25 Februari 2014
Pesawat C-130 Hercules TNI AU (photo : Kaksus Militer)
Jakarta (ANTARA News) - Indonesia tercatat sebagai negara pertama di luar Amerika Serikat yang mengoperasikan C-130 Hercules.
Latar belakangnya adalah Allan Pope, pilot swasta Amerika Serikat yang bisa ditembak jatuh dan ditangkap seturut PRRI/Permesta pada 1958.
Skuadron Udara 31 Hercules Sang Penjelajah terbitan TNI AU, menuturkan, bermula dari kunjungan Presiden Soekarno kepada koleganya, Presiden Amerika Serikat, John F Kennedy, akhir 1959.
Kennedy berterima kasih atas kesediaan Indonesia melepas Pope, pilot CIA berstatus sipil itu yang memperkuat AUREV-Permesta, yang ditembak jatuh Kapten Udara Penerbang Dewanto, dalam pertempuran udara.
Ini juga satu-satunya dog fight bersenjata dan menang oleh penerbang tempur TNI AU hingga kini.
Kennedy menawarkan "pengganti" Pope kepada Soekarno, dan berdasarkan "keperluan" dari Panglima AU, Laksamana Madya Udara Suryadarma, AURI memerlukan pengganti pesawat transportasi de Havilland Canada DHC-4 Caribou.
Pilihan kemudian C-130B Hercules, dalam kunjungan Soekarno ke pabriknya, Lockheed (belum bergabung dengan Martin).
Akhirnya 10 C-130B bisa diterbangkan secara ferry ke Tanah Air; yang membanggakan, penerbangan-penerbangan itu dilakukan langsung oleh pilot dan awak AURI.
Saat itu, delapan C-130B kargo dan 2 C-130B tanker bisa dibawa ke Pelabuhan Udara Kemayoran, Jakarta.
"Itu menunjukkan bangsa Indonesia disegani dan memiliki posisi tawar yang kuat di mata Amerika Serikat," kata Mersekal Pertama TNI Teguh David, dalam buku itu.
Pesawat C-130 Hercules TNI AU (photo : Rinaldi Wibiyanto)
Fakta menyatakan, pendaratan pertama C-130B Hercules ke Tanah Air dilakukan Mayor Udara Penerbang S Tjokroadiredjo, Letnan Muda Udara II A Cargua, Sersan Mayor Udara S Wijono, dan Kapten Udara Navigator The Hing Ho.
Juga Sersan Mayor Udara M Smith, Kapten Udara Penerbang Pribadi, Letnan Muda Udara II Alex Telelepta, Sersan Mayor Udara Ali Nursjamsu, Letnan Muda Udara I Basjir, Letnan Muda Udara I Sukarno, Letnan Muda Udara I Arifin Sarodja, dan Kapten Muda Udara Sasmito Notokusumo.
Fakta selanjutnya, itulah pertama kalinya terjadi penerbangan ferry terjauh untuk semua jenis pesawat terbang, C-130B AURI terbang sejauh 13.000 mil laut melintasi tiga samudera dari pabrikan ke negara operatornya.
Itu juga penerbangan internasional pertama yang 100 persen diawaki personel aktif AURI, dan belum pernah terjadi pada militer lain di dunia saat itu.
Fakta pada penerbangan 18 Maret 1960 itu menjadikan Indonesia operator terbanyak C-130 Hercules di belahan selatan dunia di kemudian hari.
Saat itu, 10 C-130B dimasukkan ke dalam Skuadron Udara Angkut Berat AURI mendampingi Skuadron Udara 2 berintikan C-47 Dakota/Skytrain.
C-130B saat itu menjadi pesawat multiengine perdana di Tanah Air berteknologi turboprop, suatu lompatan teknologi penting dan besar yang ternyata bisa cepat dikuasai putera-putera bangsa.
