-10 Voice Terminal dan FOCON IP, sistem identifikasi kawan atau lawan (IFF) menggunakan TSB 2520 sedangkan sistem manajemen tempur (combat management system) menggunakan Tacticos CMS.



Angkatan Laut Thailand (Royal Thai Navy) berencana menggunakan HTMS Krabi untuk patroli lepas pantai dengan tugas pokok menjaga Zona Ekonomi Eksklusif termasuk diantaranya adalah tugas patroli perikanan, perlindungan sumber daya alam dan bantuan bencana (disaster relief) .

(Defense Studies)

Smith Seeks Billion for More AWD and Super Hornets

29 April 2013


Air Warfare Destroyer (image : AWD Alliance)

Billions needed for fast-tracking of defence blueprint

STEPHEN Smith has told his department to bring forward the promised new defence white paper so it can be released before next month's budget - along with plans to buy more Super Hornet fighter-bombers and a fourth powerful Air Warfare Destroyer (AWD).

Senior sources have told The Weekend Australian that the white paper, which was due by the end of June, will refocus strategy away from China as a threat and commit the government to a large new spending program.

The three air warfare destroyers under construction are costing a total of $8.5 billion and an additional vessel would be likely to cost at least $3bn, possibly more.

It is estimated that 24 more Super Hornets would cost between $2.5bn and $3bn and it is likely that money would need to be spent soon.

Sources said the Defence Minister would also narrow down to two the range of options for the design of the navy's promised 12 submarines, which the government says must be built in Adelaide. It is not known what cuts will be made elsewhere to cover the substantial cost of the new purchases.

The sources said ordering a new air warfare destroyer would bridge the so-called "valley of death" faced by Australia's ship-building industry when the work dries up after the current three destroyers are built and before the new submarine project can start. The move would also provide a political boost as it would ensure continued jobs in Adelaide and Melbourne's Williamstown.

The Australian revealed this week that Williamstown, one of Australia's most important naval shipyards, could be mothballed or sold, placing more than 1000 jobs at risk unless the federal government gave it more work.

The new white paper is expected to back away from the theme of Kevin Rudd's 2009 version: that Australia needed to be prepared to fight a war against China. According to the 2009 document, the prospect of conflict with a superpower that was also a major trading partner and a crucial pillar of the Australian economy would require building a very potent Australian Defence Force with 12 big new submarines; giant landing ships able to carry 1000 troops, tanks and the works; air warfare destroyers to protect the lot; a host of smaller warships; and about 100 revolutionary Joint Strike Fighters. This was expected to cost more than $200bn over many years.


RAAF F/A-18E/F Super Hornet (photo : CanvasWings)

In last year's budget, Julia Gillard and Mr Smith cut $5.5bn from Defence over four years, reducing spending to 1.56 per cent of GDP. That brought a huge backlash that allowed the opposition to paint Labor as soft on national security.

Mr Smith's announcements, due within a fortnight, are intended to repair that damage while bringing clarity to struggling defence-industry companies and removing the impression that the minister is stalling on major decisions.

In strategic terms, this year's white paper is expected to focus on issues much closer to home than the 2009 version. But it will deal with the need to protect the nation and its allies against the increasing threat posed by rogue states.

It will adopt a much more conciliatory tone on China and will include a stronger focus on the use of diplomacy to defuse situations before they escalate and to encourage Beijing to use its influence to help calm issues down.

In the wake of the latest crisis on the Korean peninsula, it has also been suggested that the government may soon order a major upgrade to the missile systems being fitted to the air warfare destroyers to enable them to shoot down ballistic missiles.

The SM2 systems now being fitted are highly effective against aircraft but are not designed to shoot down ballistic missiles that North Korea is now developing. The more advanced SM3 missile system has knocked down ballistic missiles in tests involving US and Japanese warships but that would cost many millions more to buy and fit.

The developments in North Korea have focused attention on the need for countries such as Australia to be able to contribute to a shield to knock down missiles from a rogue state. The idea would be to place air warfare destroyers near North Korea so that they can use their highly sophisticated Aegis anti-missile systems to intercept a North Korean ballistic missile while it is still gathering speed.

The RAAF has long intended that the fifth-generation Joint Strike Fighter, now officially named the Lockheed F-35 Lightning II, would replace its F-111 long-range bombers and F/A-18 Hornet fighters. The Rudd government indicated in its 2009 defence white paper that it would purchase up to 100 JSFs. Australia has ordered 14 of the revolutionary JSFs, with the first to be handed over in the US next year. The first squadron was intended to be operational by 2018.

The RAAF already has 24 Super Hornets, ordered by the Howard government in 2007 after the ageing F-111 fleet was retired earlier than intended because of safety concerns. Australia has spent $1.5bn fitting out 12 of those Super Hornets with sophisticated Growler electronic warfare equipment, which is able to paralyse an enemy's communications and missile systems.

