02 Februari 2016
PCC 759 Mokpo - Pohang class corvette (photo : pdff)
Republic of Korea Navy (ROKN) is set to transfer Pohang-class Mokpo (PCC 759) to Philippine Navy after decommissioning took place on 31 December 2015 at Jinhae naval base.
The vessel has the ability to launch surface-to-surface missiles and are equipped with six 324 mm Mk 32 anti-submarine torpedo tubes and one or two 76 mm Oto Melara anti-surface and anti-aircraft guns.
The 1,240-tonne ships can carry a crew of 95 over an effective patrolling range of 4,000 nautical miles. The vessels have a maximum speed of 32 knots.
The Philippine Navy had said that the corvette acquisition will significantly increase its abilities to monitor disputed maritime areas, most notably the Philippine-claimed South China Sea zone.
(Tankler News)
02 Februari 2016
EVS pada pesawat A400M (image : MMP)
Thales telah dipilih oleh pihak Airbus Military membekal dan pasang Enhanced Vision System (EVS) untuk kapal terbang A400M pengangkut stategic milik TUDM.
Sistem EVS ini berhubung secara terus dengan head-up display (HUD) pesawat ini, yang mana EVS system akan gunakan infrared camera membantu juruterbang semasa pesawat di fasa berlepas, approach, landing dan taxiing walaupun dalam cuaca paling buruk.
Kamarul Azizi anggota TUDM dengan call sign sebagai Azroy berkongsi pengalaman beliau menaiki A400M Atlas dengan MMP. Menurut beliau, jika dibandingkan dengan C130H Charlie, bunyinya sangat smooth dan tidak sebising Charlie. Malah semasa taxiing dan semasa berlepas hanya dengar bunyi yang minima dan bunyi tersebut hilang terus selepas terbang.
Kata beliau A400M landing dengan smooth dan dengan keluasan dan tinggi, pesawat ini mampu membawa sebuah AV8 Gempita dan sebuah Vamtac. Dalam situasi perang, empat A400M mampu membawa 4 Gempita dan 4 Vamtac bersenjata kemana-mana sahaja di Malaysia termasuk Sabah Sarawak.
Semasa penerbangan taktikal sistem EVS ini memaparkan extended pattern recognition, detection dan keupayaan pemantauan yang sangat berguna untuk pilot.
Sistem ini direka berdasarkan pengalaman Thales dalam membina forward-looking infrared (FLIR) systems untuk pesawat tentera, di mana EVS menawarkan keupayaan all-digital image-processing daripada sensor hinggalah projection pada paparan liquid-crystal head-up display. Ia memberikan keupayaan tahap tertinggi yang belum pernah digunakan pada sistem yang lain.
Apabila pilot aktifkan forward-looking infrared enhanced vision system (EVS) camera, pemandangan hadapan dan muka bumi menjadi lebih jelas walaupun dalam kondisi low visibility.
Malah semasa di uji di negara pengeluar, tingkap A400 telah ditutup sepenuhnya dengan kadbod dan hanya dengan berpandukan EVS imagery pada HUD pesawat ini boleh dikawal dengan mudah pada altitude yang rendah. Ini membuktikan kemampuan A400M TUDM mampu terbang dalam misi taktikal walaupun pada waktu malam atau dalam cuaca buruk.
02 Februari 2016
Mil Mi-28 Havoc attack aircraft (photo : Jeroen)
There are rumors that the Royal Thai Army are interested in the attack helicopter Mil Mi-28 (NATO code Havoc) from Russia to replace AH-1F Cobra stationed in the Rotary-Wing fleet 3 Army Aviation Center which operate 7 units.
For the last several years, the Army main method of sourcing new aircraft has been to order a series of helicopters in small lots. As you can see from passed procurement : armed reconnaissance helicopter AS550 C3, helicopter transport for general purpose use UH-72A, UH-60M, AW139, H145 and Mi-17V5 all of which have not exceeded 10 units per model.
As the army most urgent need is to procure replacement helicopters for general purpose use which are nearing the end of their useful life cycle, such as UH-1H, Bell 206A and CH-47D that requires urgent consideration for replacement in the near future. As these general purpose helicopters are more necessary than attack helicopters.
Although the Army procured the first 4 AH-1F since 1991 and another lot of 4 AH-1F by EDA in 2012 which were used. Due to budgetary reasons the Army may still need to operate the AH-1F for some time to come. The new attack helicopters whether it is from the United States, Western Europe or Russia, would still need a large amount of budget.
Royal Thai Army AH-1F Cobra (photo : Mark Rourke)
Such as the AH-64A Apache attack helicopter the RTA pilots expressed their personal opinion that it is more expensive than the AH-1F, but there is not much difference in it’s combat capability. Or in the case of the AH-64E Block III Apache Guardian’s latest advanced systems such as cameras that show color images at night is very expensive. The army is unlikely to have enough funding to procure it.