Pesawat C-130 Hercules TNI AU (photo : The Australian)
Hal ini dipuji secara khusus oleh Menteri Keamanan Nasional, Jenderal AH Nasution, dan beberapa petinggi Lockheed.
Dikarenakan jumlahnya cukup banyak, maka pada 19 Februari 1962, didirikanlah Skuadron Udara 31 angkut berat, disusul Skuadron Udara 32 pada 29 Desember 1965. Yang unik, C-130B saat itu kemudian berdampingan dengan Antonov An-12 buatan Uni Soviet di Skuadron Udara 31.
Fakta saat itu, kedua skuadron udara itu (31 dan 32) berpangkalan di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.
Kemudian Skuadon Udara 32 dipindahkan ke Pangkalan Udara Utama 32 Abdulrahman Saleh, Malang, Jawa Timur, pada 1976.
Skuadron Udara 32 sempat dinonaktifkan sejalan penonaktifan Antonov An-12 pada 11 Mei 1965; kemudian diaktifkan lagi pada 11 Juli 1981, yang keseluruhannya berisikan C-130B.
Saat itu, pembagian kekuatan udara di antara kedua skuadron udara adalah enam C-130HS (nomor registrasi A-1317, A-1318, A-1319, A-1320, dan A-1324 plus C-130H/A-1323) untuk Skuadron Udara 31.
Skuadron Udara 32 mendapat dua C-130B (A-1301-A-1313), dua C-130H (A-1315 dan A-1316), dan dua C-130KC (tanker udara, A-1309 dan A-1310).
Sebetulnya, masih ada beberapa varian C-130 Hercules yang dioperasikan TNI AU (kemudian), yaitu satu versi sipil C-130 Hercules, L-100-30, yang lalu dikonversi ke militer (A-1314) dan C-130HS (A-1341) yang didedikasikan pada Skuadron Udara 17 VIP.
A-1314 dan A-1341 dinomori di luar kelaziman, karena jika dijumlah, baik angka 1314 dan 1341 akan menghasilkan angka 9; ini sesuai pemberian langsung dari Menhankam/Panglima ABRI (saat itu), Jenderal TNI M Yusuf.
Pesawat C-130 Hercules TNI AU (photo : Baron F Hussein)
Fakta menunjukkan, Skuadron Udara 17 VIP merupakan satu-satunya skuadron udara militer di dunia yang mengoperasikan C-130 dan variannya sebagai pesawat terbang VIP kenegaraan resmi.
Skuadron Udara 5 pernah mendapat satu C-130MPH bernomor registrasi A-1322 sebagai pesawat intai maritim yang dijejali sensor elektronika penjejak.
Fakta berikutnya adalah tambahan 12 unit C-130H series yang dibeli pada dasawarsa '80-an, yaitu tiga C-130H (A-1315, A-1316, dan A-1323), satu unit C-130MPH (A-1322), tujuh unit C-130HS (A-1317, A-1318, A-1319, A-1320, A-1321, A-1324, dan A-1341), satu unit L-100-30 (A-1314).
Fakta lain, penambahan pesawat terbang transport berat ini terjadi pada 1995, yaitu dua L-100-30 hibah dari PT Merpati Nusantara Airlines (A-1325 dan A-1326) dan tiga unit L-100-30 dari PT Pelita Air Service (A-1327, A-1328, dan A-1329).
Sampai saat ini, TNI AU mengoperasikan hingga 28 unit C-130 Hercules dari berbagai varian, terbanyak di belahan selatan dunia.
Jika hibah sembilan unit C-130H Hercules dari Australia telah tiba semuanya, maka akan semakin banyak lagi "koleksi" C-130 Hercules kita, terdaftar hingga 37 unit.
(Antara)
25 Februari 2014
Riset propelan akan memungkinkan Indonesia untuk membuat rudal sendiri dalam 2-3 tahun ke depan (photo : Defense Studies)
Liputan6.com, Jakarta : Perang di era modern tak lagi saling berhadapan. Tapi melibatkan persenjataan canggih, termasuk rudal. Sekali tembak, nyawa ribuan orang di posisi target, yang jauhnya ratusan hingga ribuan kilometer, niscaya terancam.
