29 April 2016

Navy to Buy 18 LMS to Beef up Marine Security

29 April 2016


Gowind Littoral Combat Ship (photo : Navy Recognition)

KUALA LUMPUR: The Royal Malaysian Navy (RMN) expects to buy 18 Littoral Mission Ships (LMS) in its effort to strengthen the country’s maritime security, says Laksamana Datuk Seri Ahmad Kamarulzaman Ahmad Badaruddin.

He added that the LMS would replace the older patrol ships.

“It is cheaper to buy new ships than to maintain the old ones that are already 30 to 40 years old. Although the LMS is smaller, it is capable of doing a lot of missions.

“The LMS will not only carry out surveillance work, but also provide humanitarian aid and disaster relief,” he said

Ahmad Kamarulzaman said six new Littoral Combat Ships (LCS), which is bigger and faster, would also be received by the RMN between 2019 and 2023.

The ships were acquired under the 11th and 12th Malaysia Plans and built by Boustead Naval Shipyard Sdn Bhd.

“With the new ships in place, the RMN will be able to beef up its armada combat capabilities as the number of combat vessels would be 10, instead of four previously,” he added.

It was reported that the six ships, estimated to be worth RM9bil, would be equipped with superior four-dimensional warfare capabilities for electronic, air, surface and underwater threats integrated with state-of-the-art systems.

It also has stealth capability which reduces radar reflection to minimise visibility and detection and it is also capable of rapid launch and recovery of boats.

Ahmad Kamarulzaman said the RMN was also set to consolidate all its naval units from 15 classes to five in an effort to strengthen the country’s maritime security.

“This is part of the RMN’s transformation programme to strengthen its armada and also to be cost effective,” he added.

(The Star)

Thai Navy Lays Keel for First of Four New M21-class Patrol Boats

29 April 2016


Marsun M21 patrol boat (photo : TAF)

The Royal Thai Navy (RTN) has laid the keel for the first of four additional M21-class patrol boats on order from local shipyard Marsun Company Limited, the service announced via its press affairs office on 25 April.

A keel laying ceremony was held on the same day at the company's facilities in Samut Prakan and attended by senior members of the RTN.

The RTN currently operates three M21-class patrol boats, which were also built and delivered by Marsun in May 2013. The service placed an order for more vessels, which are likely to be deployed with the service's Coast Guard Squadron, in July 2015.

(Jane's)

Russia to Deliver 3 Yak-130 Fighter Trainers to Myanmar by Year End

29 April 2016


Russia’s state arms exporter Rosoboronexport and the Irkut manufacturer plan to deliver three Yak-130 (Mitten) advanced jet trainers and light attack aircraft to Myanmar by the end of the year, Russian media reported Tuesday, citing defense cooperation sources. (photo : fotografersha)

MOSCOW (Sputnik) – Viktor Kladov, head of the International Cooperation Department of Russia’s state technology corporation Rostec, told RIA Novosti last week that Myanmar and a range of Latin American and North African states expressed interest in the Yak-130 aircraft.

"The plan provides for the transfer of three aircraft to them [Myanmar] in 2016," one of the Russian Kommersant daily’s two sources told the publication.

Additionally, Russian experts reportedly plan to set up a specialized combat flight simulator in Myanmar before the end of 2017.

The Defense Ministry of Myanmar signed its first Yak-130 purchase contract in June 2015, three years after the Southeast Asian republic voiced initial interest in the fighter trainer, the outlet says.

The Yak-130 lead-in fighter trainer is the world's only training aircraft with the aerodynamic configuration and subsonic flight performance characteristics of modern jet fighters. The two-seat reconnaissance and light attack jet has a combat load of up to 3,000 kilograms (about 6,600 pounds).

(SputnikNews)

Pussenarmed Tengok Tawaran SP Howitzer M109A4 Eks-Belgia

29 April 2016


M109A4 Angkatan Darat Belgia (photo : milpedia, pussenarmed)

Kunjungan DanPussenArmed Kodiklat TNI AD dalam Rangka Menghadiri Presentasi dan Demonstrasi Meriam ARBEBA GS M109A4 SP 155 MM Howitzer di Belgia

Belgia –  Danpussenarmed Kodiklat TNI AD melaksanakan kunjungan ke Belgia dalam rangka menghadiri presentasi dan demonstrasi Meriam Arbeba GS M109A4 SP 155 mm Howitzer buatan Amerika Serikat di Belgia oleh PT Indocertes.