As can be seen by many weapons procurement projects which has been suspended or delayed due to lack of budget. Such as the guided anti-tank missile launcher project to procure the Spike MR to replace the M47 Dragon.
But that does not mean that the Russian Mi-28 attack helicopters would be a better choice even if the price is right compared to quality and capability as the army has experienced with the Mi-17V5 of which 5 units is in operation with the General Support Aviation Division Army Aviation Center.
We must take into account that the aircraft used within the armed forces past and present such as UH-1H Huey Gunship, AH-1F Cobra and AS550 C3 use similar basic weapons system which can be shared and is NATO compatible.
This is the view that Thailand's army is not suited for combat aircraft with totally different weapons systems, this will be two camps into the army. Because of affect for overall combat readiness, as seen in many neighboring countries, ASEAN.
(AAG)
02 Februari 2016
Dalam kurun 2016-2019 Puspenerbal TNI AL akan menerima 18 pesawat dan heli, termasuk 11 heli anti kapal selam (photos : Kaskus Militer)
TNI AL Bahas 18 Pesawat dan Heli Canggih
SURYA.co.id | SURABAYA - Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal) TNI AL akan mendatangkan pesawat dan helikopter canggih.
Tidak main-main, sebanyak 18 pesawat ini akan didatangkan dalam kurun waktu tiga tahun ke depan. Sampai 2019, helikopter itu sudah ada di Puspenerbal.
"Dua armada udara kami tahun ini tengah berproses untuk didatangkan," terang Komandan Puspenerbal TNI AL Laksamana Pertama (Laksma) TNI Sigit Setiyanta saat ditemui di sela Rapat Koordinasi Penerbangan TNI AL 2016, di Wisma Perwira Lanudal Juanda, Surabaya, Senin (1/2/2016).
Hingga 2019, total akan ada 18 pesawat dan heli yang akan memperkuat Puspenerbal. Pengadaan pesawat serta heli ini sudah terprogram sesuai MEF (Minimum Essential Force).
Sigit memaparkan bahwa sampai 2019 (akhir tahap II MEF) akan ada 1 Skadron heli AKS (Anti Kapal Selam), heli angkut, pesawat latih lanjutan, dan pesawat patroli maritim.
Perwira tinggi bintang satu ini menyatakan seluruh proses pengadaan pesawat berikut helikopter tersebut sudah dilakukan.
Puspenerbal tinggal menunggu kedatangan sekaligus serah terima dari Mabes TNI AL. Namun harus lebih dulu diserahkan Kementerian Pertahanan (Kemenhan).
Selain memperkuat dengan Alutsista itu, Puspenerbal memanggil semua Komandan Lanudal seluruh Indonesia.
Lanudal di bawah Puspenebal bertemu satu meja. Mulai dari Laudal Aru, Jakarta, Juanda Surabaya, Manado, Biak, Kupang, hingga Sabang mengevaluasi program 2015.
Mereka kemudian membahas dan merencanakan program 2016.
Pertemuan itu sebagai tindak lanjut rapat pimpinan TNI AL. Kebijakan Panglima TNI dilanjutkan ke KSAL dan harus ditindaklanjuti ke komando di jajaran Puspenerbal.
"Pola pikir harus sama. Dan yang penting adalah peningkatan daya serap anggaran," kata Sigit.
Bahkan Januari kemarin, seluruh jajaran TNI sudah kontrak (penyerapan anggaran). Bail TNI AL, AD, dan AU semua telah teken kontrak.
Rakor bersama pimpinan di jajaran Puspenerbal itu untuk menindaklanjuti arahan untuk penyerapan anggaran.
Hadir pada rakor Puspenerbal itu, para komandan Lapangan Udara AL (Lanudal) di Indonesia timur dan seluruh Jajaran Puspenerbal.
Secara bergiliran, Sigit mengevaluasi kinerja para komandan Lanudal atas kinerja 2015, sebelum melontarkan program 2016.
"Kami ingin semua pimpinan di masing-masing Lanudal siap dengan seluruh program yang riil dan masuk akal. Jangan seperti tahun lalu ada anggaran Rp 15 miliar di salah satu Lanudal, dikembalikan karena tak siap," tegas Sigit dalam forum pimpinan.
Dalam forum itu, Sigit marah saat mengetahui paparan sejumlah program jajarannya tak masuk akal.
Termasuk memasukkan kerusakan kendaraan dinas. Namun saat diminta menjelaskan kerusakan yang dimaksud, sang komandan Lanudal tak bisa menjelaskan.