Maka dari itu, rudal penangkal sebagai sistem pertahanan alternatif, menjadi wajib dimiliki. Saat ini, TNI Angkatan Udara, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), dan PT Dahana, sedang mengembangkan rudal Penangkis Serangan Udara (PSU) jarak sedang. Senjata anti-rudal ini akan dikembangkan dari roket-roket yang telah berhasil dibuat Lapan.
Lapan telah berhasil meluncurkan beberapa tipe roket seperti RX-420 yang memiliki daya jangkau di atas 100 km. Lapan juga sedang mengembangkan roket berdaya jangkau 200 km lebih yaitu RX-550.
"Iya dari pengembangan roket Lapan sebelumnya. Mereka sudah berhasil, peluncurannya sudah lurus. Cuman isiannya, pendorongnya itu masih dikembangkan terus," ucap Kadispen TNI AU Marsekal Pertama (Marsma) Hadi Tjahjanto saat dihubungi, Jakarta, Selasa (25/02/2014).
Hadi menambahkan, saat ini permasalahan untuk rudal penangkis udara terjadi pada propelannya. Rencananya beberapa tahun ke depan propelan ini sudah bisa diperbaiki dan dilakukan uji coba kembali.
"2 atau 3 tahun ke depan isiannya atau propelannya itu sudah ditemukan akan dibuat uji coba lagi. Kalau memang bagus akan ditawarkan pada BUMN atau Bumnis (Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis)," imbuh pria berkumis ini.
Apakah pengembangan ini untuk rudal jarak sedang atau jauh? "Nanti kalau propelannya itu sudah teruji tinggal isiannya mau dibuat jarak sedang atau jauh. Kalau nama rudal nunggu sudah jadi baru dari BUMN dengan Kemenhan yang nanti ngasih nama rudalnya," jawab Hadi.
Saat ini TNI AU hanya memiliki PSU yang aktif dari kelas jarak pendek seperti Oerlikon, Starstrek, VL Mica dan lain-lain. Kepala Staf Angkatan Udara, Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia menuturkan saat ini pihaknya sedang menjajaki PSU untuk jarak sedang. Rencana ini akan disusun di Minimum Esential Force (MEF) rentra kedua (2015-2019).
"Untuk 10 sampai 100 km itu perlu kendali jarak sedang, sekarang kita lagi diproses. Mudah-mudahan segera melengkapi sistem pertahanan kita," kata Putu saat menerima 16 unit pesawat T-50i dari Korea Aerospace Industry (KAI) di Lanud Halim Perdakusuma, Jakarta Timur, Kamis 13 Februari 2014.
(Liputan6)
25 Februari 2014
Pantsir S-1 a combined short to medium range surface-to-air missile and anti-aircraft artillery weapon system (photo : Don vị tac chien dien tu)
(Soha.vn) - People's Daily (China) recently published a photograph of artillery systems/missile Pantsir-S1 they think of Vietnam.
Recently, the newspaper People's Daily (Chinese version), official newspaper of China's leading uploaded a photo on artillery system/missile Pantsir-S1 produced by Russia. The newspaper said that this is the image of Pantsir-S1 systems in Vietnam.
Through photos on People's Daily, this version Pantsir-S1 can be left version, which is fighting the special module on a trailer instead of putting on truck chassis as the Russian system that is used and exported to several countries.
However, all information and images above are speculations of People's Daily . There is not yet any official information from the authorities of Vietnam.
System artillery/missile Pantsir-S1 (NATO designation is SA-22 Greyhound) was made in Tula Russian design institutes. Pantsir-S1 system is used to destroy low-altitude flying targets such as low-flying aircraft, helicopters, UAVs, cruise missiles.