It is expected that some of the new Super Hornets will come fitted out as Growlers. The RAAF also has 71 older "classic" Hornets. If the government does buy another 24 Super Hornets, that is likely to reduce the number of JSFs that are ultimately needed by the RAAF.

(The Australian)

27 April 2013

Pemerintah Kirim Tim Khusus untuk Pembelian Apache

27 April 2013


Helikopter AH-64D menembakkan flare untuk mengecoh rudal lawan (photo : Neil Jones)

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG — Rencana pembelian helikopter (heli) serbu Apache bakal terealisasi. Sebab, dalam waktu dekat tim khusus Kementerian Pertahanan (Kemenhan) dan TNI AD sudah akan melihat beberapa varian heli ini.

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jendral TNI Pramono Edhie Wibowo mengatakan, rencana penguatan sistem persenjataan TNI dengan pembelian heli Apache ini tetap ditindaklanjuti pemerintah.

Sekarang prosesnya ada di Kemenhan, tetapi dalam waktu dekat ada tim khusus yang akan berangkat ke negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Dari TNI AD tim khusus ini akan dipimpin Wakasad dan dari Kemenhan akan dipimpin Sekjen Kemenhan.

Tim khusus TNI AD dan Kemenhan ini, ia menjelaskan, akan melihat langsung beberapa pilihan sebagai pembanding untuk heli-heli yang akan datang. Menurut KSAD, ada banyak pilihan heli yang akan dilihat.


Bell AH-1Z Zulu berpeluang menggantikan Apache jika anggaran tidak mencukupi (photo : Diablo Azul)

"Misalnya ada tipe Zulu yang merupakan Super Cobra spesifikasi serang/ serbu yang bisa menjadi pembanding," ujar Pramono, usai memberi pengarahan kepada pasukan latihan gabungan (latgab) TNI dan Satgas TNI untuk misi perdamaian Darfur, Sudan (UNAMID), di Lanumad Ahmad Yani, Semarang, Sabtu (27/4). 

Selanjutnya, masih menurut KSAD, juga heli jenis Bell 412 yang akan dilengkapi dengan roket dan tentunya Blackhawk. "Yang jelas kalau Apache sudah akan dilihat bulan depan. Namun kalau Blackhawk masih kita koordinasikan," katanya menambahkan.

Sementara terkait dengan latihan gabungan (latgab) Matra TNI yang akan dilaksanakan pada Mei mendatang, Pramono mengakui, TNI AD akan mengerahkan Satuan Helikopter terbesar.

Latgab akan diawali dengan latihan parsiil (pralatgab), mulai 1 hingga 4 Mei mendatang di Asembagus, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Satuan helikopter TNI AD, ini nantinya akan menjadi satuan untuk mendukung serangan udara satuan darat dalam gerak di lapangan.

Selain itu juga untuk mendukung mobilitas dan pemindahan pasukan secara cepat. Sedikitnya 10 helikopter jenis Bel 412, MI 17, MI 35 untuk bantuan serangan dari udara. Meski mengerahkan armada heli terbesar, latihan ini tidak terkait dengan adanya ancaman terhadap keutuhan NKRI.

Tetapi latgab ini merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas dan kemampuan pasukan TNI. "Ini merupakan wujud kesiapan prajurit TNI dan kelanjutan dari latihan- latihan sebelumnya," kata Pramono menjelaskan.

(Republika)

Chaiseri Keluarkan Varian Baru First Win 4x4

26 April 2013
Chaiseri First Win 4x4 (all photos : Combat Zones, TAF)

Dibandingkan varian pertama yang diperkenalkan pada tahun 2010 lalu, telah terdapat beberapa modifikasi kendaraan lansiran Chaiseri ini. Setidaknya hal ini terlihat dari perubahan pada lampu depan, juga kap mesin yang telah diberikan kisi-kisi (grille) untuk memberikan sirkulasi udara yang lebih baik pada ruang mesin.  Pada varian terakhir First Win 4x4 kali ini telah dilengkapi dengan kubah (cupola) untuk melindungi penembak (gunner) yang terletak di atap mobil.



First Win 4x4 adalah kendaraan dengan mobilitas tinggi dan lincah yang mampu beroperasi di berbagai medan termasuk medan berlumpur, tanah lunak dan medan berbatu pada kondisi iklim yang ekstrim termasuk pada suhu tinggi dan lembab.



Mobilitas tinggi kendaraan ini ditopang oleh sistem penggerak roda 4x4, transmisi otomatis, power steering, ground clearance tinggi, dan sistem pengereman pneumatik.



Chaiseri memandang bahwa sistem proteksi merupakan prioritas utama, hal ini sekaligus mencerminkan pentingnya pencapaian misi dengan biaya minimum. Sistem proteksi kendaraan ini bersifat 360 derajat, di bagian bawah menerapkan lambung balistik dengan V-shapped untuk menahan ledakan ranjau darat. 