Pada kesempatan tersebut Danpussenarmed Kodiklat TNI AD didampingi oleh Dirbinlitbang Pussenarmed Kolonel Arm Ruly Chandrayadi,S.H. dan Padya-3/Binsis Alutsista Spaban IV/Bindok Sopsad Letkol Arm Budi Saroso.

(PussenArmed)

27 April 2016

KRI Multatuli - 561, Si "Tua" yang Masih Perkasa

27 April 2016


KRI Multatuli-561 yang konon adalah kapal tertua ke dua TNI AL setelah KRI Dewaruci, asalnya adalah kapal tipe submarine tender. (photo : GalaMedia, Kaskus Militer)

Di antara sejumlah kapal perang milik Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut mungkin banyak yang bisa dibilang memiliki keunikan tersendiri dan mempunyai nilai sejarah dalam bangsa ini.

Ada beberapa kapal yang cukup fenomenal dan menjadi cerita masa lalu bagi sejumlah prajurit-prajurit TNI AL saat mengarunggi laut yang luas, seperti KRI Ratulangi dan KRI Irian yang perkasa di zamannya.

Namun ada salah satu kapal perang yang menjadi sejarah bangsa ini saat masih dalam suasan perang. Kapal perang tersebut adalah KRI Multatuli dengan nomor lambung 561.

Kunikan dari kapal perang ini adalah kode dengan awalan lima yang hingga saat ini masih digunakan oleh TNI AL untuk menandai bahwa kapal tersebut adalah jenis kapal "landing ship tank" (LST) serta "landing platfrom dock" (LPD) dengan penamaaan nama-nama kota besar yang punya ciri khas maritim di Nusantara. Lalu KRI Multatuli dengan nomer lambung 561 tidak berada di antara kedua jenis kapal tersebut.

KRI Multatuli adalah sebuah kapal perang yang dibuat oleh galangan Ishikawajima Harima, Tokyo, Jepang pada tahun 1961. Yang menjadi satu-satunya kapal perang yang dibeli dari negara Sakura tersebut.

Walaupun sudah berusia sekitar 50 tahunan dan bisa dibilang kapal tertua ke dua setelah dewaruci namun masih tetap perkasa berpatroli di kawasan perairan Indonesia Timur sebab berada dalam wilayah komando Kooarmatim, yang meliputi wilayah Banten sampai dengan Merauke, Papua.

Saat berlabuh di dermaga Pangkalan Utama Angkatan Laut VII Kupang, kapal tersebut terlihat gagah perkasa walaupun sudah berumur sangat tua. Dari galangan-galangannya terlihat baru diubah dan diperbaiki seperti dilakukan penambahan hangar bagi mendaratnya helikopter.

Bila diperhatikan, pemasangan hangar itu juga menambah kelengkapan pada perangkat elektronika yang ditempatkan pada sisi atas hangar.

Komandan KRI Multatuli Kolonel Laut (P) Agus Prabowo mengatakan, walaupun sudah tua kapal perang itu tetap menjadi kebanggaan bagi TNI AL khususnya bagi dirinya yang menjadi Komandan dari kapal tersebut.

"Wilayah patroli kita adalah di wilayah Indonesia Timur. Sebelum ke Kupang kita sudah berpatroli di wilayah perairan Merauke untuk memeriksa wilayah perbatasan," katanya.



Bagi Agus, sebuah kehormatan tersendiri memimpin kapal yang memiliki nilai sejarah tersebut. Sebab hingga saat ini kapal dengan nomor lambung lima sudah tidak ada lagi di kapal-kapal perang yang modern.

Setelah dibuat pada 1961 kapal perang tersebut hanya berfungsi sebagai bersandarnya kapal-kapal selam Indonesia untuk melakukan pengisian arus dan sebagai perbaikan kapal selam. Tidak banyak yang dilakukan oleh KRI Multatuli pada zamannya selain menjadi kapal penyinggah bagi kapal selam.