The weapon's main strength is 12 Pantsir-S1 missile interceptors 57E6 (export version is 57E6-E). 57E6-E missiles have a range of efficiency 20km;15km height, speed of 900m/s at a range of 12km and 700m/s at a range of 18km. In addition, there are 2 cannon Pantsir-S1 caliber 2A38 30mm cannon, with cannon firing rate of each release up to 2,500/minute, an effective range of up to 4km. 1RS2-1E radar equipped version Pantsir-S1 export target detection range up to 32-36km in distance.
If Vietnam own the system Pantsir-S1, Vietnam will have steel shield low-range air defense, additional low-altitude air defense systems as old Vietnam: ZSU-23-4, Strela-10, anti-aircraft guns, Igla missiles.
Pantsir-S1 can be fitted together with the system S-300PMU1 of Vietnam to protect the system against the threat from cruise missiles, or put ... at the base and important goal should be protected as airports, military port, arsenal.
(Soha)
25 Februari 2014
RSAF F-16 D block 52+ (photo : Menso van Westrhenen)
The story of which industry team will capture the lion's share of the business to upgrade the Lockheed Martin F-16 has taken a new turn, with a decision by Singapore potentially now a 'game winner', while rumours continue to circulate about the US Air Force's (USAF's) future plans for modernising its own F-16 fleet.
The USAF's Combat Avionics Programmed Extension Suite (CAPES) programme was originally intended to involve 300 US F-16 aircraft, all of which would be upgraded with Northrop Grumman's Scalable Agile Beam Radar (SABR) and a set of other onboard systems integrated by Lockheed Martin, the aircraft's original manufacturer.
Both the SABR and its competitor, the Raytheon Advanced Combat Radar (RACR), are active electronically scanned array (AESA) radars designed to replace the F-16's existing Northrop Grumman AN/APG-68 mechanically steered array (MSA) radar set. For its proposed upgrade Raytheon is paired with BAE Systems, which performs the role of integrator and supplier for a new set of cockpit displays, an electronic warfare suite, and a main mission computer.
Taiwan (the Republic of China - ROC) had elected to join the USAF in a joint effort focused on the SABR radar, with Lockheed Martin as the programme integrator, and would have 146 of its aircraft upgraded with this package. The island nation is one of the three near-term export customers for an F-16 modernisation, along with South Korea, with 130 F-16s to be modernised, and Singapore, which is looking to modernise between 60 and 70 of the type.
Taiwan elected to go with the same upgrade configuration as the USAF on the basis that the programme's non-recurring engineering (NRE) costs would be amortised over a total of 446 aircraft. However, there have been rumours for months now that on 4 March the USAF could zero out budgeting for the CAPES upgrade in its 2015 budget plan in an effort to maintain current funding levels for the F-35 Joint Strike Fighter (JSF).
Officials from Lockheed Martin and Northrop Grumman stated at the Singapore Airshow this month that there would be no impact on the unit cost if the USAF withdrew from CAPES. The head of LM Aeronautics, Orlando Carvalho, stated that almost every country contemplating an F-16 upgrade "is doing something unique", which makes the question of if or when the USAF decides to go forward with CAPES a non-issue.
However, an industry source who spoke with IHS Jane's claimed that the reason there would be no appreciable impact on the unit cost for the upgrade offered to Taiwan if the USAF ditched CAPES is because "in reality the Taiwanese were always paying for the entire NRE; they just do not know it". The source further claimed that Taiwan will end up not only paying the full NRE costs of the SABR plus the Lockheed Martin upgrade, but that, "since SABR was never productionised and has only ever existed as a few prototypes, Taiwan will also pay for the creation of the entire SABR production line and the establishment of a full raft of suppliers to support that effort".