Sistem perlindungan dapat mencapai STANAG 4569 dari Level 1 hingga Level 3 yang berarti kendaraan ini dapat menahan peluru kinetis hingga 7.62x51 mm Armor Piercing standar NATO dari jarak 30 meter dengan kecepatan 930 m/detik dan dapat  menahan ledakan ranjau hingga massa 8 kg di bagian roda gardan maupun di tengah gardan.


First Win 4x4 akan ditawarkan dengan berbagai varian : sebagai APC, komando, kendaraan pengintaian, dan juga ambulans.

(Defense Studies)

Kopaska dan NDU Singapura Kembali Adakan Latihan Bersama Pandu 13/13

27 April 2013


Latihan bersama Pandu 13/13 dilaksanakan dari tanggal 15 sampai dengan 26 April 2013 di tiga lokasi yaitu Ancol, Teluk Jakarta dan Tanjung Pasir Tangerang dengan materi latihan di bidang intelijen antara lain, pengamatan, penyergapan dan teknik introgasi. Sedangkan bidang pasukan katak diantaranya, MCM Diving, CQC, Small Unit Tactics dan Full Mission Profile. (photo : Lensa Indonesia)

Tingkatkan kemampuan, Kopaska lakukan latgab dengan Singapura

LENSAINDONESIA.COM: Sunyinya matahari di perairan Tanjung Priok terusik. Salah satu helikopter TNI mengelilingi kapal laut Bintang Kejora 21. Tak lama berselang, dentuman bunyi senjata memekik kala sang surya baru muncul. Ada apakah gerangan?

Ternyata, tepat kemarin (24/04/2013), Tim khusus laut TNI AL, satuan Komando Pasukan Katak (Kopaska) dan pasukan intel TNI-AL (Denintel Koarmabar) sedang melakukan latihan bersama RSN (Republic of Singapore Navy) di perairan Tanjung Priok.


“Ini merupakan perpaduan latihan bersama intelejen dengan Kopaska dan NDU (Naval Diving Unit) Singapura,” ujar Komandan Pasukan Katak Koarmabar, Letkol. Laut (P) Tjatur Soniarto kepada LICOM usai latihan di Tanjung Pasir, Jakarta.

Letkol. Tjatur menambahkan, latihan ini diikuti oleh Kopaska dan Denintel-Koarmabar sebanyak 170 orang. Di sisi lain, Singapura mengirimkan 21 orang tentara mereka untuk berpartisipasi dalam latihan gabungan ini. Bahkan, NID (Naval Intelligence Department) Singapura ikut juga pada latgab tahun ini. Dalam latihan yang dilakukan selama 2 minggu ini, Kopaska menurunkan 1 Combat Boat, 3 Sea Rider, 2 perahu karet, dan 1 helikopter dari Puspenerbal sebagai bentuk keseriusan latihan gabungan kali ini.

Mantan Komandan Pangkalan Angkatan Laut Lhoksumawe ini menambahkan, program latihan Kopaska dengan NDU sudah terlaksana sejak awal program tahun 2000. Ia menuturkan, program tahun ini berfokus pada beragam kegiatan seperti penggunaan robot-tech, markmanship (menembak), small unit tactics (taktik satuan kecil), pemasangan jebakan (booby trap), hingga pelaksanaan lapangan.

Melihat hasil latihan, Letkol Tjatur mengaku puas dengan hasil latihan bersama kali ini. Pasalnya, hasil pelatihan telah mencapai target berupa peningkatan kemampuan anggota hingga integritas TNI AL. Oleh karena itu, ia berharap agar hasil pelatihan dapat diterapkan para anggota sesuai SOP layaknya hari ini apabila berada di lapangan.

Saat ditanya terkait latihan bersama berikutnya, pria yang mengenakan kaos loreng ketika diwawancarai ini belum bisa menjawab terkait isi materi. Ia hanya bisa menjawab materi itu akan dibicarakan sebelum dilaksanakan lagi.

(Lensa Indonesia)

Pentagon Sees Singapore's Decision About Buying F-35s by Summer

27 April 2013


Singapore interested in F-35B Short Take Off/Vertical Landing variant (photo : Militaryphotos)

(Reuters) - Singapore has shown "tremendous interest" in the F-35 Joint Strike Fighter developed by Lockheed Martin Corp (LMT.N) and will likely decide by this summer whether to buy the new warplane, the Pentagon's F-35 program chief said on Wednesday.

Air Force Lieutenant General Christopher Bogdan told a subcommittee of the Senate Armed Services Committee that he expected Singapore to decide by this summer whether to join the multinational fighter plane program.

He said he was also cautiously optimistic that South Korea could decide to buy the radar-evading F-35 in its 60-fighter competition, with a decision expected there in June.

(Reuters)