(Surya)
01 Februari 2016
PAF Huey helicopters (photo : US DVIDS)
MANILA (PNA) -- With helicopters playing a major role in humanitarian assistance and disaster relief missions, the Philippine Air Force (PAF) announced that it is procuring spare parts needed for the maintenance of six of its UH-1H "Huey" combat utility helicopters.
The budget for the maintenance project is placed at PHP17,241,236.23.
UH-1H helicopters slated for maintenance are those bearing tail numbers 276, 863, 504, 513, 517 and 507.
Submission and opening of bids is on Feb. 2, 9:00 a.m. at the PAF Procurement Center Conference Room, Villamor Air Base, Pasay City.
The UH-1H is a military helicopter powered by a single turboshaft engine, with two-bladed main and tail rotors.
It was was developed by Bell Helicopter to meet the United States Army's requirement for a medical evacuation and utility helicopter in 1952, and it first flew on October 20, 1956.
Ordered into production in March 1960, the UH-1 was the first turbine-powered helicopter to enter production for the United States military, and more than 16,000 have been built.
The PAF is known to operate 41 variants of the UH-1 helicopters for its transport, medical evacuation and ground support missions.
(PNA)
01 Februari 2016
Thales Vigile LW Electronic Support Measure (image : Naval Analyses)
SHAH ALAM: Genting Etika Sdn Bhd has been selected to supply, install, test and commissioned the new Electronic Support Measure (ESM) system for the RMN’s 23rd Frigate Squadron. The ships of the squadron are of course, KD Lekiu (30) and KD Jebat (29).
According to industry sources, the new ESM to be installed on board both ships is the Thales Vigile 100 Mark 2. The same ESM has also been selected for the six RMN’s LCS. Genting Etika is also the sub-contractor for the ESM package for the LCS, being built by Boustead Naval Shipyard at Lumut.
The contract to Genting Etika was made public only recently although the decision to award the tender to the company was made on Oct 26, 2015.
The publication of the award to Genting Etika marked the completion of the tender exercise for the 23rd Squadron, all published in June, last year. Malaysian Defence had reported previously that the Electro Optical Tracking System was awarded to Qiblatin Synergy Sdn Bhd with the Chess Dynamics Sea Eagle FCEO while DML Technologies Sdn Bhd (Terma) got the navigation radar contract.
The two other contracts were Kharisma International Sdn Bhd (Degaussing system) and ME & O Fleet Support Sdn Bhd (Ship Data Distribution System). Both systems selected remained unknown at the moment.
Lekiu class frigate (photo : 2bp)
Thales Vigile ESM
According to Thales : “ Vigile Light Weight (LW) is the latest generation Radar Electronic Support Measures (RESM) system from Thales. Drawing on Thales’ excellent pedigree in Naval EW systems and designed explicitly for small platforms, Vigile LW provides a real-time tactical view of the surrounding area – delivering effective situational awareness and threat warning.
Vigile LW’s impressive performance in complex littoral environments, combined with its low power consumption and compact, lightweight design, make it perfectly suited to small vessels. VIGILE is a class of modular ESM/ELINT systems, addressing present and future littoral and blue water operations.
As a primary sensor, Vigile is the key component of the EW suite. It is fully integrated into the Combat System and plays a vital part in the platforms situation awareness, self-protection and ELINT capabilities. In multi-platform, networked-enabled operations, it is a major contributor to enhanced operational awareness.
Drawing on THALES’ excellent pedigree in Naval EW systems, being incumbent supplier for both UK and French Navies, the VIGILE family is in service around the world, supplying many Navies with the capabilities required for effective situation awareness.
(Malaysian Defence)
01 Februari 2016
Seromonial keel laying kapal layar latih pengganti KRI Dewaruci di Vigo, Spanyol (photos : Faro de Vigo)
Kabaranan Laksda TNI Leonardi Resmikan Seremonial Keel Laying Kapal Layar Latih NB705 di Kota Vigo Spanyol
Rabu, 27 Januari 2016 menjadi hari bersejarah dalam proses pengadaan kapal layar latih TNI Angkatan Laut. Tahap awal pembangunan fisik Proyek Pengadaan Kapal Layar Latih (Yekda KLL) dengan kode produksi NB705 (New Buiding 705) memasuki tahap keel laying.
Didampingi Dansatgas Yekda KLL Laksma TNI Didin Zainal Abidin, S.Sos., M.M. dan Koordinator Staf Ahli Menhan RI DR. Ir. Herry Darwanto, Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan (Kabaranahan) Laksda TNI Ir. Leonardi M.Sc menandai acara keel laying dengan memasang plat monumental ke bagian lunas kapal. Plat tersebut menjadi penanda sejarah dan akan terpasang sepanjang usia kapal.