These and other uncertainties led South Korea to instead bid its F-16 upgrade competitively, which resulted in its selection of the combination of RACR and BAE Systems, which has a cost structure independent of the USAF programme. Raytheon executives such as Jim Hvizd, vice-president for international strategy and business development, state that the approach of their company was to minimise the cost of the upgrade by making the RACR a production-standard design from day one that is piggy-backed on the 'hot' production lines of the company's other AESA models. This makes the Raytheon offer "orders of magnitude cheaper" than the rival package from Lockheed Martin and Northrop Grumman, Raytheon officials claim.
Singapore, meanwhile, has now become an effective tie-breaker as to which of the teams will win the most F-16 upgrade business, with its selection seen as potentially pivotal because of the reputation the island state has of being a smart buyer. Industry sources state that Singapore had originally been predisposed to select the Lockheed Martin/Northrop Grumman package and the SABR radar, but one source told IHS Jane's that "if the USAF or the ROC were to pull out of the effort, the uncertainties that this creates might cause them [Singapore] to re-evaluate their options".
Raytheon representatives point out that there would be certain synergies that Singapore would take advantage of by selecting RACR. "Their current fleet of 25 F-15SG fighter aircraft are fitted with the Raytheon AN/APG-63(V)3 AESA, so incorporating RACR into their F-16 gives them a level of commonality with some unique advantages," noted one Raytheon official.
(Jane's)
24 Februari 2014
Pesawat latih Grob G-120TP (photo : Militaryphotos)
Tim Aerobatic JAT
TRIBUNNEWS.COM, SLEMAN - Tim akrobatik udara TNI AU Jupiter Aerobatic Team (JAT), tiba kembali di home base Landasan Udara (Lanud) Adisutjipto, Kamis (20/2/2014). Delapan pesawat KT-01 Wong Bee ini selanjutnya akan menempati shelter Wingdik di Skadik 102.
Kedatangan JAT ke Lanud ini merupakan pertama kali sejak mengikuti ajang Singapore Airshow 2014, yang berlangsung di Bandara Changi 11 hingga 16 Februari. Dan mengisi acara Gebyar Dirgantara Selasa (18/2/2014) di Palembang.
Pesawat ini sempat tertahan beberapa hari di pangkalan TNI AU Halim Perdana Kusuma. Hal ini dikarenakan guyuran abu yang mendera DI Yogyakarta beberapa waktu lalu.
Kedatangan pesawat yang didominasi warna merah putih yang dipimpin oleh Kol Pnb Wahyu Anggono, SE. Serta Flight Leader adalah Mayor Pnb Ferry Yunaldi ini, disambut oleh Komandan Wingdik Terbang Kol Pnb Ir Bob H Panggabean.
Pesawat Latih Grob
Selain kedatangan tim akrobatik kebanggaan Indonesia, Lanud Adisutjipto juga menerima empat unit pesawat latih jenis Grob G120TP-A. Pesawat buatan Jerman ini merupakan upaya untuk modernisasi Alat Utama Sistem Pertahanan (Alutsista) TNI AU. Direncanakan, Angkatan Udara akan memunyai 18 pesawat berjenis Grob.
18 pesawat ini diserahkan secara bertahap oleh Kementerian Pertahanan RI. Pada 2013 silam, telah diserahkan 10 armada Grob. Penyerahan ini dimaksudkan untuk menggantikan pesawat latih yang lama.
Sementara ini di Skadik 102 Lanud Adisutjipto, telah memiliki 14 pesawat Grob. Empat sisanya akan diterbangkan dari Lanud Halim hari ini, Jumat (21/2/2014).
(TribunNews)
24 Febuari 2014
Autokraz military truck of RTA (photo : Kraz)
To provide technical support and training operating characteristics of KrAZ vehicles in Thailand were sent to specialists PAO "AvtoKrAZ". Training was conducted in accordance with the terms of tender won Kremenchug Automobile Plant in the hardest fight in the beginning of last year. Tender anticipated delivery of a large batch of cars KrAZ-terrain vehicles for the needs of the Royal Thai Army.