"Dari rancangan awal diketahui KRI Multatuli adalah jenis kapal tender kapal selam, lalu kemudian dikonversi menjadi kapal markas (kapal komando)," tuturnya.

Dalam setiap gelar operasi laut yang melibatkan komponen kapal perang, KRI Multatuli mengemban tugas sebagai kapal markas. Perannya adalah melakukan koordinasi, pengendalian, dan perbekalan pada kapal-kapal tempur di gugus tempur.

Desain awalnya sebagai kapal tender plus bekal mampu membawa helikopter menjadikan kapal ini ideal sebagai kapal markas.

Komandan KRI Multatuli itu menambahkan saat ini kapal perang tersebut mempunyai berat dengan muatan penuh 6.741 ton, serta muatan kosong 3.220 ton. Dimensi kapal ini 111,35 x 16 x 6,98 meter, dan ditenagai satu mesin diesel barmeister dan wain 1 shaft dengan 5500 bhp.

"Kalau untuk kecepatan maksimumnya 18,5 knot atau setara 34 km per jam," ujarnya.

Dengan sembonyannya "Tangguh Pantang Menyerah", kapal ini tetap terlihat tangguh dan masih tetap dipercaya mengemban tugas untuk beragam operasi TNI AL.

Dari data yang diperoleh dari website TNI AL diketahui kiprah terbaru KRI Multatuli 561 adalah dalam mendukung operasi Taring Hiu-12 dan Alur-12 yang digelar Gugus Keamanan Laut Armada Timur (Guskamlatim) pada bulan Oktober 2012 lalu.

Namun menurut pengakuan dari Agus Prabowo, selama kepemimpinannya kapal tersebut baru pertama kali berhasil mengamankan kapal porsain di wilayah perairan NTT yang diketahui melakukan penangkapan ikan secara ilegal dan merusak lingkungan hidup serta ekosistem ikan, pada Selasa (19/4) lalu.

Kepala Dinas Penerangan Lantamal VII Kupang Kapten Marinir Johan Hariyanto mengatakan, kapal tersebut berhasil menangkap salah satu kapal pembawa cantrang di sekitar perairan Kolbano, Timur Tengah Selatan saat tengah beroperasi di wilayah itu.

"Ini merupakan pertama kalinya KRI Multatuli melakukan penangkapan di masa kepemimpinan Kolonel Pelaut Agus Prabowo," tuturnya.

Kapal Perang Bersejarah Saat tengah berlabuh di Dermaga Lantamal VII kurang lebih 54 mahasiswa dari Politeknik Negeri Kupang melakukan kunjungan dan melihat secara langsung kapal bersejarah tersebut.

"Tujuan kami mengajak mahasiswa melihat secara langsung kapal perang milik bangsa kita. Kebetulan mahasiswa kami juga belum pernah melihat dan mengujungi kapal perang ini," kata Ketua rombongan mahasiswa Politeknik Negeri Kupang, Maria Bernadetha, di geladak KRI Multatuli-561.

Dia menjelaskan kunjungan ke kapal perang tersebut juga untuk menumbuhkan semangat cinta mahasiswa terhadap bahari, dan khususnya kepada para prajurit TNI AL yang telah berlayar menjaga perairan Indonesia, terutama di wilayah timur Indonesia.

Apalagi, katanya, dalam kunjungan tersebut sejumlah mahasiswa mendapatkan pengalaman yang berharga dan mendapatkan pengetahuan tambahan soal alat utama sistem persenjataan di KRI Multatuli-561 yang konon adalah kapal tertua ke dua TNI AL setelah KRI Dewaruci.

Ansel seorang mahasiswa dari Politeknik, merasa bangga karena bisa melihat secara langsung kapal perang milik TNI AL yang hingga saat ini masih tetap perkasa di antara kapal perang lainnya.

Menurutnya kapal tersebut adalah kapal bersejarah yang masih tetap perlu dijaga dirawat karena memilki nilai sejarah bagi bangsa ini.

(GalaMediaNews)

Royal Thai Navy Receives Two New H145M Military Helicopters

27 April 2016


Royal Thai Navy H145M (previously known as the EC645) (photo : Airbus Helicopters)

The Royal Thai Navy receives two new H145M (previously known as the EC645) military helicopters.