Kapal layar yang diproyeksikan sebagai penerus KRI Dewaruci ini diberi kode NB705 yang berarti kapal baru ke-705 yang dibangun di Galangan Kapal Freire “Contruccion Navale Freire” Vigo Spanyol. Laying the keel atau peletakan lunas adalah pengakuan formal dimulainya konstruksi kapal. Hal ini ditandai dengan upacara yang dihadiri oleh pejabat dari pemilik kapal dan galangan kapal.
Pelaksanaan keel laying dihadiri oleh Presiden Pemerintahan (Junta) Galicia Alberto Nuñez Feijoo, Walikota Vigo Abel Caballero, Komandan Pangkalan Angkatan Laut Spanyol di Vigo Kolonel Laut José Angel Chans Ferreiro, dan pejabat dari Indonesia juga hadir Kadisadal Laksma TNI Prasetya Nugraha, S.T., Paban V/Dalops Srena Kasal Kolonel Laut (T) Sudarmoko,M.M., dan Dansatbanarmatim Kolonel Laut (P) Fadelan, S.E., M.M., serta Atase Pertahan RI Kolonel Nav Joko Winarto.
Dalam sambutannya, Direktur Galangan Guillermo Freire Garcia menyampaikan ucapan terima kasih kepada Pemerintah Indonesia atas kepercayaan yang diberikan kepada perusahaannya untuk membuat kapal layar latih. “Sebuah kepercayaan, sekaligus tantangan bagi kami, karena kami tahu bahwa pendahulu kapal ini, yakni KRI Dewaruci telah menjadi kapal yang terkenal dan menjadi legenda dunia”, sambung Guillermo dalam bahasa Indonesia yang lancar dan mendapatkan tepuk tangan dari hadir.
Atas nama Menhan RI dan Kasal, Kabaranahan Laksda Leonardi menyampaikan penghargaan secara resmi atas dimulainya konstruksi kapal, karena sebagaimana diketahui bersama bahwa dalam setiap pembangunan kapal Angkatan Laut memiliki 4 tradisi upacara yang bersejarah, yaitu peletakan Lunas (keel laying), peluncuran (launching), peresmian kapal (commissioning) dan purnatugas (decommissioning). Di samping itu, Leonardi menekankan agar pembangunan kapal oleh Galangan Freire ini dapat diserahkan tepat waktu pada bulan Juli 2017. Dan harapan kami, agar kapal ini dapat langsung beroperasi sebagai Kapal Layar Latih yang memiliki fungsi dan tampilan yang lebih baik dibandingkan dengan kapal layar latih terdahulu (KRI Dewaruci, pen) yang telah mengabdi di TNI Angkatan Laut lebih dari 63 tahun lamanya.

Sedangkan Walikota Vigo Abel Caballero tidak henti-hentinya menyatakan rasa bangganya, karena Kota Vigo akan menjadi kota yang akan selalu dikenang oleh Angkatan Laut Indonesia, sepanjang keberadaan kapal ini. Bangga karena kapal latih selalu memiliki keunikan, karena melahirkan pelaut-pelaut ulung. Caballero berharap, agar kapal ini nantinya selalu singgah di Kota Vigo dalam melaksankaan pelayaran keliling dunia atau muhibah ke Eropa. “Selamat Datang di Vigo, anda sudah menjadi warga Vigo. Karena setiap orang yang menginap minimal satu hari di Vigo, kami anggap itu sudah otomatis menjadi warga Vigo. Keselamatan dan keamanan anda adalah tanggung jawab saya”, ujar Caballero kepada Leonardi, yang mendapatkan sambutan meriah dari delegasi Indonesia.
Sebagai pemberi sambutan terakhir, Alberto Nuñez Feijoo, Presiden Xunta Galicia, menyampaikan ucapan terima kasih kepada Pemerintah Indonesia atas kepercayaannya membangun kapal di wilayah Galicia. Nuñez Feijoo juga menyatakan rasa bangganya terhadap Freire, walaupun pernah bersusah payah melewati masa krisis, kini kembali berjaya dan berekspansi ke negara maritim yang besar, seperti Indonesia. Sebanyak 13 dari 56 kapal baru yang dibuat di seluruh wilayah Spanyol dibangun di Kota Vigo pada tahun 2015. Namun bila ditinjau dari segi investasi, nilainya lebih tinggi lagi hingga mencapai 35% dari semua yang dibangun.
Suasana yang meriah menandai berakhirnya acara keel laying. Para tamu dan undangan bergantian memberikan ucapan selamat kepada Delegasi Indonesia dan Galangan Kapal atas pelaksanaan acara yang bersejarah ini.
(TNI AL)