The training was attended by a total of about 100 people from the mechanics, drivers and inspectors of various units of the Royal Thai Army. Theoretical knowledge and conduct MOT specialists "KrAZ" taught in one of the service centers of the Thai army. The practical part of training, which consisted of driving skills training, maintenance and repairs, carried out in real-world conditions - on one of the military ranges. After learning all the cadets were issued certificates of course completion.
Specialists "KrAZ" noted the special diligence and perseverance in learning Thai soldiers subtleties handling heavy-terrain vehicle. In turn, the Thai military was thanked for the high level of training and professionalism noted automobile. In particular, one of the inspectors - military academy teacher, after receiving the certificates said: "KrAZ - new and difficult for us car. KrAZ before the Royal Thai Army vehicles were up to 5 tons lifting capacity, but none of them was able to tow 152 mm artillery guns. KrAZ - giant, very powerful car and it is under power. More on pre-tender trials we watched with admiration how easy it KrAZ pulls howitzer, despite the complex, almost impenetrable terrain. We are confident that he will also brilliantly cope with the tasks. "
(Autokraz)
24 Februari 2014
Helikopter EC-725 Cougar (photo : Laurence M Bean)
EC-725 Cougar, Pengisi Squadron Helikopter Baru TNI AU
Liputan6.com, Jakarta TNI Angkatan Udara terus mengembangkan kemampuannya untuk menjaga pertahanan Tanah Air, baik melalui pelatihan rutin maupun pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista). Selain itu, TNI AU juga menambah satuan dalam angkatan udara (Squadron), salah satunya Squadron 9.
Rencananya Squadron 9 (skad) akan ditempatkan di Subang/Kalijati, Jawa Barat untuk tugas SARPUR (Safe and Resque Tempur). Untuk alutsista yang dipilih adalah 16 helikopter canggih EC-725 Cougar asal Eurocopter.
"Skad 9 adalah skad baru yang berkedudukan di lanud SDM Subang/kalijati dengan kekuatan 16 pesawat cougar full combat," ucap Kadispen TNI AU Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto yang dihubungi Liputan6.com di Jakarta.
Saat ini TNI AU telah menandatangani 6 unit dengan Eurocopter melalui PT. Dirgantara Indonesia pada Maret 2012 silam dan direncanakan selesai pada tahun 2014. Untuk 10 unit lainnya akan dipesan pada 2015.
"Rencana menjadi kekuatan squadron udara 9 lanud SDM, akan tiba secara bertahap pada tahun 2015 dengan kekuatan satu squadron," tutur Jenderal berkumis ini.
EC-725 Cougar atau super Cougar adalah helikopter transportasi jarak jauh yang bisa memuat 29 penumpang beserta 2 crew. Heli multi-role ini dilengkapi teknologi canggih seperti LCD multi fungsi 6"x8" pada cockpit, terintegrasi dengan peta digital/peperangan elektronik, full glass cockpit, dan lain-lain.
EC-725 Cougar menggunakan mesin ganda yaitu 2x Tubomeca Makila 1A4 tuboshafts dengan kecepatan maksimum 324 km/jam (175 kts) dan dapat mengudara selama 6 jam lebih. Selain Indonesia, negara-negara yang telah menggunakan EC-725 Cougar adalah Perancis, Brasil dan Malaysia.
Helikopter canggih ini bisa juga dipersenjatai dengan gun pod dan roket pod. Untuk melindungi diri, terdapat pelapis baja untuk pilot dan co-pilot dan juga senjata berkaliber 7.62 mm atau 12.7 mm.
Pemilihan EC-725 Cougar karena selama ini TNI AU telah terbiasa menggunakan produk dari Eurocopter. Selain itu, spesifikasinya sudah sangat memenuhi syarat TNi AU.
"Karena kita sudah terbiasa dengan produk Perancis. Dan ini merupakan kerjasama PT DI dengan Eurocopter. Spek untuk combat SAR sudah terpenuhi," tutup Hadi.
(Liputan6)