The Royal Thai Navy signed for five H145Ms to be deployed on transport duties and other missions, with deliveries scheduled to begin in 2016. Its purchase represents the first export order of this militarized version of the EC145 T2, which is the newest and most powerful model in Airbus Helicopters’ proven EC145 light twin-engine helicopter family.

The H145M is equipped with a modern digital glass cockpit, night vision goggle compatability, and Airbus Helicopters’ advanced Helionix® avionics suite with a 4-axis digital autopilot.



Enhancements include an upgraded transmission system and incorporation of Airbus Helicopters’ signature Fenestron® shrouded tail rotor for improved anti-torque control.

For armed operations, the rotorcraft carries a mission computer, two rigid multi-purpose armament pylons that are easily removable, an infrared/TV electro-optical system, and a laser range-finder/designator/pointer. With its open system architecture, this innovative weapon system contributes to full situational awareness for the crew.

(DefenceBlog)

Drone "Wulung" Kantongi Sertifikat dari IMAA

27 April 2016

Drone Wulung yang diproduksi oleh PT DI (photos : detik)

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Dirgantara Indonesia (PTDI) bersama Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT), dan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pertahanan Republik Indonesia telah berhasil mendapatkan sertifikat tipe (Type Certificate) dari Indonesian Military Airworthiness Authority (IMAA).

Dengan dikeluarkannya sertifikat tipe ini, maka proses rancang bangun dan spesifikasi teknis serta batasan operasi pesawat yang tercantum dalam data sheet sertifikat tipe telah memenuhi ketentuan atau aturan kelaikan udara.

Sertifikat tipe Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) Wulung diserahkan oleh Badan Sarana Pertahanan (Baranahan) Kementerian Pertahanan Republik Indonesia kepada PTDI dalam acara penyerahan Type Certificate pada 26 April 2016 di Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia (Persero), Jalan Pajajaran No. 154 Bandung.

Sertifikat tipe (Type Certificate) adalah tanda bukti terpenuhinya persyaratan kelaikudaraan sesuai peraturan keselamatan penerbangan sipil dalam hal rancang bangun pesawat udara, mesin pesawat udara dan baling-baling pesawat udara.

PTTA Wulung dirancang sebagai sebuah pesawat tanpa awak dengan kemampuan autopilot, menggunakan konsep modular composite structure, ruang akses yang luas dan perakitan yang cepat dan mudah.

PTTA Wulung mempunyai bobot maksimal 125 kg, kapasitas tangki bahan bakar 35 liter, menggunakan single piston engine tipe pusher bertenaga 22 Horsepower (Hp). Dengan sistem autopilot yang terintegrasi dipesawat, PTTA Wulung dapat melakukan misi secara automatis.

Uji terbang pertama dilakukan pada tanggal 9 Mei 2015 di Bandara Nusawiru, Pangandaran, Jawa Barat. PTTA Wulung telah melakukan 13 kali uji terbang sertifikasi.

Uji terbang ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan terbang, kemampuan mission payload yaitu kamera FLIR (Forward Looking Infrared), dan memastikan bahwa seluruh komponen dan peralatan Ground Control Station PTTAWulung berjalan dengan baik.

Dengan didapatkannya Type Certificate PTTA Wulung dari Indonesian MilitaryAirworthiness Authority (IMAA), PTTA Wulung telah memenuhi regulasi dan siap untuk diproduksi.

Salah satu keunggulan Wulung ini yakni mampu terbang hingga radius 100 kilometer (km) dari pusat pengendali, hingga 3 jam. Pesawat tanpa awak ini juga mampu terbang dengan ketinggian jelajah maksimal 5.500 kaki (feet).



Siap Produksi Masal

Sementara itu, untuk pembangunan satu unit PTTA Wulung siap terbang dibutuhkan waktu enam minggu, dengan estimasi tiga minggu untuk produksi struktur, satu minggu untuk integrasi dan dua minggu untuk testing seperti ground test, kalibrasi, dan berbagai macam pengujian lainnya.

Tahap produksi massal untuk PTTA Wulung akan dimulai pada awal Mei 2016. Dan diharapkan sesuai rencana, tiga unit PTTA Wulung bakal diserahkan kepada pemesan, yakni Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.

(Kompas)